musik dari sebuah casette recorder di dalam sebuah kamar. Tiba-tiba mereka mendengar bunyi seperti hujan turun. Salah seorang menjenguk ke luar rumah akan tetapi ternyata tidak hujan. Kemudian ia masuk kamar lagi dan bersama kawan-kawannya terus mendengarkan musik. Mereka tidak menyelidiki lebih lanjut bunyi hujan tadi, yang tak lama kemudian lenyap dengan sendirinya. Setelah selesai makan, Sumadi penjaga rumah mendekati makhluk yang selama itu diamati terus menerus pada jarak hanya 9 m. Dengan suara lantang ia bertanya:”Apakah engkau pencuri, ya?”, akan tetapi makhluk diatas tembok itu bungkam saja. Sumadi kemudian naik tangga besi yang terpasang di bawah menara air akan tetapi sesosok tubuh itu tiba-tiba hilang lenyap. Pada saat itu pula timbullah kegaduhan di antara sejumlah orang yang berada di depan rumah tetangga sebelah utara yaitu Jalan Sriwijaya Raya no. 22 dan juga di halaman rumah yang di seberang jalan. Sekitar 5 orang menjadi gempar karena sebuah benda bercahaya sekonyong-konyong tampak mengudara secara perlahan-lahan dari halaman belakang rumah Jalan Sriwijaya Raya no. 22 kira-kira dari arah menara air yang disebut lebih dahulu. Benda itu panjangnya kurang lebih 2 m dan jikalau dilihat dari samping ia tampak seperti sebuah bola rugby yang diapit oleh 2 buah piring, sebuah di atas dan yang lain di bawah. Bagian yang dari samping tampak seperti bola rugby itu menyala dengan warna putih yang diselingi oleh lajur-lajur vertikal yang berwarna merah. Benda itu membumbung dengan sudut 45 derajat dan semakin tinggi ia naik, semakin terang cahayanya dan semakin cepat pula lajunya. Tidak terdengar bunyi apa pun. Di antara para saksi terdapat beberapa orang yang hendak pergi ke bioskop untuk menonton pertunjukan tengah malam (pada waktu itu adalah malam Minggu). Mereka berlarian masuk ke dalam kendaraannya berupa sebuah jip Toyota dan berusaha mengejar benda tadi. Sayang, di simpang perempatan Jalan Senopati dan Jalan Sisingamangaraja mereka terpaksa berhenti karena lampu merah. Mereka sambil tak berdaya melihat benda itu membumbung terus semakin tinggi, sedang cahayanya semakin terang dan laju kecepatannya pun menjadi semakin besar. Akhirnya benda itu hilang ditelan kegelapan malam di arah barat laut di atas kompleks olah raga Senayan. Keesokan harinya baru diketahui, bahwa daun pohon pisang yang semalam sebelumnya paling dekat dengan makhluk UFO telah mengering dan berwarna coklat seperti telah tersengat hawa panas yang sangat. Daun-daun lain dari pohon pisang yang sama serta daun-daun dari pohon-pohon pisang lain di sekitarnya tetap hijau dan segar. Tiga hari kemudian kakak beradik Guntur dan Guruh Sukarnoputra mengajak saya sekeluarga untuk menyaksikan sendiri keadaan di halaman belakang Jalan Sriwijaya Raya no.24, dan memperkenalkan Sumadi penjaga rumah. Orangnya polos dan tidak banyak bicara. Ia menerangkan bahwa sesudah kejadian itu ia sulit tidur karena khawatir ada pencuri. Baik dari ceritera yang saya dengar maupun dari hasil wawancara langsung dengan Sumadi, terdapat kesan bahwa jangka waktu hampir satu jam di mana ia makan sambil mengamat-amati makhluk UFO adalah terlalu lama. Padahal untuk menghabiskan makanan yang sederhana diperlukan antara 5 atau 10 menit. Apakah di sini kita juga menghadapi gejala “time loss” (kehilangan waktu) seperti sering dialami para saksi dalam perjumpaan dengan makhluk-makhluk UFO di luar negeri? Bintang-bintang Berformasi pada Siang Hari Pada pagi hari tanggal 28 Mei 1981, tepat 65 hari sesudah penyaksian tanggal 22 Mei 1981, saya sedang berada di halaman belakang ketika suatu benda bercahaya di langit yang biru menarik perhatianku. saya memanggil istri dan anak untuk ikut menyaksikannya pula. Benda itu semula tampak pada elevasi 60 derajat lalubergerak perlahan-lahan ke arah barat. Tibatiba sebuah benda lain muncul disampingnya dan keduanya kemudian bergerak berdampingan dalam formasi untuk lenyap pada elevasi 45 derajat di sebelah barat setelah tampak dari pukul 07.20 hingga 07.55. Tidak lama kemudian sebuah benda yang ketiga muncul lagi di tempat yang sama pada elevasi 60 derajat, lalu bergerak ke arah barat dan lenyap pada elevasi 45 derajat, menempuh lintasan yang sama seperti kedua benda yang terdahulu. Benda yang ketiga itu tampak selama beberapa menit dan lenyap pada pukul 08.50. Ketiga buah benda itu tampak sama dan ukurannya juga sama, yaitu seperti kepala jarum pentul yang keperak-perakan. Selama dalam pemandangan benda-benda itu konstan terangnya. Saya mengamatinya dengan teropong yang mempunyai pembesaran 7 kali, akan tetapi tidak melihat perincian lebih lanjut. Menurut Halim International Airport yang terletak dalam garis lurus sekitar 8 km dari rumah saya, radarnya tidak memperlihatkan barang sesuatu yang luar biasa. Arah dan kecepatan angin pada ketinggian 30.000 kaki, 35.000 kaki dan 40.000 kaki berturut-turut adalah 080 dan 15 kts, 070 dan 20 kts, 060 dan 30 kts. Saya mencoba untuk mengambil foto dengan kamera teropong Orinox model AAI-720, akan tetapi gagal oleh karena shutternya macet. Bergoyang-goyang Seperti Layang-layang Karena pengalaman melihat UFO pada waktu yang sama pada pagi hari dan di tempat yang sama di langit berturut-turut pada tanggal 22 Maret dan 23 Mei 1981 yang selang 65 hari, maka tepat 65 hari 31 kemudian yang jatuh pada hari Lebaran tanggal 1 Agustus 1981 saya dengan sengaja menantinya. Langit pada pagi hari itu biru dengan beberapa awan Cirrus. Upaya itu berhasil oleh karena pukul 07.45 atau lebih sedikit sebuah benda muncul pada elevsi 70 derajat yang bergerak ke arah barat secara lurus dan mendatar untuk lenyapn pada elevasi 45 derajat. Benda itu berbentuk bulat atau lonjong dan berwarna putih. Selama beberapa menit dalam pemandangan, ia memperlihatkan gerak goyang melalui sumbu lintangnya yang mirip dengan gerakan sebuah layang-layang. Saya panggil adik ipar saya untuk memotret UFO tersebut dengan kameranya, sebuah Olympus 35 Trip. Istrinya juga menyaksikan benda tersebut. Hasil foto-foto itu kemudian diperbesar, namun hingga penulisan ini benda tadi tidak tampak. Lagi-lagi 65 hari kemudian yang jatuh tepat pada tanggal 5 Oktober 1981 saya bersiap-siap pada jam yang sama dan mengamati terus langit di tempat yang sama seperti pada penyaksian-penyaksian sebelumnya. Saya sudah siap dengan kamera-kamera Nikon maupun Mamiya. Namun tidak terlihat apaapa di langit pagi itu. Ufo Muncul Kembali di Tempat yang Sama Pada pagi hari tanggal 28 Maret 1982 saya sedang berada di halaman belakang untuk menerangkan kepada anak laki-laki yang tertua tentang penyaksian UFO tahun yang lalu. Ia tidak ikut menyaksikan karena pada waktu itu masih berada di Amerika Serikat untukmeraih gelar Master dalam enginering satelit. Selagi saya sedang menuding ke arah bagian langit tempat munculnya UFO tahun yang lalu, tiba-tiba muncullah sebuah benda tak dikenal di tengah-tengah awan Cirrus. Ukurannya kecil sekali, berbentuk bulat dan berwarna putih, namun ia tampak jelas pada latar belakang awan Cirrus yang tipis. Mula-mula benda itu diam di tengah-tengah awan, kemudian ia bergerak kearah barat sambil meninggalkan awan tadi untuk akhirnya menghilang pada elevasi 45 derajat. Pada waktu sudah meninggalkan awan, benda itu tidak berubah warnanya, yang dapat berarti bahwa ia berada di bawah awan Cirrus. Cara menghilangnya dari penglihatan ialah secara berangsurangsur ia menjadi semakin kecil seperti sesuatu benda yang membumbung semakin tinggi. Benda itu tampak selama kurang lebih 10 menit. Arah dan kecepatan angin di permukaan bumi, pada ketinggian 15.000 kaki, 30.000 kaki dan 45.000 kaki adalah berturut-turut 240 dan 6 kts, 250 dan 10 kts, 220 dan 15 kts serta 280 dan 20 sampai 25 kts. Ada 4 orang saksi, yaitu saya sendiri, istri saya, dan kedua anak laki-laki kami yaitu Ir.Adi Sadewo M.Eng.in Aerospace, 32 tahun, dan Ari Nugraha B.Sc., 27 tahun, amatir radio (YC0SI) Telah dibuat foto-foto dengan kamera Rolleiflex SL 35M dengan lensa 135 mm Carl Zeiss Jena dan polarizing filter oleh Ir. Adi Sadewo, serta kamera Super Ikonta ukuran 6x6 cm dengan lensa 80 mm Tessar Carl Zeiss oleh saya sendiri. Hingga saat penulisan ini foto-foto ukuran 35 mm itu diperbesar dan memang memperlihatkan benda aneh tadi. 32 BAB 5 UFO: WAHANA, MAKHLUK, EFEK, ASAL DAN MAKSUD TUJUANNYA UFO dan IFO Penelitian terhadap laporan-laporan UFO yang dilakukan hingga sekarang menunjukkan, bahwa sebagian besar daripadanya disebabkan oleh salah tafsir dari benda-benda biasa seperti benda-benda astronomis, balon udara, pesawat udara, satelit, dan sebagainya, di samping salah tafsir gejala-gejala alam biasa yang disebabkan oleh inversi suhu dan lain-lain. Laporan-laporan UFO (=Unidentified Flying Objects=Benda-benda Terbang tidak Dikenal) yang telah berhasil dikenal itu rata-rata mencapai 90% dari semua laporan yang masuk dan dengan demikian berubah menjadi laporan IFO (Identified Flying Objects = Benda-benda Terbang Dikenal). Istilah IFO diciptakan oleh Dr.J.A.Hynek. Penelitian terhadap laporan-laporan UFO yang dilakukan hingga sekarang juga menunjukkan, bahwa selalu terdapat sisa yang tidak dapat dikenal sebagai benda atau gejala biasa dan yang jumlahnya mencapai sampai 10% Golongan yang tidak percaya akan adanya UFO semula mengharapkan bahwa semua laporan UFO akan dapat dijadikan laporan IFO. Namun di dalam kenyataan harapan mereka tidak tercapai: laporan akhir Proyek “Buku Biru” pada tahun 1968, yang disusun oleh almarhum Dr.Edward U.Condon (lebih terkenal dengan nama Laporan Komite Condon), yang terkenal berat sebelah sekalipun, terpaksa mengakui adanya sejumlah laporan UFO yang tidak dapat diterangkan. Malahan sifat mondial dan berkesinambungan dari penyaksian-penyaksian UFO masih terjadi hingga sekarang. Adalah sesuatu hal yang menarik, bahwa dari laporan-laporan UFO sampai sekarang itu dapat disimpulkan adanya ciri-ciri yang sama sehingga dapat diikhtisarkan di dalam pembahasan lebih lanjut di bawah ini. Klasifikasi Gejala UFO Menurut Sistem Hynek Peneliti UFO terkemuka Dr.J.A.Hynek di dalam bukunya “The UFO Experience, A Scientific Inquiry” (Regnery, Chicago, 1972) mengemukakan suatu sistem klasifikasi gejala UFO yang kini cukup tersebar luas. Salah satu istilahnya bahkan dijadikan judul film oleh sutradara Spieberg yang menjadi “box office” melebihi karyanya terdahulu “Jaws”. Gejala UFO menurut sistem Hynek dibagi menjadi: 1. NL, singkatan dari ‘Nocturnal Lights’: Cahaya-cahaya Malam Hari. 2. DD, singkatan dari “Daylight Discs”: Cakram-cakram Siang Hari. 3. RV, singkatan dari “Radar Visual”: UFO Reports: laporan-laporan UFO yang serentak secara visual dan dengan radar. 4. CE-I, singkatan dari Close Encounters of the First Kind: Perjumpaan Dekat Jenis Pertama. Meliputi penyaksian UFO jarak dekat, yaitu 500' (150 m) atau kurang, tanpa efek fisik. 5. CE-II, singkatan dari “Close Encounters of the Second Kind”: Perjumpaan Dekat Jenis Kedua. Meliputi penyaksian UFO jarak dekat yang menimbulkan efek fisik terhadap tanah, benda dan makhluk di sekelilingnya. 6. CE-III, singkatan dari “Close Encounters of the Third Kind”: perjumpaan Dekat Jenis Ketiga. Meliputi penyaksian UFO serta makhluk-makhluknya (sering disebut “humanoids”, “occupants” atau “UFOnaut”). Klasifikasi gejala UFO menurut sistem Hynek terbukti cukup praktis dan merupakan langkah kemajuan penting di dalam penelitian UFO, meskipun boleh jadi belum sempurna. Sebagai contoh UFO berbentuk silinder yang tampak pada siang hari akan digolongkan ke mana? Di bawah ini akan disajikan ikhtisar gejala UFO sekedar untuk memperoleh gambaran umum yang menyeluruh. Wahana UFO Bentuk UFO. Mayoritas laporan UFO menyebutkan bentuk cakram. Demikian pula bentuk bola, telur (elipsoida), dan variasinya. Bentuk bidang meliputi sayap delta, sayap panah dan sabit. Bentuk cerutu meliputi apa yang kadang-kadang dinamakan kapal selam terbang, silinder terbang dan bentuk-bentuk lain yang memanjang. Di samping itu perlu dicatat bahwa dilaporkan pula UFO yang berbentuk cahaya dan ada pula yang seperti asap. Salah satu misteri yang belum terpecahkan mengenai bentuk UFO ialah adanya sejumlah penyaksian UFO yang melaporkan perubahan, pemecahan dan penggabungan bentuk serta muncul dan lenyapnya UFO yang mendadak. Ukuran UFO. Ukuran UFO sulit diperkirakan apabila dilihat dari jauh dan tanpa titik referensi, kecuali jikalau kebetulan tersedia alat-alat pengukur. Ukuran UFO yang dilaporkan dalam kasus-kasus perjumpaan dekat umumnya dari 5-6 m sampai sebesar sebuah pesawat terbang penumpang. Ada pula yang berukuran raksasa, meskipun jarang dilaporkan. UFO berbentuk cakram dengan garis tengah melebihi 300' (90 m) pernah dipotret dengan kamera-kamera pelacak roket di medan percobaan peluru kendali di White Sands, New Mexico (27-4-1950). UFO berbentuk bulan sabit dengan garis tengah di antara 500-600 m (1640'-1840') pernah disaksikan dan diukur oleh para ahli astronomi di stasiun astronomi Kazan, Uni Sovyet (18 Juli 1967). Jumlah. UFO disaksikan dalam jumlah yang tidak tertentu, mulai dari sebuah sampai kepada formasi UFO seperti dalam kesatuan skadron dan wing suatu Angkatan Udara. Jumlah UFO yang paling banyak barangkali adalah yang disaksikan di Amerika Serikat pada malam hari tanggal 20 April 1952 33 ketika dalam jangka waktu 85 menit lewat 20 kelompok yang masing-masing ketika dalam jangka waktu 85 menit lewat kelompok yang masing-masing terdiri dari 2 sampai 9 buah UFO, jadi semuanya berjumlah antara 40 sampai 180 buah! UFO itu mempunyai bentuk yang seragam, yaitu cerutu bersayap yang berpijar yang dikelilingi oleh cahaya pendar berwarna merah. Olah Gerakan. Ciri-ciri khas olah gerakan UFO adalah belokan 90 derajat, berbalik 180 derajat secara mendadak, percepatan dan perlambatan secepat kilat (pernah ada yang dihitung mencapai 10.000 G), lintasan gelombang, sewaktu turun bergoyang-goyang seperti daun jatuh, dan sebagainya. Dengan demikian oleh gerakan UFO sangat berlainan dari pesawat terbang, di mana daya tahan fisik penerbangnya membatasi percepatan, perlambatan dan ketajaman berbelok yang umumnya tidak melebihi 6 G (dalam hal G negatif malahan lebih kecil). Faktor pembatas lainnya ialah konstruksi pesawat terbang itu sendiri yang tidak hanya memerlukan kekuatan akan tetapi juga (dan terutama) keringanan agar memiliki daya muat yang memadai. Bagaimanakah UFO mampu melakukan olah gerakan yang fantastik menurut ukuran teknologi kita sekarang itu? Apakah UFO hanya sekadar gambar proyeksi holografi yang oleh karenanya mempunyai sifat-sifat seperti cahaya? Ataukah UFO itu merupakan pesawat tanpa awak? Ataukah ia membawa penumpang berupa makhluk-makhluk dengan daya tahan fisik yang lebih unggul dari kita? Ataukah penumpangnya sama dengan kita, akan tetapi yang sudah menguasai teknologi untuk mengatur gaya berat maupun gaya lembam sekehendaknya? Spektrum Kecepatan UFO. Spektrum kecepatan UFO, yang di dalam bahasa Inggris disebut “Flight Envelope”, menurut laporan-laporan penyaksian ialah dari 0 km sejam sampai kecepatan orbital. UFO memiliki sifat-sifat pesawat VTOL yang mampu bertolak dan mendarat secara tegak lurus, hal tersebut diketahui dari kurang lebih 500 kasus pendaratan yang dilaporkan sampai tahun 1976. Berulang kali UFO dilaporkan terbang mengikuti helikopter dan pesawat-pesawat terbang kita dari jenis bermotor piston, turboprop sampai pancargas, dengan kecepatan yang sama, sehingga UFO mampu terbang lambat sampai “high subsonic”. Kemampuan UFO untuk terbang dengan kecepatan supersonik sudah dilaporkan sejak penyaksian pertama pada tanggal 24 Juni 1947, sebelum ada pesawat terbang supersonik! Kemampuan UFO untuk mencapai kecepatan hipersonik dan orbital diketahui sejak penyaksian 2 penerbang DC-4 PANAM Nash & Forstenberry pada tahun 1952, di mana yang paling mengagumkan ialah bahwa formasi UFO yang mencapai kecepatan itu terbang lebih rendah dari pesawat tersebut. Segi yang mengagumkan dari penyaksian itu ialah bahwa UFO mampu terbang di dalam lapisan atmosfir dengan kecepatan orbital tanpa terbakar. UFO yang berbentuk bulan sabit menurut pengamatan dan perhitungan para ahli astronomi di Kazan, Uni Sovyet (1967) mempunyai kecepatan 5 km sedetik. Ketika astronot James Mc. Divitt (Gemini IV, 1964) memotret UFO yang mengikuti kapsulnya, ia sedang mengorbit dengan kecepatan 8 km sedetik. Pada tanggal 14 November 1969 para astronot Apollo XII Pete Conrad, Allan Bean, dan Dick Gordon dikawal oleh sebuah UFO di depan mereka sampai lebih dari separo perjalanannya ke bulan, hal tersebut berarti bahwa UFO itu tampak pada kecepatan sekitar 11,2 km sedetik. Demikianlah kecepatan UFO yang pernah disaksikan dan diumumkan. Apakah UFO mampu mencapai kecepatan yang lebih besar dari angka-angka tersebut di atas, sampai sekarang belum terungkap. Apakah UFO itu mampu untuk mencapai atau melebihi kecepatan cahaya merupakan dugaan belaka yang timbul dari persangkaan bahwa ia berasal dari tata surya atau galaksi lain yang jauh dari sini. Andaikata dugaan itu benar, maka hal itu tidak dapat ditangkap oleh alat-alat observasi kita. Teknologi UFO. Berbagai pandangan mengenai teknologi UFO yang terdapat sampai tahun 1960 telah dituangkan dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”. Pandangan baru sesudah itu timbul di Prancis yang kemudian berkembang menjadi konsep “Aerodin MHD” (Magneto-Hidrodinamika). Karya ilmiah berjudul “Magneto-hydrodynamic Aerodynes” diajukan di dalam konperensi Pusat Studi UFO (CUFOS Conference) di Lincolnwood, Illinois, pada tahun 1976. Para penulis ialah Dr. Jean-Pierre Petit, kepala penelitian dari C.N.R.S. (Centre National de Recherches Scientifique-Pusat Nasional Riset Ilmiah), Dr.Claude Poher kepala bagian sistem ilmiah dan proyek dari C.N.E.S (Centre National d’Etude Spatiales- Pusat Nasional Studi Antariksa) dan ahli astronomi Maurice Viton. Dr.Petit ialah ahli fisika plasma dan astrofisika, yang melakukan penelitian teoretis tentang sistem propulsi MHD. Minatnya terhadap UFO bangkit oleh timbulnya persamaan antara model-model teoretisnya dengan gejala-gejala UFO yang disaksikan. Sistem MHD yang mempergunakan interaksi antara gerakan fluida dengan medan magnit itu dapat berfungsi baik sebagai generator maupun akselerator. Aerodin MHD memakai pembangkit tenaga listrik yang kuat tetapi ringan, dan pelepasannya akan menimbulkan medan-medan listrik dan magnet di udara sekelilingnya. Gaya Lorentz yang bekerja terhadap udara yang terionisasikan itu mengubah pembagian tekanan sehingga menimbulkan baik gaya angkat maupun gaya dorong. Jikalau medan magnetnya kecil, bentuk-bentuk silinder dan bola adalah praktis, hal tersebut dibuktikan secara empiris dalam laboratorium dengan memakai cairan. Dengan semakin besarnya medan magnet, efek Hall menjadi penting, sehingga diperlukan bentuk cakram. Aerodin MHD memiliki sifat-sifat terbang seperti helikopter, yaitu mampu bertolak dan mendarat tegak lurus, mengambang, maju, mundur atau bergerak ke samping. Aerodin MHD menerangkan banyak aspek dari gejala UFO dengan baik. Misalnya, UFO di dalam kasus-kasus Pater Gill dan lain-lain memperlihatkan adanya lajur-lajur pada dindingnya yang pada malam hari tampak seperti jendela persegi panjang yang bercahaya terang. Menurut konsepsi Aerodin MHD, lajur-lajur itu adalah elektroda-elektroda yang merupakan bagian dari sistem MHDnya. 34 Namun, sama halnya dengan konsepsi-konsepsi sebelumnya yang dimuat dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” dari tahun 1960, konsepsi Aerodin MHD juga terbentur kepada kesulitan, bagaimana menciptakan suatu pembangkit tenaga listrik yang maha kuat tetapi sangat ringan, yaitu yang menghasilkan daya listrik rata-rata antara 400 sampai 4000 MW akan tetapi dengan berat hanya 10 ton! Di dalam dasawarsa 60-an dan 70-an semakin banyak ahli ilmu pengetahuan yang ternama secara terang-terangan menaruh minat terhadap masalah UFO. Di antaranya terdapat Prof.Dr.F.Witenberg dari Universitas Nevada yang terkenal karena konsepsi reaktor fusion yang memakai berkas elektron di samping karya-karyanya tentang reaktor mikroeksplosi. Beberapa waktu yang lalu pandangan-pandangan Prof.Dr.F.Witenberg tentang dasar-dasar fisika dari teknologi UFO yang orisinal itu termuat dalam karyanya berjudul: “The Physical Possibility of Macroscopic Bodies Approaching Zero Rest Mass and the UFO Problem”. (Kemungkinan fisika dari benda besar untuk mendekati massa henti nol dan persoalan UFO) yang dikemukakan di dalam konperensi MUFOS 1976. Sebagaimana diketahui, laporan-laporan UFO oleh saksi-saksi yang sangat dapat dipercaya memperlihatkan persamaan adanya benda fisik yang padat dengan sifat-sifat: tanpa atau hampir tanpa massa lembam, dikelilingi oleh pelepasan karangan cahaya (corona discharge), memiliki medan magnit yang kuat dan tidak menimbulkan guntur sonik pada kecepatan tinggi yang dilaporkan. Menurut Prof.Dr.F.Witenberg sifat-sifat tersebut menunjukkan keadaan materi (State of Matter) yang mendekati massa henti nol (Zero rest mass). Jikalau keadaan materi sedemikian itu ada sungguh-sungguh, maka jarak-jarak interstellar sekalipun dapat ditempuh dalam waktu singkat dan dengan penggunaan energi yang sedikit. Materi yang terdiri dari monopole magnetik boleh jadi memungkinkan keadaan materi yang demikian itu. Oleh karena medan monopolo berkurang jauh lebih lambat daripada medan dipole, maka hal itu dapat menerangkan efek magnetik yang dilaporkan bertalian dengan UFO. Medan listrik imbas yang ditimbulkan oleh gerakan yang cepat dari medan monopole dapat menerangkan cahaya yang tampak mengelilingi UFO sebagai pelepasan karangan cahaya. Medan magnit yang kuat dapat pula menerangkan tidak adanya guntur sonik. Pola Operasi UFO: Ruang dan Waktu. Dari laporan-laporan UFO sebelumnya, pada tahun 1951 sudah diketahui adanya pola tertentu dari operasi-operasi UFO. Semakin banyaknya laporan kegiatan UFO hingga kini menambah jelasnya pola operasi yang dimaksud. Daerah operasi UFO meliputi seluruh dunia dan bersifat terus menerus. Namun demikian kegiatannya tidak terjadi serentak di seluruh dunia, melainkan dikonsentrasikan di suatu benua, atau kawasan, secara bergantian dan pada waktu yang berlainan. Konsentrasi kegiatan UFO demikian itu lazim disebut “Gelombang UFO” (“UFO Wave”), seperti di U.S.A. pada tahun-tahun 1947, 1952, 1957, di Prancis pada tahun 1954, di Inggris pada tahun 1967, di Afrika Selatan pada tahun 1972 dan sebagainya. Menurut penelitian Dr.David R.Saunders, kebanyakan gelombang UFO terjadi dengan selang waktu 61 bulan (atau 1853 hari). Demikian pula lokasinya berpindah ke arah timur. Berdasarkan hasil penelitiannya Dr.Saunders berhasil meramalkan tangal dan lokasi terjadinya gelombang UFO tahun 1972 dengan tepat. Peneliti UFO dari Prancis Aime Michel menemukan bahwa penyaksian-penyaksian UFO di suatu wilayah pada suatu waktu yang berdekatan terjadi di tempat-tempat yang terletak pada sebuah garis lurus. Gejala itu disebut “Orthoteny” dan populer terutama dalam tahun 60 an.Menurut Dr.J.A.Hynek, pola operasi UFO memperlihatkan bahwa mula-mula mereka mengamat-amati suatu daerah yang luas secara umum seperti kita melakukan tahap “general reconnaissance”. Kemudian jikalau mereka menemukan sesuatu yang menarik perhatian, maka menyusullah survey intensif dan terperinci di daerah yang lebih sempit yang anehnya selalu berjangka waktu 7 hari! Mengenai saat terjadinya penyaksian UFO dapat dikemukakan adanya puncak-puncak kegiatan yaitu pada petang hari (pukul 19-20) dan pada dini hari (pukul 3 pagi). Sasaran Operasi UFO. Sering atau jarangnya UFO muncul di suatu tempat tidak tergantung dari padat tipisnya penduduk, melainkan dari “nilai teknis” tempat itu. Sasaran operasi UFO nomor wahid ialah instalasi-instalasi nuklir, disusul oleh pusat-pusat dan sarana perhubungan, kemudian anehnya danau, waduk dan sungai yang tenang, obyek-obyek militer, pusat-pusat percobaan pesawat udara dan roket, pusat-pusat tenaga listrik, tempat-tempat yang penting bagi pertambangan dan geologi, serta flora, fauna dan manusia. Yang terakhir ini terutama merupakan sasaran dari makhluk-makhluk UFO yang keluar dari UFO yang mendarat. Menurut Dr.J.A.Hynek seringnya penyaksian UFO di atas instalasi-instalasi nuklir dan obyek-obyek militer mungkin disebabkan karena adanya penjagaan yang terus menerus. Siapa tahu sasaran-sasaran lain juga dikunjungi sama kerapnya, akan tetapi tidak diketahui oleh karena tidak selalu ada saksinya. Aneh menurut ukuran kita sasaran yang menjadi prioritas tinggi ialah danau, waduk, dan sungai yang tenang airnya. apakah yang menjadi pendorong bagi mereka? Apakah di plandet mereka tidak ada waduk, danau, atau sungai? (Ingat kasus Carl Higdon, yang menurut makhluk UFO di tempat asalnya tidak terdapat ikan). Ataukah air, terutama air tawar, mengandung daya penting dan berguna yang masih belum kita ketahui? Ataukah mereka menyelidiki air sehubungan dengan sifatnya untuk memantulkan atau menahan neutrino, padahal bumi saja bisa ditembusnya? Perhatian UFO terhadap pusat-pusat tenaga listrik disorot oleh John Fuller dalam bukunya “Incident at Exeter”, yang mengungkapkan kejadian-kejadian sekitar matinya jaringan listrik secara spektakuler di New York, New Hampshire dan negara-negara bagian di sekitarnya di tahun enam puluhan. Dilaporkan adanya UFO-UFO kecil yang keluar dari induk-induknya yang kemudian mengambang di dekat kabel-kabel listrik tegangan tinggi dan menyentuhnya dengan perantaraan pipa yang dijulurkan. Hal yang serupa terjadi dalam kasus Schirmer (1967). Apakah UFO-UFO itu sedang menyelidiki ataukah mencuri listrik? 35 Makhluk UFO Menurut katalogus yang disusun oleh Dr.Jacques Vallee, dari 1.247 kasus penyaksian UFO jarak dekat tercatat 750 kasus pendaratan UFO itu, 300 kasus melaporkan disaksikannya makhluk-makhluk UFO di dalam atau di dekat wahananya yang mendarat itu. Wujud makhluk-makhluk UFO yang disaksikan itu berdasarkan tingginya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok umum, sedang karakteristik fisik dan tingkah laku masing-masing kelompok itu rupa-rupanya mempunyai kekhasannya sendiri-sendiri. Ketiga kelompok umum itu ialah: 1. Makhluk Kerdil. Tingginya hanya kurang lebih 3 1/2' (1 m). Sering berpakaian juru selam. Merupakan 60% atau mayoritas dari semua laporan makhluk UFO. 2. Makhluk Normal. Seperti kita atau lebih pendek sedikit. Ada yang persis seperti kita, ada yang sedikit berbeda. Mencapai kurang lebih 30 % dari seluruh laporan makhluk UFO. 3. Makhluk Raksasa. Sangat jangkung (kurang lebih 7' = 2,1 m), umumnya dengan roman muka yang sangat jelek. Hanya merupakan kurang lebih 10% dari semua laporan makhluk UFO. Dalam pada itu makhluk-makhluk UFO tersebut di atas memperlihatkan variasi-variasi, yang dapat dikelompokkan menjadi: a. Makhluk-makhluk yang dapat bernafas bebas di dalam atmofir kita. b. Makhluk-makhluk yang memakai pakaian seperti juru selam. c. Makhluk-makhluk yang seperti robot. d. Makhluk-makhluk yang seperti hewan. Makhluk Kerdil. Kelompol yang merupakan mayoritas ini ada yang berpakaian juru selam, sehingga wujudnya tidak kelihatan kecuali bahwa mereka itu kerdil, punya kepala, badan dan anggota badan. Makhluk kerdil yang tidak berpakaian juru selam dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu yang wujudnya bersifat manusiawi dan hewani. Jenis yang wujudnya manusiawi umumnya mempunyai ciri-ciri seperti kelompok makhluk normal dari jenis yang sedikit berbeda dari kita, yaitu kepala dan mata yang secara proporsional besar, hidung mulut, dan telinga yang kecil. Kecuali itu dia umumnya mempunyai dada serta anggota badan yang kekar. Makhluk Normal. Separo dari jumlah makhluk normal yang pernah disaksikan terdiri dari makhlukmakhluk UFO yang persis seperti manusia bumi. Mereka tampak seperti orang Barat yang berambut coklat, pirang atau putih platina. Matanya coklat atau biru dan umumnya mengenakan pakaian seragam yang berwarna perak atau biru. Andaikata mereka berpakaian seperti manusia bumi, mereka dapat bergerak di tengah masyarakat ramai tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan hal itu agaknya telah terjadi: dalam abad yang lalu mereka mendarat di Amerika Serikat dengan kapal-kapal udara yang pada waktu itu belum ada dan mengenakan pakaian menurut potongan masa itu. Dewasa ini di negara itu juga disinyalir orang-orang yang berpakaian serba hitam serta mengendarai mobil berwarna hitam yang misterius: mereka mendatangi para saksi UFO untuk mengambil pecahan logam dari UFO dan memerintahkan supaya tutup mulut sambil disertai ancaman. Para saksi mengira mereka petugas-petugas FBI. Ada pula yang menyamar sebagai perwira Angkatan Udara Amerika Serikat, tentang hal tersebut kemudian Markas Besarnya mengeluarkan surat edaran intern yang meminta perhatian para komandan tentang perwiraperwira gadungan itu. Demikian pula di antara mereka yang dibawa ke dalam UFO ada yang melaporkan bahwa mereka mengalami pemeriksaan medis oleh makhluk yang wujudnya persos seperti manusia bumi, mengenakan pakaian seorang dokter dan memakai kaca mata biasa! Kelompok makhluk normal dari jenis yang sedikit berbeda dari kita umumnya mempunyai kepala yang besar, mata yang besar dengan sudut yang runcing dan miring ke atas seperti kucing, hidung, telinga dan mulut yang kecil serta bibir yang hampir tak kelihatan. Warna kulitnya putih, kuning, merah, kelabu atau hijau, hal tersebut mungkin dipengaruhi pula oleh keadaan penerangan sewaktu dilihat para saksi. Dari deskripsi tersebut dapat disimpulkan bahwa makhluk-makhluk itu secara proporsional mempunyai volume otak yang melebihi kita. Makhluk Raksasa. Kelompok makhluk raksasa relatif jarang dilaporkan meskipun sudah dikenal dalam sejarah UFO sejak awal tahun 50 an. Raksasa Sutton dari kasus May & Lemon di Sutton, West Virginia (1952), merupakan laporan yang menggemparkan. Tingginya kurang lebih 10' (3 m), roman mukanya yang bulat itu berwarna merah darah dan berpeluh, sepasang mata yang bulat melotot keluar dan terpisah kurang lebih 1' (30 cm), badannya berwarna hijau dan menyala ketika diterangi sinar lampu. Raksasa itu memakai semacam rok berwarna hijau muda, dan pada punggungnya terdapat alat berwarna hitam berbentuk sekop seperti pada kartu bridge. Raksasa itu menuju ke arah para saksi dengan gerakan melayang sambil mengeluarkan bunyi bernada tinggi serta menyebarkan bau amis serta tembaga yang memuakkan. Di rumput tertinggal jejak seperti ski, namun tidak ada yang menekan tanah sehingga disimpulkan bahwa raksasa yang sebesar itu ringan saja. Kasus itu mungkin termasuk yang pertamatama melaporkan gerakan melayang dari makhluk-makhluk UFO. Makhluk raksasa lainnya dilaporkan dalam kasus di gurun pasir Arizona (1971), di mana 2 orang saksi diculik dan diperiksa oleh makhluk-makhluk raksasa setingi 7' sampai 9' (2,1-2,7 m). Mereka jelek tampangnya, dengan bahu yang menurun, kulit seperti kulit buaya, kaki seperti kaki gajah dan tangan dengan 3 buah jari dan itu jari yang masuk. Kecuali pemeriksaan medis dengan alat-alat seperti komputer yang serba otomatis, kepada salah seorang saksi juga diperlihatkan keadaan bumi di masa mendatang: 36 kilatan-kilatan cahaya yang menandakan ledakan-ledakan nuklur dalam Perang Dunia ke 3 yang akan terjadi pada tanggal 7 Juni 1985 pukul 12.00 waktu Arizona. Laporan makhluk raksasa yang mutakhir ialah yang terjadi pada malam hari tanggal 6 Desember 1978 di Torriglia, dekat Genoa, Itali. Saksinya ialah seorang penjaga keamanan swasta bernama Fortunato “Piero” Zanfretta, umur 26 tahun. Ia sedang menyelidiki cahaya-cahaya aneh di dekat sebuah villa yang semula disangka lampu senter dari para pencuri. Tiba-tiba ditepuk bahunya dari belakang dan dalam lampu senternya ia melihat wajah jelek yang mengerikan dari seorang raksasa setinggi kurang lebih 10' (3 m) Kulitnya berwarna hijau tua dan pipa-pipa aneh yang mendatar dan berwarna kelabu tua membungkus badannya. Makhluk-makhluk raksasa itu mempunyai kepala yang lebarnya 2' (60 cm) dengan sepasang mata berwarna kuning yang berbentuk segitiga, rambut yang berbentuk duri dan daun telinga yang meruncing. Saksi Zanfretta juga dapat melihat pembuluh darah yang merah di dahi, kulit yang berkeriput seperti orang tua, sesuatu yang berwarna kuning di dahi seperti mata ketiga, bibir yang tebal dan tangan serta jari-jari dengan kuku. Makhluk-makhluk raksasa itu berkomunikasi dengan saksi melalui sebuah alat yang berpijar dan mengatakan bahwa mereka datang dari galaksi ketiga. Mereka ingin berbicara dan berjanji sebentar lagi akan kembali lagi dan dalam jumlah besar. Makhluk Bernafas Bebas. Makhluk-makhluk UFO yang dapat bernafas bebas di dalam atmosfir kita juga sangat mengherankan dan yang pernah disaksikan terdiri dari semua kelompok, baik yang kerdil, yang normal maupun yang raksasa. Makhluk Berpakaian Juru Selam. Makhluk-makhluk UFO yang memakai pakaian seperti juru selam, kadang-kadang lengkap dengang alat pernafasannya, yang pernah disaksikan terdiri terutama dari kelompok kerdil dan normal. Makhluk Seperti Robot. Makhluk-makhluk UFO yang seperti robot umumnya termasuk kelompok normal. Di dalam kasus Cisco Grove (1964) robot-robot itu tampak menyertai makhluk-makhluk UFO yang tingginya normal, dan membantu yang disebut terakhir itu di dalam usaha menculik saksi yang ternyata menemui kegagalan. Di dalam kasus Hickson dan Calvin (Pascagoula, 1973), robot-robot itu tidak mempunyai mata, namun berhasil menculik para saksi sebentar dan setelah suatu pemeriksaan medis dikembalikan ke tempat semula. Sementara penulis ada yang menganut pendapat, bahwa robot di Pascagoula itu mungkin makhluk UFO yang memakai pakaian juru selam pula. Namun adanya robot tidak dapat diingkari jikalau kita mengingat kasus Cisco Grove tersebut di atas. Makhluk Seperti Hewan. Makhluk-makhluk UFO dari semua kelompok kerdil ternyata ada yang memppunyai wujud hewani dan yang pernah disaksikan terdiri dari jenis yang tanpa bulu dan ada pula yang berbulu tebal. Makhluk UFO yang seperti hewan tanpa bulu itu ada yang mempunyai kepala dan mata yang secara proporsional besar, mulut yang kecil tanpa bibir, daun telinga yang sangat lebar, lengan yang sangat panjang dengan tangan dan jari-jari yang berkuku panjang. Jenis itu muncul dalam kasus Kelly Hopkensville (1955) dan jikalau berpindah tempat dengan cepat ia tampat membungkuk ke depan sambil mempergunakan kedua tangannya, meskipun ia berdiri tegak apabila berjalan biasa. Macam lain ialah yang ukuran kepala secara proporsioanl normal, akan tetapi seluruh tubuhnya berbulu tebal dan mempunyai cakar. Makhluk-makhluk itu kepergok sedang memungut batu, kemudian menyerang para saksi (kasus Gonzales dan Ponce, Caracas 1954). Jadi mereka itu di samping berwujud hewani, juga galak. Di Prancis pernah dilaporkan makhluk seperti itu, akan tetapi matanya hanya satu dan terdapat di tengah! Sifat dan Kemampuan Makhluk UFO. Meskipun tinggi dan wujudnya beraneka warna, makhluk UFO memperlihatkan sifat-sifat dan kemampuan yang seragam. Mereka kebal terhadap senjata api maupun senjata tajam. Mereka mempunyai kemampuan untuk loncat sangat tinggi, melayang dan terbang. Jikalau jatuh, mereka melayang ke bawah seperti benda yang ringan. Mereka, terutama yang mempunyai mata yang besar dan yang oleh para saksi disamakan dengan mata ular atau mata kucing, dapat menghipnotis dan berkomunikasi secara telepatis. Mereka juga dapat menghilang dan mengejawantah. Syukur bagi kita, sampai sekarang makhluk UFO memperlihatkan sifat-sifat non destruktif dan kegiatan eksplorasinya mencerminkan pula sifat ingin tahu dan ketabahan serta ketetapn hatinya. Makhluk UFO, kecuali yang persis seperti anusia bumi, juga memperlihatkan sifat peka terhadap cahaya, sehingga mereka tampaknya lebih menyukai tempat-tempat yang gelap dan beroperasi pada malam hari. Manakah Makhluk UFO yang Asli? Andaikata makhluk UFO hanya ada satu jenis saja, tidak akan timbul pertanyaan ini. Di dalam kenyataan makhluk-makhluk UFO yang pernah dijumpai mempunyai wujud yang beraneka warna, sehingga menimbulkan pertanyaan, yang manakah sebenarnya makhluk UFO yang asli? Sebagaimana dimaklumi, di dalam garis besarnya makhluk-makhluk UFO itu memperlihatkan persamaan maupun perbedaan. Persamaan yang diperlihatkan makhluk-makhluk UFO sebagai berikut: 1. Betapapun perbedaan antara makhluk-makhluk UFO itu, mereka semuanya merupkan satu tim di dalam rangka pelaksanaan kegiatan UFO di bumi kita. 2. Mereka disaksikan di dalam rangka hubungan kegiatan UFO. 3. Mereka disaksikan dalam jangka waktu terbatas. 4. Mereka memperlihatkan persamaan dalam sifat dan kemampuannya. Sebaliknya makhluk-makhluk UFO juga memperlihatkan perbedaan sebagai berikut: 37 1. Wujud makhluk Ufo ada 2 macam, yaitu yang persis seperti kita dan yang berbeda dari kita. 2. Makhluk UFO ada yang dapat bernafas dengan bebas di dalam atmosfir kita dan ada yang memakai pakaian juru selam. 3. Makhluk UFO ada yang tidak peka terhadap cahaya di sini (yaitu yang persis seperti kita) dan ada yang peka terhadapnya (yaitu yang wujudnya berbeda dari kita). Dijumpainya makhluk-makhluk UFO yang persis seperti kita amat mengherankan, oleh karena anggapan umum bahwa jikalau berasal dari luar bumi, maka dapat dipastikan bahwa wujud makhluknya akan berbeda dari kita. Yang seketika menimbulkan persoalan yang hangat ialah pertanyaan, siapakah gerangn makhluk UFO yang persis seperti kita itu? Pada dasarnya jawaban atas pertanyaan itu berkisar kepada 2 macam kemungkinan, yaitu mereka itu manusia bumi ataukah makhluk UFO. Jikalau mereka itu manusia bumi, boleh jadi: 1. Mereka ialah manusia bumi yang tidak diketahui asal usulnya dan yang bertanggungjawab atas kegiatan UFO atau berpartisipasi dalam kegiatan UFO; 2. Mereka telah diculik oleh makhluk-makhluk UFO lalu dididik menjadi pembantu-pembantu mereka khusus dalam eksplorasi di bumi ini; 3. Mereka ialah keturunan manusia bumi yang telah diculik kemudian dibawa ke planet asal UFO atau ke pangkalan UFO; 4. Mereka ialah hasil proses “cloning”, yaitu berasal dari jaringan yang diambil dari tubuh manusia bumi (sering dilaporkan oleh orang-orang yang mengalami pemeriksaan medis di dalam UFO), yang kemudian ditumbuhkan menjadi manusia seutuhnya di laboratorium mereka. Jikalau mereka itu makhluk UFO atau alat buatan makhluk UFO, boleh jadi: 1. Mereka ialah makhluk UFO yang menyamar sebagai manusia bumi dengan memakai kedok, pakaian, dan sebagainya, atau mungkin dengan pembedahan plastik dan lain-lain. 2. Mereka ialah makhluk UFO yang dijadikan “Cyborg” (Cybernetic Organism), yaitu sudah dirombak tubuh fisiknya sehingga sesuai dengan lingkungan bumi. 3. Mereka merupakan robot atau androida buatan makhluk UFO yang sangat sempurna. 4. Mereka ialah makhluk UFO yang berubah wujud menjadi manusia bumi entah secara paranormal, entah secara teknologis. Dari ulasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa persangkaan makhluk-makhluk UFO yang wujudnya persis seperti kita memang manusia-manusia bumi yang bertanggung jawab atas kegiatan UFO, sulit dipertahankan terutama di dalam menghadapi hal-hal seperti: 1. Pertanyaan. Siapakah makhluk-makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari kita dan bagaimanakah hubungannya? 2. Sinyalemen. Sampai sekarang belum pernah dilaporkan kasus, di mana kedua jenis makhluk UFO itu disaksikan bersama dan di mana makhluk yang persis seperti kita itu bertindak sebagai pemimpinnya. Jadi, terdapat petunjuk-petunjuk bahwa makhluk-makhluk UFO yang persis seperti kita adalah sekadar pembantu atau mungkin alat atau bahkan pengejawantahan dari makhluk-makhluk UFO yang asli. Mengenai makhluk-makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari manusia bumi, yang manakah makhluk UFO yang asli? Apakah yang raksasa, ataukah yang normal akan tetapi yang berbeda sedikit dari kita, ataukah yang kerdil? Meskipun tinggi dan perincian tubuh fisiknya berbeda, namun makhluk-makhluk UFO itu memperlihatkan persamaan-persamaan baik dalam bentuk maupun dalam sifat dan kemampuannya. Dr.J.A.Hynek secara tepat menunjuk kepada keadaan umat manusia di bumi bahwa terdapat banyak variasi dalam tinggi badan, mulai dari 7' (2,1 m) pada suku-suku tertentu di Afrika sampai kepada sekitar 4' (1,2 m) pada suku-suku Pygmee di Afrika dan Irian Jaya. Mayoritas manusia bumi mempunyai tinggi sekitar 1,60 m. Jikalau tinggi makhluk-makhluk UFO yang berkunjung kemari diambil sebagai ukuran, dapat disimpulkan bahwa di planet tempat asalnya, atau setidaknya di dalam korps antariksawan mereka, mayoritas orangnya terdiri dari orang-orang kerdil. Sesuai petunjuk tersebut di atas, di dalam mencari makhluk UFO yang asli, kita jangan membatasi diri kepada satu kelompok makhluk semata-mata, melainkan dengan analogi keadaan umat manusia di bumi, maka makhluk-makhluk UFO itu pun tentunya terdiri dari berbagai macam bangsa yang mempunyai ukuran dan wujud fisik yang beraneka ragam, meskipun dalam pada itu masih memperlihatkan ciri-ciri tertentu pula. Seperti telah disebut di muka, ciri-ciri tertentu dari makhluk UFO itu ialah: 1. Peka terhadap sinar cahaya di bumi kita. 2. Terbagi dalam jenis yang dapat bernafas bebas di dalam atmosfir bumi, dan jenis yang memakai pakaian seperti juru selam. Sinyalemen tersebut di atas menunjukkan bahwa makhluk UFO yang wujudnya berbeda dari kita merupakan suatu umat manusia yang telah berkembang di bawah naungan suatu matahari yang terangnya atau malahan spektrumnya berbeda dari matahari kita, hal tersebut membuat mereka peka terhadap sinar cahaya di bumi kita. Mengenai adanya makhluk-makhluk UFO yang sebagian dapat bernafas denganbebas di dalam atmosfir kita, sedang yang sebagian lagi memakai pakaian seperti juru selam, dapat diterangkan dengan 2 macam kemungkinan. 38 Kemungkinan pertama ialah bahwa atmosfir di planet tempat asal mereka itu berbeda dari atmosfir di sini, entah dalam kepadatannya, entah dalam susunannya, sehingga makhluk-makhluk UFO itu terpaksa memakai pakaian seperti juru selam apabila sedang berada di sini. Jikalau benar demikian, maka makhluk-makhluk UFO yang tampak bernafas dengan bebas di dalam atmosfir kita mungkin mampu berbuat demikian hanya untuk suatu jangka waktu yang terbatas, atau mereka itu telah diubah menjadi “Cyborg”. Kemungkinan kedua yaitu bahwa secara kebetulan atmosfir di planet tempat asal mereka itu sama atau mirip dengan atmosfir bumi kita. Hal yang dapat merupakan jawaban mengapa sebagian makhlukmakhluk UFO itu dapat bernafas dengan bebas di sini. Akan tetapi jikalau benar demikian, mengapakah sebagian lainnya memakai pakaian seperti juru selam? Pertanyaan itu dapat dijawab dengan berbagai kemungkinan: 1. Jawaban yang paling sederhana ialah, bahwa makhluk-makhluk UFO yang dimaksud baru saja datang dari bulan atau planet lain atau angkasa luar tempat mereka memerlukan pakaian tersebut. 2. Mereka sudah dijadikan “Cyborg”. untuk beroperasi di tempat-tempat yang berbeda dari lingkungan bumi kita. 3. Mereka berasal dari tempat yang berbeda sekali lingkungan alamnya, meskipun masih di planet yang sama dengan makhluk-makhluk UFO lainnya. Mengenai laporan-laporan penyaksian makhluk-makhluk UFO yang hewani wujudnya memang sulit bagi kita untukmembayangkan bahwa mereka ialah makhluk-makhluk UFO yang paling atas tingkatannya: jikalau mereka dapat menciptakan wahana-wahana antariksa antarbintang, mengapa mereka tidak pula membuat gunting kuku? Observasi ini menunjuk kepada suatu kemungkinan yang di bumi kita belum pernah dipikirkan, yaitu apakah makhluk-makhluk UFO di dalam eksplorasi antariksanya juga mempergunakan binatang-binatang yang terlatih? Ataukah mereka itu menciptakan robot-robot dengan wujud sedemikian yang di samping untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu juga berfungsi untuk mempelajari reaksi kita terhadapnya? Ataukah guna eksplorasi di bumi kita mereka sengaja memilih makhluk atau androida-androida kerdil guna mengurangi efek psikologisnya terhadap kita? Hal itu mengingat secara naluri kita lebih takut menghadapi raksasa daripada menghadapi makhluk kerdil. Mengenai roman muka makhluk UFO raksasa yang buruk dapat dicatat bahwa indah dan jelek ialah pengertian yang relatif dan subyektif. Aapa tahu makhluk-makhluk UFO juga tidak kalah ngerinya apabila berjumpa dengan manusia-manusia bumi (apalagi setelah mengamat-amati perbuatannya). Suatu hal yang mungkin dapat menenteramkan hati kita ialah bahwa setidak-tidaknya wujud dan tampang makhluk-makhluk UFO itu tidak seseram yang dibayangkan di dalam cerita-cerita khayalan ilmiah. Setidak-tidaknya makhluk-makhluk UFO yang sampai sekarang dijumpai masih terdiri dari kepala, badan dan anggota badan yang berjalan dengan tegak dan bukan berbentuk misalnya seperti seekor kepiting yang merangkak. Mengenai makhluk-makhluk UFO raksasa yang berwajahjelek dapat dicatat, bahwa di dalam seni wayang maka raksasa-raksasanya juga selalu berwajah jelek. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa makhluk UFO yang asli rupa-rupanya merupakan suatu umat manusia yang mayoritasnya terdiri dari manusia kerdil, sepertiganya manusia biasa dan minoritasnya manusia raksasa. Tingkat terang atau bahkan spektrum matahari mereka berbeda dari matahari kita dan rupa-rupanya matahari mereka berbeda dari matahari kita dan rupa-rupanya lebih cenderung ke arah inframerah. Planet asal mereka memiliki atmosfir yang susunannya sama atau lebih besar dari gaya tarik bumi. Untuk keperluan eksplorasi angkasa luar, makhluk UFO memperkuat korps antariksawannya dengan hewan-hewan terlatih, robot-robot dan manusia bumi yang mereka culik, turunannya atau tiruannya. Efek UFO Efek UFO, atau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh UFO, menurut macam subyeknya dapat dibedakan menjadi efek UFO terhadap: 1. Lingkungan, yang terdiri dari tanah atau batu, tumbuh-tumbuhan dan hewan atau ternak. 2. Benda atau alat, yang paling sering terjadi ialah yang mengenai pesawat udara, mobil, dan sarana perlistrikan. 3. Manusia, baik manusia sebagai individu maupun masyarakat pada umumnya. Dalam pada itu, efek UFO menurut sifat-sifatnya, dapat pula dibedakan menjadi efek-efek: 1. Fisik, yang meliputi gejala-gejala mekanis, termal, elektromagnetis, gravitasi, radiasi, dan lainlain. 2. Jasmaniah, yang meliputi baik timbulnya penyakit maupun terjadinya penyembuhan. 3. Rohaniah, yang meliputi gejala-gejala seperti bingung, linglung, kehilangan waktu, gangguan mental lainnya, “contactee syndrome”, di samping yang bersifat positif seperti menjadi serba tahu. 4. Paranormal, baik yang bersifat parafisis maupun parapsikologis yang dialami oleh manusia, hewan atau benda dan alat serta mencakup gejala-gejala teleport, telekinesa, telepati, Poltergeist dan sebagainya. Efek UFO Terhadap Lingkungan. Meliputi akibat-akibat yang ditimbulkan oleh UFO yang lewat, mengambang atau mendarat terhadap permukaan air atau tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan atau ternak di sekelilingnya. Efek UFO yang sedang mengambang pada ketinggian sekitar 15 m (50') di dalam 39 peristiwa Tek Un Seng (Bagan Siapi-api, 1957) ialah bertambah menggelora dan berbuihnya air laut. Di dalam kasus lain yang lebih baru dilaporkan adanya UFO yang terbang rendah di atas permukaan danau yang tenang, yang menimbulkan sejumlah kerucut air di bawah UFO seolah-olah tersedot olehnya. efekefek tersebut bersifat mekanis atau gravitatis. Selanjutnya sejumlah kasus pendaratan UFO melaporkan tertinggalnya jejak-jejak fisik seperti terinjaknya tanah, kadang-kadang oleh dasar UFO yang bulat dan rata, atau oleh alat pendaratnya yang kadang-kadang berbentuk bola, kadang-kadang berbentuk batang-batang. Di dalam kasus Marius DeWilde misalnya (Quarouble, Prancis, 10 September 1954) disaksikan UFO yang mendarat di rel kereta api dan yang meninggalkan jejak di bantalan kayu maupun di batu-batu fondamennya. Menurut perkiraan para penyelidik dari polisi dan Angkatan Udara Prancis, UFO tadi mempunyai berat sekitar 30 ton. Efek munculnya UFO terhadap hewan ialah reaksi ketakutan mulai dari diam tak berkutik sambil bersembunyi sampai kepada tingkah laku karena kegusaran. Di dalam salah satu kasus UFO yang seperti sinar tanpa bunyi melayang-layang di atas lapangan terbuka, serangga yang sebelumnya ramai berbunyi tiba-tba terdiam, sehingga keadaan alam menjadi sunyi sepi yang serba mencekam. Dalam kasus lain ayam dan unggas lainnya menjadi gaduh bahkan sebelum para saksi melihat ke atas di mana ternyata telah muncul UFO. Begitu pula anjing cenderung menggonggong apabila UFO muncul, namun dalam kasuk Kelly Hopkinsville (1955) anjing itu lari bersembunyi di kolong rumah semalam suntuk justru pada waktu makhluk-makhluk UFO berkeliaran di sekeliling dan di atas atap rumah petani tersebut. Dengan pendek kata, hewan rupa-rupanya memberikan rekasi terhadap kehadiran UFO sehinga merupakan detektor UFO yang dapat dipercaya. Berbicara tentang UFO dan hewan perlu dicatat kasus Higdon (1973), di mana sejumlah jenis rusa diangkut ke tempat makhluk UFO oleh karena di sana kekurangan pangan. Ke 5 ekor sejenis rusa itu diangkut di dalam sebuah UFO yang ukurannya kecil, lengkap bersama saksi dan 2 orang makhluk UFO, sehingga timbul dugaan bahwa cara pengangkuan itu bersifat paranormal. Misteri UFO bertambah mengherankan terutama sejak tahun 1967 karena dihubungkan dengan kematian lebih dari 8.000 ekor ternak dari negara bagian Alabama sampai Oregon, atau hampir luas daratan Amerika Serikat. Sapi-sapi itu ditemukan mati dalam keadaan yang mengherankan: organ-organ vitalnya lenyap, begitu pula darah dan cairan otaknya, namun cara pembedahannya sangat sempurna sehingga tidak mungkin dilakukan dengan pisau. Disinyalir adanya cahaya-cahaya aneh bertepatan dengan terjadinya pembantaian ternak tadi, demikian pula adanya pesawat udara dan helikopter tanpa tanda-tanda pengenal. Mengenai motifnya, ilmuwan instrumentasi radiasi Howard Burgess yang membntu polisi negara bagian New Mexico di dalam penyelidikan pembantaian ternak sapi menduga bahwa organorgan sapi yang dicuri itu dapat berguna untukmencoba jenis-jenis bakteria, riset laser atau radiasi gelombang mikro. Dr.Richard Sigismund, ahli psikologi dri Boulder, Colorado, mengatakan bahwa tim penyelidik yang terdiri dari para penegak hukum federal maupun negara bagian, dengan dibantu oleh ahliahli patologi, dokter-dokter hewan, ahli-ahli toksikologi dan lain-lain. sampa pada kesimpulan yang mencengangkan: yaitu bahwa sangat boleh jadi pembantaian ternak sapi dan pencurian bagian-bagiannya dilakukan oleh suatu organisasi yang terdiri dari makhluk-makhluk terbang yang dilengkapi dengna peralatan yang lengkap dan memiliki teknologi dan ketrampilan yang tinggi, dan mempergunakan pesawat-pesawat tak dikenal untuk melakukan kejahatan-kejahatannya. Pesawat tak dikenal kata Dr. Sigismund, entah itu buatan manusia bumi ataukah dari luar bumi, menurut definisinya adalah bendabenda terbang tak dikenal atau UFO. Kasus mulitasi ternak itu antara lain telah diselidiki oleh Harry Lebelson, peneliti APRO (Aerial Phenomena Research Organization) di cabang New York. Ditilik dari sudut sejarah, pembantaian ternak sapi telah dilaporkan pula seabad yang lalu dari Amerika Serikat ketika kapal-kapal udara tak dikenal bermunculan di sana. Jejak lain di samping tertekannya tanah ialah hangusnya rumput atau semak belukar yang kebetulan berada tepat di bawah UFO, seperti yang dilaporkan didalam kasus Zamora (Socorro, N.M., 1964). Kehangusan itu rupa-rupanya disebabkan oleh semburan api yang tampak ketika UFO itu bertolak dengan tergesa-gesa karena munculnya saksi secara tiba-tiba. Kejadian itu merupakan contoh adanya efek termal di samping efek mekanis yaitu adanya jejak bekas injakan alat pendaratnya. UFO yang mendarat atau mengambang di ladang gandum atau perkebunan jeruk juga meninggalkan jejak berupa suatu lingkaran di mana tumbuh-tumbuhan itu terputar (gejala mekanis) atau layu (gejala termal). Efek UFO yang aneh ditemukan di dalam kasus yang terjadi di daerah pertanian di luar kota Delmos, Kansas, pada tanggal 2 November 1971. Seorang anak petani berumur 16 tahun sedang bersama dengan anjing dan domba-dombanya ketika menyaksikan bagaimana sebuah UFO yang berpijar dan bergaris tengah 9' (2,7 m) turun sampai dekat di atas tanah, lalu pergi lagi. Beberapa pohon kecil sempat ditumbangkannya. Setelah UFO itu pergi, tampaklah suatu lingkaran bercahaya di tanah yang merupakan jejak yang ditinggakannya. Tanah yang terdapat di lingkaran itu ternyata menjadi tandus dan tidak dapat menyerap air. Contoh tanah di lingkaran itu bersama contoh tanah di luarnya dikirim ke berbagai laboratorium untuk diselidiki. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tanah di lingkaran itu lebih asam, mengandung kalsium 5 sampai 10 kali lebih banyak dan tinggi kadar garamnya. Struktur kristalin dengan celah difraksi yang tidak terdaftar dalam katalog telah ditemukan di dalam bahan pelapis partikel-partikel tanah. Keabnormalan-keabnormalan itu hanya ditemukan di dalam contoh tanah yang diambil dari lapisan di bawah permukaan lingkaran. Menurut keterangan Dr.J.Allen Hynek (1976) penelitian atas contohcontoh tanah itu masih berlangsung terus dalam laboratorium di Inggris, Prancis dan Uni Sovyet. 40 Dikabarkan pula bahwa istri petani pemilik tanah menyentuh lingkaran bercahaya itu dengan tangannya, kemudian dengan tangannya tadi menyentuh pahanya. Ternyata bahwa selama beberapa hari kemudian baik tangan maupun bagian dari pahanya itu terasa kaku. Efek UFO yang bagaimanakah yang telah menimbulkan perubahan-perubahan tanah itu serta memberikan daya-daya tertentu tadi masih di luar jangkauan ilmu pengetahuan kita sekarang. Jikalau perubahan tanah itu menyangkut transmutasi dari berbagai unsur, maka hal itu sudah jelas merupakan akibat dari radiasi dengan tingkat-tingkat energi sangat besar yang masuh mustahil bagi teknologi kita dewasa ini. Efek UFO Terhadap Benda dan Alat. Efek UFO terhadap benda dan alat meliputi akibat-akibat yang ditimbulkan olehnya terutama terhadap sarana angkutan. Penyaksian-penyaksian UFO sampai sekarang menunjukkan minatnya terhadap alat angkutan darat, laut, dan udara pada umumnya, pesawat udara dan mobil pada khususnya. Perhatian UFO terhadap pesawat udara sudah disebut dalam laporan-laporan penyaksian yang pertama, yang kebanyakan terdiri dari pendekatan-pendekatan dengan cara terbang dalam formasi dengan pesawat-pesawat kita pada jarak cukup jauh, meskipun ada kasus di siang hari di mana ia mendekat sampai hanya 1-2 m di antara sayap dan badan sebuah B-36! (Kasus Major Pestalozzi, Davis-Monthan AFB, Tucson, Arizona, 1 Mei 1952). Perlu dicatat bahwa beberapa kali telah terjadi pesawat terbang mencoba menghindari tabrakan di udara dengan UFO, dengan akibat bahwa para penumpangnya mengalami cedera di samping kejutan mental. Dari tingkah laku UFO sampai sekarang diketahui bahwa mereka dapat berhenti atau berubah arah secara mendadak, sehingga tidak akan terjadi tabrakan. Akan tetapi bagaimana para penerbang kita dapat mengetahuinya pada saat-saat itu yang sangat menegangkan, lebih-lebih mengingat UFO itu beterbangan tanpa mengindahkan peraturan lalu lintas udara kita? Merupakan suatu fakta yang menyedihkan bahwa perjumpaan-perjumpaan pesawat udara kita dengan UFO ada pula yang berakibat tragis seperti yang menimpa almarhum Kapten Penerbang Thomas F.Mantell dengan pesawat F-51 Mustangnya (Pangkalan Angkatan Udara Godman, Kentucky, 7 Januari 1948). Menurut catatan Dr.Hynek, sampai tahun 1978 diketahui adanya 19 kasus hilangnya pesawat udara seisinya waktu melakukan penerbangan, di mana UFO terlibat. Kasus Letnan Penerbang Fred Valentich (Melbourne, Australia, 21 Oktober 1978), yang lenyap beserta Cessna 162-nya setelah mengirim pesan melalui radio bahwa ia disergap suatu benda terbang yang bukan pesawat terbang biasa, ialah peristiwa yang terakhir. Pada saat-saat terakhir motor pesawatnya batuk-batuk, hal tersebut merupakan petunjuk adanya efek elektromagnetis dari UFO. Kasus lain yang sangat menguntungkan karena para saksinya masih hidup sehingga dapat memberitahukan pengalamannya ialah yang mengenai Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne beserta 3 orang lainnya di dalam helikopter penerbangan Angkatan Darat Amerika Serikat (Masfield, Ohio, 18 Oktober 1973). Ternyata UFO itu sangat unggul dalam kecepatan maupun pengendaliannya, sehingga dengan mudah dapat mengikuti bahkan suatu waktu menghadang helikopter tadi. UFO itu mengarahkan suatu berkas cahaya hijau yang berbentuk trapesium ke arah helikopter dengan akibat, bahwa helikopter yang sedang menukik ke bawah itu tersedot ke atas. Efek UFO itu jelas bersifat antigravitasi yang masih di luar jangkauan ilmu pengetahuan apalagi teknologi kita. Jadi, dengan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologinya itu UFO bebas untuk berbuat sekehendak hatinya terhadap pesawat udara kita yang sedang terbang, termasuk menyergap dan menculik seisinya tanpa meninggalkan bekas. UFO ternyata juga menumpahkan perhatiannya terhadap mobil terutama yang bergerak pada malam hari di jalanan yang sepi dan di daerah yang berpenduduk sedikit. Tingkah laku UFO mulai dari sekedar mengikuti mobil saja, sampai kepada mempengaruhi jalannya. Yang kerap dilaporkan ialah bagaimana perjumpaan UFO itu membuat mobil seolah-olah susut tenaganya, sinar lampunya menjadi suram, penerimaan siaran radio terganggu, dan kadang-kadang mati sama sekali, namun begitu UFO berlalu maka segala sesuatunya menjadi normal kembali dengan sendirinya. Gejala-gejala itu dikenal dengan efek elektromagnetik, dan rupa-rupanya tidak mengganggu kendaraan yang memakai motor diesel. Di samping itu terdapat pula kasus-kasus yaitu pengemudinya untuk beberapa saat kehilangan kekuasaan atas kendaraannya, hal tersebut minimal saat mengagetkan. Tercatat pula kejadian bahwa mobil seorang deputy sherif berpapasan dengan cahaya-cahaya aneh jpada malam hari, yang menimbulkan sejumlah kerusakan kecil. Yang paling mentakjubkan ialah kasus Dr.Giraldo Vidal beserta istri yang terjadi di Argentina dalam bulan Mei 1968. Mereka sedang naik mobil Peugeot 403 di jalan raya dari Casgomas ke Maifu sejauh 150 km, di tengah jalan ada seperti kabut. Ketika mereka memasuki kabut itu, tiba-tiba mereka hilang ingatannya. Setelah mereka sadar, bagian belakang kepalanya merasa sakit dan terheran-heran mengetahui bahwa sudah berlalu 48 jam. Keadaan sekelilingnya asing bagi mereka, dan alangkah terkejut campur tercengangnya mereka ketika mengetahui bahwa mereka telah berada di Mexico yang jauhnya 6.400 km dari Argentina! Ternyata cata mobilnya dibagian luar telah mengelupas seperti telah terkena suhu tinggi, dan konon mobil mereka itu kemudian diserahkan kepada pihak Amerika Serikat untuk dijadikan bahan penyelidikan. Peristiwa pemindahan mobil seisinya itu dinamakan efek “mass displacement” dan apakah tergolong gejala normal ataukan paranormal, merupakan pernyataan terbuka. Efek UFO Terhadap Manusia. Efek UFO terhadap manusia dapat dibagi menjadi akibat-akibat yang ditimbulkan UFO terhadap manusia sebagai perorangan, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah, dan terhadap manusia di dalam hubungan kemasyarakatan seluruhnya. Yang dimaksud dengan UFO di sini adalah wahana, peralatan, atau mahluk UFO. Akibat-akibat jasmaniah dari penyaksian UFO dapat berupa: 1. keluhat mata dari mulai peradangan bola mata sampai kepada kebutaaan sementara; 2. lumpuh sebagian atau kehilangan pengendalian otot-otot sadar; 41 3. luka-luka bakar akibat gelombang panas atau berkas sinar dari UFO; 4. kehilangan nafsu makan; 5. rasa seperti tanpa bobot; 6. penyembuhan dari luka kulit yang meradang. Akibat-akibat rohaniah dari penyaksian UFO dapat berupa: 1. bingung, linglung, dan gejala disoerientasi lainnya; 2. kehilangan rasa waktu; 3. halusinasi audio-visual; 4. tidak dapat tidur, impian yang menakutkan dan perubahan tingkah-laku yang drastis; 5. menjadi serba tahu. Dr. Jacques Valle mensinyalir bahwa sebagian besar akibat-akibat UFO terhadap manusia mirip dengan gejala-gejala serangan sakit ayan. Merupakan suatu fakta bahwa seorang penderita yang sedang mengalami serangan penyakit itu apabila direkam kerja otaknya dengan E.E.G., memperlihatkan timbulnya gangguan-gangguan bio-listrik. Adalah suatu fakta pula bahwa UFO menimbulkan efek-efek elektro-magnetik terhadap tubuh manusia? Jikalau memang demikian adanya, akibat-akibat negatif terhadap manusia itu rupa-rupanya bukan suatu kesengajaan dari para mahluk UFO. Efek UFO lainnya terhadap rokhani manusia berupa munculnya sejumlah orang yang mengaku telah terpilih untuk menjadi perantara oleh makhluk-makhluk UFO, yang telah mengajak mereka bertamasya di dalam wahana UFO, atau berwawancara dengan mereka secara langsung atau berkomunikasi dengan mereka secara telepatis. Orang-orang yang merasa dirinya menjadi perantara makhluk-makhluk UFO itu memperlihatkan gejala-gejala tertentu yang disebut :”Contactee Syndrome”. Kebanyakan diantara mereka merasa dirinya diberi pesan-pesan oleh makhluk UFO yang harus diteruskan kepada umat manusia. Isinya biasanya merupakan kecaman terhadap keadaan di bumi dan imbauan atau ancaman untuk memperbaiki diri jikalau tidak mau musnah dalam suatu perang nuklir. Pesan-pesan semacam itu terkenal sebagai “Messiah-type of message”, atau pesan sejenis Juru Selamat. Isi dari pesan-pesan semacam itu tidak diragukan kepositifannya, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa tanpa bersumber kepada amkhluk UFO sekalipun kita sebenarnya sudah mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk asal kita mau mendengarkan suara hati nurani kita sendiri. Biasanya pesan-pesan semacam itu juga diselingi dengan keterangan-keterangan lain yang menyangkut ilmu pengetahuan dan ramalanramalan, yang anehnya ada kebenarannya juga. Namun rangsangan-rangsangan tersebut di atas ternyata tidak selalu mempunyai efek yang sama terhadap orang yang menerima pesan itu, hal tersebut rupanya tergantung dari kepribadiannya. Ada orang yang acuh tak acuh terhadap pesan tersebut, dan mereka tidak mengalami akibat apa-apa. Beberapa perantara lain menceritakan kisahnya dan menjadi ternama, seperti misalnya almarhum George Adamski yang katanya bertemu dengan seorang berambut pirang dari planet Venus, Daniel Fry yang sempat melancong dengan UFO yang kosong, Truan Bethurun yang bertemu dengan Aura Rhanes, komandan wanita UFO dari planet antah berantah yang bernama Clarion, dan lain-lain. Munculnya “contactees” tersebut merikuhkan para cendekiawan yang sebenarnya ingin menyelidiki UFO secara serius, oleh karena mereka enggan terlibt dengan para “contactees” tersebut. Akhir-akhir ini terhadap beberapa orang “contactee” telah dilakukan penyelidikan ilmiah untuk menguji kebenaran apa yang mereka kemukakan, antara lain dengan hipnosa. Hasilnya ialah bahwa mereka itu sungguh-sungguh menganggap apa yang katanya telah mereka alami itu sebagai suatu kenyataan. Tidak semua hal-ihwal “contactee” terdengar seperti lelucon. Seorang Brasil bernama Dino Kraspedon menerbitkan buku berjudul “My Contact With Flying Saucers” (terjemahan bahasa Inggris terbit tahun 1950). Buku tersebut mengisahkan bagaimana seorang makhluk UFO bertamu ke rumahnya dan menyampaikan banyak keterangan ilmiah dan filsafat kepadanya, termasuk pesan-pesan sejenis Juru Selamat yang klasik, dan hal-hal lain yang bersifat etis. Enam tahun kemudian Dino Kraspedon, yang nama sebenarnya adalah Aladino Felix, memproklamasikan dirinya menjadi nabi. Di depan siaran televisi ia meramalkan dengan tepat beberapa peristiwa nasional maupun international yang terkenal, seperti bencana alam besar di Brasil, akan gugurnya seorang kosmonaut Uni Sovyet (kemudian ternyata Vladimir Komarov, 1967), akan terbunuhnya pemimpin agama Martin Luther King dan calon Presiden Amerika Serikat Bob Kennedy. Namun tahun 1968 ia meramalkan dengan tepat pula serangkaian ledakan bom di Brasil oleh kaum teroris, dan pihak kepolisian berhasil membongkar pemimpinnya yang tak lain adalah Aladino Felix sendiri. Pengalaman yang serupa menimpa diri seorang “contacee” Amerika Serikat yang menamakan dirinya Fred Achmed dan yang ketika tertangkap polisi karena perbuatan teror sedang memimpin gerakan yang bernama “New Lybia” pada tahun 1967. Menurut pengakuannya awal-mula segala sesuatu terjadi 7 tahun sebelumnya, ketika ia sedang naik pesawat terbang dan secara telepatis menerima pesan bahwa ia dijadikan “contactee”. Dari kejadian-kejadian tersebut di atas dapat ditarik peringatan, bahwa masalah “contactee” bersifat serius dan bukanlah lelucon, dan seyogyanya baik penderita yang dihinggapinya maupun sanak-saudara dan kawan-kawan terdekatnya memiliki kewaspadaan dan pengertian agar dapat mencegah timbulnya ekses-ekses sebagaimana mestinya. Mengenai akibat-akibat dari masalah UFO terhadap masyarakat dapat dicatat hal-hal seperti tersebut di bawah ini. 42 1. Semakin banyak orang yang percaya adanya UFO. Menurut hasil survai lembaga pendapat umum di Amerika Serikat yang bernama Gallup Poll, yang dilakukan di dalam tahun 1978. 57% atau lebih dari 100 juta penduduk Amerika Serikat percaya UFO itu nyata. 51% percaya adanya makhluk-makhluk seperti kita di planet-planet lain. Angka-angka yang sama untuk survei pendapat umum tahun 1966 ialah 46% dan 34%. Selanjutnya survai Gallup tahun 1978 juga mengungkapkan, bahwa 9% dari penduduk Amerika Serikat, atau 13 juta orang, pernah menyaksikan UFO! Hasil lain yang menarik ialah bahwa ternyata generasi muda lebuh banyak yang pernah melihat UFO dan lebih mudah menerima kenyataan UFO serta kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi, jikalau dibandingkan dengan generasi tua. Berdasarkan asumsi bahwa pendapat umum di Amerika Serikat tersebut di atas tidak akan banyak berbeda dari pendapat umum di seluruh dunia, maka jelaslah kecenderungan yang semakin meningkat dari pendapat umum, dan dengan demikian juga sikap mental, yang positif terhadap masalah UFO dan yang meliputi seluruh dunia. 2. Meluasnya kesadaran kosmis. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa semakin meluasnya pendapat umum yang menerima kemungkinan adanya UFO dan kehidupan cerdas di luar bumi akan dibarengi dengan meluasnya kesadaran tentang posisi umat manusia di dalam alam semesta ini serta hubungannya dengan umat-umat manusia lainnya. Skala berpikir mondial dengan demikian diperluas dengan skala yang lebih besar, entah interstellar, intergalaktik atau mungkin interdimensional, tergantung dari tempat asal kecerdasan luar bumi pertama yang akan mengadakan kontak resmi dengan kita. 3. Timbulnya rasa ketergantungan kepada luar bumi. Buku-buku karangan Erich von Daniken tentang kemungkinan kunjungan astronot-astronot luar bumi di zaman purbakala telah menyebarluaskan persangkaan, bahwa karya-karya besar peradaban-peradaban yang lalu hanya dimungkinkan oleh campur tangan makhluk-makhluk luar bumi yang cerdas. Padahal teori yang dikemukakan itu sebenarnya masih jauh dari sempurna dan belum dapat menjawab semua teka teki atau malahan menimbulkan pertanyaanpertanyaan baru. Misalnya jikalau baik peradaban Mesir kuno maupun Indian kuno di Amerika Selatan menerima bantuan teknik dari luar bumi, mengapakah penemuan roda yang sangat penting bagi pengangkutan tidak dikenal di dalam kebudayaan Indian kuno? Demikian pula raja-raja Fir’aun menurut penelitian modern dengan sinar X ternyata meninggal pada usia sangat muda, yaitu ketika mencapai umur belasan tahun. Dan bangsa Indian kuno sangat menderita berbagai macam penyakit, di antaranya ada yang sebelum Columbus hanya dikenal di benua Amerika. Pertanyaan yang logis ialah, mengapakah para tamu luar bumi yang begitu unggul ilmu pengetahuannya tidak memberikan obat-obatan kepada mereka itu? Maka dari itu timbulnya rasa ketergantungan kepada makhluk-makhluk cerdas dari luar bumi kiranya merupakan suatu salah sangka yang perlu diberantas. 4. Timbulnya kultus UFO. Perkembangan kemasyarakatan yang negatif setelah munculnya masalah UFO ialah timbulnya kelompok-kelompok yang mengkultuskan UFO, seperti yang terdapat di Amerika Serikat. Kultus UFO itu dapat dianggap sebagai bentuk ketergantungan kepada luar bumi yang ekstrim. Mereka menganggap bahwa umat manusia sekarang tidak dapat diharapkan lagi untuk memperbaiki dirinya sehingga mengharapkan intervensi ekstra terrestrial untuk menyelamatkan dunia kita. Ketidakmampuan kalangan ilmu pengetahuan kita untuk memberikan keterangan yang memuaskan dianggap sebagai bukti keunggulan kecerdasan luar bumi yang mereka andalkan, meskipun hal itu untuk sebagian disebabkan oleh sikap keliru dari kalangan ilmu pengetahuan kita yang tidak mau membuka pikirannya baginya. Dengan demikian kultus UFO di kalangan masyarakat yang sudah maju anehnya sama saja dengan gejala kultus terhadap pesawat-pesawat angkut dari Perang Dunia ke 2, atau “Cargo Cult”, yang terdapat di sementara suku bangsa primitif! Yaitu terkesan oleh dropping barang-barang dan perbekalan lain dari pesawat-pesawat terbang Amerika Serikat semasa Perang Pasifik, maka sampai sekarang suku terasing yang bersangkutan itu apabila sedang menghadapi masa paceklik melakukan upacara yang terdiri dari tarian untuk meniru dropping dari udara tersebut. Latar belakangnya ialah suatu harapan akan jatuhnya segala yang mereka perlukan dari langit, sehingga paceklik bisa diatasi. Dari Manakah UFO Itu Berasal Atas pertanyaan, dari manakah UFO itu berasal, suatu konperensi para peneliti masalah UFO di Chicago pada tahun 1976 memberikan jawaban, yang untuk 47 1/2% menganut hipotesa ekstra terrestrial, untuk 47 1/2% lagi menganut hipotesa lain yang eksotik, untuk 2 % mengira bahwa asalnya dari peradaban di bumi, sedang selebihnya tidak menjawab. Hipotesa Ekstra terrestrial. Jikalau UFO berasal dari luar bumi, tepatnya ia datang dari mana? Jikalau kita dapat mempercayai keterangan dari para saksi ketika berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO, ternyata tidak terdapat keseragaman. Laporan dari Spanyol mengatakan adanya makhluk-makhluk UFO yang mengaku berasal dari planet bernama Ummo yang mengedari bintang Wolf 424 sejauh 14,2 tahun cahaya (1967). Kasus Barney dan Betty Hill (1961) barangkali memberi keterangan paling terperinci mengenai tempat asal makhluk UFO dan jaringan penerbangan interstellarnya. Betty Hill telah membuat gambar peta bintang yang diperlihatkan kepadanya oleh komandan UFO. Hasil penelitian atas gambar tersebut oleh Marjorie Fish (1974) menafsirkan Zeta 1 Reticuli (37 tahun cahaya) sebagai tempat asal UFO, adanya trayek dagang ke Zeta 2 Reticuli (24 hari cahaya dari Zeta 1 Reticuli), dan 4 bintang yang kadang-kadang dikunjungi sebagai matahari kita, 82 Eridani, Gliese 86 dan Alpha Mensae. Hasil 43 penelitian Charles W. Atterberg atas gambar Betty Hill sebaliknya menafsirkan Epsilon Eridani (10,7 tahun cahaya) sebagai tempat asal UFO, adanya rute dagang ke Epsilon Indi, dan menafsirkan 4 bintang yang kadang-kadang dikunjungi sebagai matahari, Ross 248, Groombridge 34 dan Tau Ceti. Dalam kasus Zanfretta (Genoa, Itali, 1978) makhluk UFO yang berwujud raksasa memberitahukan bahwa ia datang dari galaksi ketiga. Galaksi kita memang mempunyai 2 tetangga terdekat, yaitu Awan Magelhan Besar dan Awan Magelhan Kecil, pada jarak 75.000 tahun cahaya dari tepi galaksi kita yang terdekat, atau 150.000 tahun cahaya dari sini. Bagaimanakah cerita para “contactee” tentang tempat asal UFO? George Adamski (almarhum) bercerita, bahwa manusia UFO yang rupawan yang mengajak ia bertamasya ke luar bumi, berasal dri planet Venus (1952). Seorang “contactee” lain, Truman Bethurum, bercerita bahwa ia berjumpa dengan nakoda wanita UFO yang cantik bernama Aura Rhanes, yang berasal dari planet Clarion. Planet itu merupakan bumi kembar yang berada dalam orbit yang sama dengan bumi kita, akan tetapi berseberangan tempatnya. Akibatnya ialah bahwa kita tidak pernah dapat melihatnya oleh karena terhalang oleh matahari. “Contactee” lain ialah Dino Kraspedon dari Brasil, yang di dalam buku:”My contact with Flying Saucers” (1957) menceriterakan perjumpaannya dengan makhluk UFO. Wujudnya persis seperti kita, tidak punya nama, dan berkunjung ke rumahnya atau bertemu di tempat lain di kota Sao Paolo. Katanya ia datang dari Ganymede dan Io yang merupakan satelit-satelit dari planet raksasa Jupiter. Jadi, menurut berbagai cerita para “contactee” maka UFO berasal dari planet-planet lain di dalam tata surya kita. Jikalau kita mendengar pendapat para ahli ilmu pengetahuan tentang tempat asal UFO, umumnya disinggung kemungkinan luar bumi mulai dari luar atmosfir bumi sampai galaksi lain. Dr.James E.MacDonald (almarhum), Profesor fisika Atmosfir dan Ahli Fisika Senior pada Institute Fisika Atmosfir Universitas Arizona, di dalam wawancara dengan majalah “Saucer News” musin semi 1967, mengatakan,”....Saya sama sekali tidak mengetahui dari mana datangnya UFO atau bagaimana mereka dijalankan, akan tetapi setelah penelitian 10 tahun saya tahu bahwa mereka ialah sesuatu yang datang dari luar atmosfir kita.” Dr. Maurice A.Biot, ahli aerodinamika dan fisika matematik terkemuka, di dalam wawancara dengan majalah “Life” tanggal 7 April 1952, antara lain mengatakan bahwa keterangan yang paling tidak mustahil ialah bahwa UFO itu benda buatan dan dikemudikan. Ia sudah mempunyai pendapat sejak beberapa lama bahwa mereka berasal dari luar bumi. Dr.M.K.Jessup (almarhum), ahli astrofisika pada Universitas Michigan dan peminat kepurbakalaan serta pengarang buku:”The Case for the UFO’s” (Citadell, 1955) dan buku-buku UFO lainnya, mengemukakan kesimpulannya bahwa UFO berasal dari lingkungan bumi dan bulan saja. Selanjutnya Dr.Frank Halstead dari Darling Observatory, Duluth, Minnesota, mengungkapkan pendapatnya di dalam majalah “Flying Saucer” bulan Juni 1957, bahwa:”....banyak ahli asronomi profesional yakin bahwa piring terbang ialah mesin-mesin antarplaneter.... Saya kira mereka datang dari tata surya lain, tetapi mereka dapat juga memakai planet Mars sebagai pangkalan.” Sebagaimana diketahui, tetangga matahari kita yang paling dekat ialah bintang Alpha Centauri yang sebenarnya merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari 3 buah matahari yang berdekatan, yaitu Alpha Centauri A atau disebut pula Proxima Centauri, Alpha Centauri B, dan Alpha Centauri C. Proxima Centari yang jauhnya 4,3 tahun cahaya mempunyai spektrum yang sama dengan matahari kita yaitu dari kelas spektral G2V, sedang massanya hanya lebih besar sedikit (1,09). Apakah Alpha Centauri itu merupakan suatu tata surya yang memiliki sistem planet-planet, tidak dapat diketahui dengan cara penelitian yang dewasa ini dipergunakan. Andaikata terdapat planet-planet, maka terutama Proxima Centauri akan menarik perhatian besar dari segi kemungkinan adanya kehidupan seperti kita. Perkiraan yang paling dini tentang tempat asal UFO dikemukakan di dalam telaahan staf Project “Sign” (1947) dari Pusat Intelijen Teknik Angkatan Udara Amerika Serikat, yang memilih bintang Wolff 359 yang jauhnya 8 tahun cahaya. Perlu dicatat, bahwa bintang tersebut mempunyai massa yang hanya 1/5 matahari kita, memiliki kelas spektral yang berbeda serta sering mengalami ledakan matahari. Wado Wellman dalam majalah “Flying Saucer Review” (1962) mengemukakan pendapat bahwa mengingat makhluk-makhluk UFO itu, atau setidak-tidaknya salah satu bangsa di antaranya berwujud kerdil, kuat, keras, dan dapat lari cepat, maka planet asalnya ialah besar dan berat, seperti yang diduga mengelilingi bintang-bintang 61 Cygni (jarak 11,1 tahun cahaya) atau 70 Ophiuchi (jarak 17 tahun cahaya). Ahli astronomi Skotlandia D.A.Lunan mengemukakan di dalam suatu hipotesa (1972) yang berdasarkan anomali propagasi radio, bahwa ada wahana antariksa asing yang berkedudukan di antara bumi dan bulan, dan yang berasal dari bintang Epsilon Bootes yang jauhnya 103 tahun cahaya. Teori baru dalam rangka hpotesa ekstra terrestrial diungkapkan oleh Robert K.G.Temple, F.R.A.S., dalam buku:”The Sirius Mysteri” (1979), yang merupakan hasil penyelidikan 8 tahun lamanya dalam bidang-bidang astronomi, antropologi, dan mitologi. Ia menemukan fakta yang mengherankan, bahwa suku bangsa Dogon di benua Afrika yang masih primitif ternyata mengenal pemujaan makhluk-makhluk yang mereka hubungkan dengna sistem bintang Sirius. Tanpa intrumentasi ilmiah suku Dogon itu mengetahui dengan teliti gerakan maupun karakteristik pengiring Sirius yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Temple juga berpendapat, bahwa kunjungan makhluk-makhluk amfibi dari sistem bintang Sirius itu yang terjadi lebih dari 3.000 tahun sebelum Masehi, juga menjadi sumber dari peradaban Sumeria maupun Mesir Kuno. Perlu dicatat, bahwa Sirius ialah bintang yang paling terang di langit, dan pada jarak 8,6 tahun cahaya merupakan tetangga 44 terdekat yang ke 6 dari matahari kita. Sirius merupakan sistem bintang kembar, akan tetapi saudara kembarnya itu ialah bintang kecil dari magnituda ke 8, sehingga hanya dapat dilihat dengan teleskop yang cukup besar. Dr. Herman Oberth, perintis peroketan dan penerbangan antariksa, di dalam jumpa pers di Innsbruck, Austria, bulan Juni 1954 menyatakan, bahwa UFO itu diciptakan dan dikendalikan oleh makhluk-makhluk cerdas yang sangat tinggi tingkatnya. Mereka boleh jadi tidak berasal dari tata surya kita, barangkali juga tidak dari galaksi kita. Untuk melengkapi jawaban atau pertanyaan, dari manakah datangnya UFO, kiranya ada baiknya pula kita mencatat keterangan yang diperoleh secara paranormal. Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” (Pustaka Rakyat, Jakarta, 1960) tempat asal UFO diidentifikasi oleh suami-istri Agusnain sebagai bintang YC 5473 yang tidak tampak dengan mata telanjang dan yang terdapat di dekat bintang Ksi Bootes. Lokasi itu sangat menarik terutama sejak ahli astronomi D.A.Lunan pada tahun 1972 memperkirakan adanya wahana antariksa yang datang di dekat bumi 13.000 tahun yang lalu dan yang berasal dari bintang Epsilon Bootes. Rama Sudyat dari Semarang secara pengamatan paranormal juga menemukan bahwa UFO berasal dar tata surya lain. Seorang pemimpin kebatinan lian, Bapak Nasibu, mengidentifikasi tempat asal UFO sejauh 7 hari cahaya dari bumi. Demikianlah apa yang dapat dikumpulkan tentang tempat asal UFO di dalam rangka hipotesa extra terrestrial, yang meliputi tempat-tempat di antariksa mulai dari antara bumi dan bulan sampai kepada galaksi lain yang terdekat. Adalah menarik perhatian miripnya hipotesa Dr. M.K.Jessup (almarhum) dan ahli astronomi D.A.Lunan, yang kedua-duanya memperkirakan sumber UFO di antara bumi dan bulan. Menurut mekanika orbit, di antara bumi dan bulan terdapat apa yang dinamakan titik-titik Lagrange, di mana terdapat keseimbangan antara gaya-gaya tarik bumi, bulan, dan matahari sehingga merupakan tempat parkir stasioner bagi wahana-wahana antariksa. Mungkinkah di sana diparkir wahana antariksa dari Epsilon Bootes yang telah mencoba berkomunikasi dengan kita melalui modulasi siaran radio telegrafi akhir tahun dua puluhan dan awal tahun tiga puluhan, seperti persangkaan Lunan? Mungkinkah wahana antariksa yang sama juga memiliki kemampuan tidak hanya untuk memodulasi siaran radio kita, akan tetapi juga untuk menimbulkan gejala-gejala UFO pada umumnya, seperti persangkaan Dr.M.K.Jessup (almarhum)? Adalah sesuatu hal yang menarik untuk mempelajari apakah ada hubungan antara titik-titik Lagrange dengan gejala UFO umumnya, gelombang UFO khususnya. Mengenai keterangan, bahwa UFO itu berasal dari planet Venus, serta satelit-satelit Gaymede dan Io dari planet Jupiter, telah dibantah oleh hasil-hasil pemotretan dan penelitian wahana-wahana antariksa Amerika Serikat maupun Uni Sovyet di dalam dasawarsa tujuh puluhan. Planet Venus ternyata mempunyai tekanan udara di permukaannya sebesar 90 atmosfir, suhu 500 derajat Celsius, atmosfir yang untuk 90 % terdiri dari karbon dioksida dengan suatu lapisan awan yang tetap yang terdiri dari asam belerang. Keadaan alam seganas itu sudah pasti tidak mengizinkan adanya manusia-manusia rupawan seperti kata George Adamski (almarhum). Demikian pula foto-foto dari satelit-satelit Ganymede dan Io yang dibuat oleh NASA memperlihatkan alam yang tandus dan dingin, tanpa adanya kota-kota maju di mana makhluk UFO yang menghubungi Dino Kraspedon bermukim. Selanjutnya planet Clarion tempat asal si cantik komandan UFO Aura Rhanes yang katanya menghubungi Truman Bethurum, ternyata tidak mungkin ada: perhitungan-perhitungan astronomis yang dilakukan oleh panitia Condon (1968) berkesimpulan bahwa andaikata planet Clarion ada, maka kehadirannya itu akan menimbulkan kelainankelainan tertentu pada orbit-orbit planet dan benda langit lainnya. Dan kelainan-kelainan yang dimaksud itu tidak terdapat. Sejauh manakah ilmu pengetahuan sekarang tentang tata surya lain? Berlainan dengan planet-planet terdekat di dalam tata surya kita yang di dalam 2 dasawarsa terakhir ini sudah mulai dikunjungi oleh wahana-wahana antariksa kita, maka tata-tata surya lain yang terdekat sekalipun masih di luar jangkauan manusia. Dengan teleskop yang terbesar sekalipun kita tidak dapat melihat secara langsung apakah ada planet-planet yang mengelilingi suatu bintang. Hanya jikalau perjalanan bintang-bintang itu memperlihatkan kelainan-kelainan, kita baru dapat membuat deduksi tentang adanya planet-planet yang mengiringinya. Hal itu disebabkan oleh karena jarak pemisah di antara bintang-bintang itu tak terperikan jauhnya. Cahaya yang memiliki kecepatan 300.000 km sedetik sanggup untuk 7 1/2 kali mengelilingi katulistiwa dalam waktu sedetik, memerlukan 5 menit untuk menempuh jarak dari matahari ke bumi, dan 8 jam untuk mencapai planet Pluto yang merupakan batas luar dari tata surya kita. Namun untuk mencapai matahari lain yang merupakan tetangga yang terdekat dari matahari kita, yaitu Alpha Centauri yang terdiri dari 3 buah bintang yang berdekatan, cahaya yang secepat itu memerlukan waktu 4,25 tahun. Contoh dari bintang yang memperlihatkan petunjuk-petunjuk adanya sistem planet-planet misalnya adalah Barnard (5,9 tahun cahaya), Lalande 21185 (8,1 tahun cahaya) dan 61 Cygni serta 70 Ophiuchi yang telah disebut terdahulu. Namun perlu dicatat, bahwa cara tersebut di atas tidak peka bagi sistem planet yang massanya kecil jikalau dibandingkan dengan massa mataharinya. Misalnya dengan cara tersebut seorang pengamat di bintang Alpha Centauri yang terdekat sekalipun tidak akan dapat menemukan sistem planet yang dimiliki matahari kita. Kemungkinan adanya sistem planet menambah peluang bagi kemungkinan timbulnya kehidupan seperti di bumi kita. Pada tahun 1960 dilakukan percobaan-percobaan dengan radio teleskop untuk menemukan kehidupan cerdas di tata surya lain. Caranya ialah dengan jalan mengarahkan alat itu ke lokasi bintang-bintang dari kelas spektral yang sama dengan matahari kita. Jikalau di sana ada kehidupan cerdas seperti kita yang memakai komunikasi radio di planetnya, maka hal itu dapat kita dengar. 45 Hasilnya ternyata mengecewakan. Ada pula cendekiawan-cendekiawan yang menyangsikan asumsi CETI dan menunjuk kepada kemungkinan bahwa peradaban yang lebih maju dari kita mungkin sudah lama memasukkan alat komunikasi radio seperti yang kita kenal ke dalam museum mereka. Namun penelitian dengan radio teleskop telah berjasa besar dengan penemuan sejak tahun 1968 tentang adanya sejumlah molekul interstellar, 4 jenis di antaranya (yaitu air atau H2O, hidrogen cyanida atau HCN, formaldehyda atau H2CO dan Cyanoacetylene atau HC3N) penting bagi pembentukan zat biologis termasuk asam amino, sehingga mendorong minat untuk meneruskan usaha pencairan kecerdasan luar bumi. Sejak tahun 1971 bahkan mulai diselenggarakan pertemuan-pertemuan ilmiah khusus untuk membahas masalah pencarian atau hubungan dengan kecerdasan ekstra-terrestrial (SETI atau CETI), yang mula-mula mendapat perhatian dari para cendekiawan Amerika Serikat dan Uni Sovyet saja, akan tetapi kemudian mendapat perhatian besar dari kalangan ilmu pengetahuan internasional. Apakah timbulnya kehidupan dengan sendirinya menimbulkan kecerdasan ataupun peradaban yang teknologis maju? Menurut Dr. Sebastian von Hoerner dari U.S. National Radio Astronomy Laboratory, maka di dalam galaksi kita saja diperkirakan 2% dari semua bintang, atau sama dengan 2 milyar bintang, memiliki planet yang sesuai bagi timbulnya kehidupan. Dari jumlah itu dia memperkirakan bahwa yang telah berhasil mencapai peradaban teknis hanya sekitar 35.000 buah planet. Ahli astrofisika Dr. Carl Sagan dari Cornell University mempunyai perkiraan yang jauh lebih tinggi, yaitu 1.000.000 buah peradaban teknis di dalam galaksi kita saja. Di dalam bagian tentangmakhluk UFO disimpulkan bahwa spektrum matahari mereka lebih cenderung ke arah infra-merah. Wujud makhluk UFO yang di dalam garis besarnya mirip dengan manusia bumi mungkin merupakan petunjuk, bahwa pada skala interstellar mereka masih merupakan tetangga kita atau setidak-tidaknya masih satu daerah dengan kita. Makhluk UFO jelas lebih maju dan ruparupanya juga lebih tua dari kepunyaan kita. Menurut klasifikasi spektral, matahari kita dari kelas G kalah tua dengan bintang-bintang kelas K dan M yang lebih cenderung ke arah infra-merah. Di dalam radius 17 tahun cahaya dari sini, sebagian terbesar bintang-bintang tetangga kita justru lebih tua dari matahari kita. Di antara bintang-bintang tersebut yang tergolong tertua ialah dari kelas spektral M6e yang terdiri dari Wolff 359 (8 tahun cahaya), Ross 248 (10,3 tahun cahaya), Luyten 789-6 (10,3 tahun cahaya) dan Wolff 424 (14,2 tahun cahaya). Jadi, tempat asal makhluk UFO mungkin salah satu bintang tetangga kita yang memiliki spektrum yang lebih merah dan usia yang lebih tua daripada matahari kita. Dalam rangka ini penafsiran Atterberg atas peta bintang Betty Hill yang menunjuk bintang Epsikon Eridani sebagai tempat asal UFO ialah sesuai dengan kriteria tersebut, mengingat kelas spektralnya ialah K2 yang lebih tua dari matahari kita. Demikian pula penafsiran Majorie Fish yang lebih populer dan yang menunjuk bintang Zeta 1 Reticuli (jarak 37 tahun cahaya) masih dapat lebih diterima daripada yang melibatkan jarak yang lebih besar apalagi yang intergalaktik. Jikalau tempat asal makhluk UFO lebih jauh, di manakah kita harus mencarinya? Andaikata jangka hidup makhluk UFO mencapai 100.000 tahun sekalipun, jikalau kecepatan perjalanannya tidak dapat menyamai atau melebihi kecepatan cahaya, atau jikalau tidak ada jalan terobos atau cara perjalanan eksotik lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa tempat asal UFO terbatas di dalam radius yang kurang dari 50.000 tahun cahaya dari sini. Menurut astronomi, bintang-bintang yang lebih tua dari matahari kita terdapat di antara kita dengan tepi galaksi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan tempat asal UFO yang disebut di dalam rangka hipotesa ekstra terrestrial itu ialah sangat luas, mulai dari lingkungan bumi dengan bulan, planet-planet lain atau satelit-satelitnya dalam tata surya kita, bintang-bintang lain yang jauhnya beberapa tahun cahaya sampai beberapa ratus tahun cahaya, bahkan sampai galaksi lain yang terdekat pada jarak 150.000 tahun cahaya. Namun, jikalau diperhitungkan sifat peka cahaya makhluk UFO dan kelas spektral serta usia bintang, maka sejumlah bintang dekat pun memberi kemungkinan sebagai tempat asal UFO. Jikalau tempat asalnya lebih jauh, dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu maka kemungkinan tempat asal UFO terbatas kepada daerah tepi galaksi kita di dalam radius yang kurang dari 50.000 tahun cahaya dari sini. Kemungkinan Penerbangan Intersteller Versi Bumi. Bagaimanakah kemungkinan penerbangan ke tata surya lain, atau interstellar, menurut ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang? Penerbangan antariksa di bumi kita baru pada tahap permulaan. Dasar-dasar teoretisnya diletakkan oleh K.E.Tsiolkovsky (1898) dan Dr.Herman Oberth (1923). Langkah-langkah kemajuan teknologi antariksa yang dapat dicatat ialah: pengorbitan satelit yang pertama, yaitu Sputnik I, pada tahun 1957; pengorbitan kosmonaut yang pertama, Yuri Gagarin, pada tahun 1961; penerbangan berawak ke bulan yang pertama oleh Apollo 11 dengan para astronot Neil Armstrong, Edwin Aldrin dan Mike Collins pada tahun 1969. Planet-planet lain di dalam tata surya kita baru dikunjungi oleh wahana-wahana antariksa tak berawak saja. Dua di antaranya ialah Pioneer 10 dan Pioneer 11 yang diluncurkan berturut-turut pada tahun-tahun 1973 dan 1974 dan yang pada tahun-tahun 1978 dan 1979 berhasil mengirim gambargambar serta hasil pengukuran lain dari planet Jupiter. Dewasa ini kedua wahana antariksa itu sambil melewati planet Saturnus akan meninggalkan tata surya kita untuk selama-lamanya, menjadi musafir abadi di antara bintang-bintang di dalam galaksi kita. Jadi mereka sebenarnya menjadi wahana-wahana interstellar pertama yang diluncurkan dari bumi kita, meskipun sayang sudah tidak berfungsi lagi kecuali sebagai kartu nama. Sebab pada wahana-wahana antariksa itu terpasang piagam yang dirancang oleh Dr.Carl Sagan dan Dr.Frank Drake dan yang dapat dimengerti oleh makhluk ekstaterrestrial yang cerdas. 46 Isinya ialah keterangan-keterangan ilmiah tentang asal usul wahana antariksa itu dan dipasang untuk menghadapi kemungkinan bahwa suatu waktu wahana-wahana itu ditemukan oleh makhluk-makhluk cerdas dari luar bumi. Seperti telah dikatakan di atas, penerbangan antariksa kita sekarang baru pada tahap permulaan, dengan mempergunakan propulsi roket kimiawi. Andaikata kita memakai wahana antariksa Apollo yang sanggup mencapai kecepatan lolos dari bumi kita sebesar 11,2 km sedetik, ditambah dengan kecepatan radial dari tata surya kita yang sebesar 250 km sedetik, sehingga mencapai jumlah 261,2 km sedetik, maka untuk mencapai bintang yang terdekat yaitu Proxima Centauri yang sejauh 4,25 tahun cahaya, akan diperlukan waktu hampir 5.000 tahun! Hal itu berarti, andaikata kita bertolak di zaman Nabi Yusuf dan Raja Fir’aun, maka sekarang kita belum sampai di tempat tujuan! Jikalau diperhitungkan pula akselerasi dan deselerasi, yang masih dapat ditolerir, diperlukan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sampai 70.000 tahun! Namun demikian, di dalam tahun 1973 pernah dilakukan studi tentang wahana interstellar oleh British Interplanetary Society, yang dikenal sebagai proyek “Daedalus”, suatu hasil pemikiran orisinal dari Alan Bond, bekas insinyur propulsi dari pabrik motor Rolls Royce dan Dr. Anthony Martin dari City University, London. Wahana interstellar “Daedalus” itu tidak berawak dan bertugas untuk melewati tata surya dari bintang Barnard tanpa singgah sambil melakukan observasi-observasi. Jarak sejauh 5,9 tahun cahaya itu akan memakan wakt 47 tahun dengan cara mencapai kecepatan 13,8% dari kecepatan cahaya (41.400 km sedetik). Wahana interstellar “Daedalus” itu waktu bertolak (bukan dari permukaan bumi) mempunyai berat 68.600 ton, 500 ton di antaranya berupa muatan ilmiah, dan mencapai ukurna 5 kali panjang roket “Saturn” yang meluncurkan wahana antariksa “Apollo” ke bulan, berarti sepanjang 1815 kaki atau 553 m. Wahana interstellar “Daedalus” itu termasuk jenis roket pulsa nuklir yang memakai proses termonuklir dengan memakai bahan bakar deuterium dan helium 3. Ia memperoleh gaya dorong dari rentetan mikroeksplosi termonuklir masing-masing dengan kekuatan 0,1 kiloton dengan frekuensi 150 kali sedetik, hal tersebut sama dengan meledakkan 258 buah bom atom jenis Hiroshima! Demikianlah studi proyek “Daedalus” menggambarkan wahana interstellar yang masih terletak di dalam batas kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang. Namun hal tersebut merupakan studi yang diciptakan oleh British Interplanetary Society yang berbobot, mengingat perkumpulan itu sudah menciptakan studi kelayakan bagi suatu roket berawak ke bulan pada tahun 1936, yang 33 tahun kemudian terlaksana oleh NASA dengan sistem roket/wahana Saturn/Apollo. Jikalau sejarah berulang lagi, maka proyek “Daedalus” akan menjadi kenyataan pada tahun 2006. Kemajuan-kemajuan terakhir di bidang fisika partikel elementer membuka prospek-prospek baru bagi penerbangan interstellar, terutama penemuan antimateri. Hal itu diungkapkan oleh Dr. Robert L.Forward, ilmuwan senior di laboratorium riset Hughes di Malibu, California, di dalam majalah OMNI, bulan November 1979, yang melukiskan “antimateri” itu sebagai “bahan bakar pamungkar” sehingga tidak ada yang melebihinya. Para ilmuwan di laboratorium Fermilab di Amerika Serikat, CERN di Swiss dan di Novosibirsk, Uni Sovyet, yang melakukan percobaan-percobaan dengan memakai akselerator-akselerator raksasa yang panjangnya sampai beberapa km dan berkas-berkas dengan tenaga sampai ribuan juta elektron Volts, atau Giga elektron Volts (GeV), menemukan bahwa di dalam sasaran Tungsten yang mereka bombardir dengan proton-proton energi sangat tinggi, tidak hanya timbul sinar-sinar gamma dan proton serta partikel elementer lain, tetapi juga antiproton dan antimateri lainnya. Menurut Dr.Forward, di Swiss dewasa ini antimateri yang dibuat itu sudah dapat ditangkap, didinginkan dan disimpan sampai berhari-hari, meskipun pembuatan antimateri pada skala yang lebih besar tidak dapat diharapkan dari akselerator penelitian seperti sekarang melainkan memerlukan pembangunan akselerator-akselerator produksi yang baru. Untuk memperoleh energi, kita harus mengkonversi massa. Di dalam roket kimiawi, jumlah massa yang diubah menjadi energi hanya beberapa bagian per satu milyar. Di dalam reaktor nuklir yang membelah Uranium atau Plutonium jumlah massa yang diubah menjadi energi melonjak menjadi beberapa bagian per seribu. Di dalam reaktor termonuklir yang menggabungkan hidrogen atau deuterium jumlah massa itu mencapai hampir 1 % . Akan tetapi di dalam proses anihilasi materi yang memakai materi dan antimateri maka seluruh massa, berarti 100%, diubah menjadi energi. Hasil penelitian Jet Propulsion Laboratory NASA mengungkapkan, bahwa untuk mencapai kecepatan yang kurang dari sepertiga kecepatan cahaya maka lebih efisien untuk memakai sejumlah kecil antimateri guna memanaskan hidrogen, air, atau materi lain yang berfungsi sebagai zat pendorong. Menurut Dr.Forward, untuk penerbangan ke bulan dalam waktu 4 jam, kita harus menempuh jarak 382.000 km dengan kecepatan 30 km sedetik. Untuk sebuah wahana antariksa yang beratnya 1.000 kg, akan diperlukan antimateri hanya 30 miligram yang dicampur dengan 4.000 kg air. Sebuah wahana antariksa dari 10 ton dapat mencapai planet Mars dalam seminggu dengan cara memanaskan air sebanyak 40 ton dengan anti materi sebanyak 10 gram. Satu kilogram antimateri dapat membawa wahana antariksa yang sama ke planet Pluto dalam waktu sebulan. Dan 100 kg antimateri dapat mengirim muatan 10 ton ke bintang yang terdekat, Proxima Centauri pada jarak 4,25 tahun cahaya, yang akan memakan waktu 50 tahun dengan kecepatan 10% dari kecepatan cahaya. Untuk melengkapi gambaran tentang sejauh mana pandangan para ilmuwan kita tentang penerbangan ke tata surya lain, perlu disebut gagasan Dr.Eugen Sanger (almarhum) tentang penerbangan keliling seluruh alam semesta dengan sebuah roket foton. Efisiensi propulsi motor roket sangat tergantung dari kecepatan gas buangnya, yang pada roket saturn (pembawa wahana Apollo ke bulan) dengan pembakaran hidrogen cair dan oksigen cair mencapai 3,6 km sedetik. Pada roket 47 termonuklir yang memakai bahan bakar deuterium dan helium kecepatan gas buangnya ialah kurang lebih 40.000 km sedetik. Pada roket foton Dr.Eugen Sanger membayangkan penggunaan proses iradiasi materi dan antimateri untuk menciptakan berkas foton yang cukup kuat guna mendorong roketnya mencapai kecepatan relativistik sampai 99,99999999% dari kecepatan cahaya. Menurut teori Einstein roket itu, atau benda apa pun, tidak dapat menyamai kecepatan cahaya, oleh karena makin mendekati kecepatan cahaya makin besar massanya sehingga pada kecepatan cahaya besarnya massa menjadi tak terhingga, hal tersebut tidak mungkin (di dalam grafik digambarkan sebagai garis asymptoot). Bertambah besarnya massa pada kecepatan relativistik itu diiringi oleh perlambatan proses-proses fisik, biologis maupun perjalanan waktu, gejala-gejala aneh itu disebabkan oleh timbulnya faktor pemuluran waktu (time dilatation factor). Kebenaran teori Einstein itu telah berulangkali dibuktikan antara lain dengan fisika matahari, Mumeson dalam sinar kosmis, jam atom dalam satelit, keliling dunia dengan pesawat jet, dan sebagainya. Disebabkan oleh faktor pemuluran waktu Einstein itu maka menurut Dr.Eugen Sanger suatu roket foton dapat mengelilingi seluruh alam semesta yang jaraknya 30.000 biliun tahun cahaya, namun bagi roket seisinya hanya memakan waktu 33 tahun saja. Pada waktu para astronot kembali ke bumi, mereka telah bertambah tua 33 tahun, namun di bumi telah berlalu 30.000 biliun tahun, sehingga bumi dan matahari sudah lama kiamat. Kesulitan lain menurut Dr. Sanger ialah, meskipun diterapkan proses anihilasi materi yang memakai materi dan antimateri, roket foton itu untuk penerbangan keliling alam semesta tadi memerlukan bahan bakar materi dan anti materi yang massanya sama dengan bulan! Setelah meninggalnya Einstein, teori relativitasnya diperkembangkan terus oleh para ilmuwan, seperti Prof.John Wheeler dari Princeton University, New Jersey, Dr.William Kaufmann Direktur Griffith Observatory di Indiana, Prof.John Taylor dari King’s College, London, dan Dr.Roger Penrose dari University of London. Penjabaran lebih lanjut dari teori Einstein dalam masalah ruang telah melahirkan cabang baru dari matematika yang bernama geometrodinamika dan yang mencakup masalah pola dan gerakan ruang. Menurut Wheeler, ruang dan waktu dapat diibaratkan gelembung-gelembung yang membeku yang membentuk pola-pola pada sebuah permadani (atau permukaan laut mungkin lebih sesuai karena bersifat dinamis). Apa yang disebut olehnya “superspace” ialah ibarat permadani atau permukaan laut itu. Dibayangkan kemungkinan adanya jalan tembus yang menghubungkan gelembung yang satu dengan yang lain, yang disebut “jambatan Einstein-Rosen” atau secara populer dinamakan “lubang cacing”. Melalui jalan tembus itu tanpa melanggar batas kecepata 1c Einstein kita dapat menempuh jarak astronomis dalam sekejap mata dan kembali ke tempat semula tanpa mengalami ekses-ekses dari faktor pemuluran waktu. Memang menurut Einstein cahaya di dalam ruang kosmos itu merambat melalui “lintasan kemalasan kosmis” (path of cosmic lazziness) yang bersifat geodetik dan bukan merambat melalui lintasan garis lurus yang terdekat, hal tersebut disebabkan oleh sifat melengkung daripada ruang kosmos. Untuk penerbangan interstellar, pertanyaan pokok adalah di manakah pintu masuk jambatan Einstein-Rosen itu, bagaimanakah cara masuk keluarnya dengan selamat dan di manakah kita dijamin akan tiba? Pertanyaan-pertanyaan tersebut rupa-rupanya masih terlalu dini untuk dijawab oleh hipotesa yang baru diperkembangkan itu. Pandangan baru mengenai penerbangan interstelar tersimpul di dalam hipotesa massa negatif yang dikemukakan oleh Prof.Dr.F.Winterberg untuk menerangkan tingkah laku UFO. Suatu wahana antariksa yang dibuat dari atau dilapisi dengan bahan yang mempunyai massa negatif akan menghilangkan atau mengurangi gaya lembam. Dengan demikian ia dapat mengalami akselerasi atau deselerasi secepat kilat serta menempuh jarak interstellar dalam waktu sangat singkat seraya memakan sedikit energi. Perjalanan dari sini ke bintang Alpha Centauri akan menjadi semudah perjalanan dari Chicago ke Los Angeles. Wahana antariksa seperti itu jikalau dilengkapi dengna kamera TV akan jauh lebih efektif daripada komunikasi radio interstellar, oleh karena segala rekamannya dapat seketika dipancarkan ke planet asalnya. Dikemukakan olehnya sebagai contoh analisa UFO oleh Prof.Dr.James A.Harder dari Universitas California di Berkeley, yang didukung oleh bukti fotografis dan yang menunjukkan adanya akselerasi sampai 10.000 G. Dengan akselerasi sebesar itu benda tadi akan mencapai kecepatan relativistik dalam waktu kurang dari satu jam. Akan tetapi Prof. Dr. F.Winterberg tidak melihat kemungkinan adanya penumpang-penumpang berupa makhluk-makhluk hidup yang cerdas di dalam wahana-wahana antariksa sedemikian, kecuali jiklau dapat diperkembangkan makhluk-makhluk hidup yang juga memiliki massa negatif. Hipotesa massa negatif Prof.Dr.F.Winterberg merupakan langkah penting di dalam memajukan pengertian terhadap dasar-dasar ilmiah dari wahana UFO. Keberatannya terhadap kemungkinan adanya penumpang berupa makhluk hidup seperti kita kiranya masih dapat diatasi. Hal itu mengingat pendapat sementara ahli bahwa teori relativitas Einstein masih membuka kemungkinan untuk terciptanya suatu medan gravitasi lokal dengan jalan membuat sebuat “torus” (lingkaran pipa). Di dalam torus tersebut terdapat bahan dengan massa sangat berat, yang jikalau diputar dengan kecepatan sangat tinggi akan dapat menimbulkan medan gravitasi lokal. Dengan jalan itu baik wahana maupun penumpangnya tidak akan merasakan percepatan atau perlambatan apa pun. Dari pembahasan di atas mengenai seberapa jauh pelaksanaan dan pandangan ilmu pengetahuan dan teknologi bumi tentang kemungkinan penerbangan interstellar, dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan teknis peradaban manusia bumi dewasa ini baru mencapai taraf penerbangan berawak ke bulan dan penerbangan interplaneter tak berawak sampai ke planet-planet yang terdekat. Di dalam pandangan ilmu pengetahuan kita sudah mulai timbul pemikiran penerbangan interstellar, bahkan juga intergalaktik. Namun, wahana-wahana yang masih mungkin dibuat di dalam batas-batas kelayakan teknis 48 di bumi sekarang, mempunyai ukuran dan berat raksasa. Bahkan disain yang mempergunakan proses anihilasi materi, yang merupakan cara pamungkas menurut pandangan para ilmuwan di bumi ekarang, masih jauh lebih besar, tidak mampu untuk mengambang dan bertingkahlaku seperti helikopter, dan pasti kalah gesit jikalau dibandingkan dengan UFO. Dalam pada itu terutama di dalam dasawarsa 70 an tercatat kemajuan-kemajuan yang membawa harapan baru: lambat laun timbul juga pengertian tentang kemungkinan-kemungkinan baru yang boleh jadi merupakan dasar ilmiah dari wahana UFO. Dahulu sementara cendekiawan menolak eksistensi UFO oleh karena sifat dan tingkah lakunya yang dilaporkan tidak masuk akal mereka. Dewasa ini semakin banyak cendekiawan yang terbuka pandangannya terhadap kemungkinan-kemungkinan ilmiah yang baru sehingga secara lambat laun tetapi pasti baik UFO maupun penerbangan interstellar terungkap kerahasiaannya. Hipotesa Eksotik Lain. Jumlah para peneliti UFO yang menganut hipotesa eksotik lain sama banyak dengan yang menganut hipotesa ekstraterrestial. Mereka tidak dapat menerima asal UFO dari luar bumi oleh karena anggapan bahwa tidak terdapat buktinya. Amerika Serikat memiliki jaringan-jaringan SPADATS (Space Detection and Tracking System-sistem deteksi dan pelacak antariksa) dan SPASUR (Space Surveillance-pengamatan antariksa) yang bertugas untuk memberitahu ancaman terhadap pertahanan keamanan nasional Amerika Serikat yang melewati medium antariksa. Tugas rutin sistemsistem pertahanan itu untuk mengamat-amati dan melacak lebih dari 1.000 buah satelit atau pecahannya yang mengorbit bumi. Disamping itu pernah dikirim astronot-astronot, wahana-wahana antariksa tak berawak ke planet-planet terdekat dan pernah dilakukan observasi permukaan planet Venus dengan radar. Tambahan pula sejumlah radio teleskop di berbagai negara dioperasikan untuk meneliti spektrum radio dari bintang-bintang. Meskipun demikian, tidak pernah ada UFO yang tertangkap basah sedang datang ke atau pergi dari bumi. Malahan sejumlah penyaksian menyebutkan bahwa UFO itu dengan tibatiba muncul dan lenyap di tempat. Menurut studi komputer Dr. Jacques Vallee berulangkali para saksi mengawali penyaksiannya itu bukan dengan melihat benda, akan tetapi melihat warna-warna dan berbagai bentuk cahaya, yang berbeda sekali dengan gejala alam, benda alamiah atau hasil budaya yang sudah dikenal. Pada intisarinya, para saksi itu melukiskan suatu ruang dengan garis tengah kurang lebih 10'(3 m) yang berbentuk cakram, bola atau silinder yang memancarkan gejala-gejala elektromagnetik. Mereka melukiskan beraneka warna kejadian fisik di sekitarnya. Dr. Vallee pernah menyelidiki beberapa kasus di mana terdapat kemungkinan untuk menghitung tingkat energi di dalam volume ruang tertentu dan menemukan angka ribuan kilowat, hal tersebut adalah sangat besar. Demikian pula para saksi ada yang melaporkan bahwa UFO itu kadang-kadang menjadi samar-samar lalu lenyap. Kadang-kadang ia menjadi semakin kecil sehingga susut menjadi suatu titik, lalu lenyap. Keberatan lain yang menolak hipotesa ekstra terrestial ialah banyaknya UFO yang beterbangan di mana-mana di bumi kita selama beberapa dasawarsa terakhir ini, belum terhitung yang terjadi sebelumnya. Padahal untuk melakukan penerbangan berawak 8 kali ke bulan NASA telah mengeluarkan biaya $ 25 milyar dan pada puncak kegiatannya telah mengerahkan 400.000 orang insinyur dan ilmuwan. Jadi, demikian argumentasi mereka, jikalau gejala UFO ialah kegiatan eksplorasi terhadap bumi kita yang berasal dari antariksa, besarnya biaya dan usaha tidak masuk akal. Berhubung dengan alasan-alasan tersebut di atas dan terdorong oleh laporan-laporan UFO yang mengandung unsur-unsur keanehan, maka semakin banyak peneliti tertarik kepada hipotesa eksotik lainnya yang sebagian besar berupa hipotesa paranormal. Mereka menunjuk kepada laporan-laporan UFO, terutama dari jenis CE-III yaitu perjumpaan dengna makhluk-makhluk UFO yang memperlihatkan sifatsifat mirip dengan hantu seperti kebiasaan untuk muncul pada malam hari yang gelap dan di tempat yang sepi, mengejawantah dan lenyap di depan mata saksi, ada yang transparan, yang dapat menembus dinding, yang berjalan naik turun tembok dengan badannya tetap sejajar dengan tanah, yang melayang dan membuat saksi atau benda lain ikut melayang bersama dengannya. Demikian pula dilaporkan bahwa makhluk-makhluk itu dapat berhubungan dengan para saksi melalui telepati, dan lama setelah perjumpaan itu sebagian saksi kadang-kadang masih dihubungi oleh makhluk UFO melalui bisikan atau gambaran mental. Sebagian saksi yang dibawa masuk ke dalam UFO juga ada yang mengalami “perjalanan astral”, atau ngraga sukma”, yaitu roh atau kesadarannya keluar dari badan dan berkelana. Umumnya para saksi sesudah perjumpaannya dengan makhluk UFO menderita gejala-gejala seperti mereka yang telah dibawa makhluk halus, yaitu seperti kebingungan, lupa waktu dan identitas, hilang nafsu makan, ketakutan, tidak dapat tidur, bisu, lumpuh, dan sebagainya. Mengenai tertinggalnya jejak fisik UFO, para pendukung hipotesa paranormal menunjuk kepada gejala hantu yang dinamakan “Poltergeit” yang juga meninggalkan jejak-jejak fisik, menimbulkan kerusakan dan membuat benda-benda beterbangan. Menurut hasil penyelidikan Dr.M.K.Jessup (almarhum), maka grafik naik turunnya kejadian Poltergeist di Amerika Serikat di dalam abad yang silam identik dengan gelombang-gelombang kegiatan UFO. Sementara peneliti UFO berpendapat, bahwa kejadian-kejadian paranormal dan kegiatan UFO mempunyai satu sumber yang sama. Mereka menduga bahwa dongeng-dongeng dari zaman kuno tentang makhluk-makhluk halus seperti tuyul, dan lain-lain yang ternyata terdapat pada semua bangsa di seluruh dunia, adalah sama dengan makhluk-makhluk UFO zaman sekarang. Perbedaannya hanyalah terletak di dalam penampilannya, di mana sesuai dengan kemajuan zaman sekarang mereka itu mengkaitkan diri dengan tema angkasa luar. Mengenai tempat asal makhluk halus itu di dalam dongeng-dongeng pada bangsa-bangsa Eropa dinamakan “Magonia”. Para penulis lain menciptakan istilah “eksistensi paralel”, “realitas paralel”, dunia “interdimensional”, “meta terestrial”, “ultra terestrial”, dan sebagainya. Dalam 49 hubungan ini patut dicatat ucapan Marsekal Madya Angkatan Udara Kerajaan Inggris Sir Victor Goddard (3 Mei 1969) bahwa: “....... sedang sementara pengemudi UFO umumnya boleh jadi ialah penghuni yang bersifat parapsikis dari suatu planet di luar bumi, tidak ada keharusan logis untuk itu. Jikalau kenyataan UFO itu bersifat parafisik, lebih masuk akal apabila UFO itu merupakan hasil ciptaan suatu dunia yang tidak kelihatan dan yang bertepatan dengan ruang di mana bumi kita yang bersifta fisik itu berada........” Adanya dua dunia yang berimpitan, yang satu kelihatan dan yang lain tidak, merupakan bagian dari kepercayaan berbagai agama, Umat Buddha memberi salam tidak hanya kepada sesama manusia, akan tetapi juga kepada makhluk-makhluk yang tidak kelihatan. Umat Islam percaya akan adanya jin, yang oleh Tuhan diciptakan dari api. Apakah hipotesa paranormal memberi jawaban atas masalah UFO, masih harus dibuktikan oleh sejarah. Diperkirankan bahwa makhluk halus atau jin memang mampu menciptakan gejalan UFO. Mereka dapat saja menyaru sebagai manusia bumi atau makhluk UFO. Mereka dapat memanipulasi penglihatan manusia sehingga korbannya melihat atau merasakan hal-hal yang sebenarnya maya atau tidak nyata (aji kemayan). Dengan kemampuan mereka untuk melihat ke masa depan, mereka memiliki sumber yang kaya untuk menjiplak model atau adegan yang futuristik. Herankah kita, bahwa dalam abad yang lalu muncul UFO seperti kapal udara Zeppelin padahal wahana sedemikian belum terlahir? Suatu pertanyaan adalah, mengapa cerita-cerita tentang tuyul dan makhluk halus lainnya yang bersifat klasik terdengar terus dan mereka muncul dan lenyap tanpa wahana macam apa pun? Di samping itu terdapat penyaksian-penyaksian tentang benda-benda bercahaya berbentuk bola yang meskipun menurut definisi termasuk UFO, namun erat hubungannya dengan manusia. Misalnya laporan dari petugas kehutanan di Amerika Serikat yang melihat bola-bola api yang naik dari hutan lalu turun lagi. Dr.J.Allen Hynek menghubungkan penyaksian itu dengan dongeng Indian Amerika tentang makhluk halus penjaga hutan. Penulis ini juga pernah mendengar tentang beberapa orang yang pada malam hari melihat benda bercahaya merah sebesar bulan yang terbang rendah dan cukup lambat. Mereka mengikutinya sambil naik kendaraan mobil, dan menyaksikan bagaimana benda tadi turun lalu masuk ke sebuah kuburan Cina. Ceritera lain adalah dari almarhum Irjen Pol Umar Chatab bahwa pada suatu sore beliau dikagetkan oleh teriakan dan ratap tangis istri orang yang berdiam di rumah kecil yang sehalaman (bahasa Jawa:magersari) karena suaminya meninggal setelah sakit. Sewaktu lari ke jendela sempat dilihatnya bagaimana sebuah benda bulat sebesar balon karet tetapi bercahaya pendar berwarna merah membumbung keluar dari atap orang yang meninggal, dan hilang di antara daun-daun pohon di atasnya. Jadi, ada tanda-tanda bahwa beberapa penyaksian UFO memang bersifat paranormal. Dan bahwa beberapa aspek dari penyaksian UFO yang diduga berasal dari luar bumi juga tampak mirip dengan gejala paranormal (karena sifat alamiah mereka ataukah karena teknologi maju?). Ataukah perlu adanya revisi terhadap definisi UFO? Apakah anggapan adanya eksistensi paralel, realitas paralel dan sebagainya itu suatu kepercayaan yang bersifat irasional ataukah rasional? Mungkin banyak orang yang tidak menyangka, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mutakhir secara aneh bin ajaib memang membenarkan anggapan tersebut. Menurut teori multi universe, jagad raya kita merupakan salah satu dari sejumlah besar jagad raya yang sejajar dan berhimpitan, yang dihuni juga oleh makhluk-makhluk seperti kita! Meskipun terdengar ganjil dan surrealistik, teori itu mendapat perhatian serius oleh karena ia berhasil menerangkan banyak gejala fisika kuantum yang sebelumnya tidak dapat diterangkan. Teori multiuniverse dicetuskan oleh Hugh Everett dari Universitas Princeton dan diperkembangkan lebih lanjut oleh Bryce de Witt dan John Wheeler dari Universitas Texas di Austin. Suatu tulisan tentang masalah ini dimuat dalam majalah “Science Digest” terbitan bulan Februari 1982 karangan Paul Davies dengan judul “Looking Glass Universes”. Salah satu gejala fisika kuantum yang sebelumnya tidak dapat diterangkan adalah pertentangan antara gelombang dengan partikel. Yang pertama bersifat deterministik (serba dapat dipastikan lebih dahulu), sedang yang kedua bersifat sebaliknya yaitu hanya dapat diperkirakan kemungkinannya atau probabilitasnya. Fakta bahwa partikel atau peristiwa itu tidak selalu berada di tempat yang dipastikan menurut Hugh Everett disebabkan oleh karena ia tidak selalu berada di sistem ruang waktu kita, melainkan dapat berada di sistem-sistem ruang waktu lain yang sangat banyak jumlahnya namun sejajar dan berhimpitan. Di dalam pandangan Everettde Witt Wheeler, meskipun di dalam teori multi universe jagad-jagad raya yang berlainan itu sejajar dan berhimpitan, kita tidak dapat mengunjungi jagad raya lain melalui sistem ruang waktu kita. Teori multi universe merupakan tonggak perkembangan pemikiran ilmiah yang sangat penting, yang menjembatani kepercayaan dengan ilmu pengetahuan. Sesuatu pertanyaan yang mengasyikkan ialah, apakah jagad-jagad raya lain tadi sama dengan apa yang dinamakan alam halus yang berlapislapis? Ataukah tiap jagad raya lain itu merupakan dunia wadag (kasar) yang masing-masing mempunyai alam halusnya sendiri? Apakah UFO berasal dari jagad raya lain yang paralel, yang sudah begitu maju ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga sudah mampu untuk melakukan penjelajahan inter multi universe? Ada pendapat bahwa terdapatnya banyak sekali hidrogen di jagad raya kita merupakan salah satu kejadian secara kebetulan di alam kita yang memungkinkan adanya kehidupan seperti yang kita kenal. Boleh jadi di jagad raya tempat asal makhluk UFO tidak demikian halnya. Menjadi jelaslah, mengapa makhluk UFO begitu besar minatnya terhadap air di bumi kita. Di samping itu gangguan-gangguan fisik 50 dan mental yang timbul pada manusia setelah dibawa oleh makhluk halus atau makhluk UFO boleh jadi adalah akibat dari perjalanan ke sistem ruang waktu lain. Keterangan lain tentang UFO diberikan oleh salah seorang perintis dari psikologi modern, yaitu Dr.Carl Gustav Jung (almarhum), yang mengemukakan hipotesa proyeksi psikologis. Di dalam bukunya “Flying Saucers, a modern myth of things seen in the skies” (Piring terbang, mitos modern tentang bendabenda yang tampak di udara), (Harcourt, New York 1959), memandang UFO sebagai proyeksi psikologis dari kekhawatiran manusia modern. Ia menganggap bentuk cakram atau bola sebagai penglihatan kebulatan sebagai jawaban terhadap kurangnya kebulatan dan rasa aman di dalam kehidupannya dan kurangnya perdamaian di dunia. Dr.Jung mencari bentuk piring terbang di segi-segi lain dari kehidupan, seperti di dalam cerita-cerita, lukisan-lukisan, sejarah, dan menyajikan bukti-bukti simbolisme yang terus menerus. Namun jikalau UFO merupakan proyeksi dari lapisan bawah sadar manusia, mengapa ia dapat direkap pada film dan layar radar, dapat mematahkan dahan pohon dan meninggalkan jejak-jejak fisik? Salah satu teori baru telah dikemukakan oleh Thomas E.Bearden, seorang sarjana nuklir dan Letnan Kolonel purnawirawan dari Angkatan Darat Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa UFO ialah proyeksi psikologis yang telah mengalami materialisasi, sehingga dapat dinamakan hipotesa materialisasi proyeksi psikologi (1979). Menurut Bearden pada tingkat bawah sadar kolektif umat manusia maka potensi psikokinesanya cukup kuat untuk menimbulkan materialisasi bentuk-bentuk pikiran simbolik, asal terdapat rangsangan kuat dari ketegangan sejumlah banyak orang. Dengan memakai Perang Dingin sebagai rangsangan ketegangan yang kuat bagi umat manusia sesudah Perang Dunia ke 2, Bearden menunjukkan bahwa sebagian besar gelombang-gelombang penyaksian UFO sesuai dengan modelnya itu. Hubungan gelombang-gelombang penyaksian UFO dengan ketegangan-ketegangan dunia misalnya adalah 1946/47-permulaan Perang Dingin, 1951/53-Perang Korea, 1967-Perang Arab-Israel, 1973-Perang “Yom Kippur”. Kemungkinan bahwa UFO adalah hewan antariksa, telah melahirkan hipotesa hewan antariksa, yang dikemukakan oleh Trevor James Constable untuk pertama kali dalam bukunya “They Live In The Sky” (1958). Hewan Antariksa itu adalah jasad hidup berbentuk amuba yang terdiri dari plasma. Dalam keadaan biasa mereka tidak tampak oleh kita oleh karena berada dalam bagian infra merah dari spektrum elektro magnetik. Kadang-kadang ia muncul ke dalam bagian spektrum yang kelihatan, berdenyut dengan cahaya kemerah-merahan sampai jingga yang kadang-kadang sangat terang sehingga menyilaukan. Mereka karena terdiri dari plasma dapat berubah tingkat kepadatannya sehingga kadang-kadang dapat tampak seperti benda padat. Lingkungan hidupnya adalah stratosfir ke atas dan mereka bergerak dengan tenaga bio energi pada kecepatan sangat tinggi, yang kadang-kadang tampak menyamai meteor. Dr.Carl Gustav Jung (almarhum) di dalam bukunya juga menyinggung kemungkinan adanya hewan antariksa:”Satu-satunya hal yang kita ketahui dengan cukup pasti tentang UFO ialah bahwa mereka mempunyai permukaan yang dapat dilihat dengan mata dan pada waktu yang sama menimbulkan gema radar......., kita tidak tahu apakah mereka itu mesin-mesin berawak atau sejenis makhluk hidup....” Meskipun Trevor James Constable menunjukkan cara-cara untuk memotret hewan-hewan antariksa itu (dan memperlihatkan sejumlah foto yang dibuat olehnya), sampai sekarang hipotesanya itu tidak menarik perhatian orang. Berulangkali disinggung kemungkinan, bahwa UFO merupakan suatu pendapatan rahasia dari suatu negara atau bahkan kelompok orang. Salah satu versi dari hipotesa pendapatan rahasia (Secret Invention Hypothesis) itu menduga bahwa UFO ialah salah satu senjata rahasia Nazi Jerman yang diselundupkan ke Amerika Selatan dan diteruskan pengembangannya di sana dengan berpangkalan di tengah rimba raya secara rahasia sekali. Teori itu menghubung-hubungkan fakta-fakta yang sudah diketahui, yaitu bahwa Nazi Jerman memang memiliki berbagai macam senjata rahasia, bahwa banyak orang Jerman yang sudah sejak sebelum perang beremigrasi ke negara-negara Amerika Latin, bahwa di Amerika Selatan masih terdapat hutan belantara yang belum disentuh manusia, dan bahwa UFO sering terlihat baik di atas daratan maupun di lepas pantai Amerika Selatan. Salah satu disain ialah apa yang dinamakan “Flugkreisel” (Gasing Terbang) ciptaan Rudolf Schiever, seorang kapten dari Angkatan Udara Jerman, yang dapat dilukiskan sebagai sebuah helikopter dengan kokpit bulat yang dikelilingi oleh daun-daun rotor. Menurut majalah Belanda “Vliegwereld” (Dunia Penerbangan) di dalam tahun 1952, disain itu memakai motor-motor pancargas dan katanya dapat mencapai kecepatan hipersonik yaitu 8400 km sejam. “Suatu klaim yang fantastik”, kata majalah itu dalam komentarnya,”kecuali jikalau berkaitan dengan gejala aerodinamik baru yang belum diumumkan.”Pesawat terbang berbentuk cakram lainnya adalah “Avrocar” (1959) buatan pabrik Avro Canada atas pesanan penerbangan Angkatan Darat Amerika Serikat. Pesawat itu bertenaga sebuah motor pancargas ringan jenis Continental J69. Piring terbang buatan bumi itu, yang juga disebut VZ-9 atau sistem senjata 606A, mengalami kegagalan oleh karena kesulitan stabilitas dan pengendalian begitu rupa, sehingga hanya dapat terbang menyusur tanah! Andaikata pesawat-pesawat udara yang mirip piring terbang berhasil baik, dapat dipastikan bahwa jarak terbangnya terbatas oleh karena masih memakai motor pancargas biasa, sehingga tidak mungkin beterbangan di seluruh dunia seperti halnya dengan UFO. Di samping itu patut diragukan apakah suatu pendapatan rahasia itu dapat dijaga kerahasiaannya sampai beberapa puluh tahun lamanya, sedangkan rahasia bom nuklir saja telah dibocorkan dalam waktu singkat. Demikian pula rahasia rimba raya Amerika Selatan, atau di mana pun di bumi ini, sejak tahun 1972 sudah tidak ada lagi dengan diorbitkannya satelit-satelit ovservasi sumber alam yang dipelopori oleh NASA. Andaikata ada pangkalan rahasia di tengah hutan, kini pasti sudah ditemukan. Akan tetapi yang paling meragukan dari hipotesa pendapatan 51 rahasia ialah, andaikata UFO itu merupakan pendapatan rahasia suatu negara mengapakah semua negara di bumi ini masih mengeluarkan begitu banyak biaya untuk penelitian dan pengembangan serta produksi pesawat terbang, helikopter, dan wahana-wahana antarikas yang konvesional? Terdapat indikasi-indikasi bahwa beberapa negar maju dewasa ini secara rahasia masih juga meneruskan penelitian dan pengembangan wahana yang mirip UFO. Misalnya pada petang hari tanggal 29 Desember 1980 di hutan pinus dekat Dayton, Texas, USA, sebuah benda terbang tak dikenal yang berbentuk berlian sebesar balon udara panas merendah di atas jalan raya di antara pohon-pohon pinus sambil menyemburkan lidah api berwarna kuning ke arah bawah. Sebuah mobil yang dikemudikan oleh pemilik toko Betty Cash dan membawa penumpang Vickie Landrum dan cucunya, Colby, yang baru berusia 7 tahun, tidak dapat menghindar sehingga terpaksa lewat di bawah benda aneh tadi. Beberapa menit kemudian benda terbang itu membumbung ke atas lagi sambil memancarkan berkas-berkas sinar terang berbentuk kerucut. Ketika sudah dekat dengan kota Dayton, ketiga orang itu melihat lagi benda terbang tak dikenal tadi, akan tetapi kini ia dikawal oleh tidak kurang dari 23 buah belikopter. Ketika orang pengendara mobil itu kemudian jatuh sakit yang semakin lama semakin parah, yang oleh sejumlah dokter didiagnosa sebagai sakit radiasi. John Schessler seorang insinyur Space Shuttle yang menjadi anggota perkumpulan UFO MUFON mencari keterangan tentang radiasi macam apakah yang mengenai mereka, akan tetapi instansi-instansi pemerintah tetap bungkam. Kemudian ia berhasil menemukan salah seorang penerbang helikopter yang telah mengawal benda terbang tak dikenal dan hanya mendapat keterangan bahwa identitas benda yang bersangkutan adalah rahasia. Schuessler menyimpulkan bahwa suatu pesawat eksperimental milik Angkatan Bersenjata A.S. mengalami kerusakan waktu dicoba terbang dan memancarkan banyak sekali radiasi (OMNI Feb.’82). Suatu tanda tanya yang mengasyikkan ialah, apakah benda terbang tak dikenal itu pesawat bertenaga nuklir eksperimental disain sendiri ataukah sebuah UFO yang telah jatuh ke tangn Amerika Serikat? Lain daripada itu terpetik berita pula bahwa dewasa ini sedang dilakukan percobaan-percobaan rahasia untuk memperkembangkan sebuah pesawat terbang model baru yang memperoleh gaya angkat secara listrik dan diduga akan mencapai taraf operasional dalam dasawarsa mendatang. Jadi, jikalau di masa lampau hipotesa pendapatan rahasia itu tidak masuk akal, dewasa ini dan di masa depan hal tersebut menjadi kemungkinan yang patut diperhitungkan berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus. Perlu dicatat tentang adanya hipotesa asal UFO, yang mencoba menerangkan bahwa UFO berasal dari bumi yang tidak mudah ditemukan, yaitu hipotesa bumi berongga. Di dalam buku Dr. Raymond Bernard “Is There A World Inside Our Planet?” (Apakah di dalam planet kita ada dunia?) (Fieldcrest, New YOrk, 1964) dikisahkan adanya kepercayaan, bahwa bumi itu berongga dan dihuni oleh manusia seperti kita. Jalan masuk keluar dunia itu melalui lubang-lubang di kedua kutub. Teori bahwa UFO berasal dari dunia itu untuk pertama kali dikemukakan oleh Profesor Henrique Jose de souza, Ketua Perkumpulan Teosofi Brasil. Dunia di dalam bumi itu di dalam agama Buddha disebut “Agharta” dan mempunyai ibu kota yang benama Shamballah. Penduduk Aghart ialah keturunan penduduk Atlantis dan Lemuria yang dapat menyelamatkan diri ketika benua-benua itu tenggelam ke dasar samudra berturut-turut 11.500 dan 2.500 tahun yang lalu. Di dalam naskah “Timacus” Plato menulis tentang Atlantis yang ia dengar dari para pendeta Mesir kuno, yang mengatakan bahwa 9.000 tahun sebelumnya Kerajaan Atlantis telah menaklukkan negara-negara di sekitar Laut Tengah dan hanya Athena yang dapat mempertahankan kemerdekaannya. Atlantis juga disebut lagi oleh Plato dalam naskah “Critias”. Atlantis mempunyai jajahan di sebelah timur, yaitu Mesir kuno, dan kerajaan -kerajaan Aztec, Maya, dan Inca merupakan jajahanjajahannya di sebelah barat. Lemuria terletak di Pasifik dan ada pendapat bahwa kebudayaan kuno Indonesia berasal dari Lemuria, yang juga disebut Mu itu. Peradaban Agharta itu meneruskan peradaban Atlantis dan Mu yang sangat tinggi, dan UFO itu ialah wahana-wahana mereka yang mereka sebut “Vimana”. Mereka meningkatkan observasi terhadap bumi kita terutama setelah kita meledakkan bom atom yang pertama. Mereka dengan sengaja menimbulkan gejala UFO yang menyesatkan dan membingunkan kita demi untuk menjaga kerahasiaan tempat asal mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa hipotesa bumi beronggal memberi jawaban kepada aspek gejala UFO yang membingungkan para peneliti itu, sehingga di antara mereka (seperti Dr. Jacques Vallee dan John A.Keel) ada yang menduga bahwa seluruh gejala UFO ialah untuk menipu manusia (Deception Hypothesis) guna menutupi maksud mereka. Betapa membingungkannya gejala-gejala UFO itu dilukiskan oleh Aime Michel dari Prancis sebagai “A festival of absurdities” (pesta pora kemustahilan). Mengenai dunia dalam rongga bumi itu sendiri dapat dicatat, bahwa meskipun dari generasi ke generasi kita talh diasyikkan oleh karya Jules Verne tentang “Perjalanan ke pusat bumi”, namun pendapt umum tetap skeptis. Apakah UFO merupakan kunjungan dari zaman lain? Kemungkinan sedemikian dipermasalahkan dalam hipotesa musafir waktu dan ternyata bukan suatu kemustahilan, meskipun peluang yang diberikan oleh ilmu pengeahuan sekarang berbeda dari khayalan ilmiah karya H.G.Wells “The Time Machine” yang termasyur itu. Seperti telah disinggung di dalam bagian terdahulu, yaitu yang mengenai kemungkinan penerbangan interstellar versi bumi, terbuka kemungkinan bagi kita untuk berkelana ke masa depan. Caranya ialah dengan jalan melancong ke angkasa luar sambil bergerak kengan kecepatan relativistik sehingga kita mengalami faktor pemuluran waktu Einstein yang memperlambat proses biologis kita seingga awet muda. Dan sekembalinya di bumi, kita sudah berada di masa depan. Sayangnya, menurut teori Einstein, waktu bersifat “irreversible” atau tidak dapat dibalikkan jalannya, sehingga melancong ke masa depan merupakan perjalanan searah saja. Jadi, jikalau diterapkan kepada gejala UFO, maka makhluk-makhluk UFO dapat merupakan nenek moyang kita dari zaman purbakala yang telah berkelana 52 di angkasa luar dengan kecepatan relativistik, dan kini kembali lagi ke bumi yang sudah berada di masa depan. Apakah mereka itu astronot-astronot dari Kerajaan Atlantis atau Mu yang ribuan tahun yang lalu telah tenggelam ke dasar samudra? Dalam rangka hipotesa musafir waktu perlu dicatat bahwa beberapa tahun yang lalu ditemukan adanya partikel elementer yang mempunyai jangka waktu hidup jauh lebih lama dari pada yang ditolerir oleh faktor pemuluran waktu Einstein. Maka dari itu timbul dugaan bahwa partikel elementer yang dimaksud mengalami perjalanan waktu yang terbalik. Bahkan diduga adanya partikel-partikel elementer lain yang mengalami gejala yang sama, yang oleh para ahli fisika diberi nama “Faustian Universe” (Alam Semesta Faust), dan yang pernah diseminarkan di New York oleh para ahli fisika beberapa tahun yang silam. Seperti kata Dr. Hynek, setelah ada ilmu pengetahuan abad ke 20, akan ada ilmu pengetahuan abad ke 21, ke 30 dan seterusnya. Diterapkan kepada hipotesa musafir waktu, ternyata timbul kemungkinan bahwa di masa depan keturunan kita boleh jadi sedemikian maju ilmu pengetahuannya, sehingga dapat memanfaatkan gejala “Alam Semesta Faust” tadi untuk mengunjungi dunia sekarang yang bagi mereka sudahmenjadi zaman purbakala. Jikalau kita memperhatikan sebagian makhluk-makhluk UFO yang serba botak dan tidak lengkap jari-jarinya, maka mereka memang mirip dengan gambaran manusia di masa depan setelah mengalami evolusi lebih lanjut. Dan apakah matanya yang menjadi besar dan peka cahaya itu disebabkan oleh penyesuaian tubuh fisiknya dengan keadaan lingkungan yang berubah? Sebagaimana diketahui, pada suatu waktu matahari kita akan berubah menjadi raksasa merah yang lebih suram dari keadaan sekarang, hal itu akan mengakibatkan perubahan biologis jikalau masih ada kehidupan. Demikian juga skala waktunya tidak dapat kita bayangkan, oleh karena menurut astrofisika tahap tersebut di atas masih beberapa milyar tahun di depan kita. Jadi, satu-satunya jawaban pasti atas pertanyaan dari manakah datangnya UFO adalah bahwa ia berasal dari luar umat manusia yang kita kenal sekarang. Apakah Tujuan Kedatangan UFO Pertanyaan ini dengan sendirinya tidak berlaku jikalau UFO itu ternyata sesama penghuni bumi kita sehingga ia bukan pendatang, yang terdapat di dalam kemungkinan bahwa UFO itu ialah sejenis hewan antariksa atau pengejawantahan alam meta terrestial. Bagi UFO yang merupakan pendatang, tujuannya dapat bersifat fisik dan meta fisik. Dari kegiatan makhluk-makhluk UFO yang dilaporkan, seperti memungut contoh-contoh tanah, batu, tumbuh-tumbuhan dan binatang seperti kelinci, anjing, dan sebagainya, dapat disimpulkan bahwa mereka menaruh perhatian kepada geologi, flora, dan fauna bumi kta. Demikian pula kepada instalasiinstalasi dan wahana-wahana kita, dan yang memprihatinkan: juga terhadap manusia bumi. Dari jenis kegiatannya itu dapat diketahui bahwa maksud tujuan makhluk UFO sampai sekarang ialah eksplorasi ilmiah. Sampai sekarang! Apakah gerangan maksud tujuannya di masa depan, hanya dapat diduga saja. Namun sesuai dengan kelaziman kita maka tahap eksplorasi merupakan pendahuluan dari tahap eksploatasi, yang dapat berupa eksploatasi dari posisi kita di dalam rangka astrostrategi yang jangkauannya dapat bersifat interstellar, galaktik atau inter galaktik. Mayor Donald E. Keyhoe di dalam buku “Aliens from Space” (Doubleday, New York, 1973) menyinggung kemungkinan bahwa makhlukmakhluk UFO ingin mendirikan pangkalan antariksa di planet kita, oleh karena bumi kita terletak di tepi luar galaksi kita, sehingga merupakan batu loncatan ke galaksi lain yang terdekat dengan kita. Teori itu kurang logis jikalau diingat bahwa 2 galaksi yang terdekat, yaitu Awan Magelhan Besar dan Awan Magelhan Kecil, terletak pada jarak 75.000 tahun cahaya dari tepi galaksi kita yang justru terletak di seberang sana bagi kita, sehingga diukur dari posisi tata surya kita jaraknya menjadi sekitar 150.000 tahun cahaya. Teori pangkalan astro strategis itu masih dapat dipertanyakan, antara lain mengapa justru tata surya kita yang dipilih? Mengapa bukan bintang-bintang lain yang berdekatan? Andaikata tata surya kita yang harus dipilih, mengapakah bumi kita yang diintai, dan bukannya planet-planet lain yang ternyata masih kosong? Eksploatasi lain dari bumi kita ialah dari sumber daya alamnya. Dari kegiantan UFO dapat disimpulkan prioritas tinggi yang mereka berikan kepada air yang tenang dan banyak jumlahnya. Jikalau kita boleh percaya kepada keterangan saksi yang diculik oleh makhluk UFO maka di dalam air terkandung energi yang sangat besar yang mereka manfaatkan. Sudah jelas bahwa energi dalam air itu bukan kombinasi hidrogen cair dan oksigen cair seperti yang menggerakkan roket Saturn dan wahana Apollo ke bulan, oleh karena volumenya besar sekali sedang UFO mempunyai ukuran yang kompak. Kemungkinan adanya kegunaan-kegunaan baru yang belum kita ketahui dari sumber daya alam, selalu ada. Kita ingat saja kepada unsur Uranium yang ditemukan di dalam tahun 1789 oleh Klaproth, dan selama 1 1/2 abad hanya dimanfaatkan sebagai bahan cat. Baru sejak gejala pemecahan atom ditemukan oleh Hahn dan Strassman pada tahun 1938 manfaat yang begitu besar dari Uranium dimengerti. Kemungkinan lain tentang eksploatasi sumber daya alam kita oleh makhluk-makhluk menyangkut bentuk-bentuk sumber daya alam yang dewasa ini belum kita ketahui. Bentuk-bentuk sumber daya alam yang dewasa ini belum kita ketahui. Bentuk-bentuk energi tertentu yang dipancarkan oleh bumi disadap oleh UFO ibarat kitamenambah arus listrik dalam baterai (teori Agusnain), atau makhluk-makhluk UFO hidup dari gas dan pancaran lain dari bumi yang belum kita ketahui (teori Nasibu). Eksploatasi lain dari bumi kita yang perlu diperhitungkan ialah eksploatasi sumber daya manusianya, mengingat semakin meningkatnya kasus-kasus penculiakan manusia oleh makhluk-makhluk UFO yang mengalami pemeriksaan-pemeriksaan medis dan sejumlah kecil bahkan ada yang tidak dilepas 53 kembali. Di samping itu menonjol pula kenyataan bahwa makhluk-makhluk UFO sampai sekarang belum mau mengadakan kontak dengan kita, hal tersebut mengingatkan kita kepada laporan Brookings Institution mengenai kehidupan ekstra terrestrial (New York Times, 15-12-1960) yang antara lain menyimpulkan bahwa:”Jikalau kecerdasan makhluk-makhluk UFO itu cukup unggul terhadap kita, mereka boleh jadi memilih untuk sedikit, atau sama sekali tidak berhubungan dengan kita.” Bagaimanakah pandangan makhluk UFO terhadap kita? Apakah kita sekadar dianggap setaraf dengan kawanan Chimpanzee? Ataukah sebagai manusia primitif? Dr. Vallee mengingatkan kita kepada nasib anjing laut: di dalam lingkungan hidupnya yang asli hewan itu hanya pandai menangkap ikan, namun setelah dididik oleh manusia ternyata ia mempunyai kepandaian istimewa yaitu menjaga keseimbangan sebuah bola dengan hidungnya, sehingga menjadi tontonan di sirkus. Sungguh prospek yang tidak cerah, apalagi jikalau pilihan bagi manusia bumi yang diculik makhluk UFO hanya terdiri dari kelinci percobaan, penghuni kebun binatang, atau pemain sirkus. Di samping itu kemungkinandijadikan budak belian kiranya kurang, mengingat peradaban yang sudah begitu maju tentunya tidak memakai tenaga kasar lagi. Dari uraian terdahulu rupa-rupanya juga masih terbuka suatu bidang pekerjaan bagi manusia bumi, yaitu sebagai astronot pembantu Ufonaut khusus untuk planet-planet di mana manusianya mirip dengan kita. Akhirnya bumi kita dapat juga dieksploatir oleh peradaban lain yang sangat maju sebagai obyek pariwisata, sehingga dalam hal itu maksut tujuan kedatangan UFO ialah tamasya belaka. Dapat dibayangkan betapa luasnya kemungkina untuk tamasya bagi suatu peradaban yang dapat melancong ke berbagai planet yang masih dalam taraf perkembangan yang berbeda-beda, mulai dari zaman ketika masih ada binatang-binatang raksasa purbakala, zaman ketika mulai timbul manusia-manusia purbakala yang pertama, sampai kepada peradaban yang baru saja menginjak zaman atom dan angkasa luar seperti halnya dengan kita ini. Kemungkinan maksud tujuan kedatangan UFO menurut Keyhoe ialah untuk mengawasi kemajuan peradaban kita baik dalam penerbangan antariksa maupun dalam kemungkinan meletusnya perang nuklir. Makhluk UFO khawatir bahwa timbulnya kemampuan manusia bumi untuk menjelajah antariksa akhirnya akan membawanya ke tingkat penerbangan interstellar, di mana dia kan berhubungan dengan umat-umat manusia di tata surya lain. Mengingat pergaulan antarbangsa di bumi kita ditandai oleh ketengangan, pertentangan dan peperangan, maka kekhawatiran bahwa manusia bumi akhirnya dapat menularkan penyakit-penyakit masyarakatnya kepada lingkungan masyarakat galaktik bukannya tidak beralasan. Perhatian makhluk UFO terhadap kemungkinan meletusnya perang nuklir di bumi adalah terpengaruhnya orbit planet-planet lain, seperti planet Mars, di mana mereka boleh jadi mempunyai pangkalan. Kemungkinan timbulnya pengaruh interplanetar semacam itu menurut Keyhoe biasanya didasarkan teori Dr. George Gamov bahwa perubahan tertentu yang tidak dapat diterangkan di planet Saturnus misalnya telah menimbulkan zaman es di bumi kita. Kemungkinan maksud tujuan kedatangan makhluk UFO yang paling menggemparkan ialah teori migrasi yang menurut ungkapan Keyhoe dimuat dalam naskah yang tidak diterbitkan dan ditulis oleh W.C. Odell, seorang kolonel Intelijen Angkatan Udara Amerika Serikat. Menurut Odell, makhluk-makhluk angkasa luar penghuni sebuah planet mungkin sedang di ambang kiamat, sehingga mereka mencari tempat pemukiman lain dan kebetulan bumi kita mirip dengan tempat asal mereka. Pengintaian yang telah berlangsung begitu lama mungkin tidak lama bagi makhluk UFO yang berumur sangat panjang, seperti dugaan Dr.Hynek. Teori migrasi itu patut diperhitungkan, meskipun tidak dapat dimengerti mengapakah peradaban yang sudah begitu maju akan mengincar bumi kita yang sudah kelebihan penduduk itu? Sedangkan sekarang saja NASA telah membuat studi disain bagi pemukiman antariksa yang dilaksanakan oleh Prof. Gerard O’Neill dari Princeton University, N>J. (1976). Pemukiman antariksa itu terdiri dari satelit raksasa di titik Lagrange dan dalam tahap permulaan akan dihuni oleh 10.000 jiwa, lengkap dengan insustri, hiburan, pertanian, pertamanan, sekolah, dan sebagainya. Pemukiman antariksa itu bebas polusi dan lebih nyaman daripada lingkungan bumi. Dari suatu peradaban yang lebih maju dapat diharapkan kemampuan untuk menciptakan pemukiman antariksa sedemikian akan tetapi yang lebih maju dan lebih lengkap, tanpa merebut suatu planet lain yang sudah berpenghuni. Kemungkinan lain dari maksud dan tujuan UFO ialah yang disuarakan oleh beberapa penulis, bahwa UFO datang dengan mengemban tugas suci untuk membimbing umat manusia ke tingkat yang lebih tinggi secara material atau spiritual. Misalnya Dr. Jacques Vallee memandang sebagai salah satu kemungkinan bahwa gejala UFO itu merupakan percobaan komunikasi dari kecerdasan extraterrestrial, akan tetapi yang disampaikan dengan cara yang teliti namun sukar difahami (Hipotesa Intervensi Esoterik). Ada lagi yang menganggap bahwa pembangunan piramida dan bangunan-bangunan purbakala lainnya yang mengagumkan hanya dimungkinkan karena bantuan makhluk-makhluk angkasa luar. Timbulnya pikiran-pikiran sedemikian pada bangsa-bangsa yang tergolong maju tentulah menarik terutama bagi para ahli sosial budaya, dan mengingatkan kita kepada reaksi suku-suku bangsa primitif yang ketika dikunjungi oleh pesawat terbang untuk pertama kali menamakannya “burung kendaraan dewata”. Ataukah sesuai dengan analogi sejarah manusia bumi, maka tamu-tamu yang datang dengan UFO itu juga terdiri dari awak pesawat, cendekiawan, pengusaha, tentara dan pendeta? Demi obyektivitas perlu dicatat, bahwa tidak semua penulis memandang UFO itu sebagai pembawa malaikat, melainkan justru sebaliknya membawa makhluk-makhluk yang beriktikad kurang baik terhadap umat manusia. John A. Keel misalnya mencurigai gejala UFO sebagai “Kuda Troya” atau penyusupan tersamar ke dalam masyarakat manusia bumi dari kecerdasan ekstraterestrial. Demikian pula Drs. Arimurthy, Direktur Pembinaan Penghayatan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa Departemen P dan K, menyampaikan pandangan kepada penulis ini bahwa gejala UFO ialah pameran keunggulan 54 teknologi mereka untuk memikat manusia bumi, sedang maksud tujuannya ialah justru untuk memanfaatkan manusia bumi di dalam mencari jalan ke arah kesempurnaan spiritual dalam hal mana kita lebih unggul dari mereka. Dalam menghadapi persoalan ini, kiranya perlu dicatat penjelasan Prof.Dr.Sumantri Hardjoprakoso (almarhum) yang di dalam disertasinya (Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psychotherapie, Rijksuniversiteit te Leiden, 1956) antara lain memperingatkan kita terhadap bahaya eksploatasi spiritual. Yaitu adanya makhluk-makhluk halus yang di dalam konsepsi Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal) dinamakan dewa*) dan menurut kodratnya dapat hidup 1000 kali lebih panjang dari manusia. Namun jangka hidupnya itu dapat diperpanjang lagi jikalau ada manusia yang percaya kepadanya, ibarat baterai yang ditambah arus listriknya. Jadi, kepercayaan rupa-rupanya merupakan suatu bentuk energi pula yang dapat membawa manusia kembali kepada sumbernya, yaitu Tuhan, yang oleh karena itu ingin direbut oleh makhluk-makhluk halus tertentu yang negatif dengan mengerahkan tipu muslihatnya. Bagaimanakah maksud dan tujuan UFO yang sebenarnya, mungkin hanya sejarah akan membuktikannya. Atau jikalau masalah UFO ternyata tidak berkesudahan, maka hal itu akan menjadi pertanyaan abadi. Barangkali jawaban-jawaban yang diberikan di atas bersifat terlalu antroposentris. Perhatian makhluk-makhluk UFO terhadap kita mungkin tidak menyangkut maksud-maksuk lebih lanjut kecuali untuk menambah ilmu pengetahuan mereka. Mungkin maksud dan tujuan makhluk UFO sebenarnya adalah di luar jangkauan pengertian manusia, sama halnya dengan kelinci percobaan yang tidak akan dapat mengerti program penelitian yang sedang diterapkan terhadap dirinya oleh para ilmuwan di dalam sebuah laboratorium. 55 BAB 6 PETUNJUK, JIKALAU MENYAKSIKAN UFO Tetap tenang dan obyektif. Kemudian: 1. Tulislah semua pengalaman Anda selengkapnya. 2. Catatlah pukul berapa awal maupun akhir penyaksian Anda. 3. Jikalau Anda membawa alat foto, buatlah beberapa foto dari UFO dan juga keadaan sekelilingnya. 4. Jikalau UFO mendarat atau mengambang rendah: a. Janga mendekatinya. b. Jangan menyentuhnya. c. Jangan sekali-kali memegang antena atau bagian lain yang menonjol. 5. Jikalau UFO meninggalkan bekas-bekas fisik: a. Harap segera mengisolasi tempat yang bersangkutan. b. Buatlah peta situasi yang menggambarkan posisi dan macam bekas-bekas fisik tadi terhadap keadaan sekelilingnya. c. Amankanlah bekas-bekas fisik yang dapat dipungut dan berilah tanda yang sesuai dengan 5 b. 6. Jikalau Anda berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO: a. Jangan menarik perhatian. b. Jangan mendekati. c. Bersembunyilah sambil mengawasi segala gerak-geriknya. d. Buatlah foto daripadanya jikalau mungkin. e. Jikalau Anda ketahuan dan didekati olehnya, lari dan bersembunyilah jikalau masih mungkin. 7. Isilah formulir laporan penyaksian UFO seperti contoh terlampir dan setelah diisi, kirimkanlah kepada alamat sebagai berikut: SUFOI (Studi UFO Indonesia) KOTAK POS 76 TEBET JAKARTA SELATAN (Formulir laporan penyaksian UFO dapat diminta dari alamat tersebut. Bubuhilah perangko secukupnya untuk balasannya). Formulir laporan penyaksian UFO terlampir disusun atas dasar “U.S. Air Force Technical Information Sheet” (Lembaran Keterangan Teknis Angkatan Udara, Pangkalan Angkatan Udara Wright Patterson, Ohio; “UFO Sighting Account Form” (Formulir Laporan Penyaksian UFO) yang diterbitkan oleh BUFORA (British UFO Research Association - Perkumpulan Riset UFO Inggris), dan formulir dari International UFO Reporter yang diterbitkan oleh Center for UFO Studies, Evanston, Illinois. Harus diakui bahwa lebih mudah untuk menyusun pedoman apa yang sebaiknya diperbuat jikalau menyaksikan UFO, daripada berbuat sebagaimana mestinya apabila hal itu benar-benar terjadi. Penyaksian UFO merupakan suatu pengalaman yang menurut kebanyakan saksi tidak ada duanya, tidak pernah dilihat sebelumnya dan tidak pernah terulang lagi sesudahnya. Jikalau angka-angka hasil angket Gallup di Amerika Serikat boleh diterapkan secara mondial, maka jkalau Anda menyaksikan UFO, Anda termasuk satu di antara 7 orang yang beruntung mendapat kesempatan itu. Satu hal yang selalu harus diingat ialah, apabila Anda kebetulan membawa alat foto, pertama-tama janganlah lupa mempergunakannya. Kedua, buatlah foto sebanyak mungkin dari UFO yang Anda lihat, jikalau mungkin dari sudut yang berbeda-beda. Jikalau Anda hanya membuat sebuah foto saja, para ahli akan menyangsikan kebenarannya oleh karena ia tidak dibedakan dari kerusakan film sebelum atau sewaktu mencucinya. Jikalau membuat foto atau film, aturlah pengambilan gambarnya sedemikian rupa sehingga UFOnya tampak dalam hubungan dengan awan, kaki langit atau benda-benda lain di sekelilingnya atau di bawahnya. Hal itu akan mempermudah analisa foto atau filmnya. Perlu ditekankan betapa pentingnya Anda bertindak hati-hati jikalau menyaksikan UFO yang sedang berhenti di daratan atau mengambang rendah. Adalah mengherankan bahwa berulang kali terjadi saksi itu mengalami kesakitan atau cidera gara-gara mendekati atau menyentuh UFO. Kita tidak tahu bahaya-bahaya yang timbul dari benda-benda tersebut terhadap manusia dan mungkin makhluk UFO sendiri juga belum mengetahuinya jikalau mereka masih pada tahap eksplorasi ilmiah. Suatu contoh sikap sembrana ialah saksi yang mengalami kejutan seperti terkena arus listrik gara-gara dia memegang antena sebuah UFO kecil, suatu perbuatan yang pantang biarpun terhadap antena pemancar radio biasa. Jikalau Anda berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO, Anda termasuk satu di antara 2 juta orang yang mengalaminya. Apakah hal itu merupakan keberuntungan, tergantung dari apa yang terjadi 56 selanjutnya atas diri Anda. Apabila Anda dapat menceriterakan pengalaman itu, Anda beruntung. Apabila Anda tidak dapat berbuat demikian, Anda tergolong yang malang. Sangat sulit untuk memberi petunjuk bagi mereka yang sampai diculik makhluk UFO. Nasihat yang terbaik ialah untuk menghindarkan diri dari kemungkinan itu. Jikalau Anda sampai diculik makhluk UFO, dari pengalaman sampai sekarang terdapat petunjuk bahwa makhluk UFO itu mampu menghipnotis korbannya untuk selanjutnya mengadakan komunikasi lewat telepati. Untuk menjaga segala kemungkinan ada baiknya jikalau Anda menguasai Hipnotisme dan telepati. 57 EPILOG Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” (Pustaka Rakyat, Jakarta 1960) Menteri Pertama RI/Ketua Dewan Penerbangan Bapak Ir.H.Djuanda (almarhum) di dalam kata sambutannya antara lain menyebutkan 3 ciri dari benda-benda terbang tak dikenal, yaitu berkesinambungan, meliputi seluruh dunia, dan tidak dapat diterangkan seluruhnya sebagai gejala biasa. Dewasa ini masalah UFO masih tetap menghantui umat manusia demikian pula ketiga aspek tersebut di atas masih tetap berlanjut seperti 22 tahun yang silam. Malahan jumlah penyaksian dan pengalaman UFO telah semakin banyak. Tepatlah kata sesepuh UFOlogi Dr.J.Allen Hynek bahwa penelitian UFO sekarang dibingungkan justru oleh kekayaan datanya! Tak berbeda dari bagian-bagian dunia lainnya, di Indonesia pun perbendaharaan penyaksian UFO semakin lama semakin banyak dan memperlihatkan keanekaragaman yang sama pula. Syukur alhamdulilah hingga sekarang di negara kita kasus penculikan oleh makhluk UFO hanya terjadi sekali saja dan mudah-mudahan untuk selanjutnya hal itu tidak terulang lagi. Naun semakin banyaknya kasus penculikan itu di negara-negara lain terutama sejak tahun 70-an merupakan suatu kecenderungan yang memprihatinkan. Makhluk-makhluk UFO menculik manusia bumi untuk diselidiki secara fisiologis dan ada yang dikembalikan dan ada yang dibawa untuk selamanya. Perlakuan mereka terhadap kita itu adalah seperti perlakuan terhadap kelinci percobaan yang tidak berdaya. Apakah yang dapat kita perbuat? Di dalam bagian terdahulu tentang jikalau anda berjumpa dengan makhluk UFO antara lain disinggung bahwa sebaiknya kita sedia payung sebelum hujan dengan jalan menguasai telepati dan hipnotisme, oleh karena makhluk-makhluk UFO itu mempergunakan saluransaluran tersebut untuk menundukkan kelinci-kelinci percobaannya. Seseorang yang menguasai saluransaluran tersebut andaikata akan dijadikan korban mudah-mudahan dapat membuka dialog yang diplomatis untuk menghindarkan diri dari perlakuan yang tidak menguntungkan itu. Lebih baik lagi daripada membuka saluran dialog dan diplomasi adalah jikalau kita memiliki suatu kekuatan pendukung yang mempunyai dampak terhadap makhluk UFO. Salah satu pertanyaan yang belum dapat dijawab dewasa ini ialah apakah tingkah laku makhluk UFO itu disebabkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi mereka itu sangat maju ataukah karena secara alamiah mereka itu sudah memiliki kemampuan paranormal. Dalam hubungan ini patut kita ingat ucapan Sir Arthur C. Clarke bahwa bagi orang awam sebenarnya tidak ada perbedaan antara sihir dengan teknologi maju. Jikalau kita belum dapat menandingi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mereka maka satu-satunya kemungkinan yang masih terbuka bagi kita adalah untuk memperkembangkan kemampuan paranormal kita. Untuk memperkembangkan kemampuan paranormal kita sayang belum tersedia jalan yang bersifat ilmiah oleh karena ilmu pengetahuan yang kita warisi dari dunia Barat sampai sekarang tidak mampu untuk mewadahinya. Bagi mereka yang berminat untuk memperkembangkan kemampuan paranormalnya dengan demikian dapat mencapai maksudnya dengan cara menjalankan kebatinan atau mistik. Pilihan untuk menjalankan kebatinan itu sungguh banyak aneka ragamnya dan terserah kepada selera kita dapat memilih aliran kebatinan yang bercorak keagamaan (Islam, Kristen, Budha, atau Hindu) atau bercorak kepercayaan yaitu penghayatan Tuhan Yang Mahaesa. Namun, biarpun kita telah berhasil memperkembangkan kemampuan paranormal sehingga dapat berbuat mukjizat, kita adalah tetap manusia dan bukan menjadi Tuhan Yang Mahakuasa. Apa yang kita raih baik berupa ilmu pengetahuan maupun kemampuan pada hakikatnya adalah oleh karena ikhtiar kita sendiri di samping oleh rida Allah S.W.T. Jadi kita tidak boleh sekali-kali bersikap sok oleh karena sesungguhnya tidak ada yang mutlak di dunia ini keculai Tuhan. Maka dari itu seyogyanya segala ikhtiar yang kita tempuh perlu disertai dengan ingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan pasrah kepadaNya. Alam semesta eisinya, termasuk UFO dan makhluk-makhluk UFO, apakah itu di dalam galaksi kita ataukah di tempat lain yang lebih jauh, ataukah di dimensi lain, atau di bumi kita sendiri dari masa silam atau masa depan, itu semua adalah sekedar bagian daripada tahta Tuhan. Marilah kita mengambil hikmah dari kekecutan hati kita karena diperlakukan sekedar sebagai kelinci percobaan yang tak berdaya oleh makhluk-makhluk UFO. Bukankah selama ini kita juga berbuat sama dengan mereka terhadap hewan atau makhluk hidup lainnya yang kita jadikan kelinci percobaan di dalam laboratorium kita? Apakah kita tidak dapat berbuat lebih manusiawi misalnya dengan jalan memperlakukan mereka itu lebih daripada suatu kumpulan sel-sel hidup belaka? Siapa tahu makhlukmakhluk hidup itu juga memiliki suatu kesadaran hidup meskipun dari taraf yang lebih rendarh daripada kita. Mengapakah kita tidak menyelidiki kemungkinan untuk memakai saluran telepati dan hipnotisme pula untuk berkomunikasi dengan species yang lebih rendah? Penulis ini kagum terhadap tata krama Ilmu Kejawen misalnya yang setiap kali hendak mengambil sesuatu dari alam sekelilingnya tidak lupa menyampaikan salam dan meminta ijin, oleh karena kebiasaan itu tidak hanya membuktikan adanya kesadaran akan tetapi penghayatan terhadap ecosystem, suatu kemanunggalan manusia dan alam sekelilingnya. Penulis ini juga bertambah kagum lagi leh karena para ilmuwan Barat kini juga ada yang mulai menyadari bahwa bumi, matahari, planet-planet lain dan bintang-bintang serta galaksi-galaksi itu yang disebut makrokosmos merupakan suatu benda hidup! Bukankah di dalam warisan kebudayaan kita segala sesuatu itu lazimnya dipersonifikasikan pula? Syahdan, saya ingin mengucap terima kasih banyak kepada mereka yang memungkinkan penerbitan buku ini. Melalui jalan ini saya juga ingin mengucap terima kasih banyak kepada Saudara Goenadi Siswanto khususnya, yang telah memberikan hadiah yang amat saya hargai yaitu berupa 58 langganan selama 2 tahun atas majalah-majalah “Omni” dan “Science Digest”. Saya telah berusaha untuk menemukan alamat Saudara tersebut, akan tetapi tidak berhasil. Hadiah Saudara tersebut ternyata amat berguna bagi saya. Semoga Tuhan membalas budi baik Saudara tersebut. Akhirulkalam, sebagaimana dikatakan oleh ahli filsafah Immanuel Kant, sumber pengenal semua ilmu pengetahuan adalah pengalaman manusia. Oleh karena itu sinyalemen penulis bahwa ilmu pengetahuan gejala-gejala paranormal dan ilmu pengetahuan tentang UFO masih kurang diperkembangkan sebenarnya mudah saja dimajukan. Untuk membatasi diri kepada negara kita saja, andaikata 147 juta rakyat Indonesia mau mencatat dan memberitahukan pengalaman-pengalamannya di kedua bidang tadi, dalam waktu sekejap mata kedua cabang ilmu pengetahuan tadi dapat maju pesat. Maka dari itu penulis melalui jalan ini mengimbau kepada para pembaca supaya jangan segan-segan menulis surat (dengan alamat Kotak Pos 76, Tebet, Jakarta Selatan) untuk memberitahukan pengalamanpengalamannya di bidang UFO maupun di bidang gejala-gejala paranormal. Bagi mereka yang lebih suka identitasnya tidak disebutkan, harap memberitahukan di dalam suratnya. Terima kasih sebelum dan sesudahnya. Jakarta, 6 Agustus 1982 J.SALATUN 59 mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt