mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt

UFO SALAH SATU MASALAH DUNIA MASA KINI
Oleh
J. Salatun
Berdasarkan ceramah di Gedung Kebangkitan
Nasional di Jakarta pada tanggal 30 Juni 1979
Diterbitkan oleh
Yayasan Idayu
Jakarta 1982.
KATA PENGANTAR
Pada tanggal 30 Juni 1979 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta diselenggarakan ceramah oleh
Yayasan Idayu, yang diberikan oleh Marsekal Muda TNI J. Salatun dengan judul “UFO, Salah Satu Masalah
Dunia Masa Kini”. Yayasan Idayu sengaja meminta Perwira Tinggi TNI-AU itu untuk membahas masalah
UFO, atau Benda-benda Terbang Tak Dikenal alias Piring Terbang, mengingat karya-karyanya di dalam
merintis masalah UFO di negara kita. Hal itu terbukti dari tulisan-tulisannya di dalam majalah “Angkasa”
pada awal tahun lima puluhan, buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” pada tahun 1960, tulisantulisan
di dalam majalah-majalah UFO luar negeri seperti CBA International Magazine” di Jepang dan
“International UFO Reporter” di Amerika Serikat. Di samping itu perwira tinggi tersebut telah ditunjuk oleh
Menteri Luar Negeri Adam Malik untuk bertindak sebagai tuan rumah dan “counter-part” bagi tokoh
penelitian UFO kaliber internasional Prof.Dr.J.Allen Hynek yang berkunjung ke Indonesia pada penghujung
tahun 1976.
Ceramah tentang UFO tersebut di atas mendapat perhatian luar biasa dari segenap lapisan
masyarakat, baik generasi tua maupun generasi muda, dan menurut pengamatan termasuk kategori
ceramah yang diselenggarakan Yayasan Idayu yang paling banyak menarik pengunjung.
Ceramah tentang UFO tersebut di atas pada waktu diucapkan baru sebagianberupa naskah tertulis,
sedang selebihnya diberikan sekedar atas dasar peragaan diagram dan gambar. Isi buku ini di dalam garis
besarnya sama dengan ceramah yang telah diberikan itu. Perincian-perinciannya bahkan telah diperkaya
dengan berbagai keterangan mutakhir, hal tersebut penting kiranya untuk mengikuti masalah UFO yang
berkembang terus dengan pesatnya itu.
Mudah-mudahan buku ini berguna untuk menambah pengetahuan kita mengenai masalah UFO
yang begitu misterius dan tidak mudah dimengerti itu, namun yang pada suatu waktu mungkin akan
dapat mempengaruhi perikehidupan seluruh umat manusia juga, termasuk di dalamnya bangsa Indonesia.
Jakarta, 10 Agustus 1982
Yayasan Idayu
2
BAB 1
MASALAH UFO DI FORUM PBB
Hari Senin tanggal 27 November 1978 merupakan saat bersejarah bagi masalah UFO: pada hari itu
masalah UFO dibicarakan di dalam Komite Politik Khusus dari Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang
ke-33, dengan mata acara no. 126 yang berbunyi: Pembentukan suatu badan atau bagian dari PBB untuk
melakukan, mengkordinasikan dan menyebarluaskan hasil penelitian UFO dan gejala-gejala yang
bertalian. Dengan demikian masalah UFO yang kontroversal itu, yang sebelumnya telah 31 tahun lamanya
menjadi pemberitaan dunia, akhirnya menjadi pembicaraan resmi di forum PBB.
Adalah sangat berguna bagi kita untuk mempelajari penyajian masalah UFO di forum PBB itu, oleh
karena selain bersifat unik baik di dalam sejarah badan dunia tadi maupun di dalam sejarah UFO, bahanbahan
yang dikemukakan bersifat autentik sehingga dapat mengantarkan para pembaca ke dalam
masalah UFO serta intisari persoalannya.
Masalah UFO untuk pertama kali diajukan ke forum PBB pada tahun 1975 oleh Sir Eric Matthew
Gairy, Perdana Menteri Grenada, suatu negara kecil yang terdiri dari sebuah pulau di Hindia Barat dengan
penduduk 100.000 jiwa. Di dalam perdebatan umum di Majelis Umum PBB tahun berikutnya, ia
mengimbau negara-negara besar untuk menyediakan informasi dan data lain tentang UFO bagi negaranegara
dan rakyat lain di bumi ini.
Kemudian di dalam suratnya tertanggal 14 Juli 1977, negarawan itu mengusulkan agar di dalam
acara Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang ke-32 dicantumkan masalah pembentukan suatu badan
atau bagian dari PBB untuk melakukan, mengkordinasikan dan menyebarluaskan hasil peneliatian UFO
dan gejala-gejala lain yang bertalian. Di dalam memori penjelasannya dikemukakan, bahwa yang dituju
ialah adanya diskusi terbuka mengenai masalah UFO yang dipandangnya sangat penting dan besar artinya
bagi umat manusia dewasa ini.
Di dalam sidang Komite Politik Khusus pada tangga 27 November 1978 yang dihadiri oleh wakilwakil
dari 147 negara anggota PBB, delegasi Grenada mengadakan penyajian tentang masalah UFO
dengan dibantu oleh suatu panel ilmiah yang terdiri dari Dr.J.Allen Hynek, Dr. Jacques Vallee, Letnan
Kolonet Penerbang Larry Coyne dan Stanton T. Friedman.
Sir Eric M.Gairy merupakan seorang pembicara di forum PBB yang memiliki gaya tersendiri.
Pidatonya bernada keagamaan dan ketuhanan, bahkan pernah ada yang diakhiri dengan doa seperti
lazimnya di dalam gereja. Kecuali penelitian UFO, Sir Eric M. Gairy juga mengusulkan supaya PBB
mendirikan departemen atau badan untuk menyelidiki gejala-gejala paranormal.
Di dalam kata pembukaannya bagi penyajian masalah UFO, Perdana Menteri Sir Eric M. Gairy
menerangkan mengapa Grenada begitu memikirkan masalah UFO dan bukan hal-hal lain yang langsung
menyangkut perkembangan dunia. Dijelaskannya bahwa seluruh dunia sudah terlalu memikirkan
masalah-masalah internasional yang ditilik dari sudut kepentingan tiap-tiap negara hal tersebut mudah
dimengerti sehingga mereka seakan-akan lupa atau sangat sedikit memikirkan masalah-masalah
internasional yang menyangkut dunia sebagai suatu keseluruhan. Motifnya untuk mengemukakan
masalah UFO di forum PBB ialah “kepercayaan kepada adanya Yang Mahakuasa, dan pengakuan bahwa
gejala UFO merupakan salah satu cara-Nya untuk berhubungan dengan umat manusia. Saya tahu bahwa
merupakan tugas umat manusia untuk mempelajari dan mengerti lebih baik para utusan itu.”
Di dalam memperkenalkan Dr.J.Allen Hynek kepada sidang Komite Politik Khusus PBB, Menteri
Pendidikan Grenada Wellington Friday mengutarakan sketsa biografinya. Dr. Hynek ialah profesor
emeritus astronomi di Northwestern University dan Direktur dari Center for UFO Studies, suatu
perkumpulan dari ilmuwan-ilmuwan terkenal dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri. Selama
lebih dari 20 tahun Prof. Hynek menjadi konsultan astronomi dari Angkatan Udara Amerika Serikat di
dalam proyek-proyek “Sign” dan “Blue Book”, yang mengolah dan mempelajari penyaksian-penyaksian
UFO yang dilaporkan kepada pangkalan-pangkalan Angkatan Udara. Ia datang ke Northwestern University
dalam tahun 1960 dari kedudukannya sebagai Wakil Direktur Smithsonian Astrophysical Observatory di
Cambridge, Massachusetts, di mana ia bertanggung jawab atas program tracking optik satelit Amerika
Serikat. Ia bertanggung jawab atas pelacakan secara tepat dari satelit-satelit pertama dan juga atas
kurang lebih 270 buah stasiun sukarela pengamat bulan di berbagai negara. Seorang kelahiran kota
Chicago, Dr. Hynek telah memangku berbagai jabatan terkenal selama jenjang kariernya. Setelah meraih
gelar doktor astronomi di Universitas Chicago, ia menjadi profesor astronomi dan Direktur Mc Millan
Observatory di Ohio State University, pengawas laporan-laporan teknis pada Applied Physics Laboratory
dari John Hopkins University selama Perang Dunia Kedua, pembantu dekan dari Sekolah Pasca Sarjana di
Ohio State University dan profesor astronomi sesudah perang dan dosen astronomi di Harvard University
selama 4 tahun ketika menjabat Wakil Direktur Smithsonian Astrophysical Observatory di Cambridge.
Dr. Hynek kemudian datang ke Northwestern University sebagai Ketua Departemen Astronomi dan
direktur dari Dearborn Observatory, pos tersebut dipegangnya selama 15 tahun. Selama masa jabatan itu
ia berjasa di dalam mendirikan Pusat Astronomi Lindheimer dan menjadi direkturnya yang pertama.
Dr. Hynek adalah pengarang banyak tulisan teknis di dalam bidang astrofisika dan pengarang
beberapa textbooks. Ia juga pengarang dari buku-buku “The UFO Experience-A Scientific Inquiry”
Regnery, Chicago 1972; Ballantine, New York 1974 dan bersama Dr. Jacques Vallee mengarang
buku:”The Edge of Reality”. Bukunya yang terakhir adalah “The Hynek UFO Report”. Dr. Hynek juga
3
menjadi redaktur kepala dari “The International UFO Reporter”, suatu majalah bulanan yang memperinci
penyaksian-penyaksian baru dan peristiwa-peristiwa di dalam bidang Ufologi.
Kegiatan Dr. Hynek untuk meneliti masalah UFO dilanjutkan terus setelah Angkatan Udara Amerika
Serikat menghentikan proyek “Blue Book”. Sambil bekerja sama dengan para ilmuwan lainnya. ia
bertujuan untuk mempelajari gejala UFO, yang olehnya dan rekan-rekannya dipandang sebagai suatu
problem ilmiah yang nyata dan penting. Untuk keperluan itu Dr. Hynek mendirikan “Center for UFO
Studies” di dalam tahun 1973 untuk menciptakan sumber bagi masyarakat dari keterangan yang dapat
dipercaya dan berbobot tentang UFO dan yang juga merupakan suatu “clearing house” ilmiah kepada
orang-orang yang dapat melaporkan pengalaman UFO tanpa takut diperolokkan dan untuk menerangkan
metode-metode ilmiah terhadap salah satu teka-teki yang paling mengherankan dalam abad ini, yaitu
UFO.
Dr.J.Allen Hynek membuka uraiannya dengan memuji prakarsa Perdana Menteri Sir Eric Gairy
untuk memajukan masalah UFO ke depan Majelis Umum PBB, sehingga salah satu negara yang terkecil di
dunia telah mengambil suatu langkah yang bagi negara-negara besar tidak berani mengambilnya.
Dr. Hynek selanjutnya melukiskan masalah UFO sebagai suatu gejala yang mencakup seluruh
dunia, akan tetapi yang baik ruang-lingkup maupun jangkauannya belum diakui secara luas. UFO
merupakan gejala yang begitu aneh dan asing terhadap jalan pikiran kita sehari-hari di bumi ini sehingga
ia sering disambut dengan tertawaan dan ejekan oleh orang dan organisasi yang tidak mengetahui faktafaktanya.
Namun gejala itu bertahan terus dan tidak berhenti serta lenyap seperti harapan banyak orang
bertahun-tahun yang lalu yang menyangka bahwa hal tersebut merupakan suatu hobi atau tingkah laku
yang bersifat tiba-tiba dan sementara. Sebaliknya masalah UFO telah menyentuh kehidupan semakin
banyak orang di seluruh dunia.
Dr. Hynek memberi definisi tentang UFO sebagai:”penyaksian dari permukaan bumi atau udara,
atau rekaman alat (seperti radar, foto, dsb) yang tetap tidak dapat diterangkan dengan cara-cara
konvensional sesudah penyelidikan kompeten oleh para ahli”. Definisi tersebut tidak menyebut tentang
manusia kerdil berwarna hijau dari angkasa luar, atau pengejawantahan dari alam spiritual, atau berbagai
pengejawantahan psikis. Ia sekedar menyatakan suatu definisi operasional. Suatu kesalahan besar, yang
menjadi sumber dari kekacauan yang parah, yang hampir selalu terjadi ialah untuk mengganti gejala UFO
dengan tafsiran terhadap gejala itu sendiri. Hal itu mirip dengan menerangkan cahaya di langit Kutub
Utara Aurora Borealis sebagai komunikasi para bidadari sebelum kita mengerti fisika dari angin matahari.
Walaupun demikian, di dalam pikiran orang banyak gejala UFO disangkutpautkan dengan konsep
kecerdasan luar bumi dan ini boleh jadi akan terbukti kebenarannya dalam rangka hubungan tertentu.
Kita semua sungguh akan menjadi bahan tertawaan jikalau di kemudian hari terjadi bahwa bukti bagi
kecerdasan luar bumi dari dahulu selama ini berada di depan hidung kita, sedang kita bersusah payah
untuk mencarinya di tempat lain.
Dr. Hynek kembali menekankan bahwa gejala global laporan-laporang UFO, laporan-laporan yang
sering dibuat oleh orang-orang yang sangat bertanggung jawab, belum dapat dimengerti. Namun hal
tersebut merupakan suatu gejala yang telah menarik perhatian jutaan orang manusia. Di Amerika Serikat
saja menurut penyelidikan pendapat umum oleh Gallup disimpulkan bahwa tidak hanya terdapat
kesadaran yang tinggi dari masyarakat terhadap masalah UFFO, akan tetapi menunjukkan pula bahwa
57% dari penduduk negara itu, berarti lebih dari 100 juta orang, percaya bahwa UFO merupakan
kenyataan dan bukan suatu reka khayalan.
Laporan-laporan UFO berasal dari 133 negara yang berlainan. Banyak laporan UFO dibuat oleh
saksi-saksi yang sangat bertanggung jawab, seperti astronot, ahli radar, para penerbang militer dan sipil,
banyak di antaranya terdapat pejabat-pejabat pemerintah dan ilmuwan, bahkan termasuk pula para ahli
astronomi!
Kita punya puluhan ribu laporan UFO. Meskipun tidak semuanya bermutu tinggi, di antaranya
terdapat laporan-laporan yang sangat mengherankan dan provokatif tentang kejadian-kejadian aneh yang
dialami oleh saksi-saksi yang sangat dapat dipercaya..... kejadian-kejadian merupakan tantangan
terhadap konsepsi kita sekarang mengenai dunia di sekelilingnya dan yang mungkin mencanangkan perlu
adanya beberapa perubahan di antara konsepsi-konsepsi itu.
Hal itu pernah disinggung oleh tidak kurang dari Menteri Pertahanan Prancis M. Robert Galley, yang
di dalam suatu wawancara radio pada tanggal 21 Februari 1974 menandaskan pentingnya menyelidiki apa
yang masih belum diketahui.
Banyak keterangan tentang UFO bersifat “keras”, tetapi tidak harus sekeras dalam arti yang
dipakai oleh ahli fisika, yang pasti lebih “keras” dari banyak keterangan yang dipergunakan di dalam ilmu
pengetahuan sosial dan di dalam praktek hukum.
Barangkali keterangan yang paling “keras” yang kkita miliki sampai sekarang ialah apa yang
disebut “Close Encounters of the Second Kind” (Perjumpaan Dekat Jenis Kedua), atau dengan perkataan
lain juga dikenal sebagai Kasus-kasus dengan Jejak Fisik.
Kasus-kasus tersebut dilaporkan seiring dan serentak dengan terjadinya suatu peristiwa UFO yang
diikuti bukti fisik di dekat munculnya UFO tadi. Hal itu dapat berupa efek fisik serempak terhadap benda
hidup atau mati, atau kedua-duanya. Jadi, efek-efek fisiologis terhadap manusia, hewan dan tumbuhtumbuhan
telah dilaporkan secara sangat dapat dipercaya, demikian pula gangguan terhadap sistemsistem
listrik di sekelilingnya yang dekat dan timbulnya tempat-tempat yang mengalami gangguan di
4
tanah yang juga di dekat peristiwa UFO yang dilaporkan. Sekarang lebih dari 1300 kasus jejak fisik telah
dilaporkan.
Gejala apa saja yang menyentuh kehidupan begitu banyak orang, dan yang menimbulkan
kebingungan bahkanketakutan di antara mereka, dengan sendirinya bukan hanya mengandung potensi
kepentingan dan arti ilmiah, tetapi juga mengandung arti sosiologis dan politis, terutama oleh karena hal
tersebut menimbulkan banyak implikasi mengenai adanya kecerdasan yang lain daripada kita.
Berbicara atas nama ia sendiri dan atas nama rekan-rekan ilmuwan lainnya, Dr. Hynek, baik
sebagai penasihat ilmiah Angkatan Udara Amerika Serikat maupun sebagai ilmuwan yang langsung
terlibat penelitian UFO, berdasarkan penyelidikan bertahun-tahun menyatakan keyakinannya bahwa
gejala UFO bagaimanapun asalnya sangat bermanfaat untuk diteliti lebih lanjut.
Dr. Wellington Friday kemudian memperkenalkan Dr. Jacques Vallee. Dr. Vallee lahir dan dididik di
Prancis. Ia meraih gelar sarjana muda matematika dari Sorbonne dan gelar sarjana astrofisika dari
Universitas Lille. Datang ke Amerika Serikat pada tahun 1962 sebagai seorang peneliti pada Universitas
Texas, ia kemudian pindah ke Chicago dan meraih gelar doktor dalam ilmu pengetahuan komputer dari
Universitas Northwestern.
Sebagai seorang spesialis dalam sistem informasi, Dr. Vallee telah merintis konsepsi-konsepsi baru
unuk data-based management dan untuk sistem konperensi yang pertama yang didasarkan atas suatu
jaringan komputer. Ia telah memberikan banyak sumbangan bagi sistem-sistem informasi di bidangbidang
astronomi, kedokteran dan geologi. Tulisan-tulisan tentang komputer dan penerapan ilmu
pengetahuan informasi telah dimuat dalam “Datamation”, “Technological Forecasting”, “Achives of
Pathology”, “The Astrophysical Journal” dan “ The Futurist”.
Sebelum mendirikan perusahaan sendiri, Dr. Vallee berkecimpung di berbagai lembaga riset seperti
Stanford University, dimana ia memimpin sistem informasi. Ia adalah anggota “International Editorial
Board of Telecommunications Policy”.
Sambil berkarya di dalam bidang ilmu pengetahuan komputer, Dr. Vallee mempunyai minat yang
aktif di dalam “science fiction” dan di dalam dampak sosial dari sistem-sistem kepercayaan baru, terutama
yang bertalian dengan kunjungan-kunjungan dari luar bumi dan UFO. Dua buah bukunya yang pertama di
dalam bahasa Prancis ialah novel-novel science fiction. Buah penanya yang pertama memenangkan
hadiah Jules Verne di dalam tahun 1962, sedang penelaahan selanjutnya menyangkut penyelidikan ilmiah
terhadap kepercayaan kepada UFO. Buku “Anatomy of a Phenomenon”, terbit di dalam tahun 1965,
menyebabkan timbulnya kembali minat terhadap kasus-kasus yang tidak dapat diterangkan yang sedang
menumpuk di dalam arsip-arsip Angkatan-angkatan Udara Prancis dan Amerika Serikat yang
dipergunakan Vallee ketika ia menyusun katalogus komputer yang pertama mengenai masalah UFO.
Buku-bukunya kemudian, “Challenge to Science”, yang ditulis bersama istrinya, dan “Passport to
Magonia” menjajagi hubungan antara teka-teki UFO dengan metodologi ilmiah dan dengan dongengdongeng
rakyat. Akhir-akhir ini Dr. Vallee telah menaruh perhatiannya kepada penelaahan dampak gejala
UFO terhadap kesadaran umat manusia. Bukunya “The Edge of Realit”, yang terbit di dalam tahun 1975
dan dikarang bersama Dr. Hynek, dan bukunya yang mutkhir:”The Invisible College” yang terbit di dalam
tahun 1976, mengemukakan apa yang oleh Dr. John Lilly disebut sebagai “hipotesa pertama yang masuk
akal mengenai gejala-gejala itu yang gpernah saya baca”.
Dr. Jacques Vallee meminta perhatian sidang atas adanya gerakan baru di dalam masyarakat yang
didasarkan atas harapan akan terjadinya hubungan dengan mahluk-mahlik angkasa luar. Kepercayaan itu
dalam banyak hal bersifat emosional. Meskipun gejala UFO adalah nyata dan rupa-rupanya disebabkan
oleh suatu ransangan fisik yang belum diketahui, Dr. Vallee sejauh ini masih belum berhasil untuk
menemukan bukti apa pun bahwa gejala UFO itu merupakan pertanda kedatangan tamu-tamu dari
angkasa luar.
Selain itu Dr. Vallee sampa pada kesimpulan, bahwa gejala UFO memperlihatkan 3 macam aspek.
Aspek pertama ialah pengejawantahan fisik yang dapat dan harus diselidiki dengan alat-alat ilmiah
yang sudahada. Tidak ada kekurangan data fisik dan tidak ada kekurangan ilmuwan-ilmuwan kompeten
yang bersedia untuk menyelidikinya dengan pikiran terbuka.
Aspek kedua dari gejala UFO ialah yang bersifat psiko-fisiologis. Para saksi di tempat kejadian
memperlihatkan gejala-gejala disorientasi, kehilangan rasa waktu, lumpuh sebagian atau kehilangan
pengendalian otot sadar, halusinasi pendengaran dan penglihatan, keluhan mata mulai dari peradangan
hingga kebutaan sementara, reaksi-reaksi psikis yang kuat dan akibat-akibat jangka lebih panjang seperti
gangguan tidur dan pola mimpi serta perubahan tingkah laku yang drastis.
Aspek ketiga dari gejala UFO ialah sistem kepercayaan masyarakat yang telah ditimbulkan di
semua negara yang diwakili di komite khusus politik ini oleh harapan adan adanya tamu-tamu angkasa
luar. Kepercayaan itu telah disuburkan oleh tidak adanya perhatian serius terhadap laporan-laporan UFO
yang murni, sehingga terciptalah konsepsi-konsepsi religius, kultural, dan politis yang baru yang oleh ilmu
pengetahuan sosial masih kurang diperhatikan.
Kesimpulan-kesimpulan Dr. Vallee tentang aspek-aspek sosial dari gejala UFO di dalam
kebudayaan-kebudayaan yang telah dipelajarinya adalah sebagai berikut:
1. Kepercayaan kepada tamu-tamu angkasa luar tidak tergantung dari kenyataan fisik gejala UFO.
Di dalam pengertian ilmu pengetahuan sosial dapat dikatakan bahwa sesuatu adalah “nyata” jikalau cukup
banyak orang mempercayainya. Gejala UFO sekarang telah mencapai titik itu. Pertanyaan tentang
5
bagaimana kita mengetahui apakah UFO itu “nyata” secara fisik atau tidak, telah menjadi sekunder di
dalam pikiran khalayak ramai.
2. Kepercayaan kepada segera akan adanya hubungan dengan UFO merupakan petunjuk tentang
adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara khalayak ramai dengan ilmu pengetahuan. Kini kita
sudah mulai membayar untuk sikap negatif dan berprasangka dari lembaga-lembaga ilmiah di dalam
memperlakukan saksi-saksi yang jujur dari gejala-gejala UFO. Tidak adanya penelitian yang sungguhsungguh
dan berpikiran terbuka di dalam bidang ini telah mendorong para saksi tadi untuk mengira
bahwa ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menghadapi gejala tadi. Sikap ini telah membawa banyak
orang untuk mencari jawaban di luar pencarian pengetahuan secara rasional yang menjadi landasan
berpijak ilmu pengetahuan. Hanya suatu pertukaran keterangan yang terbuka mengenai masalah UFO
sekarang dapat memperbaiki kecenderungan yang berbahaya tadi.
3. Dalam ketiadaan penelitian serius yang tidak berat sebelah terhadap masalah UFO, maka
kepercayaan kepada segera akan terjadinya kontak dengan UFO dapat menggerogoti citra manusia
sebagai penanggung jawab nasibnya swndiri. Dalam tahun-tahun terakhir ini kita telah melihat terbitnya
banyak buku yang mengemukakan argumentasi bahwa bumi kita di zaman purbakala telah didatangi oleh
tamu-tamu dari angkasa luar. Meskipun teori itu pantas dipelajari dengan serius, ia telah membuat
banyak orang menganut anggapan bahwa karya-karya besar umat manusia adalah mustahil tanpa campur
tangan dari angkasa luar. Pengembangan pertanian, penguasaan api dan dasar-dasar peradaban kita
lainnya dimungkinkan oleh “makhluk-makhluk yang lebih tinggi”. Pandanganitu tidak hanya bertentangan
dengan banyak fakta kepurbakalaan, akan tetapi ia juga mendorong harapan pasif kepada kedatangan
dari makhluk-makhluk lain angkasa luar yang bersahabat untuk memecahkan persoalan-persoalan umat
manusia masa kini.
4. Harapan akan adanya hubungan dengan tamu-tamu dari angkasa luar bersifat memajukan
konsepsi penyatuan polotis dari planet kita. Melalui kepercayaan adanya makhluk-makhluk angkasa luar,
suatu kegandrungan yang berkobar-kobar dan indah kepada perdamaian dunis sedang menyatakan
dirinya. Gejala UFO memberikan fokus ekstern bagi emosi-emosi manusiawi. Apakah hal itu menjadi
faktor bagi perubahan sosial yang positif atau negatif akan tergantung dari cara emosi-emosi tadi
disalurkan dan dari kesungguhan penelitian gejala fisik yang mendasarinya. Demikianlah tantangan yang
ada di depan komite ini. Semua negara besar di dunia ini diwakili dalam komite ini. Marilah kita
mencamkan, bahwa gejala UFO boleh jadi mewakili suatu kenyataan yang lebih besar lagi. Adalah pilihan
kita sendiri untuk menghadapinya sebagai ancaman ataupun kesempatan bagi pengetahuan manusia.
Demikianlah Dr. Vallee mengakhiri pengkajiannya.
Orang berikutnya yang diminta oleh delegasi Grenada untuk memberikan pernyataan ialah Letnan
Kolonel Larry Coyne. Menteri Wellington Friday dari delegasi Grenada memberi kata pengantar baginya,
yang menandaskan meskipun Kolonel Coyne adalah anggota militer Amerika Serikat, kehadirannya adalah
sebagai pribadi. Sketsa biografinya dimulai dengan fakta bahwa Kolonel Coyne diterjunkan ke dalam
masalah UFO karena peristiwa perjumpaan jarak dekat yang mengerikan antara dia dengan helikopter
Angkatan Darat Amerika Serikat dan sebuah UFO pada tahun 1973 di dekat Columbus, Ohio. Latar
belakangnya termasuk gelar sarjana muda dalam bidang menajemen. Pada waktu itu ia berada di Sekolah
Staf dan Komando Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Leavenworth, Kansas. Ia memiliki kualifikasi
untuk kesenjataan-kesenjataan infanteri dan kavaleri serta Dinas Kesehatan Angkatan Darat Amerika
Serikat.
Ia mengikuti latihan terjun payung di Fort Benning, Georgia, dan juga latihan pasukan khusus di
Fort Bragg di North Carolina. Ia mengikuti sekolah penerbang Angkatan Darat di Alabama, di mana ia
menggondol ijazah untuk mengemudikan helikopter, pesawat sayap tetap bermotor tunggal dan ganda,
serta pesawat terbang laut. Ia telah mengumpulkan lebih dari 3000 jam terbang. Selama 23 tahun dias
militer ia memangku jabatan-jabatan komandan selama 13 tahun. Dewasa ini dia adalah komandan
batalyon dan mengawasi fasilitas penerbangan di Cleveland, Ohio.
Letnan Kolonel Coyne sedang menyiapkan naskah buku yang mengisahkan pengalaman pribadinya
dengan UFO dan mengetengahkan prosedur-prosedur untuk penerbang-penerbang militer dan komersial
yang berjumpa dengan UFO di seluruh dunia.
Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne menyampaikan pengalaman pribadinya kepada sidang
Komite Politik Khusus PBB sebagai berikut:”Saya telah diminta untuk menyampaikan kepada komite ini
peristiwa yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 1973 yang melibatkan sebuah helikopter Angkatan Darat
Amerika Serikat dengan awak 4 orang yang diantaranya saya bertindak sebagai komandan pesawat, dan
sebuah UFO. Apa yang membedakan kejadian ini dari banyak perjumpaan UFO lainnya ialah bahwa
peristiwa yang dimaksud ini hampir mengakibatkan suatu tabrakan di udara antara helikopter dengan
UFO.
Helikopter kami bertolak dari Columbus, Ohio, pukul 22.30 pada hari Kamis tanggal 18 Oktober
1973 dengan tujuan Cleveland, Ohio. Cuaca pada malam hari itu terang, dengan penglihatan sejauh 15
mil (24 km) atau lebih. Tidak ada awan dan angin berkecepatan kurang dari 10 knots (18km sejam).
Awak helikopter terdiri dari 4 orang: seorang bintara teknik, seorang bintara kesehatan, seorang ko-pilot
6
dan saya sendiri sebagai komandan pesawat. Setelah memberikan rencana penerbangan kepada petugas
operasi penerbangan, kami bertolak dari Columbus tanpa hambatan apa pun untuk memulai penerbangan
yang tampaknya seperti rutin, suatu hal yang sering saya lakukan sebelumnya.
Kami naik dan kemudian mendatar pada ketinggian 2500' (750m)
di atas permukaan laut dengan haluan 0.3.0 derajat dan memelihara kecepatan udara sebesar 90
kts (162 km/jam). Begitu kami bebas dari daerah pengawasan terminal Columbus, kuserahkan
pengendalian pesawat kepada ko-pilot Letnan Jutsey dan bersantai untuk menikmati penerbangan ke
Clevelang.
Setelah terbang 30 menit helikopter kami mendekati daerah sekitar Mansfield, Ohio. Helikopter
akan melewati sebelah timur kota itu. Saya kemudian menyetel dan mengenal rambu radio nondireksional
yang terletak di sebelah tenggara kota itu untuk identifikasi posisi kami. Pada saat itu bintara
kesehatan Sersan Healy melihat suatu pesawat udara dengan sebuah cahaya merah terang bergerak ke
arah selatan, dan berada di sebelah barat helikopter kami. Sersan tadi melaporkan posisi dan haluan
pesawat udara itu melalui sistem interkom. Tidak ada ancaman ataupun keadaan luar biasa yang dilihat
pada waktu itu.
Beberapa menit kemudian bintara teknik Sersan Kepala Janesek melihat cahaya merah terang di
cakrawala, di sebelah timur helikopter dan melaporkan posisinya melalui interkom. Saya memerintahkan
dia untuk mengamat-amati gerakan cahaya merah lebih lanjut. Beberapa menit kemudian Sersan Janesek
melaporkan bahwa cahaya merah di cakrawala timur terbang sejajar dan dengan kecepatn yang sama
dengan helikopter kami. Saya perintahkan lagi Sersan Janesek untuk mengamati terus gerakan cahaya
merah tadi. Beberapa menit sesudah itu Sersan Janesek melaporkan bahwa pesawat udara dengan
cahaya merah kini terlah mengubah arahnya dan sedang mendekati helikopter kami dengan haluan sikusiku
dan dengan kecepatan sangat tinggi yang diperkirakan melebihi 600 kts (1000 km/jam). Pada saat
itu saya melihat ke kanan ke cakrawala timur dan menyaksikan suatu cahaya merah terang yang tetap
yang dengan kecepatan tinggi melaju dengan sudut siku-siku ke arah helikopter.
Saya seketika menghubungi Lapangan Terbang Mansfield, pengendalian pendekatan, dengan radio
VHF, memberikan tanda pengenal pesawat kami, dan menanyakan apakah ada pesawat berkecepatan
tinggi di daerah itu. Petugas pengendalian pendekatan Mansfield menerima tanda panggil pesawat kami
dan bertanya:”Go ahead”, meminta saya untuk mengulangi pertanyaan mengenai lokasi pesawat udara
berkecepatan tinggi. Pada saat itu kam tidak mendengar jawaban lagi. Namun radio pesawat masih
bekerja dan nada saluran terdengar jikalau diadakan perubahan-perubahan frekuensi.
Saya memberitahu ko-pilot bahwa pengendalian pesawat saya ambil kembali dan memintanya
untuk mencoba menghubungi Mansfield dengan radio-radio lain. Sambil menerbangkan pesawat saya
mengamati benda bercahaya merah tadi yang semakin dekat terhadap helikopter saya dengan ketinggian
yang sama dan dengan kecepatan yang tinggi. Menjadi jelaslah bahwa sebentar lagi akan terjadi tubrukan
di udara kecuali bila kulakukan gerakan menghindar.
Saya mulai turun dari ketinggian 2500 kaki (750 m) dengan kecepatan turun 500 kaki (150
m)semenit. Akan tetapi melihat bahwa benda bercahaya merah tadi juga ikut turun dengan helikopter
sambil memelihara haluan tubrukannya, saya kemudian menambah kecepatan turun helikopter menjadi
1000 kaki (300 m) semenit untuk menghindarkan tabrakan. Akan tetapi, lagi-lagi benda bercahaya merah
juga ikut turun pada haluan tabrakan. Saya akhirnya memperbesar kecepatan turun menjadi 2000 kaki
(600 m) semenit dan menambah kecepatan udara dari 90 menjadi 100 knots (180km/jam). Oleh karena
penglihatan pada malam itu terang, saya memilih suatu lapangan untuk pendaratan darurat jikalau
diperlukan.
Gerakan untuk menghindarkan diri ternyata sia-sia belaka oleh karena benda itu tetap pada haluan
tabrakandan sudah hampir sampai kepada helikopter. Saya lalu mencaci maki diri sendiri dan
memerintahkan awak pesawat melalui interkom untuk mempersiapkan diri guna tabrakan. Saat tabrakan
yang diperkirakan tidak pernah terjadi. Saya sejenak memejamkan mata, akan tetapi terganggu oleh
bintara kesehatan Sersan Healy, yang melalui interkom menukas:”Lihatlah itu!”
Dengan ucapan itu saya melihat ke luar ke depan helikopter dan mengamati suatu pesawat udara
yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pesawat itu mengambil posisi tepat di depan helikopter yang
sedang bergerak. Pesawat itu panjangnya kurang lebih 50 sampai 60 kaki (15-18m) dengan struktur
kelabu metalik. Di bagian depan pesawat itu terdapat cahaya merah terang yang tetap dan besar. Saya
dapat melihat batas di mana cahaya merah pada stuktur pesawat itu berhenti oleh karena merahnya
terpantul dari struktur yang kelabu. Design pesawat itu berbentuk simetrik dengan suatu lekukan yang
jelas di buritan badan sebelah bawah.
Dari tempat itu di badan sebelah bawah muncullah cahaya hijau, berbentuk piramida, cahaya
tersebut semula mengarah ke belakang. Cahaya hijau itu lalu mengayun 90 derajat sehingga langsung
masuk ke dalam kaca depan dan menerangin seluruh kokpit helikopter. Semua warna di dalam kabin
helikopter diserap oleh cahaya hijau tadi, dan hal itu meliputi penerangan di papan instrumennya.
7
Sekarang saya ingin menambah satu hal, yaitu pada saat saya menambah kecepatan turun
helikopter menjadi 2000 kaki (600 m) semenit dan ketika saya sedang mencari suatu lapangan untuk
pendaratan darurat, saya melihat altimeter turun melebihi 1700 kaki dan permukaan bumi mendekat
dengan cepat. Mencoba mengingat waktu dalam menit atau detik adalah tidak mungkin pada babak
tersebut dari peristiwa tadi. Dengan cahaya hijau di dalam kabin pesawat masih disorotkan langsung dari
benda yang berada di depan helikopter yang sedang bergerak maju, saya melihat bagaimana kompas
magnetik di papan instrumen berputar dengan perlahan-lahan tetapi tetap. Ia tidak lagi menunjukkan
arah yang tetap melainkan berputar terus dengan perlahan-lahan.
Letnan Jutsey, ko-pilot, melaporkan kepada saya bahwa radio-radionya tidak berfungsi lagi. Akan
tetapi saya beritahu dia bahwa nada-nada kunci dan saluran masih terdengar, dan supaya ia mencoba
frekuensi darurat. Ia menjalankan perintah saya, namun hubungan radio tetap terputus.
Saya kemudian melihat altimeter di papan instrumen dan terkejut ketika membaca bahwa
ketinggian helikopter sekarang ialah 3000 kaki (900 m) dan sedang naik dengan kecepatan 1000 Kaki
(300 m) semenit, sebagaimana ditunjukka pada indikator kecepatan vertikal. Sepanjang ingatan saya,
saya tidak pernah menambah tenaga dari turun 2000 kaki (600 m) semenit menjadi naik 1000 kaki (300
m) semenit. Saya melihat keluar ke bawah dan menyaksikan bagaimana helikopter itu sungguh-sungguh
sedang naik, dan memeriksa kembali untuk mengetahui apakah sata telah mengubh alat-alat
pengendaliannya. Ternyata tidak ada perubahan, baik di dalam alat kemudi maupun alat pengatur tenaga.
Alat-alat itu masih tetap dalam posisi untuk turun 2000 kaki (600 m) semenit, meskipun helikopter
sedang naik 1000 kaki (300 m) semenit, dengan benda itu masih berada di depannya dan cahaya hijau
masih menyoroti helikopter.
Saya tidak mengubah stelan tenaga helikopter sampai altimeter menunjukkan ketinggian 3500 kaki
(1050 m). Pada ketinggian 3800 kaki (1140 m) terasa sutu goncangan. Selama peristiwa itu tidak pernah
terdengar bunyi kecuali yang dari helikopter dan tidak terasa adanya goncangan-goncangan lain yang
dirasakan oleh awak pesawat. UFO itu selanjutnya bergerak perlahan-lahan ke arah barat sambil menjauh
dari helikopter. Cahaya hijau dari UFO ditarik, dengan helikopter kembali ke dalam keadaan turun. Untuk
beberapa saat benda itu berada di atas helikopter dan dapat dilihat melalui atapnya yang terdiri dari
plexiglass, yang berwarna hijau.
Pada saat itu sebuah cahaya putih terang dari benda tadi menjadi tampak. Kembali ko-pilot Letnan
Jutsey mengulas bahwa cahaya itu lebih terang daripada lampu pendarat pesawat terbang niaga. Ketika
jarak antara benda itu dengan helikopter bertambah jauh, cahaya dari benda itu bahkan menjadi semakin
terang dan kini benda itu menjadi tampak melalui kaca pintu kiri ko-pilot. Selagi cahaya menjadi
bertambah terang, suatu penambahan kecepatan yang besar dapt disaksikan. Benda itu terbang ke arah
barat di antara kota dan lapangan terbang Mansfield, lalu membelok ke arah barat-laut sambil semakin
memperbesar kecepatannya dan lenyap.
Ketika itu hubungan radio di dalam helikopter mulai menjadi ramai kembali dengan beraneka
percakapan dan hubungan radio kami sepenuhnya dipulihkan ketika di atas kota Ashland, Ohio, diadakan
penentuan posisi dari menara kontrol pendekatan Aktron. Melengkapi gambaran tentang UFO tadi diberi
keterangan tambahan, bahwa tidak dilihat adanya sayap atau alat pendarat. Tidak tampak adanya
stabilisator-stabilisator tegak lurus atau mendatar, namun benda itu memamerkan kemampuannya untuk
mengubah atau memelihara ketinggian, haluan dan pengaturan kecepatan terbang secara sempurna.”
Letnan Kolonel Penerbang Larry Coyne mengakhiri kisahnya dengan kesimpulan dan saran sebagai
berikut:
“Sebagai akibat dari pengalaman saya, saya yakin bahwa benda tadi adalah nyata dan kejadiankejadian
yang sejenisnya memerlukan penyelidikan yang mendalam. Merupakan pendapat pribadi saya
bahwa prosedur-prosedur sedunia harus diciptakan secara efektif, untuk mempelajari gejala ini melalui
suatu usaha kerja sama internasional. Pemasangan kode transponder untuk pesawat terbang di seluruh
dunia diperlukan untuk memberitahu para pengawas di darat bahwa seorang penerbang memang sedang
mengalami gejala UFO sehingga ketakutan penerbang dapat dikurangi untuk memberikan penerbangan
yang aman dan efektif setelah ia tahu bahwa ia diawasi oleh radar.”
Penyajian masalah UFO di depan “Special Political Committee” PBB juga diselingi dengan peragaan
visual yang terdiri dari film, foto dan gambar pilihan tentang UFO. Di dalam kesempatan itu
dipertunjukkan film-film UFO yang sedang terbang dan yang dibuat di Tremonton, Utah dan di Inggris,
Spanyol, Jepang, Meksiko dan Guatemala. Begitu pula foto-foto UFO sedang terbang yang dibuat di
McMinville, Oregon; Rouen, Prancis; Rio de Janeiro dan Pulau Trindade, Brasil; Pangkalan Udara Amerika
Serikat Edwards; Lubbock, Texas; Ventura, California; Bay Area, Oregon. Juga dipertunjukkan foto-foto
jejak fisik yang ditinggalkan oleh UFO di Queensland, Australia dan Van Horne, Lowa. Sebuah gambar
sketsa jenis-jenis “Cakram Siang Hari” seperti yang disajikan di depan komite penyelidik UFO dari Kongres
USA pada tahun 1968 juga diperlihatkan. Dr. Hynek yang memberikan penjelasan bagi peragaan visual itu
mengakhiri keterangannya, bahwa tidak ada foto yang dapat dianggap sebagai bukti positif tentang UFO,
akan tetapi ia menggambarkan bahwa memang ada benda-benda, mereka terbang dan mereka tidak
dikenal.
Di dalam sidang siang hari dari Komite Khusus Politik PBB Menteri Pendidikan Grenada Wellington
Friday membacakan surat dari bekas astronaut NASA Gordon Cooper (Mercury IX 1963) yang
dilukiskannya sebagai “sebuah naskah yang sangat informatif”. Cooper yang berhalangan hadir,
menyatakan di dalam suratnya bahwa ia percaya wahana-wahana luar bumi beserta awaknya sedang
8
mengunjungi bumi kita dari planet-planet lain yang jelas agak lebih maju teknologinya jika dibandingkan
dengan kita. Ia merasa perlu adanya program tingkat puncak yang terkordinasi untuk mengumpulkan dan
menganalisa data secara ilmiah dari seluruh dunia mengenai perjumpaan macam apa pun, dan untuk
menentukan bagaimana paling baik berhubungan dengan para tamu tadi dengan cara yang bersahabat.
Mungkin pertama-tama kita harus memperlihatkan kepada mereka bahwa kita telah belajar memecahkan
persoalan-persoalan kita dengan cara-cara damai dan bukan dengan peperangan, sebelum kita diterima
sebagai anggota tim universal yang penuh dan memenuhi syarat. Penerimaan semacam itu akan
membuka kemungkinan-kemungkinan hebat untuk memajukan dunia kita di segala bidang. Sudah pasti
nantinya PBB akan sangat berkepentingan untuk menangani masalah ini sebagaimana mestinya dan serba
lancar.
Cooper menyatakan bahwa ia bukanlah seorang peneliti UFO profesional yang berpengalaman,
tetapi ia merasa memenuhi syarat pula untuk membicarakannya oleh karena ia telah memasuki batasbatas
dari ruang mahaluas tempat mereka melakukan perjalanan. Tambahan pula dalam tahun 1951 ia
mendapat kesempatan selama 2 hari untuk menyaksikan banyak penerbangan mereka, dengan ukuran
yang berbeda-beda, terbang dalam formasi tempur, umumnya dari timur ke barat di atas Eropa. Mereka
berada pada ketinggian yang lebih tinggi daripada daya capai pesawat-pesawat tempur pancargas kita
pada waktu itu.
Cooper menyatakan bahwa kebanyakan astronaut segan sekali, bahkan untuk membicarakan UFO
saja disebabkan oleh banyaknya orang yang secara tidak pandang bulu menjual kabar bohong dan
memalsukan dokumen-dokumen yang menyalahgunakan nama dan reputasi mereka tanpa ragu-ragu.
Beberapa astronout yang masih meneruskan partisipasinya di dalam bidang UFO terpaksa melakukannya
secara sangat berhati-hati. Ada beberapa orang astronout yang percaya UFO dan yang pernah melihat
UFO di darat, atau dari pesawat terbang. Hanya ada satu peristiwa di angkasa luar yang boleh jadi ialah
sebuah UFO.
Cooper menyatakan, bahwa jikalau PBB setuju untuk menangani proyek UFO, dan memberikan
kredibilitasnya kepada proyek tersebut, barangkali lebih banyak lagi orang-orang terkemuka akan setuju
untuk tampil ke depan dan memberikan bantuan serta keterangan.
Pembicara berikutnya ialah ahli fisika nuklir dan peroketan Stanton T. Friedman dari Westinghouse
Astronuclear Laboratory, yang menyatakan keyakinannya bahwa bukti-buktinya melimpah ruah tentang
sedang dikunjunginya bumi kita oleh wahana-wahana antariksa luar bumi yang dikendalikan secara
cerdas. Dikatakannya bahwa manusia bumi sebentar lagi - mungkin dalam 100 tahun mendatang - akan
pergi ke galaksi-galaksi lain. Baginya adalah jelas bahwa makhluk-makhluk luar bumi mulai menaruh
perhatian terhadap manusia bumi setelah kita memulai program-program angkasa luarnya. Dr. Friedman
menyatakan bahwa mereka di sini bukan untuk menyakiti kita atau untuk membantu kita, melainkan
semata-mata untuk keperluan mereka sendiri. Mengapa mereka tidak mengadakan kontak, seseorang
akan bertanya. Mendarat di pasang rumput Gedung Putih atau didekat Kremlin? Alasannya ialah ditilik dari
sudut pandangan mereka, kita manusia bumi tidak mempunyai pemimpin - kita masih sekedar terlibat di
dalam semacam perang antarsuku. Lain daripada itu Dr. Friedman berkata bahwa tamu-tamu asing itu
mungkin menaruh minat terhadap kemungkinan ekspor dari bumi kita - logam-logam berat, kehidupan
tumbuh-tumbuhan dan “hal-hal lain tertentu” yang menarik perhatian secara potensial. “Kita tidak dapat
melihat asap dari cerobong peradaban-peradaban lain” katanya, akan tetapi di dalam pikirannya tidak ada
kesangsian bahwa boleh jadi seluruh galaksi sudah dihuni. Perjalanan ke bintang-bintang yang terdekat
dan daerah galaktik yang dekat adalah di dalam jangkauan generasi-generasi mendatang.
Apakah hasil penyajian masalah UFO di depan UN Special Political Committee tadi?
Sebelas hari kemudian komite itu mencapai konsensus tentang suatu konsep resolusi yang
direkomendasikan kepada Majelis Umum PBB. Isinya antara lain berbunyi, Majelis Umum mengimbau
negara-negara anggota PBB yang berminat untuk mengambil langkah-langkah guna mengkordinasikan
pada tingkat nasional penelitian ilmiah dan penyelidikan terhadap kehidupan extraterrestrial, termasuk
UFO, dan untuk memberitahukan Sekretaris Jendral PBB tentang penyaksian, penelitian dan penilaian
kegiatan-kegiatan tersebut.
Selanjutnya Majelis Umum meminta Sekretaris Jenderal untuk meneruskan pernyataan-pernyataan
delegasi Grenada dan naskah-naskah yang bertalian kepada Komite Penggunaan Angkasa Luar Secara
Damai sehingga dapat diperhatikan di dalam pertemuan komite tersebut di dalam tahun 1979. Komite
Penggunaan Angkasa Luar Secara Damai akan mengizinkan Grenada, jikalau ada permintaan, untuk
mengajukan pandangan-pandangannya di dalam sidang komite berikutnya. Kegiatan-kegiatan komite itu
akan dimuat di dalam laporannya, yang akan menjadi perhatian Majelis Umum PBB di dalam sidangnya
yang ke 34.
Andaikata usaha Grenada mengalami kegagalan, di dalam pandangan Dr. Hynek maka pertukaran
pikiran yang telah tercapai antara kalangan pemerintahan dengan kalangan peneliti UFO bagaimanapun
menandai suatu saat yang istimewa di dalam sejarah 30 tahun penelitian UFO sedunia.
Menurut keterangan Expert Aplikasi Antariksa PBB, Ahmad Padang, seorang putra Indonesia,
mengenai keputusan Majelis Umum PBB tanggal 18 Desember 1978 tentang tindak lanjut persoalan yang
dikemukakan oleh Grenada, maka setelah sidang majelis Umum tahun itu ternyata tidak ada negara yang
memberikan jawaban. Grenada sendiri setelah Sir Eric M. Gairy keluar dari pemerintahan, tidak
mengadakan tindak lanjut. Ketika Komite Penggunaan Angkasa LUar Secara Damai bersidang di New York
tahun 1979, tidak ada permintaan dari pihak Grenada untuk membicarakannya, dan negara-negara
9
anggota komite itu sendiri belum ada yang bersedia menanganinya. Akibatnya, persoalan itu sampai
sekarang tidak disinggung lagi.
Untuk menghidupkan kembali perhatian terhadap masalah UFO menurut Expert Aplikasi Antariksa
PBB, Ahmad Padang ialah melalui organisasi seperti I.A.F., yaitu federasi astronautika internasional, di
mana persoalannya dapat disangkutpautkan dengan usaha S.E.T.I. (Search for Extra Terrestrial
Intelligence=pencarian kecerdasan luar bumi) yang sedang dilaksanakan oleh para cendekiawan di
negara-negara anggota I.A.F. yang umumnya juga menjadi anggota Komite Penggunaan Angkasa Luar
Secara Damai PBB, di mana I.A.F. itu sendiri juga berstatus sebagai peninjau.
Menurut pengamatan penulis, perintisan oleh Grenada dapat lebih berhasil andaikata sebelumnya
diadakan lobbying yang lebih luas. Sebagaimana terlah terjadi, usul Grenada itu ketika dikemukakan
merupakan suatu surprise bagi kebanyakan negara. Tanpa adanya pengertian lebih dahulu di kalangan
luas adalah sulit untuk mengharapkan adanya reaksi dari para anggota PBB. Di samping itu menonjol pula
fakta bahwa negara-negara yang telah menyelidiki masalah UFO seperti Amerika Serikat, Uni Sovyet dan
Prancis, bungkam seribu bahasa terhadap usul kerja sama internasional mengenai penelitian UFO. Sikap
negara-negara besar itu semakin menyuburkan kecurigaan bahwa sebenarnya masalah UFO bagi mereka
begitu penting, sehingga masing-masing ingin memegang monopoli atas pengetahuan tentang UFO dan
segan untuk memberitahukannya kepada negara-negara lain.
10
BAB 2
APAKAH GUNANYA MEMPELAJARI MASALAH UFO?
Masalah UFO patut dipelajari mengingat di dalamnya tercakup segi-segi yang menyangkut
kemasyarakatan, seperti pertahanan keamanan, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial budaya
dan lain-lain.
1.Pertahanan
Pada awal tahun 60-an pernah terjadi, bahwa jaringan radar Amerika Serikat mendeteksi suatu
formasi yang semula disangka pesawat-pesawat pembom musuh yang berasal dari arah Siberia dan yang
sedang memasuki wilayah Amerika Serikat. Hampir saja komando diberikan untuk menyergap formasi
musuh itu di samping mengadakan serangan balasan, ketika di layar radar tampak bagaimana formasi
pesawat tadi melakukan belokan 90 derajat sehingga diketahuilah bahwa mereka bukanlah pesawat
terbang biasa, melainkan UFO. Dapat dibayangkan bagaimana akibatnya, andaikata formasi UFO itu
melanjutkan penerbangannya secara lurus dan mendatar seperti pesawat terbang biasa dan tanpa
disengaja justru menuju ke arah sasaran-sasaran militer strategis. Jelaslah, bahwa UFO di dalam situasi
dan kondisi internasional dewasa ini mengandung potensi timbulnya salah paham yang dapat
mencetuskan Perang Dunia ke 3 secara tidak disengaja. Perlu dicatat, bahwa penyelidikan resmi tentang
UFO telah dihentikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat sejak tahun 1969. Meskipun demikian, sampai
sekarang masih terus berlaku perintah tetap yang diberi nama sandi:”MERINT”, yang mewajibkan setiap
kapal Amerika Serikat untuk secepat kilat melaporkan pesawat terbang, peluru kendali, kapal biasa
maupun kapal selam yang tidak dikenal, termasuk pula UFO, yang bergerak menuju ke arah daratan
Amerika Utara. MERINT juga berlaku bagi kapal-kapal Kanada. Perintah serupa yang berlaku bagi
kesatuan-kesatuan Angkatan Udara Amerika Serikat tercantum dalam instruksi yang diberi nama
sandi”CIRVIS”.
2. Keamanan
Dari laporan kegiatan UFO sampai sekarang diketahui, bahwa mereka berulang kali mengganggu
keamanan penerbangan, keamanan kendaraan di jalanan umum atau keamanan manusia atau hewan.
Nyaris tubrukan di udara, kecelakaan terbang yang fatal, dan hilang lenyapnya pesawat terbang yang
melibatkan atau diduga melibatkan UFO telah dilaporkan dari berbagai penjuru dunia. Sampai tahun 1978
telah tercatat 19 kasus hilangnya pesawat terbang di udara yang melibatkan UFO. Gangguan mesin mobil
dan perahu bermotor telah terjadi di berbagai negara, tidak terkecuali negara kita sendiri. Penculikan
terhadap manusia, yang umumnya kemudian dilepaskan lagi, terhadap hewan peliharaan atau ternak juga
dilaporkan. Yang memerlukan kewaspadaan kita ialah hasil penelitian Center for UFO Studies pimpinan
Prof Dr. Allen Hynek yang diumumkan bulan September 1978, bahwa 46% dari semua kasus penculikan
oleh UFO, terjadi sesudah tahun 1970. Dengan perkataan lain, usaha penculikan oleh makhluk-makhluk
UFO cenderung naik jumlahnya. Di samping kewaspadaan, kiranya mutlak perlu ditingkatkan pula
penelitian masalah UFO untuk memastikan identitas, motif, dan kemampuan maupun kerawanan si
pelakunya.
3. Sosial Budaya
Jikalau UFO membawa tamu-tamu dari luar bumi maka terjadinya kontak antara mereka dengan
kita adalah tinggal soal waktu saja. Disebabkan oleh karena ilmu pengetahuan dan teknologi mereka lebih
unggul, maka penentuan saat kontak itu sepenuhnya di tangan mereka. Jikalau supremasi mereka di
bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi antariksa dapat dijadikan ukuran bagi tingkat kemajuan
peradaban mereka pada umumnya, maka kontak itu akan terjadi antara peradaban mereka yang superior
dengan peradaban kita yang relatif terhadap mereka masih inferior. Melihat pengalaman sejarah dunia
kita, maka kontak-kontak semacam itu di masa yang lampau biasanya membawa kehancuran bagi
peradaban yang lebih rendah tingkatannya. Oleh karena itu kemungkinan terjadinya kontak antara
peradaban kita dengan peradaban makhluk-makhluk UFO harus mendapat perhatian yang serius terutama
dari para ahli ilmu-ilmu sosial kita, agar jangan timbul ekses-ekses yang bahkan dapat mengancam
kelangsngan hidup peradaban kita. Unsur pendadakan dapat dihindarkan dengan mengambil langkahlangkah
persiapan sedini mungkin secara mental dan konsepsioanl untuk menghadapi segala
kemungkinan, sehingga dapat diperkembangkan ketahanan mondial kultural yang memadai. Sekelumit
contoh, misalnya aspek pekercayaan dari kebudayaan kita, yang mungkin akan menampung salah satu
kejutan utama dari kontak dengan peradaban UFO nantinya. Suatu langkah persiapan mental telah lama
diambil misalnya oleh Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1955 sudah menerangkan bahwa makhlukmakhluk
UFO yang berasal dari luar bumi bukanlah keturunan Nabi Adam sehingga bagi mereka juga
tidak berlaku kejatuhan ke dalam dosa dengan segala akibat lainnya? Dari uraian tersebut di atas jelaslah
bahwa ditilik dari sudut sosial budaya maka penelitian masalah UFO penting. Sebagai tambahan dapat
dicatat, bahwa sejak tahun 1974 telah diperkembangkan cabang ilmu pengetahuan baru di Amerika
Serikat yang dinamakan Ekso-sosiologi. Ruang lingkup ekso-Extraterrestrial dan pengaruhnya terhadap
masyarakat kita. Perintisnya ialah Dr. Richard E.Yinger, direktur Exosociology Institute, Lake Worth,
Florida.
11
4. Hukum
Munculnya UFO di wilayah hukum berbagai negara, baik di udara maupun di daratan atau di
lautan, apalagi pengambilan contoh tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan penculikan warga negara,
jelas merupakan pelanggaran hukum. Padahal menurut hukum, setiap orang seharusnya mengetahui
undang-undang sehingga seharusnya tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas. Akan
tetapi siapakah atau apakah dan bagaimanakah makhluk atau kecerdasanyang bertanggung jawab atas
gejala UFO, belum ada yang tahu dengan pasti. Menurut undang-undang, pemerintah wajib melindungi
warga negaranya. Akan tetapi bagaimanakah kewajiban tersebut dapat dipenuhi jikalau kita menghadapi
sesuatu yang tidak diketahui kecuali bahwa ia berasal dari luar masyarakat manusia bumi, dan yang boleh
jadi merupakan suatu kecerdasan unggul dengan teknologi unggulnya pula? Ataukah hukum harus
dikalahkan terhadap teknologi yang unggul? Pertanyaan-pertanyaan itu menggambarkan bagaimana
munculnya masalah UFO telah menghadapkan bidang hukum kepada suatu surprise, terhadap mana kita
sama sekali tidak mempunyai persiapan apa-apa. Sudah tiba waktunya kiranya bagi bidang hukum, yang
di forum PBB setelah lebih dari satu dasawarsa baru mulai berhasil mencapai kesepakatan mengenai
penggunaan bulan, benda-benda langit lain dan masalah-masalah lain di bidang antariksa, untuk
mengambil langkah persiapan, minimal secara konsepsional, guna menyongsong kemungkinan terjadinya
hubungan antara umat manusia di bumi ini dengan peradaban lain. Mudah-mudahan di bidang hukum
antariksa tidak berlaku pemeo, bahwa dengan para ahli hukum tidak dapat dimulai suatu revolusi. Dalam
pada itu sudah mulai terdapat perkembangan yang menggembirakan: belakangan ini tampak adanya
minat kalangan ahli hukum antariksa yang semakin besar atas masalah tersebut di atas. Prof.Dr.Fr.W.von
Rauchaupt dari Universitas Heidelberg misalnya telah membahas masalah tersebut dalam karyanya:”The
Galactic Extension of Space Law”. Demikian pula konsekuensi-konsekuensi hukum dari kontak dengan
makhluk-makhluk luar bumi yang terjadi di dalam wilayah hukum Amerika Serikat pernah dibahas oleh
Robert A.Freitas Jr, seorang pengacara, ahli fisika dan ahli ilmu jiwa yang mengkhususkan diri dalam
hukum antariksa dan exo-biologi (Illegal Aliens.”Visitors from space pose legal entanglements of the third
kind”, OMNI Magazine, November 1979).
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penelitian apapun adalah berguna untuk menambah ilmu pengetahuan. Bahkan tidak jarang terjadi
bahwa penelitian itu memberikan hasil dan manfaat yang tidak terduga sebelumnya. Sifat demikian itu
dinamakan serependitas dan dapat terjadi pula dengan penelitian terhadap masalah UFO. Di masa yang
lalu UFO telah menimbulkan pertentangan antara kelompok yang percaya bahwa UFO adalah tamu-tamu
dari antariksa, dengan kelompok yang tidak percaya akan adanya UFO, akan tetapi menghendaki
penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah UFO itu sebenarnya. Manfaat apakah yang kiranya dapat
dipetik oleh ilmu pengetahuan dan teknologi kita dari penelitian masalah UFO? Secara minimal dapat
diharapkan bahwa ilmu pengetahuan kita tentang persepsi dan psikologi manusia akan bertambah
mendalam. Andaikata penelitian itu membuktikan UFO sebagai wahana yang berisi tamu-tamu dari
antariksa, maka hal itu akan merupakan penemuan terbesar di dalam sejarah dunia, apalagi jikalau dapat
ditindaklanjutkan dengan pembukaan hubungan resmi dengan peradaban mereka. Teknologi antariksa
mereka diperkirakan sudah mencapai taraf penerbangan berawak antarbintang (manned interstellar
flight), sehingga sudah sangat maju bila dibandingkan dengan kita yang baru mencapai taraf penerbangan
berawak ke bulan (manned lunar flight). “Bapak” teknologi peroketan modern Dr. Wernher von Braun
almarhum pernah mengakui, bahwa sejauh pandangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini tidak
terdapat cara bagaimana untuk membuat penerbangan berawak antarbintang itu suatu kemungkinan
praktis. Untuk menyadari bersarnya jurang pemisah antara penerbangan ke bulan dengan penerbangan
antarbintang perlu diingat, bahwa bintang yang terdekat Alpha Centauri saja sudah sejauh 4,3 tahun
cahaya. Andaikata jarak antara bumi dengan bulan hanya 1,62 cm, maka jarak ke Alpha Centauri akan
sama dengan 40.000 km atau sepanjang keliling bumi di katulistiwa. Maka dari itu ditilik dari sudut
teknologi antariksa adalah vital untuk mempelajari teknologi UFO, oleh karena sifat-sifatnya merupakan
gabungan antara helikopter dengan pesawat terbang supersonik, bahkan mungkin juga dengan suatu
wahana antariksa antarbintang, yang masih merupakan utopi bagi teknologi kita. Tingkah lakunya dan
gejala fisis yang mengiringinya dapat memberi petunjuk tentang sistem propulsi dan dasar-dasar fisiknya
yang baru bagi kita. Dapat diharapkan bahwa mereka sangat maju pula dalam bidang fisika ruang dan
waktu, pembangkitan dan konversi energi, dan lain-lain. Mereka pasti telah mentuntaskan teori medan
tunggal yang menghubungkan listrik, magnetisme dengan fravitasi, yang oleh Einstein almarhum
menghadapi jalan buntu. Jikalau penelitian masalah UFO menunjukkan cara baru di bidang konversi
energi yang lebh efisien, maka akibatnya akan besar sekali bagi ekonomi dunia pada umumnya,
penanggulangan krisis energi pada khususnya.
Andaikata dengan cara baru itu kita dapat mengadakan konversi energi yang 2 kali lebih efisien
dari cara sekarang, maka dengan cadangan bahan bakar yang sekarang ada, kita akan dapat bertahan 2
kali lebih lama.
Andaikata penelitian masalah UFO menunjukkan bahwa mereka misalnya berasal dari dimensi lain,
atau membenarkan salah satu hipotesa eksotik lainnya, maka akibat atau manfaatnya dalam keadaan
sekarang masih sulit dibayangkan. Yang jelas ialah bahwa kemajuan membawa perubahan, dan
perubahan itu memerlukan penyesuaian. Hal-hal tersebut pastilah akan terjadi pula sebagai akibat dari
12
kemajuan pengetahuan kita tentang UFO. Mudah-mudahan ilmu pengetahuan tentang UFO bukan
merupakan kotak Pandora, yang lebih baik dibiarkan tertutup terus daripada dibuka.
Apakah Indonesia juga perlu berpartisipasi dalam mempelajari masalah UFO? Jawabannya adalah
positif, oleh karena masalah UFO memperlihatkan ciri-ciri meliputi seluruh dunia, berkesinambungan dan
konsisten meskipun menghadapi interferensi. UFO juga berulangkali disaksikan di berbagai tempat di
negara kita. Bahkan menurut penulis Amerka terkemuka Mayor Donald Keyhoe, UFO telah disaksikan di
Indonesia dalam abad yang lalu maupun sewaktu Perang Dunia ke 2, sehingga mendahului era
penyaksian UFO modern yang dimulai sejak pertengahan tahun 1947. Penelitian masalah UFO hanya akan
berhasil jikalau dapat digalang suatu kerjasama internasional yang memerlukan kesadaran dan kesediaan
semua negara, tidak terkecuali Indonesia. Hal itu lebih mudah iucapkan daripada dilaksanakan, mengingat
negara-negara “superpowers” menginjak dasawarsa delapan puluhan kambuh penyakit lamanya berupa
peningkatan kekuatan dan pertentangan. Dan potensi militer dari teknologi UFO adalah jelas bagi siapa
saja.
Di samping itu perlu dicatat bahwa disebabkan oleh warisan kebudayaannya, maka bangsa-bangsa
Timur pada umumnya, bangsa Indonesia pada khususnya, lebih matang di dalam menghadapi
kemungkinan kontak dengan makhluk dari luar bumi, daripada bangsa-bangsa Barat. Di dalam dasawarsa
terakhir ini sementara peneliti masalah UFO menghadapi aspek-aspek tertentu dari masalah UFO, yang
menyebabkan mereka untuk menggali kembali dongeng-dongeng kuno mengenai makhluk-makhluk
halus. Dalam kedua hal tersebut sumbangan bangsa Indonesia kepada penelitian masalah UFO tidak
dapat diabaikan.
Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa potensi sumbangan yang dapat kita berikan cukup
besar, baik berupa laporan penyaksian UFO maupun berupa warisan kebudayaan kita yang masih harus
disorot kembali secara ilmiah. Jikalau kita enggan memberikan sumbangan tersebut kepada kemajuan
ilmu pengetahuan dunia, hal itu dapat dirasakan sebagai a-sosial sehingga kurang serasi dengan sikap
dan cita-cita bangsa Indonesia.
13
BAB 3
MENYINGKAP RAHASIA PIRING TERBANG: 22 TAHUN KEMUDIAN
Mengenai masalah UFO selama jangka waktu 12 tahun yang pertama, yang dimulai pada tahun
1947, banyak disajikan di dalam buku:”Menyingkap Rahasia Piring Terbang” yang saya selesikan pada
tahun 1960. Buku tersebut adalah yang pertama dalam bahasa Indonesia mengenai UFO, tebal 350
halaman. Bagian pertama memuat kasus-kasus penyaksian UFO baik dari dalam maupun luar negeri
sampai tahun 1959, bagian kedua memuat analisa dengan metode normal, sedang bagian ketiga memuat
analisa dengan metode paranormal.
Hasil-hasil penyelidikan UFO sebagaimana dikemukakan dalam buku itu diberitahukan secara
tertulis dan ringkas kepada Presiden Federasi Astronautika Internasinal, yang pada waktu itu dijabat oleh
Prof. Leonid Sedov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Sovyet. Di dalam surat jawabannya maka Prof.
Sedov antara lain menulis bahwa di Uni Sovyet tidak ada orang yang menaruh minat dan juga tidak
pernah menyaksikan piring terbang.
Apa yang kemudian terjadi telah menyangkal kebenaran jawaban tersebut. Pada awal tahun 1961
saya kebetulan berada di Moskow sebagai anggota delegasi Pemerintah Republik Indonesia, ketika surat
kabar “Pravda” memberitakan pendaratan-pendaratan piring terbang di Tajikistan dan Uzbekistan yang
termasuk wilayah Uni Sovyet, meskipun laporan-laporan para pekerja perkebunanbuah itu mendapat
tanggapan-tanggapan negatif dari Akademikus L.I.Artsiomovich. Pada kesempatan itu pula terpetik berita
bahwa pesawat-pesawat pemburu Uni Sovyet dengan sia-sia telah mencoba menyergap cahaya-cahaya
yang aneh.
Tujuh tahun kemudian Pemerintah Uni Sovyet mengangkat Mayor Jenderal A.U.Anatoly Stolyerov
sebagai kepala komisi untuk mempelajari laporan-laporan tentang UFO. Baru-baru ini Dr. Felix Zigel,
seorang cendekiawan terkemuka di institut penerbangan Moskow menyatakan bahwa:”Yang penting bagi
kita adalah untuk membuang pendapat-pendapat yang berdasarkan prasangka mengenai UFO dan untuk
mengorganisasi pada skala global suatu penelaahan yang benar-benar ilmiah mengenai gejala yang ajaib
ini secara tenang dan bebas sensasi ..... kerja sama internasional adalah vital.”
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Sovyet terhadap apa yang
mereka namakan gejala-gejala atmosfir yang bersifat anomali diberitakan oleh majalah “Science Digest”
terbitan bulan Oktober 1981. Penelitian itu didasarkan atas 256 buah laporan UFO, tiga perempatnya
terjadi di dalam musim panas dan gugur tahun 1967 yang terkonsentrasi di sebelah utara dan timur Laut
Hitam. Di antara para saksi yang diketahui pekerjaannya, lebih dari separonya mempunyai latar belakang
teknis: sebagian besar di antara mereka adalah ilmuwan, enginer dan penerbang. Dua pertiga dari
penyaksian-penyaksian itu dilakukan oleh lebih dari seorang saksi. Sebagian besar penyaksian itu
dilakukan di daratan, 13 buah di pesawat terbang dan sebuah di kapal. Hampir semua penyaksian
dilakukan secara visual, beberapa buah dengan instrumentasi optik dan 2 buah dengan radar.
Bentuk UFO yang dilaporkan ialah seperti sabit 23%, seperti cakram 16%, seperti bola 11% dan
seperti silinder atau lonjong yang panjang 8%. Di dalam penyaksian-penyaksian yang menyebut warna,
separo dari benda-benda itu berwarna merah, merah jambu atau seperti api, sedang 19% lainnya adalah
kuning atau keemasan. Laporan tentang perincian luar menyebutkan ekor atau jurai, bunga api, karangan
cahaya dan berkas-berkas sinar yang diarahkan.
Ternyata masalah UFO tidak kenal tirai besi dantelah melanda negara-negra Blok Timur pula. UFO
juga tidak kenal tirai bambu: menurut Dr. Hynek seorang cendekiawan Amerika Serikat yang
mengunjungi RRC pernah mendapat pertanyaan:”Apakah di negara Tuan juga disaksikan benda-benda
terbang yang tak dikenal?”
Sekarang, 22 tahun setelah terbitnya buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” bagaimanakah
isinya ditilik dari perkembangan zaman selama itu? Jawabannya ialah, bahwa isi buku tersebut ternyata
masih tetap aktual, meskipun selama itu tidak sedikit terjadi perkembangan-perkembangan baru di dalam
masalah UFO.
Salah satu perkembangan yang cukup sensional danyang sejalan dengan isi buku tersebut tersiar
beberapa tahun yang lalu mengenai tempat asal UFO. Di dalam bab ketiga dari buku tersebut
dikemukakan, bahwa menurut peninjauan paranormal oleh Bapak Agusnain maka UFO berasal dari suatu
bintang yang tidak tampak dengan mata telanjang di rasi Bootes, yaitu bintang YC 5473 di dekat bintang
Ksi Booters.
Pada akhir tahun 1972 D.A.Lunan dari British Interplanetary Society mengungkapkan hasil
penelitiannya terhadap anomali radio yang dialami oleh Prof. Stormer dari Norwegia bersama van der Pol
dari Laboratorium Philips Eindhoven pada akhir tahun 20-an.
Mereka, dan juga para peneliti Taylor dan Young dari Amerika Serikat, Appleton dan Barrow dari
Inggris serta Gallen dan Talon dari Prancis, melakukan percobaan-percobaan radio komunikasi dan
berulang kali mengalami kelambatan penerimaan gemanya antara 2 sampai 25 detik, padahal gelombang
radio cukup kecepatannya untuk dalam waktu satu detik mengelilingi katulistiwa sebanyak 7 1/2 kali.
Selama 30 tahun sesudah itu para cendekiawan hanya menerangkannya sebagai gejala alamiah belaka.
Untuk lengkapnya perlu dicatat, bahwa pada tahun 1921 penemu radio-telegrafi Marconi juga telah
menangkap sinyal-sinyal radio dengan panjang gelombang 150.000 m. Ia mengira sinyal-sinyal tersebut
berasal dari planet Mars, mengingat pada waktu itu teknologi pembuatan pemancar radio baru mampu
untuk memancarkan gelombang radio maksimal 14.000 m.
14
Baru pada tahun 1960 R.N. Bracewell dari Radio Astronomy Institute, Stanford University, Amerika
Serikat, mengemukakan bahwa andaikata peradaban-peradaban maju tersebar di Bimasakti pada jarak
100 tahun cahaya atau lebih, maka peluncuran wahana-wahana antariksa tanpa awak boleh jadi
merupakan cara komunikasi yang paling efektif di antara mereka. Setelah memasuki tata surya kita
wahana robot seperti itu dapat menangkap sinyal-sinyal radio kita dan memancarkannya kembali kepada
kita. Sinyal-sinyal yang dikembalikan itu akan merupakan gema-gema dengan kelambatan beberapa detik
atau menit. Jikalau kita mengembalikan sinyal-sinyal itu kepadanya lagi, ia akan mengetahui bahwa telah
terjadi kontak dengan suatu kecerdasan. “Herankah kita,” demikian tulis Bracewell, “jikalau pesan
permulaan daripadanya adalah gambar televisi dari sesuatu rasi bintang?”
Diilhami oleh hipotesa Bracewell tadi, peneliti Inggris D.A.Lunan kemudian mempelajari kembali
laporan-laporan anomali radio dari Prof.Stormer, van der Pol, dan lain-lain. Berbeda dengan para peneliti
terdahulu, yang selalu menyajikan hasil-hasil secara grafis dengan waktu kelambatannya pada sumbu y,
maka Lunan menggambarkan waktu kelambatan itu pada sumbu x, dengan hasil yang mentakjubkan:
berupa timbullah gambar dari suatu rasi bintang, yaitu rasi Bootes! Dengan penelitiannya itu D.A.Lunan
mengklaim telah berhasil menyimpulkan keterangan-keterangan sebagai berikut: bahwa 13.000 tahun
yang lalu suatu wahana antariksa tanpa awak telah tiba di tata surya kita setelah diluncurkan dari bintang
Epsilon Bootes (nama populer: Izar atau Pulcherrima), yang jauhnya 103 tahun cahaya dari sini. Wahana
itu kemudian tinggal di sebuah orbit di antara bumi dan bulan, kemungkinan di salah satu titik
keseimbangan Lagrange. Di dalam tahun 20-an stasiun robot itu mencoba mengadakan kontak dengan
kita dengan jalan mengubah sinyal-sinyal radio kita, akan tetapi sampai sekarang tidak kita jawab.
Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” antara lain ditulis, bahwa berdasarkan
peninjauan paranormal maka piring terbang selama perjalanan di dalam antariksa mampu mencapai
kecepatan sampai 7 1/2 kali kecepatan cahaya. Ketika buku itu diterbitkan pada tahun 1960, keterangan
tadi tidak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan pada waktu itu: menurut teori relativitas maka massa
sebuah benda material akan menjadi tidak terhingga besarnya apabila mencapai kecepatan cahaya.
Namun sepuluh tahun kemudian dikemukakan hipotesabaru yang mempostulasikan adanya partikelpartikel
yang dinamakan tachyon dan yang mempunyai kecepatan melebihi cahaya. Teori Tachyon itu
dikemukakan oleh para cendekiawan Alan S.Lapedes dan Kenneth C.Jacobs dari Universitas Virginia pada
tahun 1972.
Di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” juga diramalkan, bahwa di antariksa kadangkadang
akan terjadi perjumpaan antara wahana-wahana antariksa kita dengan UFO. Ramalan itu telah
menjadi kenyataan, oleh karena para astronot Amerika Serikat Cooper, Cernan, Young, Carpenter dan
McDivitt telah menyaksikan UFO di antariksa dalam tahun 60-an, baik sewaktu mengorbit bumi dengan
kapsul Gemini 4 dan 11, maupun dalam perjalanan ke dan dari bulan dengan wahana Apollo 12. Astronot
Amerika Serikat yang pertama (sekarang menjadi senator) John Glenn pernah menulis surat kepada
peneliti UFO Dr. Jacques Vallee, yang isinya antara lain menyebutkan bahwa ia telah mendengar terlalu
banyak laporan dari rekan-rekan astronot lainnya dan dari orang-orang yang ia hormati, sehingga tidak
dapat menganggap UFO sebagai omong kosong.
Selanjutnya di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” yang ditulis pada tahun 1960 juga
diramalkan, bahwa kurang lebih pada tahun 1968 makhluk-makhluk piring terbang akan melakukan
pendaratan-pendaratan di bumi kita untuk keperluan penyelidikan ilmiah, tetapi sambil menghindarkan
kontak dengan kita karena mereka menganggap belum tiba saatnya. Menurut grafik laporan-laporan UFO,
tahun-tahun 1966, 1967 dan 1968 memperlihatkan melonjaknya penyaksian-penyaksian baik mengenai
pendaratan maupun mengenai terlihatnya makhluk-makhluk UFO.
Akhirnya sebagai unsur-unsur yang verifiable maka di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring
Terbang” juga diramalkan bahwa di Planet Mars terdapat saluran-saluran alamiah dan bukan buatan
manusia, oleh karena di sana tidak ada mahluk cerdas. Hasil pemotretan wahana-wahana antariksa NASA
“Mariner-9” (1970-1971) dan “Viking-1 Orbiter” (1976) telah memperlihatkan sejumlah lembah kecil dan
sebuah lembah raksasa, yaitu Valles Marineris, dengan ukuran panjang 4500 km, lebar antara 150 km
sampai 700 km dan dalam sampai 5 km. Mengenai flora dan fauna di planet-planet Mars dan Venus
sampai sekarang belum dapat dibuktikan kebenarannya, oleh karena resolusi alat-alat pemotretnya belum
mencapai ketajaman yang diperlukan.
15
BAB 4
MELENGKAPI KASUS-KASUS PENYAKSIAN UFO
Kasus-kasus penyaksian UFO yang dimuat di dalam buku “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”
merupakan seleksi dari kasus-kasus yang diketahui oleh penulis pada waktu itu. Salah satu ciri dari
perkembangan masalah UFO selama 2 dasawarsa terakhir ini ialah tidak hanya bertambah banyaknya
penyaksian-penyaksian baru, akan tetapi juga tergalinya kasus-kasus lama yang tidak diketahui
sebelumnya di samping bertambahnya keterangan-keterangan mengenai kasus-kasus lama yang sudah
diketahui. Di antara penyaksian-penyaksian UFO lama itu terdapat pula kasus-kasus klasik yang patut kita
perhatikan.
UFO Purbakala yang Tertua?
“Buku Dzyan” merupakan naskah paling kuno di India dan dibuat pada waktu orang disana mulai
dapat menulis. Salah satu cerita di dalamnya ialah mengenai sekelompok kecil makhluk yang datang di
bumi beberapa ribu tahun yang lalu di dalam sebuah wahana logam yang mengelilingi bumi beberapa kali
sebelum mendarat. Makhluk-makhluk itu hidup menyendiri dan dihormati oleh manusia-manusia di antara
mana mereka telah bermukim. Akan tetapi kemudian timbullah perbedaan paham di antara mereka dan
timbullah perpecahan. Beberapa pria, wanita, dan anak memisahkan diri dan mengungsi ke kota lain, di
sana mereka seketika dinobatkan menjadi penguasa oleh penduduk yang ketakutan.
Pemisahan diri itu ternyata tidak memulihkan perdamaian di antara makhluk-makhluk itu dan
akhirnya kemarahan mereka memuncak sehingga pimpinan dari kelompok di kota yang pertama
mengumpulkan sekelompok kecil prajuritnya dan mereka membumbung ke udara menaiki sebuah wahana
logam yang besar dan mengkilau. Selagi mereka masih jauh dari kota musuhnya, mereka meluncurkan
sebuah tombak yang besar dan bercahaya yang bergerak menuruti sebuah berkas sinar cahaya. Senjata
itu meledak di kota musuhnya menjadi bola api yang besar yang menjulang ke langit, hampir mencapai
bintang-bintang. Semuanya yang berada di dalam kota menjadi hangus secara mengerikan dan bahkan
mereka yang tidak berada di dalam kota, akan tetapi berada di daerah sekitarnya, terbakar pula. Mereka
yang memandang ke arah tombak dan bola api tadi menjadi buta untuk selamanya. Mereka yang
kemudian berjalan kaki memasuki kota jatuh sakit dan mati. Bahkan debu dari kota tadi menjadi beracun,
begitu juga air dari sungai-sungai yang mengalir melalui kota itu. Tidak ada manusia yang berani
mendekati kota tersebut, yang berangsur-angsur punah dan dilupakan manusia.
Ketika pimpinan dari makhluk-makhluk pendatang itu melihat apa yang telah ia perbuat terhadap
anak buahnya sendiri, ia mengundurkan diri ke dalam istananya dan tidak mau bertemu dengan siapa
saja. Akhirnya ia mengumpulkan prajuritnya yang masih ada, serta anak dan istri mereka, lalu masuk ke
dalam wahana masing-masing, membumbung ke langit sebuah demi sebuah dan pergi untuk tidak
kembali lagi.
Apakah dongeng dari India itu sungguh-sungguh dan merupakan suatu catatan mengenai
kolonialisasi makhluk-makhluk luar bumi di zaman purbakala, lengkap dengan wahana-wahana antariksa,
senjata nuklir dan efek-efek radiasi yang terjadi di zaman purbakala? Kalau bukan, bagaimanakah
gambaran yang terperinci itu dapat diberikan mengenai ledakan nuklir dan akibat-akibatnya?
“Kapal Setan” dari Irlandia
Bangsa Irlandia juga telah membuat catatan-catatan mengenai tamu-tamu yang aneh di dalam
abad pertengahan.
Di dalam naskah-naskah yang ditulis sekitar tahun 956 terdapat banyak catatan tentang “kapalkapal
setan”. Salah satu kasus menceriterakan bagaimana tali dari salah sebuah kapal itu tersangkut
kepada menara sebuah gereja. Seorang manusia turun untuk melepaskan tali itu, akan tetapi ditangkap
oleh penduduk kota. Uskup di sana berhasil membebaskan manusia tadi dari penahanan oleh penduduk,
yang memanjat kembali ke dalam kapal Awak kapal memoong tali, akhirnya kapal itu membumbung ke
atas dan pergi terbang sampai lenyap dari pemandangan. Di dalam semua gerak-geriknya, manusia tadi
melakukan gerakan-gerakan seolah-olah ia sedang berenang di dalam air. Perlu diketahui bahwa
dongeng-dongeng seperti itu dan juga mengenai “makhluk-makhluk kerdil” yang dapat mengejawantah
dan menghilang banyak sekali terdapat di Irlandia, sehingga patut direnungkan apakah itu semua hanya
khayalan belaka ataukah didasarkan atas pengalaman nyata.
Apakah Makhluk-makhluk dari Luar Bumi Pernah Ada yang Terbunuh?
W.R.Drake di dalam tulisan “Spacemen in the Middle Ages” (Manusia-manusia Antariksa di dalam
Abad Pertengahan) yang dimuat dalam majalah “Flying Saucer Review” bulan Mei 1964 mengutarakan
antara lain hasil penelitiannya sebagai berikut. Agobard, Uskup Agung dari kota Lyons, Prancis, mencatat
di dalam naskah “De Grandine et Tonitrua” bagaimana pada tahun 840 sesudah Masehi di kota Lyons
rakyat jelata menangkap 3 orang pria dan seorang wanita yang dituduh mendarat dari sebuah kapal
“awan” yang datang dari arah wilayah udara Magonia. Keempat orang itu mengakui tuduhan bahwa
mereka ialah tukang sihir, sehingga akhirnya dihukum mati dengan jalan dibakar hidup-hidup. Tidak
dijelaskan jalannya pengadilan atau caranya mereka membuat para tertuduh itu mengaku.
16
Ledakan Mahadahsyat di Siberia (1908)
Pada pagi hari tanggal 30 Juni 1908 kafilah-kafilah di gurun Gobi menyaksikan sebuah bola api
menyala dan yang meluncur dengan cepat di langit untuk akhirnya lenyap di sebelah utara tapal batas
Mongolia. Beberapa saat kemudian terjadilah ledakan maha dahsyat di dataran tinggi Siberia Tengah,
Rusia, didekat sungai Tunguska, yang tercatat pada seismograf-seismograf di Irkutsk (880 kam ke
selatan), Moskow (5000 km) ke barat, St. Petersburg, (Leningrad sekarang) dan bahkan sejauh
Washington dan Batavia (Jakarta sekarang). Penduduk di daerah itu yang sangat langka melaporkan
timbulnya tiang api yang menjulang setinggi langit, disusul oleh gelombang panas, serangkaian
menggelegar, gelombang-gelombang angin sekencang taufan dan turunnya hujan yang berwarna hitam.
Baru 19 tahun kemudian dikirim ekspedisi ilmiah di bawah pimpinan Prof. L. Kulik, yang diulangi
lagi pada tahun-tahun 1928 dan 1929. Fakta-fakta yang dikumpulkan mengagumkan dunia ilmu
pengetahuan: daerah hutan yang berbentuk lonjong dengan ukuran kurang lebih 25 x 15 km mengalami
kehancuran total, sedang lingkaran luar dengan ukuran kurang lebih 50 x 45 km mengalami kerusakan
berat. Prof. Kulik almarhum ialah seorang ahli meteorit dan sampai akhir hayatnya mencoba dengan siasia
untuk membuktikan adanya”Meteor Tunguska”. Versi lain kemudian menyangka adanya sekelompok
meteor. Namun tidak berhasil ditemukan sisa-sisanya seperti pada kepundan-kepundan meteor lainnya.
Kemudian dilontarkan kemungkinan adanya komet, namun hal itu tidak sesuai dengan laporan para saksi.
Setelah tibanya zaman atom baru disadari bahwa ledakan maha dahsyat di Tunguska
memperlihatkan ciri-ciri suatu ledakan nuklir! Ciri-ciri itu antara lain ialah bahwa pohon-pohon di hutan
sekitarnya yang selamat dari ledakan, memperlihatkan lingkaran tahunan yang lebih gemuk untuk tahun
1908 daripada tahun-tahun lainnya. Dari keadaan pohon-pohon yang hangus terbakar juga dapat
disimpulkan, bahwa ledakan yang memancarkan panas itu terjadi bukannya di permukaan bumi
melainkan di udara. Demikian juga telah ditemukan butir-butir magnetit ukuran mikroskopis di samping
butir-butir silikat seperti kaca yang kadang-kadang mengandung partikel besi. Bahan-bahan yang sama
ditemukan sehabis percobaan-percobaan nuklir di Alamogordo, Amerika Serikat, dan terbentuk oleh suhu
sangat tinggi dari ledakan nuklir. Menurut perkiraan, ledakan maha dahsyat di Siberia pada tahun 1908
itu berkekuatan 30 megaton.
Dalam dua dasawarsa terakhir ini telah terungkap perspektif lain terhadap teka-teki Tunguska
dengan adanya penelitian oleh ahli-ahli aerodinamika dan ahli-ahli peroketan, yang dipelopori oleh Dr.
Felix Zigel. Analisa dari laporan para saksi, bukti-bukti dari gelombang balistik dan bentuk daerah
kerusakan menunjukkan bahwa lintasan yang ditempuh oleh benda dari kosmos itu bukanlah lurus,
melainkan semula datang dari arah selatan, di atas desa Keshma membelok ke timur dan diatas desa
Preobrazhenka berubah arah ke barat. Tiba di sebelah utara desa Vanavara terjadilah ledakan maha
dahsyat itu.
Lintasan yang berbelok-belok itu tidak mungkin dilakukan oleh suatu benda alamiah, melainkan
hanya dapat dilakukan oleh suatu benda buatan, sehingga timbullah dugaan bahwa penyebabnya ialah
wahana antariksa yang datang dari peradaban lain!
Hipotesa wahana antariksa dari luar bumi itu ada dua macam, meskipun kedua-duanya
berdasarkan anggapan bahwa telah terjadi suatu ketidakberesan teknis. Yang satu mengira bahwa terjadi
kerusakan pada sistem propulsinya sehingga terjadilah ledakan maha dahsyat yang memusnahkan tamu
dari luar bumi tadi. Hanya butiran mikroskopis saja yang masih tertinggal yang merupakan sisa dari
wahana antariksa semula. Hipotesa yang lain mengira, bahwa obyek dari kosmos itu mengalami kesulitan
dalam sistem pengemudian sehingga hampir membentur permukaan bumi. Maka dari itu pada saat
terakhir ia terpaksa melakukan koreksi arah dengan menyalakan motor roket nuklirnya, sehingga ia
berhasil meninggalkan bumi untuk selanjutnya meneruskan perjalanannya ke arah Planet Venus. Apa pun
sebabnya, kita boleh merasa bersyukur bahwa ledakan maha dahsyat tadi tidak terjadi di atas salah satu
kota metropolitan, melainkan di daerah yang langka penduduknya. Namun, menurut Ian Ridpath
(Messages from the Stars, Fontana/Collins, Glasgow 1978), di dalam tahun 1977 para sarjana Uni Sovyet
mengumumkan penemuan bahan carbonaceous chonditer yang lazimnya terdapat di kepala komet.
apakah dengan demikian teka teki Tunguska telah terjawab untuk penghabisan kalinya?
Keajaiban di Fatima, Portugis (1917)
Fatima ialah sebuah desa kecil di distrik Leiria, kurang lebih 62 mil (100 km) sebelah Utara
Lisabon, ibu kota Portugis, yang sekarang merupakan salah sebuah tempat berziarah yang ramai
dikunjungi orang. Asal mulanya ialah ketika di dalam tahun 1917 tiga orang anak penggembala domba 6
kali berturut-turut dengan selang tepat satu bulan, didatangi oleh seseorang yang mendarat dari langit
yang mereka anggap Bunda Maria. Ketiga anak itu Lucia, Francisco, dan Jacinto Marto, yang pada waktu
itu berturut-turut berumur 10, 9 dan 7 tahun. Mereka pada mulanya tidak dipercaya, bahkan sempat
dijebloskan ke dalam penjara selama 3 hari atas tuduhan kemasukan setan. Namun perjumpaan dengan
seseorang dari langit itu, yang diawali pada tanggal 13 Mei, kemudian pada tanggal yang sama selama 6
bulan berturut-turut terjadi sehingga pada peristiwa-peristiwa berikutnya banyak saksi-saksinya. Bahkan
pada peristiwa terakhir tidak kurang dari 70.000 orang menyaksikannya, diantaranya orang-orang yang
percaya, yang tidak percaya, pendeta, wartawan Vikaris dari Leiria, dan juga Profesor Almeida Garrett dari
Universitas Coimbra. Wahana yang dipergunakan oleh tamu dari langit itu dilukiskan sebagai “bola
bercahaya”, “pesawat terbang dari cahaya”, “seperti cakram dengan tepi yang jelas, yang mempunyai
17
permukaan yang mengkilau seperti mutiara”. Tamu dari langit itu dilukiskan sebagai wanita muda yang
amat cantik, berwarna putih dan bercahaya. Pakaiannya berwarna putih seperti salju, diikat pada lehernya
dengan sebuah sabuk emas dan menutupi seluruh tubuhnya. Kepalanya tertutup sebuah jubah putih yang
mempunyai tepi emas pula. Terlepas dari tafsiran atau kepercayaan, peristiwa Fatima memecahkan rekor
banyaknya saksi. Demikian pula kemiripan dari deskripsi tentang wahana dan penumpangnya dengan
penyaksian-penyaksian UFO pada umumnya sangat menarik perhatian para peneliti masa kini.
Pesawat-pesawat Terbang “Hantu” di Skandinavia
John A.Keel di dalam buku “Why UFO’s” (Manor Books, New York 1975) menyebut peneliti Swedia
Ake Frazen, yang menggali kembali dari surat-surat kabar Sewdia lebih dari 90 kasus pesawat terbang
“hantu” di antara tahun-tahun 1932-1938. Pesawat-pesawat terbang misterius itu tampak di atas Swedia
Utara, Norwegia, dan Finlandia, semuanya dilaporkan berwarna abu-abu, tanpa tanda-tanda pengenal.
Mereka sering muncul pada waktu terjadi badai, terbang rendah dan berputar-putar di atas kota-kota,
stasiun-stasiun kereta api, obyek-obyek pertahanan dan kapal-kapal di laut. Pesawat-pesawat itu acap
kali mematikan mesinnya selagi terbang rendah dan berputar-putar tadi, suatu tingkah laku yang aneh
dan berbahaya bagi pesawat-pesawat terbang apalagi pada tingkat teknologi masa dahulu. Mereka
membawa lampu pencari yang sangat terang dan yang diarahkan ke bawah. Kokpitnya biasanya terang
benderang dan tampak para awak pesawat yang mengenakan topi dan kaca mata penerbang yang lazim
dipakai pada masa itu sehingga mukanya tidak begitu kelihatan. Pesawat-pesawat terbang misterius yang
terbang rendah itu diiringi oleh cahaya-cahaya aneh yang terbang lebih tinggi. Di dalam pengumuman
pers Mayor Jenderal Reuterswald, panglima komando Upper Norrland, Swedia, membenarkan adanya
penerbangan-penerbangan ilegal di atas daerah-daerah militer yang terlarang dan bertanya secara
terbuka, siapakah gerangan mereka itu dan mengapakah mereka melanggar wilayah Kerajaan Swedia?
Pesawat terbang “hantu” yang serupa juga pernah dilaporkan di atas New York City menjelang
akhir tahun 1933 dan di atas kota London dua bulan kemudian.
Pesawat-pesawat terbang “hantu” di dalam tahun enam puluhan muncul di Amerika Serikat dan
berbentuk pesawat angkut militer Fairchild C-119, yang terbang sangat rendah menyusuri bukit-bukit dan
sambil mematikan mesin-mesinnya. Pada peristiwa lain pernah dilihat pula suatu formasi helikopterhelikopter
yang tidak dikenal.
Makhluk-makhluk UFO Meninjau Rumah Petani (Kasus KellyHopkinsville)
Kasus Kelly Hopkinsville kini termasuk salah satu penyaksian UFO yang klasik, disebut kasus Kelly
Hopkinsvelle oleh karena terjadi di desa Kelly yang terletak 7 mil (11 km) sebelah utara kota Hopkinsville,
Kentucky. Kasus itu banyak diberitakan oleh surat-surat kabar pada waktu itu, demikian pula diselidiki
oleh Proyek “Buku Biru” dan oleh kelompok-kelompok peneliti UFO yang independen. Ringkasan kisahnya
sebagai berikut. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 1955 rumah keluarga petani Ny. Lankford berulang
kali didatangi oleh makhluk-makhluk aneh sampai semalam suntuk Makhluk-makhluk itu muncul sesudah
sebuah UFO yang bercahaya dan berbentuk cakram tampak mendarat di dalam lembah yang terdapat di
ujung ladang mereka. Makhluk-makhluk UFOitu tinginya 1 m, mempunyai kepala yang bulat dan besar,
sepasang mata yang besar, melotot dan memancarkan sinar berwarna kuning, kuping yang lebar sekali,
lengan yang panjang dan tangan yang besar dengan kuku-kuku yang panjang. Sebaliknya kaki-kakinya
tampak kecil. Makhluk-makhluk itu ditembak berulang kali akan tetapi ternyata kebal peluru. Mereka
terjungkir setelah tertembak lalu melarikan diri ke tempat yang gelap. Satu di antaranya tertembak selagi
bertengger di dahan pohon dan ia tampak melayang ke bawah seperti barang yang ringan sekali. Mereka
muncul kembali berulan kali kendati setiap kali muncul disambut dengan tembakan. Pada suatu ketika
salah satu makhluk UFO itu bahkan bertengger di bagian atap di atas pintu dan ketika salah seorang
penghuni pria bernama Taylor keluar melalui pintu itu, rambutnya dibelai oleh makhluk UFO tadi!
Makhluk-makhluk UFO itu pergi dan tidak kembali lagi menjelang fajar menyingsing. Seisi rumah petani
yang menjalani penyaksian makhluk-makhluk UFO yang menakutkan itu terdiri dari Ny.Lankford, ketiga
orang anaknya yang masih kecil, menantunya yaitu Ny.Sutton dan 2 orang pria yaitu Lucky Sutton dan
Billy Taylor.
Korban Gelombang Panas UFO (Kasus Fort Itaipu, Braxil, 1957)
Petang hari tanggal 4 November 1957 di benteng Itaipu, Brasil, dua orang prajurit yang sedang
bertugas jaga melihat apa yang semula mereka sangka “Bintang baru” di langit. “Bintang” itu semakin
bertambah besar dan beberapa detik kemudian berhenti di atas benteng itu. Ia kemudian melayang
perlahan-lahan ke bawah, menjadi sebesar sebuah pesawat terbang, dan dikelilingi oleh suatu cahaya
terang yang berwarna jingga. Suatu bunyi mendengung terdengar dengan jelas, lalu suatu gelombang
panas menimpa. Seorang penjaga jatuh pingsan seketika, sedang kawannya berhasil menggulingkan
badannya ke bawah sebuah meriam yang besar di mana teriakan-teriakannya yang keras kemudian
membangunkan seisi garnisun. Selagi para prajurit lari menuju ke pos masing-masing, terjadilah
gangguan listrik yang memadamkan seluruh penerangan. Timbullah panik sampai lampu-lampu menyala
kembali. Dalam pada itu sejumlah prajurit masih ada yang sempat melihat bagaimana suatu cahaya yang
berwarna jingga meninggalkan daera itu dengan kecepatan tinggi. Kedua penjaga tadi ditemukan dengan
18
luka-luka bakar yang parah: seorang tidak sadar dan yang lain kebingungan, mengalami “shock” yang
dalam. Kasus Fort Itaipu menggemparkan kalangan pertahanan nasional Brasil, sehingga di dalam
penyelidikan kejadian itu mereka meras perlu untuk mengadakan konsultasi dengan kalangan Pentagon
Amerika Serikat.
Kasus Antonio Villas Boas yang Unik (Brasil, 1957)
Antonio Villas Boas ialah petani bujangan berumur 23 tahun yang berdiam di luar kota Sao
Francisco de Salles, Minas Gerais, Brasil.
Pada malam hari tanggal 15 Oktober 1957 ia sedang menggarap ladangnya dengan mengemudikan
sebuah traktor, oleh karena hawa panas tidak mengizinkan pekerjaan itu di siang hari. Pukul 1 malam
muncul sebuah cahaya merah seperti bintang, yang semakin turun menjadi semakin besar dan ketika
mendarat kurang lebih 10-15 m di depan traktornya, ternyata bentuknya seperti sebuah telur yang agak
panjang dengan cahaya berwarna-warni di sekelilingnya. Antonio Villas Boas diserbu oleh 3 orang manusia
yang tingginya kurang lebih sama dengan dirinya dalam pakaian seperti juru selam. Pakaiannya itu sangat
ketat dan berwarna abu-abu, tutup kepalanya berbentuk lonjong sehingga kepalanya menjadi 2 kali lebih
tinggi dari biasanya dan menjadi penutup mukanya pula dengan sepasang lubang bulat yang tertutup
kaca. Di atas tutup kepalanya terdapat sebuah pipa logam yang melengkung ke bawah dan masuk ke
dalam pakaian di tempat tulang punggung, sedang dua pipa logam lainnya menghubungkan kiri kanan
kepalanya dengan kiri kanan tepi punggung di bawah ketiak. Sepatunya mempunyai bagian depan yang
melengkung ke atas dan mempunyai alas yang sangat tebal, di antara 5 sampai 7 1/2 cm (2-3"),
sehingga diduga tinggi manusianya tidak lebih dari 1,55 m. Mereka memakai ikat pinggang dan di
dadanya terdapat tanda sebesar irisan nanas berwarna merah terbuat dari bahan yang memantulkan
cahaya.
Selama seluruh kejadian jumlah manusia yang berpakaian seperti juru selam itu paling banyak 5
orang. Setelah diseret masuk ke dalam UFO, Antonio Villas Boas diambil contoh darahnya dari kiri kanan
dagunya, kemudian ditelanjangi dengan paksa, dibersihkan dengan suatu cairan, lalu ditinggalkan seorang
diri di dalam kamar dari logam tanpa jendela dan tidak tampak pintunya. Daritabung-tabung kecil di
dinding kamarnya itu kemudian keluar asap dengan bau seperti pakaian terbakar, yang semula
memusingkan dan membuat Antonio Villas Boas muntah-muntah. Setengah jam kemudian masuklah
seorang wanita berpakaian Hawa! Tingginya tidak lebih dari 1,35 m, dengan bentuk badan yang
menggiurkan. Rambutnya pirang keputih-putihan, matanya berwarna biru dan besar dengan sudut luar
yang miring ke atas. Hidungnya lurus, tidak ke atas, tidak runcing, dan tidak besar. Tulang pipinya tinggi
sehingga roman mukanya tampak lebar, akan tetapi bagian bawahnya menyempit dan berakhir dalam
dagu yang runcing. Bibirnya sangat tipis, hampir tak kelihatan. Daun telinganya kecil dan berbentuk
biasa. Wanita itu, seperti juga manusia-manusia lain yang berpakaian juru selam, apabila hendak
berhubungan dengan Antonio Villas Boas hanya memakai isyarat-isyarat dengan gerakan tangan. Akan
tetapi apabila mereka bercakap-cakap di antara mereka sendiri, suaranya seperti anjing yang
menggeram, bunyi tenggorokan yang tidak dapat kita tiru. Demikianlah selanjutnya Antonio Villas Boas
berad di dalam UFO itu tidak kurang dari 4 1/2 jam lamanya. Ia masih sempat keliling UFO dan mengenai
hal tersebut ia memberikan keterangan terperinci. Ketika ia kembali ke traktornya, maka jam
menunjukkan pukul 5.30 pagi. Sehari setelah kejadian itu ia masih merasa pusing dan selama dua hari ia
tidak dapat tidur, akan tetapi sejak hari ketiga sampai sebulan lamanya ia sebaliknya malah tidur
berlebih-lebihan.
Mengingat sifatnya, pengalaman Antonio Villas Boas semula disiarkan sambil merahasiakan
identitasnya. Baru beberapa tahun kemudian namanya disebut terang-terangan. Suami isteri Lorenzen
yang memimpin APRO, suatu badan penelitian UFO, berpendapat bahwa asap yang mengganggu saksi
ialah gas atau campuran gas tertentu untuk memungkinkan wanita tadi bernafas tanpa memakai pakaian
seperti juru selam. Terserah kepada para pembaca untuk percaya atau tidak, akan tetapi kisah Antonio
Villas Boas mengandung unsur-unsur yang identik dengan penyaksian-penyaksian UFO lain. Salah satu
persamaan ialah bahwa jumlah awak UFO yang bersangkutan ialah 6 orang, seperti dalam kasus Betty &
Barney Hill beberapa tahun kemudian di Amerika Serikat.
Makhluk-makhluk UFO Membalas Lambaian Tangan (1959)
Salah satu penyaksian UFO yang menjadi klasik ialah kasus Pater Gill yang terjadi di Boainai,
Papua Niugini, pada tahun 1959. Pater William Booth Gill ialah seorang pendeta gereja Anglikan, yang
memimpin suatu misi di sebuah desa terpencil di pantai ujung selatan Papua Niugini. Pada tanggal 26, 27
dan 28 Juni 1959 Pater Gill beserta 37 orang pribumi, di antaranya guru Steven Gill Moi, perawat Annie
Laurie Borewa, Eric Kodawara, Ananias Rarata dan Dulci F. Guyorobo, menyaksikan UFO-UFO bermakhluk.
Hal tersebut merupakan penyaksian UFO bermakhluk dengan jumlah saksi yang paling banyak di masa
kini. UFO itu ada 3 buah, sebuah berukuran besar dan yang lain berukuran kecil, dan selama 3 malam
berturut-turut muncul 18.00 lebih sedikit dan melakukan kegiatannya di daerah itu sampai pukul 23.00
atau lebih. Mula-mula UFO itu disangka lampu petromaks. Bentuknya bulat dan pipih, alasnya bergaris
tengah kurang lebih 35' (12 M) sedang geladak atasnya bergaris tengah kurang lebih 20' (7 m). Di
geladak atas itu tampak makhluk-makhluk seperti manusia, kadang-kadang hanya tampak seorang,
kadang-kadang lebih, akan tetapi tidak pernah melebihi 4 orang. Mereka kadang-kadang
membungkukkan badannya dan mengangkat tangannya di pusat geladak seperti sedang menyetel
19
sesuatu, dan ada yang berdiri saja melihat ke arah para saksi. Makhlk-makhluk UFO itu memakai pakaian
yang ketat dan mempunyai warna kulit pucat. UFO itu seluruhnya dikelilingi oleh suatu karangan cahaya,
termasuk para makhluknya dan empat buah batang yang terpasang di bawahnya dan kemungkinan
merupakan alat pendaratnya. Di sekeliling sisinya terdapat sederetan jendela persegi panjang yang
memancarkan cahaya yang lebih terang daripada bagian UFO lainnya. Menurut Pater Gill cahaya UFO
sewaktu jauh berwarna putih dan terang sekali, sedang semakin mendekat warnanya menjadi kekuningkuningan
atau kejingga-jinggaan dan agak suram. Dari pusat geladak atas kadang-kadang tampak
sorotan berkas sinar berwarna biru yang mengarah ke atas dengan sudut miring 45'. Pada suatu ketika
UFO itu merendah sampai kurang lebih setinggi 300 sampai 400' (100-130 m) sehingga para saksi
mengira ia akan mendarat di lapangan olah raga. Oleh karena itu Pater Gill dan Steve Gill Moi
melambaikan tangannya seolah-olah menyambut dengan memberi salam “Hallo”. Tanpa diduga makhluk
yang berdiri di geladak atas UFO menjawab lambaian tangan itu. Kemudian Eric Kodawara dan Ananias
Rarata melambaikan kedua belah tangannya dan 2 makhluk UFO lainnya membalasnya dengan
melambaikan kedua belah tangannya! Semua saksi terdengar menghela nafasnya, mungkin karena heran
atau girang, atau karena keduanya. Di dalam penyaksian pada malam ke 2 Pater Gill mengarahkan
sebuah lampu senter ke UFO dan menyalakannya secara agak lama tetapi terputus-putus. Satu atau 2
menit kemudian UFO itu tampak bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan seperti sebuah bandul, Kejadian
yang sama terulang lagi, kemudian UFO itu menuju ke arah para saksi, akan tetapi akhirnya ia berhenti.
Satu atau dua menit kemudian para makhluk UFO seolah-olah kehilangan perhatiannya terhadap para
saksi, oleh karena mereka menghilang ke dalam UFO. Seorang pendeta lain, yaitu Pater Norman
E.G.Cruttwell, setelah melakukan penyelidikan melaporkan bahwa di Papua Nugini pada tahun 1959 telah
terjadi penyaksian UFO sebanyak 65 kali di berbagai tempat.
Tamu-tamu Ajaib Kebal Senjata di Kepulauan Alor (1959)
Awal bulan Juli 1959 masyarakat Kepulauan Alor digemparkan oleh munculnya kawanan manusia
ajaib yang tingginya rata-rata 1,80 m, berkulit merah, berambut perak berombak, berseragam biru tua
dengan lengan panjang, bersepatu hitam dan berikat pinggang di mana terselip tongkat berbentuk tabung
dari logam. Satu-satunya keanehan hanyalah bagian belakang kepala yang agak tinggi yang tidak jelas
penyebabnya: apakah dikarenakan oleh bentuk leher bajunya ataukah oleh bentuk daun telinganya.
Salah seorang manusia ajaib itu pernah terdapat sedang menyelidiki sesuatu, sehingga
menimbulkan kecurigaan penduduk yang serta merta mengepungnya dan bahkan menyerang dengan
panah. Ternyata manusia ajaib itu kebal dan bahkan berhasil meloloskan diri dengan jalan melompat
tinggi di atas kepala para pengepungnya untuk selanjutnya menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Di Pulau Pantar 6 orang manusia ajaib itu sesudah matahari terbenam berkeliaran masuk ke dalam
perkampungan penduduk, yang oleh karenanya dicekam rasa takut sehingga semalam suntuk tidak berani
keluar rumah. Salah seorang manusia ajaib yang berjenggot bahkan berani membuka jendela untuk
selanjutnya sekedar meninjau keadaan di dalam rumah.
Seorang penduduk perkampungan di sebelah timur kota Kalabahi melaporkan, bahwa ketika ia
turun dari memanjat pohon enau, ia dikepung oleh sekelompok manusia ajaib berseragam biru. Mereka
saling bercakap-cakap di dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk tadi. Kemudian salah
seorang di antara mereka tampil ke muka dan mempelihatkan sebuah alat berbentuk bulat seperti wekker
tempo dulu. Penduduk tadi tercengang karena melalui alat tadi ia dapat melihat pemandangan jauh di
seberang sana padahal di depan mereka terbentang hutan lebat dan bukit-bukit yang tinggi.
Seorang anak berumur 6 tahun “diculik” oleh kawanan manusia ajaib, akan tetapi 24 jam
kemudian ia ditemukan kembali di tengah ladang dalam keadaan bingung. Setelah pulih kembali anak itu
bercerita, bahwa ia dibawa ke tengah hutan dan mengalami berbagai pemeriksaan medis. Ia ditawari
suatu makanan jenis apa pun yang ia kenal.
Terdorong oleh laporan penculikan itu Komandan Polisi Alwi Alnadad mengerahkan kesatuan polisi
yang bersenjatakan senjata-senjata otomatik jenis Bren, Garrand dan Thompson untuk menyergap
manusia ajaib di tempat munculnya disebelah timur Kalabahi. Kurang lebih pukul 24.00 malam manusia
ajaib itu muncul dengan pakaian seragam birunya, dan pada jarak 13 m tembakan-tembakan dilepaskan
secara serentak. Anehnya, kemudian polisi tidak berhasil menemukan setetes darah pun yang tercecer,
apalagi sesosok jenazah. Mereka hanya menemukan pohon-pohon yang tertembus peluru dan telapak
kaki yang hanya sejauh 5 m sedang lebih jauh dari itu tidak terdapat jejaknya.
Setelah peristiwa penembakan itu banyak penduduk Kepulauan Alor telah melihat benda terbang
berbentuk telur, berwarna putih gemerlapan, terbang dengna kecepatan tinggi di atas permukaan laut
dari arah barat ke timur. Untuk seterusnya kabar tentang manusia ajaib tidak pernah terdengar lagi.
Kasus manusia kebal di Kepulauan Alor ini diungkapkan kepada penulis oleh komandan polisi
setempat sendiri setelah ia menjadi purnawirawan 17 tahun setelah kejadian tersebut. Manusia-manusia
ajaib yang dihubungkan dengan UFO di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat disebut “MIB”,
singkatan dari “Men in Black”, oleh karena berpakaian serba hitam. Manusia-manusia ajaib di Kepulauan
Alor itu dapat juga disebut “MIB”, singkatan dari “Men in Blue”, oleh karena berpakaian serba biru tua.
Kasus Kepulauan Alor menjadi semakin menarik jikalau dihubungkan dengan penyaksian-penyaksian UFO
di wilayah Papua Nugini pada tahun yang sama (1959). Secara geografis kedua tempat itu hanya terpisah
sejauh 1125 mil (1800 km) dengan arah timur barat. Sesuatu aspek dari kasus Kepulauan Alor ialah
bahwa manusia-manusia ajaib itu tidak disaksikan masuk keluar UFO. Hanya setelah sebuah UFO yang
20
berbentuk telur itu tampak meninggalkan Kepulauan Alor, maka manusia-manusia ajaib itu tidak pernah
disaksikan lagi. Di manakah UFO yang lonjong selama seminggu itu, apakah ia hanya melakukan antar
jemput saja ataukah ia disembunyikan di suatu tempat?
UFO Merah Menimbulkan Statik (1960)
Selama seminggu penuh menjelang akhir bulan September dan permulaan bulan Oktober 1960
penduduk kota Makasar (sekarang Ujung Pandang) melaporkan adanya benda-benda bercahaya yang
berwarna merah seperti bintang, yang bergerak lambat dari timur laut ke tenggara. Benda-benda itu
biasanya tampak 3 kali sehari yaitu pada pukul 08.30 waktu setempat pagi hari, 18.30, dan 19.00 petang
hari. Menjawab pertanyaan dari kantor berita “Antara”, pihak lapangan terbang Mandai (sekarang Wolter
Monginsidi) menerangkan bahwa selama 3 petang berturut-turut balon meteor yang berlampu telah
diluncurkan pada pukul 18.30. Akan tetapi pada petang hari tanggal 2 Oktober 1960 dua buah obyek yang
sama disaksikan di atas Makasar, sebuah di antaranya diterangkan sebagai satelit oleh pihak lapangan
terbang Mandai tanpa memberikan perincian lebih jauh. Adalah sesuatu kenyataan bahwa selama bendabenda
bercahaya merah itu muncul maka siaran radio Makasar sering mengalami gangguan statik. Pada
waktu yang sama penduduk kota Semarang juga melaporkan benda-benda berwarna putih kehijauan
yang melintasi langit petang hari dari timur ke selatan dalam beberapa detik, biasanya sekitar pukul
19.30. Benda-benda itu pasti bukan meteor, demikianlah keyakinan para saksi.
Kasus Barney dan Betty Hill (1961)
Salah satu penyaksian UFO yang terkenal dari dasawarsa enam puluhan tanpa ayal lagi ialah kasus
Barney & Betty Hill, baik karena anehnya pengalaman itu sendiri maupun karena cara pengungkapannya.
Apa yang mereka ingat dalam keadaan sadar ialah bahwa pada malam hari tanggal 19 September
1961 mereka sedang naik mobil di White Mountains dalam perjalanan pulang setelah berlibur. Mereka
telah singgah di Colebrook pukul 22.00 untuk minum kopi dan berharap tiba di rumahnya, Prtsmouth,
New Hampshire, paling lambat pukul 3 dini hari. Di jalan raya yang sepi itu perhatian mereka tertarik oleh
apa yang semula mereka sangka sebuah bintang yang besar, yang kemudian setelah mendekat ternyata
sebuah benda berbentuk cakram dengan dua deretan jendela dan cahaya merah di setiap sisi. Suami istri
itu menghentikan mobilnya sampai 2 kali dan suaminya keluar untuk mengamat-amati benda tadi melalui
teropong. Benda itu akhirnya mengambang di udara setinggi gedung 10 tingkat dan tampak kurang lebih
6 orang manusia berdiri di belakang jendela yang memandang ke bawah ke arah sang suami. Saksi itu
merasa mendapat firasat seolah-olah makhluk-makhluk itu menyampaikan pesan kepadanya untuk tidak
bergerak dan tidak akan disakiti. Pada saat itulah ia berteriak, “Kita akan diculik!” berbalik, lalu lari ke
mobilnya, dan bersama istrinya ngebut pulang ke rumahnya yang ternyata sampai pada pukul 5 pagi.
Suami istri Hill semula bermaksud untuk merahasiakan pengalamannya itu karena khawatir
ditertawakan orang. Namun mereka kemudian terganggu oleh impian-impian yang menyeramkan, bahkan
beberapa tahun kemudian Barney Hill menderita kecemasan, tekanan darah tinggi dan tukak lambung.
Akhirnya pada tahun 1964 mereka terpaksa mengadakan konsultasi dengan Dr.Benyamin Simons,
seorang ahli bedah saraf yang terkenal dari Boston, yang menerapkan hipnoterapi, termasuk hipnosa
regresif, untuk mencari sumber kecemasannya itu. Terungkaplah pengalaman sebenarnya suami istri Hill
ketika berjumpa dengan makhluk-makhluk UFO.
Melalui hipnosa regresif terungkap pengalaman suami istri Hill yang dapat diringkaskan sebagai
berikut. Di luar kemauannya, mereka meninggalkan jalan raya, memasuki jalan samping yang tidak
beraspal dan buntu. Mesin mobilnya mati, dan muncullah makhluk-makhluk aneh yang menyeret suami
istri Hill ke dalam sebuah UFO, kemudian mereka dimasukkan ke dalam kamar-kamar terpisah yang
bersampingan. Dari seluruh dinding kamar itu memancar cahaya berwarna putih kebiru-biruan seperti
lampu air raksa.
Makhluk-makhluk UFO itu pendek dan kekar, rata-rata setinggi 1,70 m. Di antara mereka ada yang
lebih tinggi sedikit dari yang lain, yaitu yang bertindak sebagai komandan pesawat dan yang menjadi
pemeriksa (ilmuwan?). Makhluk UFO itu mirip orang Mongol dengan roman muka yang lebar, pipih, mata
yang besar tetapi miring, serta hidung yang pesek dan kecil. Mulutnya hanya terdiri dari suatu celah tanpa
bibir, dengan garis vertikal di kanan kirinya. Mata komandan pesawat besar sekali, melotot dan menjalar
sampai sedikit ke kiri kanan kepalanya, sehingga sudut penglihatannya lebih lebar dari manusia biasa.
Mata itu mempunyai biji yang berwarna hitam dan memberikan kesan seperti mata ular.
Proporsi badan makhluk UFO itu aneh mengingat dadanya besar sekali. Makhluk-makhluk itu saling
berhubungan dengan percakapan yang terdengar seperti “Mmmmmm” dan “Hmmmm”, namun komandan
pesawat dan pemeriksa ketika berhubungan dengan suami istri Hill bukan secara lisan, melainkan secara
telepati yaitu bertukar pikiran secara harfiah. Hanya sekali saja, sewaktu mereka diseret masuk ke dalam
UFO, salah seorang makhluk UFO bertanya kepada Ny. Hill dengan suara manusia di dalam bahasa Inggris
yang tidak lancar!
Mengenai pemeriksaan medisnya Ny. Hill mengkisahkan bagaimana ia disuruh duduk di kursi dan
diperiksa mata, telinga, hidung, dan rambutnya. Si pemeriksa mengamat-amati kulitnya melalui sebuah
mikroskop yang besar dan ia berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memanggil komandan pesawat. Lalu
Ny. Hill disuruh berbaring di atas meja dan ada alat-alat aneh yang diletakkan kepada berbagai bagian
tubuhnya, digaruknya lengannya untuk mendapat contoh kulitnya, dan dicabutnya sehelai rambut dari
kepalanya. Sebuah jarum disuntikkan ke dalam pusar Ny.Hill, sehingga ia menggeram kesakitan. Kedua
21
makhluk UFO itu tampak terheran-heran, lalu pemimpinnya menempatkan tangannya di depan mata Ny.
Hill sehingga hilanglah seketika rasa sakitnya. Dengan kejadian itu Ny. Hill menjadi sadar bahwa makhlukmakhluk
UFO itu tidak sengaja menyakitinya dan ia diberi penjelasan bahwa suntikan itu ialah
pemeriksaan kehamilan.
Selagi pemeriksa pergi ke kamar suaminya, Ny.Hill diizinkan oleh komandan pesawat untuk
mengambil sebuah buku yang kebetulan berada di dekatnya sebagai bukti atas perjumpaannya dengan
makhluk-makhluk UFO. Di dalamnya tertulis tanda-tanda dalam deretan-deretan vertikal. Kemudian si
pemeriksa kembali dari kamar suaminya sambil membawa cetakan dari gigi suaminya dan ia mulai
memeriksa gigi Ny. Hill. Ny.Hill menerangkan bahwa manusia bumi kehilangan gigi karena kecelakaan,
penyakit, salah makan, dan usia tua. Lalu makhluk UFO itu bertanya,”Apakah usia tua itu?” Ny. Hill tidak
berhasil menerangkan kepadanya, bahwa manusia bumi itu seharusnya dapat mencapai usia 100 tahun,
tetapi kebanyakan diantaranya tidak dapat mencapainya.
Kemudian atas pertanyaan Ny. Hill tentang tempat asal mereka, komandan UFO membuka dinding
dan memperlihatkan sebuah peta bintang. Garis-garis tebal menandakan rute-rute penerbangan yang
sering dilakukan, garis-garis tipis yang jarang mereka tempuh, sedang garis-garis putus adalah rute-rute
ekspedisi. (Penelitian beberapa tahun kemudian mengungkapkan bahwa bintang tempat asal mereka
dapat ditafsirkan sebagai Zeta 1 Reticuli, sejauh 37 tahun cahaya atau Epsilon Eridani, sejauh 10,7 tahun
cahaya).
Ketika hendak meninggalkan UFO, Ny. Hill merasa berbahagia sekali akan tetapi kemudian timbul
pertengkaran mulut di antara awak pesawat. Komandan pesawat pergi kepada anak buahnya itu, lalu
kembali menghampiri Ny.Hill untuk mengambil kembali bukunya. Kepada Ny.Hill yang sangat kecewa itu
ia menerangkan bahwa baru saja diambil keputusan agar suami istri Hill melupakan saja seluruh kejadian
yang baru dialaminya itu.
Benda Bercahaya Menimbulkan Efek Elektro Magnetis (1964)
Di dalam bulan Agustus 1964 terjadi suatu peristiwa aneh di kompleks Pangkalan Udara Angkatan
Laut Juanda, Surabaya, yang pada tahun 1969 dikisahkan kembali oleh Letnan Laut S. Badirun kepada
penulis sebagai berikut. “Kurang lebih pukul 19.00 petang saya mengemudikan mobil Landrover AL 1467
bersama Sersan Satu Siswanto dan Sersan Dua Sihombing, dengan tujuan untuk mencoba lampulampunya
yang baru saja diperbaiki. Adapun jalan yang dilalui ialah yang menuju ke hanggar. Pada jarak
kira-kira 200 m dari hanggar kami melihat benda aneh yang menyinarkan cahaya sangat terang warna
merah kebiru-biruan. Benda aneh tersebut tidak begitu jelas karena udara pada saat itu mendung. Benda
aneh tersebut tidak begitu jelas karena udara pada saat itu mendung. Benda aneh tersebut di atas
hanggar pada ketinggian di antara 30-50 m. Timbullah pertanyaan dari kami bertiga, benda apakah itu
sebenarnya? Demi untuk meyakinkan apakah sebenarnya benda yang menyinarkan cahaya terang itu,
saya langsung tancap gas.” Tetapi timbul suatu keanehan, oleh karena kendaraannya setelah ditancap
gasnya bukannya bertambah kencang jalannya, melainkan sebaliknya. Untuk menempuh jarak sampai ke
hanggar yang begitu dekat terasa sulit sekali, padahal kendaraannya dalam keadaan baik.
Sambil berusaha untuk menormalkan jalannya kendaraan dengan rasa heran, mereka melihat
dengan jelas bagaimana cahaya terang itu makin lama makin rendah mendekati atap hanggar, seperti
pesawat helikopter yang sedang turun perlahan-lahan secara vertikal. Kemudian lampu-lampu besar dari
mobil Landrover itu dinyalakan, dan seketika itu benda aneh tadi bukannya semakin merendah, melainkan
dengan kecepatan luar biasa membumbung ke atas untuk menghilang di awan gelap.
Ketiga saksi itu kemudian terus pergi ke hanggar untuk menanyakan kepada pos pengawal, tetapi
ternyata ia tidak mengetahui ataupun mendengar apa-apa.
Pemanah yang Nyaris Diculik Makhluk UFO (1964)
Di dalam proyek “Buku Biru” terdapat laporan seorang berumur 27 tahun yang sesuai dengan
kebiasaan proyek itu tidak diungkapkan identitasnya dan hanya disebut “Mr.S”. Ia bekerja di pabrik peluru
kendali dan nyaris diculik makhluk UFO. Kisahnya yang mendirikan bulu roma itu dimulai ketika pada
tanggal 4 September 1964 dia sedang berburu dengan memakai busur dan panah di dekat Cisco Grove,
California, yaitu di daerah bukit-bukit di atas Tuckee, dekat perbatasan dengan Nevada. Ia terpisah dari 2
orang kawannya, sehingga ketika hari sudah mulai senja ia mencari pohon tempat ia dapat mengikat
dirinya di sebuah dahan dan tidur dengan aman. Pada waktu itulah perhatiannya tertarik oleh 3 buah
benda terbang yang mempunyai cahaya berputar dan berbunyi mendekut. Namun ia mengira bahwa itu
adalah helikopter-helikopter yang sedang mencarinya, sehingga tanpa berpikir panjang ia mendaki sebuah
bukit di tepi lembah Granite Creek, di situ ia menyalakan api untuk memberitahukan posisinya.
Benda-benda terbang tersebut tertarik perhatiannya, lalu berputar-putar di atasnya dan kemudian
merendah. Ternyata benda-benda itu bukanlah helikopter, melainkan benda-benda berwarna perak, yang
sambil merendah menjatuhkan 2 buah barang.
Beberapa menit kemudian pemanah itu mendengar bunyi benda jatuh yang keras di semak-semak
yang terletak di bawahnya. Sambil diliputi ketakutan dia memanjat sebuah pohon pinus yang besar dan
menyelamatkan diri di dahan-dahannya yang rendah. Kemudian ia melihat 2 makhluk seperti manusia
setinggi 5’5" (1,65 m), berpakaian kelabu keperak-perakan dengan muka dan kepala tertutup, tanpa leher
baju, mempunyai mata yang menonjol dan luar biasa, serta bercakap-cakap dengan bunyi berdekut
seperti burung dara yang tidak dapat dimengerti. Mereka mencoba memanjat pohon untuk mencapai
22
pemanah, akan tetapi gagal. Lalu muncullah makhluk ke 3, yang mempunyai sepasang mata dengan garis
tengah 3" (7 1/2 cm) yang berpijar dengan warna merah jingga berkelap-kelip. Makhluk tersebut berjalan
dengan gaya yang janggal dan berisik, menerobos semak-semak tanpa menghindarinya. Mulutnya
berbentuk persegi panjang selebar kepalanya, terbuka dan ternganga, yang kemudian menghembuskan
gumpalan-gumpalan asap atau gas berwarna putih ke arah pemanah, yang menimbulkan pening kepala.
Pemanah itu melepaskan beberapa buah panah ke arah makhluk ketiga yang ia anggap sebuah robot, dan
terdengar bunyi logam. Untuk mempertahankan diri, pemburu itu juga menyobek bajunya, membakarnya
dengan korek api, dan menjatuhkannya kepada para penyerbu untuk menakutinya. Makhluk-makhluk UFO
itu memberi reaksi yang hebat. Menjelang fajar menyingsing, muncullah sebuah robot lainnya dan kedua
buah robot itu kemudian saling berhadapan. Timbullah kepulan awan gas yang besar di antara dadadadanya,
yang membuat pemanah pingsan. Untunglah dia disangga oleh busurnya yang tersangkut pada
dahan-dahan, sehingga tidak terjatuh. Ketika dini hari ia sadar kembali, para penyerbu dan UFOnya telah
pergi. Proyek “Buku Biru” menilai bahwa saksi itu tampak seimbang dan konsisten di dalam menceritakan
pengalamannya serta yakin bahwa peristiwa itu terjadi tepat seperti dikisahkannya.
Bagaimana UFO Mengganggu Dwikora (Surabaya, 1964)
Sewaktu masih berkecamuknya Dwikora, Surabaya sebagai salah satu basis kekuatan pertahanan
berada dalam keadaan siap siaga, mendapat kunjungan benda-benda terbang tak dikenal setiap malam
selama seminggu penuh dari tanggal 18 sampai dengan 24 September 1964. Tamu-tamu yang tidak
diundang itu tampak secara serentak baik di layar radar maupun dengan mata telanjang, sehingga
tergolong dalam penyaksian RV (Radar Visual Sightings).
Benda-benda tak dikenal itu mulai beraksi sesudah matahari terbenam dan menghilang menjelang
fajar menyingsing. Benda-benda itu ada yang bergerak seperti pesawat terbang atau helikopter biasa,
tetapi ada pula yang melakukan olah gerakan yang serba mendadak. Kegiatan benda-benda terbang yang
aneh itu dipusatkan di dalam daerah segitiga Surabaya-Malang-Bangkalan. Keadaan cuaca di daerah
kejadian selama minggu itu adalah cerah.
Benda-benda aneh itu menurut deskripsi para saksi mata adalah benda hitam yang kadang-kadang
memperlihatkan ekor api yang lebih panjang dari api gas buang pesawat pancar gas yang sedang
menyalakan “afterburner”nya. Meskipun bentuk badannya tersembunyi dikegelapan malam, ia membawa
lampu yang sangat terang di bagian bawahnya. Seorang saksi kebetulan melihat bentuk badannya yang
memantulkan cahaya dari bawah dan menggambarkannya seperti sebuah mangga oleh karena berbentuk
elipsoida yang berwarna hijau kebiru-biruan. Saksi mata lain menggambarkan cahaya UFO itu seperti
lampu belakang mobil. Seorang penerbang Angkatan Udara yang pada suatu malam kebetulan berada di
dekat kota Porong melukiskannya sebagai bulat seperti rambu lalu lintas akan tetapi menyala merah
padam dan tampak melayang ke arah Surabaya tanpa berbunyi sama sekali. Benda-benda itu kadangkadang
memancarkan bunyi mendengung seperti sebuah gasing yang sama sekali berbeda dengan bunyi
pesawat pancar gas maupun pesawat piston.
Ciri khas dari kasus UFO Dwikora Surabaya ialah bahwa benda-benda terbang tak dikenal itu
disambut dengan tembakan-tembakan gencar dari meriam-meriam artileri pertahanan udara kita. Di
dalam sejarah UFO sambutan dengan tembakan meriam penangkis serangan udara lainnya hanyalah
terjadi di Kepulauan Kurillen yang diduduki oleh Uni Sovyet pada awal tahun 60-an. UFO itu ternyata tidak
mempan ditembak dengan meriam, oleh karena tidak ada sebuah pun yang berhasil ditembak jatuh. Dari
pengamatan dengan radar ternyata, apabila tembakan kita mengenai sasarannya, mereka segera
mengubah ketinggiannya. Mereka itu terbang tidak tinggi, hanya sekitar 1200 m saja. Dengan gencarnya
tembakan artileri sasaran udara di atas daerah yang padat penduduknya, tidak dapat dihindarkan
jatuhnya korban. Beberapa orang yang sedang duduk di luar rumah mereka di daerah Sidoarjo terkena
pecahan peluru meriam. Mungkin mereka sedang menikmati kesejukan hawa malam sehingga kurang
memperhatikan adanya bahaya udara.
Benda-benda terbang tak dikenal itu juga pernah tampak mendarat pada malam hari di sebelah
selatan Surabaya. Keesokan harinya seorang penerbang Angkatan Laut mendatangi tempat tersebut
dengan helikopter, akan tetapi tidak menemukan bekas-bekasnya. Stasiun radar di Ngliyep, Malang,
kurang lebih 120 km sebelah selatan Surabaya, menangkap sasaran-sasaran yang berputar-putar di atas
pantai dan kadang-kadang ada yang berhenti. Di daerah itu pernah tersiar berita tentang pendaratan
sebuah benda bulat di tengah-tengah kebun jagung. Menurut saksi mata seorang petani yang menjaga
kebun jagung itu dari benda tadi keluar 2 orang asing yang mengenakan pakaian berwarna keperakperakan
yang mengkilau. Mereka berambut pirang dan bertanya kepada petani itu,”Ini jagung?” Laporan
petani itu hanya dijadikan bahan tertawaan saja. (Bagi mereka yang memppelajari masalah UFO, kejadian
itu mirip dengan kasus di Amerika Serikat yang terjadi dalam tahun 60-an juga. Dilaporkan adanya
makhluk UFO yang berambut pirang dan yang berbicara dengan aksen bahasa Jerman).
Pandangan alat negara tentang peristiwa Surabaya tercermin di dalam telaahan staf Komando
Pertahanan Udara Nasional berjudul “Penerbangan-penerbangan tidak dikenal di Sektor II (Surabaya)”
tertanggal 29 September 1964 yang menyimpulkan, bahwa sasaran tidak dikenal sebagai yang telah
dilaporkan memang ada, bahwa sasaran itu terdiri dari pesawat terbang biasa dan pesawat tanpa awak,
23
bahwa kegiatan sasaran adalah kegiatan lawan, dan bahwa tujuannya adalah untuk perang urat saraf di
samping secara tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian.
Mengenai pengendalian secara elektronis kemungkinan terbesar dilakukan dari daratan, dari lautan
mempunyai kemungkinan pula, sedang pengendalian dari udara secara teknis dapat diabaikan!.
Pada intisarinya mereka mengira UFO itu adalah senjata rahasia Angkatan Laut Inggris oleh karena
pada waktu itu memang kapal induk Inggris “Victorious” dengan beberapa kapal perang lain sedang
berada kurang lebih di sebelah selatan Kendari dalam pelayarannya kembali ke Singapura setelah
memasuki Samudra India lewat Selat Sunda.
Diterobosnya pertahanan udara Surabaya oleh benda-benda terbang yang tak dikenal serta eksesekses
yang timbul dari meriam-meriam penangkis serangan udara dengan sendirinya menimbulkan
keresahan sosial. Maka dari itu pada tanggal 8 Oktober 1964 Pejabat Presiden Dr.J.Leimana merasa perlu
untuk mengeluarkan imbauan agar masyarakat ramai tetap tenang dan tidak menimbulkan suasana yang
keruh serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran-tafsiran.
Sebelum pengumuman itu penulis ini di dalam jabatannya sebagai Penasihat Ilmiah
Menteri/Panglima Angkatan Udara dimintai pendapatnya tentang kejadian di Surabaya oleh WAKAS KOTI
Laksamana Muda Udara Sri Mulyono Herlambang. Saya kemukakan bahwa peristiwa itu sama dengan
kejadian yang menimpa ibu kota Amerika Serikat Washington D.C. pada tahun 1952. Perbedaannya ialah
bahwa ibu kota tadi tidak dalam suasana konfrontasi dan yang dikerahkan pesawat-pesawat pemburu
segala cuaca Lockheed F-94 “Starfire”. Kesulitan yang dihadapi alat negara kita pada waktu itu ialah
apabila sasaran-sasaran yang tak dikenal itu secara resmi diakui sebagai UFO, maka hal itu dapat
menimbulkan kerawanan berupa mengendornya kesiap-siagaan dan terbukanya kesempatan bagi pihak
lawan untuk menyalahgunakan kondisi itu.
Polisi Herbert Schirmer Berjumpa Makhluk UFO (1967)
Pukul 3 dini hari tanggal 3 Desember 1967 anggota polisi Herbert Schirmer kembali ke posnya di
pinggiran kota Ashland, Nebraska, setelah berpatroli setengah jam lamanya. Dia gelisah karena baru saja
mengalami peristiwa yang aneh dan menegangkan serta membuatnya amat haus seperti sudah seminggu
lamanya tidak minum. Setelah tenang kembali ia menulis laporan singkat yang berbunyi, bahwa dia telah
melihat piring terbang yang mendarat di simpang jalan raya no. 6 dan 63 yang kemudian bertolak lagi.
Berita itu tersiar dalam surat-surat kabar lokal di kota-kota Ashland dan Lincoln, sehingga menarik
perhatian panitia Condon yang pada waktu itu sedang mengumpulkan bahan-bahan bagi laporan terakhir
proyek “Buku Biru”. Herbert Schirmer diperiksa oleh para ahli dari panitia Condon di Universitas Colorado,
yang menemukan adanya selisih 20 menit, di dalam jangka waktu tersebut dia tidak ingat apa yang telah
diperbuat (gejala “time loss” atau kehilangan waktu). Di samping itu juga ditemukan bilur merah pada
kuduk di bawah telinga kirinya. Hal tersebut merupakan karakteristik bagi para saksi perjumpaan dengan
makhluk UFO yang menderita gejala kehilangan waktu. Terhadap Herbert Schirmer kemudian dilakukan
“regressive hypnosis” oleh Prof.Dr.Leo Sprinkle dari Universitas Wyoming dan terungkaplah
pengalamannya yang mencengangkan selama 20 menit yang hilang itu. Hipnosa itu diulang sampai 3 kali
di tempat dan oleh ahli hipnosa yang berlain-lainan, namun keterangan Schirmer dalam keadaan tidak
sadar itu ternyata sama saja.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman selama 20 menit itu dilupakan atas perintah makhluk-makhluk
UFO sebelum berpisah, oleh karena perjumpaannya itu tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Setelah
bertolak dari persimpangan jalan raya, UFO itu kemudian mendarat lagi di sebuah lapangan tua.
Bentuknya lonjong seperti bola rugby, mempunyai panjang 10' (30,5 M), memiliki sejumlah lampu yang
berkedip-kedip, sebuah cahaya terang keperak-perakan di dasar bawahnya, dan bunyi melengking. Alat
pendaratnya terdiri dari 3 batang kaki yang dapat keluar masuk. Schirmer menuju ke lapangan tua
melalui jalan berlumpur sambil memanggil pos polisi lewat radio, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian
mesin maupun lampu mobilnya mati.
Schirmer menjadi takut dan ingin kembali, akan tetapi dihalangi oleh sesuatu di dalam pikirannya.
Begitu pula ketika beberapa sosok tubuh manusia menuju ke mobilnya, ia ingin mencabut pistolnya,
namun ada sesuatu yang menghalanginya. Kemudian salah satu makhluk yang berdiri di depan mobilnya
mengacungkan suatu benda yang menyemprotkan sejenis gas berwarna kehijauan sehingga menyelimuti
mobilnya. Kemudian ia mencabut sebuah alat seperti lampu senter dari pinggangnya dan
mengacungkannya ke kaca depan. Timbullah kilatan cahaya amat terang seperti lampu alat pemotret
yang membuat Schirmer tidak dapat bergerak dan kehilangan kesadarannya. Ketika ia sadar kembali, ia
sedang dipapah oleh 2 makhluk UFO keluar dari mobilnya dan dibawa masuk ke dalam UFO melalui
sebuah tangga. Tiba-tiba datanglah makhluk UFO lainnya dari belakang dan memijatkan suatu alat ke
sebelah kiri dari kuduknya selama kurang lebih semenit yang cukup menyakitkan. Makhluk-makhluk UFO
itu tingginya di antara 4 1/2-5' (1,35-1,50 m) dengan dada yang besar dan badan serta anggota badan
yang berotot. Sikapnya kaku dan kepalanya lebih sempit dan panjang dari manusia bumi. Matanya seperti
mata kucing dengan alis yang miring sehingga memberikan corak seperti orang Asia. Hidungnya panjang
dan lebar, bibirnya tipis sekali, mulutnya hampir seperti celah. Kulitnya berwarna kelabu keputih-putihan.
Mereka memakai sepatu boot dan memakai pakaian “coverall” keperak-perakan dengan ikat pinggang
terdapat semacam tempat pistol. Tutup kepalanya mempunyai sepasang antena kecil. Di dada mereka
terdapat lukisan seekor naga yang bersayap. Schirmer juga memperhatikan, bahwa makhluk-makhluk
24
UFO itu bernafas dengan bebas oleh karena udara yang dingin di luar UFO itu, nafas keluarnya menjadi
uap. Di dalam UFO udaranya lebih dingin daripada di luar dan diterangi oleh lampu berwarna merah.
Sewaktu di dalam UFO Schirmer berdialog dengan makhluk-makhluk UFO yang berbicara bukan
dengan mulut melainkan secara telepatis, yaitu langsung ke dalam pikirannya yang membuat dia sakit
kepala. Schirmer mengawali pertanyaannya apakah makhluk-makhluk itu nyata, yang dijawab dengan
pijatan di bahunya. Di dalam waktu yang kurang dari 20 menit itu diperoleh banyak sekali informasi
tentang UFO, maksud tujuannya dan asalnya. Mereka mengaku berasal dari galaksi lain, merupakan awak
dari suatu pesawat observasi yang terdiri dari 4 orang, dan telah lama mengamat-amati bumi. Mereka
sedang melakukan program penelitian terhadap bumi kita yang antara lain meliputi pengumpulan contoh
berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan, suatu “breeding analysis” (analisa perkembangbiakan) yang
juga mempergunakan beberapa orang manusia bumi di dalam eksperimen-eksperimennya. Tidak
dijelaskan apakah manusia-manusia bumi itu diculik atau tidak. Sikapnya seperti militer, penjagaan ketat
dilakukan selama saksi di dalam UFO. Orang-orang yang kebetulan mereka pergoki dihubungi tanpa pola
tertentu dengan maksud untuk membingungkan baik pemerintah maupun perorangn yang menyelidiki
UFO di samping untuk mematangkan kondisi masyarakat saat itu, dimana merek akan memperlihatkan
diri secara terbuka dan dalam jumlah besar. Mereka mempunyai pangkalan di beberapa planet di tata
surya kita, demikian pula di permukaan bumi, di bawah tanah dan di bawah permukaan laut, seperti 2
buah di daratan Amerika Serikat, di lepas pantai Florida (di daerah segitiga Bermuda di mana banyak
kapal laut dan pesawat terbang telah hilang tanpa bekas), di lepas pantai Argentina dan di Kutub Utara.
Pangkalan-pangkalan UFO itu ialah untuk “kesejahteraan awak UFO dan manusia bumi”.
Wahana UFO dibuat dari magnesium murni 100% dan digerakkan oleh sistem energi elektro
magnetik yang dapat dibalik untuk menciptakan kondisi penerbangan yang bebas inertia maupun
gravitasi. Di tengah-tengah UFO terdapat sebuah rotor seperti kristal yang dihubungkan dengan 2 buah
kolom yang besar yang merupakan reaktor-reaktor. Kecepatan UFO melebihi 150.000 mil (240.000 km)
sedetik. Untuk melakukan pengintaian di dalam UFO juga terdapat piring-piring terbang kecil yang dapat
diluncurkan dan dikembalikan oleh induknya sewaktu di udara. Tugasnya ialah untuk melakukan
pengintaian dari dekat secara audio visual. Pada waktu mendarat, terbang rendah atau menghadapi
kemungkinan gangguan fisik maka UFO itu dikelilingi oleh suatu medan gaya elektro magnetik yang dapat
mematikan mesin mobil dan radio, serta rasa seperti kesemutan pada manusia dan hewan. Jikalau terlalu
dekat, medan gaya itu menimbulkan kilatan cahaya putih yang dapat menyelomot manusia atau hewan
sehingga mengusirnya dari bahaya yang lebih besar lagi. Kepada Schirmer dijelaskan bahwa mereka
menyadap listrik dari kabel-kabel tegangan tinggi kita untuk keperluan medan gaya pelindung tersebut,
akan tetapi hanya dalam jumlah kecil oleh karena mereka masih menghadapi kesulitan dalam
penyimpanannya (!).
Makhluk-makhluk UFO itu membawa sebuah alat seperti lampu senter yang tergantung di ikat
pinggangnya dan yang dapat memancarkan gelombang-gelombang tertentu guna menghentikan gerakan
manusia atau hewan yang hendak mengganggu mereka.
Schirmer percaya bahwa makhluk-makhluk UFO mempunyai pengetahuan yang sangat maju
tentang kerja otak manusia, hal tersebut terbukti dari pengalamannya ketika ia hendak berbuat sesuatu
lalu terhalang oleh sesuatu yang tak dapat dimengertinya. Sewaktu bertemu, makhluk UFO itu juga
berkata bahwa sambil bercakap-cakap mereka itu menanamkan sesuatu ke dalam pikirannya. Kemudian
ternyata bahwa Schirmer membuat laporan penyaksian UFO yang semula sesuai dengan perintah
makhluk-makhluk UFO tadi.
Apakah “Kemamang” Termasuk UFO?
Pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 1969 pukul 22.10 saya dengan 3 orang lainnya sedang
melewati jalan setapak di daerah perbukitan Gunung Lima, sebelah Timur Pacitan, Jawa Timur. Saya
berjalan paling depan dan setelah mendaki bukit, paling dahulu mencapai suatu dataran tinggi. Daerah itu
jarang penduduknya, dan keadaannya gelap gulita. Di daratan tinggi itu terdapat sebuath batu sebesar
rumah dan di atasnya tumbuh sebuah pohon. Di atas pohon itu, pada ketinggian kurang lebih 10 m,
mengambanglah sesuatu yang bulat, bergaris tengah kurang lebih 5 m, mengambanglah sesuatu yang
bulat, bergaris tengah kurang lebih 5 m, bercahaya pendar merata, dan berwarna biru. Berkas cahaya
lampu senter saya arahkan kepada sesuatu itu, yang seketika bergerak ke atas seolah-olah menghindari
cahaya senter tadi. Yang aneh ialah, bahwa sewaktu tidak bergerak maka sesuatu tadi bulat bentuknya,
akan tetapi begitu ia bergerak ke atas maka tepi bagian atasnya menjadi rata seperti terpancng. Dalam
sekejap mata sesuatu tadi telah lenyap dari pemandangan. Ketika kemudian saya bertanya kepada
penduduk setempat, apakah cahaya yang telah kami lihat itu, dijawab bahwa itu adalah “kemamang”
yang termasuk golongan makhluk halus.
Menurut cerita penduduk, daerah dari Gunung Lima ke timur sampai Lorok memang menjadi
tempat timbulnya gejala-gejala cahaya aneh, tidak hanya seperti tersebut di atas, akan tetapi ada pula
yang seperti api unggun yang kadang-kadang berhenti, kadang-kadang melompat-lompat baik secara
horisontal maupun vertikal dan yang dinamakan “obor setan”. Gejala tersebut rupa-rupanya bersifat
musiman. Ada pula gejala lain yaitu yang dari jauh bersinar sangat terang seperti sinar lampu petromaks,
dan pernah pada malam-malam tertentu berterbangan sampai ratusan jumlahnya.
Apakah gejala-gejala itu, alamiah ataukah artifisial? john Keel di dalam bukunya “Why UFO’s?”
mengisahkan pengalaman pribadinya yang tepat sama dengan pengalaman penulis ini, akan tetapi yang
25
terjadi di daerah perbukitan di negara bagian Virginia di Amerika Serikat. Menurut pendapatnya, gejala itu
tergolong UFO. Dalam hubungan ini perlu dicatat pula, bahwa para peneliti UFO di Brasil mengungkapkan
penyaksian cahaya-cahaya biru di tempat-tempat tertentu di hutan belantara oleh suku-suku Indian, yang
mereka namakan “Mother of Gold” (Ibu Emas). Menurut kepercayaan mereka, cahaya-cahaya itu ialah
makhluk-makhluk yang menjaga deposit mineral emas yang terkandung di bumi itu.
Foto UFO yang Pertama di Atas Indonesia
Sepanjang pengetahuan hingga saat buku ini ditulis, foto UFO yang pertama di atas Indonesia
dibuat oleh wisatawan Jepang Ryo Terumoto dari sebuah mobil pada tanggal 17 Agustus 1973 sekitar
pukul 14.00 siang. Ketika foto itu dicetak, tampak adanya benda berbentuk cakram di depan Gunung
Agung di Pulau Bali, yang sewaktu dijepret tidak kelihatan. Foto itu kemudian dimuat di dalam majalah
“Hito-to-Nippon” (Orang dan Jepang) terbitan bulan Maret 1974 dengan judul “Piring Terbang di Atas
Pulau Bali?” Ketua Perkumpulan UFO Jepang CBA International Yusuke J.Matsumura mengirim guntingan
berita tersebut sambil bertanya, apakah di sekitar Gunung Agung hidup sejenis burung yang mirip dengan
foto tersebut. Tak usah diterangkan bahwa andaikata ditemukan burung yang berbentuk cakram, hal itu
akan merupakan penemuan yang menggemparkan seluruh dunia.
Robot-robot Melayang: Kasus Pascagoula (1973)
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 Oktober 1973 pukul 17.00 di Pascagoula, Missisippi, ketika
Charles Hickson dan Calvin Parker sedang asyik mengail ikan di sungai. Tiba-tiba terdengar bunyi
mendesis seperti udara atau uap yang keluar dari pipa. Mereka menoleh ke belakang dan melihat
sepasang cahaya biru yang sangat terang dan berkedip atau berdenyut, sebesar lampu depan sebuah
mobil, pada jarak 30-40 yard dari mereka. Cahaya-cahaya itu terpasang pada suatu wahana yang
panjangnya 20'-30' (6-9 m) dan tingginya 8'-10' (2,4-3 m). Di depan sepasang cahaya tadi tampak, dua
buah jendela. Setelah bunyi mendesis berhenti, maka kedua cahaya tadi menjadi padam, sedang wahana
itu mengambang kurang lebih 1 1/2-2' (45-60 cm) di atas tanah. Sebuah pintu terbuka dan dari dalam
wahana sinar berpijar dengan warna di antara putih dan kuning.
Tiba-tiba sosok tubuh seperti manusia muncul di pintu itu: tingginya 5' sampai 5’4" (1.50-1.60 m),
dari kepala sampai kakinya tertutup oleh kulit yang penuh lipatan-lipatan, berwarna keabu-abuan, dan
kasar seperti kulit gajah. Mereka tidak punya leher dan pada bagian yang seharusnya ada hidung dan
telinga, terdapat tonjolan-tonjolan berbentuk kerucut. Tangannya tidak mempunyai jari tetapi supit.
Mereka tidak bersuara kecuali satu di antaranya mengeluarkan bunyi mendengung.
Ketiga sosok tubuh itu kemudian melayang ke arah Hickson dan Calvin, akan tetapi kaki dan
tangannya tidak kelihatan bergerak melainkan dalam keadaan sikap tegak saja. Dua di antaranya dengan
cepat mengapit Hickson dengan memegang lengannya, yang waktu perama kali disentuh merasa sakit.
Yang satu lagi menuju ke arah Calvin Parker yang jatuh pingsan karena ketakutan. Hickson tetap dalam
keadaan sadar, akan tetapi setelah disentuh oleh makhluk-makhluk aneh itu ia tidak dapat bergerak dan
ia ikut melayang masuk ke dalam UFO. Di dalamnya tampak ruangan kosong dengan dinding yang
memancarkan cahaya yang hampir menyilaukan. Hickson dilepas oleh makhluk-makhluk tadi, akan tetapi
ia tetap dalam keadaan mengambang di udara. Tiba-tiba sebuah alat yang mempunyai semacam lensa
keluar dari dinding dan mengamat-amati seluruh tubuh Hickson dengan seksama pada jarak sangat
dekat. Dua sosok tubuh itu kemudian memegang Hickson lagi dan mengembalikannya ke tempat semula
seraya melayang.
Setelah menyentuh tanah lagi, Hickson mencoba berdiri, akan tetapi jatuh tersungkur karena
ketakutan. Kemudian ia merangkak ke arah temannya, Calvin Parker, yang masih meggeletak di tanah,
akan tetapi sebelum mencapainya terdengar bunyi mendesing lagi. Ketika ia menoleh, Hickson melihat
bagaimana pintu UFO itu menutup kembali sementara sepasang cahayanya telah berkedip-kedip lagi dan
sekejap mata kemudian ia telah pergi.
Hickson yakin bahwa makhluk-makhluk yang menculik dia sebentar itu ialah robot-robot, oleh
karena gerakan-gerakan serba mekanis, dan satu di antaranya yang berbunyi mendengung boleh jadi
sedang melangsungkan komunikasi dan pengendalian dari pesawat induknya.
Mattambre dari P.Flores: Makhluk atau Alat?
Di Pulau Flores terdapat apa yang dinamakan mattambre terdiri dari suatu cahaya berbentuk bulat
dengan garis tengah sekitar 1 m yang berwarna merah kebiru-biruan. Ada yang menyamakan warna
merahnya dengan warna matahari sedang terbenam. Mattambre melayang-layang kurang lebih setingi 1
1/2 m dari permukaan tanah dan hanya disaksikan pada malam hari saja. Ia muncul secara tunggal tanpa
tergantung dari musim. Penduduk menyeganinya, oleh karena kehadirannya disangkutpautkan dengan
bakal terjadinya kematian seseorang.
Namun demikian, seorang sarjana yang tidak mau disebut namanya dan yang berasal dari
Kabupaten Manggarai Pulau Flores Barat, menceritakan pengalaman pribadinya dengan mattambre. Pada
tahun 1974 ia kebetulan melakukan perjalanan pada malam hari dengan kendaraan sebuah jeep dari
daerah pedalaman yang bergunung-gunung menuju ke pantai. Tiba-tiba muncullah sebuah mattambre
yang kemudian mengikuti mereka. Pengalaman yang tidak terlupakan terjadi ketika kemudian mattambre
itu mendekati jeepnya dan secara mendadak baik mesin maupun lampunya mati. Mereka berusaha
sekuat-kuatnya untuk menjalankan mesinnya di dalam kegelapan malam, namun sia-sia belaka. Akhirnya
26
mereka terpaksa mendorong jeepnya secara berhati-hati turun dari gunung ke pantai sejauh kurang lebih
10 km. Belum sampai ke pantai fajar mulai menyingsing dan mattambre itu hilang lenyap seketika.
Berbarengan dengan itu jeep mogok tadi tiba-tiba berfungsi normal kembali.
Pengalaman itu menimbulkan tanda tanya, apakah sebenarnya mattambre itu, sejenis hantu
ataukah sejenis alat observasi yang dikendalikan oleh kehidupan cerdas dari luar umat manusia kita?
Sarjana tadi juga menambahkan bahwa seorang rekannya pernah menyaksikan gejala yang serupa
di Pegunungan Alpen di Eropa. Temannya semobil seorang bangsa Swiss menerangkan bahwa itulah yang
disebut UFO. Rekannya tadi menyebut bahwa di kampungnya di Pulau Flores itulah yang dinamakan
Mattambre!
Tudingannya Bertuah: Kasus Carl Higdon (1974)
Pengalaman ajaib Carl Higdon sewaktu berjumpa dengan makhluk UFO pertama kali disiarkan oleh
surat kabar “Daily Times” di kota Rawlins, negara bagian Wyoming, pada tanggal 29 Oktober 1974. Empat
hari sebelumnya dia sedang berburu elk, binatang sejenis rusa, di hutan nasional Medicine Bow sebelah
selatan kota tersebut. Sekira pukul 16.00 sore ia mendaki sebuah bukit dan melihat 5 ekor binatang
buruannya. Dia melepaskan tembakan, akan
tetapi anehnya pelurunya hanya mencapai jarak 50' (15 m) lalu jatuh ke tanah. Dia melangkah
maju untuk memungut peluru itu dan memasukkannya ke dalam sebuah tas. Pada waktu itulah dia
mendengar bunyi dahan patah sehingga ia menoleh ke kanan dan di bawah pepohonan dia melihat
seseorang sedang berdiri. Tingginya 6’2" (1,85 m), berpakaian dan bersepatu hitam, memakai sabuk
dengan timang berbentuk bintang dan sebuah tanda berwarna kuning di bawahnya. Kedua kakinya
berbentuk “O”, kepalanya (bukan otaknya) miring, tidak berdagu, giginya hanya 6 buah: 3 di atas dan 3
di bawah, berambut jarang yang berdiri tegak di kepalanya. Kedua belah tangannya tidak berjari, akan
tetapi menyerupai alat yang berbentuk kerucut.
Makhluk aneh itu memperkenalkan diri sebagai “Ausso”, menyerahkan sebuah kotak kecil berisi 4
pil yang melayang ke arah Higdon dan yang katanya satu pil cukup untuk mengganti makan 4 hari, dan
mengajak Higdon ikut. Ausso menudingkan tangannya, dan sekonyong-konyong ia bersama Higdon sudah
berada di dalam sebuah bilik kecil dengan dinding-dinding seperti kaca, berukuran kurang lebih 7' x 7'(2,1
x 2,1 m). Mereka duduk di kursi dengan sabuk pengikat di lengannya dan sebuah topi seperti helm di
kepalanya, mirip dengan topi rugby dengan perbedaan bahwa ia mempunyai 2 utas kawat di atasnya dan
2 utas lainnya di kiri kanannya yang menyambung ke punggung. Berhadapan dengan kursinya, Higdon
melihat 3 batang tuas dengan ukuran yang berbeda yang digerakkan oleh Ausso. Melalui sebuah kaca
belakang Higdon melihat bahwa di belakangnya ikut diangkut pula 5 ekor rusa buruannya yang
dimasukkan dalam sangkar. Ia tidak habis mengerti bagaimana binatang-binatang itu dapat dimasukkan
di dalam ruangan yang sekecil itu. Ausso menjelaskan bahwa di planetnya tidak terdapat ikan dan bahwa
binatang-binatang elk itu akan diternakkan untuk penyediaan pangan.
Ausso menuding ke arah kendaraan pickup Higdon yang diparkir di tanah yang keras, dan tiba-tiba
kendaraan itu lenyap. Kemudian Ausso menuding ke arah tuas yang paling besar dan tuas itupun seperti
ditekan ke bawah dan bersamaan waktunya Higdon merasa bilik tempat dia berada itu mulai bergerak.
Setelah bertolak, Higdon menyaksikan sebuah benda seperti bola basket di luar bilik yang ia sangka bola
bumi. Kemudian mereka sampai di suatu tempat yang menurut Ausso berada pada jarak “163.000 mil
cahaya” dari bumi.
Di luar bilik tampak sebuah menara raksasa, mungkin smapai setinggi 90' (27 m), dengan lampu
yang sangat terang dan yang berputar sambil berbunyi seperti alat cukur listrik. Cahaya itu mengganggu
penglihatan Higdon sehingga ia melindungi matanya dengan kedua belah tangannya. Melihat hal itu Ausso
nyeletuk, bahwa ia juga tidak tahan sinar matahari kita.
Higdon juga melihat 5 orang manusia biasa yang berdiri di luar menara, yaitu seorang laki-laki
beruban berumur 40-50 tahun, 2 orang anak perempuan: yang seorang berambut coklat berumur 10-11
tahun dan yang lain berambut pirang berumur 13-14 tahun, seorang pemudi berambut pirang berumur
17-18 tahun dan seorang pemuda berambut coklat berumur 17-18 tahun. Mereka mengenakan pakaian
biasa dan tampak sedang bercakap-cakap.
Ausso menudingkan tangannya dan tiba-tiba mereka berdua telah berada di dalam menara, naik ke
atas dengan elevator dan masuk ke sebuah kamar yang kemudian Higdon disuruh berdiri di atas sebuah
panggung kecil. Dari dinding keluarlah semacam perisai yang dibuat dari bahan seperti kaca, berhenti di
depan Higdon selama 3-4 menit sedang Ausso berdiri di belakang perisai itu. Kemudian perisai itu masuk
kembali ke dalam dinding.
Ausso lalu memberitahukan Higdon bahwa dia bukanlah orang yang mereka perlukan, sehingga dia
akan dipulangkan. Mereka berdua keluar kamar, masuk ke dalam elevator dan kembali ke pintu gerbang
menara. Rupa-rupanya Ausso tinggal menudingkan tangannya dan tiba-tiba mereka bergerak tanpa daya
upaya. Kemudian Higdon duduk kembali di dalam bilik kaca bersama Ausso, yang memegang
senapannya. Ausso berkata bahwa senapan itu primitif dan sebenarnya ia ingin memilikinya, akan tetapi
ia tidak diizinkan sehingga barang itu diserahkan kembali. Lalu Ausso menuding ke arah tuas yang paling
panjang dan Higdon tiba-tiba sudah berdiri di lereng bukit seperti semula. Kakinya menginjak batu yang
lepas sehingga ia jatuh sambil melukai leher, kepala, dan pundaknya.
Higdon tidak ingat dia itu siapa dan di mana dia sedang berada. Dia mondar mandir dan ketika
kebetulan mendekati kendaraan pickupnya, ia mendengar seorang wanita sedang mengadakan calling
27
melalui radio CBnya. Higdon meminta tolong sambil menerangkan bahwa dia tidak ingat dia itu siapa dan
tidak tahu di mana ia sedang berada. Pihak berwajib mengirim tim pencari yang berhasil menemukan
Higdon larut malam dalam keadaan bengong, bingung dan sulit mengenal kembali istrinya. Tim pencari
menghadapi tugas berat untuk menarik kembali kendaraan pickupnya ke jalan semula yang diperkeras,
oleh karena secara misterius kendaraan itu telah dipindahkan ke suatu tempat yang tidak dapat dilalui
olehnya. Sebelum menemukan Higdon, tim pencari juga melaporkan adanya cahaya-cahaya aneh di
hutan.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa Carld Higdon selalu berhadapan muka dengan
“Ausso” selama perjumpaannya itu dan tidak pernah melihatnya dari samping atau belakang. Hal itu
menimbulkan spekulasi bahwa “Ausso” sebenarnya sebuah proyeksi gambar holografi saja. Akan tetapi
bagaimanakah suatu proyeksi dapat memindahkan kendaraan pick up, menyerahkan pil dan
membawanya tamasya serta mempengaruhi jalannya peluru?
Foto UFO di Ladang Minyak Lepas Pantai: Kasus Ir. Tony Hartono (1975)
Penulis ini mendengar pertama kali tentang foto UFO yang dibuat oleh Ir.Tony Hartono ketika
sedang bersiap-siap untuk wawancara di studio TVRI Senayan bersama Dr.J.A.Hynek dan Willy Karamoy
pada bulan Desember 1976.
Ir.Tony Hartono mengisahkan pengalamannya sebagai berikut. Pada tanggal 22 September 1975
kurang lebih pukul 15.00 ia sedang melepaskan lelah sehabis makan siang di Quarters Platform pada
lantai 3 kompleks menara pengeboran minyak lepas pantai di ladang minyak Arjuna, kurang lebih 52 mil
(83 km) dari pantai Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh titik hitam di
atas cakrawala yang menuju ke arah ladang minyak dengan kecepatan tinggi, menjadi sebesar bulan
purnama dengan bentuk lonjong dan berwarna merah tua. Pada jarak kurang lebih 6 1/2 mil (+- 10 km)
benda itu membelok dengan tajam dan menjauh kembali, sehingga ia menempuh lintasan seperti sebuah
bumerang. Di kejauhan benda itu naik vertikal ke atas dan hilang dari pemandangan. Pada waktu
mendekat sayup-sayup terdengar bunyi mendesing seperti gasing dengan frekuensi rendah sekali. Ir.Tony
Hartono Rusman pada waktu itu sedang menyandang sebuah kamera Olympus dan dengan cepat ia
menyetel dan membidikkannya ke arah benda yang muncul hanya selama tidak lebih dari satu menit saja.
Semula ia tidak sadar bahwa benda yang diabadikan itu ialah sebuah UFO dan baru seminggu kemudian ia
teringat kembali ketika rekan sekerjanya, Dr.Ted.Telsch, seorang ahli fisika dari Flour Ocean Co, Houston,
Texas, menyaksikan sebuah UFO yang bentuknya sama pada pukul 18.00. Film itu segera dicuci dan
tampaklah UFO di atas tanker minyak Arco Arjuna yang kini sudah menjadi terkenal di seluruh dunia.
Sayang sekali negatif dari foto itu dibawa oleh rekannya orang asing tadi ke Amerika Serikat dan tidak
berhasil diminta kembali.
Dr.J.A.Hynek telah membawa foto dari UFO Ir.Tony Hartono yang kemudian dianalisa oleh Dr.Fred
Beckmann, ahli analisa foto UFO yang terkemuka dari Universitas Chicago. Pendapatnya ialah: foto UFO
tersebut dapat juga disebabkan oleh kerusakan film. Untuk dapat dianalisa dengan baik, rupa-rupanya
mutlak perlu tersedia negatif-negatif aslinya di samping dibuatnya beberapa foto dari UFO yang sama
dengan sudut penglihatan yang berbeda-beda.
Seperti Meteor, Tetapi Membelok:Kasus Dr.Ir.Aryono Abdulkadir dkk (1977)
Sesuatu penyaksian UFO yang bermutu tinggi termasuk dibuatnya sejumlah foto terjadi pada
tanggal 27 Juni 1977 kurang lebih pukul 18.15 oleh 3 orang sarjana, yaitu Dr.Ir.Aryono Abdulkadir,
Ir.Roedianto Ramelan dan Ir.Ananda Soeyoso. Mereka sedang naik mobil dari Surabaya ke Malang ketika
sampai antara Gempol dan Porong perhatiannya tertarik oleh munculnya apa yang semula mereka sangka
sebuah meteor di langit sebelah barat. Mereka menghentikan mobilnya dan 2 saksi yang disebut pertama
keluar untuk selanjutnya dengan cekatan membuat sejumlah foto dari benda itu. Yang semula disangka
sebuah meteor itu turun vertikal ke bawah dengan sudut sekitar 5 derajat, akan tetapi kemudian ia
membelok dengan tajam ke arah selatan dan sambil terbang mendatar akhirnya hilang dari
pemandangan. Ia meninggalkan jejak seperti bunga api yang membelok dengan tajam, jejak itu pun
tampak bengkok. Foto dari saat benda itu baru saja membelok tampak jelas, sayang Dr.Ir.Aryono
Abdulkadir sedikit menggerakkan lengannya sehingga kamera bergoyang. Sebabnya ialah karena ia
menyandarkan sikunya pada sebatang pohon yang ternyata banyak semutnya yang besar-besar. Menurut
pengamatan Dr.Ir.Aryono Abdulkadir, yang mempunyai gelar Insinyur Fisika Teknik dari ITB dan Doktor
dalam Mechanical Engineering dari Universitas Kentucky, benda yang disaksikannya menyerupai sebuah
“reentry vehicle” yang dikendalikan dan mengalami proses ablasi pada permukaannya sewaktu memasuki
lapisan atmosfir dengan cepat.
Tidak Dapat Dilihat oleh Radar
Pada pukul 04.40 dini hari tanggal 14 Juni 1977 lima orang awak kapal patroli TNI AL “Siliman”
menyaksikan suatu benda aneh sewaktu berlayar di lepas pantai Lho Seumawe, Aceh. Pada waktu itu
keadaan laut adalah tenang sehingga permukaannya laksana cermin. Cuaca berkabut tipis, namun tidak
menghalangi pemandangan.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh nyala lampu terang yang entah dari mana datangnya, tetapi
seketika sudah mengambang di udara di depan mereka. Nyala lampu terang itu berwarna merah muda,
berbeda dengan lampu navigasi kapal yang berwarna merah darah. Kemudian tampak bahwa nyala lampu
terang itu terpasang pada sebuah benda berbentuk cerutu dengan sebuah kubah di atasnya.
28
Perwira navigasi operasi Letda (P) Widyhartono mengerahkan alat radarnya, tetapi tidak terjadi
kontak echo. Ia kemudian mengambil kamera dari laci, ternyata tidak bekerja oleh karena filmnya habis.
Tiba-tiba benda bersinar itu hilang lenyap. Perwira itu baru saja membalikkan diri untuk men-stand
by-kan alat radar, ketika benda tadi tiba-tiba muncul kembali di tempat semula.
Sekarang benda itu mengeluarkan asap putih yang terputus-putus mirip parasut yang
mengambang lalu turun dalam jumlah banyak. Kepulannya itu mirip asap knalpot sepeda motor yang
kebanyakan bahan bakar dan sedang dipanaskan. Jumlah kepulannya banyak dan besar kecilnya tidak
sama serta lenyap jauh di atas permukaan air.
Radar dikerahkan lagi, akan tetapi hasilnya tetap nol. Perwira itu menerangkan hal tersebut
dikarenakan sasaran itu di luar jangkauannya.
Dikira sedang terjadi dropping senjata gelap, semua lampu lambung kapal perang itu dimatikan,
semua senjatanya dikokang dan kapal diarahkan ke sasaran dengan mesin dimatikan. Semua itu
dilakukan untuk meninggikan pendadakan sambil memanfaatkan kabut tipis, dengan maksud untuk
menangkap basah para pelaku dropping bersama senjata-senjatanya.
Tiba-tiba benda bersinar itu bergerak cepat sambil membuat sudut tanjakan mirip garis ellips yang
tidak masuk akal dan tidak mungkin dilakukan oleh pesawat terbang jenis apa pun. Ia hilang dari
pemandangan pukul 04.46 setelah terlihat selama 6 menit.
Terbangnya Seperti Layang-layang Putus
Pada tanggal 14 September 1977 pukul 13.30 WIT karyawan Gubernuran Subagio B.A. melihat
benda aneh dari rumahnya di kompleks perumahan PEMDA Entrop I Jayapura, Irian Jaya, di mana
terdapat lembah di samping daerah perbukitan.
Benda itu terlihat pertama kali di atas laut kira-kira hanya 10 m dari permukaannya. Kemudian ia
terbang ke arah barat sambil membumbung. Gerak terbangnya tersendat-sendat seperti layang-layang
putus. Lintasan terbangnya lurus tetapi menanjak. Tidak terdengar bunyi sama sekali. Sewaktu berada di
atas lembah, benda itu mendadak berhenti selama beberapa detik, pada saat jaraknya kurang lebih 500
m dari saksi. Kemudian benda itu mendadak bergerak lagi meneruskan penerbangan dan hilang dari
pemandangan di belakang bukit-bukit. Jumlah saksi 2 orang.
Penyaksian benda yang sama terulang lagi dari tempat yang sama pula pada tanggal 25
September 1977 pukul 11.25 WIT, dengan tempat muncul, arah terbang dan tempat menghilangnya
persis sama. Hanya dalam penyaksian kedua itu tinggi terbangnya agak lebih tinggi yaitu antara 200
sampai 300 m.
Benda itu jikalau dilihat dari bawah tampak bulat lonjong dengan garis tengah antara 3 sampai 4
m. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah bundaran hitam seperti kubah. Warna benda itu adalah abu-abu
keputih-putihan seperti cat metalik abu-abu muda sebuah scooter Vespa Sprint model tahun 1977.
Apabila benda itu terkena sinar matahari maka permukaannya mengkilau seperti atap seng.
Di dalam penyaksian kedua itu terdapat tidak kurang dari 14 orang saksi, yaitu 8 orang dewasa
dan 6 orang anak. Menurut Subagio, B.A. sewaktu melihat benda itu ia merasa tercekam oleh suatu daya
atau kekuatan yang memancar dari UFO.
Hilang dengan Pesawatnya: Kasus Fred Valentich (1978)
Frederick P. Valentich, umur 20 tahun, ialah taruna, kemudian menjadi instruktur sukarela di Korps
Pendidikan Udara Angkatan Udara Australia di Melbourne Barat. Ia telah terbang selama 2 tahun dan perlu
menambah jam terbang malam untuk brevet penerbang komersialnya. Pada hari yang naas, yaitu tanggal
21 Oktober 1978, ia bertolak dari lapangan terbang Moorrabbin di Melbourne pukul 18.19 sore dengan
tujuan King Island, yang terletak di Selat Bass di antara daratan Australia dan Pulau Tasmania, untuk
mengambil udang sungai guna suatu malam pertemuan perwira-perwira Korps Pendidikan Udara. Pesawat
yang diterbangkannya ialah Cessna 182 L dengan huruf panggil VH-DSJ.
Fred Velentich baru 6 menit meninggalkan daratan Australia dan mulai terbang di atas Selat Bass,
ketika ia melaporkan adanya suatu pesawat udara lain pada ketinggian yang sama, yaitu 4500' (1500 m).
Mula-mula benda itu tampak seperti pesawat yang besar, dengan 4 cahaya yang sangat terang seperti
lampu pendarat. Kemudian ia melukiskan benda itu sebagai sesuatu yang berbentuk panjang, mempunyai
cahaya yang berwarna hijau dan permukaannya berkilauan seperti metalik.
Kemudian benda itu naik 1000' (300 m) lebih tinggi dari pesawat Cessna dan lewat di atasnya.
Selanjutnya ia menuju kembali ke pesawat Cessna dari arah Timur dan lalu lalang di atasnya 2 sampai 3
kali dalam jangka waktu hanya 30 detik dengan kecepatan sangat tinggi yang tidak dapat ditaksir oleh
Fred Valentich. UFO itu kemudian berhenti dan mengambang di depan pesawat Cessna, yang melihat
gelagat itu lalu berputar-putar. Ternyata UFO tadi ikut berputar di atasnya! Lalu UFO itu lenyap, akan
tetapi semenit kemudian ia muncul kembali dan menuju ke arah pesawat Cessna dari arah barat daya.
Fred Valentich melaporkan bahwa motornya mulai batuk-batuk. Menara Melbourne menanyakan,
apakah yang hendak dilakukan oleh pernerbang Cessna selanjutnya dan mendapat jawaban bahwa ia
akan meneruskan perjalanannya ke King Island. “Melbourne! Pesawat ajaib itu sedang mengambang lagi
di atasku. Ia (terhenti selama 2 detik).... sedang mengambang dan ia bukan pesawat terbang”. Menara
Melbourne kemudian memanggil:”Delta Sierra Juliet”, atas panggilan tersebut Fred Valentich menjawab:
“Delta Sierra Juliet, Melbourne....” diakhiri dengan kesunyian, kecuali suatu bunyi metalik yang aneh,
29
meskipun mikrofonnya terbuka terus selama 17 detik. Demikianlah percakapan terakhir antara Fred
Valentich dengan menara Melbourne.
Suatu pencarian oleh SAR dilakukan, yang meliputi pesawat Lockheed P-3 “Orion”, pesawat
Normad dan pesawat Aero Commander, tidak berhasil menemukan apa-apa.
Ke manakah Fred Valentich dengan pesawat Cessnanya? Jikalau ia jatuh ke laut, biasanya dapat
ditemukan adanya genangan minyak yang cepat atau lambat disusul oleh penemuan kepingan-kepingan.
Sampai sekarang hal itu tidak terjadi. Guido Valentich ayah Fred Valentich percaya bahwa anaknya diculit
oleh makhluk-makhluk UFO.
Sepanjang sejarah UFO, beberapa kali terjadi keterlibatannya di dalam kecelakaan penerbangan.
Menurut Dr.J.A.Hynek, sudah tercatat 20 kasus keterlibatan UFO di dalam hilangnya pesawat-pesawat
terbang secara misterius.
Salah satu kecelakaan udara yang pertama yang melibatkan UFO terjadi pada tahun 1948,
peristiwa tersebut diuraikan dalam buku: “Menyingkap Rahasia Piring Terbang”. Di dalam kasus itu Kapten
Penerbang Thomas F.Mantell yang diperintahkan mengejar UFO melaporkan melalui radio, bahwa benda
itu berwarna metalik dan berukuran raksasa, kemudian ia gugur bersama pesawat F-51 “Mustang”nya.
Kemudian menyusul Letnan Penerbang Moncla dan Letnan Navigator Wilson didalam pesawat
pemburu segala cuaca Northrop
F-89 “Scorpion”, yang pada tahun 1953 dituntun oleh stasiun radar di darat ke arah suatu sasaran
pada malam hari. Di layar stasiun radar itu tampak bagaimana pesawat pemburu itu manunggal dengan
sasaran tadi dan seterusnya menghilang untuk selamanya.
Akhirnya pada tahun 1967 dinas rahasia Amerika Serikat memonitor penyergapan sebuah UFO oleh
2 buah pesawat pemburu Mig-21 Kuba, yang berakibat fatal: pada waktu melepaskan peluru kendali infra
merah K-13 ke arah UFO, Mig-21 itu sendiri meledak di udara.
Cahaya yang “Bertelur” Kemudian Zig-Zag
Pada tanggal 27 Agustus 1979 pukul 19.45 Sandra Hadikusuma, 28 tahun, suaminya Haryanto 29
tahun, dan seorang teman menyaksikan suatu cahaya aneh dari depan rumahnya di kompleks perumahan
Tanjung Duren Utara, Tomang Barat, Slipi, Jakarta.
Sinar terang berwarna jingga itu lebih besar sedikit dari bintang, muncul di langit sebelah timur
dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan cukup tinggi. 3/4 perjalanan benda tersebut berada pada
posisi persis di depan atas saksi yang sedang menghadap ke arah selatan. Pada saat itulah benda terang
berwarna jingga tadi menelurkan dua buah benda bercahaya yang lebih kecil yang serta-merta melesat ke
arah selatan lalu menghilang. Induknya kemudian meneruskan perjalanannya ke arah barat, melakukan
lintasan zig-zag selama beberapa detik lalu hilang dari pemandangan. Seluruh penyaksian itu memakan
waktu kurang lebih 2 menit.
Seperti Bintang Tetapi Berputar-putar di Siang Hari
Minggu tanggal 22 Maret 1981 pukul 07.40 pagi Ari Nugraha, umur 26 tahun, radio amatir (YC0SI)
sedang berada di atap rumah untuk membenahi antena, ketika itu melihat sebuah benda di langit tepat di
atas kepalanya. Pagi hari itu cuaca sedang cerah dengan langit yang berwarna biru tua. Dia dengan
gempar memanggil saya dan kemudian saya mengajak istri menyaksikan hal tersebut. Benda itu tampak
seperti kepala jarum pantul yang dipegang sepanjang lengan. Ia berbentuk bulat dan warnanya keperakperakan
seperti cakram yang mengkilau. Ia mengembara dengan santai dan selama 40 menit menempuh
lintasan yang melingkar dengan garis tengah kurang lebih 2 kali lebih besar dari bulan purnama.
Saya menghubungi Halim International Airport dan mendapat keterangan bahwa di layar radar
tidak tampak sasaran-sasaran yang luar biasa. Bagian meteorologi menerangkan bahwa pada ketinggian
35.000 kaki arah angan adalah 070 dan kecepatannya 20 kts. Pada ketinggian 40.000 kaki angka-angka
tersebut adalah 050 dan 20.
Benda itu lenyap secara mendadak. Saya membuat beberapa foto dengan Fujica Pocket Camera.
Pembesaran-pembesaran yang dibuat sebelum tulisan ini tidak berhasil memperlihatkan benda yang
bersangkutan. Mungkinkah disebabkan oleh lensanya yang kurang tajam?
Makhluk UFO di Kebayoran
Rumah di Jalan Sriwijaya Raya no.24 di daerah pemukiman elite di Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, menjadi sepi pada pukul 23.00 malam seusai latihan menari oleh “Swara Mahardika” di bawah
pimpinan Guruh Sukarnoputra. Satu-satunya penghuni rumah itu ialah penjaga bernama Sumadi, yang
berumur 28 tahun. Ketika menuju ke kamarnya ia melihat ada sesosok tubuh yang berdiri di atas tembok
di halaman belakang dekat menara air di sudut. Tinggi makhluk itu di antara 1,20 sampai 1,50 m. Ia
mengenakan celana panjang berwarna putih, sedang bagian atas tubuhnya termasuk kepalanya tertutup
oleh semacam mantel berwarna hitam.
Namun Sumadi memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke kamarnya oleh karena hari sudah larut
malam dan perutnya keroncongan. Juga oleh karena sambil makan ia dapat mengamati makhluk itu
melalui jendela kamarnya yang tepat menghadap ke tembok halaman belakang. Sosok tubuh itu yang ia
sebut seperti manusia atau seperti jamur itu kadang-kadang tampak bergoyang-goyang sedikit.
Pada waktu Sumadi makan malam di rumah tetangga sebelah selatan yaitu Jalan Sriwijaya Raya
no.26 (bekas rumah kediaman almarhumah Ibu Fatmawati Sukarno) lima orang sedang mendengarkan
30
