mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt [HOTD] peRang+syahadat November 9th, 2006 Hadist riwayat Barra` ra., ia berkata: Seorang lelaki Bani Nabit, ada yang mengatakan dari Ansar datang (menghadap Rasulullah saw.) kemudian ia mengucapkan: Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan bahwa engkau adalah hamba dan Rasul-Nya. Kemudian ia maju untuk berperang hingga ia terbunuh. Maka Nabi saw. lalu bersabda: Orang ini telah melakukan suatu hal yang ringan, namun diberi ganjaran yang besar sekali Links: [tahukah antum makna syahadat laa ilaaha illallaah] http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=3&Itemid=22 [makna dibalik kata syahadat] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/3927 [kOnsekuensi-kOnsekuensi syahadatain] http://ktpdi.isnet.org/tarbiyah.php?id=0095 [dua kalimat syahadat : pasti masuk suRga, betulkah ?] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/5465 [azab kubuR - menuRut al-QuRan dan hadis] http://www.surau.ladang.net/modules.php?name=News&file=article&sid=89 [apakah syahadat mengandung kOnsekuensi] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/18733 [sudah benaRkah syahadatku?] http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=17 [beRsyahadat tapi tidak melaksanakan syaRiat] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9653 [tanda-tanda saat kematian] http://putraworks.wordpress.com/2005/01/16/tanda-tanda-saat-kematian/ [tanda-tanda husnul khatimah] http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03635.html -perbanyakamalmenujusurgahttp:// www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=17 Sudah benarkah Syahadatku? Syahadat Laa ilaaha illallah merupakan pondasi dasar dienul Islam. Ia merupakan rukun pertama dari rukun Islam yang lima. Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kalimat yang menjadi pemisah antara mukmin dan kafir. Ia menjadi tujuan diciptakannya makhluk. Ia juga merupakan sebab di utusnya para rasul. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri diperintah untuk memerangi manusia sehingga manusia mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, sebagaimana hadits yang terdapat dalam Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu (yang artinya): “Aku diperintah memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallah berarti selamat dariku harta dan jiwanya kecuali hak keduanya. Dan adapun perhitungannya (diserahkan) kepada Allah Azza wa Jalla.” Karena kalimat Laa ilaaha illallah ini pula ditegakkan timbangan keadilan dan catatan amal. Merupakan materi utama yang akan ditanyakan dan dihisab, merupakan asas agama, merupakan hak Allah atas hamba-Nya untuk masuk Islam dan kunci keselamatan, penentu surga dan neraka. Kita terkadang melihat sebagian kaum muslimin –kalau tidak boleh dikatakan banyak- setelah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, telah merasa bahwa dirinya sudah selamat dari api neraka. Asalkan sudah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah sudah pasti masuk surga, sudah jaminan bebas dari api neraka. Mereka tidak lagi melihat haram dan haram. Tidak memperhatikan lagi apakah melakukan ke-syirik-kan atau tidak. Apakah telah melakukan perbuatan yang bisa membatalkan syahadat-nya atau tidak. Mereka, selain menyembah Allah juga menyembah kepada yang lain. Datang dan minta ke kuburan, menyembah kuburan, minta berkah kepada batu atau pohon, menggunakan jimat dan mantra-mantra, berdoa kepada selain Allah, menyembelih binatang untuk selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, bersumpah kepada selain Allah, datang, percaya, dan minta kepada dukun, melakukan sihir, dan melakukan perbuatan-perbuatan lainnya yang dapat mengurangi kesempurnaan bahkan membatalkan syahadatnya. Ketika diberitahu dan diingatkan, terkadang di antara mereka berdalih dengan hadits: dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal (yang artinya): “ Tak ada seorang hamba pun yang bersaksi bahwa tiada illah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya kecuali Allah mengharamkan baginya neraka.” (Riwayat Muslim) Sudahkah mereka memahami, apa makna kalimat Laa ilaaha illallah? Apa syarat dan rukun-nya, apa pula konsekuensinya dan pembatal-pembatalnya? Ketika mereka (para penyembah berhala) diberitahu, dijelaskan kebenaran, kebanyakan dari mereka berpaling, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah. Mereka tetap saja menyembah berhala dan tidak mau mendengarkan firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menolak petunjuk orang-orang yang memberi nasihat, dan barangkali juga mereka justru menentang dan menyakiti orang yang mengingkari kebatilan dan dosa-dosa mereka. Allahu Musta’an. Mereka lupa (atau berpura-pura lupa?) atau bodoh (atau berpura-pura bodoh?)? Atau memang karena tidak tahu? Belum sampai penjelasan kepada mereka? entahlah. Allahu A’lam; bahwa di dalam kalimat Laa ilaaha illallah terdapat syarat dan rukun yang harus kita penuhi, konsekuensi-konsekuensi yang harus kita laksanakan, ada juga pembatal-pembatal yang harus kita tingggalkan dan jauhi. Jadi tidak semata-mata hanya mengucapkan Laa ilaaha illallah semuanya menjadi beres. Kalau kita tidak waspada dan hati-hati, kita dapat berbuat seperti mereka, melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan Laa ilaaha illallah kita. Naudzu billahi min dzalik. Kita berlindung dari hal yang demikian. Karenanya mari kita bersama-sama mengoreksi syahadat Laa ilaaha illallah yang telah kita ucapkan. Apakah sudah memenuhi syarat dan rukunnya, maknanya, konsekuensinya, apakah telah meninggalkan pembatal-pembatalnya atau belum. Apabila sudah, alhamdulillah, itu yang kita harapkan. Namun apabila sebaliknya, marilah kita perbaiki, mumpung masih ada kesempatan. Selagi ajal belum sampai tenggorokan. Makna Laa ilaaha illallah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dalam bukunya yang diterjemahkan menjadi “Murnikan Syahadat Anda” (hal.35) membawakan analisa Syaikh Sulaiman bin Abdullah dalam buku tafsir ‘Aziz Al-Hamid syarah Kitab Tauhid halaman 53; beliau, Syaikh Sulaiman bin Abdullah menyebutkan makna Laa ilaaha illallah adalah Laa ma’ buda bihaqqin illa ilaahun wahid (tidak ada yang disembah yang sebenarnya kecuali ilah yang satu), yaitu Allah yang tunggal yang tiada memiliki sekutu baginya. “Dan tiadalah Kami mengutus sebelummu (Muhammad) seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’:25) “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl:36) Makna ilah yang sebenarnya adalah al-ma’bud (sesuatu yang disembah). Karenanya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak orang musyrik Quraisy untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah, mereka menjawab: “Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu ilah yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad:5) Demikian penjelasan Syaikh Jibrin pada buku tersebut hal.35-37. Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan di dalam bukunya, yang diterjemahkan dengan judul “Kitab Tauhid I” pada hal 52-53 menjelaskan beberapa penafsiran batil menganai Laa ilaaha illallah ini yang banyak beredar di masyrakat. (Saya nukil dengan sedikit perubahan) Adapun yang menafsirkan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, “Tidak ada Tuhan selain Allah”; ini adalah tafsiran yang batil. Hal ini menyelisihi kenyataan, karena pada kenyataannya ada yang disembah kecuali Allah. Kemudian, tafsiran tersebut dapat berarti juga bahwa setiap yang disembah baik yang haq maupun batil adalah Allah. Sedangkan penafsiran “Tidak ada pencipta selain Allah”, “Tidak ada pemberi rizqi kecuali Allah”, ini hanyalah sebagian dari arti kalimat Laa ilaaha illallah. Bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mencakup tauhid rububiyah saja, sedangkan tauhid meliputi rububiyah, uluhiyah, dan asma dan sifat Allah. Demikian pula penafsiran “Tidak ada hakim (penentu hukum) kecuali Allah”, ini juga cuma sebagian dari kalimat Laa ilaaha illallah. Bukan ini yang dikehendaki, karenanya maknanya belum cukup. Syarat Laa ilaaha illallah Bersaksi Laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat, tanpa syarat-syarat ini tidak bermanfaat bagi yang mengucapkan. Syarat-syarat tersebut adalah: 1. Al-Ilmu artinya mengetahui makna kalimat ini. Karenanya orang yang mengucapkan tanpa memahami makna dan konsekuensinya, ia tidak dapat memetik manfaat sedikitpun, bagaikan orang yang berbicara dengan bahasa tertentu tapi ia tidak mengerti apa yang diucapkannya. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya): “Maka ketahuilah bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Allah.” (Muhammad:19) “Melainkan orang yang menyaksikan kebenaran sedang mereka mengerti.” (Az-Zukhruf:86) Hadits dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa mati dan dia mengetahui bahwasanya Laa ilaaha illallah ,maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim) 2. Al-Yaqin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat ini tanpa ragu dan bimbang sedikitpun. Dalilnya firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman keapda Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15) Hadits dari Abu Hurairah (yang artinya): “Tidaklah bertemu Allah seorang hamba yang membawa kedua kalimat syahadat dan dia betulbetul tidak ragu-ragu kecuali dia masuk surga.” (HR. Muslim) 3. Al-Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun. Inilah konsekuensi pokok Laa ilaaha illallah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): ”Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan semata mengharap agar mendapat ridha Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari-Muslim) 4. Ash-Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan, karena banyak sekali yang mengucapkan kalimat ini akan tetapi tidak diyakini isinya dalam hati. Firman Allah (yang artinya): “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allahdan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mreka berdusta.” (Al-Baqarah:8-10) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiadalah seseorang bersaksi secara jujur dari hatinya bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kecuali orang tersebut diharamkan dari neraka.” (Bukhari-Muslim) 5. Al-Mahabbah artinya mencintai kalimat ini dan segala konsekuensinya serta merasa gembira dengan hal itu, hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang munafik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat cinta kepada Allah.” (Al- Baqarah:165) Dalam hadits shahih dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Tiga perkara, jika dimiliki oelh seseorang, ia akan mendapat manisnya iman, yaiut: mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain, mencintai seseorang karena Allah semata, dan membenci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran seperti ia membenci jika dicampakkan ke dalam api neraka.” 6. Al-Inqiyad artinya tunduk dan patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini, dengan cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas dan mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya. Firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya): “Dan siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik, maka dia telah berpegang kepada urwatul wutsqa.” (Lukman:22) 7. Al-Qobul artinya menerima apa adanya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya apabila dikatakan kepada mereka Laa ilaaha illallah mereka takabur.” (Ash- Shofat:35) Syarat-syarat di atas diambil oleh para ulama dari nash Al-Qur’an dan sunnah yang membahas secara khusus tentang kalimat agung ini, menjelaskan hak dan aturan-aturan yang berkaitan dengannya. Yang intinya, kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekedar diucapkan dengan lisan. Rukun Laa ilaaha illallah Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun, yaitu: 1. An-Nafyu (peniadaan) artinya membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah. 2. Al-Itsbat (penetapan) artinya menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya. Dalil dari kedua rukun Laa ilaaha illallah ini adalah firman Allah (yang artinya): “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat…” (Al Baqarah:256) ‘Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut’ adalah makna dari rukun pertama Laa ilaaha, sedangkan ‘Beriman kepada Allah’ adalah makna rukun kedua illallah. Konsekuensi Laa ilaaha illallah Mengamalkan konsekuensi Laa ilaaha illallah adalah dengan cara menyembah Allah dengan ikhlas dan mengingkari segala jenis peribadatan kepada selain Allah (syirik). Inilah tujuan utama kalimat ini. Termasuk konsekuensi kalimat ini adalah menerima (dengan ketundukan yang penuh) syariat Allah dalam masalah ibadah, muamalah, halal, haram dan menolak segala macam bentuk syariat dari selain-Nya. Allah berfirman (yang artinya): “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura:21) Pembatal-Pembatal Laa ilaaha illallah Di dalam buku: “Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman” disebutkan bahwa: yang dimaksud dengan pembatal-pembatal Laa ilaaha illallah atau pembatal keislaman adalah hal-hal yang dapat merusakkan keislaman seseorang. Manakala hal itu menimpa diri seseorang, maka hal itu dapat merusakkan keislamannya dan mengguggurkan amalan-amalannya, dan dia menjadi termasuk orang-orang yang kekal di dalam api neraka. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah wajib mempelajari pembatal-pembatal ini. Jika tiadak, maka bisa jadi seorang muslim terperosok ke dalamnya sedangkan ia tidak merasa, seperti yang terlihat pada kebanyakan orang yang mengaku dirinya sebagai orang islam. La Haula wa la Quwwata Illah Billah! Di dalam buku tersebut, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa pembatal-pembatal Laa ilaaha illallah ini jumlahnya banyak, tapi yang pokok ada sepuluh. Pembatal-pembatal yang lain kembalinya kepada yang sepuluh ini. Saya ringkskan permasalahan ini dari buku tersebut untuk Anda wahai Saudaraku. Pahamilah! Pembatalpembatal tersebut adalah: 1.Syirik dalam beribadah kepada Allah Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih kurban untuk selain Allah, seperti untuk jin atau kuburan, jembatan, rumah, atau lainnya. Allah berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisaa’:48) Ada ulama yang membagi syirik menjadi tiga, yaitu: syirik akbar, syirik ashghar, dan syirik khafi. Namun ada juga yang cuma membagi menjadi dua, yaitu: syirik akbar dan syirik ashgar. Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menjadikannya pelakunya kekal di dalam neraka, jika ia mati dalam keadaan membawa dosa syirik besar tersebut dan belum bertaubat. Diantara yang termasuk syirik besar adalah penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, takut kepada orang yang mati, jin, syaithan bahwa mereka bisa membahayakan dan membuat sakit, meminta kepada orang mati. Syirik besar dibagi menjadi empat, yaitu syirik doa(disamping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selainnya), syirik niat, keinginan dan tujuan (menunjukkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah), syirik ketaatan (mentaaati selain Allah dalam hal maksiat kepada Allah), syirik kecintaan (menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan). Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari Islam, tetapi mengurangi tauhid dan merupakan perantara kepada syirik besar. Syirik kecil dibagi dua, yaitu syirik zhahir (nyata) dan syirik khafi (tersembunyi). Syirik zhahir ini terdiri dari perkataan dan perbuatan. Contoh dari perkataan adalah ucapan “Kalau bukan karena Allah dan karena si fulan”, adapun contoh yang berupa perbuatan misalnya memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya atau namimah. Apabila ia berkeyakinan bahwa hal itu sebagai perantara maka ia jatuh pada syirik kecil, namun apabila ia berkeyakin bahwa hal itu dapat menolak bahaya maka itu syirik besar. Syirik khafi yaitu syirik dalam keingin dan niat, seperti riya (ingin dipuji orang), sum’ah (ingin didengar orang) 2.Orang yang membuat “Perantara” antara dirinya dengan Allah, yang kepada perantaraperantara itu ia berdoa atau meminta syafaat, serta bertawakal kepada mereka; maka ia telah kafir berdasarkan ijma’. “Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra:56-57) 3.Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu terhadap kekafiran mereka, atau membenarkan madzab (ideologi) mereka. Mengapa demikian? Sebab, Allah Jalla wa ‘Ala telah mengkafirkan mereka melalui sekian banyak ayat di dalam kitab-Nya serta memerintahkan untuk memusuhi mereka disebabkan karena mereka telah mengada-adakan kebohongan atas nama Allah, menjadikan sekutu-sekutu di samping Allah serta menganggap Allah mempunyai anak laki-laki. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Allah Jalla wa ‘Ala telah mewajibkan atas kaum muslimin untuk memusuhi dan membenci mereka. Seseorang tidak bisa disebut sebagai muslim, sehingga ia mengkafirkan orang-orang musyrik. Jika ia meragukan hal itu, padahal persoalannya sudah nyata mengenai siapa sebenarnya mereka itu, atau ia bimbang mengenai kekafiran mereka padahal ia telah memperoleh kejelasan, berarti ia telah kafir seperti mereka. Orang yang membenarkan orang-orang musyrik itu dan menganggap baik terhadap kekufuran dan kezhaliman mereka, maka ia berarti kafir berdasarkan ijma kaum muslimin. Sebab, ia berarti belum/tidak mengenal Islam secara hakiki, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepadaNya dengan ketaatan, berlepas diri dari syirik dan orang-orang yang berbuat syirik. Sedangkan ia justru berwala’ (memberikan loyalitas) terhadap ahli syirik, mana mungkin dia akan mengkafirkan mereka. Allah berfirman (yang artinya): “Sesugguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selamalamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah:4) Inilah millah Ibrahim, barang siapa membencinya, maka ia berarti telah membodohi diri sendiri. Perhatikan pula surat Al-Maidah:51, Ali Imron:28, Az-Zukhruf:26-27, at-taubah:5, attaubah: 23, al-Mujadilah:23, al-mumtahanah:1, dan msih banyak ayat lain yang menjelaskan mengenai permasalahan ini. Perhatikanlah wahai Saudaraku kamu muslimin. Janganlah kalian tertipu oleh dai-dai yang menyeru kepada api neraka!! 4.Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum beliau; seperti orang yang lebih mengutamakan hukum thaghut atas hukum beliau. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Sesungguhnya dien (agama) disisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran:19) “Barangsiapa mencari agama selain dari dien (agama) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imron:85) Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang artinya): “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka pastilah kalian telah tersesat denagn keseatan yang jauh.” (HR. Ahmad) 5.Membenci sebagian (apalagi seluruhnya) ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, walaupun ia mengamalkannya. “Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhya mereka benci kepda apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad:8-9) 6.Memperolok-olok sebagian ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau memperolok pahala dan hukuman Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tak usahlah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah:65-66) 7.Sihir, seperti sharf (jenis sihir yang ditujukan untuk memisahkan seseorang dengan kekasihnya) dan ‘athaf (di kalangan orang Jawa dikenal dengan istilah pelet). Ia melakukannya atau rela dengan sihir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Keduanya (Harut dan Marut) tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (Al-Baqarah:102) 8.Tolong menolong dengan kaum musyrikin dan bantu membantu dengan mereka dalam menghadapi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Barangsiapa di antara kalian yang tolong-menolong dengan mereka, maka ia termasuk golongan mereka.” (Al-Maidah:51) 9.Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai kebebasan keluar dari syariat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana keleluasaan Nabi Khidir untuk tidak mengikuti syariat Musa alaihi salam. Dalilnya adalah: An-Nasa’I dan laiinya meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau melihat lembaran dari kitab Taurat di tangan Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘Anhu, lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Apakah kamu masih juga bingung wahai putera al-Khathab?!, padahal aku telah membawakan kepadamau ajaran yang putih bersih. Seandainya Musa masih hidup, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, tentulah kamu tersesat.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Seandainya Musa masih hidup, maka tiada keleluasaan baginay kecuali harus mengikutiku,” lalu Umar pun berkata: “Aku telah ridha bila Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien (agama), dan Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) sebagai nabi.” 10.Berpaling dari dinul (agama) Islam, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling dari padanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah:22) Wahai saudaraku, Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk kepada kebenaran; ketahuilah bahwa pelakupelaku hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang di atas, tidak ada bedanya antara yang melakukan dengan main-main, sungguh-sungguh, ataupun takut (karena harta,jabatan). Semuanya sama saja, kecuali bagi orang yang dipaksa. Orang yang dipaksa memiliki udzur sebagaimana kisahnya Ammar bin Yassir yang kemudian turun ayat An-Nahl:106. Semua hal itu besar sekali bahayanya, karenanya setiap kita harus berhati-hati dan menjaga diri dengan baik. Jangan sampai kita terjerumus dalam hal yang berbahaya ini. Kita berlindung kepada Allah dari murka dan adzab-Nya yang pedih. Untuk melengkapi risalah ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang dapat mengurangi,merusak,atau membatalkan kesempurnan tauhid Laa ilaaha illallah ini, selain apa yang telah disebutkan di atas. Diantaranya adalah: Menggunakan benang, gelang, dan sejenisnya untuk menangkal bahaya. Termasuk juga menggantungkan selembar kertas, sepotong logam kuningan atau besi yang di atasnya tertulis lafdhul jalalah (Allah) atau ayat kursi atau meletakkan mushaf al-Qur’an di dalam mobil atau tempat lainnya dengan keyakinan bahwa semua itu dapat menjaga dan mencegahnya dari bahaya kecelakaan, dari kejelekan pandangan mata yang mengandung sihir (‘ain). Termasuk pula memasang sepotong kertas atau logam yang berbentuk telapak tangan atau terdapat gambar mata dengan keyakinan untuk mencegah pandangan mata (‘ain). Memasang rajah-rajah di warung atau toko dengan harapan agar terhindar dari kecurian,perampokan, dan harapan agar dagangannya laris. Menggunakan akik, sabuk, atau benda-benda lainnya yang katanya benda tersebut sudah “diisi”, sehingga orang yang menggunakannya memiliki kesaktian, kekebalan, dan lain sebagainya dari banutan jin. Ilmu-ilmu tenaga dalam yang menggunakan bantuan jin, apakah itu white magic ataupun black magic. Semuanya itu dilarang oleh syariat Islam. Apakah itu yang langsung “diisi” ataupun yang diperoleh dengan menggunakan ayat-ayat atau dzikir-dzikir yang bid’ah yang beraneka ragam yang tidak ada asalnya. Semuanya itu dapat merusak syahadat Laa ilaaha illallah. Melakukan ruqyah-ruqyah yang tidak syar’i. Membaca hal-hal yang tidak dimengerti. Membaca ayat Qur’an dicampur hafalan-hafalan lain yang mengandung kesyirikan. Termasuk juga pengobatan-pengobatan “alternatif” yang dilakukan oleh para dukun dengan nama yang beraneka ragam, dengan mengelabui kaum muslimin bahwa seolah-olah pengobatannya adalah pengobatan sacara islam, yang diperbolehkan. Di antaranya adalah pemindahan penyakit dari orang yang sakit ke binatang, kemudian binatang itu disembelih untuk melihat bagian mana yang sakit dari si penderita. Melakukan penyembelihan bukan karena Allah. Untuk rumah atau gedung yang baru di bangun. Disembelih untuk jembatan-jembatan. Penyembelihan kurban pada bulan Syuro (apa yang dinamakan Syuran). yang semuanya itu bertujuan untuk mengambil manfaat dan menghindari kejahatan dari jin dan setan yang dianggap menunggu dan atau menguasai tempat tersebut. Termasuk juga pembuatan bubur syuro yang ada pada masyarakat jawa. Bernadzar, isti’adzah (mohon perlindungan), istighatsah (mohon pertolongan tuk dimenangkan), dan berdoa kepada selain Allah juga tidak diperbolehkan. Hal yang demikian merusak tauhid. “Ngalap berkah” ke kuburan-kuburan/petilasan-petilasan orang-orang yang dianggap shaleh seperti: kyai, nyai, syaikh. Atau “ngalap berkah” ke pohon-pohon angker, tempat-tempat “wingit”. Ada juga yang ke kuburannya para pahlawan, raja, presiden, ataupun nenek moyang. Bahkan ada juga ke makam yang sebenarnya kosong tapi dikatakan sebagai makamnya orang shaleh. Yang aneh lagi, ada juga kuburan yang didatangi untuk ngalap berkah ini yang merupakan kuburan binatang!!. Beribadah di samping kubur dengan keyakinan hal itu lebih afdhal. Meminta kepada penghuni kubur, menjadikan penghuni kubur sebagai perantara antara kita dengan Allah. Melakukan thawaf di kuburan. Kita dilarang sholat di kuburan karena dapat menggiring kepada kesyirikan, bagaimana pula kalau kita beribadah kepada kubur? Untuk menjaga tauhid kita dilarang untuk membuat bangunan di atas kubur (memasang “kijing”). Kita dilarang juga untuk menjadikan kuburan sebagai ied (hari raya). Kita dilarang untuk bersikap berlebih-lebihan kepada orang shalih dan mengangkat mereka melebihi dari kedudukannya. Ada di antara kaum muslimin yang mengangkat mereka melebihi kedudukannya, mereka angkat sederajat dengan kedudukan rasul, bahkan sederajat dengan Allah. Orang-orang shalih tersebut dianggap ma’sum, terbebas dari dosa. Sebagaimana dijelaskan di atas, kita tidak boleh melakukan sihir, mendatangi tukang sihir, dukun, para normal, orang pintar, atau apapun namanya yang berprofesi seperti mereka, yang mengaku mengetahui hal yang ghaib. Kita tidak boleh mendatangi, bertanya, apalagi membenarkan mereka. Hal ini dapat merusak tauhid kita, merusak Laa ilaaha illallah kita. Termasuk juga ilmu nujum yang menggunakan perbintangan yang sekarang ini dinamakan astrologi. Demikian pula Zodiak-zodiak seperti: leo, pisces, aries, dan sebagainya; yang hal ini marak di koran, majalah, ataupun di televisi. Semua ini adalah dilarang. Merasa bernasib sial karena suatu hal juga dilarang. Hal ini dalam bahasa dien (agama) dinamakan sebagai thiyarah. Merasa sial kalau mendengar suara burung tertentu, sehingga membatalkan rencananya. Apabila menabrak kucing ketika berkendaraan sudah pasti akan merasa sial (misalnya kecelakaan).Takut mengadakan perkawinan pada bulan Muharram (Suro), tidak boleh bepergian pada hari Sabtu karena hari tersebut hari sial, dan hal-hal lainnya yang semacam dengan ini. Semuanya ini adalah batil. Tidak ada perhitungan bulan atau hari baik, semua hari adalah baik. Termasuk perbuatan merusak tauhid ada http://www.surau.ladang.net/modules.php?name=News&file=article&sid=89 Azab kubur - Menurut al-Quran dan hadis Khamis, 08 Januari 2004 05:55:02 PM Mati adalah akhir perjalanan hidup setiap insan di dunia ini. Di penghujung jalan, se-tiap hidup yang berjiwa akan merasakan mati. Firman Allah, Tiaptiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali Imran: 185). Mati adalah titik permulaan insan memasuki alam lain (alam lain dalam bahasa Arab di sebut Alam Akhirat). Alam Akhirat ini digelar juga Alam Balasan amalan seseorang semasa hidup di dunia. Amalan baik dibalas baik dan sebaliknya. Tulisan ini me-ngenai amalan jahat, dibalas jahat. Balasan ini bermula daripada memasuki liang kubur lagi. 1. Firman Allah, Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu orang-orang yang zalim ( berada) dalam tekanan-tekanan sakrat (mabuk) mati, sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka (sambil berkata) ``keluarkan nyawamu. Pada hari itu kamu dibalas dengan seksaan yang sangat menghinakan kerana kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar. (Al-An'am:93). Di sini azab bermula dari saat kemati-an lagi, belum pun dikapankan dan dikebumikan. Ini adalah sebahagian daripada seksa yang berlaku sebelum kiamat. Ditambah dengan azab kubur kerana kebanyakan insan akan mengalaminya. (Ibn Hajar, syarah bagi ayat tersebut, Fathul Bari, bab 86 Mengenai Azab Kubur, halaman 600-601). 2. Firman Allah, Nanti akan Kami seksa mereka dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (At-Taubah: 101). Maksud seksa dua kali ialah pertama tembelang orang munafik dan kedua seksa kubur. Atau seksa dunia dan seksa kubur. Semestinya salah satu daripada dua seksa itu ialah seksa kubur. (Ibn Hajar, syarah bagi ayat tersebut, Fathul Bari, bab 86 Mengenai Azab Kubur, halaman 599 dan 601). Nanti akan Kami seksa mereka dua kali iaitu azab seksa di dunia dan azab seksa kubur. (Tafsir Ibn-Kathir bagi ayat ini). 3. Firman Allah, Dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang (sebelum hari bangkit dari kubur), dan pada hari terjadinya Kiamat, dikatakan kepada malaikat: ``Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras. (Al-Mu'min: 45-46). Roh Firaun dan orang-orangnya dalam (tembolok) burung hitam berulang alik ke neraka, begitulah ardhuha (ditunjukkan). Ditunjukkan ini bermula dari dunia ini lagi sebelum Kiamat. Ditunjukkan ini di alam barzakh. Inilah hujah bagi orang yang mengatakan bahawa azab seksa kubur itu memang benar. (Ibn Hajar, syarah bagi ayat tersebut, Fathul Bari, bab 86 Mengenai Azab Kubur, halaman 599 dan 601). Dan pada hari terjadinya Kiamat, dikata kepada malaikat: ``Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'' Ayat ini merupakan dalil yang amat jelas bagi Ahli Sunah mengenai adanya seksa di alam barzakh dan dalam kubur. (Tafsir Ibn-Kathir bagi ayat ini). 4. Sabda Nabi s.a.w.: Apabila seorang mukmin diletakkan dalam kuburnya, datanglah (malaikat-malaikat) kepadanya lalu dia mengucap bahawa tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah. Ini menepati firman Allah berbunyi Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (kalimah tauhid dua kalimah syahadat tersebut). Nabi s.a.w. menyebut mengenai azab kubur dengan http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03635.html [Ar-Royyan-4776] Tanda-tanda Husnul Khatimah agus rasidi Fri, 01 Sep 2006 02:07:30 -0700 Tanda-tanda Husnul Khatimah Written by Ummu Raihanah Monday, 14 August 2006 Setiap hamba Allah yang berjalan diatas manhajnya yang lurus yang berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya ajmain tentu sangat mengharapkan akhir kesudahan yang baik. Allah telah menetapkan tanda-tandanya dintara tanda-tanda husnul khatimah itu adalah: Pertama,mengucapkan kalimah syahadat ketika wafat Rasulullah bersabda :"barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan "La ilaaha illallah" maka ia dimasukkan kedalam surga" (HR. Hakim) kedua, ketika wafat dahinya berkeringat Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya" (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud) ketiga, wafat pada malam jum'at Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah "Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum'at atau pada malam jum'at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur" (HR. Ahmad) keempat, mati syahid dalam medan perang Mengenai hal ini Allah berfirman: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orangorang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman" (Ali Imraan:169-171) Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah bersabda: "Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya" (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) 2. Seorang sahabat Rasulullah berkata: "Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah" (HR. an-Nasai) catatan: Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: "Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya"(HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi) kelima, mati dalam peperangan fisabilillah Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: 1. Rasulullah bersabda:"Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda:Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid "(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi) 2. Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga" (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi) keenam , mati disebabkan penyakit kolera. Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut: 1. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:"Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: "Karena terserang penyakit kolera" ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim" (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad) 2. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;"Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid"(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad) kedelapan,mati karena tenggelam. kesembilan, mati karena tertimpa reruntuhan/tanah longsor. Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Para syuhada itu ada lima; orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang dijalan Allah" (HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad) kesepuluh, perempuan yang meninggal karena melahirkan. Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : "Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh" beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)" (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya. kesebelas, mati terbakar. keduabelas, mati karena penyakit busung perut. Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu': "Para syuhada ada 7: mati terbunuh dijalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid,mati tenggelam adalah syahid,karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid,karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan(bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid" (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu MAjah dan Ahmad) Ketigabelas, mati karena penyakit Tubercolosis (TBC). Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid"(HR.Thabrani) keempatbelas, mati karena mempertahankan harta dari perampok. Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut: 1. "Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid" (HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) 2. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata: "Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku" beliau menjawab: 'jangan engkau berikan' Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka"(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i dan Ahmad) 3. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata : "ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tak mau berdzikir? beliau menjawab: Mintalah tolong orang disekitarmu dalam mengatasinya.Orang itu bertanya lagi : Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab:Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa.Ia bertanya: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? beliau bersabda: berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau mati dan menjadi syahid atau mencegah hartamu dirampas" (HR. An-Nasa'i, dan Ahmad) kelima belas dan keenam belas, mati dalam membela agama dan jiwa. Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut: 1.""Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati mempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid" (HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-tirmidzi, dan Ahmad) 2. "Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid" (HR. An-Nasa'i) ketujuhbelas, mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah. Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam : 1."Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)" (HR. Imam Muslim, an-Nasa'i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad) 2. "setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur" (HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad) kedelapan belas, orang yang meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: "Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaaha illallah' dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga" (HR. Ahmad) tammat walhamdulillahi rabbil alamiin. Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin. dikutip dari kitab "Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah " hal:52-55 M. Nashiruddin Al-Albani, Gema Insani Press, Jakarta,1999 http://www.jilbab.or.id/index.php?option=content&task=view&id=556&Itemid= http://putraworks.wordpress.com/2005/01/16/tanda-tanda-saat-kematian TANDA-TANDA SAAT KEMATIAN January 16, 2005 Filed under: Malay — Putera Emas @ 7:10 pm a) 100 hari : Seluruh badan rasa bergegar. B) 60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak c) 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang- Kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing. d) 7 hari : Mengidam makanan. e) 5 hari : Anak Lidah bergerak-gerak f) 3 hari : Bhagian tengah di dahi bergerak-gerak g) 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak h) 1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu sbuh dan asar. i) Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan). Seelokeloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam dan jangan lagi bercakap-cakap. ******* BILA MALAIKAT MENCABUT NYAWA ******* Baginda Rasullullah S.A.W. bersabda : “Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam bada! n dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai ke lutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu.” Sambung Rasullullah S.A.W. lagi : “Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilingnya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S” “Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang itu tidak lagi melihat orang disekelilingnya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.” Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata : “Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T.” Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan o! leh lida h orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud : “Wahai malaikat maut, kamu cabutlah rohnnya dari arah lain.” Sebaik sahaja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluarlah penulisan ilmu. Maka berkata tangan : Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini menusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan.” Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan, maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata : “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik menghadiri majlis-majlis ilmu.” Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik sahaja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata : “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir.” Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin ini dari arah mata tetapi baru sahaja hendak menghampiri mata, maka berkata mata : “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah.” Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai malaikatku, tulis Asmaku ditelapak tanganmu dan tun! jukkan k epada roh orang yang beriman itu.” Sebaik sahaja mendapat perintah Allah S.W.T maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik sahaja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang. Abu Bakar R.A telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A : “Roh itu menuju ketujuh tempat :- 1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke syurga Adnin. 2. Roh para ulama menuju ke syurga Firdaus 3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina. 4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka. 5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat. 6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik. 7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka. Si Jin, mereka diseksa beserta jasadnya hingga sampai hari kiamat.” Telah bersabda Rasullullah S.A.W. : Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya :- 1. Orang-orang yang mati syahid. 2. Orang-orang yanf mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan. 3. Orang-orang berpuasa di hari Arafah. Sekian untuk ingatan bersama. Wassallam. http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9653 Konsultasi : Aqidah Apakah Orang Yang Bersyahadat Tapi Tidak Melaksanakan Syariat Masih Dsbt Islam Pertanyaan: apakah orang yang bersyahadat tapi tidak melaksanakan syariat , sholat, zakat, haji, dll masih dsbt islam?shg memperoleh hak2nya spt kalau meninggal di sholatkan, mohon di jelaskan, bgmn kalau hal itu terjadi karena kondisi seperti tinggal di negri kafir, atau di negri muslim Ahmad Jawaban: Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba?d. Syarat masuk islamnya seseorang adalah mengucapkan syahadat yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Kalau kesaksian itu dilakukan dengan jujur dan lubuk hati yang paling dalam, maka syah sudah keislaman seseorang. Selebihnya, dia wajib menerima dan mengakui semua kewajiban yang Allah Subhanahu Wata`ala bebankan. Pertama, kewajiban shalat 5 waktu. Kedua, kewajiban untuk membayar zakat. Berikutnya adalah kewajiban puasa bulan Ramadhan dan pergi haji bila mampu. Keempat perkara ini wajib diterima dan diakui sebagai fardhu / kewajiban dirinya sebagai seorang muslim. Mengingkari kewajiban keempat hal ini jelas membatalkan syahadat yang telah dilakukan. Namun para ulama pun membedakan antara orang yang mengingkari kewajiban dengan tidak mengerjakannya namun masih meyakini kewajiban itu. Misalnya adalah seorang muslim yang shalatnya jarang-jarang. Selama dia masih mengakui kewajiban shalat itu, maka dia tidak bisa dikatakan sebagai kafir atau murtad. Sebab mungkin saja dia malas, lalai atau punya sebab lainnya. Tentu kalau tidak shalat maka dia berdosa besar, namun belum sampai membuatnya berubah status menjadi kafir. Demikian juga zakat, ketika ada orang yang tidak mau bayar zakat karena berlaku curang dalam penghitungannya, maka orang ini berdosa besar. Namun selama dia tidak mengingkari kewajiban itu, dia belum divonis kafir. Kecuali bila secara tegas dia mengingkari adanya kewajiban zakat, maka hakim secara resmi berhak menjatuhkan vonis kafir kepadanya. Sebagaimana dahulu Abu Bakar ketika menjadi khalifah memutuskan bahwa kaum yang mengingkar kewajiban zakat sebagai kafir dan langsung diperangi serta halal darahnya. Disini yang perlu diperhatikan adalah ketegasan perbedaan antara tidak melakukan sebuah kewajiban dengan mengingkari eksistensi kewajibannya itu sendiri. Ini adalah dua hal yang berbeda secara nyata. Vonis Kafir Lalu bila seseorang memang nyata-nyata mengingkari kewajiban rukun Islam itu, atau satu ayat saja dari ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem atau sunnah nabawiyah yang shahihah, maka untuk menjatuhkan vonis kafir baginya haruslah melalui prosedur mahkamah syar`iyah. Disitu nanti hakim akan memanggil yang bersangkutan untuk diwawancarai dan dikonfirmasi penyelewengan aqidahnya. Bila memang secara nyata dia mengakui telah ingkar kepada semua kewajiban itu, maka kepadanya dilakukan istitabah, yaitu diberi waktu untuk bertobat beberapa waktu. Ini adalah kesempatan kepadanya untuk berpikir ulang atas penyelewangan pemahamannya itu. Bila masa yang diberikan telah lewat dan dia tetap kokoh pada keingkarannya, jatuhlah vonis kafir dan saat itu dia dianggap murtad. Maka halal darahnya secara hukum karena itu dia bisa dijatuhi hukuman mati. Ini adalah ketegasan hukum Islam kepada orang yang telah menyatakan syahadat tapi ingkar kepada rukun Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena tiga alasan : Orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad yang lari dari jamaah?. Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,?Orang yang menyalahi agamanya dengan agama Islam (murtad), maka penggallah lehernya. (HR At-Thabarani) Dari Jabir ra bahwa seorang wanita bernama Ummu Marwan telah mrutad, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk menawarkan kembali Islam kepadanya, bila dia tobat maka diampuni tapi bila menolak maka wajib dibunuh. Ternyata dia menolak kembali ke Islam maka dibunuhlah wanita itu. (HR. Ad-Daruquthuny dan Al-Baihaqi). Selain itu ada pesan Rasulullah SAW kepada Mu?az bin Jabal sebelum berangkat ke Yaman Siapa pun laki-laki yang murtad dari Islam, maka mintalah mereka untuk kembali. Bila mau menurut, maka bebas hukuman. Dan bila menolak, maka penggallah leher mereka. Siapa pun wanita yang murtad dari Islam, maka mintalah mereka untuk kembali. Bila mau menurut, maka bebas hukuman. Dan bila mereka menolak maka penggallah leher mereka. Demikian juga praktek yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Shiddiq ra. Ketika beliau mendengar ada kelompok masyarakat arab yang ingkar tidak mau membayar zakat serta murtad, maka Abu Bakar As-Shiddiq ra menyatakan perang terhadap mereka. Ini adalah keputusan yang beliu ambil secara yakin meski pada dasarnya perangai beliau lembut, ramah dan penyayang. Namun karena memang demikianlah ketentuan Allah SWT terhadap para pembangkan, maka apa boleh buat, syariat harus ditegakkan. Apa yang dilakukan oleh beliu juga didukung oleh seluruh lapisan shahabat Rasulullah SAW radhiyallaahu ?anhum. Sehingga hukuman mati buat orang murtad merupakan ijma? seluruh umat Islam saat itu. Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthuny meriwayatkan bahwa Abu Bakar ra meminta seorang wanita bernama Ummu Qurfah untuk kembali dari kemurtadannya (istitabah) dimana sebelumnya telah kafir dari keislamannya, namun wanita itu menolak, maka beliau membunuhnya. Hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahwa syariat Islam tidak terlalu mudah untuk langsung memenggal kepada orang yang murtad. Harus ada proses istitabah, yaitu proses dimana hakim memintanya untuk kembali dari kemurtadannya selama masa waktu tertentu. Juga sekalian diancam hukuman mati agar segara berpikir ulang atas tindakannya. Selain itu bisa jadi seolah seseorang itu murtad dari Islam, namun setelah diklarifikasi, ternyata tindakannya tidak sampai mengeluarkannya dari agama Islam. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/5465 Konsultasi : Aqidah Dua Kalimat Syahadat : Pasti Masuk Surga, Betulkah ? Pertanyaan: Assalamu'alaikum wr wb Ustad Pengasuh PKS yang diRahmati Allah SWT, langsung saja Ust, saya ingin bertanya mengenai sebuah pertanyaan dari saudara saya yang non muslim. Dia menayakan kepada saya begini : "Apakah orang yang pernah mengucapkan 2 kalimat syahadah ada jaminan bahwa kelak orang tersebut pasti masuk surga ? ". Saya ingin menjelaskan kepada saudara saya tersebut dengan jawaban yang sekiranya bisa diterima menurut kondisi psikologis dia saat ini yang sedang mencari kebenaran ( mohon disertai dalil/nash ). Karena apabila saya jelaskan dari buku-buku literatur Islam seperti "Makna Syahadatain" karangan Syahid Hawa saya takutnya justru membuat bingung sodara saya tadi. Mohon bantuan dan penjelasan dari usttd. Demikian pertanyaan dari kami, jazakallah khoiron katsirr...wassalammualaikum wr wb Setia Setia Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Dua kalimat syahadat itu memang syarat untuk bisa dikatakan bahwa seseorang itu masuk Islam. Namun kita harus memilahnya menjadi dua hal yang berbeda. Pertama, urusan pengakuan status sosial di dunia. Kedua, urusan pengakuan dari sisi Allah SWT. Bila ada seorang non muslim berikrar dengan mngucapkan lafaz dua kalimat syahadat, dimana dia mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT dan dia juga mengakui bahwa muhammad itu adalah nabi dan Rasul Allah, maka secara status dia adalah seorang muslim. Sehingga semua hal yang terkait dengan hukum, maka kepadanya diperlakukan sesuai dengan statusnya sebagai muslim. Misalnya, bila di mati, maka dimandikan, dikafani dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan muslim. Dia boleh menikahi wanita muslimah, boleh menjadi wali bagi anaknya yang muslimah, berhak mewarisi dan diwarisi hartanya dan lain sebagainya. Sedangkan disisi Allah SWT, tentu saja bila ikrar syahadatnya itu benar-benar murni dari lubuk hati akan diterima oleh-Nya dan dimasukkan ke dalam barisan hamba-Nya. Bahwa dalam perjalananya menjadi muslim dia terkadang suka melakukan maksiat, atau dosa dan hal-hal yang melahirkan ancaman dari Allah SWT, tentu tidak serta merta mengeluarkannya dari barisan muslimin. Sebab dalam pandangan aqidah ahli sunnah wal jamaah, dosa kecil dan dosa besar manusia itu tidaklah menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Selain itu memang ada hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan hal itu Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda,?Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata,?Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka ?(HR. Bukhari 6560 dan Muslim 184) Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,?Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman). (HR. Bukhari 44 dan Muslim 193) Ada juga hadits yang isinya merupakan sumpah Allah SWT bahwa orang yang mengucapkan syahadatain itu akan dikeluarkan dari neraka. Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang Allah SWT yang berfirman,?Demi Izzah-Ku, demi Jala-Ku, demi Kesombongan-Ku dan demi Keagungan-Ku, Aku pasti keluarkan (dari neraka) orang yang mengucapkan (Laa ilaaha illallah). (HR Bukhari) Semua hadits di atas dan masih banyak lagi hadits di atas memang memberikan jamiman bahwa orang yang telah pernah mengucapkan syahadatain itu pastilah dikeluarkan dari neraka dan masuk ke dalam surga. Hanya saja masalahnya, tidak ada jaminan bahwa sebelum masuk ke surga itu apakah akan mampir ke neraka dulu atau tidak. Yang kedua, tentu saja yang dimaksud dengan mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah ikrar yang datang dari lubuk hati, bukan sedekar asal bunyi tapi tanpa rasa percaya. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/3927 Konsultasi : Aqidah Makna Dibalik Kata Syahadat Pertanyaan: Assalamualaikum Pak Ustadz arti dari syahadat kan "Aku bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Aku Bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah". Yang saya ingin tanyakan adalah kata bersaksi disini apa maknanya, sedangkan kan kiti tidak menyaksikan Nabi Muhammad SAW ketika diangkat menjadi Rasul. Semoga Allah SWT senantiasa membukakan pintu ampunan jika dalam pertanyaan ini saya salah berbicara Syarief Jawaban: Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d Makna syahida ? yashhadu adalah menyaksikan. Maknanya adalah ikrar, janji dan sumpah. Apa yang disaksikan ? Yang disaksikan bukan adanya sosok Muhammad bin Abdullah. Karena kalau makna menyaksikan itu seperti melihat atau menonton, jelaslah kita tidak menonton nabi Muhammad. Dan sebaliknya, Abu Jahal, Abu Lahab, Abdullah bin Ubay dan tokoh-tokoh kafir itu pernah melihat, bertemu dan berinteraksi langsung dengan beliau. Mereka pernah ?menonton? nabi Muhammad, tapi mereka tidak dikatakan bersaksi atau bersyahadat. Betul kan ? Jadi makna bersaksi adalah menyaksikan bahwa Muhammad, yang kita belum pernah lihat itu, adalah seorang Rasul. Dia adalah manusia yang diutus oleh Tuhan semua manusia untuk membawa ajaran dan hukum-Nya. Apa yang dibawanya adalah sebuah risalah lengkap hingga akhir zaman dan berlaku untuk semua wilayah dunia. Kalau Anda membenarkan pernyataan itu, maka Anda bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Itu artinya Anda bersyahadat. Sedangkan bila Anda ?nonton? seorang Muhammad, belum tentu Anda bersaksi atas kenabian dan kerasulannya. Abu Jahal dan koleganya itu memang melihat Muhammad berjalan, berdiri atau jongkok, tapi mereka tidak mengakui bahwa dia itu menerima wahyu dari Tuhan dan menjadi Nabi yang membawa risalah yang harus diikuti sebagai sebuah agama. Mereka tidak dikatakan bersyahadat dan karena itu mereka menjadi orang kafir. Semoga Anda bisa membedakan makna bersaksi dengan melihat / ?nonton?. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=3&Itemid=22 Tahukah Antum Makna Syahadat Laa Ilaaha Illallaah Dikirim oleh Kontributor || Senin, 01 Mei 2006 - Pukul: 21:18 WIB LAA ILAAHA ILLALLAH adalah sebuah kata yang sedemikian akrab dengan kita. Sejak kecil (kalau kita hidup di tengah keluarga muslim), kita akan begitu familiar dengan ucapan tersebut. Mungkin karena terlalu biasa mengucapkan kita sering tak peduli dengan makna yang hakiki dari kalimat tersebut. Malahan boleh jadi kita belum paham dengan maknanya. Sehingga bisa saja perilaku kita terkadang bertentangan dengan kandungan dari laa ilaaha illallah itu sendiri tanpa kita sadari. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kehidupan keagamaan kita. Kalimat tersebut secara pasti menentukan bahagia dan celakanya kehidupan seseorang di dunia dan akhirat. Terus apakah terlambat bagi kita untuk tahu tentang makna syahadat tersebut di usia kita sekarang ini.? Jawabnya tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai di tenggorokan kita, mari kita mulai dari sekarang untuk memahaminya. Untuk itu marilah kita mencoba mengangkat masalah makna syahadat ini untuk kemudian dipahami, agar melempangkan jalan kita meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Kalau kita tinjau sebenarnya kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH mengandung dua makna, yaitu makna penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan bahwa satusatunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata. Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah ta'ala berfirman: "Maka ketahuilah(ilmuilah) bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah" (QS Muhammad : 19) Berdasarkan ayat ini, maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti didahulukan daripada rukun-rukun islam yang lain. Disamping itu nabi kita pun menyatakan "Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan ikhlas maka akan masuk ke dalam surga" ( HR Ahmad) Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah mereka yang memahami, mengamalkan dan mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung tauhid yang Allah menciptakan alam karenanya. Rasul mengajak paman beliau Abu Thalib, Ketika maut datang kepada Abu Thalib dengan ajakan "wahai pamanku ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAH sebuah kalimat yang aku akan jadikan ia sebagai hujah di hadapan Allah" namun Abu Thalib enggan untuk mengucapkan dan meninggal dalam keadaan musyrik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal selama 13 tahun di makkah menggajak orangorang dengan perkataan beliau "Katakan LAA ILAAHA ILLALLAH" maka orang kafir pun menjawab "Beribadah kepada sesembahan yang satu, kami tidak pernah mendengar hal yang demikian dari orang tua kami". Orang qurays di Zaman nabi sangat paham makna kalimat tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya tidak akan menyeru/berdoa kepada selain Allah. LAA ILAAHA ILLALLAH adalah asas dari Tauhid dan Islam dengannya terealisasikan segala bentuk ibadah kepada Allah dengan ketundukan kepada Allah, berdoa kepadanya semata dan berhukum dengan syariat Allah. Seorang ulama besar Ibnu Rajabb mengatakan: Al ilaah adalah yang ditaati dan tidak dimaksiati, diagungkan dan dibesarkan dicinta, dicintai, ditakuti, dan dimintai pertolongan harapan. Itu semua tak boleh dipalingkan sedikit pun kepada selain Allah. Kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama tidak membatalkannya dengan aktifitas kesyirikan. Inilah sekilas tentang makna LAA ILAAHA ILLALLAH yang pada intinya adalah pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah ta'ala semata. Perlu untuk diketahui, bahwa telah banyak penafsiran yang bathil yang beredar ditengah masyarakat muslim Indonesia secara khususnya mengenai makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dan semoga kita terhindar dari kebathilan ini, yakni: Laa ilaaha illallah artinya: "Tidak ada sesembahan kecuali Allah." Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah. Laa ilaaha illallah artinya: "Tidak ada pencipta selain Allah." Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup. Laa ilaaha illallah artinya: "Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah." Ini juga sebagian dari makna kalimat laa ilaaha illallah. Tapi bukan ini yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup. Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami menghimbau dan memperingati di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ilaaha illallah ma'buuda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas. (Dikutip dengan berbagai penyesuaian dari: Kitab Tauhid, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al- Fauzan) http://ktpdi.isnet.org/tarbiyah.php?id=0095 Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah Number: isnet/2488; Att: is-mod, is-lam Nomor: tarbiyah/29oct94/563 Bismillaahirrahmaanirrahiim KONSEKUENSI-KONSEKUENSI SYAHADATAIN (1) Assalaamu'alaikum Wr. Wb. Seperti yang telah saya janjikan pada seri yang lalu, dalam forum ini Syahadatain akan dibahas dalam beberapa seri, mulai seri sekarang. Judul yang diberikan adalah "Konsekuensi-konsekuensi Syahadatain", artinya konsekuensi yang harus dipikul oleh orang yang mengucapkan dan mengimani dua kalimah syahadat - ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR -RASUULULLAAH (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah). Dalam kalimah "Hamdalah", dinyatakan bahwa Allah sebagai Rabbul-'aalamiin - Allah sebagai Pencipta, Pengelola, dan Penguasa alam semesta. Allah menciptakan dan mengelola alam semesta disertai dengan aturan-aturan ("Sunnatullah"). "Sunnatullah" ini berlaku untuk seluruh isi alam semesta, dan mereka menyerahkan diri atau tunduk patuh ("Aslama", submit kepada aturan Allah terrsebut (QS 3:83)). Bumi tunduk dengan gaya gravitasinya, matahari tunduk dengan pancaran sinarnya, laut tunduk dengan deru ombaknya, api tunduk dengan panasnya, es tunduk dengan dinginnya,dsb. Seluruh isi alam semesta telah "berislam" dan "bertasbih" kepada Allah-Akbar yang berkuasa atas segalanya (QS 57:1-2 ; 61:1 ; 62:1). Secara original manusia telah "berislam". Proses kejadian manusia di perut ibu menunjukkan proses "keislaman" (submit) ovum, spermatozoa, plasenta, rahim, dan sejenisnya kepada Allah Ta'ala (QS 22:5). Embrio dalam rahim itupun telah mengaku sebagai saksi bahwa Allah sebagai Tuhannya (QS 7:172). Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah (suci), yaitu membawa ketauhidan/keislaman, lalu orang tuanya yang dapat mengubah "pembawaan" itu. Al-Islam memang agama yang original, yang menjadi "blue print/trade mark" seluruh isi alam semesta termasuk manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mau tahu (QS 30:30 ; 3:19,85). Para Nabi dan Rasul menjadi contoh (model) bagi manusia, bagaimana "berislam" kepada Allah SWT. Mereka, sejak Nabi Adam AS sampai Nabi terakhir Muhammad SAW, menyebarkan misi yang sama yaitu kalimah tauhid "Laa ilaaha illallaah" (tiada tuhan selain Allah) (QS 2:130-140). Kalimah ini menjadi indikasi formal seorang Muslim, namun tidak sekedar diucapkan. Kalimah tauhid mengandung konsekuensi-konsekuensi, karena kalimah yang agung itu bermakna : tiada pencipta (Khaaliq), penjaga (haafidh), pengatur (mudabbir), pelindung (walii), raja (maalik), pemberi rizqi (raazaq), tujuan hidup (ghaayah), yang dicintai (mahbuub), dan tiada sesembahan (ma'buud) kecuali Allah semata. Kalimah tauhid menjadikan seorang Muslim hidup merdeka, damai, dan tenang, tanpa kekhawatiran. Dia terbebaskan dari segala penjajahan, perbudakan dari sesama mahluk; dia hanya dikuasai oleh Allah SWT dan hidupnya digantungkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sesuai dengan statusnya sebagai Muslim yang berarti orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat dan menyelamatkan, damai dan mendamaikan. Seorang Muslim harus menjadi rahmat bagi alam semesta, mengikuti jejak Rasulullaah SAW. "Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil'aalamiin" - dan tidaklah Aku utus kamu Muhammad keculai sebagai rahmat bagi alam semesta. Hal ini sesuai juga dengan janji seorang Muslim saat mengakhiri shalat : "Assalaamu'alaikum" (selamat untuk kamu) "Warahmatullaahi" (demikian juga rahmat Allah) "Wabarakaatuh" (demikian juga berkah-NYA) untuk kamu sekalian yang ada di sebelah kanan maupun kiri saya; sambil tengok kanan dan kiri. Maka setelah shalat, janji itu harus dipenuhi. Ingat !! janji itu 5 kali sehari-semalam minimal. Seorang Muslim melaksanakan "Sunnatullah", sebagaimana "Sunnatullah" telah memberi keharmonisan pada kehidupan alam semesta. Muhammadar-rasuulullaah (Muhammad utusan Allah) merupakan kesaksian kedua yang juga mengandung konsekuensi-konsekuensi bagi seorang Muslim. Muhammad SAW adalah Rasul terakhir yang membawa Risalah - bagaimana "berislam" kepada Allah SWT. Beliau sebagai model kehidupan manusia yang terbaik (uswatun hasanah). Oleh karena itu, seorang Muslim harus mengikuti jejak kehidupan "khatamul-anbiyaa" itu, bukan model kehidupan lainnya. Hal ini menuntut untuk mempelajari lebih dalam Siraah Rasul dan hadist-hadist yang menggambarkan kehidupan Rasulullah SAW. Dua kalimah syahadat tersebut adalah pilar pertama dan utama dalam "Diinul-Islam". Semua manusia percaya bahwa alam ini ada penciptanya yaitu Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka belum tentu memakai way of life dari-NYA. Banyak orang percaya bahwa Muhammad SAW itu Nabi/Rasul, tetapi mereka belum tentu mencontoh model kehidupan Beliau. Kita memang perlu introspeksi diri untuk bisa lebih membaca, memahami, menghayati, mengamalkan, dan mendakwahkan SYAHADATAIN. Subhaanallaah Waallaahu a'lam Wassalaamu'alaikum Wr. Wb. (Insya Allah, tunggu seri berikutnya) Muhtar - Aberystwyth UK mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt