Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Periode" dan "saat" (moment) adalah dua konsep yang dikaitkan dengan suatu saat persepsi pada saat terjadinya hubungan, suatu pemahaman sesaat, yang menjadi sarana untuk menciptakan keadaan-keadaan wujud yang lebih jauh. Beberapa konsep dan latihan-latihan lainnya terkait dengan dua konsep ini. Salah satunya adalah latihan untuk "menghentikan" gerakan, dengan menghentikan proses asosiatif biasa untuk sementara waktu. Latihan lainnya adalah menggunakan "Penghentian Waktu", dan "Penghentian Ruang", yang memungkinkan terjadinya operasi "waktu" konstruktif. Seorang Sufi Paripurna mungkin bisa disebut sebagai Penguasa Waktu, artinya orang yang ahli untuk memulai dan menghentikan, ahli untuk membentuk pemahaman. Seseorang yang bisa bekerja dalam tataran ini oleh Syibli disebut orang yang telah lolos dari kekuasaan "hal", keadaan mistikal berupa kegairahan yang meluap (yang sebenarnya) hanyalah kegembiraan umum. Saat merupakan istilah yang juga diberikan untuk "nafas". Ia berarti latihan-latihan fisik yang terkait dengan pernafasan dan juga penggambaran tentang kenyataan bahwa perkembangan Sufi merupakan suatu rangkaian, seperti pernafasan, bukan suatu kondisi statis atau gerakan tidak teratur. Dengan demikian: "Saat adalah suatu keadaan di suatu tempat 'pemberhentian'. Waktu adalah untuk pemula. Nafas adalah untuk manusia paripurna." "Kehadiran" dan "kegaiban" (syuhud dan ghaibat) adalah istilah-istilah yang menunjukkan keadaan-keadaan kesufian yang benar-benar tidak bisa dimengerti oleh orang-orang awam. Seorang darwis mungkin bisa hadir di dunia tak kasat mata, tetapi (ia bisa) tidak ada di dunia kasat mata. Sir Sayyid Ahmad Khan mendefinisikan kegaiban jenis ini sebagai semua yang berada di luar pandangan kita, seperti kekuatan gravitasi. Syibli pernah mengunjungi seorang arif besar, yaitu Junaid. Kala itu istri Junaid mau menyembunyikan dirinya di belakang tabir. Kemudian Junaid berkata, "Tetap di tempatmu -- Syibli tidak ada." Pada saat itu Syibli mulai menangis. Junaid berkata, "Engkau sekarang pasti tidak ada, karena Syibli telah kembali." Ketidakhadiran atau tersembunyi berarti bahwa seorang darwis tengah bekerja di dimensi lainnya, dan tampak tidak hadir. Keadaan ini tidak sama dengan ketiadaan pikiran yang justru bukan keadaan (jiwa) konstruktif atau positif Istri Junaid tidak mampu melihat ketidakhadiran Syibli. Junaid harus memberitahukannya. Begitu juga, orang awam bahkan menyangkal kemungkinan terjadinya keadaan semacam ini, sebab ia tidak bisa memahaminya. Baginya, ini bukan saja tidak hadir, tetapi tersembunyi, tertutup, seperti ketertutupan Syibli. Kehadiran, tentu saja merupakan bentuk lain dari kegaiban, bergantung pada sudut pandangnya: "Hadir (di haribaan) Tuhan berarti tidak hadir di hadapan manusia." Sebagian darwis berganti-ganti diantara polaritas (pengutuban) ini, mungkin secara perlahan-lahan, mungkin secara cepat. Ketika peleburan utuh 26 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi (alkimialisasi) terjadi, maka tidak ada lagi dualitas. Mereka secara mantap berada dalam keadaan hadir, dan mereka tidak tersembunyi dari dunia lainnya. Metodologi para darwis memasukkan penggunaan latihan-latihan yang dimaksudkan untuk menghasilkan tajrid (pelepasan lahir) dan tafrid (kesendirian batin). Keseimbangan yang benar bagi integrasi fakultas-fakultas khusus bisa dicapai dengan "melepaskan keinginan-keinginan terhadap dunia ini secara lahiriah dan secara batiniah menolak ganjaran di akhirat dan di dunia ini". Inilah yang dimaksud tafrid. Tafrid bukan esensi tajrid. Tetapi ia berhubungan dengannya, atau bisa jadi ia memang demikian. Ia mencakup "penolakan terhadap bertambahnya amalanamalan bagi dirinya sendiri, dan menyembunyikan penampakannya karena mengharap keridhaan dan karunia Allah atas dirinya". Metode ini menjelaskan kekurangan-kekurangan yang berkembang dalam agama biasa, yang memusatkan perhatian pada akhirat. Bagi seorang darwis, ini merupakan suatu tahapan awal, yang harus ditinggalkan ketika amal yang sesungguhnya dimulai. Peniadaan dan penetapan eksistensi penghambaan merupakan penafsiran dari dua kata kembar mahw (peniadaan) dan isbat (penetapan). Penggambaran skematis dari satu segi keberadaan darwis ini secara luas disalahpahami oleh orang-orang awam. Setiap peniadaan merupakan suatu penetapan --peniadaan sifat-sifat yang tidak diinginkan atau negatif menghasilkan pengaktifan sifat-sifat positif yang setara. Perkiraan dangkal menganggap teori dan proses ini sebagai peniadaan akal atau jiwa dari seorang darwis. Karena gagal --sebab para darwis menitikberatkan pada amal dan bukan pada teori atau terkait dengan penafsiran-- maka label ini telah menempel pada kata-kata tersebut. "Perubahan" (talwin) dan "ketenangan" (tamkin) merujuk pada sikap-sikap jiwa dan tubuh, begitu juga kondisi-kondisi batin. Ketenangan adalah istilah lain bagi manifestasi kebenaran permanen. Dalam kondisi ini seorang darwis mengalami suatu ketenangan hati permanen yang memungkinkannya untuk memahami realitas sejati atau kenyataan obyektif, yang secara umum disebut kebenaran. Perubahan adalah (bentuk) latihan dan juga kondisi ketenangan hati, dengan melakukan latihan-latihan kehadiran dan kegaiban, sebagaimana telah disebutkan, dan prosedur-prosedur lainnya. Latihan-latihan doa, dimana didalamnya penafsiran-penafsiran dan penggunaanpenggunaan khusus dari rumusan-rumusan Islam dipusatkan, membentuk bagian besar dari terjemahan kitab Hadiah versi Clarke. Kemudian menyusul pembahasan tentang makna-makna kiasan dari kecerdasan, kemiskinan dan kerendahan hati, membujang dan perkawinan, kejujuran, kepuasan dan cinta. Cinta merupakan tema besar yang mewarnai hampir semua puisi Sufi dan juga ajaran-ajaran pribadi dari para guru. Secara esensial, cinta merupakan pencipta keadaan-keadaan pengalaman yang semuanya itu disebut sebagai "karunia' itu sendiri. Ada dua bentuk umum dari cinta --Cinta Biasa dan Cinta Khusus. Mereka 26 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi yang tidak mengikuti perkembangan-perkembangan dalam bidang para Sufi ini akan selalu merancukan antara (cinta) yang satu dengan lainnya, dalam bentuk pergantian yang mengaburkan sehingga menyelewengkan persepsi mereka. Orangorang seperti ini, sebagai contoh, melakukan kesalahan-kesalahan serius dalam menilai pribadi, kelompok dan keadaan. Menyadari hal ini, biasanya mereka dengan susah payah mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahannya secara berkelanjutan (rasionalisasi), akibatnya mungkin tampak rancu bagi mereka yang mengamatinya, apakah prakarsa atau sebaliknya. Muslihat-diri merupakan suatu gejala (penyakit) dari bentuk cinta ini, tanpa mempertanyakan ketulusannya. Meskipun demikian, kualitasnya merupakan subyek bagi perubahan-perubahan yang tidak bisa dipahami oleh individu tersebut. Perbandingan antara Cinta Biasa dan Cinta Khusus dipaparkan. Suatu persepsi barakah dalam bentuk atau wujud nyata dari suatu benda merupakan kualitas dari Cinta Biasa. Ketika hal ini menjadi cinta (Khusus) yang kuat, ia berubah menjadi kecenderungan diri untuk melihat keindahan esensi (dzat) - bukan bentuk. Pengaruh cinta diperlihatkan dengan cara mengontraskan cinta yang melihat keindahan eksistensi (Cinta Biasa) dengan cinta yang menghaluskan eksistensi (Cinta Khusus). Cinta Sejati secara esensial tidak bersifat umum, tetapi khusus. Ia mungkin bisa melihat keindahan dalam semua bentuk, tetapi perhatiannya yang benar-benar diarahkan pada esensi merupakan satu-satunya cinta dalam pengertian finalnya. Seseorang tidak mencintai dalam pengertian ini jika cintanya menimbulkan kebingungan. Hal ini digambarkan melalui sebuah cerita: Seorang laki-laki suatu kali bertemu dengan seorang perempuan cantik. Ia mengungkapkan cintanya kepadanya. Perempuan tersebut berkata, "Di sampingku ada seorang yang lebih cantik dariku, dan lebih sempurna kecantikannya. Ia adalah saudara perempuanku." Ia pun pergi untuk melihat perempuan ini. Kemudian perempuan yang pertama tersebut berkata, "Pembual! Ketika aku melihatmu dari kejauhan, kupikir engkau adalah orang bijak. Ketika engkau mendekat, aku pikir engkau adalah seorang pecinta. Sekarang aku tahu bahwa engkau bukan keduanya." Hikmah dari para darwis menggambarkan suatu karakteristik cinta yang begitu langka sehingga hampir-hampir tidak dimengerti oleh kemanusiaan. Pecinta menganggap pandangan yang sebenarnya kecil menurut kekasihnya sebagai hal besar. Tetapi menyangkut anggapannya sendiri terhadap kekasihnya, ia berpikir kecil. Dari sudut pandang ini, perasaan-perasaan dari Cinta Biasa memantulkan egosentrisitas. Dalam versi terjemahannya, Clarke tetap memakai sejumlah definisi dari para pribadi Sufi dan keadaan-keadaan Sufi yang tidak mudah diungkapkan secara sederhana. Selama tujuh puluh tahun sejak buku tersebut muncul, harus diakui bahwa pengertian Sufi dalam definisi yang beragam sesuai dengan banyaknya faktor itu (memang) belum mantap, katakanlah, di Inggris. Tetapi kemungkinan ini tidak bisa dihindari selama kamus-kamus yang ada tetap mempertahankan anggapan bahwa keringkasan adalah mungkin bagi semua definisi. 26 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sebagai contoh, seorang Fakir bukanlah orang yang miskin (harta). Ia tidak harus seorang zahid, yang merupakan seorang pertapa ketat dan mungkin miskin (harta) atau tidak. Tetapi seorang fakir bisa jadi seseorang yang pada suatu waktu (bersikap) ketat dan di saat lain tidak. Demikian juga seorang yang ketat mungkin tidak menjadi seorang fakir dalam pengertian miskin intelektual secara sengaja atau rendah hati. Orang fakir telah melepaskan kepercayaan terhadap arti penting harta-benda yang terlalu dibesar-besarkan. Sampai pada tingkatan ini ia baik, dan sesuai untuk Jalan tersebut. Ia bahkan mungkin mengabaikan semua gagasan tentang tahapan-tahapan perkembangan, keadaan (hal) atau bahkan tahapantahapan amal. Tetapi ia bisa melakukan hal ini hanya ketika telah sampai pada suatu kondisi yang mungkin baginya, ketika hal ini menjadi fungsinya, bukan pilihannya. Sufi melampaui kefakiran, sebab fakir pada awalnya menginginkan kefakiran, sementara Sufi tidak menginginkan apa pun. Maka dari itu, seorang Fakir mungkin bisa menjadi seorang Sufi, dalam hal ini kefakirannya tidak berpengaruh pada jiwanya. Tidak ada pemantapan istilah-istilah Sufistik yang secara mendasar mungkin dilakukan, meskipun dengan melihat pada keseluruhan ajaran (tradisi) Sufi dan beberapa penggunaan dari nama-nama yang diberikan untuk para Sufi bisa memberikan suatu kesan tentang bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja. Apakah seorang darwis itu? Pendeta Joseph Wolff telah melakukan perjalanan berbahaya melintasi Asia pada abad kesembilan belas, untuk mencari Stoddard dan Conolly, dua perwira Inggris yang ditawan oleh Emir Bukhara. Sebagai seorang bekas pemelukYahudi dan pendeta gereja di Inggris, ia mendapatkan dukungan dari orang-orang berpengaruh di Inggris. Ia bisa bepergian secara bebas di Asia Tengah hanya karena menyebut dirinya sendiri "Derwis Kristiani", dengan memanfatkan prestise dari istilah tersebut. Seorang darwis adalah seorang Sufi. Di Afrika Utara, "darwis" adalah nama yang terhormat, menunjukkan sesuatu yang sedikit lebih (rendah) dari seorang arif, sementara seorang Sufi dipandang dengan rasa curiga sebagai seseorang yang terlibat dalam proses-proses misterius. Di Inggris, seorang Sufi dianggap sebagai "seorang penganut mistik Muhammad dalam bentuk pantheistik", sementara seorang darwis adalah sosok yang aneh --sesuatu yang mungkin oleh orang Afrika Utara disebut sebagai "Sufi". Sekalipun para raja bahkan mungkin menyebut dirinya sendiri sebagai "Fakir", penamaan ini di beberapa tempat bisa memalukan. Seorang akademisi India yang terkenal berkata: "Fakir" dirancukan dengan para pesulap Hindu --dan lebih buruk lagi dari itu. Saya memandang Anda bukan sebagai seorang Fakir, tetapi sebagai orang yang mengikuti Jalan." Dengan meletakkan kata tersebut ke dalam sebuah ungkapan, maka akan membantu menjelaskan penggunaannya. "Ia seorang Darwis," berarti "sosok pribadi yang baik, sederhana dan mencurahkan dirinya pada kebenaran". "Ia seorang Fakir," berarti, "seorang yang berjuang untuk meningkatkan dirinya, dengan kerendahan hati". "Ia adalah seorang Sufi," berarti, "seseorang yang mengikuti 26 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Jalan Sufi", juga berarti, "seseorang yang telah meraih kemajuan di Jalan tersebut". Kebingungan tersebut muncul karena beberapa faktor. Tidak kalah pentingnya dari faktor-faktor ini adalah ternyata para Sufi sendiri tidak mempergunakan penamaan tertentu untuk menunjukkan keadaan atau tahapan, sebab memang tidak ada hal semacam ini dalam Sufisme. Anda bisa menamakan satu pound keju (dengan sebutan) "keju", tetapi seorang Sufi tidak pernah selamanya (menjadi) seorang darwis atau arif. Statusnya berubah sejalan dengan jenjang-jenjang kebenaran dan obyektivitas yang tidak terbatas. Dalam literatur Sufi, kata-kata "Sufi", "Darwis" dan "Fakir" lebih jarang digunakan dibandingkan kata "Arif", "Pecinta", "pengikut", "pengembara". Kata-kata (sebutan) lainnya cenderung merupakan penamaan lahiriah. Dalam Sufisme, kesalahan-kesalahan dari definisi-definisi kamus mungkin diungkapkan secara lebih mencolok dibandingkan bidang-bidang lainnya. Demikianlah tertulis pada Chambers' Dictionary (edisi 1955): DARWIS: "Seorang anggota dari salah satu persaudaraan Mohammedan (Muslim) yang bermacam-macam ..." SUFI: "Seorang mistikus Islam yang pantheistik ..." FAKIR: "Seorang pengemis keagamaan (terutama Islam), yang zuhud ..." Makna-makna dari kata "Mohammed" --atau bahkan "Mohammedan"-- fraternity (persaudaraan), "pantheisme", "mistik", "religius", "pengemis" dan "asketik" (zuhud) tidak sama dengan penggunaan kata-kata tersebut di Timur, dan terutama dalam pemakaian Sufi, daripada dalam bahasa Inggris. Sebuah kamus bahasa Persia, mungkin lebih bersifat puitis, meskipun tampak kurang jelas, mengatakan, "Apakah seorang Sufi itu? Seorang Sufi adalah seorang Sufi" --dan dalam bentuk rima: Sufi chist?-- Sufi Sufi'st. Ini benar-benar merupakan kutipan dari pernyataan Sufi. Penyusun kamus tidak percaya untuk mencoba mendefinisikan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan. Sebuah kamus bahasa Urdu mengatakan, "Sufi merujuk kepada sesuatu dengan ciri khas yang beragam, tetapi secara berturut-turut bisa disebutkan; tahapan-tahapan wujud, terbuka bagi kemanusiaan di bawah lingkungan-lingkungan tertentu, hanya bisa dipahami dengan benar oleh mereka yang berada dalam keadaan 'kerja' (amal) ini; dipandang misterius, tidak bisa dimasuki atau tidak terlihat bagi mereka yang tidak memiliki cara-cara memahaminya." Clarke mengutip literatur Sufi dari para penulis yang paling klasik lebih dari periode tujuh ratus tahun (dari tahun 911 sampai tahun 1670) --Persia, Afghanistan, Turkistan, Arab, India. Sumber-sumber Baratnya mencakup dari tahun 1787 sampai 1881, hampir seratus tahun. Sementara terjemahan kitab Hadiah diterbitkan oleh pers pemerintah India di Calcutta. 26 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Karya khusus ini disesuaikan dengan penjelasan rinci di luar bentuk kultural biasa sebagian, karena ia sendiri merupakan produk dari sebuah sekolah yang menjalin, dengan menyilangkan dan menyilang ulang, aliran Sufistik tradisional selama berabad-abad dimana dalam kurun waktu tersebut sosok darwis telah dikenal jelas. Hubungan saling mempengaruhi ini penting, sebab ia menunjukkan bagaimana aliran Sufistik bertemu, bercampur dan membentuk kembali dengan suatu cara yang menurut penilaian dangkal tentang tarekat-tarekat darwis (justru) tidak diperkirakan. Penulis kitab tersebut adalah Syekh Syahabuddin Muhammad as-Suhrawardi, seorang murid dari pendiri Tarekat darwis as-Suhrawardiyah. Tarekat tersebut didirikan atas dasar madzhab pengajaran oleh Ziyauddin Najib Suhrawardi, yang meninggal pada 1167. Ia menulis kitab Kewajiban-kewajiban Murid. Kehidupannya, seperti kehidupan kebanyakan para guru perintis, tidak didokumentasikan dengan baik. Ini merupakan bagian dari kebijaksanaan yang disengaja, karena pendiri suatu madzhab bermaksud untuk memusatkan perhatiannya kepada madzhab tersebut dan bukan kepada pribadinya. Syahabuddin Muhammad as-Suhrawardi merupakan mahaguru Sufi di Baghdad; ia menjadi sumber pemusatan dan penyampaian ajaran Sufi pada masanya. Para muridnya berkelana jauh dan luas, dengan membawa metodologi dari tarekat tersebut. Sayyid Nuruddin al-Afghani (Ghazna) membawa sistem tersebut ke India, dimana Raja Altamash mengangkatnya sebagai "Syekh Negara" tertinggi. Murid lainnya adalah Najmuddin Kubra, yang mendirikan tarekatnya sendiri --al- Kubrawiyah-- dan merupakan guru bagi semua bentuk keajaiban. Sebagai contoh, ia mempunyai pengaruh gaib, bahkan terhadap bintang, semata-mata melalui proyeksi pemikiran. Begitu banyak dari murid-muridnya menjadi guru (Sufi) karena berkahnya, sehingga gelarnya adalah "Pencetak Auliya"'. Sedikit saja Sufi yang telah mencapai kekuatan atau popularitas seperti ini. Tarekat Suhrawardiyah ditemukan di semua dunia Islam, dari Atlantik sampai Pasifik. Di satu tempat, seorang guru darwis Suhrawardi Bukhara (Syamsuddin Hussein) memiliki empat ratus ribu murid. Ia menikahi putri Sultan Turki Bayazid I, Nilufer Khanum. Penyair besar Sa'di asy-Syirazi adalah murid dari penulis kitab tersebut, dan ia sendiri adalah keponakan serta penerus dari pendiri tarekat tersebut. Berkah dari tarekat ini membekas kepada guru-guru Sufi klasik yang sama yang memberikan inspirasi bagi tarekat-tarekat dan madzhab-madzhab lainnya. Oleh sebab itulah karakter esensial dari ajaran tersebut harus dilihat sebagai hanya diwarnai secara tipis melalui penggambaran organisasi yang dikenal sebagai Tarekat Suhrawardiyah, dan biasanya kata "tarekat" oleh orang-orang Barat diterjemahkan dengan kata "order". Bersumber dari asal-usul yang sama, mereka adalah guru Sufi yang memandang bahwa as-Suhrawardiyah, sebagaimana ia disebut dalam bahasa Arab, mewakili ajaran-ajaran Sufi yang benar pada masa tersebut. Oleh karena itu, ada sejenis 26 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pertukaran keanggotaan dalam tarekat-tarekat tersebut yang tampaknya membingungkan. Sebagian dari guru-guru yang termasyhur tersebut adalah para sayyid, keturunan Muhammad (saw); yang lain adalah keturunan langsung dari tarekat-tarekat lainnya, seperti Bahauddin Zakaria, cucu pendiri Tarekat Qadiriyah. Syekh Jalaluddin at-Tabrizi yang Agung dibesarkan oleh (Tarekat) as- Suhrawardiyah, kemudian bergabung dengan Tarekat Chisytiyah setelah tujuh tahun bersama Syahabuddin di Baghdad. Di sini Sufisme harus dilihat sebagai suatu cara untuk memusatkan suatu ajaran tertentu dan menyebarkannya, melalui wahana manusia, melalui iklim-iklim yang dipersiapkan untuk menerimanya. Sebelum dan sesudah Clarke, hal ini telah diupayakan di Eropa, dengan keberhasilan yang berbeda-beda. Bagaimanapun pengaruh tersebut telah melemparkan kembali seseorang pada akar-akar ajaran tersebut di Timur, di mana ajaran tersebut masih terpusat. Banyak Sufi yang hidup dan bekerja di Barat, tetapi hanya akhir-akhir ini kondisi-kondisi yang benar telah ada untuk melakukan naturalisasi dan pengenalan kembali suatu madzhab penyebaran murni di dunia Barat. Ketidaksabaran dari kebanyakan calon murid hanya sedikit berguna dalam evolusi dari suatu "kerja" semacam ini. Di antara batu pijakan bagi perkembangan jenis ini, versi terjemahan kitab Hadiah dari Kolonel Clarke pasti harus disebutkan. 26 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi TAREKAT-TAREKAT DARWIS Karena pemikiran yang dangkal apa yang tampak kemunafikan pada diri orang yang tercerahkan (mukasyafah), sesungguhnya itu lebih baik dibanding apa yang dirasakan sebagai ketulusan pada si pemula. (Hadhrat Bayazid al-Bisthami) Hampir semua Sufi, pada suatu waktu atau lainnya, merupakan anggota dari salah satu Tarekat yang oleh para sarjana Barat disebut "Order", sebagai isyarat dari dugaan kemiripannya dengan ordo-ordo keagamaan Kristiani pada Abad Pertengahan. Ada beberapa perbedaan penting antara dua jenis organisasi tersebut. Tarekat, bagi seorang Sufi, bukanlah suatu pelestarian entitas diri yang langsung dengan suatu hirarki dan pernyataan yang baku serta membentuk suatu sistem pelatihan bagi pemeluknya. Sifat Sufisme adalah evolusioner, untuk itu suatu lembaga Sufi niscaya tidak mungkin mengambil suatu bentuk permanen sekaku ini. Di tempat-tempat tertentu dan di bawah guru-guru individual, sekolah-sekolah muncul dan melaksanakan suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kebutuhan manusia terhadap penyempurnaan pribadi. Sekolah-sekolah ini (seperti sekolah Rumi dan Data Ganj Bakhsh, sebagai contoh) menarik minat banyak orang yang bukan Muslim, meskipun sekolah-sekolah Sufi sejak kemunculan Islam, selalu dipimpin oleh orang-orang yang berasal dari tradisi Muslim. Kemudian, meskipun Tarekat-tarekat Sufi memiliki aturan-aturan khusus dan serangkaian pakaian dan ritual, hal ini bukan suatu keharusan, dan sejauh mana Sufi mengikuti bentuk-bentuk ini ditentukan oleh kebutuhannya terhadap hal-hal itu, sebagaimana yang diperintahkan oleh gurunya. Beberapa Tarekat besar mempunyai sejarah yang rinci, tetapi kecenderungan untuk membagi ke dalam berbagai bentuk spesialisasi pada waktu-waktu tertentu sama-sama mempunyai karakteristik nominal. Hal ini karena Tarekat dikembangkan melalui wahana untuk memenuhi suatu keperluan batin, tidak diarahkan oleh kerangka kerja organisasinya yang tampak jelas secara lahiriah. Karena begitu banyak sekolah-sekolah tersebut maka salah seorang Sufi terbesar, Hujwiri (w. 1063) menulis sebuah kitab1 yang membahas Sufisme dan Tarekattarekat pada abad kesebelas, dengan memberikan informasi mendalam tentang mereka. Sebagian orang justru menganggap bahwa ia telah mengarang-ngarang sebagian dari bahan tersebut. Bahkan perkembangan itu sendiri, berbeda dengan apa yang diduga orang, merupakan bagian dari kebijaksanaan darwis yang tidak bisa dihindari. Data 27 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ("darwis" dalam Hindu) Ganj Bakhsh (dalam bahasa India berarti Orang Dermawan) adalah gelar Ali al-Hujwiri yang dikenal di India. Dilahirkan di Ghazna (Afghanistan), para Sufi menyebutnya sebagai "Yang Terpilih", orang yang dipilih untuk memaparkan kenyataan-kenyataan tertentu tentang Sufisme dan organisasi Sufi di daratan India. Meskipun bukan berarti Sufi pertama ini tinggal di India (ia dimakamkan di Lahore, Pakistan, dan makamnya diziarahi oleh orang-orang dari semua kepercayaan), tugasnya adalah untuk menegaskan, melalui kehidupan dan karya-karyanya, suatu klaim bahwa Sufisme secara keseluruhan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Arti pentingnya tidak mungkin diabaikan sebagaimana penulis Kristiani John Subhan mengatakan: Makam Ali al-Hujwiri mungkin masih bisa dilihat di Lahore dekat pintu gerbang Bhati. Ia telah menjadi tujuan ziarah dan penghormatan selama sembilan ratus tahun. Semua macam dan kedudukan manusia, para raja dan pengemis, telah mengunjunginya selama berabad-abad, untuk mencari berkah spiritual dan temporal. Semua penakluk Muslim dan para darwis yang mengembara, di saat memasuki negeri ini, telah menjadikan makamnya sebagai titik tujuan penghormatannya.2 Kedudukan Hujwiri di kalangan Sufi mendekati peranan penting sebagai seorang penafsir Sufisme bagi orang-orang Muslim itu sendiri. Bagi Sufi, kitab Kasyful Mahjub memuat bahan-bahan yang hanya bisa dipahaminya, tersimpan dalam bentuk sebuah kitab yang dimaksudkan untuk dibaca oleh orang-orang Muslim yang saleh untuk memperkenalkan mereka kepada cara berpikir Sufi melalui terminologi tradisi formal mereka yang telah dikenal. Kitab tersebut dikaji dengan seksama oleh anggota-anggota dari semua Tarekat. Hujwiri sendiri belajar di bawah bimbingan Abu al-Qasim Jurjani, seorang guru besar dari Tarekat Naqsyabandiyah, dan karya utamanya adalah kitab Kasyful Mahjub, yang merupakan buku pertama tentang Sufisme dan Tarekat dalam bahasa Persia. Kitab tersebut mencatat kehidupan para Sufi terkenal, pada masa kuno maupun kontemporer, referensi-referensi untuk ajaran, shadagah, doa, kepercayaan dan mistisisme. Kitab ini ditujukan kepada mereka yang ingin mendekati Sufisme melalui konteks Islam yang berlaku. Di balik penyajian yang jelas ini, dengan suatu cara yang hanya bisa dipahami oleh para Sufi, kitab Kasyful Mahjub mengandung informasi tentang penggunaan dan makna dari bahasa rahasia yang digunakan para Sufi untuk berkomunikasi dan menjalankan latihan khusus. Untuk sementara semua yang diungkap tentang hal ini termuat pada bagian yang membahas tentang jubah tambalan. Pemakaian jubah tambalan merupakan adat Sufi, sebagai ciri Sufi yang mempraktikkan Jalan tersebut. Ia mungkin bisa disebut sebagai seragam darwis pengembara, dan ini terlihat di hampir semua bagian Asia dan Eropa selama hampir empat belas abad. Nabi Muhammad (saw.) dan beberapa sahabat menunjukkan penerimaan mereka terhadap Jalan Sufi dengan mengadopsi pakaian jubah ini. Banyak guru Sufi menulis tentang cara menjahit lembaranlembaran kain tersebut, siapa yang boleh memakainya, siapa yang boleh 27 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi menganugerahinya, dan sebagainya. Semua fenomena ini adalah bagian dari misteri Sufi. Kajian tentang jubah tambalan yang ditulis Hujwiri, jika dibaca secara dangkal, mungkin bisa memuaskan seorang teolog yang saleh. Dengan merenungkan hubungan antara tambalan-tambalan kain dan kemiskinan, cara menjahit lembaran kain secara benar dan pembenaran lahiriah atas kezuhudan yang ditunjukkan oleh tambalan-tambalan kain itu, maka bab ini bisa dibaca sebagai suatu yang bersifat kesalehan, suatu kumpulan gagasan dan fakta-fakta yang sangat memuaskan dan dikarang untuk tujuan-tujuan sentimentil. Kenyataan ini sangat khas. Ketika membaca teks tersebut, pertama-tama seorang pelajar harus menyadari bahwa dia tidak bisa menerjemahkan kata "tambalan" itu dan mengabaikannya. Dia harus mencermati konsep-konsep yang terkandung dalam istilah Arab itu, dan merenungkannya untuk diterapkan terhadap teks dengan cara tertentu. Kemudian dia akan bisa memahami makna "lembaran", "berjalan" atau "kebodohan yang parah" dan seterusnya. Dengan demikian pengaruh kitab tersebut terhadap Sufi sangat berbeda dengan peneijemahan yang akan dia dapatkan dari suatu pembacaan yang dangkal. Inilah sebuah contoh terjemahan semi harfiah yang diambil dari terjemahan Profesor Nicholson untuk bagian itu: "Berupaya menjahit jubah-jubah tambalan diperbolehkan oleh para Sufi, sebab mereka telah memperoleh reputasi yang tinggi dalam masyarakat; karena banyak orang meniru mereka dan memakai jubah-jubah tambalan serta bersalah karena melakukan tindakan yang tidak terpuji; karena para Sufi tidak menyukai masyarakat selain masyarakatnya sendiri --karena alasan-alasan inilah mereka menciptakan suatu jubah yang tidak bisa dijahit siapa pun kecuali mereka sendiri, dan menjadikannya sebagai tanda untuk saling mengenal dan sebagai suatu lencana. Sedemikian (rumitnya) sehingga ketika seorang darwis menemui salah seorang Syekh dengan mengenakan sebuah baju, Syekh tersebut mengusirnya." Akar kata bahasa Arab yang merupakan asal kata "tambalan" juga memiliki serangkaian makna yang penting. Diantaranya kita bisa mencatat: 1. Yang bukan-bukan, "nyleneh" (raqua). Cara Sufi tampil ketika dia tengah berbicara atau bertindak dalam hubungannya dengan suatu pengetahuanekstra (inderawi) yang tidak bisa dimengerti oleh orang awam. "Ocehan- Pelawak" merupakan terjemahan yang tepat untuk sifat ini. "Bodoh" dalam pengertian Sufi juga berasal dari akar kata yang sama (arqa'a). 2. Mabuk karena anggur (raqaa'). Para Sufi menggunakan analogi kemabukan untuk menyebut pengalaman mistis tertentu. 3. Sikap tidak peduli (artaqa'). Sufi tampak sebagai orang yang tidak peduli terhadap hal-hal yang tampak paling penting bagi orang awam, tetapi secara obyektif mungkin memiliki arti penting lain. 4. Langit Ketujuh (raqa'). Suatu isyarat bagi sifat ketuhanan dalam Sufisme. 5. Papan Catur (ruqa'at). Pergantian hitam dan putih dari cahaya dan kegelapan, bagian lantai di tempat-tempat pertemuan darwis tertentu dengan warna seperti papan catur. 27 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi 6. Baju tambalan (muraqqa'). Satu-satunya kata dari kelompok (kata) ini selain kata terakhir yang bisa digunakan sebagai simbol atau alat, suatu obyek kiasan yang menerangkan akar kata tersebut sebagai suatu keseluruhan dan semuanya mengandung makna Sufi. 7. Menambal baju, berjalan dengan cepat, menulis (prasasti), menguasai sasaran dengan anak-panah. Semua (makna) ini merupakan kata turunan dari akar kata yang sama yaitu raqa'a. 8. Memperbaiki (sumur) menyimbolkan perbaikan "sumur" pengetahuan manusia, yang menurut para Sufi memiliki akar kata yang sama. Salah satu tugas Hujwiri adalah menuliskan kode-kode rahasia Sufi sebagai unsurunsur pokok yang digunakan oleh madzhab-madzhab darwis. Hujwiri datang ke India mengikuti teknik perjalanan yang secara luas dipraktikkan pada Tarekat-tarekat tersebut. Ia dianjurkan gurunya untuk pergi dan menetap di Lahore. Ini merupakan keinginannya yang terakhir, tetapi karena ia berada di bawah disiplin utuh yang berada di antara (status) murid dan guru, maka ia berangkat ke India. Setiba di Lahore, ia melihat jenazah Syekh Hasan Zanjani tengah diusung ke kuburnya. Hujwiri adalah penerusnya, dan untuk itulah ia menyadari bahwa ia diutus karena alasan ini. Contoh penggantian guru-guru Sufi yang menjelang kematiannya dengan mengirim seseorang dari tempat yang sangat jauh seperti ini bukan sesuatu yang aneh dalam sejarah darwis. Hujwiri tidak mendirikan sebuah Tarekat, tetapi tetap sebagai seorang guru secara umum. Namanya termasuk dalam daftar guru-guru dengan barakah-nya yang memancar ke seluruh komunitas darwis, tanpa melihat masa di mana dia hidup. Setelah meninggal, diyakini bahwa kewibawaannya tetap hidup di bumi, sebab kesempurnaannya telah mencapai tingkatan sedemikian rupa sehingga kematian lahiriah tidak memusnahkannya. Tarekat-tarekat Sufi mungkin diorganisir dalam suatu bentuk kependetaan. Di sisi lain, "biara" atau madzhab Sufi mungkin terdiri dari suatu mata rantai orang-orang dan kegiatan yang menyebar di kawasan yang luas dan tidak terlihat oleh orang luar. Oleh karena itu ada Tarekat-tarekat --dan khususnya cabangcabang Tarekat-- dengan beberapa anggotanya berada di India, yang lain di Afrika, sebagian lagi di Indonesia. Secara kolektif mereka membentuk organisasi dari madzhab tersebut. Karena para Sufi meyakini kemungkinan berkomunikasi tanpa kehadiran secara fisik, maka konsep dari suatu Tarekat yang tersebar seperti ini lebih mudah diterima oleh Sufi dibandingkan orang-orang yang terbiasa dengan pandanganpandangan yang lebih konvensional tentang masyarakat dan tujuan manusia. Cabang-cabang Tarekat berupa serikat pekerja, kelompok pelajar, kesatuankesatuan pasukan. Kecuali pada masa yang lebih modern, jenis kesatuan yang ditunjukkan melalui biara konvensional. Biara Sufi, yang secara lahiriah serupa dengan biara Kristiani, Hindu atau Budha, dalam kenyataannya merupakan produk dari kondisi-kondisi ekonomi dan politis, bukan sebagai hasil dari suatu kepentingan esoteris. Menurut para Sufi, "biara merupakan jantung manusia". Sekali lagi, ungkapan ini sejalan dengan gagasan darwis bahwa Sufisme merupakan suatu entitas yang berkembang, dan tidak bisa tetap menjadi satu sistem untuk menurunkan bentuk-bentuk, betapapun menariknya bentuk tersebut. 27 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Di tempat-tempat di mana bentuk kehidupan feodal masih berlangsung, karena terikat kepada hasil pertanian, biara-biara Sufi terus berkembang. Di daerah perkotaan, pusat-pusat Sufi lebih terkait dengan irama kehidupan kota dan mendapatkan penghasilan dari toko-toko yang disumbangkan kepada komunitas atau dari "pajak" pendapatan anggota-anggota tarekat tersebut. Jadi, Tarekat Sufi berperan sebagai lembaga masyarakat yang secara khusus menerima, menggunakan dan menyebarkan Sufisme. Ia tidak memiliki bentuk tradisional, dan penampilan lahiriahnya akan tergantung kepada kondisi-kondisi lokal dan keperluankeperluan "amal". Sebuah perusahaan penerbitan Arab adalah sebuah organisasi Sufi. Di beberapa kawasan, semua pekerja industri dan pertanian adalah para Sufi. Profesi-profesi tertentu di beberapa negara didominasi oleh para Sufi. Kelompok-kelompok para Sufi ini mungkin memandang dirinya sendiri sebagai Tarekat atau biara, yang terlibat dalam tugas khusus penerimaan, pemeliharaan dan penyebaran. Tentu saja faktor sentral Tarekat adalah menghasilkan sosok manusia pengajar, sebagaimana terlihat dari dakwah tarekat atau suatu promosi mekanik dalam hubungannya dengan tingkatan yang tidak bisa diidentifikasi. Para Sufi tidak mempunyai kubu. Hal ini bukan berarti bahwa hirarki dari para Sufi tidak ditentukan dengan baik. Tetapi seorang Sufi dikenal oleh Sufi lainnya, dan sejauh menyangkut tingkatan, melalui cara-cara selain dari penampakan lencana. Suatu tingkatan perkembangan tertentu dari individu, selain harus ditegaskan oleh seorang guru, dipegang oleh para Sufi dan (hanya) bisa dilihat oleh orang-orang lain yang telah mencapai tingkatan serupa. Di dalam sekolah Tarekat itulah penerimaan awal dan perkembangan dari calon Sufi terjadi. Tidak seperti sistem-sistem pengajaran lainnya, tidak ada satu pun bentuk pengondisian. Calon (Sufi) harus dibiasakan kepada prinsip-prinsip Tarekat dan sosok guru, tetapi sebelum hal ini terjadi ia harus diuji. Pengujian tersebut dilakukan dengan tujuan melepaskan pribadi-pribadi yang tidak sesuai. Mereka yang mempunyai keinginan untuk menggabungkan dirinya kepada suatu organisasi atau individu-individu (tertentu) karena kelemahan mereka sendiri, akan tertolak. Orang-orang yang telah tertarik kepada reputasi para Sufi dan ingin meraih kekuatan-kekuatan ajaib akan tersisih. Tugas-tugas awal yang diberikan kepada seorang calon anggota memiliki dua fungsi utama --pertama adalah menentukan kesesuaiannya, kedua adalah memperlihatkan kepadanya bahwa dia harus menginginkan kehidupan Sufi untuk kepentingan kesufian itu sendiri. Seorang guru yang bertanggung jawab atas calon darwis seringkali melakukan apa saja yang dia mampu untuk menghalanginya --bukan dengan cara persuasi, tetapi dengan memainkan suatu peran yang mungkin tampak memantulkan cacat dirinya sendiri. Para Sufi yakin bahwa hanya dengan cara-cara ini mereka bisa berkomunikasi dengan esensi yang menunggu untuk dibangkitkan oleh dorongan hati Sufi. Komunikasi formal dengan kepribadian lahiriah dari calon Sufi tidaklah penting. Ketika jiwa belum mampu menangkap Sufisme secara koheren, sang Sufi tidak akan berusaha membujuknya. Ia harus berkomunikasi dengan kedalaman yang 27 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi lebih besar. Orang-orang yang bisa diyakinkan melalui cara-cara konvensional tentang arti penting Sufisme ini, tidak akan menjadi pengikut yang murni. Banyak laporan-laporan tentang perilaku para Sufi yang konyol dan tidak bisa diterima berasal dari pelaksanaan rencana-rencana semacam ini. Banyak dari Tarekat-tarekat besar telah diberi julukan. Tarekat ar-Rifa'iyah disebut "Para Darwis yang Meraung"; al-Qalandariyah disebut "Gundul"; al-Chisytiyah disebut "Para Musisi"; al-Mevlevi disebut "Tari", dan Tarekat Nagsyabandiyah disebut "Diam". Tarekat-tarekat ini umumnya dinamakan sesuai dengan nama pendiri dari spesialisasi yang mereka wakili. Sebagai contoh, Rumi mengorganisir "tarian-tarian" sesuai dengan apa yang ia pandang menjadi cara terbaik untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman Sufistik bagi murid-muridnya. Sebagaimana tercantum dalam catatan-catatan kuno, tarian-tarian itu sesuai dengan mentalitas dan temperamen orang-orang Konia. Para peniru telah berupaya mengekspor sistem tersebut ke luar daerah budayanya, akibatnya tarian-tarian tersebut tidak ubahnya seperti sebuah pantomim dan pengaruh asli dari gerakannya telah hilang. Gerakan-gerakan ritmis (dan tidak ritmis) yang disebut tarian digunakan banyak Tarekat dan selalu merespon kebutuhan-kebutuhan individual dan kelompok. Dengan demikian gerakan-gerakan Sufi tidak bisa dilakukan, dan tidak membentuk apa yang di mana saja disebut tarian, senam atau semacamnya. Penggunaan gerakan-gerakan mengikuti suatu pola yang didasarkan kepada penemuanpenemuan dan pengetahuan tertentu yang hanya bisa diterapkan oleh seorang mursyid/guru dari sebuah Tarekat darwis. Tampaknya tarian-tarian keagamaan yang dikenal dalam Kristiani, Yudaisme dan bahkan suku-suku primitif merupakan suatu kemerosotan dari pengetahuan ini dan akhirnya ditekan menjadi hiburan, berbentuk magis atau bentuk-bentuk yang superfisial. "Jika pisau cukur tidak digunakan mencukur jenggot setiap hari," ucap penyair Sufi terkenal, Jami', "maka dengan pertumbuhan yang lebih cepat jenggot cenderung lebat seperti rambut di kepala." (Baharistan --Peraduan Musim Semi). Tarekat darwis mungkin bisa dilihat sebagai sebuah organisasi dengan sejumlah aturan minimum. Seperti perhimpunan lainnya yang mempunyai suatu tujuan, aturan-aturan Tarekat akan berakhir ketika tujuan telah tercapai. Diagram-diagram skematis yang dipergunakan oleh Tarekat-tarekat tersebut bisa membantu menjelaskan gagasan ini. Lingkaran rantai dari Tarekat-tarekat itu memperlihatkan bagaimana kelompok-kelompok tersebut berasal dari madzhabmadzhab yang dikelilingi guru-guru tertentu. Madzhab-madzhab ini mengambil inspirasi dari majelis pribadi Muhammad (saw) dan para sahabat dekatnya. Oleh karena itu, dalam sebuah peta geometrik semacam ini, pusat (diagram) memperlihatkan sahabat-sahabat Abu Bakar, Ali dan Abdul Aziz al-Makki dalam sebuah lingkaran. Di sekeliling lingkaran ini ada tujuh lingkaran lebih kecil, masing27 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi masing lingkaran berisi nama dari seorang guru besar. Tujuh Jalan utama Sufisme dan spesialisasi-spesialisasi pengajaran memancar dari pribadi-pribadi ini. Semua Tarekat darwis mengklaim mendapatkan barakah dari salah satu atau beberapa guru ini. Harus diingat bahwa karena Sufisme tidak statis, maka semua barakah para pendiri Tarekat-tarekat tersebut diyakini merembes semua Tarekattarekat tersebut. Bentuk pusaran dan lingkaran-lingkaran yang saling terangkai tersebut menunjukkan kesaling-ketergantungan dan gerakan ini. Dalam puisi, para pengarang seperti Rumi telah menekankan hal ini dengan menyatakan: "Ketika engkau melihat dua orang Sufi bersama-sama, engkau melihat keduanya dan dua puluh ribu lainnya." Tujuan organisasi temporer yang disebut Tarekat dan disetujui oleh semua guru itu adalah menyediakan lingkungan dimana anggota bisa mencapai kemantapan batin yang bisa dibandingkan atau identik dengan keadaan batin para guru awal. Dorongan untuk menciptakan suatu Tarekat dengan menggunakan sekelompok kata-kata dan dipilih untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan atau karakteristik tarekat, sangat jelas. Semua anggota tahu bahwa format tersebut bukan bersifat mistik, tetapi berubah-ubah. Akibatnya, mereka tidak bisa terikat secara emosional kepada lambang-lambang Tarekat. Dengan demikian pemusatan perhatian diarahkan pada rantai penyampaian (hubungan dengan substansi individu-individu). Kemudian, karena diyakini bahwa "Insan Kamil" adalah suatu individualitas sejati dan sekaligus suatu bagian menyeluruh dari kesatuan esensial, maka Sufi tidak mungkin melekatkan dirinya kepada satu personalitas semata. Sejak awal ia mengetahui bahwa kekuatan-kekuatan batinnya sedang dibimbing dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Oleh karena itu, dalam tarekat-tarekat darwis yang menjalankan kesalehan ketat, ada serangkaian kemajuan baku melalui satu individu. Pertama-tama murid harus melekatkan dirinya kepada guru. Ketika ia mungkin telah mencapai perkembangan maksimal, guru akan memindahkannya pada realitas pendiri Tarekat. Dari sini ia memindahkan kesadarannya kepada substansi ("kaki") Muhammad, perintis ajaran (Tarekat) dalam bentuk kontemporer. Dari sini ia dipindahkan kepada realitas Tuhan. Ada cara-cara lain dengan penerapan yang bergantung pada karakter sekolah dan terutama kualitas-kualitas kepribadian yang terkait. Dalam beberapa latihan, murid harus membenamkan dirinya sendiri dalam kesadaran para guru lainnya, termasuk Yesus dan lainlainnya, yang dipandang oleh para Sufi sebagai anggota mereka. Salah satu tujuan ziarah ke makam-makam atau bekas tempat tinggal guru adalah untuk melakukan hubungan dengan realitas atau substansi ini. Dalam ungkapan netral bisa dikatakan bahwa para Sufi meyakini, aktivitas Sufistik dalam menghasilkan seorang Insan Kamil mengakumulasi suatu kekuatan (substansi) sehingga ia sendiri mampu melakukan proses pengubahan individu yang lebih kecil. Hal ini tidak perlu dirancukan dengan gagasan tentang kekuatan magis tersebut, karena kekuatan yang ditempa sang Salik itu hanya akan bekerja bila didasarkan pada niat yang murni dan dia terbebas dari keakuannya. Kemudian ia akan bertindak dengan caranya sendiri, bukan dengan cara yang bisa diantisipasi oleh sang Salik. Lantaran telah melewati jalan tersebut sebelumnya, hanya gurunya 27 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi yang bisa menilai akibat apakah yang akan ditimbulkan dari pengungkapan (tersingkapnya tabir) semacam ini. Di dalam tarekat-tarekat tersebut, ketika murid telah diterima untuk mendapatkan pelatihan di bawah seorang mursyid, ia harus dipersiapkan untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang tidak mampu dimengerti oleh jiwanya yang belum tercerahkan.3 Proses yang mengikuti pengondisian atau pemikiran otomatis, disebut sebagai "pengaktifan hal-hal yang pelik". Tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris untuk istilah teknis "kepelikan" itu. Kata asalnya adalah lathifah (jamak: lathaif). Kata ini diterjemahkan dengan "titik kesucian", "tempat pencerahan", "pusat realitas". Dalam rangka mengaktifkan unsur ini, maka suatu keadaan yang bersifat fisik teoritis ditetapkan dalam tubuh --umumnya dipandang sebagai pusat dimana kekuatan atau barakah terbukti paling kuat. Secara teoritis lathifah dipandang sebagai "suatu organ baru dari persepsi spiritual". Akar kata dalam bahasa Arabnya berasal dari tiga akar kata LThF. Dari akar kata ini, istilah-istilah yang dipergunakan dalam bahasa Arab meliputi konsep-konsep kepelikan, kehalusan, keramahan, karunia atau kerelaan, kesamaran. Oleh karena itu, dalam ungkapan "seks yang lembut," kata yang diterjemahkan dengan "yang lembut" dalam bahasa Arabnya diambil dari akar kata ini. Murid harus membangkitkan lima lathaif, menerima pencerahan melalui lima dari tujuh pusat komunikasi yang halus. Dengan dipimpin oleh pembimbing (Syekh), metode ini bertujuan memusatkan kesadaran pada kawasan tertentu dari tubuh dan kepala, masing-masing kawasan dihubungkan dengan fakultas-fakultas lathifah. Karena setiap lathifah diaktifkan melalui latihan-latihan, kesadaran murid berubah untuk menampung kemampuan jiwanya yang lebih besar. Ia menembus kebutaan yang membuat orang awam tertawan dalam kehidupan dan seolah-olah hal itu tampak sebagai sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, dalam beberapa hal, pengaktifan pusat-pusat lathifah tersebut menghasilkan suatu sosok manusia baru. Untuk pembaca yang secara tidak sadar mengaitkan sistem ini dengan sistem-sistem lainnya yang mungkin menyerupainya, kita harus mencatat bahwa pengaktifan lathaif tersebut hanyalah satu bagian dari suatu perkembangan yang sangat komprehensif dan tidak bisa dilaksanakan sebagai suatu kajian individual. Lima pusat tersebut dinamakan Hati, Ruh, Rahasia, Misterius dan Yang Sangat Tersembunyi. Tanpa membicarakan secara ketat suatu lathifah sama sekali, hal lain adalah Diri yang tersusun dari suatu kumpulan "diri-diri". Inilah keseluruhan dari apa yang oleh orang-orang dipandang sebagai kepribadian. Hal ini ditandai dengan serangkaian rasa dan kepribadian yang berubah-ubah dengan kecepatan gerak yang memberikan kesan kepada seseorang bahwa kesadarannya konstan atau merupakan suatu kesatuan. Padahal tidak demikian. 27 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Kepelikan ketujuh hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mengembangkan kepelikan-kepelikan (kesamaran-kesamaran) lainnya dan menjadi milik seorang arif sejati, pemegang dan penyampai ajaran. Pencerahan atau pengaktifan salah satu atau lebih dari pusat-pusat lathifah tersebut mungkin terjadi secara parsial atau aksidental. Ketika hal ini teijadi, pada suatu waktu seseorang mungkin mencapai suatu pendalaman pengetahuan intuitif berkaitan dengan lathifah yang terlibat. Tetapi jika hal ini bukan suatu bagian dari perkembangan komprehensif, maka jiwa akan mencoba secara sia-sia untuk menyeimbangkan dirinya sendiri di sekitar "piala agung" ini, suatu tugas yang mustahil. Akibatnya bisa sangat berbahaya, seperti semua fenomena mental satusisi, dan meliputi anggapan-anggapan yang berlebihan tentang arti penting diri (ujub), munculnya sifat-sifat tercela, atau suatu pembusukan kesadaran karena membanggakan suatu kemampuan. Latihan-latihan pernafasan atau gerakan-gerakan tari yang dilakukan dengan runtutan yang tepat juga bisa menghasilkan dampak yang sama. Perkembangan yang timpang akan menghasilkan orang-orang yang mungkin mempunyai ilusi bahwa mereka adalah orang yang tercerahkan atau arif Akibat kekuatan inheren dari lathifah, orang semacam ini mungkin hidup di masyarakat luas dan menjadi panutan. Dalam diagnosa Sufi, tipe kepribadian seperti ini menyebabkan munculnya sejumlah besar guru-guru metafisika palsu. Tentu saja mereka sendiri merasa bahwa mereka asli. Ini karena kebiasaan menipu diri sendiri atau memperdaya orang lain belum dihilangkan. Justru kebiasaan tersebut didukung dan diperkuat oleh kebangkitan organ baru yang belum terarahkan, yakni lathifah. Kawasan-kawasan yang terlibat dalam pengaktifan lathifah adalah: Diri (nafsu/hawa), di bawah pusar; Hati, tempatnya hati lahiriah; Ruh, pada sisi tubuh yang berhadapan dengan posisi hati. Rahasia lathifah tepat berada di antara Hati dan Ruh. Misteri berada di dahi; Yang Sangat Tersembunyi berada di otak. Makna-makna aktual dari tempat-tempat ini berasal dari suatu realisasi khusus Sufi ketika lathifah yang dimaksud sedang diaktifkan. Ini hanyalah awal kajian sehingga mereka diberi tempat-tempat ini. Di sekolah-sekolah darwis, ada hubungan dialogis khusus antara guru dan pelajar -- sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali ada seorang guru sejati yang hadir dalam komunitas tersebut, dan sampai pada kondisi-kondisi tertentu telah siap untuk komunikasi tersebut. Tentu saja dalam hal ini Sufisme berbeda dengan filsafat atau suatu praktik yang bisa dipelajari melalui tangan kedua. Pertukaran khusus ini meliputi teknik-teknik yang disebut tajalli (penampakan). Tajalli mempengaruhi setiap orang meskipun hanya sedikit orang yang bisa memahaminya. Sebagai contoh, seseorang mungkin melihat bahwa dirinya "beruntung" atau "melakukan hal yang benar" atau ia "tidak salah langkah". Ini mungkin merupakan akibat aksidental dari tajalli. Karena tidak menyadari sumber fenomena tersebut, seseorang akan menisbatkan penyebabnya kepada sesuatu yang lain, katakanlah "nasib baik". Ia merasa senang karena seseorang memujinya 27 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi atau karena gajinya naik. Semua ini merupakan alasan, rasionalisasi. Ini juga merupakan bentuk tajalli yang sia-sia, sebab operasinya mempunyai kandungan nilai dan bahkan manfaat yang melebihi manfaat-manfaat sekunder yang bisa menghangatkan hati dari penerima yang tidak menyadarinya. Akan tetapi karena tidak menyadari mekanismenya, ia tidak bisa melangkah lebih jauh dalam mendapatkan manfaat-manfaat tajalli. Kondisi ekstatik (fana'), ketika manusia merasa dirinya menyatu dengan penciptaan, atau Pencipta, terpesona, sesuatu seperti rasa mabuk; ketika ia merasa telah memasuki surga; ketika semua rasa saling berganti atau menjadi satu --semua ini menyebabkan ketidakmampuan untuk menerima dan berpartisipasi dalam tajalli. Apa yang dianggap oleh individu sebagai suatu berkah sebenarnya merupakan meluapnya kemampuan. Ini seperti tumpahan cahaya yang dipancarkan pada mata seseorang sampai akhirnya ia buta. Ia mempunyai kemuliaan dan mengalami keterpesonaan. Tetapi ini tidak berguna, sebab ia menyilaukan. Ada tahapan yang lebih lanjut, ketika kebutaan telah dihilangkan, dan ketika kepribadian berada dalam ketergantungan penuh dan cukup siap menerima tajalli. Kemudian ada ilusi tajalli, kadang-kadang berupa kepekaan rasa (kemampuan merasakan sesuatu sebelum terjadi), kadang-kadang berupa suatu refleksi yang berguna untuk kreativitas artistik atau kepuasaan diri, tetapi bagi seorang Sufi, ia merupakan suatu keadaan khayal. Hal ini mudah ditengarai, karena keadaan seperti ini tidak disertai dengan suatu akses pengetahuan. Keadaan ini mengaburkan keadaan sejati, karena semata-mata memberikan suatu sensasi pengetahuan atau kepuasan. Dalam pandangan ini, ia menyerupai suatu impian, dalam mana sebuah keinginan terasa terpenuhi, dengan demikian memungkinkan pemimpi yang gelisah tersebut melanjutkan tidurnya. Jika ia tidak memperoleh suatu hasil yang menggembirakan dari pikirannya sendiri dalam mengatasi masalahnya, maka ia akan terbangun dan menunda istirahatnya. Tajalli palsu yang dialami oleh mereka yang tidak membawa perkembangannya kepada suatu cara yang seimbang, mungkin menimbulkan suatu keyakinan bahwa hal itu merupakan suatu keadaan mistis sejati, terutama jika terbukti bahwa kemampuan-kemampuan supranatural terlihat aktif dalam kondisi ini. Para Sufi memilah antara pengalaman ini dan pengalaman sejati melalui dua cara. Pertama, guru akan langsung mengenali keadaan palsu tersebut. Kedua, sebagai suatu masalah penyelidikan diri (muhasabah), ia selalu bisa ditengarai bahwa pencapaian-pencapaian persepsi itu tidaklah mengandung nilai kepastian. Sebagai contoh, mungkin ada suatu akses intuisi. Mungkin seseorang mengetahui perihal seseorang --membaca pikiran adalah suatu contoh. Tetapi fungsi aktualnya, nilai dari kemampuan membaca pikiran adalah tidak ada. Orang yang menderita karena tajalli palsu akan mampu menceritakan fakta tertentu atau seringkali fakta tentang orang lain yang menandakan kemampuan menembus batas-batas ruang dan waktu. Pengujian tajalli terhadap orang yang tidak bisa mengenali secara langsung apakah asalnya ia merupakan persepsi "supranatural" disertai oleh suatu peningkatan pengetahuan intuitif secara permanen --sebagai contoh, melihat segala sesuatu sebagai satu keseluruhan, atau mengetahui jalan yang akan diambil untuk pengembangan-dirinya, atau jalan yang sesuai bagi orang lain, atau melakukan "keanehan-keanehan". Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan bahwa keajaiban-keajaiban yang seringkali diceritakan para Sufi itu, tidak disebabkan 27 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi oleh suatu jenis kekuatan sebagaimana dipahami secara umum: "Ketika engkau memperoleh pengetahuan Ilahiyah, maka engkau akan menyatu dengan kehendak Tuhan (sehingga) esensi keabadianmu tidak menerima hal-hal lainnya ... Orangorang akan menisbatkan keajaiban-keajaiban kepadamu. Keajaiban-keajaiban itu seolah-olah berasal darimu, tetapi asal-usul dan kehendak tersebut adalah milik Tuhan." (Muqalah VI dari kitab Futuh al-Ghayb). Seperti cabang-cabang lain dari tindakan Sufi, banyak hal-hal lainnya yang tidak dikatakan dan ditulis tentang kepelikan-kepelikan tajalli tersebut. Ini semua hanyalah berperan sebagai petunjuk, dan bisa jadi sama sekali keliru jika diterapkan tanpa memperhatikan kondisi-kondisi yang berlaku. Bagi Sufi, setiap situasi adalah unik dan tidak ada buku pegangan sebagaimana dipahami secara umum. Di samping kesalahan yang bisa menghalangi sebagian besar orang dari apa yang mereka anggap sebagai suatu penyelidikan tentang pencerahan Sufi, praktik pengaktifan lathaif adalah sangat mendasar jika kemajuan (spiritual) yang sesungguhnya ingin dicapai. Guru sejati adalah guru yang mampu mendidik muridmuridnya dengan cara sedemikian rupa, sehingga kebangkitan dari kepelikankepelikan itu terjadi secara bersamaan dan sesuai dengan kemampuan individu. Pepatah mengatakan, "Berilah sebuah manisan kepada seorang anak, maka ia akan bahagia. Berilah ia sekotak besar manisan, maka ia akan sakit." Dalam tahapan pengaktifan lathaif, murid pertama-tama harus mengenali pengaruh-pengaruh Diri terhadap kepribadiannya. Hal ini merupakan sesuatu yang diperkenalkan oleh gurunya. Maka dari itu, hampir sejajar tetapi sedikit di belakang perkembangan ini, ia mendapatkan pengaktifan lathaif-nya yang didorong oleh upaya-upaya sang guru. Ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dia mulai sendiri jika ingin berhasil. Pengalaman Sufistik pertamanya akan terkait dengan pencerahan salah satu lathaif-nya. Sebelum tahapan tersebut dicapai, ia akan menemukan bahwa ia harus mengupayakannya sendiri di wilayah kepribadian. Jika ia terlalu banyak dan lama memusatkan perhatian pada masalah ke-Diri-an itu, maka guru akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam membangkitkan pencerahan lathifah. Dalam berbagai komunikasi dimana faktor ini tidak dipahami secara tepat, memperjuangkan diri menjadi hampir segalanya dan tujuan akhir upayanya. Keterpikatan terhadap guru tetap kuat dan pembebasan kepribadian tidak bisa dihasilkan. Dalam bidang inilah dibandingkan bidang lainnya bahwa para okultis dan sekolahsekolah yang terpilah-pilah, maupun orang-orang yang mencoba-coba secara mandiri, hanya akan menuju pada sistem-sistem pembiakan-diri bagi perjuangandiri, tanpa memperoleh manfaat dari pengalaman itu, yaitu tajalli yang akan menunjukkan kepadanya bahwa mereka mampu mencapai perkembangan yang mereka cari. Dalam menerima seorang murid, guru selalu berhati-hati untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa (calon) murid tersebut memiliki kemampuan untuk maju melalui pemusatan-diri menuju pelepasan lathifah. 28 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Secara umum, doktrin-doktrin Sufi dikaji dan sekaligus diamalkan secara kolektif dalam Tarekat-tarekat darwis. Ini berarti bahwa harus ada keseimbangan antara penyajian intelektual dan pemahaman suatu doktrin serta penerapannya. Selain itu harus ada keseimbangan antara serangkaian pemikiran dan pernikiran lainnya. Konsentrasi sebagai suatu metode melakukan latihan adalah satu hal; tetapi ia harus disesuaikan dengan penyerapan benturan-benturan pasif Bagaimana cara melakukannya adalah suatu bagian yang intim dan metodologi Tarekat-tarekat darwis sangat efektif. Beberapa Tarekat mengkhususkan variasi teknik tertentu. Ketika seorang murid telah dibawa sejauh mungkin ke dalam sekolah dari sebuah Tarekat, dia mungkin dikirim ke (sekolah) lainnya untuk memberikan unsur-unsur spesifik kepadanya dari sekolah tersebut. Hal ini juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab pasti akan ada suatu perkembangan satu-sisi. Jika kemampuan-kemampuan tertentu ingin dikembangkan, maka hal ini harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa untuk memberi peluang bagi perkembangan yang benar dan sejajar pada masa berikutnya di sekolah lainnya. Di antara spesifikasi-spesifikasi dari sekolah-sekolah tersebut adalah latihan qiff (berhenti/diam), yaitu ketika seorang guru memberi aba-aba, "Berhenti!" dan semua gerak fisik dihentikan sampai dia membolehkan para murid untuk istirahat. Latihan tersebut diterapkan oleh para guru Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai Latihan Rahasia Kesembilan dari Tarekat ini, dan menjadi suatu metode yang terbukti efektif untuk menembus jaringan pemikiran asosiatif serta memungkinkan terjadinya penyampaian barakah. Suasana dalam sebuah sekolah Tarekat darwis bisa dirasakan melalui pernyataan di bawah ini sebagai wahana lahiriah dari kuliah pendahuluan oleh Syekh al-Masyaikh, yang ditujukan kepada sejumlah calon (murid) untuk memasuki Tarekat Azhamiyah baru-baru ini: "Tujuan para Sufi adalah menjernihkan diri mereka sampai pada tingkatan tertentu sehingga mereka memperoleh pencerahan (anwar) dari apa yang kita sebut sebagai beberapa sifat Tuhan, atau Nama-nama Indah (Asma'ul-Husna). Tidak ada Sufi yang bisa menjadi bagian dari 'Susunan Tuhan' melalui pemurnian puncak semacam ini. Tetapi hanya dengan cara menghilangkan penderitaan material itu, dia bisa menghidupkan esensi sejatinya, apa yang bisa kita sebut sebagai ruh." "Perhatianmu tergugah oleh anekdot yang diceritakan Allamah Sanai, dalam kitabnya Taman Kebenaran Berdinding. Dalam kitab ini ia menunjukkan bahwa persepsi agama yang dangkal tidaklah tepat, maka ketika aku berbicara tentang Tuhan, Ruh dan lainnya, engkau harus mengingat bahwa semua itu adalah halihwal, sebagaimana ditekankan oleh Ibnu Arabi, yang tidak mempunyai kaitan secara tepat denganmu, dan yang harus dipahami, bukan semata-mata disebut dan dikaitkan dengan emosionalisme." "Al-Allamah Sanai berkata: 28 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi 'Seorang arif pernah bertanya kepada seorang yang (belum) tercerahkan, karena melihat ia mudah menerima asumsi-asumsi yang dangkal, 'Apakah engkau pernah melihat kunyit, atau hanya mendengarnya?' Ia menjawab, 'Aku telah melihatnya, aku telah memakannya lebih ratusan kali (dalam nasi kuning).' Allamah tersebut berkata, 'Baiklah! Tetapi apakah engkau tahu bahwa ia tumbuh dari sebuah biji? Bisakah engkau melanjutkan untuk berbicara seperti ini? Apakah orang yang tidak mengetahui tentang dirinya sendiri bisa mengetahui jiwa orang lain? Ia yang (hanya) tahu tentang tangan dan kaki, begaimana ia bisa mengetahui ketuhanan? ... Ketika engkau mengalami (sendiri), maka engkau akan mengetahui makna keimanan ... Keilmuan secara keseluruhan telah salah arah'." "Selanjutnya, karena banyak perkembangan (rasional) telah merendahkan kilatan batin (ruh) dari sang Salik dan dengan demikian menghalangi kemajuannya menuju kesempurnaan. Untuk mengurangi perkembangan-perkembangan ini, latihanlatihan tertentu harus dilakukan. Latihan-latihan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang Salik. Bagaimana melakukan latihan ini secara tepat bergantung pada amalan dan pengetahuan dari seorang Pembimbing Khusus (mursyid, pir). Sebagian orang mempunyai kesan bahwa pencerahan ini bisa dicapai oleh seorang Salik dengan membaca kitab-kitab Tasawuf dan mempraktikkannya sendiri. Secara teoritis hal ini tidak kuat dan juga tidak dikenal dalam pengalaman mistik, jauh berbeda dari pengetahuan batin kami tentang kepalsuannya. Seorang mursyid tentu saja sangat penting." "Istilah-istilah tertentu harus diperhatikan. Nafs dalam terminologi Sufi bermakna ego sekaligus 'nafas'. Bagaimana cara menggunakan kata tersebut adalah penting untuk diketahui dan dicapai dengan memperhatikan penerapannya dalam kenyataan aktual, bukan dengan membaca kamus semata. Sering dikatakan bahwa nafs al-ammarah (diri yang selalu memerintah) harus ditundukkan. Ini mungkin bermakna bahwa keinginan-keinginan serta sikap-sikap mental dan fisik tertentu harus dilihat untuk apa semua itu dan diperlakukan dengan selayaknya. Dalam penggunaan ini, kata tersebut terlihat bermakna diri atau ego. Dalam penggunaan lain, kata tersebut benar-benar berarti nafas. Sebagai contoh, dalam latihan yang dikenal dengan habs-i-dam, ia berarti 'penahanan pernafasan' di bawah pengawasan ketat seorang Mursyid yang menggunakan latihan ini untuk tujuan khusus dan terbatas." "Kata bai'at berarti mengambil sumpah, ikrar, dan menandakan suatu peristiwa ketika seorang Salik meletakkan tangannya di antara tangan dari seorang Pembimbing Spiritual untuk melakukan ikrar ganda. Di pihak murid, mengikat dirinya untuk mencari Jalan yang ditunjukkan oleh pembimbing. Di pihaknya sendiri, berusaha membimbing sang Salik di Jalan tersebut. Ini merupakan saat yang khusus, khidmat dan penuh makna. Ada suatu interaksi ganda yang saling terkait dalam perjanjian tersebut, suatu hubungan berdasar perjanjian yang diresmikan melalui bai'at ini. Dalam konjungtur inilah seorang Salik diperbolehkan menyebut dirinya sendiri sebagai murid (orang yang berkehendak mencari), Orang yang Terarahkan." 28 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Istilah muraqibah meliputi bentuk-bentuk konsentrasi. Di dalamnya murid berusaha keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran tertentu dari jiwanya dan memusatkan pada hal-hal yang akan memungkinkan pencerahannya dan meletakkan dasar kemantapan pribadinya. Istilah tersebut juga berkaitan dengan sikap duduk dengan kepala menunduk, dagu di lutut, suatu sosok Sufi yang benar." "Kata dzikir secara harfiah berarti pengulangan atau bacaan. Kata ini menjelaskan tindakan dari seorang murid yang mengulang-ulang bacaan sebanyak yang telah ditentukan oleh mursyidnya. Dalam pengertian lain, ia juga disebut wirid." "Istilah teknis tajalli, pencerahan, maupun nur (jamak: anwar) dihubungkan dengan proses pengaktifan menuju realitas independen melalui kekuatan yang terkandung dalam kekuatan Cinta. Dalam proses ini kita bekerja dengan Nama-nama yang Indah (Asmaul Husna). Meskipun secara umum dipandang berjumlah sembilan puluh sembilan, sesuai dengan jumlah biji tasbih Sufi, dalam pengertian ini nama-nama tersebut tidak terbatas. Dalam 'amalan' aktif, nama-nama tersebut pertama-tama terbatas pada nama-nama yang diperlukan untuk membantu mengaktifkan organorgan persepsi dan komunikasi yang khusus." "Tidak ada artinya sama sekali mengaktifkan organ-organ baru yang khusus bagi persepsi dan komunikasi kecuali jika pada saat yang sama individu tersebut mampu menyadari tentang apa yang dikomunikasikan, kepada siapa, dan mengapa. Peningkatan komunikasi dalam dirinya sendiri paling jauh terbatas pada bidangbidang yang dimiliknya --di kalangan para intelektual yang menganggap bahwa mereka memiliki sesuatu untuk disampaikan. Sementara bagi kita sendiri, metodemetode masa kini sudah memadai untuk tujuan-tujuan biasa." "Kata qalb (hati) mungkin bisa dipandang sebagai suatu lokalisasi anatomis dari organ yang harus dibangkitkan. Posisinya terletak di detak jantung fisikal yang biasanya ditentukan di dada kiri. Dalam kepercayaan dan amalan Sufi, organ ini dipandang sebagai tempat dari penglihatan batin utama dan awal yang terlibat dalam 'pencarian' dan 'kerja'." "Pencerahan total terhadap organ ini dan organ-organ lainnya mendahului walayat al-Kubra (kewalian utama) sebagai tujuan Sufi dan sesuai dengan pencerahan dalam sistem-sistem lainnya. Pada tahapan ini ada kekuatan-kekuatan tertentu yang tampaknya mengendalikan fenomena alamiah. Harus diingat bahwa kekuatankekuatan ajaib tersebut berkaitan dengan suatu bidang dimana kekuatan-kekuatan tersebut menyatu dan bermakna dan tidak bisa diuji dari sudut pandang 'penjualmantra'." "Penyatuan yang dicapai Sufi itu disebut fana' (peleburan, peniadaan). Pelumpuhan diri tidak diperbolehkan dan pemeliharaan tubuh secara layak adalah penting." "Sebelum latihan-latihan berlangsung, baik Keseimbangan yang Lebih Besar ataupun Keseimbangan yang Lebih Kecil harus telah dicapai oleh calon Sufi. Keseimbangan ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa manusia biasa tidak mampu berkonsentrasi sama sekali, kecuali untuk periode-periode yang sangat singkat. Dalam kitabnya Fihi Ma Fahi, Rumi menekankan hal ini, suatu persoalan yang paling penting dalam semua situasi pengajaran: 28 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Perubahan-perubahan perasaan (dhamir) adalah milikmu, semua itu tidak terkendali. Jika engkau mengetahui asal-usulnya, maka engkau pasti mampu menguasainya. Jika engkau tidak bisa membatasi perubahan-perubahanmu sendiri, bagaimana engkau bisa membatasi perubahan-perubahan yang membentukmu?" "Disamping kandungan formalnya, sejumlah besar puisi Sufi merujuk pada tingkatan-tingkatan keutuhan atau kemampuan untuk memusatkan jiwa sehingga bisa menemukan jalan menuju kebenaran tidak terpecah-pecah. Dalam kitabnya Kebun Rahasia, ketika Syabistari berbicara tentang suatu kilatan yang berputar dan hanya memberikan suatu ilusi bahwa ini membentuk suatu lingkaran cahaya, (sebenarnya) ia tengah membicarakan pengalaman Sufi yang dikenal oleh semua darwis, dalam suatu tahapan 'penghimpunan' tertentu." Sebagaimana ditegaskan dalam praktik-praktik kerja Tarekat-tarekat (berbeda dari tarekat-tarekat yang mengkhususkan pada penyembahan orang suci), darwis percaya bahwa ada suatu keadaan khusus yang harus diaktifkan. Ini tidak bersifat emosional, dan bukan intelektual seperti pengalaman biasa. Rujukan-rujukan pada pencerahan, penjernihan dan pembedaan berkaitan dengan hal ini. Seorang darwis menjernihkan kesadarannya sehingga ia bisa menyadari keadaan-keadaan jiwa dan kondisi-kondisi realitas yang hanya dimengerti secara lahiriah oleh pikiran awam. Mungkin bisa dikatakan bahwa biasanya orang memahami pikiran dan emosi hanya sebagai suatu kuantitas. Segi yang lebih rumit tetapi sangat mendasar bagi kesempurnaan, yaitu kualitas, sulit untuk dilatih atau dijelaskan, dan oleh karena itu diabaikan oleh semua orang dengan memberikan perkiraan-perkiraan sangat kasar tentang kapasitas keseluruhannya. Tentu saja persepsi tentang kepelikan-kepelikan yang tak terbatas ini tidak mungkin bagi orang awam. Seperti seorang anak kecil yang harus belajar membedakan antara benda-benda kasar dan halus, maka persepsi manusia yang masih mentah harus dilatih dalam hubungannya dengan hal ini. Daya gerak utuh dari Organ Evolusi tersebut hanya akan bekerja jika sesuatu yang terkait dengan pelepasan telah dicapai. Hal ini hanya terjadi ketika persiapanpersiapan pendidikan tertentu telah dilakukan. Sebelum tahapan perkembangan kesadaran itu, berbagai pengalaman yang tidak dapat disangkal menandai tahapantahapan kemajuan tertentu. Pengalaman-pengalaman ini memberikan bukti atas kemajuan dan kekuatan individu untuk melanjutkan pada tahapan berikutnya. Jika ia tidak menerima pencerahan-pencerahan ini dalam rentetan yang benar, ia akan tinggal pada suatu tahapan kesadaran parsial atau kekuatan konsentrasi yang tidak teratur. Salah satu akibat yang tidak diinginkan dari perkembangan lanjut seperti ini adalah ketika calon Sufi itu tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan terhadap pengajarnya. Jika apa yang disebut sebagai Organ Evolusi tersebut dikembangkan dan bisa bekerja, fungsi-fungsi instink, emosi dan intelek diubah serta bekerja dalam suatu suasana baru. Serangkaian pengalaman yang segar dan luas selalu terbuka bagi darwis. Berbagai kemungkinan tak terbatas dan mekanisme yang saling terjalin terlihat dalam hal-hal yang sebelumnya tampak lamban atau digunakan terbatas. Sebuah 28 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi contoh darwis terdapat dalam rujukan pengajaran pada pembolehan mendengarkan musik. Syibli al-Kubra mengatakan: "Mendengarkan musik dengan sengaja secara lahiriah tampak sebagai sesuatu yang merusak; secara batiniah ia merupakan suatu peringatan. Ketika 'Tanda' diketahui, maka orang semacam ini mungkin akan menyimak, karena dia mendengarkan sebuah peringatan. Jika dia tidak memiliki tanda tersebut (bangkitnya Organ Evolusi), berarti dia tengah menyerahkan dirinya kepada kemungkinan bahaya." Sifat sensual musik di sini disebutkan, begitu pula nilai musik yang semata-mata emosional dan secara intelektual terbatas. Semua ini berbahaya, sebab mereka mungkin membawa kepada sensualitas dan karena menghasilkan suatu selera bagi kegemaran sekunder (terhadap musik; karena seseorang bisa menikmati musik sebagai musik), maka ia akan menyelimuti kegunaan musik yang sesungguhnya, yaitu untuk mengembangkan kesadaran. Ini merupakan pengertian musik yang bukan saja tidak dikenal di Barat, tetapi dengan keras disangkal oleh banyak orang di Timur. Karena kekhususan-kekhususan musik, sebagian Tarekat darwis, terutama Tarekat Naqsyabandiyah yang kuat dan sangat mampu beradaptasi, menolak untuk menggunakannya. Demikian pula suatu spesialisasi dari sekolah-sekolah darwis menghargai nilai sejati puisi yang dipergunakan sebagai suatu latihan mistis. Setiap puisi mempunyai beberapa fungsi. Sesuai dengan "realitas"-nya, ia juga akan bermakna bagi Sufi. Dengan landasan-landasan teologis, semua Sufi memperbolehkan mendengar puisi, sebab Nabi Muhammad saw memperbolehkannya. Beliau pernah bersabda, "Sebagian puisi adalah hikmah," dan "Hikmah itu seperti unta betina milik orang saleh yang hilang. Kapan saja ia menemukannya, maka dialah yang paling berhak atasnya." Beliau sebenarnya menggunakan sebuah rima Arab untuk menegaskan tentang tema Sufi tentang suatu realitas sempurna yang tidak lain adalah Tuhan. "Pernyataan Arab yang paling benar terletak pada rima (ungkapan berirama) dari Labid bahwa 'segala sesuatu tidak penting kecuali Allah, karena peristiwa-peristiwa berubah'." Ketika beliau diminta untuk mengomentari tentang puisi, Nabi saw menjawab, 'Apa yang baik darinya adalah baik, dan apa yang buruk darinya adalah buruk. " Ini merupakan diktum yang diikuti oleh para guru Sufi menyangkut pembolehan mendengar, membaca atau menulis puisi. Tetapi, menurut guru besar Hujwiri, puisi secara esensial harus nyata dan benar. Jika ada kepalsuan dan ketidakbenaran didalamnya, maka ia akan meracuni pendengar, pembaca, dan penulisnya dengan kesalahan-kesalahannya itu. Cara-cara puisi didengarkan dan kemampuan pendengar untuk mendapatkan manfaat darinya, adalah penting bagi Sufisme. Para guru darwis tidak akan memperbolehkan jika esensi yang sesungguhnya dari puisi tersebut bisa diapresiasi oleh mereka yang tidak dipersiapkan dengan benar untuk memahaminya secara utuh, meskipun demikian banyak orang yang mungkin meyakini bahwa dia tengah menggali keutuhan itu dengan mendengar sebuah puisi. Hujwiri meneruskan diktum dari sekolah-sekolah darwis itu bahwa mereka yang terhanyut karena mendengar musik sensual adalah mereka yang mendengarkan 28 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi dalam pengertian yang tidak sejati. Mendengarkan musik atau puisi yang sesungguhnya adalah suatu pengembangan, karena memberikan suatu jangkauan pengalaman-pengalaman yang jauh lebih beragam dan bernilai dibandingkan pengalaman-pengalaman yang bersifat lahiriah atau ekstatik. Meskipun demikian, dalam konteks kekinian hal ini hanya bisa diungkapkan dengan suatu pernyataan tegas dan tidak mudah diverifikasi di luar lingkungan Sufi. Bagi Sufi, ada empat Perjalanan. Pertama adalah pencapaian suatu kondisi yang dikenal dengan fana', kadangkala diterjemahkan sebagai "peniadaan". Ini merupakan tahapan penyatuan kesadaran dimana Sufi merasakan harmoni dengan realitas obyektif. Hasil dari kondisi inilah yang merupakan tujuan dari Tarekattarekat darwis. Setelah ini masih ada tiga tahapan. Niffari, seorang guru besar pada abad kesepuluh, menggambarkan empat perjalanan tersebut dalam kitabnya, yaitu Muwaqif yang ditulis di Mesir hampir seribu tahun yang lalu. Setelah ia mencapai tahapan fana', Sufi memasuki perjalanan kedua, di sini ia benar-benar menjadi "Insan Kamil" dengan kemantapan pengetahuan obyektifnya. Ini adalah tahapan baqa', permanensi. Sekarang ia bukan "manusia yang mabuk karena Tuhan", tetapi seorang guru dengan haknya sendiri. Dia memiliki gelar quthub, pusat magnetik, "suatu titik dimana semua mengarah kepadanya". Dalam Perjalanan Ketiga, guru tersebut menjadi seorang pembimbing spiritual bagi setiap orang sesuai dengan individualitas pribadinya. Sementara jenis guru sebelumnya (pada Perjalanan Kedua) hanya mampu mengajar di dalam wahana budaya atau agama lokalnya sendiri. Jenis guru ketiga ini mungkin hadir menjadi berbagai sosok untuk berbagai tipe manusia. Ia bekerja dalam banyak tingkatan. Namun ia bukan "segala sesuatu untuk segala manusia" sebagai bagian dari suatu kebijakan yang terencana. Di sisi lain, dia bisa memberi manfaat kepada setiap orang sesuai dengan potensi orang tersebut. Sebaliknya guru dari perjalanan kedua hanya mampu bekerja dengan orang-orang tertentu. Dalam Perjalanan Keempat, perjalanan akhir, Insan Kamil itu membimbing orang lain dalam tahap transisi dari apa yang secara umum dipandang sebagai kematian fisik, menuju suatu tahap pengembangan yang lebih jauh dan tidak terlihat oleh orang awam. Oleh karena itu, bagi darwis, pemisahan yang terjadi pada kematian fisik konvensional tidak ada. Suatu komunikasi dan pertukaran yang terus-menerus terjadi antara dirinya dan bentuk kehidupan berikutnya. Dalam sebuah komunitas darwis, seperti dalam kehidupan biasa, pencapaianpencapaian spiritual dari seorang individu Sufi mungkin tidak terlihat kecuali bagi mereka yang mampu memahami pancaran-pancaran (emanasi) dari suatu tataran yang lebih tinggi sebagai ciri darwis yang sebenarnya. Tahapan-tahapan inilah yang dirujuk al-Ghazali dalam karya dasarnya, al-Ihya'. Dia mendekati deskripsi tentang tahapan-tahapan itu dari sudut pandang relevansi antara yang satu dengan lainnya dan fungsinya bagi dunia luar. Menurutnya, ada empat tahapan yang mungkin bisa dikiaskan dengan buah kenari. Pilihan (biji) kacang ini secara kebetulan, sebab dalam bahasa Persia, buah kenari disebut "berbiji empat" yang juga bisa diterjemahkan dengan "empat esensi" atau "empat akal". Biji kacang memiliki sebuah selongsong (kulit), sebuah kulit dalam, sebuah 28 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi biji (inti) dan minyak. Selongsong rasanya pahit, berfungsi sebagai penutup selama periode tertentu. Selongsong ini dibuang ketika biji dikeluarkan. Kulit dalam lebih bernilai dari selongsong, tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan biji itu sendiri. Sementara biji merupakan tujuan jika seseorang berusaha memeras minyaknya. Meskipun demikian daging dalam ini mengandung benda yang dibuang (ampas) untuk menghasilkan minyak. Meskipun kitab Niffari termasyhur dan banyak dikaji oleh para sarjana, penerapan praktis metodenya dan penggunaan sesungguhnya dari istilah teknis waqfat yang dia gunakan, tidak bisa dipahami dengan hanya membacanya. Meskipun istilah waqfat terkait dengan "Jeda Ketuhanan" dan latihan "Penghentian" yang memungkinkan seseorang menembus ruang dan waktu, sebenarnya ia merupakan faktor yang sangat rumit dan hanya secara kasar ditunjukkan oleh istilah. Sebagai contoh, ia juga memiliki sifat penyinaran yang menghilangkan kegelapan karena keanekaragaman (wujud) ini. Keanekaragaman disebabkan oleh pemahaman fenomena sekunder sebagai fenomena utama, atau melihat pembedaan (diferensiasi) sebagai perbedaan itu sendiri. Pada tahapan-tahapan paling awal dari latihan darwis, hal ini dijelaskan melalui contoh-contoh dan latihan-latihan sehingga ketika seseorang tengah bekerja dengan konsep "buah", dia tidak boleh memusatkan dirinya dengan jenis-jenis buah yang sangat beraneka ragam, tetapi dengan konsep yang mendasar dari buah tersebut. Sebuah sekolah darwis, baik yang ada di biara atau di kedai minum Eropa Barat, mempunyai makna yang sangat mendasar bagi Sufisme, karena di dalam situasi sekolah itulah bahan-bahan seperti tulisan-tulisan Niffari dikaji dan diamalkan sesuai dengan ciri-ciri khas murid dan kebutuhan-kebutuhan sosial dimana dia bekerja di dalamnya. Karena itulah perkembangan Sufi harus mengambil akar dalam suatu cara tertentu di berbagai masyarakat yang berbeda-beda. Ia tidak bisa diimpor. Begitu juga metode-metode amalan yang sesuai dengan Mesir atau Yoga India abad kesepuluh, tidak bisa bekerja secara efektif di Barat. Cara-cara tersebut bisa menaturalisasikan dirinya, tetapi dengan cara mereka sendiri. Pesona misteri dan pesona Timur yang penuh warna itu selama berabad-abad telah mengaburkan pikiran Barat tentang kenyataan bahwa pengembangan manusia itulah yang menjadi tujuan, bukan tarian-tariannya. Catatan: 1 Kasyful-Mahjub (Mengungkap yang Terhijab). 2 John A. Subhan, Sufism, Its Saints and Shrines, Lucknow, 1938, hlm. 130. 3 Hampir seabad yang lalu, John P. Brown menerbitkan The Dervishes or Oriental Spiritualism (1867), yang merupakan periode dimana sangat sedikit sumber-sumber tentang unsur-unsur aktivitas darwis yang tersedia di Barat. 28 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi PENCARI ILMU Wahai pengembara, aku khawatir engkau tidak akan sampai ke Mekkah --sebab jalan yang kau tempuh menuju Turkistan. (Syekh Sa'di, Kebun Mawar, "Perilaku Para Darwis") Suatu hari aku duduk di halaqah seorang guru di India Utara. Ketika itu seorang pemuda asing dibawa masuk. Ia mencium tangan Syekh tersebut dan mulai berbicara. Selama tiga setengah tahun, katanya, ia telah mengkaji berbagai agama, mistisisme dan okultisme dari buku-buku di Jerman, Perancis dan Inggris. Ia telah pindah dari satu kelompok (keagamaan) ke kelompok lainnya, untuk mencari sesuatu yang bisa membawanya ke jalan yang benar. Agama formal tidak menarik hatinya. Dengan mengumpulkan semua uang yang bisa ia dapatkan, ia telah mengembara ke Timur, dan telah bolak-balik dari Iskandariah ke Kairo, dari Damaskus ke Teheran, melalui Afghanistan, India dan Pakistan. Ia pernah tinggal di Burma [Myanmar] dan Bangladesh, begitu juga di Malaysia. Di semua tempat ini ia telah berbicara dan mengambil catatan-catatan salinan dari guru-guru spiritual dan keagamaan. Tentu saja, secara fisik maupun batin, ia telah menempuh jarak yang jauh. Ia ingin bergabung dengan Syekh ini, sebab ia ingin melakukan sesuatu yang praktis, memusatkan perhatian pada gagasan-gagasan untuk mengembangkan diri. Ia memperlihatkan semua tanda bahwa ia lebih dari siap untuk menyerahkan dirinya kepada disiplin dari sebuah tarekat darwis. Syekh tersebut bertanya kepadanya, mengapa ia menolak semua ajaran lainnya. Ada berbagai alasan, katanya, berbeda-beda dalam hampir setiap kasus. "Ceritakan kepadaku sebagian!" ucap sang guru. Agama-agama besar, katanya, tampaknya tidak melangkah cukup mendalam. Mereka memusatkan diri pada dogma-dogma. Dogma-dogma tersebut harus diterima apa adanya. Zen (salah satu pecahan Budha) sebagaimana telah ia temukan di Barat, sama sekali tidak menyentuh realitas. Yoga menuntut disiplin keras jika hal itu tidak ingin menjadi "sekadar suatu mode sambilan". Kultus-kultus yang terpusat pada kepribadian seseorang didasarkan pada pemusatan terhadap orang tersebut. Ia tidak bisa menerima dasar pemikiran bahwa seremoni, simbolisme dan apa yang disebut sebagai peniruan kebenaran-kebenaran spiritual itu memiliki suatu kebenaran sejati. Di antara para Sufi yang bisa dihubunginya, tampak baginya hanya berusaha mencapai pola yang serupa. Sebagian memiliki sifat pengajaran yang tulus, sebagian menggunakan gerakan-gerakan ritmis yang tampak sebagai peniruan dari sesuatu. Yang lain mengajarkan melalui bacaan-bacaan (wirid) yang tidak bisa dibedakan dari ucapan-ucapan (khotbah). Sebagian Sufi disibukkan dengan memusatkan perhatian pada tema-tema teologis. Maukah Syekh membantunya? 28 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Lebih dari yang engkau ketahui," ucap Syekh. "Manusia itu sedang berkembang, apakah ia mengetahuinya atau tidak. Kehidupan itu satu, meskipun dalam bentukbentuk tertentu ia tampak bermacam-macam. Selama engkau hidup, engkau sebenarnya sedang belajar. Mereka yang belajar melalui upaya sengaja sebenarnya merusak pengajaran yang diproyeksikan bagi mereka pada keadaan normal. Orangorang yang tak terdidik sampai pada tingkatan tertentu mempunyai hikmah, sebab mereka menerima akses dari dampak-dampak kehidupan itu sendiri. Ketika engkau berjalan dan melihat benda-benda atau orang, kesan-kesan ini sebenarnya mengajarimu. jika engkau secara aktif berusaha belajar dari mereka, engkau mengetahui hal-hal tertentu, tetapi semua itu merupakan hal-hal yang telah ditentukan sebelumnya. Engkau melihat wajah seseorang. Di saat engkau melihatnya, pertanyaan-pertanyaan muncul di benakmu, dan pertanyaan itu dijawab oleh pikiranmu sendiri. Apakah ia hitam? Apakah ia jujur? Manusia seperti apakah dia? Juga ada pertukaran konstan antara orang lain dan dirimu sendiri." "Pertukaran ini didominasi oleh pandangan subyektifmu. Maksudku adalah bahwa engkau melihat apa yang engkau lihat. Ini telah menjadi suatu tindakan otomatis; engkau seperti mesin, tetapijuga seorang manusia yang hanya terlatih secara superfisial. Engkau melihat sebuah rumah. Ciri-ciri umum dan khusus dari rumah tersebut terpilah-pilah ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil dan tersimpan dalam akalmu. Tetapi (semua itu) tidak secara obyektif --hanya sesuai dengan pengalaman-pengalamanmu sebelumnya. Pengalaman-pengalaman manusia modern mencakup ini, apa yang telah disampaikan kepadanya. Dengan demikian rumah itu akan tampak besar atau kecil, baik atau jelek, seperti milikmu atau tidak. Dengan rincian yang lebih luas, ia memiliki atap seperti rumah lainnya, memilikijendela-jendela yang aneh. Mesin (pikiran) tersebut berputar dalam lingkaran-lingkaran, sebab ia semata-mata menambah pengetahuan formalnya." Pendatang baru tersebut tampak kebingungan. "Apa yang ingin kusampaikan," ucap Syekh, "adalah bahwa engkau memahami semua hal itu sesuai dengan gagasan-gagasan yang telah ada. Hal ini hampir tidak bisa dihindari kalangan intelektual. Engkau telah memutuskan bahwa engkau tidak menyukai simbolisme." Ia berhenti sejenak. "Apa yang engkau maksud?" "Aku pikir apa yang kumaksudkan adalah bahwa penggunaan simbolisme oleh berbagai lembaga (keagamaan) tersebut tidak bisa memuaskanku sebagai sesuatu yang murni atau perlu," ucap anak muda tersebut. "Apakah itu berarti bahwa engkau ingin menemukan suatu bentuk penggunaan simbol-simbol yang benar?" sergah si guru. "Bagiku, simbolisme dan ritual tidaklah penting,"jawab calon murid tersebut, "dan hal-hal fundamental itulah yang aku cari." "Apakah engkau bisa mengenali sesuatu yang fundamental jika engkau memang (pernah) melihatnya?" "Aku pikir begitu." 28 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Maka hal-hal yang kami katakan dan lakukan akan tampak bagimu semata-mata sebagai persoalan-persoalan pendapat, tradisi, keanehan, sebab kami benar-benar menggunakan simbol-simbol. Yang lain menggunakan mantera-mantera, gerakan, pemikiran dan keheningan, konsentrasi dan perenungan --dan puluhan hal-hal lainnya," Syekh tersebut berhenti sejenak. Pendatang tersebut berbicara. "Apakah Anda berpikir secara eksklusif tentang Yudaisme, ritual-ritual Kristiani, puasa dalam Islam, kepala gundul (para Biksu) Budha, sebagai hal-hal yang fundamental?" Sekarang tamu tersebut tengah memanaskan suasana dengan merambah pada suatu tema intelektual yang karakteristik. "Diktum Sufi mcnyatakan bahwa apa yang tampak itu merupakan jembatan menuju yang 'Sejati'," ucap Syekh itu. "Dalam kasus yang kita bahas, ini berarti bahwa semua itu mempunyai makna. Makna tersebut bisa hilang, hanya menampilkan sebuah ejekan, suatu tindakan sentimental atau kesalahpahaman terhadap sebuah peran. Tetapi jika dipergunakan dengan tepat, hal-hal tersebut secara sinambung terkait dengan realitas yang sebenarnya. "Jadi, pada mulanya semua ritual itu bermakna dan niscaya mempunyai pengaruh penting?" "Secara esensial semua ritual, simbolisme dan lainnya merupakan refleksi dari suatu kebenaran. Ia mungkin telah dicampur, disesuaikan, diselewengkan dengan tujuan-tujuan lain, tetapi ia menggambarkan suatu kebenaran-kebenaran batin dari apa yang kita sebut jalan Sufi." "Tetapi para pelaku tersebut tidakkah mengetahui maknanya?" "Mereka mungkin mengetahuinya dalam satu pengertian, pada satu tataran, suatu tataran yang cukup mendalam untuk mendukung sistem tcrsebut. Tetapi sejauh menyentuh realitas dan pengembangan-diri, penggunaan teknik-teknik ini adalah kosong." "Lantas," ucap murid tersebut, "bagaimana kita bisa mengetahui siapa yang menggunakan tanda-tanda lahir tersebut dengan cara yang benar, yaitu cara pengembangan, dan siapa yang tidak mengetahuinya? Aku bisa menerima bahwa indikasi-indikasi superfisial itu memiliki nilai potensial, sebab indikasi-indikasi tersebut bisa membawa kepada sesuatu yang lain, dan kita memulainya di mana saja. Tetapi aku tidak bisa mengatakan kepada Anda, sistem apa yang harus kuikuti?" "Tadi engkau mengajukan permintaan agar diijinkan memasuki lingkaran kami," ucap Syekh, "dan sekarang aku telah berhasil membuatmu kebingungan sampai pada satu tingkatan dimana engkau mengakui bahwa dirimu tidak bisa menilai. Baiklah, itulah esensinya. Engkau tidak bisa memutuskan. Engkau tidak bisa menggunakan instrumen untuk menilai. Engkau melakukan sebuah tugas sendirian: mencari kebenaran spiritual. Engkau melihat kebenaran ini dengan arah yang keliru dan menafsirkan manifestasi-manifestasinya dengan cara yang salah. Apakah 29 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi mengejutkan jika engkau akan tetap dalam keadaan ini? Ada satu alternatif lain untukmu dalam keadaanmu saat ini. Pemusatan yang berlebihan terhadap tema tersebut, kecemasan dan emosi yang lahir dari dirimu, pada akhirnya akan bertumpuk sedemikian rupa sehingga engkau akan berusaha menjauhinya. Lalu apa yang akan terjadi? Emosi akan menguasai akal, dan engkau bisa jadi akan membenci agama atau --lebih mungkin-- beralih pada cara pemujaan tertentu yang mengambil tanggung jawab tersebut. Engkau akan menetap dengan anggapan bahwa dirimu telah menemukan apa yang engkau cari." "Apakah tidak ada alternatif lain, meskipun dengan anggapan bahwa aku menerima keyakinan Anda, bahwa emosiku bisa menguasai akalku?" Pelatihan intelektual tidak (bisa) menerima secara ramah terhadap setiap anjuran yang tidak komprehensif, ia juga tidak bisa dikuasai oleh emosi. Kekakuan berpikir dengan nada yang samar ini membuktikan bahwa pemikir tersebut berusaha menegaskan sesuatu. Hal ini tidak lolos dari pengamatan Syekh tersebut. "Pilihan, yang tidak akan engkau ambil ini, adalah pelepasan. Engkau lihat, ketika kami melepaskan, kami tidak melakukannya seperti cara yang engkau lakukan. Akal mengajarmu untuk melepaskan pikiran dari sesuatu dan memandangnya secara intelektual. Apa yang harus kami lakukan adalah untuk melepaskan diri dari akal dan (sekaligus) dari emosi. Bagaimana engkau bisa mencapai sesuatu jika menggunakan akal untuk menilainya? Masalahmu adalah bahwa apa yang engkau sebut akal (intelek) sebenarnya merupakan serangkaian gagasan yang secara bergantian menguasai kesadaranmu. Engkau tidak memandang akal secara memadai. Bagi kami, intelek merupakan suatu kumpulan sikap yang relatif harmonis yang telah melatihmu untuk memandang sesuatu dengan cara tunggal. Menurut pemikiran Sufi, ada suatu tingkatan di bawah akal yang tunggal dan kecil, tetapi vital. Ia adalah akal sejati. Akal sejati ini merupakan alat pemahaman yang ada pada setiap manusia. Dari waktu ke waktu dalam kehidupan manusia biasa, ia menyeruak, yang menghasilkan fenomena aneh yang tidak bisa dipahami melalui cara-cara biasa. Kadang-kadang fenomena ini disebut fenomena supranatural (occult phenomena), kadangkala hal ini dianggap sebagai suatu yang melampaui hubungan ruang atau waktu. Ini merupakan unsur dalam diri manusia yang bertanggung jawab atas perkembangannya menuju suatu bentuk yang lebih tinggi." "Jadi aku harus menerimanya berdasar kepercayaan?" "Tidak, engkau tidak bisa menerimanya berdasar kepercayaan; meskipun engkau menginginkannya. Jika engkau menerimanya berdasar kepercayaan, engkau akan segera mengabaikannya. Meskipun secara intelektual engkau (bisa) diyakinkan bahwa ia perlu diambil sebagai hipotesa, tetapi engkau akan segera kehilangan dia. Tidak, engkau harus mengalaminya. Tentu saja hal ini berarti bahwa engkau harus merasakannya dengan suatu cara dimana engkau tidak merasakan yang lain. Ia akan masuk ke dalam kesadaranmu sebagai suatu kebenaran dengan kualitas yang berbeda dari hal-hal lain yang telah terbiasa engkau pandang sebagai kebenaran. Karena sangat berbeda, maka engkau mengenali bahwa ia berasal dari kawasan yang kami sebut 'kawasan lain'." Pengunjung tersebut kesulitan untuk mencerna hal ini dan kembali pada cara berpikirnya yang sudah mapan. "Apakah Anda mencoba menekankan suatu 29 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi kepercayaan dalam diriku bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dan bahwa aku (bisa) merasakannya? Sebab jika tidak, aku tidak melihat begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk diskusi ini?" "Aku yakin, engkau akan mengira bahwa aku telah berkata kasar," ucap Syekh tersebut dengan ramah, "tetapi aku harus mengatakan bahwa semua hal itu tidak seperti yang engkau lihat. Engkau tahu, engkau datang ke sini untuk berbicara. Aku telah berbicara kepadamu. Sebagai akibat dari pembicaraan dan pemikiran kita, banyak hal telah terjadi. Sejauh menyangkut perhatianmu, selama ini kita memang hanya berbicara. Engkau mungkin merasa bahwa dirimu bisa diyakinkan atau tidak. Bagi kami makna dari keseluruhan peristiwa tersebut jauh lebih besar. Sebuah tenaga timbul sebagai akibat dari pembicaraan ini. Ia tengah terjadi, sebagaimana engkau bisa membayangkannya dengan baik pada pemikiran-pemikiran dari semua yang hadir di sini. Tetapi sesuatu yang lain juga tengah terjadi --kepadamu, kepadaku, dan di mana saja. Sesuatu yang engkau pahami ketika engkau memahaminya. Ambillah contoh pada tingkat yang sangat sederhana tentang sebab dan akibat sebagaimana yang biasa dipahami. Seseorang pergi ke sebuah toko dan membeli sebuah sabun. Sebagai akibat dari pembelian ini, banyak hal bisa terjadi - -si pemilik toko memiliki uang lebih banyak, mungkin lebih banyak sabun yang akan dipesan dan seterusnya. Kata-kata yang diucapkan dalam transaksi ini mempunyai suatu akibat, bergantung pada kondisi jiwa dari kedua belah pihak. Ketika orang tersebut meninggalkan toko, ada satu faktor tambahan dalam kehidupannya yang tidak ada sebelumnya --yakni sabun. Banyak hal bisa terjadi sebagai akibat dari transaksi ini. Tetapi bagi dua karakter utama tersebut, kejadian penting sebenarnya adalah bahwa sebatang sabun telah dibeli dan dibayar. Mereka tidak mempunyai kesadaran tentang percabangan transaksi itu dan tidak tertarik kepadanya. Hanya ketika sesuatu yang berarti --dari sudut pandang mereka-- terjadi, barulah mereka berpikir lagi tentang hal ini. Kemudian mereka akan mengatakan, 'Lucunya, orang yang membeli sabunku adalah seorang pembunuh atau mungkin ia seorang raja. Atau ia meninggalkan sebuah uang palsu.' Seperti setiap kata, setiap tindakan mempunyai satu akibat dan satu tempat. Ini merupakan dasar sistem-tanpa-sistem dari Sufi. Sebagaimana tentu saja telah engkau baca dalam berbagai cerita, Sufi bergerak dengan tindakan-tindakan yang sangat kompleks dan terjadi dalam kesadaran batin terhadap makna tindakannya." "Aku mengerti apa yang Anda maksudkan," ucap pengunjung itu, "tetapi aku tidak bisa mengalaminya. Jika ini benar, tentu saja hal ini sangat bergantung pada banyak hal. Cara pemujaan tertentu berlaku, pengalaman-pengalaman profetik; kegagalan dari semua orang, kecuali segelintir saja yang berhasil, dalam memecahkan teka-teki kehidupan hanya dengan memikirkannya. Hal ini juga bisa berarti bahwa seseorang yang menyadari perkembangan-perkembangan kompleks di sekitarnya bisa menyelaraskan dirinya dengan perkembangan-perkembangan tersebut sampai pada satu tingkatan yang mustahil bagi orang lain. Tetapi harga percobaan ini dibayar dengan membuang pengetahuan seseorang yang berharga. Aku tidak bisa melakukan itu." Syekh tersebut tidak menginginkan suatu kemenangan verbal dan tidak menutup pembicaraan. "Sahabatku, suatu ketika seseorang pernah cidera kakinya. Ia harus berjalan dengan sebuah tongkat. Tongkat ini sangat berguna baginya, untuk membantunya berjalan maupun untuk tujuan-tujuan lain. Ia mengajarkan semua 29 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi keluarganya untuk menggunakan tongkat padahal mereka hidup dengan kaki normal. Akan tetapi, setiap orang berambisi untuk memilikinya. Sebagian tongkat terbuat dari gading, yang lain dihiasi dengan emas. Sekolah-sekolah dibuka untuk melatih orang menggunakannya, kursi-kursi universitas dimasuki untuk mengkaji aspek-aspek yang lebih tinggi dari ilmu ini. Ada segelintir orang memulai berjalan dengan tongkat. Hal ini dianggap memalukan dan tidak masuk akal. Disamping (memang) ada banyak kegunaan tongkat. Sebagian dari mereka (yang berjalan tanpa tongkat) dicaci dan sebagian dihukum. Mereka berusaha memperlihatkan bahwa sebuah tongkat kadang-kadang bisa digunakan, ketika diperlukan. Atau banyak kegunaan tongkat tersebut yang bisa dipenuhi dengan cara-cara lainnya. Sedikit orang yang mau mendengar. Untuk mengatasi prasangka, sebagian orangorang yang bisa berjalan tanpa dukungan (tongkat) tersebut mulai berperilaku yang sama sekali berbeda dari masyarakat yang mapan. Tetap saja jumlah mereka sedikit. Meskipun ternyata tongkat digunakan selama beberapa generasi, sebagian kecil orang sebenarnya bisa berjalan tanpa tongkat, sebagian besar masyarakat 'membuktikan' bahwa tongkat itu merupakan keharusan. Mereka berkata, 'Lihat orang ini. Ia berjalan tanpa tongkat. Lihat! Ia tidak bisa.' 'Tetapi kami memang berjalan tanpa tongkat,' ucap pejalan-pejalan biasa (yang tidak menggunakan tongkat) mengingatkan mereka. 'Itu tidak benar, itu hanyalah khayalanmu sendiri,' ucap orang-orang yang pincang tersebut --sebab pada waktu itu mereka juga menjadi buta, sebab mereka tidak mau melihat." "Analogi tidak sepenuhnya sesuai untuk hal ini," ucap anak muda tersebut. "Apakah analogi (bisa) sepenuhnya diterima?" tanya Syekh tersebut. "Tidakkah engkau pahami bahwa jika aku bisa menjelaskan segala sesuatu dengan mudah dan sempurna melalui satu cerita tunggal, maka pembicaraan ini tidak perlu? Hanya kebenaran-kebenaran parsial yang bisa diungkapkan secara tepat melalui analogi. Sebagai contoh, aku bisa memberikan suatu bentuk sempurna dari suatu lempengan yang berbentuk bundar dan engkau bisa memotongnya menjadi ribuan kepingan. Masing-masing potongan bisa jadi suatu duplikat dari potongan-potongan lainnya. Tetapi, sebagaimana kita semua tahu, sebuah lingkaran tentu saja relatif berbentuk bundar. Tambahkan dimensinya secara proporsional ratusan kali, maka engkau akan menemukan bahwa ia bukan lagi suatu lingkaran yang sesungguhnya." "Ini merupakan fakta dari ilmu kebendaan, aku tahu bahwa kebenaran teori-teori ilmiah hanyalah bersifat relatif. Ini adalah klaim dari semua ilmu." "Tetapi engkau tetap mencari kebenaran utuh melalui cara-cara relatif." "Ya dan demikian pula Anda, sebab Anda mengatakan bahwa simbol-simbol dan yang lainnya merupakan 'Jembatan menuju hakikat,' meskipun semua itu tidak sempurna." "Perbedaannya adalah bahwa engkau telah memilih satu metode tunggal dalam mendekati kebenaran. Ini tidak cukup. Kami menggunakan banyak cara yang berbeda dan mengetahui bahwa ada suatu kebenaran yang bisa dipahami oleh suatu organ batin. Engkau mencoba mendidihkan air, tetapi tidak tahu caranya. 29 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Kami mendidihkan air dengan membawa semua unsur-unsur tertentu --api, wadah, air." "Tetapi bagaimana dengan akalku?" "Ia harus menempati perspektifnya yang benar, menemukan tingkatannya sendiri, bila ketimpangan kepribadian tersebut ingin diperbaiki." Ketika pengunjung itu telah pergi, seseorang bertanya kepada orang alim tersebut, "Maukah Anda mengomentari tanya jawab ini. "Jika aku mengomentarinya," ucapnya, "Ia akan kehilangan kesempurnaannya." Kita semua telah belajar sesuai dengan status kita. Doktrin Sufi tentang keseimbangan antara titik-titik ekstrim itu mempunyai beberapa makna. Ketika diterapkan pada pengajaran, yaitu kemampuan untuk belajar dari yang lain, itu berarti bahwa seseorang harus terbebas dari pemikiran yang salah sebelum ia mulai belajar. Calon murid Barat itu harus mempelajari bahwa dirinya tidak bisa membawa asumsi-asumsi tentang kemampuannya sendiri untuk mempelajari suatu bidang dimana dalam kenyataannya ia tidak tahu apa sebenarnya yang dicobanya untuk dipelajari. Sebenarnya ia tahu bahwa dalam cara tertentu ia tidak puas. Sisanya adalah kumpulan gagasan-gagasannya sendiri menyangkut alasan apa yang membuatnya tidak puas dan suatu upaya untuk menentukan obat bagi penyakit yang telah ia diagnosa tanpa sebelumnya menanyakan kepada dirinya sendiri tentang kemampuan-kemampuan diagnostiknya. Kita telah memilih sebuah insiden aktual yang melibatkan seorang Barat; tetapi bentuk pemikiran ini tidak terbatas pada Barat. Demikian juga, sikap kebalikannya yang ekstrim --yaitu orang yang ingin menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak seorang guru-- dan dikatakan sebagai ciri khas pikiran Timur, hampirhampir tidak berguna. Pencari (ilmu) tersebut pertama kali harus mencapai tataran keseimbangan tertentu antar dua pikiran ekstrim ini sebelum bisa dianggap mempunyai kapasitas untuk belajar. Kedua tipe (pikiran) ini belajar tentang kapasitas untuk belajar terutama dengan mengamati guru Sufi dan pola perilakunya. Sebagai teladan manusia, tindakan dan ucapan guru Sufi merupakan jembatan antara ketidakmampuan relatif dari seorang murid dan posisi menjadi seorang Sufi. Kurang dari satu dalam seratus orang biasanya mempunyai salah satu konsepsi dari dua syarat ini. Jika melalui kajian yang seksama terhadap literatur Sufi, seorang murid telah benar-benar melihat prinsip pengajaran tersebut, maka ia sungguh sangat beruntung. Ia bisa menemukannya dalam bahan-bahan Sufistik, dengan syarat harus bersedia membaca dan menelaahnya kembali, untuk mengajari dirinya menghindari asosiasi-asosiasi otomatis dari pemikiran yang mengendap atau label Sufi (dan semua julukan lainnya) yang ada pada dirinya. Singkat kata, ia lebih tertarik secara temporer pada sekolah tertentu yang lebih masuk akal, yang meletakkan prinsipprinsip kaku dan bisa ia jadikan sandaran. 29 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi AGAMA CINTA Seseorang pergi ke pintu Sang Kekasih dan mengetuknya. Sebuah suara bertanya, "Siapa itu?" Ia menjawab, "Ini, aku." Suara tersebut berkata, "Tidak ada ruang untuk Aku dan Dirimu." Pintu itu tertutup. Setelah setahun menyendiri dan mengembara, ia kembali dan mengetuknya. Sebuah suara dari dalam bertanya, "Siapa itu?" Orang itu menjawab, "Ini, Engkau." Pintu pun terbuka untuknya. (Jalaluddin Rumi) Sufisme sering disebut "agama cinta". Tanpa melihat penampilan lahiriah madzhabmadzhab mereka, para Sufi telah menjadikan tema ini sebagai persoalan esensial. Analogi cinta manusia sebagai refleksi dari kebenaran sejati, begitu sering dinyatakan dalam puisi Sufi dan seringkali ditafsirkan secara harfiah oleh orangorang non-Sufi. Ketika Rumi mengatakan, "Di mana pun engkau berada, apa pun kondisimu, berusahalah menjadi pecinta," ia tidak berbicara cinta sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri, juga tidak berbicara cinta manusia sebagai kemungkinan terakhir dari potensi manusia. Kemerosotan (makna) cinta ideal Sufi di Barat tampak berkembang luas setelah hilangnya pemahaman linguistik tentang pengelompokan-pengelompokan kata yang dipakai oleh para guru Sufi untuk menyampaikan kenyataan bahwa idea mereka tentang cinta adalah jauh lebih mendalam dari sekadar fantasi yang dangkal. Karena menyebar dari Spanyol dan Prancis Selatan ke Eropa Barat dan mengalami suatu perubahan bahasa yang telah menghilangkan kandungan maknanya yang efektif, ajaran tentang cinta telah kehilangan karakteristik esensialnya. Untuk menangkap kembali sifat komprehensif dari tema khas Sufi ini bagi pembaca Barat, kita harus melihat perkembangan para troubador. Satu aspek puisi cinta yang muncul di Spanyol Islam, yaitu aspek tentang pengagungan kewanitaan, dengan cepat dialihkan oleh Gereja ke dalam idealisasi Perawan Maria sebagaimana telah dicatat para sejarawan. Perkembangan ini terlihat pada kumpulan puisi yang disusun oleh Alfonso the Sage dari sumbersumber Saracen (Spanyol Islam). Seorang pakar tentang masalah ini mengabadikan momen tersebut dengan merujuk kepada Pengagungan Perawan Suci Maria (Cantigas de Santa Maria): "Persoalan tersebut --pengagungan terhadap Perawan Suci Maria-- merupakan perkembangan logis dari idealisasi para troubador terhadap istri-istri tuan tanah mereka, sementara puisi-puisi troubador dari segi materi, bentuk dan gayanya berkaitan erat dengan idealisme dan puisi Arab yang ditulis di Spanyol."1 29 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Profesor Hitti dan lain-lainnya benar-benar merasa yakin terhadap asal-usul Arab dari para troubador: "Para troubador ... menyerupai para penyanyi Arab, bukan saja dari segi sentimen dan karakternya tetapi juga dari segi bentuk-bentuk nyanyian mereka. Judul-judul tertentu yang diberikan para penyanyi Provencal (di Prancis) pada lagu-lagu mereka hanyalah merupakan terjemahan-terjemahan dari judul-judul Arabnya."2 Asal-usul kata troubador dari kata roman yang berarti "menemukan" merupakan asal-usul kedua. Mereka disebut "para penemu" dalam pengertian bahwa makna ini merupakan naturalisasi terdekat yang bisa diterapkan pada istilah aslinya dari bahasa Arab, sementara ia sendiri merupakan suatu permainan di antara dua kata. Pertama adalah kata RBB (biola alto), yang digunakan oleh para penyanyi Sufi dan dipakai oleh Khayyam maupun Rumi sendiri sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Profesor Nicholson.3 Kata kedua adalah akar kata TRB. Kata ketiga adalah akar kata RB --yang secara harfiah, jika diubah menjadi RaBBat, berarti "perempuan, nyonya rumah, berhala perempuan." Sebagaimana berkali-kali ditunjukkkan dalam buku ini, nama-nama Sufi untuk kelompok-kelompok khusus tanpa kecuali dipilih dengan memperhatikan dan mempertimbangkan secermat mungkin hal-hal yang menyenangkan dari situasi puitis. Kita harus ingat bahwa bagian kata ador (troub-ador) hanyalah akhiran (bahasa) Spanyol untuk menunjukkan agent (pelaku), dan bukan bagian konsep asal. Dengan mengikuti asal-usul dari akar-akar kata RB dan TRB, jika digunakan untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan dari sekelompok orang, kita akan menemukan sepuluh kata turunan utama: 1. TaraBaB = memberi parfum, membesarkan anak. 2. RaBBa = mengumpulkan, memerintah rakyat, menguasai. 3. TaRaBBaB = mengklaim kepenguasaan. 4. RaBB = Penguasa, Tuhan, tuan tanah. 5. RaBBat = perempuan, nyonya rumah, berhala perempuan. 6. RiBaB = perjanjian, sahabat, sepersepuluh bagian yang diberikan. 7. MaRaB = pengumpul, tempat tinggal, tempat pertemuan. 8. MaRaBBaB = memelihara, manisan. 9. MuTriB = musisi, anggota pendukung Sufi, guru, pembimbing.4 10. RaBaB = biola alto, sebutan bagi penyanyi Sufi yang digunakan oleh Rumi, Khayyam, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dilihat dari penggunaan Sufistik, kita tidak berurusan dengan suatu fenomena nyanyian Arab, tetapi dengan upaya-upaya dari sekelompok guru Sufi dimana tema cinta merupakan suatu bagian dari keseluruhan. Meskipun idealisasi perempuan atau biola tidak penting, tetapi ia merupakan aspek-aspek parsial dari keseluruhan tersebut. Ajaran-ajaran dari sekolah-sekolah Sufi mengandung semua unsur yang terangkum dalam nama khusus troubador itu. Para Sufi berkumpul bersama pada suatu tempat pertemuan, sebagian tinggal di "biara-biara" (RaBAT), yang sampai saat ini masih dikenang untuk nama-nama tempat di Spanyol seperti Arrabida, Rabida, Rapita, 29 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Rabeda. Mereka menyebut diri mereka sendiri dan (mereka) disebut "para pecinta" dan juga "para tuan." Meskipun disebut "para tuan", mereka juga disebut "para budak cinta", sebagaimana yang sering mereka tekankan. Mereka memainkan biola, dan menggunakan kata sandi tertentu yang memuat dua kata alternatif untuk "manisan" dan "kekasih" dalam menekankan atau mengingat-ingat bahwa nama kelompok tersebut mempunyai beberapa makna yang berbeda, tetapi tetap terkait ungkapan tersebut. Secara kasar ungkapan itu bisa diterjemahkan dengan "menjadi kekasih (RB) dan melewati kesulitan (RB)". Mereka berbicara tentang ketuhanan sebagai perempuan, berhala, nyonya rumah. Ibnu Arabi ("guru terbesar" para Sufi dari Spanyol), menggunakan tamsil ini sampai pada tingkatan sedemikian rupa sehingga ia dituduh melakukan penghujatan (terhadap akidah ortodoks Islam). Para troubador merupakan asal-usul dari suatu gerakan Sufi yang pada mulanya berkisar pada nama mereka dan melekat padanya setelah berbagai seginya dilupakan. Orang-orang Arab memerintah Spanyol sejak awal abad kedelapan, dan kemunculan sekolah-sekolah Sufi tercatat selama abad kesembilan. Para penyair dari Provencal pertama menulis karya-karyanya pada akhir abad kesebelas. Meskipun telah menipiskan suatu bentuk dari aliran Sufi, kesesuaian antara cita rasa seni troubador dan bahan Sufi asli tetap tercatat bahkan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan khusus tentang hubungan batin tersebut. Emerson menyejajarkan penyair besar cinta Sufi, yaitu Hafizh dengan para troubador dan menegaskan esensi sejati dari puisi mereka, "Bacalah Hafizh dan trouveres (para troubador), buktikan buku-buku yang oleh semua orang-orang jenius dianggap sebagai bahan mentah dan sebagai penangkal puisi dangkal dan palsu." Sebenarnya ada sesuatu yang lebih mendalam selain penampilan superfisial dari para troubador yang dicatat oleh Robert Graves dalam The Mite Goddess (Dewidewi Putih). Karena menulis pada suatu waktu ketika ia belum menyelidiki Sufisme sama sekali, ia menyadari bahwa telah terjadi suatu proses yang bekerja pada puisi yang telah mengubah makna dan tujuan aslinya. "Fantasi memainkan suatu peran kecil dalam perkembangan mitos-mitos Yunani, Latin dan Palestina, atau mitos-mitos Celtic sampai para troubador Normandia- Prancis mengubahnya menjadi roman-roman ksatriaan yang bertanggung jawab. Roman-roman itu semuanya merupakan catatan-catatan yang mengerikan tentang kebiasaan-kebiasaan dan peristiwa-peristiwa keagamaan kuno, dan cukup bisa diandalkan sebagai catatan sejarah jika bahasanya dipahami dan melakukan perbaikan atas kesalahan transkripsi, kesalahpahaman atau ritual yang sudah tidak dipraktikkan, serta perubahan-perubahan sengaja yang dimaksudkan untuk alasanalasan moral dan politik."5 Untuk mengarahkan diri kita sendiri, untuk merasakan suasana dari masa tersebut ketika pemikiran Sufi melalui puisi dan musik telah menyediakan semacam ragi bagi pemikiran Barat yang masih melekat kepada kita, kita bisa merujuk kepada Michelet, seorang ahli zaman Pertengahan Prancis.6 "Kegelapan skolastik Kristiani telah diganti oleh cahaya dan kehangatan dari kehidupan Saracen, disamping kemerosotan kekuatan militernya," katanya. Gambaran yang yang diberikannya kepada kita itu jelas sekali memperlihatkan 29 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pengaruh Sufi, bukan pemikiran "Arab". Bagian ini mungkin seluruhnya dimaksudkan untuk tujuan ini. Seperti Emerson dan Graves, keberadaannya itu juga menggarisbawahi pandangan intuitif Michelet terhadap suatu proses yang mendasari para penyair merasakan dorongan Sufi pada diri Hafizh dan para troubador. Sebagai contoh, ia menceritakan kepada kita bahwa Dante dan St. Thomas Aquinas memandang setan dengan salah satu dari dua cara --cara Kristiani, "pikiran aneh dan kasar ... seperti keadaannya pada masa-masa awalnya, ketika Yesus masih mampu menggiringnya memasuki kawanan babi." Cara lain (cara Sufi) adalah memandang setan sebagai "seorang pemikir yang pelik, teolog skolastik, ahli hukum yang suka membual". Pandangan terakhir ini selalu ditekankan oleh para Sufi: "Carilah Setan yang sesungguhnya dalam diri sofis skolastik, atau ulama yang pandai berkelit --ia adalah lawan kebenaran." Kecenderungan kedua yang ditekankan oleh Michelet sebagai suatu penegasan Islam bagi Barat --suatu kesadaran baru tentang cinta, kasih sayang, seni, warna, kegairahan hati-- begitu kuat dengan ditandai gagasan dan aktivitas-aktvitas Sufi, bukan oleh kalangan skolastik kaku Muslim Spanyol yang pada tahun 1106-1043 secara terang-terangan membakar kitab-kitab al-Ghazali, salah satu dari tokoh Sufi terbesar: "Sejak dari Asia, orang-orang itu mengira (bahwa) mereka telah menghapuskannya dan membangkitkan tugas baru yang sangat mulia, cahayanya menembus jauh, sangat jauh, sehingga mampu menembus kabut tebal Barat. Inilah suatu dunia alami dan kesenian dimana kebodohan telah dikutuk, bahkan sekarang melangkah ke depan untuk menaklukkan para penakluknya dalam perang damai penuh cinta dan kehangatan sifat keibuan. Semua orang menyebutkan namanya; semuanya terpukau dan tidak memiliki apa pun dari yang bukan Asia. Timur mencurahkan kekayaannya kepada kita; anyaman dan selendang, karpet-karpet halus dengan warna-warna yang dipadu secara trampil dari alat tenun, pedang-pedang tajam dan mengkilat dari baja, meyakinkan kita akan kebiadaban kita ... Apakah ada seseorang dengan akal yang cukup waras, dimana kewarasan begitu langka, akan menerima semua ini tanpa kebingungan, tanpa rasa mabuk ... Apakah ada suatu jiwa yang tidak ketakutan dan membeku akibat dogma-dogma Aquinas yang kaku, masih bebas menghayati kehidupan dan melumpuhkan kehidupan yang kaku? Tiga pemikir raksasa (Albertus Magnus, Roger Bacon, Arnold of Vallaneuve) mengupayakan tugas tersebut dan melalui upaya keras pikiran, mereka menguak jalan menuju sumber Alam; meskipun berani dan jenius, upaya ini tidak memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan semangat rakyat." Arus Sufi dibendung secara parsial. Barat menerima dasar-dasar kemewahan, puisi cinta, dan kenikmatan hidup. Sementara unsur-unsur tertentu yang penting untuk keutuhan dan tidak mungkin dipahami tanpa teladan langsung dari penempuh Jalan Sufi, hampir-hampir tetap tidak dikenal. Mursyid Sufi yang terselewengkan berupa sosok misterius dan mendekati sosok okultis, samar-samar terlihat di tempattempat angker. Sebagian besar ia adalah sosok yang (dikenal) melalui cerita, bukan melalui pertemuan langsung. 29 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Beberapa abad kemudian, dengan merujuk kembali kepada sumber-sumber pemujaan cinta yang telah membentuk warisan ajaran ini di Barat sendiri, tidak kurang sarjana besar seperti Profesor Nicholson sendiri telah menggubah sebait syair Sufi: Cinta, ya hanya Cinta bisa membunuh ular beku nafsu yang tampak mati. Hanya cinta, melalui doa dengan derai air mata dan gairah hati yang membara, yang mampu mengungkap ma'rifat yang tidak pernah diketahui oleh berbagai madzhab.7 Begitu kuat daya hidup tema batiniah Sufi dalam puisi ini sehingga ia meletakkan dasar bagi sejumlah besar kepustakaan Barat pada perkembangan berikutnya. Sebagaimana seorang penulis menyatakannya, "Tanpa para penyanyi Provencal dan troubador, pasti hanya sedikit musik kontemporer kita yang layak untuk dihargai. Tentu saja kita mempunyai nyanyian-nyanyian untuk pemakaman dan lagu-lagu rakyat, tetapi seruan kuat yang asing itu mengajak pada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang harus kita tuntaskan sebagai manusia, sesuatu yang barangkali tak terwadahi puisi maupun musik."8 Meskipun dengan penekanan yang kecil, transmisi Sufi harus dipandang sebagai komposisi dasar bagi kehidupan modern. Ini bukan berarti bahwa tujuan-tujuannya dipahami pada masa kini, sebab tradisi yang telah dikenal di Barat niscaya tidak utuh. Pakar terbesar tentang Arab, yakni Profesor Philip Hitti memandang transmisi Provencal dan troubador ini sebagai suatu titik tolak suatu peradaban Barat yang baru: "Di Prancis Selatan, penyair-penyair Provencal berkembang pesat pada akhir abad kesebelas dengan membawa detak cinta yang terungkap dalam kekayaan imaji fantastik. Sementara para troubador (TaRaB = musik, nyanyian) yang berkembang pada abad kedua belas meniru rekan-rekan sezamannya dari Selatan, para penyanyi Zajal. Mengikuti contoh Arab, pemujaan perempuan tiba-tiba muncul di Eropa barat daya. Chanson de Roland, monumen teragung dalam kepustakaan Eropa awal yang hadir menjelang tahun 1080, menandai permulaan sebuah abad baru --yaitu peradaban Eropa Barat-- sama seperti puisi-puisi Homerik menandai permulaan sejarah Yunani, yang eksistensinya berhutang pada suatu hubungan militer dengan Spanyol Muslim."9 Sementara musik Eropa sebagaimana kita kenal pada saat ini telah ditransformasi oleh perkembangan dari sumber-sumber Sufi ini.10 Hubungan antara cinta dan puisi, antara penyair dan pemusik dan hubungan antara mereka (penyair dan pemusik) dengan "penyihir" dalam pengertian luas, berlangsung melalui Sufisme, sebagaimana melalui tradisi Barat yang tentu saja berhubungan dan diperkuat melalui Sufisme. Hal ini seperti dua arus kembar dari ajaran kuno yang menyatu dalam dimensi ini, jauh berbeda dari akal rasional yang dingin. Meskipun demikian, dalam Sufisme, tujuan penyair-pemusik-penyihir bukan semata-mata untuk terserap ke dalam kebenaran yang dipelajarinya. Ia ditransformasi oleh tradisi itu sehingga mempunyai fungsi sosial - untuk'memasukan 29 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi kembali bimbingan yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi (kesempurnaan) dirinya dalam arus kehidupan. Inilah peran dari pengalaman "kebun-rahasia" dimana di baliknya bisa dipahami misi penyair tersebut. Florence Lederer menangkap pengertian ini secara kuat ketika mengomentari puisi Syabistari yang mengagumkan, Kebun Rahasia: "Tetapi manusia tidak boleh berhenti dalam penyatuan Ilahiyah ini. Ia harus kembali ke dunia semu ini dan dalam perjalanan ke bawah ia harus menjaga hukumhukum biasa dan keyakinan manusia."11 Seperti para penyair-penyihir Barat kuno, Anwari menekankan bahwa penyair dan pecinta saling menyinari: Jika menjadi pecinta harus menjadi penyair, Akulah sang penyair; Jika menjadi penyair harus menjadi penyihir, Akulah sang penyihir; Jika menjadi penyihir harus berpikir jahat, Aku bisa berpikir jahat; Jika karena berpikir jahat harus dibenci oleh dunia, Aku rela untuk itu. Dibenci dunia berarti menjadi pecinta hakikat, dan itulah yang sering terjadi. Aku tegaskan, Akulah sang Pecinta! Dalam (kitab) Kunci Orang-orang Afghanistan, seorang penyair Sufi pada abad ketujuh belas menyatakan: Anak panah membutuhkan seorang pemanah, dan puisi membutuhkan seorang penyihir. Dalam benaknya ia harus selalu mencantumkan skala-skala jarak, dengan menolak (dimensi) panjang dan pendek. Kebenaran adalah kekasihnya yang tersembunyi dalam kiasan. Dari bawah cemetinya, seratus bidikan tepat terlontar. Penyair akan menghiasi jari-jarinya dengan permata warna-warni, menghiasinya dengan wewangian dan aroma kiasan saffron. Pengulangan suara pertama akan berdenting seperti gelang kaki; atau kuncupnya akan menjadi misteri irama yang tersembunyi. Bersama-sama dengan rahasia-rahasia dari makna batin dan mata-mata yang tertutup, semua ini menjadikan tubuhnya sebagai misteri yang utuh. Apakah sebenarnya yang hilang dalam transisi tema cinta dari Timur ke Barat? Pertama, pengetahuan tentang arti penting cinta yang lebih luas dan hanya bisa ditumbuhkan melalui hubungan (antar) manusia dan hubungannya dengan unsurunsur kehidupan lainnya. Individu yang semata-mata menyamakan cinta dengan ketuhanan dari sudut pandang seseorang yang telah menemukan hubungan dengan dasar kehidupan adalah barbarian (biadab). Kedua, kepelikan-kepelikan dan kedalaman dalam kedalaman yang terkandung dalam karya-karya seni yang dihasilkan oleh para cendekia Sufi. Orang biadab akan mengambil makanan dari apa yang bisa dilihat dan dipegang. Orang buta warna mungkin melihat semua warna dalam bayang-bayang putih, abu-abu dan hitam. Hal ini mungkin memenuhi keinginan-keinginannya, tetapi menurut Sufi tidak 30 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kepelikan dalam kesenian Timur dan lainnya bukan semata-mata suatu pertunjukan kekayaan atau ketrampilan. Ia merupakan suatu kias dari rangkaian makna tak terbatas yang bisa disalurkan dari suatu wadah ke wadah lainnya. Lebih jauh lagi, mereka yang telah merasakan pengalamanpengalaman Sufi menyadari bahwa sejauh menyangkut manusia, keanekaragaman makna dalam karya seni semacam ini dimaksudkan untuk membawanya kepada persepsi yang benar tentang apa sesungguhnya realitas batin itu. Persepsi tentang realitas batin inilah yang memungkinkan untuk membawa dirinya sendiri melangkah menuju evolusi yang lebih besar sebagai tujuan akhir manusia. Hampir semua orang akan melihat serangkaian kotak Cina hanya sebagai suatu hasil kesenian atau kerajinan yang indah secara lahiriah. Karena telah menemukan "kunci peralihan abadi", seorang Sufi akan menyadari bahwa hasil karya seni itu adalah sebuah kias, bukan sesuatu yang membingungkan atau menyenangkan orang biadab. Jadi bagi Sufi ia merupakan tema cinta yang utuh. Dengan analogi cinta dan menggunakannya dalam kesusastraan, ia bisa menjembatani jurang pemisah dalam pemahaman orang lain yang berada pada tahapan lebih awal di Jalan itu. Cinta adalah "bilangan-pembagi" umum bagi manusia. Karena telah menembus rahasia-rahasia cinta dengan merasakan realitas sejati yang terletak di balik (dunia kasat mata), seorang Sufi kembali ke dunia (nyata) untuk menyampaikan langkahlangkah di Jalan itu. Mereka yang tetap mabuk di pinggiran Jalan itu tidak menjadi perhatiannya. Mereka yang ingin melangkah lebih jauh harus mengkajinya dan juga karya-karyanya. Catatan: 11 J. B. Trend, The Legacy of Islam, Oxford, 1931, hlm. 31. 2 P Hitti, History of the Arabs, New York, 1951, hlm. 600. 3 R. A. Nicholson, Selections from the Diwan-i-Shams-i Tabriz, dalam Kata Pengantar, hlm. xxxi dan seterusnya. 4 Prof Edward Palmer, Oriental Mysticism, hlm. 80. 5 Edisi Faber and Faber, London, 1961, hlm. 13. 6 Jules Michelet, Satanism and Witchcraft (terjernahan A. R. Allinson), London, 1960, hlm. 71-73. 7 R. A. Nicholson, Rumi, Poet and Mystic, London, 1956. 8 G. Butler, The Leadership of the Strange Cult of Love, Bristol, 1910, hlm. 17. 9 P K. Hitti, History of the Arabs, Ed. 1951, hlm. 562. 10 Ibid., "Adelard of Bath yang belajar musik di Paris, kemungkinan adalah penerjemah dari risalah matematika al-Khawarizmi, yaitu Liber Ysagogarum Alchorism. Oleh karena itu ia merupakan orang pertama yang memperkenalkan 30 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi musikArab ke dunia Latin ... Yang signifikan adalah bahwa dalam periode yang sama sebuah prinsip baru muncul dalam musik Eropa Kristiani. Prinsip tersebut adalah bahwa not-not (musik) mempunyai nilai waktu yang pasti atau rasio diantaranya ... Istilah Ochetus (corak ritmis) kemungkinan merupakan transformasi dari kata Arab iqa'at (jamak dari iqa). Musik berdasar aturan yang pasti (matematis) tersebut barangkali merupakan sumbangan terbesar, tetapi tentu saja bukan satu-satunya sumbangan orang-orang Arab dalam bidang pengetahuan musik ini." 11 F. Lederer, The Secret Garden, London, 1920. 30 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi KEAJAIBAN DAN "ILMU SIHIR" Ibadah menurut Syah adalah bebas dari kemarahan dan kebaikan, kekufuran dan ketaatan ... (Matsnawi, IV) Seorang penulis ternama, yakni Abdul Hadi, enam abad yang lalu menulis bahwa pada suatu hari ayahnya bercerita, "Engkau lahir berkat doa Bahauddin Naqsyabandi yang Agung dari Bukhara itu, dan memiliki keajaiban luar biasa." Abdul Hadi tidak memahami "berkat doa" itu, sehingga ia berhasrat menemui guru Sufi tersebut. Setelah merampungkan segala persoalan dirinya, ia bertolak dari Syria ke Asia Tengah. Ia menemui Bahauddin (w. 1389), pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah, sedang duduk bersama para muridnya, kemudian ia menuturkan bahwa maksud kedatangannya adalah karena ia sangat ingin mengetahui perihal keajaiban-keajaibannya (Bahauddin). Bahauddin berkata, "Ada sebuah makanan yang tidak lazim. Makanan ini adalah kesan-kesan (naqsh-ha) yang senantiasa masuk ke dalam (kesadaran) manusia dari berbagai penjuru lingkungannya. Hanya manusia pilihan yang mengetahui (maksud) kesan-kesan tersebut dan yang dapat mengarahkannya. Engkau paham?" Abdul Hadi tidak memahami perumpamaan itu dan ia tetap diam. "Makna dari kesan tersebut merupakan salah satu rahasia Sufi. Guru Sufi membuat makanan dengan kandungan gizi 'yang berbeda' untuk para pengikutnya. Hal ini dilakukan untuk membantu perkembangan dirinya dan berada di luar hukumhukum peristiwa yang dapat dinalar. Sekarang mengenai apa yang engkau sebut keajaiban. Setiap orang yang hadir di sini telah melihat keajaiban. Arti penting keajaiban itu terletak pada fungsinya. Mungkin saja keajaiban itu diperlihatkan sebagai makanan ekstra, mungkin saja terjadi pada pikiran atau tubuh dengan cara tertentu. Ketika hal ini terjadi, pengalaman (melihat) keajaiban itu menunjukkan fungsinya secara murni dan khas pada pikiran. Apabila keajaiban itu sepenuhnya terjadi sesuai dengan imajinasi ataupun pikiran sederhana, maka ia akan mendorong suatu kepercayaan tanpa kritik atau gejolak emosional, atau keinginan untuk melihat keajaiban lagi, atau hasrat untuk memahaminya, atau suatu rasa senang yang sebelah mata, bahkan rasa takut dari orang yang merasa bahwa keajaiban itu sebagai tanggung jawabnya." Ia melanjutkan, bahwa keajaiban itu mungkin tidak dapat dijelaskan secara memuaskan, karena banyak perbedaan cara memahami yang mengacu perbedaan berpikir, dan setiap orang berbeda dalam mernahami rantai sebab-akibat. Hanya Sufi matang yang dapat mengetahui interpretasi yang benar dari keajaiban tertentu. Keajaiban merupakan suatu peristiwa yang tak terjelaskan. Berapa banyak interpretasi yang sudah dilakukan atas suatu keajaiban, namun tidak selalu gamblang. Ada banyak keajaiban yang terjadi setiap saat, namun manusia tidak menangkap melalui panca inderanya, karena keajaiban-keajaiban itu bukan suatu 30 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi peristiwa yang mengesankan. Sebagai contoh, apabila mengacu pada teori kemungkinan, manusia bisa saja meningkat atau merosot moralnya, serta bisa saja ia memperoleh atau kehilangan harta-benda, namun semua itu hanya dianggap sebagai kebetulan semata. Sebenarnya keajaiban pun bersifat kebetulan, yakni serangkaian hal-ihwal yang terjadi dalam hubungan antara satu sama lainnya. "Semua keajaiban itu," kata Naqsyabandi, "mempunyai fungsi dan fungsinya tetap berjalan, entah keajaiban itu dipahami atau tidak. Jadi, setiap keajaiban mempunyai sebuah fungsi obyektif, karena itu keajaiban menimbulkan kebingungan bagi sementara orang, serta skeptisisme, ketakutan, kegembiraan dan sebagainya bagi lainnya. Fungsi keajaiban (yang obyektif) itu adalah menggugah reaksi dan mengandung gizi, kandungan gizi dalam hal ini beragam sesuai dengan kapasitas diri manusia. Akan tetapi, keajaiban merupakan suatu bentuk pengaruh ataupun penilaian manusia." Jadi, menurut para Sufi, setiap keajaiban mempunyai semacam aksi yang beragam terhadap manusia yang (a) tidak mungkin terjadi kecuali diperlukan dan pada umumnya berkembang sebagai kejadian insidentil, (b) tidak dapat diamati atau didefinisikan karena karakternya yang kompleks. Sebuah pendapat tipikal tentang keajaiban yang mungkin merupakan jawaban sementara terkandung dalam sebuah koleksi ajaran-ajaran Abdul Qadir al-Jilani, pendiri Tarekat Sufi Qadiriyah. Syekh Umru Usman Sairifini dan Syekh Abdul-Haq Harini menjelaskan sebagai berikut: "Pada hari ketiga bulan Safar tahun Burung 555, kami duduk di hadapan Guru (Sayyid Abdul Qadir) di madrasahnya. Ia berdiri lalu mengenakan sepasang bakiak (sandal kayu) dan mengambil wudhu. Arkian, ia mengucapkan dua doa dan berteriak keras sambil melemparkan sebelah bakiaknya ke udara, selanjutnya bakiak itu pun lenyap. Dengan teriakan selanjutnya, Guru melemparkan bakiak yang satunya lagi ke udara dan ini pun lenyap dari penglihatan kami. Tak seorang pun yang hadir di situ berani bertanya kepadanya tentang peristiwa itu. Tiga puluh hari setelah kejadian tersebut, sebuah kafilah tiba di Baghdad dari Timur. Para anggotanya mengatakan bahwa mereka berkeinginan memberi hadiah kepada Guru. Lalu kami berkonsultasi dengan Guru dan ia mengijinkan kami untuk menerima hadiah itu. Adapun hadiah yang diberikan para anggota kafilah itu berupa sutra dan pakaian lainnya serta sepasang sandal yang serupa dengan sandal yang ia lemparkan tempo hari. Kemudian mereka bercerita: 'Pada hari ketiga bulan Safar, bertepatan dengan hari Senin, ketika kami sedang berjalan tiba-tiba ada serangan dari para penyamun Arab di bawah dua pimpinannya. Para penyamun itu membunuh beberapa anggota rombongan kami dan merampas barang barang kami. Kemudian mereka segera masuk ke hutan untuk membagi hasil jarahannya. Kami yang selamat berkumpul di tepi hutan itu. Pada saat itu kami teringat untuk memohon pertolongan Sayyid (Abdul Qadir al- Jilani) atas bencana yang menimpa kami, karena kami kehilangan arah dan tujuan setelah peristiwa itu untuk melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan akan 30 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi memberikan hadiah kepadanya sebagai tanda terima kasih, apabila setidaknya kami tiba di Baghdad dengan selamat --suatu hal yang tidak mungkin apabila melihat situasi yang terjadi. Setelah kami membuat keputusan itu, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suatu suara, dua kali teriakan yang bergema menembus hutan itu. Kami menduga bahwa gerombolan penyamun itu telah diserang kelompok lainnya dan setelah itu mungkin terjadi perkelahian. Namun tiba-tiba sebagian bandit tadi datang kepada kami dan mengatakan bahwa sesuatu telah menimpa mereka. Mereka memohon kami untuk menerima kembali perbekalan kami. Lalu kami berjalan menuju tempat para penyamun tadi mengumpulkan barang dagangan kami yang dijarahnya dan menemukan kedua pemimpin mereka tewas tergeletak dengan sepasang bakiak di dekat kepala mereka. Menurut kami, setelah merasakan bencana yang menimpa para kafilah dan didorong hasrat untuk menolongnya, pastilah Guru telah mencoba melemparkan sandalnya dengan cara tertentu sehingga kedua gembong penyamun yang akhirnya para anggotanya mengaku bersalah, terbunuh'." "Yang kami tekankan sebagai sebuah kisah dan perlu ditulis adalah kehadiran Tuhan Yang Mahakuasa, Yang Membedakan dan Membalas Kebenaran serta Kesalahan." Dengan mengacu pada peristiwa-peristiwa tersebut, tradisi Naqsyabandi memahaminya bahwa "apabila seorang sahabat merasa suatu kekeliruan dapat dibenarkan [walaupun meminta pertolongan kepada Wali atas suatu musibah yang menimpa seseorang itu keliru, namun dalam keadaan terjepit dapat dibenarkan, karena Wali adalah perantara kepada Allah], ia boleh mencari petunjuk baik sebagai cara dan hal yang diijinkan maupun sebagai tata krama dalam berkontemplasi, sementara dampak yang diharapkan bisa saja menyusul segera dan terus-menerus atau kemudian dan tepat waktu." "Keajaiban," kata Afghani, "adalah keyakinanmu kepada sesuatu. Tentu saja keajaiban apa pun yang engkau yakini bukan merupakan akibat yang sebenarnya maupun akhir dari akibatnya." Sikap fungsional terhadap keajaiban menggarisbawahi, bahkan bagi para pengamat, kemungkinan yang lebih dalam dari kejadian-kejadian yang tak terjelaskan. Apabila kita bertolak dari tataran paling bawah dari keajaiban, maka kita dapat memahami bahwa suatu aksi atau kejadian yang lazim dan dapat kita jelaskan mungkin menjadi teka-teki atau bukti "magis" yang meyakinkan bagi seorang yang lebih rendah tingkat pengetahuannya. Karena itu, ketika seorang yang masih belum berperadaban melihat api dinyalakan dengan unsur kimia tertentu, ia mungkin menganggap hal itu sebagai suatu peristiwa yang ajaib. Pada tingkat perkembangannya ini, peristiwa tersebut mungkin menimbulkan semacam keterpesonaan religius yang penting, sehingga membuatnya takjub kepada sang peraga atau mematuhi segala perintahnya. Akan tetapi, ia akan merasakan suatu akibat mental dan fisik. Bahkan pada saat ini, peristiwa yang tidak dapat dijelaskan melalui ilmu-ilmu alam akan mempengaruhi pikiran modern yang sangat canggih sekalipun. Suatu mekanisme serupa telah digunakan oleh Naqsyabandi 30 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi dalam menjelaskan keajaiban-keajaiban yang tak terinderai itu. Serangkaian peristiwa-peristiwa kebetulan dan menyenangkan (atau tak menyenangkan) yang dialami seorang manusia pasti akan menimbulkan suatu akibat mental dan fisik terhadapnya, bahkan akibat fisik itu akan dirasakannya ketika ia makan lebih banyak dari biasanya, sebab ia memang sedang mendapat banyak rezeki. Teori ini jauh lebih dalam ketimbang pengertian mukjizat yang lazim dan berbeda dari reaksi-reaksi biasa sepanjang reaksi tersebut bersikeras bahwa sama sekali tidak ada peristiwa-peristiwa aksidental atau asing. Ajaran Sufi menggarisbawahi bahwa "akibat adalah jauh lebih penting daripada sebab, karena akibat itu beragam, sementara sebab pada dasarnya tunggal." Seorang materialis yang paling keras kepala sekalipun akan setuju dengan teori tersebut apabila dijelaskan menurut ungkapan-ungkapan yang biasa digunakannya, misalnya: "Semua aksi pada dasarnya bersifat fisik, sementara keragaman akibat sepenuhnya ditentukan sebabnya." Para Sufi sama sekali tidak akan memperdebatkan teori ini, namun mereka tetap berpendapat bahwa kalangan materialis tulen hanya mampu melihat asal-usul dan sebab-akibat itu dari sudut pandang yang terbatas, satu atau dua dimensi, karena kekakuan cara pandang mereka. Keajaiban berkaitan dengan persoalan sebab-akibat, dan menurut para Sufi, sebabakibat berkaitan dengan persoalan ruang dan waktu. Pada umumnya sebuah peristiwa dikatakan ajaib karena kelihatannya bertentangan dengan konvensikonvensi ruang dan waktu. Suatu jalan pintas dalam memahami peristiwa yang luar biasa akan berakibat menghilangkan kualitas keajaiban yang tak terjelaskan itu. Namun menurut para Sufi, karena keajaiban mempunyai akibat fisik, maka akibat fisik inilah yang mungkin penting, seperti sebuah bumbu masakan yang mungkin bukan termasuk makanan. Pendapat Sufi ini hanya merupakan suatu pandangan kasar dalam mencoba memahami keajaiban. Maka dari itu, dari sudut pandang Sufi, sebuah keajaiban diuraikan secara sederhana melalui suatu mekanisme yang akan mempermudah setiap orang dalam memahaminya. Seorang barbar yang terlalu menggebu-gebu ingin melihat (mengetahui) keajaiban, tidak layak untuk menjalankan suatu pengembaraan spiritual, meskipun ia mungkin mampu melakukan improvisasi dan mempunyai penganut seperti agama konvensional yang patuh pada hukumnya berkat pengalaman spiritualnya. Guru saya pernah mengomentari sebuah pertanyaan tentang keajaiban, "Renungkanlah pertanyaan ini, Bagaimanakah bunyi sebutir bawang?' untuk membuktikan bahwa beberapa pertanyaan tidak mungkin dijawab orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengajukan pertanyaan, konsekuensinya tidak mampu memahami jawaban yang sebenarnya." Menurut para Sufi, sebagaimana ditafsirkan agama konvensional, keajaiban mungkin mempunyai nilai ganda, artinya keajaiban mungkin menunjukkan kesan 30 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi kepada sesorang menurut tingkat perkembangan mentalnya dan mungkin juga suatu bentuk makanan bagi seseorang yang lebih matang pengalamannya. Bahkan kita dapat mengambil contoh yang lebih spesifik, misalnya Profesor Seligman terperanjat ketika menyaksikan para darwis tertentu mengiris tubuhnya dan menghentikan aliran darahnya dengan cepat tanpa dapat dijelaskan sebabnya. Pengamat lain mencatat bahwa para darwis Tarekat Rifa'iyah dapat menyembuhkan luka-luka tanpa bekas sedikit pun dan dengan kecepatan yang samar. Kemudian, pada tahun 1931 Dr. Hunt memutar sebuah film tentang praktikpraktik para darwis Tarekat Rifa'iyah dari India tersebut, namun tanggapan yang muncul terhadap film itu biasanya mengabaikan keutuhan peristiwa tersebut atau ada yang menganggap sebagai hipnotisme. Para anggota Tarekat Qadiriyah dapat berjalan di atas air; sementara para anggota Tarekat Azhimiyah terkenal, seperti para Syekh zaman dulu, dapat menampakkan diri di berbagai tempat sekaligus dan pada saat yang sama. Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, atau bisa terjadi? Seorang darwis mempunyai suatu sikap yang sangat berbeda terhadap peristiwa tersebut daripada orang biasa, apakah ia seorang pandir yang penuh keyakinan ataupun ilmuwan abad dua puluh. Harus diingat bahwa para Sufi menandaskan: benda-benda tidaklah sebagaimana yang tampak. Pada waktu ia mendemonstrasikan kemampuan melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan orang lain dan kelihatan bertentangan dengan hukum alam yang dipahami setiap orang, sebenarnya ia mengungkapkan maksudnya. Hal ini merupakan suatu metode mengungkapkan diri yang valid seperti metode sastra mana pun dan lebih efektif dari metode sastra pada umumnya. Walaupun ternyata bentuk ungkapan tersebut disalahgunakan, disalahpahami dan dipalsukan, namun tetap tidak menggunakan dasar validitasnya. Sementara pengamat, terutama apabila ia cenderung bersikap obyektif atau rasional, akan mendapat kesulitan besar dalam mendekati masalah tersebut. Sebab tujuan utamanya adalah menjelaskan fenomena tersebut menurut pemahamannya sendiri. Ia tidak menyadari keutamaan untuk memperluas persepsinya sendiri terhadap fenomena yang sedang ditelitinya. Namun dari sudut pandang Sufisme, pengamat hanya mengambil semacam jalan pintas yang memungkinkan dirinya untuk menghindari kesulitan dalam menjelaskan keajaiban. Ketika seorang anak takut kepada hantu, ia harus memperoleh suatu penjelasan atau suatu penjelasan masuk akal menurut tingkat pemahamannya. Demikian pula, ketika orang yang tidak awas melihat peristiwa aneh dan mengakui bahwa pasti ada suatu penjelasan logis, maka penjelasan tersebut bisa saja diperolehnya --entah bagaimana caranya dan dari siapa. Dalam Sufisme, rahasia keajaiban itu menyelubungi dirinya sendiri. Sesuai dengan pengalaman Sufi, halusinasi, begitu mereka menyebutnya, berjalan dengan dua cara sekaligus. Orang mungkin mengira bahwa ia melihat hal yang tidak nyata dalam halusinasi itu. Ia juga mungkin melihat kejadian di luar kenyataan. Bagaimana ia melihat dan apa yang dilihatnya akan bergantung pada kemampuan pemahamannya sendiri. Di sini saya tidak bermaksud membahas tentang gerakgerik tipuan yang disengaja dan diketahui pikiran. Dengan keyakinan bahwa segala 30 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi sesuatu dapat dijelaskan secara rasional, maka ia menganggap bahwa suatu kejadian yang tidak masuk akal hanya dapat diuraikan melalui penjelasan yang rasional itu. Namun hal itu sama sekali tidak benar bagi orang yang berkeyakinan bahwa beberapa penjelasan adalah mungkin menurut tingkat pemahaman setiap orang. Ilmu pengetahuan modern masih belum pandai memberikan berbagai penjelasan yang khas dan halus. Ilmu pengetahuan modern tidak memadai untuk melakukannya. Metode Sufi tradisional mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan analogi. Para Sufi juga secara tradisional menggunakan analogi-analogi yang sudah dikenal masyarakat dalam menjelaskan keajaiban. Sementara itu para penggemar dongeng di Barat pada umumnya mengenal kisah-kisah Hans Christian Andersen yang biasanya dikenal dengan dongeng Anak Itik yang Jelek [dalam perumpamaan yang sudah dikenal di Barat dan merupakan sebuah distorsi anak itik yang memang jelek sosoknya, namun setelah dewasa menjadi indah, dianalogikan dengan gadis kecil yang buruk rupa, namun setelah dewasa menjadi molek]. Anak itik merasa dirinya jelek apabila dibandingkan dengan itik dewasa. Namun pada akhirnya (setelah dewasa), ia menjadi seekor angsa yang indah perawakannya. Asal-usul kisah ini ditemukan dalam karya Jalaluddin Rumi, Matsnawi, namun sebuah poin penting yang ditujukan kepada sekelompok pendengar, tidak ditemukan dalam versi Danish (orang Denmark) itu. Di dalam Matsnawi Rumi berkata kepada para pendengarnya bahwa mereka seperti "itik yang ketika kecil diasuh ayam betina". Namun mereka harus menyadari bahwa hidupnya harus pandai berenang, bukan mencoba menjadi ayam. Selagi persoalan "ilmu sihir" dan keajaiban dipandang dari kacamata seekor ayam oleh seekor anak itik [bahwa berenang tidak mungkin baginya; konsekuensinya, seorang yang tingkat pemahamannya masih rendah akan berpikir bahwa tidak mungkin ada keajaiban yang tidak dapat dijelaskan, namun setelah pemahamannya matang ia akan mengerti keajaiban], maka pandangan-pandangannya, paling jauh mungkin tidak akurat. Para pendongeng dari Skandinavia menggunakan kisah ini sebagai bumbu (hidup) yang menggairahkan (atau membuat hidup lebih bergerak). Sang anak itik menjadi seekor angsa melalui proses pertumbuhan yang tak terelakkan. Sebagai seorang evolusionis, Rumi menjelaskan bahwa anak ayam itu harus menyadari bahwa ia ditakdirkan menjadi seekor itik. Sampai di sini, kita memandang bahwa cara memahami keajaiban itu sejalan dengan perkembangan-pengalaman hidup manusia. Cara pandang ini akan membebaskan perkara keajaiban itu dari praduga-praduga para teolog yang berusaha membenarkannya pada tataran yang masih dangkal, dan dari kalangan skeptis yang berusaha menjelaskannya menurut teori-teori ilmiah. Jadi cara pandang mereka hanya berfungsi untuk mereka sendiri. Di dalam masyarakatmasyarakat yang menganggap bahwa "keajaiban telah berlalu", bagaimanapun fenomena keajaiban tetap berlaku. Orang mungkin berkata bahwa seekor naga tidak menyemburkan api, namun eksistensinya tetap seperti gunung berapi. Dengan bersandar pada metafora itu, sekarang kita dapat memahami dengan jelas suatu proses fenomena fisik, meskipun simbolismenya mungkin berbeda-beda. 30 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Masyarakat rahasia Turki di Cyprus, yang bertekad untuk mempersatukan dan mengarahkan perkembangan dinamis komunitasnya, dikenal sebagai Volkan (volcano, gunung berapi). Jadi fenomena gunung berapi, sebagai suatu kekuatan alam independen, merupakan analogi yang sangat tepat untuk daya batin dan kekuatan "bawah tanah" kelompok tersebut. Cara mendekati persoalan keajaiban tersebut membuktikan bahwa betapapun atraktifnya sebuah pertunjukan menakjubkan yang ditampilkan seseorang, sebagai sebuah pertunjukan, ia tidak akan mempunyai fungsi yang sama dengan kejadian aktual yang kita bicarakan di atas. Dalam hal ini Sufi menyatakan, "Biarkanlah keajaiban itu terjadi!" yang kemudian direfleksikan secara tidak utuh dalam peribahasa Spanyol, Haga el miraglo, si hagalo Mahoma: "Biarkanlah keajaiban itu ditunjukkan, bahkan Muhammad menunjukkannya." Kemerosotan pengertian (ungkapan) itu berasal dari ajaran "Tujuan menghalalkan segala cara". Akan tetapi, para Sufi tidak mengabaikan keyakinan tersebut, sehingga apabila keajaiban yang ditampilkan itu mempunyai nilai penting bagi perkembangan suatu kelompok (dalam hal ini Sufi), maka ia mungkin lebih dimaksudkan untuk memajukan suatu kelompok, untuk mempercepat dan memperkukuh kemajuan kelompok tersebut. Menurut Kamaluddin, keajaiban merupakan pengalaman awal suatu kelompok yang sedang mengembangkan kemampuannya untuk memahami keajaiban itu. Ada dua hal yang berkembang secara serentak, yaitu sikap yang benar terhadap keajaiban dan keserasian cara memahami sang Pencari dengan fakta keajaiban. Kembali pada pertanyaan di atas (mengapa keajaiban itu terjadi atau bisa terjadi), maka kita dapat memberikan jawaban yang memadai sesuai dengan tingkat pencerapan sementara: orang yang terpesona pada keajaiban sebuah mobil, keajaiban sesuatu, secara bertahap akan memahaminya setelah ia menjalankan mobil itu sendiri atau menumpanginya. Kesementaraan kesan yang diperoleh dari pemahaman tertentu tentang keajaiban merupakan dasar para guru Sufi untuk menentang kegemaran akan pengalaman ekstase yang hanya merupakan suatu tingkat perkembangan spiritual Sufi. Perasaan terpesona dan kagum itu merupakan perhentian sementara seorang Sufi Pencari, karena ia seharusnya melanjutkan realisasi diri lainnya. Maka dari itu, pencapaian pengalaman mistik yang sementara (atau bahkan permanen) dianggap sebagai sebuah "tabir". Menurut Kalabadzi al-Bukhari dalam bukunya Kitab at-Ta'aruf realitas sejati akan dicapai setelah pengalaman ekstase itu. Junaid al-Baghdadi (w. 910, salah seorang pengarang klasik yang utama) menyatakan bahwa orang dalam keadaan ekstase memang mengasyikkan, namun ketika kebenaran dicapainya, ia melampaui keadaan ekstase itu. Maksud Junaid, bahwa melampaui tingkat pengalaman ekstase Sufi itu diikuti oleh ketidaksadaran setelah mengalami ekstase. Seseorang mendesak bertanya tentang kekuatan magis, cara mengobati penyakit dan kebahagiaan menurut Jalan Sufi kepada Guru Nourettin, sehingga Guru merasa jengkel. 30 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Nourettin menjawab, "Sobat, engkau masih saja berjalan mengitari api unggun kami. Buanglah sifat srigala dan makanlah bersama-sama kami, namun jangan makan lebih banyak dari kami! Engkau tidak mengerti tata cara memahami. Memahami sesuatu harus memakai aturan." Pengunjung itu berkata, "Kalau begitu, berilah aku pengertian (tentang aturan berpikir itu) menurut Anda dan sahabat-sahabat Anda, agar aku dapat mengikuti cara berpikir Anda!" Guru menjawab, 'Apabila engkau masih menilai kami menurut dugaan-dugaanmu saat ini, maka engkau seperti melihat matahari dari sebuah kaca yang buram. Hal ini akan menimbulkan kesan mengenai kami menurut dugaan-dugaanmu dan sahabat-sahabatmu atau para musuhmu. Apabila engkau menghimpun fakta-fakta yang keliru mengenai kami, maka pengumpulan fakta itu pasti ditentukan oleh sebuah metode seleksi yang sesat dalam membuat serangkaian fakta mengenai kami. Sayangnya, meskipun mungkin tampak benar, namun rangkaian fakta itu tidak menunjukkan kebenaran yang engkau cari." Apabila para sarjana yang diibaratkan seperti srigala mengitari api unggun Sufi itu tidak mau berpikir secara jujur, maka rasa takjub yang tak terpisahkan dari upaya untuk mempelajari keajaiban itu tidak akan hilang. Hal ini seringkali disinggung: "Siapakah para pakar yang telah menerima penjelasan darinya (al-Ghazali) tentang rahasia-rahasia yang menggetarkan hati? ... Apakah benar-benar ada penjelasan yang dapat diterima mereka? Jika ada, penjelasan macam apa?"1 "(Lane) menyesalkan ketika mengetahui seorang Muslim yang murtad merasa tidak perlu lagi melaksanakan ibadah-ibadah ritual agamanya. Yang menarik untuk dicatat, sebagai seorang darwis, orang tersebut menyatakan bahwa dirinya telah mengembangkan kekuatan telepati yang luar biasa sehingga mengetahui apa yang sedang terjadi di suatu tempat dari jarak jauh, bahkan ia dapat mendengar pembicaraan yang berlangsung di sana. Penandasannya dalam mengembangkan kekuatan tersebut seringkali ditemukan dalam kepustakaan Sufi. Tentu saja kisahkisah yang diturunkan dari sejumlah orang dengan ketelitiannya tidak mungkin diragukan menegaskan keberadaan kekuatan yang sangat luar biasa itu, meskipun penjelasannya mungkin beragam."2 Pendeta yang Terhormat John Subhan memberikan sebuah contoh tentang barakah dari salah seorang Syekh Sufi, yakni Najmuddin Kubra (w. 1221), pendahulu Francis Assisi: "Barakah dari pendiri (kelompok) Persaudaraan Agung ini (Ikhwanul Kubrawiyah) tidak hanya terbatas kepada manusia, namun terhadap burung dan hewan. Bahkan fenomena barakah yang sangat terkenal itu masih terjadi sampai kini ... ketika berdiri dekat pintu khanaqah (tempat semedi)-nya, Najmuddin memandang sepintas seekor anjing yang sedang berjalan di depannya. Tiba-tiba anjing itu bertingkah laku seperti seseorang yang tidak sadar diri (dalam pengertian mistik). Ke mana pun ia pergi, anjing-anjing senantiasa mengerumuninya karena ingin menyentuhnya dengan kaki depannya (untuk menunjukkan kesetiaannya). Setelah itu mereka mundur dan berdiri mengambil jarak di sekitarnya dengan rasa hormat. "3 31 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Merujuk kepercayaan dan kepustakaan tentang ilmu sihir sejak masa kuno sampai Abad-abad Pertengahan, dan kemudian masa kini, yaitu mengenai praktik-praktik ilmu sihir tertentu, adalah penting untuk memahami Sufisme. Semua ilmu sihir dicatat orang-orang Timur dengan simbol-simbol yang belum dipahami para peneliti. Pada umumnya, simbolisme yang digunakan para Sufi itu sangat sulit dipahami. Dalam hal ini alkimia merupakan kata kiasan seperti penggunaan kata dalam sastra pada umumnya. Kepustakaan ilmu sihir tentang alkimia mencakup sebagian besar materi-materi ajaran Sufi. Bagaimana cara mereka menggunakannya dan apa maksud kiasan-kiasan itu tidak dapat dijelaskan secara memadai. Maka dari itu, menurut pengertian ilmu fiqih, sihir, maksudnya sihr al-halal (sihir yang dihalalkan) merupakan karya tulis Sufi yang tak dapat dipahami seperti karya tulis lainnya, kecuali di kalangan Sufi sendiri. Tulisan-tulisan tentang ilmu sihir itu dapat ditemukan dalam kitab Jawahirul Khamsa (Lima Permata) dan diakui sebagai kitab ilmu sihir keagamaan. Dalam praktiknya, ilmu sihir sebenarnya merupakan wahana untuk menyampaikan ajaran melalui kata-kata kiasan. Sufisme telah menggunakan terminologi ilmu sihir yang dihalalkan itu (seperti kimia, filsafat, ilmu pengetahuan) untuk menyampaikan ajaran-ajarannya. Teknik penggunan istilah ini dalam menyampaikan suatu disiplin ilmu telah diperkenalkan di Barat cukup dini. Menurut Profesor Guillaume, seorang Sufi aliran pencerahan, yakni Ibnu Masarra dari Cordoba, "merupakan orang pertama yang memperkenalkan suatu pemakaian istilah umum yang sangat ambigu dan samar ke Barat. Kepeloporan Ibnu Masarra ini telah diikuti sebagian besar penulis Sufi."4 Kitab Jawahirul Khamsa sendiri sebagian besar diturunkan dari kitab-kitab ilmu sihir al-Buni, ahli sihir Barat yang berasal dari Arab. Adapun seluruh tradisi besar ilmu sihir di Eropa pada Abad Pertengahan sangat dipengaruhi berbagai penyaduran yang mencakup dokumen-dokumen ilmu sihir dari para ilmuwan Arab-Spanyol. Salah satu alasan dalam mengangkat dokumen-dokumen ilmu sihir itu adalah karena naskah-naskah tersebut mengandung nilai-nilai tradisi (kehidupan) yang begitu kuat, mengandung pesan-pesan karakteristik yang abadi. Oleh karena itu, bisa dipahami, sebagaimana telah dibuktikan sebuah penyelidikan, bahwa sebagian besar tradisi pengetahuan Sufi yang dianggap tidak memadai makna oleh teologisnya itu disampaikan dalam bentuk-bentuk magis. Ilmu sihir adalah sebuah sistem pendidikan (training system), tidak lebih dari itu. Mungkin ia didasarkan pada pengalaman, ilham atau sejenisnya, maupun agama. Ilmu sihir tidak hanya mencakup kemampuan menciptakan pengaruh-pengaruh tertentu melalui teknik-teknik khusus, namun juga mendidik individu menjalankan teknik-teknik tersebut. Sebagaimana kita kenal saat ini, ilmu sihir mungkin menjadi subyek setiap bentuk rasionalisasi. Sebagai suatu kumpulan tulisan menyeluruh, ilmu sihir mencakup praktik-praktik minor seperti teknik hipnotis, dan kepercayaan-kepercayaan akan kemampuan meniru peristiwa-peristiwa alamiah. Meskipun unsur-unsur Sufisme tidak dapat dilihat secara terpisah, namun tradisi ilmu sihir sebagai salah satu unsur ajaran Sufi dapat dikaji secara mandiri. Pokok perhatian kita di sini hanyalah ilmu sihir yang meliputi upaya mengolah persepsipersepsi baru dan upaya mengembangkan kemampuan organ-organ manusia. 31 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Berdasar pada penjelasan ini, kita memahami bahwa tradisi agung ilmu sihir yang diwariskan turun-temurun itu (biasanya meliputi juga praktik-praktik keagamaan) ternyata berkaitan dengan upaya-upaya tersebut. Ilmu sihir tidak sepenuhnya berdasar pada asumsi bahwa segala sesuatu mungkin untuk mentransendir kemampuan-kemampuan manusia ataupun hanya berdasar pada kemampuan intuitif bahwa, jika Anda setuju, "iman dapat menggetarkan gunung". Kegiatankegiatan magis yang dirancang untuk melatih kemampuan memikirkan atau menggagas sesuatu, kemampuan menatap masa depan, ataupun kemampuan mengadakan hubungan dengan sebuah sumber pengetahuan superior (maha unggul) itu, pada dasarnya memberikan pencerahan bagi kesadaran manusia yang suram bahwa ada suatu kemampuan manusia untuk ikut serta secara sadar dalam evolusi kehidupannya serta suatu kemampuan mengembangkan kepekaan organ persepsi di luar teori-teori ilmu fisika dewasa ini. Jadi, ilmu sihir itu sendiri harus dinilai menurut kriteria Sufi. Apakah ia merupakan salah satu cara mengembangkan kehidupan mental manusia? Jika ya, di mana letak hubungannya dengan ajaran utama Sufi itu? Dari sudut pandang Sufisme, ilmu sihir pada umumnya dipandang sebagai suatu kemerosotan dari sistem Sufi tertentu. Metodologi dan reputasi sistem tersebut masih lestari, namun kepedulian untuk melestarikan hakikat sistem tersebut tidak diperhatikan lagi. Tukang sihir yang berupaya mengembangkan kemampuan-kemampuannya agar dapat menguasai kekuatan-kekuatan ekstra fisik tertentu hanyalah mengikuti sebagian sistem tersebut. Oleh karena itu, peringatan-peringatan akan bahaya fatal dalam mencoba-coba atau terobsesi mempraktikkan ilmu sihir kerapkali hampir selalu dikemukakan. Orang kemudian seringkali beranggapan bahwa alasan para praktisi ilmu sihir dalam memperingatkan bahaya itu sebenarnya karena mereka ingin tetap mempertahankan monopolinya. Dari sudut pandang luasnya bidang ilmu sihir, Sebenarnya para praktisi sendiri hanya mempunyai suatu pengalaman yang tidak sempurna tentang keseluruhan fenomena, hanya sebagiannya saja. "Bahaya fatal" dari aliran listrik sama sekali tidak mempengaruhi orang yang terbiasa bekerja dengannya dan mempunyai pengetahuan teknis yang sempurna tentangnya. Sihir dipraktikkan melalui upaya memperkuat tegangan emosi. Tidak ada fenomena sihir yang terjadi dalam suasana laboratorium yang tenang. Manakala emosi itu mencapai ketegangan tertentu, maka seolah-olah telah terjadi suatu lompatan yang melampaui sebuah jurang dan apa yang dianggap sebagai peristiwa supranatural sebenarnya telah dialami. Sebuah contoh yang lazim adalah fenomena poltergeist, yaitu fenomena yang hanya terjadi pada anak muda ketika mengalami perasaan gelisah yang terus-menerus menguasai dirinya. Pada titik puncak emosinya, ia melempar-lemparkan bebatuan dengan keras sekenanya, sehingga peristiwa itu tampak bertentangan dengan hukum gravitasi lantaran begitu kuat lemparan-lemparannya. Pada saat itu pun ia bisa mendorong benda-benda yang sangat berat. Akan tetapi, ketika seorang penyihir sedang mencoba mengangkat seseorang atau sebuah benda (berat) atau mempengaruhi jalan pikiran seseorang dengan cara tertentu, ia harus menjalankan suatu prosedur (yang kurang lebih kompleks, panjang) untuk membangkitkan atau memusatkan kekuatan emosional. Lantaran kemampuan membangkitkan emosi-emosi tertentu tidak sama pada setiap orang, maka sihir cenderung merupakan pemusatan kekuatan subyektif, seperti cinta dan benci. Sensasi-sensasi inilah yang, bagi individu lemah mental, menyediakan semacam bahan bakar paling sederhana, emosi "aliran listrik" sebagai 31 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pendorong untuk melompati jurang yang akan membawanya dalam suatu aliran yang lebih lestari. Ketika para pengikut sebuah tradisi kanuragan di Eropa dewasa ini berputar-putar di sebuah lingkaran untuk membangkitkan suatu "inti kekuatan", mereka sebenarnya sedang menjalankan suatu tradisi sihir. Namun peramal, yaitu orang yang sengaja merenung pada saat-saat tertentu untuk menembus rintangan waktu, dan penyihir yang menjalani sejumlah latihan untuk mencapai tujuan tertentu, tidak sama dengan Sufi. Tugas Sufi adalah melatih diri sedemikian rupa agar dapat mengembangkan kemampuan organ persepsi yang bermakna dan melakukan suatu tindakan (aksi) yang menimbulkan suatu dampak yang lestari. Peramal dan penyihir, seperti kebanyakan mistikus Kristen, sama sekali tidak mengembangkan dan membangun diri kembali seperti para Sufi itu. Yoga mungkin mirip dengan Sufisme, namun tidak menghasilkan sesuatu yang sangat bermakna. Penganut Budha yang menjalankan kontemplasinya mungkin dapat mencapai tujuan yang dipatoknya, namun kontemplasi tersebut sama sekali tidak menghasilkan manfaat, atau dinamisme kegiatannya itu tidak berarti, terutama bagi masyarakat. Untuk mengerti ragam mistisisme itu, kita sebaiknya membaca buku Miss Underhill, Mysticism, dan hampir setiap orang yang tertarik pada mistisisme telah membacanya. Miss Underhill menunjukkan kemiripan cara berpikir antara agama dan sihir, mistik dan magis (ragam sihir). Dari sudut pandang Sufi, kemiripan tersebut terletak pada tujuan dasarnya, yaitu konsep "mencapai kemajuan". Konsep ini merupakan tujuan dasar dari setiap kegiatan manusia, antara lain kemajuan peradaban, pengetahuan yang lebih mendasar. Miss Underhill menyimpulkan bahwa tujuan mistik adalah "menjadi", dan tujuan setiap ilmu sihir adalah "mengetahui". Tentu saja tujuan Sufi juga "menjadi", namun berbeda dengan tipe mistik lainnya, tujuan Sufi sekaligus "menge-. tahui". Namun Sufi membedakan antara mengetahui fakta-fakta apa adanya dan mengetahui realitas secara mendalam. Kegiatan Sufi adalah mengaitkan dan menyelaraskan semua faktor tersebut, yaitu memahami, menjadi dan mengetahui. Disamping itu, metodologi Sufi juga mengorganisir kekuatan emosional, yang berusaha dibangkitkan oleh penyihir itu, sesuai dengan pemanfaatannya yang benar untuk "menjadi" dan "mengetahui" itu. Jadi dari sudut pandang Sufisme, baik sihir tingkat tinggi maupun mistisisme biasa hanya menerapkan suatu metodologi parsial yang direproduksi dari polanya sendiri. Namun apabila kedua aliran tersebut berusaha mengembangkan apa yang diwarisinya dan sebenarnya ada suatu ruang pengembangan genetis serta kekuatan yang memadai untuk melakukannya, maka hal ini akan mengurangi anakronisme. Akan tetapi upaya-upaya tersebut mungkin suatu pelarian dari nasib individu dan masyarakat. Lalu, apakah ritual-ritual magis merupakan sebagian tradisi para Sufi yang sejati? Bukan, bagi Sufi, simbol-simbol hanya mempunyai fungsi asosiatif dan dinamis tertentu. Sufi menggunakannya atau dipergunakannya secara instinktif. Bagi Sufi yang telah matang (pengalamannya), tujuan ritual itu bukan untuk kebaktian kepada gurunya, namun untuk memusatkan pikiran serta melatih "meningkatkan" kematangan emosi dan dapat dilakukan tanpa mengasingkan diri. Adapun 31 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pageantry (semacam peragaan spektakuler para penganut mistik) dan ritual yang dijalankan dalam kehidupan non-Sufi [yaitu arak-arakan, regalia (lambang-lambang yang dikenakan sebagai aksesori) serta ungkapan-ungkapan simbolis] dipandang tidak ada manfaatnya oleh para Sufi, karena hanya bertujuan untuk menarik perhatian tanpa upaya menyebabkan faktor-faktor pengembangan spiritual itu. Kebanyakan para penganut tradisi pageantry memang sama sekali tidak pernah mengetahui hal itu dan kerapkali tidak mampu memahaminya walaupun diuraikan secara sederhana kepada mereka. Psikologi Sufi mengacu pada suatu mekanisme batin yang secara spontan berkemampuan menyelaraskan (menguasai) dampak-dampak yang ditimbulkan emosi. Dampak-dampak emosi ini misalnya terjadi ketika orang menentang sesuatu yang tidak diyakininya, atau ketika masyarakat maupun kelompok tertentu menentang keyakinan yang tertanam dalam pikiran (kesadaran)nya. Di dunia Barat modern, sebuah metode sastra yang kadangkala disebut debunking (upaya membongkar kepalsuan-kepalsuan dalam masyarakat) sengaja dilakukan. Namun Debunker (sang pembongkar) mungkin tidak mampu menguasai dirinya sendiri, karena ia harus mampu menguasai dampak-dampak pembongkaran itu terhadap dirinya. Masyarakatnya mungkin menerima pembongkaran itu sebagai anugerah, karena pembongkaran itu ibarat makanan bagi orang kelaparan yang dengan lahap menyantapnya tanpa mengetahui (mempedulikan) sopan-santun. Intelek sama sekali tidak mampu menguasai emosi, karena emosi dalam keadaan tersebut sebenarnya ibarat sebuah bara yang harus diberikan kepada orang yang tepat, atau sebuah beban yang harus dipikulkan kepada orang yang mampu, atau sebuah kekuatan yang harus digunakan secara benar. Gejolak emosi ini sama sekali tidak dapat ditangkal dengan pemikiran, bahkan tidak dapat diarahkan kembali secara benar dengan memanfaatkannya atau memulihkannya. Dalam hal ini, para psikolog Barat menggunakan istilah katarsis untuk menunjuk orang yang mudah meledak atau melemah emosinya, karena mereka mungkin merasa putus asa dalam menjelaskan fenomena tersebut. Mereka menggunakan alternatif tersebut, karena mereka tidak mempunyai cara lain untuk menjelaskan fenomena orang lain agar dapat dipahami masyarakat. Hal ini mungkin cukup memadai bagi masyarakat modern. Namun tidak demikian bagi Sufi, karena ia menganggap bahwa manusia adalah pribadi "yang bebas pergi ke mana saja", bukan pribadi yang harus dikekang atau dipulihkan, suatu norma sosial yang tidak dapat dipahami oleh logika murni atau dinilai dengan kriteria-kriteria kebijaksanaan massal. Semua ini bukan berarti bahwa Sufi bukanlah psikolog. Sebaliknya, cara mereka mengatasi masalah psikosomatik ini mempunyai nilai yang bermakna bagi masyarakat luas, sehingga dalam beberapa hal "Sufi" adalah seorang "tabib". Maka dari itu mereka dianggap sebagai tukang sihir atau mistikus. Namun pada dasarnya Sufi dimaksud menunjukkan sesuatu bukan hanya mengobati orang sakit dan orang cacat. Kemampuan-kemampuannya untuk mengobati secara psikologis sangat berdasar pada operasi (pengobatan) menolak (penyakit). Pengetahuannya tentang ketidaksempurnaan orang yang dianggap waras adalah sumber kemampuannya untuk mengobati orang yang sebenarnya tidak waras. Bahkan di dalam "publik", masyarakat dan mistisisme tradisional, orang suci tidak diakui sebagai orang suci karena ia sekadar menjadi tabib, namun orang diakui sebagai tabib karena ia memang orang suci --bahkan yang terbaik di antara mereka. Hal ini membawa kita kembali pada persoalan pengalaman intuitif. "Ketika singa sakit, ia makan beberapa tumbuhan liar untuk mengobati dirinya sendiri. Ia melakukan ini karena 31 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi penyakit mempunyai suatu daya tarik-menarik dengan tumbuhan tertentu, atau dengan dzatnya. Setiap penyakit selalu ada obatnya. Pergunakanlah pengetahuan ini, maka engkau akan lebih mengetahui (tentang obat-obatan) daripada dokter yang hanya mengingat fakta-fakta dan hafalan-hafalan yang dapat diterapkannya. Ada perbedaan antara asumsi-asumsi yang sangat menjanjikan itu dengan pengetahuan positif (sang dokter), karena kasus setiap penyakit hampir berbeda." [Thibbul-Arif, karya Abdul Wali, Salik]. Ikhwanush-Shafa [Persaudaraan Seiman, di Inggris biasanya dikenal Brethren of Sincerity (Persaudaraan Sehati)] adalah sebuah kelompok raksasa yang terkenal dengan kelima puluh dua risalahnya. Karya ini dipublikasikan di Basrah sekitar 980 Masehi. Tujuan madzhab ini adalah menyampaikan bagan pengetahuan yang utuh di zamannya. Bidang kajian mereka meliputi filsafat, agama, ilmu pengetahuan dan bidang kajian lainnya. Mereka seringkali dituduh sebagai kelompok penyihir. Seperti Rosicrucian Eropa yang telah dipengaruhi mereka, mereka pun dianggap telah menyebarkan suatu pengetahuan batin. Langkah pertama Ikhwanush-Shafa adalah membuat sebuah media untuk menyampaikan bidang kajian yang lebih terorganisir. Para anggotanya tidak harus selalu sebagai pengarang, namun hubungan mereka dengan para Sufi tidak diragukan. Nama shafa adalah asonansi (penyesuaian beberapa konsonan atau vokal) dari salah satu interprestasi kata "Sufi". Sedang konsep keseimanan dan mencintai persahabatan merupakan sebuah konsep Sufi. Selain itu, nama mereka mungkin telah diadopsi dari sekelompok binatang dalam kumpulan kisah-kisah alegoris kalilah, yaitu kisah sekelompok binatang yang saling setia untuk melindungi diri dari seorang pemburu. Guru Sufi yang Agung, al-Ghazali menyatakan telah berhutang budi kepada mereka dalam menyusun Ihya'-nya. Guru Sufi lainnya, al-Ma'ari, pelopor Omar Khayyam, konon sering menghadiri pertemuan-pertemuan mereka. Al-Majriti, ahli ilmu falak dari Madrid atau muridnya al-Karmani dari Cordoba dan Ibnu Rusyd telah memperkenalkan ajaran-ajaran mereka di Barat, termasuk teori-teori musik. Mereka sangat mempengaruhi perkembangan musik serta filsafat moral yang berkaitan dengan filsafat pencerahan Sufi. Sang Sufi yang Agung, Rumi menyatakan kesepakatannya dengan ajaran-ajaran Ikhwanush-Shafa. Sebagai ensiklopedi Sufi yang sangat mengesankan, Rumi menulis: Renungkanlah (ajaran-ajaran) Ikhwanush-Shafa, sekalipun mereka tampak bersikap kasar kepadamu. Selagi prasangka buruk menguasai dirimu, ini akan menjauhkanmu dari para sahabat. Bila seorang sahabat yang baik hati mengujimu dengan perlakuan keras, "maka tak beralasan untuk menjauhinya.5 Peringatan seperti ini merupakan sebagian metode pengajaran Sufi yang digunakan Rumi untuk menguji ketabahan muridnya, atau tujuan Rumi menunjukkan bahwa perlakuan-perlakuan yang tampak keras itu bertujuan mengembangkan dasar-dasar pengalaman spiritual Sufi. Sebelum tahun 1066, al-Majriti (The Madridian) dari Cordoba serta muridnya, al- Karmani, membawa Encyclopaedia karya Ikhwanush-Shafa dari Timur Dekat itu ke Spanyol. Karya ilmiah Majriti ini diterjemahkan seorang berkebangsaan Inggris, 31 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Adelard of Bath, ahli Arab pertama dan ilmuwan besar Inggris sebelum Roger Bacon.6 Sumbangan penting Adelard bagi kajian-kajian Sufi di Barat sangat besar, karena ia telah membuka jalur awal bagi transmisi ajaran Sufi selama masa klasik. Dalam hal ini, Adelard pasti telah membuka hubungan dengan pusat-pusat kajian Sufi di Spanyol dan Syria yang giat menyebarkan buku-buku tentang ilmu pengetahuan serta ajaran-ajaran spiritual. Karena pandangannya itu, Adelard dianggap sebagai seorang Platonis, meskipun dari sudut pandang Sufi, Platonisme dianggap sebagai sebuah ragam Sufisme yang kemudian. Seorang sejarawan kontemporer ahli Abad Pertengahan' memaparkan bagaimana Adelard mengenalkan pandangan-pandangan Sufi, sebagai sumbangan besar pada "pusat kajian bagian kemanusiaan dan Platonisme" dari madzhab Chartres: "Adelard memandang bahwa (konsep) individual sama dengan (konsep) universal. Bagi kami, pandangan ini mengacaukan konsep individual itu sendiri ... Adelard adalah pemikir pertama pada masa itu yang menunjukkan hubungan langsung antara ide-ide Ilahi dengan benda-benda. Secara garis besar, pandangan ini merupakan hasil (perpaduan) pengetahuannya tentang ilmu-ilmu Yunani dan Arab." Akan tetapi, pengaruh Ikhwanush-Shafa atas bentuk-bentuk mistisisme lainnya dan pemikiran transendental di Barat sebenarnya lebih mengejutkan. Sejak abad kesebelas Masehi, sistem (ajaran) yang dikenal sebagai Cabala --konsep mistik Yahudi tentang mikrokosmos dan makrokosmos serta cabang-cabang teoritis dan praktisnya telah begitu menarik perhatian pikiran-pikiran besar di Barat dan Timur. Dengan menjalankan sistem Cabala ini, orang akan mampu memahami dirinya sendiri, memiliki kekuatan-kekuatan yang luar biasa, mampu menampilkan hal-hal yang menakjubkan, melakukan dan menjadi apa pun. Hasrat kuat orangorang Yahudi dan Kristen untuk mempelajari dan mempraktikkan sistem Cabala timbul, karena mereka menganggap sistem tersebut benar-benar berakar pada esensi doktrin Ibrani Kuno, yaitu ajaran yang sejati dan Kuno tentang kebatinan, doktrin rahasia. Tidak ada aliran okultis (semacam kanuragan), ilmu sihir ataupun mistik sebelum sistem tersebut menyebar luas di Barat. Sedang arti kata Cabala sendiri adalah hasrat kuat memahami misteri, hasrat kuat memperoleh kekuatan. Lalu apa sumber Cabala itu? Cabala adalah suatu ilmu pengetahuan karakteristik Yahudi yang memadukan antara kejujuran dan ketidakberpihakan dengan suatu upaya mencari kebenaran. Yang mungkin mengejutkan adalah Jewish Encyclopaedia ternyata telah mencatat peran yang sangat menentukan dari Ikhwanush-Shafa dalam pembentukan sistem Cabala: "Asal-usul ajaran persaudaraan seiman dari Basrah itu adalah tentang delapan unsur sifat Tuhan yang kemudian diubah oleh seorang filosuf Yahudi menjadi sepuluh unsur."7 (Ajaran) Cabala bermula dari dua wilayah penyebaran ajaran-ajaran Ikhwanush- Shafa, yaitu Italia dan Spanyol. Sistem pemakaian istilahnya mungkin diturunkan dari ajaran kuno Yahudi yang ternyata sejalan dengan ajaran Ikhwanush-Shafa, namun tetap berdasarkan tata bahasa Arab. Lebih dari itu ada suatu kaitan yang sangat menarik antara ajaran Sufi dengan ajaran Yahudi itu, sehingga para Sufi menggarisbawahi kesamaan identitas yang mendasari kedua aliran tersebut. 31 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Beberapa fakta yang menunjukkan kaitan antara ajaran Sufi dan mistik Yahudi- Kristiani itu adalah sebagai berikut: Ibnu Masarra dari Spanyol adalah seorang pendahulu Sulaiman ibnu Gabirol (Avicebron atau Avencebrol) yang telah menyebarkan pikiran-pikirannya. Menurut Jewish Encyclopaedia, ajaran kedua Sufi ini mempunyai pengaruh yang lebih besar atas perkembangan Cabala daripada sistem filsafat mana pun. Tentu saja, Ibnu Gabirol, pengikut Sufi berdarah Yahudi ini, diakui telah mempunyai pengaruh sangat besar terhadap pemikiran Barat. Menurut sang guru Yahudi Azriel dalam sistem ajarannya itu, Cabala, Tuhan disebut ENSOF, ketakterbatasan mutlak. Hal ini adalah upaya (Azriel) untuk menjelaskan sistem ajaran Cabala kepada para filosuf setelah kedatangannya di Eropa. Tentu saja, kajian tata bahasa dan maknamakna kata Arab merupakan dasar pemakaian istilah dalam sistem ajaran Cabala untuk tujuan-tujuan mistik. Tata bahasa Arab sendiri merupakan model (acuan) bagi tata bahasa Ibrani. Sedang tata bahasa Ibrani pertama kali ditulis Sa'di (orang Yahudi, w. 942) dalam bahasa Arab, seperti karya-karya tulis awal. Judul kitab tersebut Kitab al-Lughah, "dalam bahasa Arab dan di bawah pengaruh filologi Arab" (Jewish Encyclopaedia, Vol. 6, hlm. 69). Tata bahasa Ibrani baru mulai dikaji bangsa Yahudi dalam bahasa Ibrani sendiri pada pertengahan abad kedua belas. Ternyata para Sufi dan Ikhwanush-Shafa telah menciptakan apa yang mereka anggap sebagai ajaran paling luhur, yaitu tradisi pengetahuan rahasia tentang keseluruhan (realitas) dan kekuatan. Tradisi pengetahuan ini telah diwariskan kepada Yahudi-Arab. Cabalis Yahudi telah menyadur ajaran tersebut dalam pemikiran Yahudi kontemporer, sehingga Cabala Arab menjadi Cabala Yahudi, kemudian Cabala Kristen. Namun, meskipun tidak pernah menyusun buku pengetahuan yang utuh sebagai sumber kajian, Ikhwanush-Shafa tetap memadukan ritus-ritus Sufi dengan pokok-pokok ajaran Cabala yang murni itu. Sebenarnya sistem ajaran Cabala Arab ini telah banyak berpengaruh terhadap mistisisme Yahudi, bukan Cabala Yahudi sendiri. Jewish Encyclopaedia menggarisbawahi pengaruh tradisi Sufi ini: "Penyebaran Sufisme pada abad kedelapan kemungkinan besar telah mempunyai peran dalam menghidupkan kembali mistisisme di kalangan para pengikut Muhammad. Di bawah pengaruh langsung para Sufi itu, kemudian lahir sebuah sekteYahudi yang disebut Yudghani." (Vol. xi, hlm. 579). Sedang pengaruh sistem ajaran Sufi terhadap aliran mistik Yahudi Markabah --para pengendara, sangat kuat terhadap beberapa fenomena dari mistik itu yang identik dengan Sufisme (misalnya, tradisi warna yang kemudian menjadi ketakberwarnaan). Hasidisme, aliran kesalehan mistik yang lahir di Polandia pada abad kedelapan belas, tidak hanya merupakan "kesinambungan nyata dari ajaran Cabala, namun benar-benar berdasarkan kepada Sufisme atau sebagian ajaran Cabala yang identik dengan Sufisme". Sumber yang sama mencatat "analogi yang sangat jelas" antara praktik-praktik dari kedua aliran mistik Yahudi dengan "pokok-pokok praktik Sufisme" dalam aktivitas Hasidis, termasuk hubungan antara murid dan guru. Sedangkan buku pertama tentang etika pada periode Yahudi-Arab berdasar sebuah teladan Sufi. Maka dari itu, "Sufisme memperoleh perhatian khusus dari para sarjana Yahudi, karena pengaruhnya terhadap karya tulis etika dan mistik pada masa Yahudi-Arab itu". 31 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Kiranya perlu ditambahkan bahwa kata sifat "Arab" dan 'Yahudi" tidak begitu penting bagi Sufi. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ada semacam saling pengertian antara orang Spanyol yang telah mengikuti tarekat Sufi dan orang Spanyol yang sangat banyak berperan dalam menyebarkan ajaran-ajaran Sufi ke Barat Kristen. Tentu saja Cabala adalah sebuah formulasi, sebuah kerangka dasar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Seperti kebanyakan sistem ajaran mistik --demikian pula kerangka sistem Tarekat-tarekat Sufi-- seperti api di dalam sekam, ia tetap hidup setelah masa keterputusannya dan setelah berlangsungnya readaptasi (penyesuaian kembali ajaran-ajarannya yang murni). Jadi menurut Sufi, sihir dan keajaiban mempunyai fungsi yang sama dan bersifat aktif. Keduanya terjadi sesuai dengan ruang dan waktu serta dengan syarat-syarat tertentu. Lantaran keduanya terikat waktu sekaligus arah suatu perkembangan, maka sihir dan keajaiban harus dilihat sebagai hal yang luar biasa di satu sisi dan hal yang lazim di sisi lain. Apabila orang masih melihatnya di luar kriteria-kriteria tersebut, maka mereka tentu akan menganggapnya sebagai suatu hal yang ajaib dan tidak berguna. Catatan: 1 Gairdner, Introduction pada the Niche for Lights, hlm. 6. 2 Seorang teolog, Profesor A. Guillaume, Islam, London, 1954, hlm. 152. 3 Sufism, Its Seeds and Shrines, Lucknow, 1938, hlm. 182-3. 4 Op.cit., hlin. 266. 5 Versi Whinfield, Matsnawi, Buku V, Kisah X, London, 1887. 6 Prof P K. Hitti, History of the Arabs, London, 1960, hlm. 573 dan seterusnya. Gordon Leff, Medieval Thought, London, 1958, hlm. 116 dan seterusnya. 7 Perubahan dasar Cabalisme itu telah memberi cacat pada perkembangan sistem ini, terutama tujuan dan arti pentingnya. Oleh karena itu, literatur Cabala Ibrani dan Kristiani pada akhir abad kedua belas tidaklah begitu berarti. Literaturliteratur itu mencakup semua aspek Cabala, yaitu Sepuluh Unsur, dan berbeda dengan "Eight Cabala." 31 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi GURU, PENGAJARAN DAN MURID Engkau tidak dapat melakukan sesuatu sendiri carilah seorang Sahabat! Jika engkau telah merasakan sececap kehambaran (kelemahanmu), maka engkau akan kecewa (pada dirimu sendiri). (Nizhami, Treasury of Mysteries) Orang kerapkali berkata bahwa secara mental orang Timur akan senantiasa mematuhi dengan setia ajaran-ajaran seorang guru, mengikuti petunjukpetunjuknya dengan bentuk kepatuhan yang jarang ditemui di Barat. Bagi seseorang yang mempunyai pengetahuan utuh tentang dunia Timur, generalisasi tersebut merupakan kesalahpahaman orang Barat semata --bahwa mentalitas semua negara-negara Timur itu relatif sama. Secara umum apa yang bisa dikemukakan tentang sikap orang Timur terhadap guru-guru spiritual mereka bahwa ada lebih banyak pendidik di Timur dan ternyata mereka senantiasa berbuat kebajikan. Hampir setiap orang dibesarkan dengan suatu kepercayaan diri yang menjadi dasar pemikirannya. Pemikiran untuk menerima bimbingan itu dibingungkan dengan hilangnya kebebasan karena suatu kelemahan yang lazim dalam menalar secara benar. Kebanyakan orang --baik di Timur maupun di Barat-- tidak menyadari bahwa menyerahkan diri ke haribaan seorang guru sama sekali tidak akan menyebabkan kehilangan jati diri. Sebenarnya mereka tidak konsisten, di satu sisi mereka percaya penuh kepada seorang ahli bedah yang memotong usus buntunya karena mereka memang buta tentang ilmu bedah, namun di sisi lain mereka menolak pengetahuan superior atau pengalaman guru dalam suatu bidang yang sebenarnya tidak mereka pahami. Karena para guru Sufi tidak menyebarkan ajarannya atau berusaha mencari pengikut, maka kita hanya dapat mendekati melalui pernyataan-pernyataan para Sufi yang telah matang (pengetahuannya) dan umumnya bukan pernyataan guru mereka sendiri. "Engkau menemui pendeta karena telah menjadi kebiasaan atau percaya kepadanya," kata seorang Sufi, "dan karena ia mengetahui dengan pasti dalam memecahkan masalah-masalah tertentu. Engkau pergi ke dokter karena engkau menderita penyakit parah yang membutuhkan pertolongannya. Engkau seringkali mengunjungi para 'penyihir' karena mengalami kerapuhan batin; Engkau mengunjungi pembuat pedang untuk mendapatkan kekuatan lahiriah; engkau mengunjungi pembuat sepatu karena telah mengenal hasil karyanya dan ingin membelinya. Janganlah engkau mengunjungi orang Sufi apabila hanya mencari keuntungan, jika engkau mencoba membantahnya, ia akan mengusirmu." Sufi percaya bahwa daya tarik seorang guru Sufi pada dasarnya berasal dari pengetahuan intuitifnya, adapun alasan-alasan yang diberikan calon Sufi tidaklah 31 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi penting, hanya semacam rasionalisasi. Seorang Sufi berkata, "Aku mengenal guru sebagai manusia yang agung dan baik sebelum bertemu dengannya. Namun setelah ia memberikan penerangan kepadaku, baru aku menyadari keagungan dan kebaikannya ternyata jauh lebih agung dan jauh di luar kemampuan pemahamanku semula." Kebebasan dan keterikatan itu cenderung merupakan perasaan subyektif dalam diri setiap orang. Seorang Sufi berkata, "Guruku telah membebaskanku dari kungkungan. Kungkungan yang sebelumnya aku kira kebebasan itu ternyata sebuah lingkaran setan." Menangguhkan sepenuhnya rasa percaya diri atas suatu bidang yang sebenarnya bukan kegiatannya, digambarkan dalam sepenggal otobiografi Sufi berikut ini: "Semula aku bertekad harus menempuh Jalan mistik sendiri, dan berjuang untuk itu, tapi kemudian sebuah suara berkata, 'Engkau harus pergi menemui seorang pencari jejak yang akan menunjukkan jalan dalam menjelajahi hutan belantara atau engkau lebih suka mencari jalanmu sendiri dan binasa dalam pencarianmu itu'?"1 Kendati kecakapan-kecakapan Sufi mungkin berkembang secara spontan, namun kepribadian seorang Sufi tidak bisa matang dengan sendirinya, karena sang Pencari tidak mengetahui secara pasti jalan mana yang mesti ditempuh dan pengalamanpengalaman apa yang akan dilaluinya. Ia masih berada dalam tahap rawan kerapuhan pribadi yang mempengaruhinya dan (membutuhkan) seorang guru yang "membimbing"-nya. Maka dari itu, Syekh Abu al-Hasan Saliba menyatakan, "Lebih baik seorang murid diawasi seperti seekor kucing ketimbang di bawah pengawasan dirinya sendiri." Gerak hati seekor kucing beragam dan tak terkontrol, demikian pula gerak hati para calon Sufi pada tahap awal. Perumpamaan antara manusia yang tidak bisa bangkit kembali ini dengan binatang, kendati dirinya dianugerahi kecakapan-kecakapan namun belum mampu memanfaatkannya sendiri, kerapkali digunakan dalam pengajaran Sufi: "Semakin manusia bersifat seperti binatang, semakin kurang pemahamannya atas pengajaran. Baginya, seorang Pembimbing mungkin tak ubahnya seperti pemburu yang menggiringnya ke dalam sangkar. Aku pun dulu begitu,' kata Aali-Pir." "Seekor elang liar berpikir bahwa apabila tertangkap, sebagaimana senantiasa perkiraannya, maka ia akan diperbudak. Ia tidak menyadari bahwa sang tuan akan memberikannya sebuah kehidupan yang lebih lapang. Dengan bertengger secara leluasa di pergelangan tangan sang Raja, ia tidak akan pernah lagi memikirkan kelezatan makanan dan merasa takut. Satu-satunya perbedaan antara manusia dan binatang di sini adalah bahwa binatang takut pada setiap orang. Sementara itu manusia juga mengklaim bahwa dirinya mampu menilai kehandalan guru. Apa yang sebenarnya sedang dilakukannya adalah membangkitkan intuisi dan kecenderungannya untuk menyerahkan diri kepada salah seorang yang mengetahui Jalan itu". Lebih dari itu, interaksi antara guru dan murid hampir tidak mungkin timbul tanpa peran guru. Bentuk ungkapan, tindakan dan kerjasama Sufi membutuhkan tiga hal: guru, pelajar, komunitas atau sekolah. Dalam pernyataannya, Rumi mengacu pada kegiatan yang kompleks berikut ini: 32 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Ilm-amozi tariqish qawli ast Hazfa-amozi tariqissh fa'li ast Faqr-amozi az sohbat qalm ast. Ilmu pengetahuan dipelajari melalui kata-kata; Seni dipelajari dengan berlatih; Hidup Fakir dipelajari melalui persahabatan. Lantaran cara belajar itu sendiri harus benar-benar dikuasai, maka pada bagian lain Rumi berkata, "Sebuah batu dalam pandangan orang biasa sesungguhnya sebuah mutiara bagi orang yang mengetahuinya." Fungsi seorang guru adalah membuka pikiran murid, sehingga memungkinkannya mengetahui nasibnya. Agar dapat melakukan ini, orang harus menyadari seberapa jauh pemikirannya dikuasai praduga-praduga. Pada tahap ini, memahami keadaan tersebut secara benar adalah tidak mungkin, maka dari itu ia harus siap memasuki organisasi manusia yang melatihnya untuk berpikir menurut garis-garis tertentu, "Bukalah pintu pikiranmu terhadap obyek pemahaman yang diabaikan, karena engkau miskin sedangkan ia kaya." (Rumi). Dengan demikian, Sufisme dapat dipahami sebagai suatu perjuangan melawan penggunaan kata-kata untuk membangun pola-pola pemikiran, dengan jalan menawan manusia pada suatu tingkat kehidupan yang tak lazim, atau upaya menjaga ummat manusia dari pergeseran nilai-nilai yang mendasar. Seorang Sufi pernah ditanya, mengapa para Sufi menggunakan kata-kata dalam pengertian yang khas, yang mungkin dilepaskan dari konteks maknanya yang lazim. Ia menjawab, "Sebaiknya engkau renungkan, mengapa orang-orang menderita karena tirani kata-kata, dilumpuhkan oleh adat-istiadat sampai mereka laksana menjadi kaki tangannya belaka." Hubungan antara guru dan murid dalam Sufisme hanya dapat dipahami melalui sistem pengajarannya. Di satu sisi ajaran Sufi berada di luar konsep ruang dan waktu. Hal ini sesuai dengan unsur dasar dalam Sufisme, bahwa guru dan murid mempunyai status yang sama. Di sisi lain ajaran Sufi meliputi semua aspek kesadaran manusia yang terdiri dari pengalaman, kehidupan dan konsep bendabenda. Suatu bentuk interaksi yang khas menimbulkan suatu transformasi. Maka dari itu, hubungan tersebut pada dasarnya jauh melampaui ruang lingkup belajar mengajar formal. Guru Sufi lebih dari sekadar orang yang menyampaikan pengetahuan formal; lebih dari sekadar orang yang mengadakan hubungan harmonis dengan siswa, lebih dari sekadar sebuah mesin yang memberikan sejumlah informasi tentang barang-barang yang tersedia dalam gudang perbekalan. Ia mengajarkan lebih dari sekadar sebuah metode pemikiran atau suatu sikap hidup; lebih dari sekadar suatu kemampuan untuk mengembangkan diri. Seorang profesor dari Ceko, Erich Heller menyinggung masalah kajian sastra itu dan khususnya metode pengajarannya dalam kata pengantarnya untuk sebuah buku sastra yang segera menjadi buku pengajaran klasik pada pertengahan abad kedua puluh. Ia menulis bahwa "guru terlibat dalam suatu tugas yang tampaknya tidak mungkin diamati melalui standar-standar penelitian laboratorium --mengajar 32 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi materi yang sebenarnya tidak dapat diajarkan, namun hanya dapat 'ditangkap', seperti nafsu, keburukan atau kebajikan." (The Disinherited Mind, London, 1952). Tugas guru Sufi bahkan lebih kompleks dari guru sastra tersebut. Namun berbeda dengan guru sastra, ia tidak mempunyai tugas mengajar dalam pengertian biasa. Tugasnya adalah menjadi, menjadi diri sendiri; dan tujuan pengajarannya justru terpantul dari proses menjadi itu sendiri. Dengan demikian, tidak ada pemilahan antara ruang publik dan ruang pribadi dalam kehidupan seorang guru Sufi. Guru yang membedakan perilakunya di kelas dan di rumah, bersikap seperti kalangan profesional atau seperti perawat orang sakit bukanlah seorang Sufi. Maka dari itu, konsistensi tersebut melibatkan dirinya secara utuh. Perilaku lahiriahnya mungkin kelihatan berubah-ubah, namun personalitas batinnya tetap tunggal. Pengajar yang hanya menyentuh bagian luar tugas tersebut tidak dapat menjadi guru Sufi. Laki-laki ataupun perempuan dengan penampilan resmi yang menguasai pikirannya sehingga ia kehilangan arah karena terpesona oleh personalitas temporer itu, tidak dapat menjadi guru Sufi. Orang tidak harus berkepribadian sematang Walter Mitty, tokoh ciptaan James Thurber, untuk mengalami "keterlibatan" diri (secara sosial), suatu keadaan yang mungkin hanya merupakan sebuah tahap awal kesadaran Sufi. Jadi, mengajar tidak mungkin dilakukan seseorang yang mudah terpengaruh keadaan-keadaan yang bersifat sementara. Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa orang biasa mempunyai personalitas labil yang secara sosial terbiasa "memainkan sebuah peran". Dalam suatu skala prosedur standar lembaga-lembaga sosial pada umumnya, ada suatu penangguhan personalitas tiruan atau berubah-ubah itu. Penangguhan itu sendiri bukanlah suatu keburukan, tak pelak lagi dari sudut pandang Sufi ia merupakan suatu indikasi ketidakmatangan. Keutuhan personalitas batiniah guru Sufi, meski diungkapkan melalui aneka ragam cara, tidak berarti serupa dengan personalitas lahiriah yang sangat diutamakan kalangan literalis. Pribadi yang dingin, personalitas yang kaku, guru yang menyendiri atau personalitas yang takjub diri dan "orang yang sama sekali tak lentur" tidak dapat menjadi seorang guru Sufi. Pertapa yang memisahkan diri dari masalah duniawi, dan dengan demikian dirinya sendiri merupakan suatu inkarnasi eksternal serta bagi kalangan pengamat kelihatan tidak memihak, bukanlah seorang guru Sufi. Alasan tersebut sama sekali tidak dibuat-buat. Namun alasan yang statis itu menjadi tidak berguna dalam pengertian organis. Selama bisa dibuktikan, seseorang yang senantiasa bersikap dingin dan tenang, tentu tidak merasa kesulitan untuk menjalankan fungsi tersebut, yaitu kegiatan mengasingkan diri. Ia "tidak pernah melakukan agitasi", dan dengan menarik diri dari salah satu fungsi organik maupun kehidupan mental, maka ia telah mempersempit ruang gerak kegiatannya. Suatu disiplin yang terlampau ketat senantiasa menjadi batasbatas yang kaku. Bagi Sufi sendiri, pengasingan itu hanya sebagian perubahan dinamis. Sufisme berjalan dengan berbagai cara. Pengasingan diri secara intelektual hanya berguna apabila memungkinkan si pelaku melakukan sesuatu yang membawa manfaat. Dengan sendirinya, ia tidak mungkin berakhir dalam mata rantai sistem realisasi diri manusia. 32 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Tentu saja, dalam sistem metafisika parsial atau diterlantarkan itu, tujuan tersebut tidak lagi menjadi sebuah tujuan. Maksud pengasingan atau ketidakberpihakan, ataupun kelunakan (yang merupakan unsur dasar dari suatu pengembangan pribadi) dianggap begitu aneh, atau diperlukan ala kadarnya dan sangat sulit dicapai, sehingga orang "enggan" melakukannya. Suatu pengembangan pribadi lebih lanjut yang dirasionalisasi itu bertujuan untuk membuktikan bahwa pengasingan, asketisme atau bentuk pengembangan lainnya, mempunyai suatu tujuan yang sublim atau tak terbatas. "Si Fulan telah mencapai tingkat pengasingan diri secara sempurna, walhasil ia benar-benar tercerahkan." Pada umumnya pencapaian tersebut menjadi legenda. Tentu saja orang itu tidak mengikuti orang lain, meskipun kelihatannya demikian. Di Eropa Barat Anda akan mendengar pernyataan orang bijak lainnya, "Orang itu pribadinya mengagumkan; ia dapat mengendalikan gerak hatinya. Aku selalu menemuinya untuk meminta nasihat tentang masalah-masalah pribadi." Apabila dikatakan kepada orang bijak itu, "Orang itu mengagumkan, ia dapat menulis sembilan puluh kata dalam semenit --utarakan masalahmu kepadanya," maka reaksinya tentu akan marah. Dalam bidang metafisika yang memberinya kemampuan untuk menyangsikan ketulusan, seseorang hanya bisa mengajar apa yang benar-benar dipercaya sebagai kebenaran. Apabila ia mengajar Anda dengan cara membimbing Anda sehingga Anda dapat mencapai ideal mistik tertentu, maka pertama kali ia harus membawa Anda pada beberapa tingkat keyakinan yang telah dicapainya melalui metode tersebut. Inilah yang disebut afirmasi positif, yang bisa diterima atau disanggah. Metode pengajaran Sufi mencakup suatu bidang yang lebih luas lagi. Dengan menggambarkan titik perhatian dari sudut pandang yang tidak konvensional dan mempraktikkan suatu kegiatan kolektif yang disebut Sufisme, guru Sufi berupaya menyediakan materi-materi yang dapat mengembangkan kesadaran murid. Seperti dinyatakan Sir Richard Burton, prosedur pengajarannya mungkin kelihatan destruktif, namun "sebenarnya rekonstruktif". Rumi mengacu pada faktor tersebut ketika ia membicarakan tentang pembongkaran sebuah rumah untuk menemukan sebuah benda berharga. Tentu saja orang tidak menginginkan rumahnya dibongkar, meskipun berlian yang ada di dalamnya lebih besar manfaatnya bagi dirinya ketimbang bangunan (sebagai ilustrasi kita dapat mengajukan anggapan) yang sebenarnya tidak disayanginya. "Berlian itu," lanjut Rumi, "ditemukan dengan membongkar rumah." Bukan masalah apabila terpaksa memecahkan telur untuk membuat telur dadar, karena telur tidak memecah dengan sendirinya untuk bisa menjadi sebuah telur dadar. Lebih dari itu, guru Sufi yang berperan sebagai "pembimbing, filosuf dan Sahabat itu mungkin tampil dengan berbagai fungsi. Sebagai seorang pembimbing ia menunjukkan Jalan --namun sang calon Sufi harus menempuh sendiri jalan tersebut. Sebagai seorang filosuf, ia mencintai kebijaksanaan, dalam pengertian yang murni dari istilah tersebut. Akan tetapi cinta baginya mengimplikasikan perbuatan, bukan semata kesenangan ataupun patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebagai seorang teman ia adalah sahabat dan penasihat, memberikan perlindungan dan suatu sudut pandang sebagai hasil dari persepsinya terhadap kebutuhan-kebutuhan lain. 32 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Guru Sufi merupakan mata rantai antara murid dan tujuan pengajaran. Ia mewujudkan dan menyimbolisasikan baik "pekerjaan" itu sendiri dan dirinya sebagai sebuah hasil, maupun keseimbangan sistem, yaitu "rantai transmisi". Seperti seorang perwira yang menyimbolisasikan untuk tujuan-tujuan praktis, Keadaan serta tujuan-tujuan bagi seorang prajurit, demikian pula sang Sufi, ia menyimbolisasikan thariqat sebagai entitas Sufi yang utuh. Guru Sufi bukanlah sosok menggemparkan yang menarik jutaan pengikut dan yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tingkat iluminasinya hanya kelihatan seperiuhnya bagi orang yang tercerahkan. Seperti sebuah radio yang menerima sinyal-sinyal gelombang suara, manusia hanya dapat merasakan kualitaskualitas fisik dan metafisis yang berada dalam jangkauannya. Maka dari itu, orang (baik laki-laki ataupun perempuan) yang kagum dan terkesan oleh kepribadian seorang guru, meskipun telah tersadarkan (mencapai marifat tertentu), tidak akan mampu menerima dan mempergunakan pengaruh sang guru. Sumbu peledak mungkin saja tidak meledak, namun elemennya mendatangkan pijar yang merusak. "Sebuah pisau rumput tidak dapat membelah gunung. Seandainya matahari yang menyinari bumi dapat ditarik lebih dekat, bumi ini akan ditelannya." (Rumi, Matsnawi, Buku I, versi Whinfield). Manusia yang kesadarannya berkembang itu hanya dapat memandang sekilas tingkat-tingkat kualitas di atasnya. Tak ayal lagi, bahkan melalui analogi fisik, pada umumnya orang tidak dapat menangkap kualitas-kualitas yang sebenarnya dari sang guru yang bijaksana, yaitu manusia yang telah mencapai tingkat perkembangan (kesadaran) keempat, manakala ia masih berada pada tingkat (kesadaran) pertama atau kedua. Untuk itu, para Sufi memberikan perumpamaan: seberkas cahaya lebih bermanfaat bagi kelelawar. Adapun kilauan cahaya matahari tidak bermanfaat baginya, sekalipun mungkin ia mabuk olehnya. Apa yang disebut bebas atau rasional itu, ketika mendekati masalah-masalah. keguruan, senantiasa mengutarakan asumsi-asumsi yang sangat mengagumkan. Seorang yang berkata, "Aku akan mengikuti seseorang yang meyakinkan diriku bahwa ia memang manusia sejati," maksud perkataannya sebenarnya seperti orang yang masih tak beradab yang berkata, "Apabila seseorang mampu memperlihatkan kekuatan-kekuatan yang asing kepadaku atau kekuatan yang mampu mengatasi beban nasibku, maka aku bersedia mematuhinya." Seperti seseorang yang berkepentingan dengan si dukun dari Jerman yang mampu mendatangkan nyala api magnesium "yang menakjubkan" itu, namun hal itu sedikit manfaatnya bagi dirinya sendiri. Bahkan bagi Sufi, alasannya itu tidak bermanfaat, karena dengan demikian ia masih belum siap menerima kebenaran. Betapapun siapnya, ia mungkin akan kebingungan. Ia harus mempunyai kemampuan intuitif untuk mengenali kebenaran. Seorang laki-laki datang kepada Libnani, seorang guru Sufi, ketika saya sedang duduk dengannya, dan terjadilah dialog berikut ini: Si penanya, "Aku ingin belajar, sudikah Anda mengajariku?" Libnani, "Aku rasa Anda belum tahu bagaimana caranya belajar." Si penanya, "Dapatkah Anda mengajariku bagaimana cara belajar itu?" 32 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Libnani, "Dapatkah Anda belajar membiarkanku untuk mengajar?" Guru sangat banyak ragamnya didalam Sufisme, sebagian karena mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari proses organis. Ini berarti bahwa pengaruh mereka atas kemanusiaan mungkin terjadi tanpa menyadari peran dalam hubungan antara sesama manusia. Sebagai contoh, seorang Sufi Abad Pertengahan senantiasa berkelana dengan pakaian penuh tambalan dan mengajar dengan tanda-tanda, mungkin tanpa berceramah, mungkin pula dengan mengucapkan kata-kata sandi. Ia telah membangun sekolah non-formal sendiri, namun dengan keyakinan bahwa pesan kesufiannya terkomunikasikan kepada orangorang di negeri-negeri yang dilaluinya. Sosok yang aneh ini dikenal telah menjalankan kegiatannya di Spanyol dan negara Eropa lainnya. Secara kebetulan, nama yang diberikan kepada guru "diam" yang berpenampilan aneh itu adalah akhlaq (jamak akhlaqin, dilafalkan dengan suara tekak "r" dan di Eropa dilafalkan dengan "q" seperti arlakeen, arlequin). Ini adalah sebuah permainan kata dalam bahasa Arab untuk memaksudkan "pintu agung" dan "cara berbicara yang penuh rahasia". Agak diragukan bahwa cara mengajarnya kepada orang-orang yang belum tahu itu diabadikan di Harlequin. Seorang Bijak Sufi mungkin mengenakan pakaian yang penuh tambalan atau pakaian biasa. Ia mungkin muda atau tua. Hujwiri menceritakan sebuah pertemuan dengan seorang guru Sufi yang masih muda. Seorang laki-laki yang ingin belajar tentang Sufisme datang menemui pemuda itu yang berpakaian layaknya seorang guru Sufi, namun di sampingnya ada sebuah botol tinta. Orang itu berpikir bahwa hal ini tidak lazim, sebab para Sufi tidaklah ahli dalam menulis. Ia mendekati "penyamar" yang berperan sebagai seorang penulis dengan mengenakan pakaian penuh tambalan agar terkesan sebagai Sufi. Lalu ia bertanya tentang Sufisme kepadanya. "Sufisme," jawab pemuda itu, "bukan berpikir bahwa karena seseorang membawa sebuah botol tinta, ia bukan seorang Sufi." Meskipun seorang Sufi telah mencapai pencerahan (batin) baik dalam tempo yang singkat atau lama, namun ia tidak dapat mengajar sebelum menerima Ijazah (untuk menerima murid) dari pembimbingnya sendiri dan tidak semua materi Sufisme harus diajarkan. Tafsir esoteris atas hal ini tersimpul dalam sebuah lelucon berikut ini: Nim-hakim khatrai jan Nim-mulla khatrai iman. Tabib yang tanggung berbahaya bagi kehidupan; Ulama yang tanggung berbahaya bagi keimanan. Menurut pengertian tersebut, Sufi yang tanggung mungkin saja seseorang yang tidak perlu lagi menjadi murid, namun harus tetap melanjutkan jalan panjang dalam mencapai tujuan akhir. Selagi ia masih disibukkan untuk mengembangkan diri, ia tidak dapat menjadi guru Sufi. Guru Sufi adalah orang bijak (arif), pembimbing (mursyid), sesepuh (pir) atau Syekh (pemimpin, ketua). Banyak julukan-julukan lain yang digunakan sesuai 32 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi dengan perbedaan pengertian yang mendenotasikan karakter sebenarnya dari hubungan antara kelompok Sufi dan guru mereka. Ada tiga jalur yang dapat ditunjukkan guru Sufi kepada calon pengikut. Dalam sistem pengajaran Sufi pada umumnya, pemula menjalani suatu masa percobaan selama seribu satu hari, dalam rangka menilai dan meningkatkan kemampuannya menyerap instruksi. Apabila ia tidak dapat menyelesaikan periode ini (yang mungkin bersifat perkiraan dan masih ada periode selanjutnya), maka ia seharusnya meninggalkan halaman sekolah (madrasah). Jalur kedua adalah guru Sufi menerima langsung calon murid tanpa menyuruhnya menghadiri majelismajelis umum di kelompok atau lingkaran (halaqah atau dairah) Sufi dan memberinya latihan-latihan khusus yang dijalankan bersamanya dan secara mandiri. Jalur ketiga, setelah menilai kemampuan-kemampuan murid, guru Sufi menerimanya secara formal namun mengirimnya ke guru lain yang secara lebih langsung bermanfaat baginya. Hanya para guru dari madzhab-madzhab tertentu yang menerapkan seluruh latihan-latihan yang mungkin diberikan guru Sufi --pada umumnya madzhab-madzhab Asia Tengah dan cabang Tarekat Naqsyabandiyah, yaitu Azhimiyah yang menggabungkan beberapa metode pengajaran dengan suatu prosedur yang saling melengkapi. Guru-guru Sufi yang terakhir ini mempunyai suatu metode gabungan yang dipusatkan dalam kelompok kebatinan mereka, secara teknis disebut markaz, "pusat putaran, pusat sebuah lingkaran, markas besar". Sebuah sidang para Sufi yang menyerupai latihan-latihan dapat disebut sebagai sebuah markaz; kalaupun kegiatan tersebut tidak dikelompokkan sebagai latihan, maka dapat disebut sebagai sebuah majelis. Semua ajaran Sufi diberikan dengan menggunakan kata-kata kiasan, bergantung seberapa banyak dan pada tingkat mana seseorang dapat memahaminya. Ada maksud-maksud tersembunyi dalam sastra Sufi untuk pengajaran yang kadangkala diterjemahkan secara literal. Sebagai contoh, Rumi menyatakan, "Pekerja tersembunyi di ruang kerja." Pada umumnya, metode ini bertujuan untuk menerangkan imanensi Tuhan. Dari sudut pandang sistem pengajaran Sufi pada umumnya, metode ini bertujuan untuk menyampaikan kebenaran yang obyektif Ini berarti bahwa setiap interprestasi dapat dibenarkan. Bagaimanapun, sepanjang metode tersebut diterapkan untuk pengajaran, maka pemandu Sufi merupakan sebuah bagian dari "pekerjaan" itu seperti halnya guru Sufi --maksudnya sebagai proses menyeluruh, yaitu guru, pengajaran dan murid adalah sebuah fenomena tunggal. Maka konsekuensi implisitnya, pengajaran tidak dapat dikaji secara terpisah dimana para Sufi dipertimbangkan sebagai suatu fakta utama dari pembaiatan Sufi yang paling penting. Calon murid Sufi mungkin tidak mampu atau berbias dalam memahaminya; kecuali yang telah memahaminya dengan baik, ia sama sekali tidak mungkin menjadi seorang Sufi. Maka dari itu, fungsi dan karakter guru Sufi senantiasa dibiarkan berkembang menurut daya pemahamannya dengan menggunakan beberapa materi yang telah diuraikan di atas, disertai dengan praktik aktual Sufisme. 32 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Profesor A. J. Arberry dari Cambridge University, setelah mendekati Sufisme dengan simpatik dan dari sudut pandang akademis, menunjukkan kesulitankesulitan yang pasti dihadapi para pengamat atau intelektual, yaitu "kesamaran suatu doktrin yang pada umumnya didasarkan pada pengalaman-pengalaman menurut sifat dasarnya paling lanjut yang tak dapat dipahami."2 Suatu hari, saya menyaksikan seorang Syekh Sufi di Timur Dekat ditanya seorang murid asing okultis yang putus asa untuk mengetahui cara mengenal seorang guru Sufi, dan apakah para Sufi mempunyai legenda Messianis yang mempunyai kemampuan seperti seorang pembimbing yang mengembalikan orang kepada kesadaran metafisis. "Engkau sendiri ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin seperti itu," kata Syekh itu, "dan tasawuf akan menjadi sangat penting dalam hidupmu. Teguhkanlah imanmu!" Kemudian Syekh itu kembali ke para pengikutnya dan berkata, "Demikianlah masalahnya ia bertandang ke mari. Apakah kalian tidak memahami seorang bocah, seorang yang masih lugu, atau berkata terus terang kepada seorang fanatik bahwa ia gila? Itu bukan cara kita mendidik, ketika seseorang bertanya, 'Bagaimana jas baruku ini?' Kita tidak boleh menjawab, 'Ah jelek sekali,' kecuali kalau kalian berusaha memberinya jas yang lebih baik atau mengajarinya cara berpakaian yang lebih baik. Sementara orang memang sulit untuk diajari." Rumi berkata, "Engkau tidak bisa mengajar dengan perasaan tidak suka." Catatan: 1 Lihat anotasi "Masalah Irasionalitas." 2 Arberry, Tales from the Masnavi, London, 1961, hlm. 19. 32 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi TIMUR JAUH Ikan-ikan mendatangi seekor ikan yang bijak. Mereka bertanya: apa hakikat air? Ikan bijak menjawab bahwa air ada di sekitar mereka, namun mereka masih merasa kehausan. (Nasafi) Pengaruh Sufisme terhadap kehidupan mistik di India sangat kuat sehingga beberapa madzhab mistik yang dianggap sebagai produk Hinduisme kuno dinyatakan oleh para peneliti bersumber pada ajaran-ajaran Sufi. Fakta sejarah ini tidak begitu penting bagi Sufi karena sumber aliran mistik pada hakikatnya tunggal. Pandangan para peneliti terhadap perbedaan aspek mistik di Timur Jauh berasal dari asumsi bahwa kultus-kultus dalam mistisisme itu merupakan produk budaya mandiri, sehingga tidak sama dalam setiap wilayah. Namun cara pandang demikian tidak dapat diterima oleh para Sufi yang percaya bahwa hanya ada kebenaran tunggal dan barangsiapa mengetahuinya harus menyampaikannya serta tidak boleh menyembunyikannya. Lebih seribu tahun yang lalu, benih Sufisme yang kemudian berkembang menjadi madzhab-madzhab meditasi yang dianggap bersumber dari Hindu itu telah tertanam di India. Aliran mistik Cinta, yaitu bhakti adalah salah satu bukti yang diungkap Dr. Tara Chand dalam bukunya Cultural History of India: Beberapa ciri pemikiran orang India Selatan sejak abad kesembilan menunjukkan adanya pengaruh Islam yang sangat kuat. Di antara pengaruh-pengaruh Islam itu adalah meningkatnya perhatian pada monotheisme, kekhusyu'an beribadah, penyerahan diri (parpatti) dan kebaktian kepada guru (guru bhakti). Pengaruh lainnya adalah kelonggaran sistem kasta, pengabaian terhadap ritual yang hampa ... menyatu dengan Tuhan, pengabdian kepada seorang guru ... Konsepsi Sufi tentang pengabdian guru itu telah terkenal pada zaman Hindu Pertengahan. Akan tetapi sebagai seorang pakar sejarah, ternyata Dr. Chand lalai mencatat pengaruh Sufi yang sangat berarti secara khusus dan sebagai pokok perhatian daripada pengaruh Islam secara langsung menurut pengertian yang lazim, yaitu Islam menurut pemahaman ulama Muslim. Fungsi kebaktian kepada guru dalam kultus-kultus mistisisme India itu ternyata telah diselewengkan dari ajaran Sufi yang sejati dan mengalami suatu transformasi didalam madzhab-madzhab Hindu non-Sufi kemudian. Namun seringkali kultus-kultus dalam kerangka Hinduisme itulah yang sangat menarik para mahasiswa Barat yang berhasrat meneliti spiritualisme di Timur, dan cenderung direduksi sebagai hasil derivasi dari madzhab-madzhab Sufi semata. Meskipun para mahasiswa itu niscaya mempunyai bukti-bukti yang dapat diandalkan, namun sebenarnya para guru Sufilah yang bertanggung jawab pada tugas besar untuk membangun apa yang dikenal sebagai madzhab-madzhab mistik 32 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Hindu. Dalam bukunya Religions of India, Auguste Barth mencatat hubungan antara wilayah serta kronologi keberadaan para Sufi di India dengan munculnya apa yang kemudian disebut madzhab mistik kuno India: Tepatnya sejak abad kesembilan hingga abad kedua belas, gerakan-gerakan keagamaan itu muncul dalam kaitannya dengan tokoh-tokoh seperti Sankara,1 Ramanuja, Ananda Tirtha dan Basava, bukan berkaitan dengan mayoritas sektesekte yang dicatat sejarah dan sama sekali tidak berkaitan dengan Hinduisme yang muncul beberapa periode kemudian. Ada satu fakta yang perlu diperhatikan para mahasiswa Barat dalam meneliti (kebenaran) klaim bahwa aliran mistik kuno India itu telah memicu gerakangerakan mistik di antara orang-orang Hindu. Meskipun tampak ganjil bagi sebagian besar pengamat, ternyata kepustakaan religius awal dalam Hindu hanya ditulis pada akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas sebagaimana dinyatakan oleh seorang sarjana Inggris, Sir William Jones.2 Dokumen-dokumen kuno hampir tidak utuh lagi. Manuskrip India tertua itu diperkirakan sebagai sebuah bagian tulisan Budha di atas lembaran-lembaran kulit pohon birch yang ditemukan di Taxila pada akhir abad kelima Masehi. Sementara itu, dari bahan yang sama, manuskrip Bakhshali diklaim oleh generasi berikutnya sebagai naskah kuno paling awal, meskipun naskah tersebut ternyata ditulis pada abad kedua belas.3 Bhakti dan gerakan-gerakan reformis dalam Hinduisme yang dipelopori oleh para tokoh seperti Madhva, Ramananda dan Kabir, sebenarnya berdasar pada sejumlah besar pernikiran dan perilaku Sufi yang telah diperkenalkan di India setelah penaklukan Islam di sana. Kabir "telah banyak meluangkan waktu berkumpul dengan para Sufi Muslim." Dadu "bahkan menaruh perhatian yang lebih besar pada pengetahuan Sufi daripada ajaran para leluhurnya... mungkin karena para Sufi di India Barat mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap pemikiran para Pencari Tuhan, baik dalam Hindu maupun Islam, daripada pengaruh para Sufi di India Timur," papar Tara Chand, meskipun ia sendiri bukan seorang Sufi. Menurut sebuah fakta sejarah, agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak, seorang Sufi Hindu, yang secara terus terang mengakui berhutang budi pada Sufisme. Pengakuannya itu terungkap dalam buku Cultural History: Sebenarnya ia telah mendalami tradisi pengetahuan Sufi, dan ternyata kita sangat sulit menemukan bahwa ia telah mengambil (ajaran-ajaran) dari Kitab-kitab Hindu, karena ia jarang merujuk Kitab-kitab Hindu itu. Maka orang beranggapan bahwa Nanak sebenarnya kurang mampu memahami khazanah Veda dan Puranik itu. Nama Sikh artinya Pencari, sebuah metafor yang menunjuk sang pengembara Sufi. Maharshi Devendranath Tagore (1815-1905) --ayah Rabindranath Tagore-- telah meluangkan waktu selama dua tahun di Pegunungan Himalaya. Selama itu ia justru bukan mempelajari Kitab-kitab Hindu warisan para leluhurnya, namun mempelajari sebuah Syair dari seorang guru Sufi, yaitu Hafizh, sehingga menurut seorang cendekiawan Hindu lainnya, yaitu Profesor Hanumantha Rao, setelah mendalami syair tersebut ia mencapai suatu pencerahan batin. 32 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sedangkan para guru Sufi generasi berikutnya di India, banyak dari mereka yang mengikuti pendahulunya dari Turki, Afghan dan Persia, yang memiliki pengaruh kuat. Salah satu konsekuensi dari kedatangan mereka di wilayah tersebut adalah orang-orang Hindu mengadopsi sebuah terminologi dari bahasa Arab untuk seorang Sufi pengabdi--Fakir, untuk diterapkan atas diri mereka sendiri. Begitu banyak buku mencatat tentang perilaku mereka yang aneh dan menakjubkan, dan sampai saat ini pun berjuta juta orang dari setiap aliran kepercayaan berkumpul melakukan "pemujaan" dan meminta bantuan mereka sebagai orang suci. Muinuddin Chisyti, pendiri Tarekat Chisytiyah di India, diutus (gurunya) ke Ajmer pada pertengahan abad kedua belas untuk menyampaikan ajarannya kepada orangorang Hindu. Namun Raja Prithvi Raj tidak menyukai kedatangannya. Konon Raja kemudian menghimpun prajurit dan para tukang sihir untuk menghalanginya memasuki kota. Para prajurit itu tiba-tiba buta ketika orang suci itu (Muinuddin), dengan mencontoh suatu tindakan Nabi, melemparkan segenggam kerikil ke arah mereka. Menurut riwayat, tiga ratus penyihir pengikut Yogi dan Pandit itu tidak dapat membuka mulut ketika mereka beradu pandang sekilas dengan Muinuddin dan akhirnya mereka menjadi pengikutnya. Namun menurut legenda yang paling populer, sang penyihir Hindu yang kondang, Jaypal Yogi telah mengadu kesaktian dengan sang Sufi Fakir (Muinuddin). Menurut legenda Chisyti tersebut, Jaypal bersama ribuan pengikut Yoginya membendung sungai-sungai yang menuju Danau Anasagar. Namun semua aliran sungai dan sumber air di wilayah itu menjadi kering hanya karena salah seorang pengikut baru Muinuddin mengambil seember air dari danau tersebut atas petunjuk-petunjuknya. Setelah itu Jaypal memerintahkan ratusan makhluk jadi-jadian, termasuk singa dan harimau, untuk menyerang orang suci itu beserta para pengikutnya. Mereka semua binasa saat menyentuh lingkaran ajaib yang telah dibuat sebelumnya oleh Muinuddin sebagai perlindungan. Setelah Jaypal mengulangi beberapa kali tindakan serupa (dan selalu gagal), ia menyerah dan menjadi salah seorang murid Chisyti yang sangat terkenal dengan julukan Abdullah sang (Penjelajah) Belantara, karena selalu mengembara sampai tiba di kuil agung dekat Ajmer. Ada tiga jenis hubungan yang sangat jelas antara para Sufi dan Hindu atau Sikh. Kesalahpahaman terhadap tiga jenis hubungan tersebut menjadi penyebab utama timbulnya kerancuan. Menurut konteks sejarah dan budaya maupun metafisik, semua aliran mistik tersebut mempunyai pengertian yang sama tentang peran mistisisme dalam pengembangan spiritualitas manusia. Jadi, mereka pada dasarnya mempunyai kesamaan esensial. Hanya saja ada pergeseran-pergeseran sangat jelas dalam ritus-ritus yang kaku dan hampa, dogma yang memfosil dan kultus individu. Orang yang berpandangan sempit, terutama ahli hukurn Muslim yang hanya mengikuti langkah Sufi secara dangkal akan senantiasa bertentangan dengan seterunya, yaitu pendeta Hindu pertapa yang biasa menjalankan sebuah tradisi yang merosot. 33 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Karena pergeseran tradisi itu tersebar luas dan sangat mencolok, maka para pengamat kerapkali menganggap bahwa semua itu merupakan representasi yang murni dari aliran mistik India. Asketisme dan perilaku-perilaku mereka yang dikaji para pengamat itu senantiasa jauh lebih menarik perhatian daripada madzhabmadzhab mistik itu sendiri. Mereka cenderung cepat populer, cenderung menjadi bahan dokumentasi para fotografer, merekrut para pengikut dari luar wilayah, berusaha menyebarkan ajarannya seluas mungkin. Banyak kultus-kultus khas Timur di dunia Barat ternyata tdak lebih dari derivasi-derivasi dari tradisi-tradisi liar yang merupakan suatu corak dangkal dari ajarannya yang sejati. Mereka cenderung tdak sepaham dengan ajaran guru besar Syekh Abdullah Anshari yang diterjemahkan dengan baik sekali oleh seorang tokoh Sikh, yaitu Sardar Sir Jogendra Singh: "Puasa hanyalah untuk menghemat roti. Shalat hanya bagi kakek-kakek dan neneknenek. Haji hanyalah sebuah tamasya. Sedang mengendalikan hati, menguasainya adalah suatu pekerjaan yang serius. Prinsip Hidup Sufi mengajarkan: Ramah kepada yang muda Dermawan kepada yang papa Menasehati sahabat Sabar terhadap musuh Tidak mempedulikan orang yang suka usil Hormat kepada orang terpelajar:" Ada suatu hubungan yang menarik antara pemikiran Hindu dan ajaran Sufi yang dapat kita lihat dalam komentar-komentar berbentuk seloka. Sebagian besar hikmah populer Hindu terkandung di dalam serangkaian pepatah yang disebut seloka itu dan disampaikan dari seorang guru kepada muridnya. Sebuah komentar Sufi dari Ajami menyatakan bahwa seloka yang biasa beredar adalah sebagian dari sistem ganda pengajaran. Seperti fabel-fabel Aesop atau dongeng-dongeng Sa'di, seloka dapat dibaca baik sebagai nasihat biasa yang dapat diajarkan orangtua kepada anaknya, maupun dengan tujuan mengungkap maknanya yang tersembunyi. Berikut ini beberapa seloka (S) beserta komentar (K) dari Ajami yang digunakan sebagai bahan perenungan oleh para Sufi India. Seloka-seloka ini telah dinomori berdasar karya besar Abbe Dubois, Hindu Manners, Customs and Ceremonies (Oxford, 1906, hlm. 474 dan seterusnya): (S) V. Sahabat adalah orang yang senantiasa membantu kita dalam penderitaan, kemalangan dan kesengsaraan. (K) Pelajarilah apa yang senantiasa dapat membantumu. Pencerahan itu penting bagi orang liar yang belum mengetahui. (S) XI. Racun kalajengking ada di ekornya, racun lalat ada di kepalanya, racun naga ada di taring-taringnya. Namun racun manusia yang jahat ada di sekujur tubuhnya. (K) Hati-hatilah terhadap kebaikan yang ditunjukkan oleh orang yang baik sekalipun. 33 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi (S) XVIII. Orang yang berbudi luhur ibarat sebuah pohon yang berdaun lebat, ia memberikan keteduhan pada pohon-pohon lain yang bernaung di bawahnya, sementara ia membiarkan dirinya tersengat panasnya mentari. (K) Budi luhur seorang yang baik akan bermanfaat bagi orang yang benar-benar membutuhkannya, namun akan memperlemah si pemalas, karena tempat berteduh hanya digunakan sebagai tempat bermalas-malasan. (S) XLI. Orang yang tak punya rasa malu takut terhadap penyakit-penyakit yang ditimbulkan kemewahan, orang yang gila hormat takut terhadap celaan, orang kaya takut terhadap kerakusan para raja, kelemah-lembutan takut pada kekerasan, keelokan takut usia senja, penyesalan takut pada pengaruh akal sehat, tubuh takut pada Yama, sang dewa kematian; namun orang yang kikir dan dengki tdak takut kepada apa pun. (K) Jadilah orang yang bijak, karena orang bijak bisa memahami dasar-dasar rasa takut, sehingga ia bisa menguasai rasa takut itu. Sebenarnya selama seribu tahun telah berlangsung pertukaran gagasan yang intens antara para Sufi dan mistik Hindu sebelum sarjana Barat tertarik pada mistisisme India. Pada abad ketujuh belas Pangeran Dara Shikoh dari Mogul telah memberikan suatu penafsiran yang seksama terhadap kepustakaan Veda dan suatu perbandingan antara corak-corak pemikiran Islam dan Hindu. Seperti para guru Sufi sebelumnya, Pangeran Dara Shikoh dari tradisi kebatinan yang identik dengan jejak Islam dan ajaran-ajarannya yang paling mendasar sama persis dengan ajaran Sufi. Penelitian-penelitian juga meliputi kitab-kitab suci agama Yahudi dan Kristiani. Kajiannya berdasar pada pandangan bahwa kitab-kitab suci tersebut merupakan representasi dari perkembangan kesadaran manusia yang senantiasa menarik perhatian kelompok-kelompok tertentu. Prinsip kajiannya yang mengikuti sikap para cendekiawan pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid di Baghdad, kemudian menjadi dasar bagi banyak (kajian) perbandingan mistik yang paling modern sekalipun. Kegiatan Dara Shikoh itu, suatu kegiatan yang begitu menonjol karena dilakukan oleh seorang pangeran dari keluarga Muslim yang menguasai (mengatur) tanah kafir, merupakan satu-satunya bukti adanya hubungan sinambung dengan ajaranajaran Sufi selama berabad-abad di seluruh India. Proses hubungan tersebut mungkin hampir sama dengan kasus yang terjadi di Eropa Abad Pertengahan, yaitu keberadaan gereja yang kuat dan otoritarian tidak akan merintangi perkembangan kelompok-kelompok aliran mistik seperti Sufisme yang telah kami kaji dalam babbab sebelumnya. Akan tetapi, peran Sufisme sebaiknya jangan dianggap sebagai memproyeksikan hasil kajian perbandingan agama dan menekankan teori teosofis tentang kesamaan hakiki dari manifestasi-manifestasi agama. Para Sufi sendiri sama sekali tidak pernah menganggap dirinya bertujuan menjalankan suatu tugas, yaitu tugas mentransendir bentuk-bentuk lahiriah dan fakta keagamaan yang lazim atau pemerolehan pengetahuan agama dengan menjalankan tugas tersebut. Mungkin sulit untuk menjelaskan dengan istilah-istilah yang lebih sederhana dari agama 33 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi formal bahwa pengalaman (mistik) adalah tunggal. Bahwa ada kesamaan yang lestari. Paling tidak orang hanya dapat memahami fakta tersebut menurut pengertian-pengertian yang lazim, karena fakta pengalaman Sufi dan aliran mistik lainnya adalah bidang kajian psikologi, bukan bidang kajian akademis. Obyek kajian tersebut, dengan memakai ungkapan-ungkapan yang khusus menurut pengertian kami, adalah memungkinkan memotivasi batin seseorang dalam upaya mengembangkan kesadarannya lebih lanjut. Oleh karena itu, mistisisme dan agama dianggap sebagai upaya menyelaraskan individu dan kelompok dengan nasib kemanusiaan yang diungkapkan dengan pengendalian mental. Ada suatu kemiripan yang sangat menarik antara praktik dan pemikiran Sufi dengan peribadatan (kultus) tidak lazim yang menurut orang merupakan suatu tipe kultus Budhistik, yaitu Zen yang dipraktikkan di Jepang. Zen sebenarnya merupakan suatu transmisi rahasia di luar bidang ajaran resmi Budha dan disebarkan melalui teladan serta pengajaran individual. Secara historis, Zen tidak pernah mengalami masa kejayaan, bahkan para penganutnya tidak mengaitkan Zen dengan peristiwa khusus dalam kehidupan Budha. Menurut catatan sejarah, Zen pertama kali muncul pada abad kesebelas, yaitu ketika madzhab paling awal Zen ditemukan di Jepang dan dibawa dari Cina pada tahun 1191. Periode masuknya Zen ke Jepang itu berhubungan dengan pertumbuhan madzhabmadzhab mistik India modern berkat keuletan para Sufi. Tempat asalnya, yaitu Cina Selatan, merupakan wilayah pendudukan Arab dan Muslim lainnya selama berabad-abad. Budhisme di Jepang sendiri muncul sejak tahun 625 dan pada dasarnya masuk ke kepulauan Jepang antara paruh pertama abad ketujuh dan awal abad ke-sembilan. Penetrasi penaklukan Muslim serta Sufi di wilayah para penganut Budha Asia Tengah terjadi kemudian. Peristiwa ini bermula dari basis ajaran Budha di Afghanistan yang kemudian masuk ke Tibet setelah penaklukan Muslim. Ada beberapa legenda tentang hubungan antara Zen Cina dengan India, sedangkan tradisi Sufi menunjukkan bahwa Sufi klasik awal telah mengadakan hubungan dengan para pengikut bodd yang ternyata mempunyai kemiripan dengan aliranaliran mistik India. Kemiripan antara Zen dan Sufisme, baik dalam terminologi, kisah-kisah maupun kegiatan-kegiatan para gurunya adalah sangat jelas. Dari sudut pandang Sufi, praktik Zen --sebagaimana yang terdapat di dalam kepustakaan populer-- sangat mirip dengan praktik sebagian teknik "menempa" (zarb) dari Sufisme. Dr. Suzuki, pakar terkemuka sastra Zen, agaknya benar ketika menyatakan bahwa Zen telah mengadaptasikan pikiran Timur Jauh. Akan tetapi gagasan-gagasan, kiaskias dan perumpamaan-perumpamaan yang mengandung ajaran Sufi telah berakar kuat sejak lama sebelum guru Zen, Yengo (kira-kira 1566-1642) menulis surat untuk menjawab pertanyaan, "Apakah Zen itu?" Bagi Anda yang telah membaca bab-bab sebelumnya, akan tidak asing lagi dengan ungkapan-ungkapan sebagai penyederhanaan penjelasan yang senantiasa digunakan di Timur Jauh berikut ini: 33 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Surat ini hanya dipersembahkan kepadamu, dan pada saat ini segala sesuatunya bergantung pada (pengertian)mu. Bagi orang yang berakal, satu kata sudah cukup untuk meyakinkannya tentang hakikat Zen, akan tetapi kemudian ada kesalahpahaman. Zen telah begitu sering dituliskan dengan tinta, diungkapkan dengan kata-kata yang jelas dan dalil-dalil logika, namun kemudian semakin tak dapat dipahami olehmu. Kebenaran Zen yang agung ada dalam diri setiap orang. Kenalilah dirimu sendiri, jangan mencari Zen melalui orang lain. Jiwamu sendiri adalah di atas segala-galanya. Jiwa itu bebas dan tentram. Jiwa itu sendiri mampu mengendalikan dirinya dengan indera keenam dan empat unsur dalam diri manusia. Di dalam jiwa itu ada cahaya. Redamlah dualisme subyek dan obyek. Lupakanlah keduanya, jauhilah akal pikiran, hindarilah pemahaman dan masuklah secara langsung ke dalam jati diri jiwa Budha. Di luar semua itu engkau sama sekali tidak dapat mengenali realitas.4 Agaknya naif apabila kita mengandalkan fakta-fakta yang menonjol tersebut sebagai suatu fakta transmisi Sufisme dan derivasi Zen dari sumbernya. Namun menurut kepercayaan Sufi, dasar ajaran Zen pasti ada di sana, berada di dalam jiwa manusia. Akan tetapi, hanya sentuhan Sufi yang telah membantu membangkitkan kesadaran batin terhadap realitas sejati satu-satunya. Seorang Sufi Cina, Mr. H. L. Ma, dalam ceramahnya di sebuah pertemuan Hongkong Metaphysical Association satu dekade yang lalu, memaparkan bagaimana cara menyampaikan gagasan-gagasan agar dapat diterima dalam lingkungan budaya yang berbeda-beda: Kepada para Pencari Kebenaran, saya terpaksa mengatakan bahwa Sufi sulit untuk dipahami. Mengapa? Karena para pemerhati generasi baru mengharapkan serangkaian sistem menurut pola pikir mereka. Mereka tidak tahu bahwa pola pikir tersebut keliru. Pada dasarnya Sufi ada dalam diri Anda. Anda merasakannya, namun tidak mengetahui apa itu. Bilamana Anda mengalami perasaan-perasaan tertentu seperti kebaikan, cinta, kebenaran, keinginan melakukan sesuatu dengan sepenuh jiwa --itulah Sufi. Bila Anda hanya mementingkan diri sendiri --itu bukan Sufi. Anda mempunyai rasa simpati yang kuat kepada orang bijak yang luhur -- itulah Sufi ... Seorang guru ditanya, "Apakah Sufi itu?" Ia menjawab, "Tunjukkan kepadaku perasaan sakit, maka akan kutunjukkan apa Sufi itu!" Hal ini sama seperti pertanyaan Anda kepada guru, "Dari mana asalnya api (cahaya)?" Kemudian guru memadamkannya dan bertanya, "Engkau jawab dulu ke mana perginya api itu, baru akan kujawab dari mana asalnya." Anda tidak dapat menyatakan dengan kata-kata apa yang Anda tanyakan dengan kata-kata ... Hal ini kedengarannya mungkin sangat bercorak Timur bagi pembaca Barat, namun ilustrasi-ilustrasi yang digunakan (rasa sakit dan lilin) tidak sepenuhnya merupakan analogi-analogi orang Timur. Ilustrasi-ilustrasi tersebut berasal secara langsung dari ajaran-ajaran sang Guru (Sufi) Barat, yaitu Rumi. Bagaimana metode penyampaian gagasan-gagasan, penyederhanaan dengan parabolis, kelihatannya sangat bercorak Cina, namun tetap mengandung semangat Sufi. 33 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sementara Kol. Clarke telah mengungkapkan kesan-kesannya tentang Sufi, sehingga memungkinkan pikiran Barat untuk memahami orientasi aliran mistik ini dan menciptakan suatu atmosfir yang sesuai dengan pikiran Barat: "Puisi cinta yang sangat agung dari para Sufi yang luhur, seluruh ajaran-ajarannya yang praktis, semangatnya yang dipadukan dengan suatu pengukuhan mendalam dari tujuan risalah (ketuhanan) dan tujuan pencapaian nilai-nilai spiritual dan fisik, keyakinan terhadap pesan dan masa depan ummat manusia: semua itu merupakan sumbangan-sumbangan yang berharga dari kelompok yang mengesankan ini, pengakuan dari orang-orang yang senantiasa menyampaikan keyakinan dan kesankesan abadi dari orang kuno pilihan."5 Catatan: 1 Berdasarkan Kitab-kitab Hindu Kuno yang diinterpretasi Sankara (788-820) lebih seribu tahun setelah penyusunannya, Vedanta artinya kebangkitan kembali. Sistem ini (Vedanta merupakan "kumpulan Veda") meliputi dasar (pemikiran) yang diintrodusir al-Ghazali, Ibnu Arabi, Rumi serta para Sufi kuno lainnya. Kemiripan karya Kant dengan Vedanta karena karyanya banyak dipengaruhi aliran filsafat Sufi. Lihat: The Absolution of Sankacarya as Compared with Mawlana Jalal Uddin Rumi's School of Thought, karya sarjana Turki, Rasih Guven, dalam Prajna, Bagian I, 1958, hlm. 93-100. 2 Prof. S. Piggott, Prehistoric India, London, 1961, hlm. 235. 3 Ibid., hlm. 252. 4 Suzuki, An Introduction to Zen Buddhism, London, 1959, hlm. 46. 5 Col. A. Clarke, Letters to England, Calcutta, 1911, hlm. 149. 33 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Interpretasi Esoterik Al-Qur'an Idries Shah Bagi para Sufi klasik, al-Qur'an merupakan dokumen rahasia yang mengandung ajaran-ajaran Sufi. Para teolog cenderung beranggapan bahwa interpretasi al- Qur'an hanya bisa diterima jika sejalan dengan cara agama konvensional; sementara para ahli sejarah cenderung mencari sastra atau sumber-sumber agama zaman dulu dalam al-Qur'an; selain itu juga sebagai bukti peristiwa-peristiwa kontemporer yang direfleksikan dalam tiap-tiap halaman. Bagi Sufi, al-Qur'an merupakan suatu dokumen yang disampaikan melalui tradisi riwayat, ayat yang disampaikan memiliki makna yang sesuai dengan kapasitas pemahaman pembacanya. Sikap terhadap al-Qur'an seperti inilah yang memungkinkan orang dapat memahaminya, baik yang berlatar belakang Kristen, Pagan atau Yahudi -- suatu pengertian yang tidak bisa diterima kalangan ortodoks. Oleh sebab itu, al- Qur'an pada dasarnya adalah dokumen yang memiliki kandungan psikologis. Surat al-Ikhlash adalah contoh terbaik tentang kapasitas sintesis kitab ini: Katakanlah, hai Rasul, kepada orang-orang itu, "Allah itu Esa! Allah Mahakekal! Tidak beranak dan tak diperanakkan, dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya." Bagi kalangan Muslim yang saleh, ayat ini merupakan pernyataan dasar keimanan. Allah adalah Tuhan dan tiada yang menyerupai-Nya, Dia kekal abadi. Para komentator kaum Kristiani beranggapan bahwa ayat tersebut menjadi serangan langsung atas doktrin ketuhanan agama Kristen, sehingga mereka menanggapi ayat tersebut dengan sangat sengit. Ayat tersebut merupakan salah satu yang paling banyak dikutip oleh jutaan kaum Muslrimn dalam bacaan shalat tiap hari. Berdasarkan dari sudut pandang ini, ayat tersebut cenderung menggambarkan suatu garis pembatas antara orang-orang beriman dengan orang kafir. Kaum Muslim bisa menggunakan ayat tersebut untuk menentang kaum Kristiani yang dianggap telah menyelewengkan prinsip monotheisme. Sedangkan kaum Krlstiani beranggapan bahwa ayat tersebut menentang konsep Trinitas (keyakinan utamanya). Situasi yang demikian ini bagaimanapun hanya terjadi di suatu iklim psikologis tertentu --yakni suatu perbedaan antara dua kelompok yang selama Abad Pertengahan berupaya memperoleh kekuasaan dengan cara-cara pada waktu itu. Bila kita menerima asumsi-asumsi ini, maka kita terlibat dalam konflik itu, dan menurut Sufi, tidak ada harapan bagi orang-orang yang memilih suatu konflik dalam keadaan psikologis ini. 33 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Interpretasi terhadap Surat al-Ikhlash tersebut tidak pernah diterima oleh para Sufi. Disamping itu, Sufi merasa mampu menafsirkan arti sebenarnya dari ayat itu, oleh karena itu kita menemukan suatu jembatan antara pemikiran biasa dan juga suatu maksud yang tepat dari ayat itu dengan merujuk pada pendapat al-Ghazali yang Agung. Al-Ghazali menyatakan bahwa seperti semua Surat dalam kitab al-Qur'an, kitab ini tidak bisa direduksi seperti kitab-kitab yang lain dengan asumsi bahwa ia mempunyai makna tunggal dan sederhana bagi pemikir biasa. Keesaan itu tidak mempunyai makna sederhana, tunggal dan semata-mata superficial. Dampaknya bergantung pada pemahaman dan pengalamannya, sebagaimana dampak ritme puisi. Ia merujuk pada konteks ayat ketika ia diwahyukan. Ayat itu merupakan jawaban yang ditujukan kepada orang-orang Arab Badui yang mendatangi Nabi Muhammad saw. dengan maksud ingin bertanya, "Apakah boleh kita membandingkan Allah?" Bukan ditujukan semata kepada orang Kristiani ataupun orang Muslim. Jawabannya adalah bahwa Allah tidak boleh dibandingkan dengan segala sesuatu yang ada di dunia. Tidak akan ada analogi yang memungkinkan antara Wujud ini (Allah adalah tempat memuja) dengan apa pun yang telah dikenal manusia. Kata "Allah" digunakan untuk mendenotasikan suatu obyektivitas terakhir, keunikan, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan jumlah, waktu dan segala sesuatu yang banyak dikenal oleh manusia. Pada tataran inilah, dan bukan pada tataran pembaiatan ataupun mistik, dasar umum bagi orang Muslim maupun Kristen diletakkan. Dengan memahami ini, kita bisa jauh lebih mudah memahami bagaimana Sufisme menjembatani kesenjangan antara penafsiran resmi dari kaum Kristiani dengan orang Islam serta tuntutan pemikiran manusia. Pengertian tentang makna "Allah" ini disepadankan dengan ritme puisi asli, yang bisa diuraikan dengan lebih mudah melalui rekonstruksi berikut ini: Wahai Utusan ... Katakanlah: "Dia, Allah, adalah Esa! Tiada bermula tiada pula berakhir Tiada berayah, tiada berputra -- Dan tiada sesuatu pun menyerupai-Nya!" Ayat ini mengandung dorongan dan klaim terhadap kesatuan esensial dari transmisi ketuhanan yang diacu sebagai "doktrin rahasia". Kecuali kalau penafsiran mengenai al-Qur'an ini diuraikan secara tepat, kesimpulan-kesimpulan mutlak tentang pertentangan yang sempit antara gereja Kristiani dan Islam formal hanya menjadi kerangka referensi sarjana. Ini mungkin berkembang sampai terjemahan-terjemahan berikut ini, suatu terjemahan yang kehilangan konotasi kesufian. 33 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Allah adalah Tuhan Yang Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang menyamai-Nya." (Q.s. al-Ikhlash: 1-4). 33 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi APENDIKS II. KECEPATAN Tidak ada aspek Sufisme yang lebih memikat bagi orang yang tidak sabar selain kecepatan. Minat dan kegemaran yang sangat kuat ini telah muncul sejak "teknik cepat" dari tarekat Sufi ini telah dibawa ke India oleh Syekh Syattar. "Kecepatan" (metode Syattari) secara tradisional berasal dari Tarekat Sufi Naqsyabandiyah, yang hampir menyebar secara luas ke Afghanistan, Turkistan, sebagian yang lain di Asia Tengah dan Ottoman Turki. Bahauddin Naqsyabandi (w. 1389) menyatakan bahwa ini merupakan fase ajaran Sufi. Rantai transmisinya sampai kembali ke Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya, Abu Bakar, Salman al- Farisi, keluarga Sayyid dan keluarga Imam serta yang lain-lain, termasuk juga Bayazid Bisthami (w. 875) juga para guru besar lainnya. Syekh Abdullah Syattari mengunjungi India pada abad kelima belas, dengan mengembara dari satu biara ke biara yang lain dan memperkenalkan metodenya. Prosedurnya yaitu dengan cara mendekati seorang ketua suatu kelompok Sufi dan mengatakan, "Ajarilah aku dengan metode yang Anda miliki, dan bandingkanlah metode Anda dengan metodeku, bila Anda tidak bersedia, maka kuajak Anda mengikuti metode yang kumiliki." Syattari meninggal pada kuartal pertama abad kelima belas di India, dan para penerusnya berpengaruh secara kuat bagi para Kaisar Mogul. Salah seorang pemimpin Syattariyah, Shah Gwath, dibunuh oleh para penguasa agama resmi, tetapi pada akhirnya juru bicara mereka didaftarkan sebagai seorang siswa. Tarekat Syattariyah tidak lagi diperhatikan publik pada awal abad kesembilan belas sampai masa sekarang, menjadi --dalam bahasa Sufi-- suatu organisasi yang semata-mata 'mengabadikan diri' yang berpusat di Gujarat. Metode-metode Syattariyah yang sejak itu dengan segala upaya diselidiki oleh orang India dan para Pencari lainnya, tetap melestarikan unsur ajaran Naqsyabandiyah sebagai madzhab induk yang dipraktikkan Syattari. 33 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ANOTASI-ANOTASI Ayat Cahaya Ayat Cahaya dalam al-Qur'an sendiri (Q.s. an-Nur: 35) menyatakan bahwa ia adalah sebuah kiasan dan bahwa makna batinnya harus dipahami secara metaforis. Ide iluminisme dan khususnya analogi Pelita dalam Sufisme dan turunannya, berasal dari ayat ini. Itulah pemindahan makna alegoris pelita yang membentuk sebagian pengalaman esoteris Sufi, karena Pelita harus dialami, segera setelah kesadaran individual mampu memahaminya. Bunyi Ayat Cahaya itu sebagai berikut: "ALLAH adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya-Nya laksana sebuah lampu di dalam ceruk. Pelita itu berada di dalam kristal, cahayanya laksana sebuah Bintang yang berkilauan. Pelita itu menyala dari minyak sebuah pohon berkah, yaitu pohon zaitun yang tidak (tumbuh) di Timur dan di Barat. Minyaknya menyala dengan sendirinya meskipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya." Ayat ini menunjukkan esensi Sufisme dan mengungkapkan watak kognisi dari dimensi ekstra kesadaran manusia yang berasal dari luar intelek. Itulah pokok kajian dari karya agung al-Ghazali, Misykat al-Anwar, seorang Sufi klasik. Bahasa-bahasa Meskipun mendalami dengan baik bahasa Arab, banyak Manusia Bijak Sufi menolak untuk menggunakannya kecuali ketika mereka ingin menggunakannya untuk tujuan khusus. Secara tradisional, mereka mematuhi praktik ini, bahkan dalam lingkungan-lingkungan tempat sebuah pengetahuan tentang bahasa Arab yang dianggap sebagai hal sangat penting bagi seorang yang berbudaya dan terpelajar. Akibatnya, beberapa guru terbesar dari waktu ke waktu dianggap kurang berpendidikan oleh para pengamat sastra. Ada banyak kisah tentang hal ini. Alasan-alasan tidak menggunakan bahasa Arab itu adalah: (1) Jika Sufi mengikuti "langkah tercela" pada saat tertentu, maka ia menganggap hal itu penting untuk menguji perasaan yang berlawanan dari para pendengarnya. Ini adalah hal terbaik untuk suatu kesadaran bahasa yang tinggi dari orang-orang seperti bangsa Arab, tanpa berbicara dengan bahasa mereka --dari sudut pandang mereka yang mempunyai kelemahan serius. (2) Karena supremasi gagasan baku dari bahasa Arab, Sufi harus membebaskan individu dari asumsi bahwa setiap tokoh harus berbicara dengan bahasa Arab. (3) Sufi tidak bisa dipaksa mengikuti pola budaya skolastik yang dirancang orang lain tanpa menyesuaikan ajarannya sendiri. (4) Tidak ada keadaan-keadaan yang sangat berbeda ketika komunikasi tidak diindikasikan secara verbal melalui metode biasa. "Keadaan" Sufi itu menunjukkan kepadanya tentang hal ini. Untuk manusia biasa, pemurnian persepsi itu tidak 34 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi mungkin. Oleh karena itu, ia berlaku serampangan untuk mengomunikasikan informasi dan gagasan dengan asumsi bahwa ketika orang-orang bertemu, kemampuan linguistik mereka adalah sesuatu yang baik dan penting. Menurut sebuah riwayat,1 Sufi dan Syekh besar dari Khurasan, Abu Hafs al-Haddadi tidak mengetahui bahasa Arab. Ia berbicara melalui para penerjemah. Namun ketika ia pergi ke Baghdad mengunjungi sejumlah tokoh seperti Junaid, ia berbicara dengan bahasa Arab secara sangat fasih sehingga dirinya tidak tersamai. Ini adalah kisah tipikal. Karena Sufisme lebih penting daripada hal lainnya, Sufi akan menerapkan teknik tersebut untuk pengembangan dirinya sendiri dan mengombinasikannya dengan dampak yang dihasilkan dengan cara lain. Bantuannya tidak pernah ditujukan untuk mencapai reputasi akademis. Mereka yang memandang Sufisme sebagai sebuah kultus Persia dengan penganutnya yang menunjukkan kebencian kepada orang-orangArab dan berupaya mereduksi arti penting bahasa Arab sebagai salah satu teknik mereka, sebenarnya keliru memahami peran bahasa dalam Sufisme. Sementara beberapa teknik serupa ternyata menggunakan bahasa selain bahasa Arab. Bahasa Sakral Bahasa Arab klasik adalah ragam bahasa Arab yang digunakan oleh suku Quraisy, para penjaga Ka'bah turun-temurun dan yang Nabi Muhammad saw termasuk keturunannya. Jauh sebelum bahasa Arab dianggap sebagai kalam suci karena ia adalah wacana al-Qur'an, ragam bahasa ini adalah bahasa kelompok agamawan Mekkah, sebuah kelompok keagamaan yang mempunyai sejarah keagamaan sejak Adam dan Hawa. Sebagai bahasa paling jelas dan primitif diantara bahasa Semit, bahasa Arab mempunyai ciri-ciri konstruksi bahasa yang orisinal. Ia dibangun berdasarkan prinsip-prinsip matematis --suatu fenomena yang tidak berkaitan dengan bahasa lainnya. Analisa Sufi dari konsep dasarnya menunjukkan bahwa gagasan-gagasan khas di awal atau keagamaan, maupun psikologis, secara kolektif berkaitan sekitar sebuah aliran dalam ragam yang tampaknya logis dan membebaskan serta hampir tidak bisa dilacak. Bahasa Arab adalah bahasa paling dekat yang masih bertahan dengan bahasa Semit, karena dari segi filologis, ia adalah bahasa milenium yang lebih kuno (archaic) dibandingkan, misalnya, bahasa Ibrani. Oleh karena itu, tata bahasa Ibrani didasarkan pada analisa dari bahasa Arab, melalui suatu kajian berbagai makna orisinal dari kata-kata Ibrani yang dinodai selama penggunaan secara literal yang lama, namun diklaim kembali oleh para sarjana Yahudi. Barakah Akar kata dan kata turunan (Bahasa Arab). BaRK b- = berdiri, tinggal. BaRK 'ala = duduk. BaRRaK l- = ucapan selamat. (Dialek Syria). BaRRaK 'ala = memberkati. TaBARaK = mendapat berkah. TaBaRRaK b- = menjadi tanda yang baik dari ... 34 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi BaRaK-at = anugerah, keleluasaan. BiRK-at = kolam, telaga. BaRIK = bahagia, hari-hari ceria. BaRRAK = penggiling. MuBARaK = diberkati. BaRRaK = berlutut. Carbonari Italia, asalnya suatu persaudaraan mistik, menggunakan koinsidensi antara kata Arab barakah dan kata Italia baracca. Kata yang terakhir ini artinya "sebuah tempat perlindungan tanpa dinding-dinding, sebuah barak, gudang, usaha". Mereka menggunakannya seperti istilah Lodge (pondok). Pada bulan Juli 1957, John Hamilton mempublikasikan sebuah makalah dalam Hibbert Journal dimana ia mengusulkan bahwa kata barakah digunakan dalam bahasa Inggris untuk mendenotasikan beberapa sifat orang atau benda, seperti "kebajikan yang dipancarkan oleh Yesus atau tabib besar lainnya". Profesor Robert Graves secara independen mengatakan pendapat yang sama dalam sebuah kuliah penting di Amerika. Presiden De Gaulle dari Prancis, dalam perkataannya, "Saya mempunyai barakah," menggunakannya dalam pengertian kemampuan personal yang dibutuhkan, karena pengertian kebutuhan mengacu pada pelaksanaan misi atau tugas. Bedil Mirza Abdul Qadir Bedil yang hidup pada masa Raja India Aurangzeb, secara luas diakui sebagai seorang guru Sufi di India dan Asia Tengah. Kumpulan 31.000 syairnya yang luar biasa dan orisinal telah dipublikasikan sekelompok cendekiawan Afghanistan pada tahun 1962. Berbagai Hubungan Saracen-Barat Hubungan antara para penguasa Barat dan orang-orang Saracen dalam berbagai bidang tertutup selama masa perang antara dua kelompok itu. Charlemagne, pahlawan Kristen, berperang sebagai sekutu dengan seorang penguasa Muslim. Abdurrahman II dari Spanyol (821-852) mengutus seorang duta --Yahya al-Ghazali-- menghadap Raja Norman. Richard the Lionhearted (dalam bahasa Arab qalb annimr, keduanya adalah istilah Sufi) menurut riwayat mengusulkan agar saudara perempuannya sebaiknya menikah dengan saudara laki-laki Saladin. Ia sendiri adalah janda Raja Sicilia yang menggunakan ungkapan-ungkapan Sufi dalam berbagai peraturannya. Saudara laki-laki the Lionhearted, John (diasingkan pada tahun 1209) mengirim seorang duta dari Inggris ke Khalifah Spanyol-Maroko dengan tujuan menawarkan untuk memeluk agama Islam. Richard sendiri menikahi (pada tahun 1191) Berengaria of Navarre yang mempunyai saudara laki-laki, yaitu Sancho the Strong, seorang sekutu rahasia dari Raja Spanyol Arab. Pada tahun 1211, John mempersiapkan dukungan militer kepada orang-orang Albigensian yang tentu saja dipengaruhi budaya Sufi. Isabella of Castile yang dinikahi Edmund of Yorke, adalah keturunan Muhammad II dari Sevilla. Pengaruh Sufi yang berasal dari Spanyol pada masa ini termasuk tarian Morris. John of Gaunt yang mungkin membawa para penari itu, adalah pendukung Chaucer yang menerapkan ajaran-ajaran Sufi. Sementara istri Chaucer, Philippa mungkin adalah istri ketiga Gaunt yang 34 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi dinikahinya pada tahun 1396. Penguasa Aragon adalah keturunan langsung Raja Muslim Granada. Kini tercatat 50.000 orang Inggris keturunan Bani Umayyah dari garis keturunan Pedro the Cruel. Thomas Becket (1119-1170) sebagai Kanselor dan Dewan Agama dari Canterbury, yang pekerjaan dan kematiannya dikaitkan dengan spekulasi dari komitmen spiritualnya dan telah mengangkat berbagai teori, menurut riwayat ia mempunyai seorang ibu dari Saracen (Hitti, op. cit., hlm. 652, catatan 7). Syams ad-Duha adalah nama Arab dari seorang Putri Inggris atau Skotlandia yang menikah dengan penguasa Maroko Abu al-Hasan (1330-1380), the Mirinid. Kedua tokoh ini dimakamkan di reruntuhan Shilla, dekat Rabat. Raja Yunani, John Cantacuzenus memberikan putrinya kepada penguasa Turki, Orkhan pada tahun 1346. Orkhan mengorganisasikan kalangan Janissari (prajurit infantri Turki pada tahun 1329-1826), sebuah pasukan elit yang mempunyai persekutuan dengan Guru Sufi Haji Bektash. Dari sudut pandang Islam, tidak boleh menawarkan perempuan Muslim kepada orang kafir, dan perkawinan semacam itu adalah konfirmasi dari tradisi Timur bahwa ada suatu pemahaman awal antara Muslim dan Kristen dengan keluarganya yang mempunyai persekutuan rahasia. Namun propaganda agama yang berhati-hati dan sinambung dari kedua aliran itu telah memutuskan hubungan publik ini. Dzikir Kata dzikir (dilafalkan dalam bahasa non-Arab dengan zikr) mengacu pada latihan tertentu yang dilakukan sejak permulaan pendidikan darwis. Pada dasarnya kata ini berarti "mengingat", dan maknanya adalah mengingat, memperingati, berdoa. Maka "mengingat" sekarang juga didefinisikan sebagai istilah dasar untuk aktivitas religius para darwis. Tahap pertama adalah mengingat diri setelah fungsi perubahan untuk satu keselarasan dengan kesadaran yang lebih agung. Murid harus berdzikir dan mengingat diri dengan berbagai cara, dengan melakukan latihan ini dalam bentukyang paling awal, atau ia menjadi sebuah "sebab yang tak dapat diharapkan". Beberapa imitator Sufisme yang menyaksikan majelis Sufi, telah meniru teknik ini. Hakim Sanai yang Agung menentang terlalu banyak berdzikir, hal ini menunjukkan bahwa dzikir hanya digunakan pada tahap pertama: Zikr juz dar rahi mujahid nist; Zikr dar majlisi musyahid nist. "Dzikir harus dilakukan tanpa kecuali dalam perjuangan; Dzikir, pengulangan tidak terdapat dalam majelis pengalaman." (Taman Kebenaran Berdinding). Festival Misterius Berbagai festival "tukang sihir perempuan" dilaksanakan pada minggu kedua Februari, minggu pertama Maret, minggu pertama Agustus dan minggu pertama November. Festival ini tidak mengikuti musim maupun titik balik matahari sebagaimana sebagian besar komentator mengetahuinya. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa festival ini harus diselenggarakan berdasarkan pada beberapa kalender kuno versi binatang ternak. Semua ini sebenarnya adalah hari-hari yang dirayakan oleh suku Aniza (dan suku Arab lainnya) yang mengungkapkan perubahan musim di Teluk Persia dan masih berlaku di sana. Padanan kata musim-musim itu adalah: 34 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Musim Semi, Rabi' Musim Panas, Shaif Musim Gugur, Kharif Musim Dingin, Syita'. Kebiasaan "tukang sihir perempuan" yang berlawanan dengan arah jarum jam itu, pada umumnya dianggap sebagai lawan jahat dari arah jarum jam keagamaan biasa, adalah sejalan dengan kebiasaan mengelilingi Ka'bah dalam ritual Islam. Para Sufi dan Muslim lainnya adalah jamaah keagamaan satu-satunya yang melaksanakan ibadah mereka dengan putaran itu. Guru Sufi Dalam diri manusia ada sebuah "khazanah". Ini hanya bisa ditemukan dengan mencarinya. Khazanah itu seolah-olah berada di dalam sebuah rumah (pola pikir yang baku) yang harus dibongkar sebelum dicari. Di dalam rumah "gajah di kegelapan", Rumi mengajarkan bahwa, "jika ada cahaya di dalam rumah itu", keberagaman mungkin tampak dalam apa yang sebenarnya kesatuan. Sementara manusia hanya melihat bagian-bagian dari sesuatu karena pikirannya dibakukan dalam sebuah pola yang dirancang untuk melihat sesuatu yang terbagi-bagi. Satu tugas guru adalah mengembangkan fakta ini bagi muridnya. Rumi menggunakan hal ini dalam sebuah syair:2 Bongkarlah rumahmu, karena terpendam khazanah di dalamnya, Dan engkau akan mampu membangun beribu-ribu rumah. Khazanah terpendam di bawahnya, tidak ada pertolongan untuk menggalinya, Janganlah engkau mengabaikannya dan janganlah serampangan mengambilnya! ... Hadiah itu adalah imbalan setelah membongkar rumah. ... "Manusia tidak akan mendapatkan apa-apa jika ia tidak bekerja." Dan engkau akan menggigit jari serta berseru, "Sayang! Bulan purnama itu tersembunyi di balik awan. Aku tidak berbuat apa yang dianggap mereka sebagai kebaikanku, Kini rumah dan khazanah hilang, tanganku hampa." Hafizh Khaja Syamsuddin Hafizh (secara harfiah Guru Matahari Keimanan, sang Pelindung, Sosok yang memahami al-Qur'an) wafat tahun 1389. Sebagai salah satu penyair terbesar Persia, karyanya dikenal sebagai Penafsir Berbagai Rahasia dan Percakapan tentang Yang Tak Tersentuh. Koleksinya, Diwan, tampaknya dalam corak sensual mengungkapkan berbagai pengalaman Sufi. Karya ini digunakan sebagai sebuah buku teks dan juga (secara vulgar) untuk tanda-tanda, dengan membukanya di sembarang halaman. Berawal di Isfahan, keluarganya pindah ke Syiraz. Hari kematiannya tersembunyi dalam sebuah syair yang tertera di pusaranya dimana ia sendiri memberikan petunjuk tentang fakta bahwa dirinya merahasiakan sandi angka yang digunakan para Sufi: "Jika engkau ingin mengetahui 34 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ketika ia mencari tempat di keremangan Mushalla, carilah tanggal (kematiannya) di keremangan Mushalla." "Keremangan Mushalla" (khak-i-Mushalla) mengungkapkan rahasia angka 791, angka yang sesuai dengan kalender Muslim untuk tahun 1389. Hafizh adalah guru dari para raja, namun tetap dicintai masyarakat. Pengaruhnya masih tak tertandingi dalam kesusastraan Persia. Al-Hallaj Husain bin Manshur al-Hallaj adalah martir Sufi yangAgung. Seperti kebanyakan Orang Bijak, ia menggunakan sebuah istilah keahlian sebagai nama keluarganya -- Hallaj, pemintal wool atau pemakai bahan kapas-- sehingga banyak pengulas berasumsi bahwa hal ini menunjukkan bahwa ia pedagang atau sebagai nama keluarga. Jubah kelompok Sufi dan majelis mereka dengan tabir organisasi serikat adalah salah satu alasan pilihan nama itu. Al-Ghazali, sang Pemintal dan Aththar, sang Kimiawan adalah contoh lain. Namun para Sufi selalu memilih nama-nama keahlian yang (melalui makna gandanya) bisa diasosiasikan dengan komitmen mereka. Nama Hallaj dipilih karena hubungan wool (shuf) dengan keahlian itu, dan karena sebuah makna alternatif untuk akar kata HLJ dalam bahasa Arab adalah "berjalan perlahan" atau "membiarkan penerangan keempat". Meskipun ia populer dengan nama Manshur, sebenarnya ini adalah nama ayahnya, seorang Majusi kuno. Ia dihukum mati pada tahun 922 atas pernyataannya, "Akulah Kebenaran" (Ana al-Haqq), dan penolakan untuk mengakui kesalahannya, menjadi ungkapan hujjahnya yang terakhir. Ia dinyatakan sebagai ahli alkimia seperti kebanyakan Sufi dan permusuhan kesusastraan yang luas menuduhnya sebagai sosok munafik yang licik. Bagi para Sufi, diantara beberapa sosok terbesar dari sahabat dan orang sezamannya, ia adalah salah seorang guru terbesar mereka. Ia melaksanakan berbagai pertemuan rahasia di rumahnya dan menjadi sangat kuat karena ajarannya serta mempunyai berbagai mukjizat. Pendek kata ia adalah ancaman politik. Ia mengajarkan bahwa Sufisme adalah kebenaran internal dari semua agama sejati dan karena ia menekankan arti penting Yesus sebagai seorang Guru Sufi, ia dituduh sebagai penganut fanatik ajaran rahasia Kristen. Salah satu tuduhan terhadapnya adalah bahwa dirinya mempunyai sejumlah buku yang secara menakjubkan diberi lambang dan dihiasi. Pernyataannya bahwa Haji bisa dilaksanakan di mana pun dengan berbagai pengabdian dan persiapan yang sesuai, dianggap sebagai bid'ah yang mustahil. Al-Hujwiri (Kasyful Mahjub) secara otoritatif membela al-Hallaj dengan dasar-dasar bahwa semua hal yang dilakukan atau dinyatakan para Sufi tidak bisa ditafsirkan dengan kriteria yang lebih rendah. Menurutnya, upaya mengungkap Realitas dengan istilah-istilah biasa adalah suatu kemustahilan. Demikian pula, upaya itu tidak akan menghasilkan makna. Pada hari Selasa, 26 Maret 922, al-Hallaj berjalan ke tempat eksekusi karena menerima hukuman mati dari Khalifah al-Muqtadir. Ia disiksa dan dianiaya, namun tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Berikut ini doa terakhirnya ketika ia masih bisa berbicara: "Ya Allah, aku bersyukur atas barakah yang Engkau anugerahkan, sehingga aku mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Misteri-misteri ketuhanan yang haram bagi orang lain adalah halal bagiku. Ampunilah dan berilah kasih sayang 34 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi atas hamba-hambaMu yang bermaksud membunuhku ini. Apabila Engkau mengungkapkan kepada mereka apa yang Engkau ungkapkan kepadaku, mereka tidak akan melakukan hal ini." Hitam dan Bijaksana Pemakaian idiom "hitam" (black) di Eropa untuk mendenotasikan sesuatu yang tidak menyenangkan, telah mengaburkan makna khasnya, teknik pemakaian selama Abad Pertengahan. Referensi mungkin dibuat untuk menggunakan ide "gelap" (dark), sihir, untuk sesuatu yang tersembunyi mungkin berasal dari sebuah jembatan untuk membangun kembali pengertian konsep ini dalam kaitannya dengan kebijaksanaan tersembunyi --dan juga karena perluasan makna, berkaitan dengan kepemimpinan. Ka'bah (bangunan berbentuk kubus, yang Suci) di Mekkah dilapisi warna hitam, secara esoterik ditafsirkan sebagai suatu permainan kata FHM yang dilafalkan dalam bahasa Arab, makna lainnya "hitam" atau "bijaksana", "pemahaman". Sementara kata Sayyid (pangeran) dikaitkan dengan akar kata lain untuk arti kata hitam, yaitu SWD. Demikian pula panji bendera Nabi Muhammad saw yang orisinal berwarna hitam, secara kolektif berarti kebijaksanaan, kekuasaan. Hubungan berbagai pengertian ini tentu saja tidak diperhatikan dalam terjemahan ungkapan Sufi: "Di dalam Kegelapan, ada Tarekat" (Dar tariki, thariqat). Dampak pandangan hitam-putih (cahaya-pemahaman-berasal dari kegelapan) yang menurut riwayat diwarisi para Sufi dari kejayaan masa kuno, menyimbolkan dualitas ini. Dengan berbagai cara, ritual pertemuan Sufi melestarikan perubahan cahaya dan kegelapan, hitam dan putih. Satu metode semacam ini adalah menghamparkan pakaian hitam-putih di lantai ruang pertemuan. Cara lain adalah memadamkan dan menghidupkan lampu. Jami Mullah Nuruddin Abdurrahman Jami (secara harfiah Guru Cahaya Iman, Hamba Kasih Sayang, dari Jam) lahir di Khurasan pada tahun 1414 dan wafat di Herat pada tahun 1492. Menurut kepercayaannya sendiri, Jami disucikan oleh kedatangan sekilas Guru besar Muhammad Parsa, yang melalui tempat kelahirannya ketika penyair ini masih bocah. Ia adalah seorang guru dari Tarekat Naqsyabandiyah. Ajaran Sufinya kadangkala ditampakkan dan kadangkala disembunyikan dalam karya puitis atau lainnya yang luar biasa. Di antara karya-karyanya, ada roman Salman dan Absal, kisah epik Yusuf dan Zulaikha, kisah-kisah alegoris yang diantaranya termasuk karya tulis terbesar dalam kesusastraan Persia. Karyanya Abode of Spring mengandung materi pembaiatan yang sangat penting. Jami adalah seorang pengembara yang agung, teolog, ahli tata bahasa dan ahli sajak maupun sebagai teorisi musik. Kemampuan intelektualnya muncul setelah belajar di bawah bimbingan Guru Ali dari Samarkand dan segera diakui oleh ilmuwan besar Romawi sebagai mengungguli dirinya. Dalam sebuah pertemuan akbar, ilmuwan Romawi itu berkata, "Sejak pembangunan kota yang sama sekali tidak sejalan dengan pikiran ini dan penggunaannya, Jami muda pernah melewati Oxus menuju Samarkand." Jami memilih nama tempat kelahirannya sebagai nama samaran karena mengungkapkan rahasia angka 54 yang bisa ditulis kembali dengan ND. Kombinasi huruf ini dalam bahasa Arab mengandung sejumlah pemikiran --berhala, oponen, 34 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi lari, ramuan parfum-- dalam semua konsep puitis Sufi yang berkaitan dengan "keadaan" atau "gerakan" Sufi. Kematian dan Kelahiran Kembali Tema bahwa manusia harus "mati sebelum ia mati" (Muhammad) atau bahwa ia harus "lahir kembali" dalam kehidupan nyatanya, terdapat dalam banyak bentuk kewaspadaan awal. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, pesan ini dipahami secara simbolis atau dipahami sebagai sebuah ritual semata. Para Sufi percaya bahwa mereka bisa memahami maksud orisinal dari ajaran ini. Untuk itu mereka menandai tiga tahap utama dari inisiasi dalam proses "kematian" itu. Dalam hal ini, sang calon murid harus melalui beberapa pengalaman khas (secara teknik diistilahkan "kematian"). Upacara inisiasi itu hanyalah memperingati kejadian ini dan tidak secara sederhana mendramatisasikannya sebagai sebuah simbol. Tiga "kematian" itu adalah: 1. Mati Putih 2. Mati Hijau 3. Mati Hitam. Pencapaian pengalaman spiritual yang mengacu pada berbagai "kematian" itu adalah serangkaian latihan psikologis atau latihan lainnya yang mencakup tiga faktor berikut ini: 1. Menahan nafsu dan mengendalikan fungsi fisik. 2. "Kemelaratan", mencakup ketidaktergantungan pada hal-hal material. 3. Pembebasan emosi melalui beberapa latihan seperti mengatasi berbagai rintangan yang bisa dihindari dan "memainkan sebuah peran" untuk mengamati berbagai reaksi lainnya. Pendidikan murid di bawah seorang guru mengikuti sebuah contoh khas dimana Salik diberikan berbagai kesempatan untuk melatih kesadarannya dalam tiga tahapan itu. Lantaran Sufisme menggunakan penataan "dunia" secara normal sebagai sebuah latihan dasar, maka tiga tahap "kematian" itu selalu melibatkan upaya-upaya khas dalam komunitas manusia, dengan mencapai pengalaman spiritual yang ditandai tiga kematian dengan "kelahiran kembali" atau transformasi yang dihasilkannya. Kesadaran Komunikasi antara pikiran yang dibangun oleh Sufisme mempunyai beberapa aspek. Dalam latihan tasarruf yang "mencerahkan" individualitas, ada sebuah interaksi pikiran. Hal ini digunakan oleh para Sufi untuk pengobatan. Melalui teknik inilah sebagian besar cara pengobatan mereka yang tak dapat dijelaskan ternyata efektif, disamping beberapa penerapan teknik sederhana (lihat J. Hallaji, "Hypnotherapeutic Techniques in a Central Asian Community", International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, Oktober 1962). Sementara teori Jung tentang kesadaran kolektif telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd dari Spanyol (1126-1198). Ia juga sering mengacu pada Rumi dan makna serta kekuatannya adalah pokok perhatian para Sufi. Rumi mencatat bahwa fenomena ini merupakan 34 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi salah satu kesadaran yang lebih tinggi: "Sifat kebinatangan adalah bagian dari ruh; ruh manusia mempunyai satu jiwa". Ini secara umum mengacu pada apa yang disebut sebagai "jiwa yang agung". Kultus Malaikat Merak Kalangan Yezidi Iraq yang dikenal sebagai penyembah setan, adalah suatu kultus rahasia dengan simbolismenya yang membingungkan para murid selama berabadabad, yaitu simbol merak dan ular hitam. Namun tidak ada keinginan untuk mengetahui masalah ini, yang ada hanya pengetahuan bahwa kelompok itu didirikan oleh seorang Sufi terkenal dan bahwa kita mengetahui bagaimana analogi puitis Sufi bekerja. Seperti kelompok Sufi al-Banna, para pengembara atau Para Penambang, kalangan Yezidi pada mulanya adalah sebuah komunitas Sufi. Ritualritual mereka berkisar pada penggunaan simbolisme Sufi yang baku dan lazim. Malak thawuus yang berarti Malaikat Merak, sebenarnya berarti: MaLaK, homonim MaLiK ("Raja", istilah tradisional untuk seorang Sufi); dan ThAWUUS (Merak), yang juga mempunyai kesamaan lafal dengan ThAWUUS (Tanah Hijau). Bila tercatat bahwa MaLaK (Malaikat) digunakan dalam pengertian al-Ghazali bahwa "malaikat adalah fakultas-fakultas yang lebih tinggi dalam diri manusia", mungkin bisa dipahami bahwa berhala kalangan Yezidi yang terkenal itu hanyalah suatu kiasan dari dua semboyan Sufi-perluasan "tanah", pikiran, melalui fakultas-fakultas yang lebih tinggi itu. Dua kata ini digunakan secara lahiriah dalam kultus Yezidi. Kalangan Yezidi terbagi dalam berbagai kelompok yang menggunakan gelar-gelar Sufi seperti pir (yang lebih tua), Fakir, Baba (pemimpin). Lady Drower, yang mempelajari kelompok Merak dari Iraq dalam lingkungan tertutup itu, berpendapat tentang pendiri kelompok ini, yaitu Syekh Adi bin Musafir (Putra sang Pengembara, sebuah gelar Sufi): "Tidak ada yang bisa diketahui tentangnya, ia hanya berbicara tentang ortodoksi. Namun ia adalah seorang Sufi, sementara ajaran-ajaran rahasia Sufisme selalu dianggap sebagai pantheisme dan sekte-sekte Sufi dari agama kuno." (Peacock Angel, London, 1941, hlm. 152). Dalam menambahkan lambang merak itu, kalangan Yezidi menggunakan gambar ular yang diwarnai hitam pekat. Warna hitam ini menyimbolkan kata FAHM (arang, karbon). Jauh dari fungsi sebagai simbol kejahatan atau tradisi regenerasi kulit kuno sebagaimana diyakini, ular sendiri dipilih dengan dasar-dasar yang sama seperti pemakaian lambang merak. Dalam bahasa Arab, ular adalah HaYYaT Kata ini dekat dengan sebuah lafal dari kata lain, yaitu HaYYAt yang artinya kehidupan, dan menggunakan huruf Arab yang sama. Jadi arti ular hitam adalah "Kebijaksanaan Hidup". Seperti dalam organisasi Sufi lainnya, sistem Yezidi berkembang luas di luar konteks budayanya dan menjadi suatu tiruan di berbagai daerah. Sebuah cabang kultus yang sebenarnya muncul untuk menentang lambang "malaikat merak", dilaporkan ada di London pada tahun 1962. (A. Daraul, Secret Societies, London, 1962). 34 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Itulah kemerosotan simbolologi yang direfleksikan dalam berbagai perhimpunan asing di Barat. Perkembangan maksud yang sebenarnya itu selanjutnya menjadi wahana yang digunakan untuk menghasilkan emosi komunal yang menggantikan pengalaman batiniah. Lathaif Pengaktifan Organ-organ Persepsi khas (lathaif) adalah sebagian dari metodologi Sufi yang analog dan seringkali dirancukan dengan sistem chakra dalamYoga. Padahal ada beberapa perbedaan penting. Dalam Yoga, chakra dan padma dipahami sebagai pusat-pusat fisik di dalam tubuh yang berhubungan dengan urat saraf atau jaringan saraf yang tak tampak. Para Yogi pada umumnya tidak mengetahui bahwa pusat-pusat ini hanyalah titik-titik perhatian, formulasiformulasi yang sesuai untuk pengaktifan itu sebagai bagian dari hipotesis kerja teoritis. Baik Sufisme maupun Kristianitas mempergunakan suatu teori serupa dari segi ajaran esoteris dan mengombinasikannya dengan latihan tertentu. Pergantian berbagai warna yang dipandang oleh ahli alkimia dalam kepustakaan Barat, dapat dipandang sebagai pengacuan pada konsentrasi atas lokalisasi jasmaniah tertentu bila kita membandingkannya dengan kepustakaan Sufi tentang berbagai latihan itu. Hal ini secara mengejutkan mudah dibuktikan, meskipun tampaknya tak seorang pun di Barat telah mencatat hubungan ini. Jadi dalam Sufisme, lathaif terletak pada: Hati (qalb), warnanya kuning dan tempatnya di sisi kiri tubuh. Jiwa (ruh), warnanya merah dan tempatnya di sisi kanan tubuh. Kesadaran (sirr), warnanya putih dan tempatnya di jaringan urat-urat. Intuisi (khafi), warnanya hitam dan tempatnya di dahi. Persepsi kesadaran yang mendalam (ikhfa), warnanya hijau dan tempatnya di pusat dada. Dalam alkimia Barat, "pergantian warna yang manifes" adalah sangat penting. Di kalangan ahli alkimia Kristen, pergantian hitam-putihkuning- merah sangat dikenal. Suatu waktu akan dicatat bahwa pergantian yang ditransposisikan ke dalam kesamaan fisik ini membentuk tanda Salib. Oleh karena itu, latihan-latihan dalam bidang alkimia membantu dalam mengaktifkan warna (lokasi-lokasi = lathaif) dalam pembentukan salib itu sendiri. Ini adalah sebuah adaptasi dari metode Sufi, yaitu sesuai dengan pengaktifan: kuning-merah-putihhitam- hijau. Sekali lagi, dalam alkimia, pergantian itu kadangkala diberikan sebagai warna hitam (abu-abu yang lebih gelap = perkembangan parsial dari fakultas hitam, dahi) -- putih (jaringan urat, poin kedua dari tanda Salib) -- hijau (sebuah alternatif Sufi untuk sisi kanan dada) -- sitrin (sisi kiri dada, "hati") -- merah (sisi kanan dada). Kadangkala pada tahap kedua, sang "merak" (ragam warna) tampil dalam kesadaran. Tanda yang dianggap penting oleh ahli alkimia ini dikenal oleh para Sufi sebagai suatu kondisi khas, tak ternilai dan terdapat di dalam pikiran ketika kesadaran dipenuhi oleh pergantian warna atau photisme. Itulah suatu tingkatan sebelum stabilisasi kesadaran dan dengan langkah tertentu bisa dibandingkan dengan warna ilusi yang dihasilkan halusinogen. Para Sufi mengenakan pakaian (seringkali surban) dengan warna itu dan berkaitan dengan perkembangan mereka dalam sistem khas ini. Sementara para mahasiswa di bidang kimia dibiarkan meraba-raba sebuah misteri yang sebenarnya tidak rumit jika makna riilnya dipahami. 34 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Masalah Irasionalitas Individu yang dibesarkan dalam latar belakang budaya Barat seringkali tidak mempunyai kemampuan ketika dihadapkan pada masalah pengetahuan, karena terpaku pada persoalan "menguasai dan dikuasai", dimana ia memberikan tekanan yang kuat dan tanpa membeda-bedakan. Ia seringkali menyadari "masalah" ini hanya dalam bentuk kasar ("menguasai atau dikuasai"), dan akar keahlian sastra serta filsafatnya memberikan sedikit kemampuan untuk memahami bahwa masalah itu berkisar pada asumsi bahwa tidak ada kemampuan yang lebih kecil dibandingkan "perjuangan atau diperjuangkan untuk". Sementara beberapa pengamat Barat telah mencatat krisis esensial ini. Dengan judul utama "Masalah Irasionalitas", para editor sebuah simposium3 mengacu pada kaitan karakteristik berikut ini: "... ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai hasrat orang itu. Sebaliknya, kekhawatiran dikontrol orang lain dengan konsekuensi kehilangan otonomi, diyakini sebagai hal fundamental bagi konsepsi diri. Berbagai perbedaan ini secara berlebihan dibesar-besarkan dalam pikiran gila, salah satu gejala mental yang sangat parah dari manusia Barat." Mawar; Rosicrucian; Tasbih Orang-orang Kristen mengadopsi istilah rosary (tasbih) dari orang-orang Saracen. Untuk itu mereka menerjemahkan kata al-wardia (secara harfiah berarti tukang cerita) dengan kata lain, hampir sama dengan suara aslinya, sebuah kata yang mengacu pada roser atau rosary (tasbih). Istilah lengkapnya dalam bahasa Arab untuk rosary adalah al-misbat al-wirdiat (Pendoa Pencerita atau Gambar Dekat). Istilah ini (WRD) adalah istilah teknis khusus untuk latihan-latihan khas dari para Sufi atau darwis. Penerjemahan Katholik kedalam bahasa Latin untuk istilah ini tidak begitu banyak terjadi kesalahan terjemahan sebagaimana suatu cara adopsi puisi Sufi (atau hampir bersifat lambang) dengan menggunakan kata serupa untuk menciptakan sebuah citra. Oleh karena itu, kata wird digunakan oleh para Sufi secara puitis sebagai WaRD (mawar). Perkembangan serupa terjadi pada istilah Rosicrucian. Ini adalah terjemahan langsung dari akar kata WRD ditambah kata cross (salib) dalam bahasa Arab, SLB. Menurut bentuk aslinya, ungkapan itu berarti WRD (latihan) plus SLB --"mengeluarkan saripati". Oleh karena itu, hanya secara insidentallah SLB (yang juga berarti "salib") mengacu pada ungkapan Rosicrucian. Namun dengan memanfaatkan koinsidensi atau perbandingan puitis ini, para Sufi menyatakan, "Kami mempunyai inti Salib, sementara orang-orang Kristen hanya mempunyai kayu salibnya," dan berbagai ungkapan serupa. Penerjemahan ini menghilangkan maknanya. Sebuah tarekat darwis (Abdul Qadir al-Jilani) dibentuk seputar gagasan Rose (Mawar) dalam pengertian awal ini dan pendirinya dijuluki Mawar dari Baghdad. Pengabaian latar belakang ini adalah tanggung jawab dari berbagai spekulasi sia-sia tentang entitas Rosicrucian yang hanya mengulang klaim mereka atas kekuasaan ajaran kuno yang mengandung perkembangan paralel, yaitu alkimia. Ajaran kuno ini juga disampaikan oleh Friar Bacon, dan ia sendiri diklaim sebagai seorang Rosicrucian, ahli alkimia dan iluminis. Asal-usul semua masyarakat Sufisme ini adalah jawaban untuk pertanyaan termasuk aliran yang mana Bacon didalamnya, dan apa sebenarnya ajaran rahasianya. Banyak simbolisme Rosicrucian 35 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi lainnya adalah simbol Sufi. Martin Luther menggunakan lambang the Rose (mawar), Cross (salib) dan Ring (cincin [halaqah Sufi]). Ini harus disediakan untuknya sebagai seorang Sufi awal. Miramolin Penggantian gelar Arab pada Abad Pertengahan, Amirul Mukminin (Pemimpin kaum Mukmin, Khalifah) di Spanyol dan Afrika adalah Miramolin, suatu upaya mereproduksi suara dari kata asalnya. Secara vulgar, dari sudut pandang bahasa Spanyol, kata ini kedengarannya seolah-olah sebagai kata majemuk yang tersusun dari kata "memandang" (mirar) dan "sebuah penggilingan" (molino). Dengan mentransposisikan pengertian "penggilingan" ini ke dalam bahasa Arab sebagaimana dijelaskan oleh orang-orang Moor keturunan Spanyol Arab yang diasingkan pada tahun 1490, kita menemukan kata rahi. Apa makna lain dari kata rahi dalam bahasa Arab? RAHI: Penggilingan; komandan sebuah pertempuran; kepala suku; pasukan unta. MIRAt bermakna "perbekalan, gandum". Penggilingan tempat Quixote diserang, melalui analogi linguistik dan koinsidensi, sebuah giling, namun juga bermakna "komandan sebuah pertempuran; kepala suku", dan sebagainya. Namun kita tidak mungkin mentransposisikan berbagai kata majemuk itu ke dalam bahasa Inggris, karena humor bergantung pada perpaduan suara. Lantaran bahasa Arab tidak dikenal secara luas di Spanyol, pertukaran kata-kata Spanyol-Arab ini tidak berlaku lagi dan hanya diingat dalam sekelompok kecil orang-orang Maroko. Miramolin Afrika, yang merepresentasikan unsur fanatik dalam Islam, tidaklah populer (paling tidak demikian) di kalangan Spanyol Arab dan Sufi. Naqsyabandiyah Naqsyabandiyah adalah salah satu Tarekat Sufi. Nama Naqsyabandi secara literal berarti Pemahat, berdasar pada analogi dari berbagai perkumpulan dan kelompok para Sufi klasik awal, seperti Para Pembangun (al-Banna). Tarekat ini mempunyai suatu cabang rahasia dan terbuka. Para penyair Persia menggunakan kata naqsy (diagram, gambar, peta, dan sebagainya) untuk mendenotasikan sebuah hubungan antara para Sufi ini dengan seluruh "rancangan" perkembangan manusia dimana Sufisme diyakini bisa membantunya. Rumi menggunakan kata NAQSYjauh sebelum pendiri tarekat terkenal ini (Bahauddin Naqsyabandi) mengajar di Bukhara. Ia menyatakan, 'Aku seorang pemahat (NaQQASY), setiap saat aku mencipta patung." (Diwan). Bahkan secara lebih awal Khayyam menggunakan citra yang sama: "Dunia ini seperti cincin, tentu saja kita adalah citra (NAQSY) dari untaiannya." Tarekat Nagsyabandiyah mempunyai rantai asal-usul spiritual kepada Nabi Muhammad saw melalui sebagian besar guru klasik. Tarekat ini menyadari dipengaruhi oleh seorang Sufi, hanya sebagian diungkapkan dalam bentuk lahiriah sebagai sebuah madzhab darwis, yang membantu melestarikan identitas budaya masyarakat. Ia sangat berpengaruh di Turki hingga revolusi republik, dan sebelumnya Turki dikuasai dinasti Ottoman maupun Mogul dari masa ke masa. Ciri temporer dari madzhab Sufi 35 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ini, yang menimbulkan pembentukan kembali dan perbedaan penampilan dalam berbagai bidang, diacu oleh Rumi ketika ia mengatakan, "Aku bukan air atau api, bukan pula angin topan. Aku bukan citra dari tanah liat (MUNaQQISY): Aku menertawakan mereka semua." (Diwan). NSYR NaSyaR = menyebarkan, memperluas, memperlihatkan. NaSyaR = menggergaji kayu, menyebarkan, menghamburkan. NaSyaR = menjadi subur setelah hujan, merindang (daun-daunan). NaSyaR = menghidupkan kembali, membangkitkan (setelah kematian). NaSyiR = menghabiskan malam di padang rumput. NaSyr = hidup, senyum manis, kesuburan setelah hujan. YaUM An-NuSyuR = Hari Kebangkitan. NuSyaRa = serbuk gergaji. MiNSyaR = gergaji. Judul syair Ibnu Arabi diturunkan dari akar kata yang sama seperti kata benda "gergaji" dan dipilih sesuai dengan pemakaian Sufi. Sebagaimana kita melihat daftar turunan kata dari akar kata NSyR di atas, risalah Sufinya mengombinasikan penyebaran Sufisme, menghidupkan pengetahuan, kesegaran setelah hujan (barakah) bagi pengobatan. "Menggergaji kayu" juga diambil untuk mengacu pada upaya yang dilakukan dalam kehidupan Sufi, maupun produksi sesuatu yang baru (serbuk kayu) dari bahan material (kayu); suatu variasi dari transmutasi atau "formasi" analogi yang digunakan oleh para Sufi. Dalam alkimia, ada transmutasi kimiawi; dalam akar kata QLB, ada pengertian "pembentukan, penyusunan"; sementara dalam akar kata NSyR, ada pengertian produksi, serbuk gergaji. Kiasan ini tentu saja menunjukkan perubahan manusia dan ketika para Sufi melestarikan konsep lentur ini, dalam masyarakat lainnya, suatu aspek tunggal (seperti alkimia dan transmutasi) telah dibakukan serta mematuhi sepenuhnya konsep sempit dari alkimikalisasi. Para Guru Klasik Ada tiga "generasi" dan "gelombang" keguruan selama periode klasik. Setiap Sufi percaya bahwa mereka penerima barakah yang diakumulasikan oleh para guru ini, jadi para leluhur spiritual mereka. Generasi pertama: Abu Bakar, Umar, Ali, Bilal, Ibnu Riyah, Abu Abdullah, Salman al-Farisi --Tujuh Guru Agung. Generasi kedua: Uwais al-Qarni, Hiran bin Haya, Hasan al-Bashri; Empat Pembimbing ("Para Mahkota"). Generasi ketiga: Habib Ajami, Malik bin Dinar, Imam Abu Hanifah, Dawud ath- Tha'i. Dzun-Nun al-Mishri, Ibrahim bin Adham, Abu Yazid, Sari as-Saqati, Abu Hafa, Ma'ruf al-Karkhi, Junaid --Sebelas Syekh Penerus. Para guru inilah yang mengkonsentrasikan berbagai ajaran dan mengembangkannya dengan suatu cara untuk memungkinkan pembangunan berbagai sekolah yang kemudian lahir sebagai Tarekat-tarekat darwis. 35 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Para Hanif Hilangnya silsilah Sufi dalam berbagai madzhab metafisika, dengan kekeliruan yang diakibatkan madzhab-madzhab ini dalam menyampaikan suatu pelaksanaan tugas bagi para pengikut, dianggap oleh para Sufi sebagai satu sebab pencarian, untuk mencari seorang guru, yang telah menarik perhatian begitu banyak orang pada masa-masa kuno. Beberapa sahabat Nabi Muhammad saw sendiri menyatakan bahwa pencarian ini juga dilakukan mereka sendiri. Salah seorang di antara mereka adalah Salman al-Farisi. Ia menyatakan bagaimana dirinya sudah jenuh dengan berbagai ritual pengikut Zoroaster dan berangkat menuju selatan untuk mencari kepercayaan dan praktik para Hanif. Pertama kali dirinya tertarik kepada seorang guru Kristen, kemudian kepada guru lainnya. Ketika sang guru akhirnya meninggal, ia menasihati Salman untuk pergi ke selatan mencari seorang tokoh dari tradisi rahasia Hanif. Setelah menjadi tawanan dan dijual untuk dijadikan hamba sahaya, ia menemukan lingkungan sederhana dari para murid Muhammad di Madinah. Apa praktik para Hanif itu yang disamakan dengan Sufisme oleh para Sufi? Pilihan kata ini, sebagaimana seringkali dilakukan hanya untuk menyampaikan variasi makna dari. satu akar kata, diyakini oleh para Sufi untuk menjelaskan dirinya sendiri. Tiga huruf akar kata ini, yaitu HNF, pada dasarnya dikaitkan dengan konsep "berpaling pada satu sisi" --suatu acuan pada gerakan-gerakan ritmis para Sufi. Sebuah kata turunan dari HNF adalah TaHaNNaF, yang artinya "berbuat seperti kalangan Hanafiyah" dan tahannaff berarti "melakukan sesuatu dengan tepat". Dalam hal ini, kita mempunyai sebuah gambaran tentang berbagai latihan yang dijalankan sesuai dengan sebuah kerangka, namun juga secara potensial "pada satu sisi" --dimana para Sufi mengajarkan maknanya dalam bentuk yang eksentrik sebagaimana dalam pola gerakan ritmik. Demikian pula, dari akar kata yang sama, kata hanif adalah sebuah kata benda. Ia juga berarti "lurus menuju ke depan (ketulusan)". Variasi makna ini tampaknya mengherankan jika tidak disadari bahwa gagasan-gagasan itu seperti "melakukan sesuatu dengan akurat" dan "berpaling pada satu sisi" bisa disamakan dengan sebuah sistem tertentu, yaitu sistem para Sufi. Tentu saja ini bukan berarti bahwa bentuk akar kata itu ditemukan oleh para Sufi atau bahkan makna kata "lurus menuju ke depan" itu tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa bagi para Sufi, kata-kata tertentu dipilih untuk menjelaskan sejumlah gagasan rumit yang sesuai dengan sejumlah gagasan dan praktik Sufi serta dalam ujian tertutup, bertujuan membuat kata gambaran. Demikianlah, anggap saja kita menggunakan sebuah kata dalam bahasa Inggris, satu kata dengan sejumlah arti, dan menggunakannya karena di dalamnya terdapat beberapa makna yang secara terpadu mengandung pesan atau perbedaan dari beberapa esensi. Prosedur ini agak lebih elaboratif dibandingkan rima puisi yang sederhana atau rumit. Hal ini memperluas berbagai dimensi makna sebagaimana aslinya, melalui akar kata dan kata turunannya. Para Ksatria Satu fakta penting yang sangat ditekankan adalah bahwa para ksatria ini memikirkan pembangunan Kuil di Jerusalem itu dari sudut pandang Sufi, bukan 35 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi menurut pola pikir Sulaiman. "Kuil" gereja-gereja yang dibangun mereka, sebagaimana salah satunya bisa kita temukan di London, dirancang berdasarkan Kuil kalangan Crusader, bukan berdasar pada bangunan sebelumnya. Kuil ini tidak lain adalah Kubah Batu persegi delapan, dibangun pada abad ketujuh berdasar pada sebuah desain matematis Sufi dan diperbaiki pada tahun 913 M. Legenda Sufi tentang Kuil ini sesuai dengan versi Masonik sebagaimana diduga banyak orang. Sebagai contoh kita bisa mencatat "Sulaiman", Sufi Pembangun legenda itu bukanlah Raja Sulaiman, tapi Raja Sufi Ma'ruf al-Karkhi (w. 815), murid Dawud ath- Tha'i (w. 781). Oleh karena itu, ia dianggap secara luas sebagai putra Dawud dan dihubungkan dengan Nabi Sulaiman, putra Nabi Dawud. Pembunuhan besar yang diperingati para Sufi Pembangun itu bukanlah pembunuhan menurut tradisi Masonik. Martir para Sufi Pembangun itu adalah Manshur al-Hallaj (858-922) yang dihukum mati karena membicarakan rahasia Sufi dengan cara yang tidak bisa dipahami dan kemudian dituduh sebagai ahli bid'ah. Pilar-pilar kuil itu tidaklah berbentuk fisik, namun mengikuti kebiasaan bangsa Arab dalam memanggil individu yang lebih tua dengan rukn (pilar). Salah satu pilar Sufi adalah Abulfaiz, kadangkala dipanggil Abuazz. Ia adalah kakek utama (ketiga dari rantai transmisi) "Dawud" (Ma'ruf al-Karkhi). Ia tidak lain adalah Thuban Abulfaiz Dzun-Nun al Mishri, pendiri Tarekat Malamati, sejalan dengan penjelasan Freemansory. Ia meninggal pada tahun 860 M. dan dikenal sebagai sang Raja serta pemegang rahasia-rahasia Mesir. Para Sufi yang Tersembunyi Ada beberapa sosok orang suci yang tak tampak ("wali") sesuai dengan kebutuhan manusia pada suatu representasi kegiatan fisik atau psikologis dalam setiap masyarakat. Demikianlah menurut ajaran Sufi Hujwiri (Kasyful Mahjub, versi Nicholson, hlm. 213) E. H. Whinfield (Matsnawi, London, 1887, hlm. xxvii dan seterusnya) menghubungkan konsep ini secara lebih dekat dengan gagasan umum tentang siapa dan seperti apa sosok mereka: "Sebuah ajaran yang sangat penting adalah keberadaan orang suci yang tak dikenal. Di bumi ini, selalu ada empat ribu orang suci yang, demikian dikatakan, tak dikenal. Merekalah yang dilahirkan dengan anugerah alam yang memberkati mereka tanpa upaya seperti kebanyakan pekerja berusaha mencapai suatu keadaan dengan sia-sia --kesetiaan, gagah, tidak egois, diberkati dengan suatu intuisi alamiah tentang kebaikan dan suatu kecenderungan alamiah untuk mengikutinya, lemah-lembut dan menyenangkan, sehingga mereka menikmati anugerah dari masyarakat mereka, dan ketika mereka wafat, nama mereka mungkin tercatat dalam hati seorang atau lebih yang mencintainya. Kebaikan spontan ini tidak diberikan dengan berbagai kaidah dan bentuk. Kecenderungan batiniah dan bukan peraturan lahiriah adalah sumber dari kebaikan mereka. 'Perlawanan demikian tidak mengenal aturan'. Mereka mempunyai sebuah standar pemikiran dan karakter mereka sendiri, kebebasan murni dari pujian atau celaan dari 'orang-orang lahiriah'." 35 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Ajaran Sufi menempatkan orang-orang ini dalam pola evolusi kemanusiaan menyeluruh. Penyebaran Kebudayaan Arab di Eropa Tradisi pengetahuan Barat seperti tradisi Saracen adalah sama seperti tradisi lainnya; jika Saracen, yaitu Spanyol, Sicilia dan beberapa tempat lainnya, kita maksudkan sebagai pusat dari berbagai dorongan yang merupakan bagian dari apa yang dianggap sebagai perkembangan budaya Yunani dan Latin. "Masa kejayaan kepustakaan itu dipegang oleh Prancis bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan pesat sekolah Arab di Montpellier, yang berada di bawah pengaruh orang Yahudi Spanyol keturunan Arab. Lantaran secara geografis berhubungan dengan Andalusia di satu sisi, dan Sicilia serta semenanjung Italia di sisi lain, Montpellier didatangi banyak pelajar dari Barat Latin, yang setelah mempelajari sumber-sumber pengetahuan Arab pada masa itu, sekali lagi mereka menyebarkan sendiri di Eropa, jadi pabrik budaya yang merembes di Abad Pertengahan karena pengaruh besar Arab. Ajaran alumni Montpellier yang mempunyai pengaruh dominan terhadap kesusastraan di Eropa daratan dan Inggris, adalah salah satu fakta sejarah yang bermanfaat tentang Abad Pertengahan. Berbagai variasi perkembangan roman, yang dikombinasikan dengan bahasa Arab yang kuat dari Spanyol Selatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, mengacu pada berbagai bahasa dan ilmu pengetahuan (termasuk kedokteran) yang secara partikular rentan terhadap berbagai pengaruh Arab." (Dr. D. Campbell, Arabian Medicine, I, London, 1926, hlm. 1967) Pertemuan Seperti para mahasiswa perbandingan agama telah mencatat kesamaan dalam bentuk-bentuk lahiriah dan ajaran dari berbagai kepercayaan, dalam mistisisme Sufi secara sinambung menekankan identitas hakiki dari berbagai aliran transmisi pengetahuan batin. Di Timur, Pangeran Mogul Dara Shikoh menulis buku dengan judul Confluence of the Two Seas (Pertemuan Dua Lautan) yang menekankan persinggungan antara Sufisme dan mistisisme Hindu awal. Di Barat, kaum Rosicrucian hampir secara harfiah mengadopsi ajaran Sufi iluminis Spanyol dengan mengklaim rantai pewarisan ajaran batiniah yang sinambung, termasuk "Hermes". Iluminis Barat memasukkan Muhammad dalam rantai transmisi mereka. Pada tahun 1617, Count Michael Maier menulis Symbola Aurea Mensae Duodecim Nationum (Sumbangan Dua Belas Bangsa untuk Meja Emas), dimana ia membuktikan bahwa tradisi Sufi berupa suksesi para guru masih dipertahankan. Di antara para guru alkimia, ada beberapa yang diakui sebagai Sufi, termasuk ahli alkimia Barat yang telah mempelajari tradisi pengetahuan Saracen. Mereka adalah Hermes dari Mesir, Mary kebangsaan Yahudi, Democritus dariYunani, Morienus dari Roma, Ibnu Sina dari Arabia, Albertus Magnus dari Jerman, Arnold of Villaneuve dari Prancis, Thomas Aquinas dari Italia, Raymond Lully dari Spanyol, Roger Bacon dari Inggris, Melchior Cibiensis dari Hungaria dan Anonymus Sarmata (Michael Sendivogius) dari Polandia. Semua alkimia Barat tentu saja dihubungkan dengan Geber (Jabir ibnu al-Hayyan), sang Sufi. 35 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi QALB Kata Arab QLB tidak dinyatakan dalam pengertian bentuk kata QaLB (hati), salah satu bentuk kata yang sangat populer. Dalam pengertian Sufi, QLB dianggap mempunyai arti-arti sebagai berikut, yaitu berdasarkan semua akar kata dari triaksara: QaLaB = membalik sesuatu. Sebuah referensi pada diktum Sufi: "Dunia ini terbalik". QaLaB = mengeluarkan sumsum pohon palem (kurma). Sebagaimana tercatat di tempat lain, pohon palem adalah istilah Sufi untuk barakah dan segi lima belas magis yang mengandung diagram serta matematika Sufi. Sementara "sumsum" digunakan dalam pengertian hakiki, bagian vital. QaLaB = menjadi merah. Diterapkan pada tanggal-tanggal, hasil pohon palem. Sebuah kiasan dari proses Sufi, akhirnya diasosiasikan dengan teori alkimia tentang "pergantian merah". AQLaB = dibakar satu bagian. Digunakan untuk roti dan dalam pengertian khas Sufi, mendenotasikan proses perkembangan transformasi, analog dengan mengubah sesuatu (tepung) menjadi apa yang tampak lain (roti). TaqaLLaB = gelisah. Digunakan untuk orang yang tidur, gelisah dalam tidurnya. Digunakan sebagai sebuah istilah teknis Sufi untuk menyatakan ketidakpastian yang dirasakan orang biasa yang, menurut tradisi Sufi, ia "tertidur". QaLB = terbalik; berputar; sisi yang keliru. Kata ini juga diasosiasikan dengan "papan tembok" dan sebuah matriks (QALiB), perangkat formatif QaLB = hati, pikiran, jiwa; pemikiran mendalam; sumsum, inti; bagian terbaik. Digunakan juga dalam kata majemuk qalb al-muqaddas, secara harfiah berarti "Hati Suci", bermakna bagian manusia yang termasuk esensi ketuhanan. Hasil penjumlahan huruf Q + L + B adalah 132, sama dengan hasil penjumlahan kata Muhammad (M + H + M + M + D), Logos atau esensi Muhammad. Sementara tiga puluh dua ditambah seratus adalah sepertiga dari jumlah sifat Tuhan, "sembilan puluh sembilan Asma'ul Husna". Quthub Istilah ini adalah pusat yang tak tampak dari semua Sufi. Kata ini secara harfiah berarti Kutub Magnetik, Sumbu, Pedoman, Pemimpin. Ditransposisikan ke dalam berbagai gambar, jumlahnya 111 --satu diulang tiga kali, tritunggal, tritunggal afirmasi kebenaran, yaitu sebuah kesatuan. Jika jumlah ini diurai dalam 100, 10, 1 dan disubstitusikan, maka muncul huruf Q, Y dan A. Kata QYAA, dilafalkan dari tiga huruf, berarti "kosong, dibatalkan". Itulah hampa, "rumah" yang dibersihkan agar mendapatkan barakah (kesadaran manusia). 35 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Raymond Lully Saya berhutang budi kepada Mr. Robert Pring-Mill dari Oxford atas sebuah kutipan teks dari karya Lully, Blanquerna, dimana ia menyatakan bahwa dirinya telah mengadopsi metodologi devosional dari para "Sufi", yang disebutnya sebagai para agamawan Saracen. (Seminar pada tanggal 26 Juni 1962, mengutip Els Nostres Classics edisi karya Lully, L. de Evast e Blanquerna, Vol. 3, hlm. 10 dan seterusnya). Ruh dan Substansi Sejalan dengan Sufisme, apa yang biasanya digunakan sebagai terminologi agama, yaitu ruh, adalah suatu substansi dengan ciri fisik, suatu jasad yang lembut. Substansi ini dianggap sebagai sesuatu yang abadi. Ia ada sebelum pembentukan tubuh manusia (Hujwiri, Kasyful Mahjub). Setelah kematian, jiwa substansial itu tetap hidup dalam salah satu bentuk yang terdiri dari sepuluh bentuk, masingmasing berhubungan dengan pembentukan yang dicapai selama kehidupan. Dalam hal ini, ada sepuluh tahap --pertama adalah "ketulusan", tahap kesepuluh adalah tahap sang Sufi berubah karakternya melalui perkembangan duniawinya. Jadi ruh selalu tampak. Saki Pembawa cawan, sebagai istilah yang diacu oleh begitu banyak Sufi, pada umumnya dinilai melalui kritik sastra sebagai suatu sosok imajiner. Namun dalam praktik Sufi, syair-syair yang menggunakan kata Saki (Pemabuk) atau seorang Saki muncul di dalamnya, mungkin mengacu pada individu yang memainkan peran ilustratif dalam berbagai kegiatan, karena sebuah syair tidak mungkin berdiri sendiri di atas berbagai situasi. Ketika bermaksud melaksanakan tugas tertentu, seorang Saki mungkin hadir. Di luar aktivitas Sufi, ada beberapa catatan tentang kehadiran seorang Saki. Sirajuddin Ali mengacu pada bentuk pertemuan Sufi ini, ketika ia mengisahkan sebuah dialog antara seorang Saki dan seorang Guru Sufi (Lai-Khur): Di Afghan, kota Ghazna, konon ada seorang "gila" yang bernama Lai-Khur dan digunakan untuk menyatakan segala sesuatu yang sangat luar biasa --metode Sufi untuk menarik perhatian kepada sesuatu agar meletakkan suatu tekanan. Suatu hari pada pertengahan abad kedua belas, penyair Sanai berjalan menuju istana Sultan Ibrahim untuk mempersembahkan sebuah syair pujian kepadanya di malam perjalanan lain ke wilayah India. Sanai kemudian mendengar kidung dari sebuah taman. Ketika itu ia melihat bahwa yang berkidung itu adalah orang gila bernama Saki yang membawakan minuman anggur --dengan tujuan bersulang bersama Sultan Ibrahim yang buta. Namun Saki menolak untuk bersulang. Bukankah Ibrahim adalah seorang raja agung? "Ia buta," jawab orang gila itu, "sehingga meninggalkan kota yang indah ini untuk melakukan pekerjaan tak bermanfaat-terutama ketika ia dibutuhkan." 35 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sulang berikutnya adalah Sanai, ia sendiri mendengar rahasia itu dan tentang "kebutaannya Saki berkata lagi bahwa hal ini pasti keliru, karena Sanai adalah penyair besar, terpelajar. Orang gila itu berkata, "Sanai tidak memahami mengapa ia diciptakan. Ketika diminta berbuat sesuatu, ia hanya menciptakan syair pujian bagi para Raja. Inilah pekerjaannya selama hidupnya." Konversi Sanai untuk Sufisme ini tentu saja merupakan sebuah laporan tentang dialog Sufi yang disampaikan secara formal. Lantaran kata Saki tidak pernah dimasukkan dalam syair tertulis, maka kita tidak mencatat dialog semacam itu dan selama ahli sastra biasa yang diperhatikan, maka mereka tidak ada. Sasaran-sasaran Sufisme Lantaran terpesona oleh misteri lahiriah dari kehidupan Timur, atau tenggelam dalam berbagai langgam dari kepustakaan yang mengandung kiasan teologis dan historis, kebanyakan murid Sufi dari Barat, terutama para akademisi, tampak terhenti pada tataran pengalaman yang lebih awal dalam ajaran Sufi dibandingkan bisa mendatangkan manfaat kepada mereka. Seorang pengembara mutakhir (1962) di Afrika Utara yang telah meluangkan beberapa waktu dengan para Sufi, membawa kembali suatu pengertian sasaran itu dari Tunisia yang mungkin kedengaran aneh bagi sarjana tradisional: Murid harus melakukan latihan-latihan memori dan meditasi, mengembangkan konsentrasi dan refleksi. Namun murid yang lain tampaknya tetap melakukan jenis latihan pemikiran dan kerja, maupun berbagai latihan seperti dzikir, semuanya adalah suatu bagian. Setelah beberapa hari, suasana misterius dan aneh yang saya rasakan, berganti dengan suatu sensasi. Meskipun praktik-praktik ini mungkin tampak begitu aneh bagi pengamat, namun praktisinya tidak memandangnya sebagai kejadian supranatural sebagaimana kita mungkin menggunakan istilah itu. Sebagaimana Syekh Arif pernah berkata, "Kita sedang melakukan sesuatu yang biasa, hasil dari penelitian dan praktik dalam perkembangan masa depan ummat manusia. Kita sedang membentuk manusia baru. Namun kita melakukannya bukan untuk mendapatkan upah." Jadi inilah sikap mereka. (O. M. Burke, "Tunisian Caravan", Blackwood's Magazine, No. 1756, Vol. 291, Februari, 1962, hlm. 135). Simurgh Simurgh (tiga puluh burung) adalah lambang rahasia yang bermakna perkembangan jiwa melalui "Cina". Cina terletak di antara Persia dan Arab. Tujuan lambang ini adalah mengungkapkan konsep meditasi dan metodologi Sufi. Aththar yang Agung menerapkan ajaran ini dalam sebuah kisah alegoris:4 "Pada suatu hari, dari kegelapan, Simurgh menampakkan diri di Cina. Salah satu bulunya jatuh ke bumi: sebuah lukisan yang pernah dibuat dan sekarang masih ada di galeri seni Cina. Karena itulah kemudian dikatakan bahwa, 'Carilah ilmu pengetahuan walau sampai ke Cina.' Seandainya Simurgh ini tidak ada di Cina, maka tidak akan ada klaim tentang dunia rahasia. Jadi, indikasi ringkas tentang realitasnya adalah salah suatu bukti keagungannya. Setiap jiwa membawa gambar 35 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi umum dari bulu itu. Sementara materi deskripsinya tidak pernah dimulai atau berakhir. Kini Para Pengikut Tarekat memilih jalan ini dan mulailah perjalananmu." Berikut ini satu cara menjelaskan: 'Ada potensialitas dalam jiwa manusia. Dalam satu kesempatan, ia bisa aktif, melalui bentuk konsentrasi mendalam dan upaya tertentu. Tanpa upaya ini, tidak ada potensialitas untuk perkembangan. Setiap orang mempunyai kemampuan itu dalam suatu bentuk embrionik. Ia adalah sesuatu yang berhubungan dengan keabadian. Ke mari dan tempuhlah Jalan itu!" St. Agustinus Sebagian besar apolog Kristen telah terbiasa merepresentasikan agamanya dan terutama cabang agama mereka sendiri sebagai titik pusat penentuan waktu, dengan mengacu kembali pada fakta sejarah tertentu --transisi manusiawi Yesus. Sementara versi lain dari sejarah Kristen dicap bid'ah. St. Agustinus yang dianggap mencampuradukkan filsafat non-Kristen (baca non-konvensional), menyatakan, "Apa yang disebut agama Kristen hidup di antara para leluhurnya dan tidak pernah hidup sejak permulaan ras manusia." (Epistolae Lib. I, xiii, hlm. 3). Penyimpangan agama Kristen dari agama lainnya tentu saja hasil dari sebuah pilihan bebas -- keputusan untuk memandang sejarah hidup dan kematian Yesus sebagai unik, bukan sebagai bagian dari proses yang sinambung. Harus diingat bahwa versi ajaran Kristen yang pada umumnya tersedia bagi kebanyakan murid --ajaran-ajaran yang tersebar luas, dan mencapai sukses besar-- tentu saja sangat tidak akurat, baik dari segi sejarah maupun segi lainnya. Tarekat, Thariqat Musafir Sufi mempunyai sebuah thariqat, kata yang mempunyai arti lebih dari Langkah atau Jalan. Thariqat = jalan; aturan hidup; lintasan, garis; pemimpin sebuah suku; sarana; Tarekat Darwis. Padanan kata yang paling dekat dengan makna kata ini dalam bahasa Inggris adalah way (cara, jalan) --cara melakukan sesuatu, jalan seseorang mengadakan perjalanan, jalan sebagai individu ("Akulah Jalan," dalam pengertian mistik). Seperti tiga huruf akar kata bahasa Arab, akar kata TRQ dan kata turunannya terdiri dari berbagai unsur yang sejalan dengan Sufisme dan tradisi esoterik: ThaRQ = suara sebuah instrumen musik. ThaThaRRaQ Li- = membantu, ingin, berjalan mendekat. AThRaQ = merenung dengan mata tertutup. ThaRRaQ Li- = membuka jalan menuju. ThaRaQ = mengunjungi seseorang di malam hari. ThuRQaT = jalan; metode; kebiasaan. ThaRIQAt = keanggunan pohon palem (kurma). Penggunaan kata ini dijelaskan dalam tradisi darwis sebagai berikut: 35 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Thariqat adalah Jalan dan juga berarti pemimpin kelompok, dimana transmisi berlangsung. Ia adalah sebuah aturan hidup, sebuah ketentuan lunak dalam kehidupan biasa, kadangkala dilestarikan melalui nada musik, diungkapkan secara visual melalui pohon palem. Thariqat sendiri membuka Jalan, dan berhubungan dengan meditasi, pemikiran rahasia, seperti ketika seseorang duduk berdoa selama ketenangan malam. Keduanya adalah tujuan dan metode." [Nishan-Namah (Kitab Simbol) dari perkumpulan Sufi, oleh Amiruddin Syadzili]. Taurat Lembaran-lembaran Taurat, bahan asal permainan kartu di wilayah Eropa, diperkenalkan ke Barat pada tahun 1379. Menurut Feliciano Busi, seorang ahli tarikh, "Pada tahun 1379, permainan kartu diperkenalkan ke Viterbo, berasal dari Saracinia dan mereka menyebutnya Naib." Naib dalam bahasa Arab berarti "wakil" dan bahan lembaran-lembaran Taurat yang masih dipergunakan secara luas. Ia adalah "wakil" atau bahan pengganti, sebuah kiasan tentang ajaran seorang guru Sufi menyangkut berbagai pengaruh kosmis terhadap kemanusiaan. Ini dibagi ke dalam empat bagian, disebut turuq (empat Jalan), tentu saja kata asal "Taurat". Kata Spanyol naipe (kartu) tentu saja berasal dari bahasa Arab naib. Taurat yang kini dikenal di Barat dipengaruhi proses Cabalistik dan ajaran Yahudi, disusun untuk pedoman ajaran-ajaran tertentu yang pada mulanya tidak implisit. Upaya superfisial dalam menghubungkan lembaran-lembaran ini dengan lembaran yang digunakan di Persia atau Cina tidak berhasil, karena unsur bahasa sandi yang mengandung makna tertentu dan khas tetap menjadi ciri khas Sufi. Kotak, sebagai artinya saat ini, hanya benar sebagian, karena terjadi berbagai transposisi dari signifikansi beberapa atout, panggung atau lambang gambar kotak. Kesalahan ini disebabkan oleh kekeliruan terjemahan dari kata Arab tertentu, disebabkan konversi literal ke dalam sebuah sistem budaya lain. Faktor kekeliruan lain mungkin penyulihan satu lambang ke lambang lainnya. Hal ini bukanlah suatu pokok kajian yang bisa saya angkat secara lebih eksplisit. Kesederhanaan digambarkan dan diinterpretasikan secara keliru. Demikian pula angka 15. Angka 16 adalah salah satu contoh klasik tentang pemahaman sebuah kata yang keliru. Sementara angka 20 dijelaskan secara keliru. Namun banyak penentuan sifat masih digunakan di antara para Sufi, meskipun asosiasi dengan nasakah-naskah Sufi telah hilang di Barat. Tingkatan Ada empat "kondisi" utama manusia. Setiap manusia berada pada salah satunya. Sesuai dengan kondisi-kondisi ini, individu harus merencanakan kemajuan dalam hidupnya. Ia akan melalui jalan yang berbeda, mungkin tampil sebagai sosok yang berbeda, mengambil keputusan sesuai dengan kondisi dan tingkatan yang telah dicapainya. Menurut ajaran Sufi, tidak setiap orang mencapai setiap tingkatan itu. Dalam formulasi Sufi, perbedaan itu bergantung pada eksistensi dari berbagai kondisi tersebut, kesempurnaannya dan hubungan mereka dengan kemanusiaan. Shah Mohammad Gwath, dalam Secrets of the Naqshbandi Path, mengungkapkan berbagai kondisi itu dalam istilah-istilah keagamaan berikut ini: 1. Kemanusiaan (nasut), kondisi biasa. 2. Tarekat (Thariqat), sama dengan "malaikat-malaikat" dalam pengertian kosmik. 36 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi 3. Kekuatan, sama dengan apa yang disebut sebagai "daya" (jabarut), atau kemampuan sejati. 4. Kekhusyu'an (lahut), mengacu pada kondisi "ketuhanan" di alam lain. Individu Sufi berupaya untuk melampaui dari satu tingkatan kondisi itu ke tingkatan lainnya. Guru bertanggung jawab dalam mencapai hal itu melalui berbagai latihan yang diberikannya. Sang Mursyid bertanggung jawab untuk menghubungkan kemajuan individual dengan kebutuhan total kemanusiaan. Banyak teknik dan aktivitas Sufi akhirnya berkaitan dengan penerapan konsep ini. Titik Di antara para Sufi, NQTh --"titik", "poin", kadangkala berarti "singkatan"-- mempunyai suatu nilai penting dalam penyampaian ajaran. Dalam satu segi, hal ini berhubungan dengan bidang matematis Sufisme. Kata Arab untuk "ahli geometri" atau "arsitek" adalah muhandis. Kata ini tersusun dari huruf-huruf M, H, N, D, S, yang ekuivalen dengan angka-angka 40, 5, 50, 4, 60. Jumlah dari angka-angka ini adalah 159. Secara konvensional jumlah ini bisa dipecah dalam ratusan, puluhan dan satuan sebagai berikut: 100 = Q 50=N 9=Th. Tiga konsonan yang dikombinasikan dengan urutan 2, 1, 3, membentuk akar kata NQTh. Makna akar kata ini adalah "titik", "poin". Oleh karena itu, dalam pemakaian seremonial tertentu, kata "poin" digunakan untuk menyampaikan kata yang tersembunyi, yaitu muhandis, Pembangun Utama. Ada banyak susunan lain dalam pengelompokan angka. Sebagai contoh berikut ini: Dua huruf pertama (Q, N) dalam bahasa Arab artinya adalah "meditasi mendalam", sebuah kata untuk Sufisme. Sementara huruf yang tersisa, yaitu T, dalam bahasa Arab berarti "okultis" yang mengacu pada "pengetahuan batiniah". Karena itu, dalam situasi tertentu, dialog khusus dilakukan. Sebagai contoh adalah ketika seseorang yang masuk pada tataran keanggotaan awal diuji pengetahuan formalnya tentang bagaimana kata sandi berlaku. Dialog mungkin berlangsung sebagai berikut: Penguji: "Apa makna muhandis?" Anggota: "Saya direpresentasikan dengan kata titik (NQTh)." Penguji: "Bagaimana mengejanya?" Anggota: "Seperti sebuah titik." Penguji: "Apa yang terjadi setelah meditasi?" Anggota: "Pengetahuan mendalam (huruf Th)." Penguji: "Bisakah Anda menjelaskannya?" Anggota: "Saya hanya mempunyai dua huruf awal --N dan Q" Penguji: "Saya mempunyai huruf ketiga --Th, berarti untuk kata 'tersembunyi'." Transliterasi Tidak ada transliterasi baku bahasa Arab atau Persia dalam bahasa Eropa atau Amerika. Berbagai upaya membuat lafal dalam bahasa Latin mengalami kegagalan. Ketika berbagai adaptasi dilakukan dalam huruf Latin, hasilnya justru orang-orang 36 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi yang sudah tahu huruf Arab dan bisa menulis huruf Arab mengacu pada huruf Latin yang dimodifikasi. Mereka yang tidak bisa menulis Arab semakin buruk lagi, karena huruf yang sudah dimodifikasi tidak bisa membantu mereka untuk melafalkannya. Demikian pula mereka sama sekali tidak mengetahui diferensiasi huruf jika mereka tidak menulis atau membacanya. Mereka tidak bisa menerapkan kaidah-kaidah fonetik bahasa Arab, karena suara tertentu harus dipelajari melalui pendengaran dan mengharuskan praktik pelafalan. Sejalan dengan tujuan buku ini, berbagai perkiraan lafal dalam bahasa Latin berguna bagi pembaca umum sebagai sistem artifisial. Bangsa Arab, Persia dan Hindustan bisa mengetahui huruf-huruf mana yang digunakan untuk tulisan, karena pengetahuan bahasa mereka dan ortografinya. Sementara para Orientalis dari bangsa lain selama bertahun-tahun sudah menyulih pengetahuan praktis ini dengan berbagai transliterasi yang fungsi utamanya adalah membantu mereka untuk menyebarkan Latinisasi, sebagai ganti ingatan mereka. Hal ini bertentangan dengan praktik bahasa yang mereka kaji. Anak yang melek huruf mana pun di negara Arab tahu bagaimana melafalkan kata abdus-samad. Kompetensi serupa seharusnya diperkirakan terhadap penganut skolastik asing. Dengan demikian, perkiraan-perkiraan itu seharusnya cukup baginya. Sebenarnya tidak ada sarana perantara, meskipun hal itu tetap diperhitungkan. Tujuh Diri (Nafsu) Pengembangan diri di Jalan Sufi mensyaratkan Salik untuk melampaui tujuh tahap persiapan, sebelum individualitas siap menunaikan tugasnya secara utuh. Tahaptahap itu yang kadangkala disebut "manusia", adalah tingkatan dalam transmutasi kesadaran, istilah teknis untuk nafs, jiwa. Pendek kata, tahap-tahap perkembangan itu, masing-masing memungkinkan kekayaan batin lebih lanjut di bawah bimbingan seorang guru praktis, adalah: 1. Nafs al-ammarah (nafsu merusak, menguasai diri) 2. Nafs al-lawwamah (nafsu tercela) 3. Nafs al-mulhimah (jiwa yang rakus) 4. Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang) 5. Nafs ar-radiyah (jiwa yang tulus) 6. Nafs al-mardiyah (jiwa yang terbebaskan) 7. Nafs ash-shafiyah wa kamilah (jiwa yang suci dan sempurna). Nafs disyaratkan melalui proses yang diistilahkan "kematian dan kelahiran kembali". Proses pertama, yaitu Mati Putih menandai tingkat perkembangan awal murid, ketika ia mulai membangun kembali nafs spontan dan emosional, sehingga hal ini selanjutnya akan menyediakan suatu sarana untuk menjalankan kegiatan kesadaran, yaitu nafs kedua. Sifat-sifat jiwa "tenang, terbebaskan", dan sebagainya, mengacu pada dampak terhadap individumaupun kelompok dan masyarakat secara umum, dan berbagai fungsi yang sangat jelas pada setiap tahap. Fenomena penting dari tujuh tahap dalam latihan-latihan Sufi itu adalah sebagai berikut: 36 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi 1. Lepas kendali diri, mempercayai diri sebagai personalitas koheren, mulai belajar bahwa ia mempunyai berbagai kemampuan personal, sebagai individu yang berkembang. 2. Permulaan kesadaran diri dan "penentuan", dimana pemikiran secara spontan melihat apa itu kesadaran diri. 3. Permulaan integrasi mental, ketika jiwa mempunyai kemampuan memasuki tahap yang lebih tinggi dibandingkan kebiasaan sebelumnya. 4. Kedamaian, keseimbangan individualitas. 5. Kemampuan melakukan tugas, tahap pengalaman baru yang tidak bisa dideskripsikan di luar analogi yang sejalan. 6. Aktivitas dan tugas baru, termasuk di luar dimensi individualitas. 7. Pemenuhan tugas rekonstitusi, kemampuan mengajar orang lain, daya bagi pemahaman obyektif Unsur-unsur Sufisme Sepuluh Unsur Sufisme mengacu pada kerangka kerja individual, dimana sebagai Salik, ia menggali potensi untuk bangun atau hidup dalam dimensi yang lebih agung dan berada di luar pengalaman biasa. Al-Farisi mencatatnya sebagai berikut: 1. Pemisahan dari kesatuan. 2. Persepsi pendengaran. 3. Persahabatan dan asosiasi. 4. Preferensi yang benar. 5. Penyerahan pilihan. 6. Pencapaian secara cepat "keadaan" tertentu. 7. Penetrasi pemikiran, pengujian diri. 8. Perjalanan dan gerakan. 9. Kepasrahan dalam menerima rezeki. 10. Pembatasan keinginan atau ketamakan. Latihan dan pelatihan Sufi berdasar pada Sepuluh Unsur ini. Sesuai dengan kebutuhan murid, guru akan memilihkan program-program studi dan tindakan untuknya dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk melaksanakan berbagai fungsi yang terangkum dalam Unsur-unsur itu. Oleh karena itu, faktorfaktor ini adalah dasar persiapan individu menuju perkembangan dimana apabila ia tidak bisa mengalami atau merasakan, ia dibiarkan mencapainya sendirian. Wawasan Lantaran Sufisme didasarkan pada realisasi kebenaran, maka wawasan para Sufi tidak bisa berubah, meskipun penampilannya mungkin berubah. Metode pengajarannya beragam sesuai dengan berbagai kondisi budaya. Dalam sistem lainnya, itulah wawasan madzhab filosofis yang mempunyai variasi. Ini adalah "signifikansi sangat penting dalam menelusuri asal-usul Jalan Sufi. Ia menunjukkan bahwa meskipun dalam perkembangan sejarah, wawasan ajaran filosofis lainnya berubah sesuai dengan lingkungan, namun ideal-ideal Sufi tetap mengacu pada bentuk asal dalam menerapkan konsepsi kesadaran tanpa batas." (Sirdar Ikbal Ali Shah, Islamic Sufism, London, 1933, hlm. 10). 36 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Karena terbiasa memandang filsafat sebagai suatu pengganti sementara, dalam mencapai kebenaran, berubah sesuai dengan pemerolehan informasi belaka, dewasa ini ada beberapa orang yang bahkan bisa memahami pernyataan bahwa ada suatu kebenaran terakhir dimana segala sesuatu bisa diukur dan diakses manusia. Catatan: 1 Hujwiri, Kasyful-Mahjub. 2 Matsnawi, Buku IV (terjemahan Whinfield). 3 A. E. Biderman dan H. Zimmer (editor), The Manipulation of Human Behavior, New York, 1961, hlm. 4. 4 Parliament of the Birds, Bab II. mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt