Idries Shah Sumber : http://media.isnet.org http://www.tris.co.nr Mahkota Sufi 2 www.tris.co.nr mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Daftar Isi • Pengantar • Prakata Penulis • Situasi • Orang-orang Pulau (Sebuah Dongeng) • Latar Belakang I: Para Musafir dan Buah Anggur • Latar Belakang II: Gajah di Kegelapan • Mullah Nashruddin: 01 02 03 (Cerita Menuju Awal Pencerahan) • Syekh Sa'di Asy-Syirazi • Fariduddin Aththar, Sang Kimiawan • Maulana Jalaluddin Rumi • Ibnu Arabi: Asy-Syekh al-Akbar • Al-Ghazali dari Persia • Omar Khayyam • Bahasa Rahasia I: Para Penambang • Bahasa Rahasia II: Para Pembangun • Bahasa Rahasia III: Batu Filosuf • Misteri-misteri di Barat I: Ritus-ritus Aneh • Misteri-misteri di Barat II: Perkumpulan Ksatria • Misteri-misteri di Barat III: Kepala Kebijaksanaan • Misteri-misteri di Barat IV: Francis Asisi • Misteri-misteri di Barat V: Ajaran Rahasia • Hukum yang Lebih Tinggi • Kitab Tentang Para Darwis • Tarekat-tarekat Darwis • Pencari Ilmu • Agama Cinta • Keajaiban dan "Ilmu Sihir" • Guru, Pengajaran dan Murid • Timur Jauh • Apendiks I: Interpretasi Esoterik Al-Qur'an • Apendiks II: Kecepatan • Anotasi-anotasi 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Idries Shah Idries Shah, yang nama lengkapnya Nawab-Zada Sayyid Idries Shah al-Hasyimi, adalah Syekh Besar (Syekh al- Kabir) Sufi dan anak sulung Nawab asal Sardana, dekat Delhi di India. Keluarganya berasal dari keluarga Kerajaan Pagham di Hindu-Kush, yang nenek moyangnya memerintah sejak 1221. Idries Shah dilahirkan di Simla- Himalaya dan menetap di London. Ia mengarang beberapa buku tentang mistik-tasawuf, diantaranya Mahkota Sufi (The Sufis) dan Jalan Sufi (The Way of the Sufi), kumpulan cerita sufi, serta karya-karya lainnya. Tribute to Idries Shah 1924-1996 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi PENGANTAR Robert Graves Sufi merupakan suatu komunitas rahasia spiritual (freemasonry) kuno yang belum pernah ditelusuri dan dicatat asal-usulnya. Mereka sendiri tidak tertarik untuk membukukan fakta tentang dirinya, karena sudah puas menjelaskan fakta dengan perspektif mereka sendiri di berbagai kawasan dan masa yang berbeda-beda. Meski secara umum fakta mereka disalahpahami sebagai satu madzhab Muslim, namun para Sufinya sebenarnya telah dikenal dalam semua agama: seperti berbagai kelompok keagamaan rahasia dan diakui telah mendahului keberadaan majelis mereka, apa pun kitab sucinya -- baik Injil, al-Qur'an, ataupun Taurat -- yang telah diakui sebagai "Kondisi" temporer. Jika mereka menyebut Islam sebagai "inti" Sufisme, hal ini karena mereka yakin bahwa Sufisme merupakan ajaran rahasia dari semua agama. Bahkan menurut Ali al-Hujwiri, seorang penulis Sufi awal yang otoritatif, Nabi Muhammad saw pernah bersabda, "Barangsiapa mendengar suara orang-orang Sufi dan tidak mengatakan, Amin, maka di haribaan Tuhan orang tersebut tercatat sebagai orang yang lalai." Berbagai hadis lain menghubungkan Nabi saw dengan para Sufi dan dengan gaya Sufi itulah beliau memerintahkan para pengikutnya untuk menghormati semua Ahli Kitab, maksudnya mereka yang menghormati kitab sucinya sendiri -- suatu istilah yang pada perkembangan berikutnya mencakup orang-orang Majusi. Para Sufi juga bukan sebuah sekte. Mereka tidak terikat pada dogma keagamaan setipis apa pun dan tidak mempergunakan tempat peribadatan reguler. Mereka tidak memiliki tempat suci, organisasi kependetaan ataupun instrumen keagamaan lainnya. Bahkan mereka tidak pula disebut dengan nama inklusif yang mungkin bisa memaksakan kesesuaian doktrinal mereka. "Sufi" tidak lebih dari suatu nama panggilan seperti Quaker yang mereka terima dengan selera humor yang tinggi. "Kami adalah Para sahabat" atau "Orang-orang seperti kami", merupakan cara mereka menyebut diri mereka sendiri. Mereka mengenal satu sama lain melalui bakat, kebiasaan, sikap pemikiran tertentu. Madzhab-madzhab Sufi memang mempunyai hubungan dekat dengan guru-guru khusus, namun tujuan madzhab itu hanya untuk memudahkan mereka dalam menyempurnakan kajian-kajian mereka melalui hubungan erat dengan sesama Sufi. Sementara karakteristik Sufi banyak ditemukan dalam berbagai kepustakaan, paling tidak sejak milenium kedua sebelum Masehi. Meskipun pengaruh mereka terhadap peradaban yang sangat mencolok muncul antara abad kedelapan dan kedelapan belas Masehi, para Sufi masih tetap aktif seperti sebelumnya. Jumlah mereka sekitar lima puluh juta orang. Kesulitan untuk membahas mereka muncul karena sikap saling mengenal di antara mereka tidak dapat dijelaskan dengan istilah-istilah moral dan psikologis biasa -- siapa pun yang memahaminya, dialah sang Sufi. Meskipun kesadaran terhadap sifat atau instink rahasia ini bisa dipertajam melalui hubungan langsung dengan para Sufi yang berpengalaman, namun tidak ada jenjang hierarkis di antara mereka. Yang ada hanyalah pengakuan penuh terhadap tingkat kapasitas pribadi mereka. 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sufisme telah diwarnai corak ketimuran karena telah begitu lama berada dalam penjagaan Islam. Namun Sufi secara alamiah di dunia Barat mungkin tersebar luas sebagaimana di dunia Timur Mereka mungkin berstatus orang awam, petani, pedagang, pengacara, guru sekolah, ibu rumah tangga, atau apa saja. "Berada di dunia, tapi bukan (bagian) dari dunia", bebas dari ambisi, keserakahan, kebanggaan intelektual, taklid buta pada adat atau tidak takut terhadap pribadipribadi yang mempunyai kedudukan lebih tinggi -- itulah ideal Sufi. Akan tetapi, para Sufi tetap menghormati ritual-ritual agama selama hal tersebut memperkuat keserasian sosial. Bahkan mereka memperluas ajaran dasar agama di mana pun, yang dimungkinkan dan merumuskan mitos-mitosnya dalam pengertian yang lebih tinggi -- sebagai contoh, menjelaskan malaikat sebagai representasi fakultas manusia yang lebih tinggi. Setiap murid ditunjukkan semacam "kebun rahasia" bagi perkembangan pemahamannya, namun tidak pernah dituntut untuk menjadi seorang rahib atau pertapa (asketis) seperti mistik-mistik yang lebih konvensional. Setelah itu, si murid akan mengaku telah tercerahkan melalui pengalaman aktual -- dia yang merasakan, akan mengetahui -- bukan melalui argumen filosofis. Teori paling awal tentang evolusi kesadaran ini berasal dari Sufi, namun -- meskipun banyak dikutip kalangan Darwinian dan menimbulkan kontroversi besar abad kesembilan belas -- teori tersebut lebih diterapkan kepada individu ketimbang pada ras manusia. Langkah pelan seorang anak menuju kedewasaan hanya dipandang sebagai suatu jenjang perkembangannya yang lebih spektakuler menuju kekuatandinamisnya berdasar pada cinta, bukan asketisme ataupun akal. Pencerahan itu datang bersama cinta -- cinta dalam pengertian puitis tentang pengabdian sempurna dari seorang Muse (Putri Zeus yang melindungi dan mendorong karya-karya puisi, seni dan ilmu pengetahuan. Semacam Dewi Saraswati dalam tradisi Hindu, pent.), yang betapapun tampak kejam dan berperilaku irasional, ia menyadari apa yang dikerjakannya. Ia jarang membalas sajak penyair pasangannya dengan suatu ungkapan kepuasannya, namun ia membenarkan pengabdiannya dan berpengaruh dalam membangkitkan jiwanya. Demikian pula Ibnu Arabi (1165-1240), seorang Arab Spanyol dari Murcia yang oleh para Sufi disebut sebagai Guru Puisi mereka, dalam Tarjuman al-Asywaq menulis: Jika aku membungkuk kepadanya sebagai kewajibanku Sementara dia tidak pernah menanggapi penghormatanku Bukankah aku hanya menimbulkan keluhan? Wanita rupawan tidak pernah mengundang rasa kewajiban. Pada perkembangan selanjutnya, tema cinta ini digunakan dalam suatu penyembahan ekstatik dari Perawan Maria, yang sampai Perang Salib kurang mempunyai kedudukan penting dalam agama Kristiani. Pengagungan terbesar pada tema cinta dewasa ini tersebar luas di berbagai belahan Eropa dan disadari sangat dipengaruhi ajaran Sufistik. 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Ibnu Arabi menyatakan tentang dirinya sendiri: Aku mengikuti agama Cinta. Saat ini kadangkala aku disebut Pengembala Rusa (hikmah ketuhanan) Di saat lain, seorang rahib Kristen, Kadangkala, seorang bijak Persia. Kekasihku tiga, Tiga namun hanya satu. Jangan beri dia nama, Karena itu hanya membatasinya. Begitu dia tampak, Semua batuan akan terhanyut. Para penyair merupakan penyebar utama pemikiran Sufi. Mereka memperoleh penghargaan yang sama sebagai ollamhs, [pendekar penyair], atau guru penyair, dari permulaan Abad Pertengahan di Irlandia, dan menggunakan bahasa rahasia yang serupa sebagai acuan metaforis dan simbol verbal. Nizhami, seorang Sufi Persia menulis, "Di bawah lisan penyair, tersimpan kunci khazanah." Bahasa rahasia ini adalah semacam perlindungan suatu tradisi pemikiran hanya bagi mereka yang memahaminya maupun untuk menentang berbagai tuduhan bid'ah atau penentangan sipil. Ibnu Arabi, ketika dipanggil di depan inkuisisi Islam di Aleppo untuk mempertahankan dirinya melawan tuduhan-tuduhan bid'ah, menjelaskan bahwa puisi-puisinya adalah metaforis, pesan dasarnya adalah penyempurnaan Tuhan terhadap manusia melalui cinta Ilahiyah. Sebagai presedennya, ia merujuk pada kumpulan kitab-kitab agama Yahudi tentang Kidung Erotik Sulaiman yang secara resmi ditafsirkan oleh para pendeta Farisi sebagai suatu metafor cinta Tuhan terhadap bangsa Israil dan oleh para pendeta Katholik sebagai suatu metafor cinta Tuhan terhadap Gerejanya. Dalam bentuk yang paling lanjut, bahasa rahasia tersebut menggunakan akar-akar konsonan bahasa Semitik untuk merahasiakan dan menyampaikan makna. Maka dari itu, para sarjana Barat tampaknya tidak menyadari bahwa dalam kisah Seribu Satu Malam yang terkenal itu mengandung ajaran Sufi. Sementara judulnya dalam bahasa Arab Alfu Laila wa Laila merupakan suatu frase rahasia yang mengandung makna dan maksud yang penting: "Induk Catatan". Bahkan apa yang pada mulanya dianggap sebagai ciri okultisme ketimuran sebenarnya merupakan suatu kebiasaan Barat kuno yang terkenal dalam pemikiran. Semua sekolah anak-anak Inggris dan Perancis memulai pelajaran sejarah dengan menggambarkan nenek moyang mereka, bangsa Druidik sebagai pohon mistletoe (tumbuhan parasit dengan buah berry kecil berwarna putih, biasanya digunakan untuk hiasan Natal, pent.), yang tumbuh dari pohon oak yang suci. Meskipun Kaisar telah menisbatkan orang-orang Druid dengan misteri-misteri nenek moyang dan suatu bahasa rahasia, pohon mistletoe yang menjulur tampak hanya sebagai sebuah upacara. Pohon mistletoe sampai sekarang masih dipergunakan sebagai hiasan Natal, sehingga segelintir pembaca hanya menggagas apa makna dari hiasan tersebut. Sementara pandangan umum bahwa orang-orang Druid telah merendahkan makna pohon oak sebenarnya sama sekali tidak masuk akal. 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Semua jenis pohon, tanaman dan tumbuhan sakral lainnya memang mempunyai khasiat-khasiat tertentu. Batang pohon alder (sejenis pohon yang tumbuh di daerah rawa-rawa, pent.) bersifat tahan air dan daun-daunnya menghasilkan bahan celup merah berkualitas tinggi. Pohon birch yang berdaun seperti cendawan bergantung, pohon oak dan ash semuanya menyerap kilat sebagai sebuah api suci. Akar pohon mandrake berfungsi sebagai obat penangkal kejang. Daun foxglove berfungsi memperlancar detak jantung manusia. Pohon madat mengandung zat candu, daun tumbuh-tumbuhan yang menjalar mengandung zat racun dan bunga-bunganya mengandung sari-sari madu yang dibutuhkan lebah. Akan tetapi buah pohon mistletoe, dalam cerita rakyat populer, yang dikenal sebagai "obat segala penyakit" sebenarnya sama sekali tidak mempunyai khasiat medis, meskipun banyak dimakan merpati hutan dan jenis burung-burung yang tak berpindah tempat di musim dingin. Daun-daunnya pun tidak mempunyai sedikit manfaat. Lalu mengapa pohon mistletoe dianggap sebagai tumbuhan yang sangat suci dan utama? Mungkin jawaban satu-satunya adalah bahwa para pendeta Druid (dari agama Celtic kuno) menggunakannya sebagai lambang pemikiran mereka yang khas. mistletoe adalah pohon yang bukan pohon, namun pohon ini sama saja seperti pohon oak, apel, poplar, beech, pohon berduri bahkan seperti pohon cemara. Pohon mistletoe juga berdaun hijau dan menyediakan zat makanannya sendiri sampai ke pucuk-pucuk cabangnya ketika hutan tampak tenang dalam keterlelapannya. Buahnya memang dapat digunakan sebagai obat penyembuh semua gangguan mental. Potongan ranting-rantingnya diikat sebagai penyangga pintu dan menyebarkan aroma yang sangat harum. Simbolisme ini memang tepat bilamana kita menyamakan pemikiran Druidik dengan pemikiran Sufi yang tidak ditanam layaknya sebuah pohon sebagaimana agama-agama yang ditanamkan. Pohon mistletoe mengukir sendiri sebuah pohon yang sudah ada dengan tetap menjaga kesuburannya, meskipun pohon itu sendiri tengah terlelap. Itu berarti bahwa agama-agama akan mati karena formalisme semata dan kekuatan utama pertumbuhannya adalah cinta, bukan nafsu kebinatangan dan cinta kasih kekeluargaan. Sebuah pengakuan cinta yang benar-benar mengejutkan, yang begitu luar biasa dan mulia sehingga hati seakan-akan tumbuh bersemi. Yang agak aneh, the Burning Bush [semak-semak yang terbakar], sebagai sarana Tuhan menampakkan diri kepada Nabi Musa a.s. di padang pasir, ternyata dianggap oleh para pengkaji Bibel sebagai sebuah pohon akasia yang disakralkan seperti daundaun merah pohon locanthus, pohon yang mirip dengan mistletoe di wilayah Timur.1 Dewi Muse dalam mitos bangsa Irlandia adalah wujud tritunggal seperti Muse yang dikenal Ibnu Arabi. Hal ini bukan semata-mata tritunggal dalam pengertian perawan-bidadari-perempuan tua. Namun tritunggal mencakup tiga bidang spiritual, yaitu puisi, pengobatan dan keahlian. Di sini kita tidak perlu membahas apakah konsep tersebut berasal dari konsep asli Irlandia, atau dari Timur oleh sebab pengaruh (kesusastraan) Arab yang kompleks dalam pencerahan seni Abad Pertengahan di Irlandia dan keanehan Persia atau bentuk-bentuk Arab dalam syair Irlandia abad kesembilan. Tentu raja pengaruh Arab terhadap lambang (cross) Celtic pada abad kesembilan yang terkenal itu sangat berkaitan dengan makna ungkapan Bismillahir Rahman ar-Rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Maha Penyayang). Ini merupakan bukti bahwa Sufisme berhubungan dengan kedua agama tersebut. Mungkin yang lebih penting adalah bahwa semua karya seni dan arsitektur Islam yang sangat agung itu mengandung (ajaran) Sufi. Sementara praktik pengobatan, terutama penyembuhan gangguan psikomatik, merupakan praktik keseharian Sufi masa kini sebagai wujud cinta pada kehidupan. Para Sufi mempelajari cara pengobatan ini setidaknya selama dua belas tahun. Demikian pula para ollamhs telah mempraktikan pengobatan ini dan mempelajarinya selama dua belas tahun di padepokan mereka. Seorang tabib Sufi tidak pernah mengharapkan bayaran dengan barang-barang berharga kecuali hanya segenggam gandum. Ia juga tidak pernah memaksakan keinginannya kepada pasien layaknya psikiater modern. Namun ketika ia menjalankan hipnotis yang mendalam, dengan sungguh-sungguh ia harus mendiagnosa kegoncangan jiwa pasien dan memberikan resep-resep pengobatan kepadanya. Ia memberi nasehat-nasehat untuk mencegah kambuhnya gejala-gejala penyakit. Kendati demikian, kesadaran dan tuntutan untuk merawat diri tetap bergantung kepada si pasien, bukan kepada keluarga atau sahabatnya.2 Setelah penaklukan oleh kaum Saracen [Muslim Arab] pada awal abad kedelapan Masehi, Spanyol dan Sicilia menjadi pusat peradaban Islam yang termasyhur dalam melestarikan (nilai-nilai) religius. Para sarjana dari Utara yang mengunjungi kedua tempat tersebut banyak membeli karya tulis Arab kemudian menterjemahkannya dalam bahasa Latin. Namun mereka sama sekali tidak tertarik pada doktrin Islam Ortodoks. Mereka hanya tertarik pada kepustakaan Sufi dan risalah ilmiah berkala. Tembang-tembang troubador-- istilah ini tidak berkaitan dengan kata trobar; "mencari", namun mengacu pada akar kata bahasa Arab TRB, yang artinya "pemain kecapi" -- kini secara otoritatif dinyatakan sebagai karya asli dari Saracen. Namun Profesor Guillaume menjelaskan dalam The Legacy of Islam bahwa puisi, roman, musik dan tari serta semua ungkapan khas Sufi, tidak lagi dihargai oleh para ulama Islam ketimbang oleh para uskup Kristen. Bahkan bahasa Arab, meskipun merupakan sarana ungkapan agama Islam dan pemikiran Sufi, tetap tidak mempunyai keterkaitan satu sama lain. Pada tahun 1229 pulau Majorca, wilayah dimana saya tinggal sejak tahun 1929, diambil alih Raja James of Aragon, dari kaum Saracen yang telah memegang tampuk kekuasaan selama lima abad. Pada waktu itu, ia telah memilih kelelawar sebagai lambang negaranya, yang sampai kini masih banyak bergelantungan di cabang-cabang pohon palem di ibukota negara. Lambang kelelawar ini sejak dulu menimbulkan teka-teki bagi saya, sementara menurut tradisi daerah, lambang itu berarti "kewaspadaan". Makna ini tampaknya bukan suatu penjelasan yang memadai, karena kelelawar menurut tradisi Kristen adalah seekor makhluk jelek yang dikaitkan dengan sihir. Namun saya ingat bahwa Raja James I telah menebang habis pohon palem dengan bantuan para Ksatria Paderi (the Knights Templars) dan dua atau tiga bangsawan Moor yang menyempal, dan tinggal di pulau itu. Para Ksatria Paderi itu telah mengajarkan Le Bon Saber atau kebijaksanaan kepada Raja James. Para Ksatria Paderi ini telah dituduh berkolaborasi dengan Para Sufi Saracen selama Perang Salib. Maka dari itu, menurut hemat saya lambang kelelawar itu mungkin mempunyai makna lain dalam bahasa Arab dan mungkin merupakan bahasa isyarat 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi para sekutu Raja James dari kalangan bangsawan Moor. Bangsawan Moor ini mungkin juga Para Sufi, mengingat ajaran kebijaksanaan mereka sendiri. Untuk itu saya menulis surat kepada Sayyid Idries Shah. Ia menjawab: "Bahasa Arab untuk kelelawar adalah Khuffaasy, yang tersusun dari tiga akar konsonan Kh-F-Sy. Arti yang kedua dari kata ini adalah 'merobohkan', meruntuhkan, merusak. Hal ini mungkin karena kelelawar suka bersarang di reruntuhan gedunggedung. Jadi lambang (kelelawar) Raja James tersebut merupakan suatu ungkapan sederhana untuk memproklamasikan diri sebagai 'sang penakluk', sebagaimana di Spanyol ia dikenal dengan El Rey Jaime, El Conquistador. Namun hal ini bukan merupakan cerita yang lengkap. Di dalam kesusastraan Sufi, terutama puisi cinta Ibnu Arabi dari Murcia yang tersebar luas di Spanyol itu, maksud 'meruntuhkan' di sini adalah pikiran yang diruntuhkan oleh pemikiran yang rusak dan menunggu diperbaiki kembali. Sementara arti lain yang khusus adalah 'mata yang lemah, hanya dapat melihat pada malam hari'. Kandungan arti ini lebih daripada arti 'buta seperti seekor kelelawar'. Maksud perbincangan para Sufi tentang (penglihatan) yang rusak tidak hanya mengacu kepada (orang) yang buta terhadap realitas, namun juga mengacu pada diri mereka sendiri yang tidak mempedulikan segala sesuatu yang justru dianggap penting oleh orang yang rusak penglihatannya. Seperti sang kelelawar, Sufi sengaja tidak mempedulikan segala sesuatu di siang hari -- perjuangan hidup yang dianggap begitu penting oleh manusia biasa-- namun waspada selagi yang lain terlelap. Dengan kata lain, ia memiliki kewaspadaan spiritual yang tidak disadari manusia pada umumnya. Perbincangan tentang 'manusia yang tidur dalam mimpi selamanya' itu banyak ditemukan dalam kepustakaan Sufi. Oleh karena itu, tradisi Palem yang mengartikan 'kelelawar' sebagai lambang kewaspadaan tidak perlu Anda hilangkan." Jadi simbol pohon palem tersebut jelas merupakan ungkapan kebanggaan Raja James sehingga ia mampu menghancurkan kekuasaan Muslim fanatik atas Majorca dengan menggunakan suatu metafora rahasia yang melegakan hati para sekutunya. Untuk itu ia kemudian menjadi salah seorang anggota persahabatan (suci) mereka. Persoalannya mungkin apakah Raja James fasih berbahasa Arab, namun kebanyakan penasehatnya menggunakannya sebagai bahasa kedua, jika bukan bahasa pertama. Lebih dari itu, banyak penulis mempergunakan padanan makna dari berbagai akar kata bahasa Arab, bahkan di negara-negara yang tidak berbahasa Arab. Sementara penyair Urdu dan Persia sebagai bahasa Indo-Eropa dan non-Semitik, membahas akar kata bahasa Arab tersebut seperti rumus-rumus aljabar. Pemakaian jubah pada acara penobatan Roger II, Raja Sicilia (1093-1154) dan kemudian juga Frederick II of Hohenstaufen, Kaisar Romawi yang Agung (1194- 1250) telah digelar di Weltliche Schalzkammer, Vienna. Sayyid Idries Shah menjelaskan simbolisme pada jubah raja itu kepada saya: "Di tengah-tengah (jubah) itu ada gambar sebuah pohon palem, sembilan unsur dari 'persegi lima belas magis', sebuah diagram kompleks yang mungkin disusun oleh sang Sufi Geber (Jabir) dan dijadikan acuan para kimiawan Latin dan pengikut 1 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Tao Cina. Pohon palem (Nakhl [kurma]) digunakan karena akar kata tri-konsonan NKhL juga mempunyai makna 'suatu zat yang baik bagi tubuh dan merembes hampir tak terasa ke dalamnya', seperti unsur Ilahi, barakah. Arti lain dari akar kata yang sama adalah mengayak tepung atau gerimis hujan yang sangat halus. Lantaran pohon kurma adalah sebuah pohon suci yang dihubungkan dengan burung oleh bangsa Arab, maka penggunaan simbol pohon ini untuk acara penobatan jubah mempunyai makna 'Sumber Barakah'. Disamping itu, bahasa Arab pohon kurma adalah thariqat, suatu istilah teknis Sufi yang berarti 'Melangkah di jalan'-- inilah Sufisme. Di sebelah pohon kurma itu ada gambar seekor harimau yang tengah menyeret seekor unta. NMR adalah akar kata bahasa Arab yang artinya 'harimau' dan JML artinya 'unta'. Jadi NMR mengalahkan JML. Namun kosa kata NMR juga berarti 'baju wool' dan 'kehormatan suci'. Lantaran kata 'Sufi' dapat diartikan 'memakai wool' serta kehormatan suci dan cinta sebagai dua pilar utama Sufisme, maka kata 'Sufi' dapat disubstitusikan dengan kata 'harimau'. Jadi dapat disulih dengan makna 'Sang Sufi mampu menjinakkan JML'. Sementara JML tidak hanya berarti 'unta', namun juga 'kemewahan'. Apabila harimau dan unta menyimbolkan manusia dan keduanya juga mempunyai belang meskipun belang unta lebih sedikit, maka makna kehormatan suci untuk harimau sangat sesuai. Jadi: 'Dengan berkah Sufi yang bersumber dari Tuhan, kehormatan suci dari pemakai wool mampu mengatasi kemewahan'." Para Sufi menyadari bahwa tema cinta itu menimbulkan ekstase. Namun mengingat mistikus Kristen menganggap ekstase sebagai penyatuan dengan Tuhan dan oleh karenanya merupakan puncak pencapaian keberagamaan seseorang, maka para Sufi hanya mengakui nilainya apabila penganut agama yang taat itu kembali ke dunia dan hidup sesuai dengan pengalamannya. Kesusastraan Barat telah dipengaruhi secara mendalam oleh tema gelora cinta spiritual ini. Tema ini telah disebarkan orang-orang Spanyol-Arab pada abad kesepuluh seperti Ibnu Masarra dari Cordoba, Ibnu Barrajan dari Sevilla, Abu Bakr dari Granada (seorang kelahiran Majorca) dan Ibnu Qasi dari Agarabia Portugal. Sementara ilmuwan Sufi yang sangat terkenal pada abad kedua belas, Averroes (Ibnu Rusyd) telah mentransformasi pemikiran skolastik Kristen. Para Sufi senantiasa berdisiplin dalam menerapkan pandangan mereka. Bagi mereka metafisika tidak berguna tanpa disertai ilustrasi manusia bijaksana baik melalui legenda maupun fabel. Sejak para Paus mengucilkan kalangan Donatis yang bid'ah karena menentang pendirian mereka bahwa berkah dari seorang pendeta yang berperilaku jahat sama dengan berkah dari orang suci, maka pendirian "Jangan meniru apa yang aku perbuat, namun lakukanlah apa yang aku katakan", menjadi lumrah di gereja-gereja Katholik. Padahal dalam (Kitab Injil) Gospel, Matthew XXIII, 2 dan seterusnya, Yesus hanya menasehati para muridnya untuk mengikuti setia ajaran Pharisaik, namun bukan perilaku para penganut Farisi yang lebih formalistik. Orang-orang Kristen hanya memandang Yesus sebagai teladan tingkah laku manusia yang sempurna dan final. Meskipun para Sufi mengakui Yesus sebagai seorang Nabi yang telah mendapat ilham Ilahi, mereka berpendirian sesuai dengan teks Gospel keempat, "Bukankah telah tertulis dalam Kitab Hukum kalian, Aku berfirman, 'Kalian adalah tuhan-tuhan'?" -- maksudnya para ahli hukum dan Nabi berhak menginterpretasi hukum Tuhan. Mereka juga mempertahankan bahwa quasi ketuhanan berikut ini semestinya mengacu baik pada laki-laki atau 1 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi perempuan: Tiada tuhan selain Tuhan (Allah). Para Sufi juga menolak Lamaisme dari Tibet, teori-teori inkarnasi Tuhan dari India. Demikian pula, meskipun ajaran Muslim Ortodoks dipengaruhi Kristianitas, mereka hanya mengakui kelahiran Isa a.s. sebagai sebuah perumpamaan dari kekuatan laten manusia yang berbeda dengan semuanya yang tak tercerahkan. Mereka juga menginterpretasikan tradisi supranatural dalam al-Qur'an bersifat metaforis. Sementara keyakinan atas interpretasi literal hanya ada dalam diri orang yang tak tercerahkan. Sebagai contoh, menurut mereka, surga tidak akan dialami oleh manusia mana pun di dunia ini; houri-houri ('makhluk-makhluk surga dari cahaya')-nya tidak analog dengan makhluk manusia dan semestinya tidak disifati secara fisik, seperti dalam kisah fabel yang vulgar. Sementara khazanah yang kaya dalam kesusastraan Eropa banyak berhutang jasa kepada Para Sufi. Legenda William Tell ternyata terdapat dalam karya Aththar, Parliament of the Birds (Manthiquth-Thair [Dewan Burung-burung]), abad kedua belas jauh sebelum kedatangannya di Switzerland. Para pemanah Jerman yang terkenal itu (jika kita percaya pada Malleus Maleficarum, ahli berburu dengan panah pada tahun 1460), memanah buah-buah apel "dengan nama Setan" dan mengesankan bahwa hal ini dipengaruhi orang-orang Saracen. Meskipun dalam Don Quixote (dilafalkan Kishotte oleh orang-orang Aragon dan Provencal) tampaknya paling banyak menggunakan bahasa Spanyol ketimbang orang Spanyol sendiri, dalam karyanya Cervantes mengakui sendiri bahwa ia berhutang budi pada sebuah sumber Arab. Kaitan ini telah dihilangkan oleh para sarjana karena dianggap sebagai lelucon yang janggal. Namun kisah-kisah Cervantes secara terbuka seringkali menyadur kisah-kisah Sidi Kisyar, seorang guru Sufi legendaris yang acapkali disebut Nashruddin, demikian pula peristiwa terkenal tentang kekeliruan melatih para raksasa (yaitu mengaduk air dan bukan memintal angin). Kata Spanyol Quijada (nama asli Quixote, menurut kisah-kisah dalam Cervantes) di turunkan dari akar kata Arab KSyR seperti Kisyar, dan bermakna "yang mengancam kecemberutan". Raymond Lully yang suci, seorang mistikus dan martir dari Majorca, mengakui bahwa kumpulan puisinya yang terkenal, The Book of the Lover and His Beloved (1283) ditulis menurut model Sufi. Brother [Broeder] Anselm of Turmeda, seorang mistikus Kristen dari Catalan, juga terkenal sebagai Sufi bijak yang mendapat pencerahan dari Sufistik Abdullah at-Tarjuman, Sang Penafsir. Rahib Roger Bacon, pengajar filsafat di Oxford dan dimakamkan di sana, pernah belajar pada Saracen Spanyol; namun secara hati-hati menghindari untuk merujuk ajaran-ajaran "Iluminasi", karena takut melangkahi wewenang universitas. Menurut Bacon, pemikiran aliran tersebut murni bercorak "Eastern" (Timur), sebuah kosa kata yang dalam bahasa Arab terbentuk dari akar kata yang sama dengan "Iluminisme". Profesor Asin dari Madrid dan rekan-rekannya mencatat hutang jasa Bacon kepada para iluminis madzhab Cordoba yang didirikan Ibnu Masarra (883- 931). Madzhab ini kemudian dikembangkan Sufi bijak Yahudi, Solomon ben Gabirol (1021-1058) yang oleh orang-orang Saracen dikenal sebagai Sulaiman bin Yahya bin Jabriol dan oleh orang-orang Kristen dikenal sebagai Avicebron. Kini orang menyatakan bahwa Avicebron mempunyai pengaruh vital terhadap St. Francis Assisi, pendiri Ordo Franciscan, dan Bacon adalah salah satu pengikut ordo ini pada 1 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi tahun 1247. Ada sebuah penggalan alinea dari karya Latin Bacon yang mengacu pada teori evolusi Sufi: "Sungguh, para filosuf biasa maupun dewan pengarang Latin tidak mengetahui (teori evolusi) ini. Lantaran teori ini tidak dikenal oleh hampir semua mahasiswa, maka tentu saja mereka sama sekali tidak tahu tentangnya, seperti evolusi generasi makhluk hidup, tumbuhan, satwa dan manusia. Lantaran mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di masa lampau, maka mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Meskipun Rahib Bacon dipandang dengan rasa kagum dan curiga karena mempelajari "Ilmu Hitam" (Black Arts), akan tetapi kata black (hitam) tidak berarti evil (jahat). Ada dua permainan kata dalam bahasa Arab (yang mengacu pada kata "Hitam" tersebut), yaitu: FHM dan FHHM, masing-masing dilafalkan fecham dan facham. Yang pertama artinya "bijak". Kata ini juga tertulis di senjata Hugues de Payns (of the Pagans, Penyembah Berhala), lahir pada tahun 1070,3 pendiri Ordo Knights Templars (Para Ksatria Paderi), yaitu tiga pemimpin dari Saracen yang mengenakan (topi) bulu musang kecil dan seakan-akan seperti para tentara bertempur di tengah-tengah peperangan, namun sebenarnya menunjukkan pemimpin kebijaksanaan (hikmah). Sementara Para Sufi Muslim cukup beruntung dalam melindungi mereka sendiri dari berbagai tuduhan bid'ah berkat upaya al-Ghazali (1058-1111) yang di Eropa dikenal sebagai Algazel. Ia adalah ulama yang paling otoritatif dalam Islam dan mampu menggabungkan mitos keagamaan di dalam al-Qur'an dengan filsafat rasionalistik, sehingga mendapatkan julukan Hujjatul Islam. Kendati demikian, mereka kerapkali menjadi korban penganiayaan di daerah-daerah yang kurang mendapatkan pencerahan (religius) sehingga mereka terpaksa menggunakan kata-kata rahasia, pakem-pakem serta tipu muslihat lainnya untuk melindungi diri mereka sendiri. Sementara di Barat, tidak ada Sufi Kristen dengan otoritas kependetaan yang mumpuni untuk melindungi rekan-rekannya dari kekuasaan Dewan Gereja yang Agung. Akan tetapi pemikiran Sufi tetap hidup sebagai suatu gerakan rahasia yang berbanding lurus dengan kehidupan Kristen Ortodoks. Lantaran dikagumi bercampur kecurigaan, Rahib Roger Bacon, Raymond Lully yang suci (meskipun menunggu selama tujuh ratus tahun untuk diakui gereja) dan para Sufi Kristen lainnya dianggap mempunyai kekuatan-kekuatan dan ajaran yang aneh. Namun karya-karya Sufistik al-Ghazali sering dikutip oleh Averroes dan Abu Bakr -- "Abubacer" -- sebagai pengarang yang mendapat penghargaan luas di berbagai universitas Kristen. "Para Sufi adalah suatu kelompok rahasia spiritual kuno ...". Sebenarnya, Kelompok Rahasia (freemasonry) itu sendiri pada mulanya adalah sebuah kelompok Sufi. Kelompok ini pertama kali memasuki Inggris pada masa kekuasaan Raja Aethelstan (924-939) dan diperkenalkan di Skotlandia secara rahasia, tentu saja oleh Knights Templars,4 sebagai sekelompok ahli seni (kerajinan) pada awal abad keempat belas. Sementara reformasi atas kelompok ini pada awal abad kedelapan belas di London, oleh sekelompok orang bijak Protestan yang keliru memahami istilahistilah Saracennya dalam bahasa Ibrani, telah menimbulkan banyak kerancuan makna dari tradisi awalnya. Richard Burton, penterjemah Thousand and One Nights 1 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi (Kisah Seribu Satu Malam), baik sebagai seorang freemason maupun seorang Sufi, adalah orang pertama yang menjelaskan kaitan erat antara kedua kelompok tersebut. Namun dia juga masih kurang menyadari bahwa freemasonry pada mulanya adalah kelompok Sufi. Sayyid Idries Shah menunjukkan bahwa freemasonry adalah semacam metafora untuk "pembenahan-kembali" atau pembangunan-kembali spiritualitas manusia dari reruntuhannya. Ia menyatakan bahwa tiga instrumen kegiatan dalam kebatinan Masonik modern menggambarkan tiga sikap peribadatan. "Buizz" atau "Boaz" dan "Sulaiman, Putra Dawud", yang dihormati oleh para freemason sebagai para pendiri kuil Raja Sulaiman di Jerusalem, bukanlah tokoh Sulaiman Israil dan sekutu-sekutu Phoenisian sebagaimana seringkali dinyatakan. Namun "Sulaiman, Putra Dawud" ini adalah arsitek Sufi Abdul Malik yang telah membangun the Dome of the Rock (Kubah Batu) di atas reruntuhan kuil Sulaiman dan dilanjutkan para penerusnya. Nama asli mereka masing-masing adalah Thuban Abdel Faiz ("Izz") dan "cucu utama" Abdul Malik, Ma'ruf, putra Dawud ath-Tha'i yang mempunyai nama rahasia Sufi: Sulaiman, karena ia adalah "putra Dawud". Ukuran-ukuran arsitektur yang dipilih untuk kuil tersebut, sebagaimana ukuran untuk bangunan Ka'bah di Mekkah, mempunyai padanan bilangan dengan akar-akar kata bahasa Arab tertentu yang mengandung pesan-pesan suci dan setiap bagian bangunan tersebut saling berhubungan dalam proporsi tertentu. Menurut prinsip akademis Inggris, seekor ikan bukanlah guru terbaik untuk ilmu pengetahuan tentang ikan, demikian pula bukan malaikat untuk ilmu tentang makhluk-makhluk halus. Oleh karena itu, banyak buku dan artikel modern yang paling otoritatif tentang Sufisme ditulis menurut corak pemikiran sejarah orang Eropa sendiri dan para profesor di berbagai universitas Amerika yang tidak pernah menyelami kedalaman Sufisme ataupun mengalami puncak ekstase para Sufi. Bahkan mereka tidak memahami permainan kata dalam puisi Persia-Arab. Maka dari itu, saya memohon Sayyid Idries Shah untuk memperbaiki kerancuan publikasi dari karya-karya tersebut agar dapat mengembalikan kepercayaan para Sufi alamiah di Barat sehingga mereka tidak merasa asing dengan tradisi pemikiran Sufi yang aneh. Demikian pula agar intuisi mereka dapat dipertajam oleh pengalaman-pengalaman yang berbeda. Ternyata ia menyetujui meskipun juga menyadari bahwa hal itu akan menjadi tugas yang sangat sulit. Kebetulan Sayyid Idries Shah mempunyai garis keturunan utama laki-laki dengan Nabi Muhammad saw. dan mewarisi misteri-misteri rahasia dari para khalifah, nenek moyangnya. Sebenarnya ia adalah seorang Syekh Thariqat [Tarekat ("Ordo")] Sufi yang utama, namun karena semua Sufi secara definitif sama dan hanya bertanggung jawab pada diri mereka sendiri atas semua prestasi spiritualnya, maka "Syekh" kemudian menjadi gelar yang menyesatkan. Gelar ini sama sekali bukan berarti "pemimpin" seperti fugleman, suatu istilah kemiliteran kuno untuk memimpin tentara di depan parade pasukan, misalnya dalam latihan militer. Kesulitan itu diramalkan oleh Sayyid Idries (meskipun telah bertahun-tahun tinggal di Eropa dan mengetahui bahasa Inggris serta bahasa Eropa utama lainnya, sama dengan pengetahuannya tentang bahasa Arab, Pusthu, Urdu, Persia klasik dan modern) karena pembaca buku ini tentu saja harus mempunyai persepsi-persepsi di luar kebiasaan, seperti imajinasi puitis, cita rasa apresiasi yang kuat dan telah 1 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi memahami rahasia utama (Sufi) sebagai hal penting yang harus diperhitungkan. Dalam hal ini, ia tidak ingin dianggap sebagai seorang misionaris. Para guru Sufi melakukan yang terbaik untuk mematahkan semangat murid-muridnya dan sama sekali tidak menerima murid yang datang dengan "tangan hampa", artinya yang tidak mempunyai bakat untuk memahami misteri utama. Seorang murid tidak begitu banyak mempelajari corak sastra dan praktik pengobatan, gurunya, namun ia mencermati gurunya dalam memecahkan masalah kehidupan kepada gurunya, namun ia harus menerima dengan penuh kepercayaan berbagai perilaku yang tidak masuk akal dan konyol dari gurunya sampai ia mampu memahaminya. Beberapa paradoks Sufi tersebut terungkap dalam berbagai kisah komik, terutama kisah-kisah seputar Khoja (guru Sufi) Nashruddin -- dan juga terdapat dalam kisah-kisah fabel Aesop -- yang diakui para Sufi sebagai figur leluhur mereka. Penasehat pandir para Raja Spanyol yang mempunyai ujung tongkat berbentuk kandung kemih, mengenakan pakaian aneka ragam, jambul ayam jantan, dentang lonceng, kebijaksanaan yang bersahaja dan sama sekali tidak menunjukkan sikapsikap terhormat adalah sosok seorang Sufi. Lelucon-leluconnya dianggap oleh para penguasa mempunyai kebijaksanaan lebih dalam daripada nasehat yang paling serius dari dewan penasehat lainnya. Ketika Raja Philip II dari Spanyol menitahkan penyiksaan atas orang-orang Yahudi, ia memutuskan bahwa setiap orang Spanyol berdarah Yahudi harus mengenakan topi dengan bentuk yang khas. Dengan perkiraan akan menimbulkan kebingungan, Si Pandir muncul di malam yang sama membawa tiga buah topi. "Untuk siapa topi-topi itu, wahai Pandir?" tanya Raja Philip. "Satu untukku, sebagai penasehat, satu untuk Baginda dan satu lagi untuk Penyelidik yang Agung." Karena ternyata beberapa aristokrat Spanyol telah menikahi keluarga-keluarga Yahudi yang kaya pada Abad Pertengahan, maka Raja Philip menggagalkan rencananya itu. Dengan langkah-langkah yang sama, penasehat pandir Raja Charles I, Charlie Armstrong (konon ia adalah seorang pencuri domba berkebangsaan Skotlandia) yang mewarisi bakat-bakat ayahnya, berusaha menentang kebijakan Uskup Agung Laud dari Gereja Armenia dan tampaknya bertujuan meredam bentrokan militer dengan kalangan Puritan. Raja Charles yang merasa terhina meminta nasehat Uskup tentang kebijakan religius ini, Charlie menyela: "Ucapkanlah segala puji bagi Tuhan, kepada Nuncle (penasehat utama keagamaan) dan pujian sekadarnya pada setan." Uskup Laud yang tipis telinga karena kekerdilan pertimbangannya, mengusir Charlie Armstrong keluar dari ruang sidang karena tindakannya itu sama sekali tidak membawa berkah bagi Tuan Baginda. Sebenarnya buku ini tidak ditujukan kepada para intelektual atau pemikir ortodoks lainnya. Nilai ekonomis publikasi adalah mengedarkan buku kepada para pembaca yang tidak mempunyai pemahaman tentang apa yang dinyatakan penulis. Namun apabila penulis menyajikan sesuai dengan pemahaman pembaca, maka tentu saja ia harus menuliskan sesuatu yang sama sekali berbeda. Ini merupakan hal yang ganjil. Apabila ada hujatan atas kekeliruan publikasi ini, sayalah yang bertanggung jawab. Meski demikian, Sayyid Idries Shah telah menyediakan sejumlah informasi yang mengejutkan -- disamping apa yang telah saya kutip -- seperti asal-usul tasbih Saracen dan asal-usul cerita Hans Andersen tentang Anak Itik yang Jelek. Dalam hal 1 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ini, ia menitikberatkan pada fenomena sekunder tanpa berprasangka pada fenomena primer dari pemikiran Sufi. Setidaknya buku ini dihidangkan untuk orang-orang yang mendiskusikan corak pemikiran khas ini dengan satu atau dua orang sahabat karib, dan bagi orang yang pasti akan terkejut seperti saya. Deya Majorca Robert Graves Catatan kaki: 1 Penyair besar Sufi, Rumi menulis: Di musim dingin, cabang-cabang pohon itu tampak tidur, Bekerja diam-diam, mempersiapkan musim semi mereka. Meskipun Rumi tidak menyebut pohon mistletoe atau jenis pohon locanthus lainnya, namun bait-bait ini mengacu pada lambang-lambang pemikiran rahasia dirinya. 2 Sejumlah pengobatan praktis ini dapat dibaca dalam artikel Dr. Jafar Hallaji, "Hypnotherapeutic Techniques in a Central Asian Community'', International Journal of Clinical and Experimental Hypnosia, Oktober, 1962, hlm. 271 dan seterusnya. 3 Les familles chevelresques du Lyomnais. Nama marga ayahnya The Moor (Sang Penambat). Sementara Count de Payn (Count de Pagan) menurut sejarawan silsilah keluarga, mempunyai hubungan yang sangat awal dengan Arab-Spanyol yang telah menciptakan nama tak lazim ini. 4 Ada suatu tradisi bayangan dalam asal-usul tradisi freemasonry dari ahli seni Saracen. Kamus karya Haydn, Dictionary of Dates (1867, hlm. 347) mengutip pernyataan sejarawan Masonik bahwa "Konon arsitek dari pantai Afrika, kaum Mahometan, membawa tradisi bayangan itu ke Spanyol, kira-kira abad kesembilan." Namun tingkatan berjenjang yang menandai pencapaian aktual dalam pengalaman spiritual tertentu dan dikiaskan dalam ritus-ritus mereka, masih kurang dipahami. 1 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi PRAKATA PENULIS Idries Shah Tujuan utama buku ini adalah mengemukakan pengamatan yang berbeda dengan metode skolastisisme dan akademis. Sarjana Timur dan Barat dengan bangga mencurahkan waktu mereka untuk memaparkan karya sastra dan filsafat Sufi serta mempublikasikannya sesuai dengan disiplin ilmu mereka. Pada umumnya, mereka mencatat dengan setia pernyataan-pernyataan para Sufi, namun "Jalan" Sufi itu tetap sulit dipahami dan hanya menjadi semacam buku pelajaran biasa. Karena dasar pemikiran mereka dalam mengkaji Sufisme adalah semacam penghormatan pada kejujuran intelektual dan keyakinan pada metode penelitian mereka sendiri. Bagaimanapun, kesalahpahaman akan terus muncul karena Sufisme hanya dapat dipahami secara khusus dalam situasi pengajaran langsung, yakni membutuhkan kehadiran langsung seorang guru Sufi. Karena itulah, menyangkut Sufi, eksistensi "Ajaran Rahasia" mereka yang tak terikat waktu itu niscaya dicurigai dan dianggap sebagai fakta-fakta yang sulit dipahami oleh peneliti ilmiah. Jika orang mengatakan bahwa komunisme adalah agama tanpa Tuhan, maka kajian akademis tentang Sufisme yang tidak mengacu pada "praktek Sufi" adalah Sufisme tanpa faktor esensialnya. Jika penjelasan ini ternyata merintangi tradisi rasional, yaitu tradisi yang membantu individu untuk menemukan kebenaran dengan melatih berbagai kemampuan diri dan memperoleh manfaat secara mandiri, maka hanya ada satu jawaban. Sufisme atau "ajaran rahasia" itu tidak sejalan dengan dasar asumsi yang bertolak dari dunia lain, yaitu dunia intelek. Jika orang mengira bahwa kebenaran fakta ekstra-fisik harus dilihat dengan pola pikir tertentu, yakni metode rasional atau "ilmiah", maka (perlu ditegaskan) bahwa tidak mungkin ada hubungan antara Sufi dengan prasangka obyektif peneliti ilmiah. Maka dari itu, tujuan kepustakaan dan pengajaran persiapan Sufi adalah menjembatani kesenjangan antara dua dunia pemikiran itu. Seandainya tidak ada kemungkinan ini, maka buku ini tidak berguna dan sebaiknya tidak ditulis. Sufisme dapat diibaratkan sebagai saripati makanan bagi masyarakat, namun tidak hidup di dalam masyarakat dengan suatu sistem yang mapan. Artinya, para Sufi tidak membangun sistem seperti orang membangun gedung sehingga generasi penerus bisa menyelidiki dan memahaminya. Sufisme disampaikan melalui teladan manusia, yaitu guru. Lantaran guru Sufi adalah sosok yang tak dikenal umum atau karena banyak penirunya, bukan berarti ia tidak ada. Kita dapat menemukan jejak-jejak Sufisme dalam berbagai organisasi yang terlantar karena unsur transmisi manusia, yakni barakah, telah terputus, meskipun bentuknya masih membekas. Karena kulit luar ini paling mudah dipahami, maka kami menggunakannya untuk menjabarkan masalah yang lebih mendalam. Namun tidak seperti mereka, kami menyetujui bahwa ritus dan buku tertentu merupakan penjelmaan Sufisme. Kami bertolak dari unsur manusiawi, lembaga sosial dan sastra yang tidak utuh (karena tidak disertai dampak langsung dari teladan kehidupan guru) dan sekunder, karena secara parsial hanya fakta-fakta itu yang 1 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi dapat diamati. Fakta-fakta sejarah, seperti agama dan organisasi sosial yang masih bertahan, bersifat sekunder dan merupakan fenomena eksternal yang membutuhkan penyusunan, emosi dan penampilan agar tetap bertahan hidup. Meskipun faktor-faktor itu sangat penting untuk kesinambungan sistem-sistem yang sudah ada, namun menurut ajaran Sufi, hanyalah substitusi (penyulihan) dari vitalitas organisme (makhluk hidup: manusia) yang berbeda dengan penampilan ataupun sentimen.1 Seperti faktor alamiah lainnya, madzhab Sufi lahir, berkembang dan musnah, tanpa meninggalkan jejak seperti ibadah mekanis atau secara antropologis tertarik untuk bertahan hidup. Fungsi saripati makanan adalah membentuk unsur yang selalu berubah, bukan meninggalkan jejak. Guru besar Sufi, Jami', cenderung pada keyakinan itu dalam pernyataannya bahwa seandainya janggut bisa tumbuh begitu lebat, maka ia akan tumbuh seperti rambut yang mesti dipelihara dan diutamakan. Maka dari itu mudah dipahami bila Sufisme yang bersifat "organis" dan memerlukan "teladan manusia" itu berada di luar bidang kajian konvensional. Kendati demikian ada beberapa hal penting dalam meneliti pengaruh Sufi terhadap kebudayaan. Pertama, kita dapat mengamati berbagai upaya menjembatani kesenjangan antara pemikiran biasa dengan pengalaman Sufi yang terungkap melalui puisi, prosa dan bentuk sastra lainnya dengan tujuan membimbing kesadaran manusia biasa yang lemah dan embrionik menuju suatu persepsi dan realisasi yang lebih agung. Kedua, para Sufi menandaskan bahwa sekalipun budaya pemikiran otoritarian dan mekanis telah menghambat pemahaman komprehensif, namun individualitas manusia seharusnya tetap menuntut (kebebasan kreatif) dirinya, meskipun harus menerapkan pemikiran primitif sehingga kehidupan lebih bermakna dibandingkan pemahaman resmi yang beredar luas. Pokok perhatian buku ini dicurahkan pada tahap penyebaran pemikiran Sufi (dari abad ketujuh hingga masa kini) sebagai suatu ilustrasi. Jika, dalam proses tersebut, ada materi yang benar-benar baru, maka hal itu bukan dijabarkan untuk tujuan skolastik. Skolastisisme hanya tertarik pada penumpukan informasi dan membuat deduksi darinya. Sementara Sufisme mencurahkan diri untuk mengembangkan suatu garis komunikasi dengan "pengetahuan terakhir", bukan dengan menghimpun fakta-fakta individual meskipun secara historis menarik, atau bukan dengan teorisasi apa pun. Perlu diingat bahwa Sufisme adalah pemikiran Timur selama pemikiran itu menyangkut kepercayaan -- seperti teladan manusia -- yang ternyata diabaikan di Barat. Pemikiran ini bersifat okultisme (klenik) dan mistik karena menerapkan metode yang berbeda dengan metode otoritarian dan dogmatis dalam mencari kebenaran. Sufisme menandaskan metode itu hanyalah suatu bagian, suatu tahap perjalanan manusia. Dengan mengklaim keberadaan sumber pengetahuan yang "nyata", Sufisme tidak bisa menerima pretensi dari tahap sementara dan dipandang dari kacamatanya sendiri, yang dewasa ini dipandang sebagai tahap "logis". 1 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Materi-materi dalam buku ini tidak memaparkan Sufisme secara keseluruhan, karena tidak mungkin memperluas kepustakaan formal tentang Sufisme tanpa diimbangi dengan praktek Sufi. Tujuan buku ini tidak memasukkan Skolastisisme tradisional, yang sebenarnya mempunyai kaitan sangat dangkal dengan Sufisme; dan akan mengalami distorsi pemikirannya jika keluar dari metodenya sendiri. Sufisme hanya dapat dipahami melalui pola pemikirannya sendiri. Yang menarik untuk dicatat adalah perbedaan antara ilmu pengetahuan yang kita kenal dewasa ini dengan ilmu pengetahuan menurut pandangan salah seorang perintisnya. Roger Bacon yang dianggap mempunyai pengaruh luar biasa pada Abad Pertengahan dan sebagai salah seorang pemikir besar, merupakan perintis metode pengetahuan melalui pengalaman. Rahib Ordo Franciscan ini belajar dari para Sufi aliran Iluminis bahwa ada suatu perbedaan antara pengumpulan informasi dengan pengetahuan tentang hal-ihwal melalui eksperimen. Dalam karyanya Opus Maius, dengan mengutip seorang Sufi otoritatif, Bacon menyatakan: Ada dua model pengetahuan: Pengetahuan melalui argumen dan melalui pengalaman. Argumen mengandung berbagai konklusi dan memaksa kita untuk mengakuinya. Namun hal ini tidak menghasilkan kepastian ataupun menghilangkan keraguan sehingga pikiran tetap berdasar pada kebenaran, kecuali kalau argumen diberikan melalui pengalaman. Doktrin Sufi ini dikenal di Barat dengan metode induktif. Secara umum ilmu pengetahuan Barat kemudian berdasar pada metode tersebut. Meskipun demikian, ilmu pengetahuan modern kurang menerima gagasan bahwa pengalaman (experience) adalah unsur utama bagi setiap bidang pemikiran manusia. Ilmu modern hanya mengambil kata tersebut dengan pcngertian "uji coba" (experiment), sehingga si penguji berada di luar pengalaman. Oleh karena itu, dari sudut pandang Sufi, ketika menulis pernyataan itu pada tahun 1268, Bacon telah merintis ilmu pengetahuan modern sekaligus mengemukakan suatu kebijaksanaan sebagai dasar ilmu pengetahuan. Sejak awal pemikiran "ilmiah" sebenarnya telah bekerja secara sinambung dan penuh semangat sejalan dengan tradisi parsial itu. Meskipun pemikiran ini berakar pada karya Sufi, namun penyimpangan tradisi mereka telah merintangi peneliti ilmiah untuk mendekati pengetahuan melalui dirinya sendiri -- "pengalaman", bukan semata-mata "uji coba" (experiment). Catatan kaki: 1 Lihat anotasi "Wawasan". 1 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi SITUASI Kemanuasian tertidur, hanya terpaku pada hal yang tidak bermanfaat, hidup di dunia yang keliru. Percaya bahwa orang bisa mengatasinya, hal itu hanyalah kebiasaan dan penggunaan, bukan agama. "Agama" ini tidak layak ... Jangan mencela Orang-orang Tarekat, lebih baik perbaikilah dirimu. Engkau memiliki pengetahuan dari agama yang keliru jika engkau membelakangi Realitas. Manusia melilitkan jaring bagi dirinya. Sementara seekor harimau (manusia Tarekat) menghancurkan kandangnya. (Guru Sufi Sanai dari Afghanistan, gurunya Rumi, dalam The Walled Garden of Truth ditulis pada tahun 1131 M). 2 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi ORANG-ORANG PULAU (SEBUAH DONGENG) Manusia biasa (awam) menyesali dosa-dosanya; Manusia pilihan menyesali kelalaiannya. (Dzun-Nun al-Mishri) Semua dongeng, paling tidak mengandung kebenaran tertentu dan seringkali dongeng-dongeng itu memungkinkan masyarakat menyerap gagasan-gagasan yang sulit dipahami atau bahkan tidak bisa dicerna jika disampaikan dalam bentuk pemikiran yang wajar. Oleh karena itu, dongeng digunakan para guru Sufi untuk memberikan suatu gambaran kehidupan yang lebih sejalan dengan perasaan mereka dibandingkan melalui wahana kegiatan intelektual. Berikut ini ada sebuah dongeng Sufi yang telah dirangkum dan biasanya disesuaikan dengan masa dongeng yang dikisahkan. Sementara dongeng-dongeng "hiburan" biasa, dipandang oleh para penulis Sufi sebagai suatu bentuk kesenian yang telah merosot atau lebih rendah nilainya. Pada suatu masa ada sebuah masyarakat yang hidup di sebuah pulau yang sangat terpencil. Para anggota masyarakat ini tidak mempunyai rasa takut seperti kita saat ini. Alih-alih ketidakpastian dan kegamangan, mereka mempunyai tujuan yang pasti dan cara-cara yang lebih sempurna dalam mengekspresikan diri. Meskipun tidak ada tekanan dan ketegangan sebagai unsur penting kemajuan bagi manusia sekarang. Kehidupan mereka lebih kaya, karena sebab-sebab lain, yakni unsurunsur kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan saat ini. Oleh karena itu, kehidupan mereka adalah suatu bentuk eksistensi yang agak berbeda. Kita hampir bisa menyatakan bahwa persepsi kita saat ini adalah versi sementara dan kasar dari persepsi masyarakat ini. Mereka menjalani kehidupan sejati, bukan kehidupan semu. Kita dapat menyebut mereka masyarakat El Ar. Masyarakat ini mempunyai seorang pemimpin yang menyadari bahwa negeri mereka akan punah, katakanlah selama 20.000 (dua puluh ribu) tahun yang akan datang. Ia merencanakan pengungsian dan menyadari bahwa keturunan mereka hanya akan berhasil pulang kembali setelah melalui berbagai ujian. Ia menemukan sebuah tempat pengungsian bagi mereka, yaitu sebuah pulau yang sepintas lalu bentuknya mirip dengan tanah air asal mereka. Karena perbedaan udara dan situasi, para imigran itu harus melakukan transformasi. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan fisik dan mental mereka dengan lingkungan baru. 2 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sebagai contoh, persepsi-persepsi kasar diganti dengan persepsi yang lebih halus, seperti tangan seorang pekerja kasar menjadi keras karena tuntutan pekerjaannya. Untuk mengurangi penderitaan akibat perbedaan antara keadaan lama dan baru itu, mereka dikondisikan untuk melupakan masa lalu secara hampir menyeluruh. Hanya kenangan masa lalu yang paling kuat tetap tersisa. Tetapi hal ini sudah memadai untuk digunakan bila diperlukan. Sistem masyarakat ini sangat rumit namun tetap diatur dengan baik. Alat-alat untuk bertahan hidup di pulau itu dibuat, demikian pula sarana-sarana hiburan fisik dan mental. Alat-alat yang sangat berguna dari tanah air lama disimpan di sebuah tempat khusus sebagai kenangan lama dan persiapan untuk digunakan di kemudian hari. Lambat laun dan dengan susah payah akhirnya para imigran menetap dan menyesuaikan diri dengan kondisi lokal. Sumber daya di pulau itu sedemikian rupa sehingga dengan upaya dan bimbingan tertentu, masyarakat akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya untuk kembali ke tanah asal mereka. Ini adalah pulau pertama dari kepulauan lainnya yang masih membutuhkan penyesuaian secara bertahap. Tanggung jawab atas "evolusi" ini dibebankan kepada pribadi-pribadi yang mampu mengembannya. Tentu saja tanggung jawab ini hanya untuk sebagian kecil orang, karena bagi kebanyakan orang, upaya menjaga kedua bentuk pengetahuan itu dalam kesadaran mereka niscaya tidak mungkin. Di antara mereka cenderung muncul pertentangan. Hanya para ahli yang dapat menjaga "ilmu khusus" itu. "Ilmu rahasia" ini, yaitu metode mengefektifkan peralihan, tidak lain adalah pengetahuan dan ketrampilan maritim. Kebebasan atau pengungsian membutuhkan seorang instruktur, bahan baku, masyarakat, usaha dan pemahaman. Untuk itu masyarakat bisa belajar renang sekaligus membangun kapal. Orang-orang yang sejak semula bertanggung jawab atas operasi pengungsian menjelaskan kepada setiap orang bahwa persiapan tertentu diperlukan sebelum seseorang belajar renang atau bahkan ikut serta dalam membangun kapal. Pada suatu masa, proses tersebut berlangsung secara memuaskan. Kemudian seorang laki-laki yang pada saat itu ternyata kurang memenuhi persyaratan, menentang aturan main dan berusaha mengembangkan suatu gagasan umum. Ia mengamati bahwa pengungsian itu adalah tugas yang berat dan selalu disambut dingin oleh masyarakat. Pada saat yang sama mereka juga diharapkan untuk mempercayai segala sesuatu tentang operasi pengungsian. Ia menyadari bahwa dirinya mampu meraih kekuasaan dan dapat membalas dendam kepada mereka yang menurutnya telah merendahkan dirinya dengan mengeksploitasi dua kenyataan itu. Ia sebenarnya hanya ingin meninggalkan beban itu dan menegaskan bahwa (sebenarnya) tidak ada beban yang perlu dipikul. Kemudian ia mengeluarkan pernyataan berikut ini: 2 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Manusia sama sekali tidak perlu mengintegrasikan dan melatih pikiran sesuai dengan cara yang telah dijelaskan kepada kalian. Pikiran manusia adalah suatu unsur yang telah mantap, sinambung dan konsisten. Kalian telah dianjurkan bahwa kalian harus menjadi seorang pengrajin dalam membangun kapal. Saya katakan bahwa kalian tidak saja perlu menjadi pengrajin, tapi kalian juga sama sekali tidak memerlukan kapal! Penghuni pulau ini hanya perlu menjaga aturan sederhana untuk bertahan hidup dan menyatu dengan masyarakat. Dengan mempergunakan akal sehat yang diberikan kepada setiap orang, ia bisa meraih apa saja di pulau ini, sebagai rumah kita, milik umum dan warisan bagi setiap orang!" Setelah masyarakat sangat tertarik pada pernyataan ini, sang penghasut "membuktikan" pesannya itu dengan mengatakan: "Jika memang ada realitas di dalam kapal dan renang itu, tunjukkan kepada kami kapal-kapal yang telah melakukan perjalanan dan para perenang yang telah kembali!" Hal ini adalah tantangan berat bagi para instruktur. Perkataannya didasarkan pada asumsi yang membingungkan masyarakat sehingga sekarang mereka tidak bisa melihat kekeliruan asumsi itu. Anda tahu, tidak pernah ada kapal yang kembali dari pulau lain. Jika memang para perenang kembali, mereka telah menyesuaikan diri dengan keadaan baru sehingga tidak bisa dilihat oleh orang kebanyakan. Namun kerumunan ini menuntut bukti. "Pembangunan kapal," kata para pengungsi kepada para pemberontak, "adalah sebuah seni dan ketrampilan. Pengajaran dan pelatihan dalam ajaran ini membutuhkan teknik-teknik khusus. Semua ini membentuk suatu aktivitas total yang tidak bisa diuji secara parsial sesuai dengan tuntutan kalian. Aktivitas ini mempunyai unsur yang tak terlihat, yakni apa yang disebut barakah. Inilah asal kata barque -- artinya sebuah kapal. Makna kata ini adalah 'Kepelikan' dan tidak dapat ditunjukkan kepada kalian." "Seni, ketrampilan, totalitas, barakah, semua itu omong kosong!" teriak kalangan revolusioner. Kemudian mereka menggantung setiap ahli pembuat kapal yang mereka temui. Kitab suci baru itu disambut hangat oleh semua kalangan sebagai salah satu sarana pembebasan. Manusia telah menyadari bahwa dirinya telah dewasa! Setidaknya pada masa itu ia merasa telah terbebas dari tanggung jawab. Semua pola pemikiran yang berbeda segera dimusnahkan oleh konsep revolusioner yang sederhana dan nyaman itu. Konsep ini segera dipandang sebagai fakta dasar yang tidak pernah ditentang oleh manusia rasional. Manusia rasional di sini maksudnya seseorang yang menyesuaikan dengan teori umum itu. Berdasarkan teori umum inilah masyarakat dibangun. Setiap gagasan yang menentang gagasan baru ini selalu disebut irasional. Sesuatu yang irasional pasti jelek. Sejak itu, meskipun ada berbagai keraguan, individu 2 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi harus menekan dan membuangnya, sebab berapa pun biayanya ia harus dianggap rasional. Tidaklah terlalu sulit untuk bersikap rasional. Seseorang hanya perlu mengikuti nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi bukti kebenaran rasionalitas itu mudah ditemukan -- dengan syarat bahwa seseorang tidak berpikir di luar pola pemikiran pulau itu. Maka untuk sementara, masyarakat telah menyesuaikan diri di pulau itu dan tampaknya bisa memenuhi kebutuhan secara memadai jika dilihat dari cara-cara yang mereka gunakan. Keadaan ini dicapai berkat akal dan emosi yang seolah-olah masuk akal. Sebagai contoh, kanibalisme diperbolehkan karena ada alasan rasional, yaitu bahwa tubuh manusia ternyata bisa dimakan. Kondisi ini adalah salah satu ciri makanan. Oleh karena itu, tubuh manusia adalah makanan. Untuk menutupi cacat dari cara berpikir ini, maka dibuat dalih. Kanibalisme dikontrol demi kepentingan masyarakat. Kompromi ini merupakan ciri keseimbangan sementara. Berulangkali seseorang mengarah pada suatu kompromi baru dan perjuangan antara akal, ambisi dan masyarakat yang menghasilkan norma sosial baru. Lantaran ketrampilan membuat kapal tidak mempunyai cara penerapan yang jelas dalam masyarakat ini, maka ia dengan mudah dipandang sebagai sesuatu yang absurd. Perahu tidak diperlukan -- tidak ada satu pun tempat tujuan. Berbagai konsekuensi dari sebuah asumsi dapat dibuat untuk "membuktikan" kebenaran asumsi tersebut. Inilah yang disebut kepastian semu, sebagai pengganti dari kepastian sejati. Hal ini kita hadapi sehari-hari. Tetapi orang-orang pulau menerapkannya kepada segala sesuatu. Dua entri dalam Island Universal Encyclopedia (Ensiklopedia Universal Pulau) memaparkan cara kerja proses itu. Dengan menyaring hikmah dari nutrisi mental mereka satu-satunya dan dengan segala kejujuran, para cendekiawan pulau menghasilkan jenis kebenaran berikut ini: Ship (Kapal): Sesuatu yang tak menyenangkan. Sebuah kendaraan imajiner yang diklaim oleh para pendusta dan penyeleweng sebagai alat untuk "menyeberangi air", namun kini secara ilmiah terbukti sebagai suatu kerancuan. Setiap bahan di pulau tersebut pasti tenggelam. Padahal sebuah "kapal" dibuat dari salah satu bahan di pulau itu. Selain itu orang meragukan apakah memang ada tujuan di luar pulau. Mengajarkan "pembangunan kapal" adalah kejahatan besar menurut Undang- Undang XVII dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal J tentang Perlindungan terhadap Orang-orang yang Mudah Terpedaya. Shipbuilding mania adalah suatu bentuk ekstrim dari eskapisme mental, suatu gejala ketidakmampuan masyarakat menyesuaikan diri. Setiap warga negara wajib memberitahukan kepada pejabat berwenang jika mereka mencurigai kondisi tragis ini menimpa seseorang. Lihat: Swimming; Mental Aberrations; Crime (Major). Bacaan: Smith, J., Why "Ships" Cannot be Built, Island University Monograph No. 1151. 2 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Swimming (Renang): Sesuatu yang tak diakui. Diyakini sebagai suatu cara menggerakkan tubuh melewati air agar tidak tenggelam; secara umum bertujuan "mencapai sebuah tempat di luar pulau". "Murid" dari seni yang tak diakui ini harus mematuhi sebuah ritual absurd. Dalam pelajaran pertama, ia harus menelungkupkan tubuhnya di atas tanah dan menggerakkan tangan serta kaki sesuai dengan petunjuk dari seorang "instruktur". Semua konsep itu berdasar pada keinginan para "instruktur" yang mempunyai gaya tersendiri untuk menguasai orang-orang yang mudah terpedaya pada masa primitif. Akhir-akhir ini, cara pemujaan itu telah menjelma sebuah wabah kegilaan yang menyebar. Lihat: Ship; Heresies; Pseudoarts. Bacaan: Brown, W, The Great "Swimming" Madness, 7 volume, Institute of Social Lucidity. Kata "tidak menyenangkan" dan "tidak diakui" itu digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan kitab suci baru itu. Kitab suci baru itu sendiri dikenal sebagai ajaran yang "Menyenangkan". Gagasan di baliknya adalah bahwa masyarakat sekarang bisa menyenangkan dirinya sendiri, demi kepentingan umum dan menyenangkan negara. Lembaga di sini dipahami sebagai lembaga yang mencakup semua masyarakat. Tidaklah mengejutkan bila sejak awal niat meninggalkan pulau menimbulkan rasa takut luar biasa bagi setiap orang. Demikian pula rasa takut bisa terlihat pada tahanan yang telah lama di penjara dan akan dibebaskan. Dunia "luar" penjara adalah suatu dunia yang samar, tidak dikenal dan menakutkan. Pulau itu bukanlah sebuah penjara. Tetapi ia adalah sebuah sangkar dengan jerujijeruji yang tak terlihat, namun lebih efektif dibandingkan sangkar dengan jerujijeruji yang terlihat. Masyarakat pulau kini semakin lebih kompleks. Kita hanya bisa melihat hal itu melalui beberapa bentuknya yang mencolok. Kepustakaan mereka sangat kaya. Disamping berbagai komposisi budaya, ada berbagai buku yang menjelaskan nilainilai dan keberhasilan bangsa-bangsa. Demikian pula ada sebuah sistem fiksi alegoris yang menggambarkan betapa kehidupan ini akan sengsara bila masyarakat tidak mengatur diri dengan sistem yang diyakini saat ini. Dari waktu ke waktu para instruktur berusaha membantu seluruh masyarakat untuk meloloskan diri. Para kapten kapal mengabdikan dirinya untuk menciptakan kembali suatu iklim kondusif bagi para pembuat kapal yang kini bersembunyi melanjutkan pekerjaannya. Semua upaya ini ditafsirkan oleh para sejarawan dan sosiolog dengan merujuk pada berbagai keadaan di pulau itu tanpa berniat untuk melakukan hubungan di luar masyarakat yang tertutup ini. Berbagai penjelasan yang masuk akal tentang hampir semua hal secara komparatif mudah diberikan. Tidak ada prinsip etik, sebab para sarjana tetap mengkaji apa yang dipandang benar dengan penuh ketulusan. "Apa lagi yang bisa kita kerjakan?" Kata "lagi" mengimplikasikan bahwa alternatif itu mungkin merupakan suatu upaya kuantitatif. Atau mereka saling bertanya, "Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan?" dengan asumsi bahwa jawabannya mungkin terletak pada kata "lain" itu -- sesuatu 2 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi yang berbeda. Masalah mereka sebenarnya adalah anggapan mereka bahwa dirinya mampu untuk merumuskan pertanyaan dan mengabaikan fakta bahwa pertanyaan sepenting jawaban. Para penghuni pulau niscaya mempunyai ruang lingkup pemikiran dan tindakan yang luas dalam bidang mereka sendiri yang sempit. Berbagai gagasan dan perbedaan pendapat yang muncul mengesankan kebebasan berpikir. Pemikiran digalakkan dengan syarat tidak "absurd". Kebebasan berbicara diperbolehkan. Tetapi hal ini sedikit manfaatnya tanpa mengupayakan pengembangan pemahaman. Kerja dan empati dari para navigator harus mengambil aspek lain sesuai dengan berbagai perubahan di dalam masyarakat. Hal ini justru membuat realitas mereka jauh lebih membingungkan bagi para murid yang berusaha mengikuti mereka dari sudut pandang yang berlaku di pulau itu. Di tengah-tengah semua kebingungan ini, kemampuan untuk menyadari kemungkinan meloloskan diri pada masa-masa tertentu bahkan bisa menjadi kendala. Kesadaran potensial yang mendorong untuk meloloskan diri tidaklah begitu jelas. Yang lebih sering terjadi adalah para calon pelarian yang bersemangat itu menerima suatu pengganti. Suatu konsep navigasi yang kabur tidak akan berguna tanpa orientasi. Bahkan para pembuat kapal yang paling bersemangat sekalipun dilatih untuk meyakini bahwa mereka telah mempunyai orientasi itu. Mereka telah matang. Mereka membenci setiap orang yang menunjukkan bahwa mereka mungkin memerlukan persiapan. Cara-cara berenang atau membuat kapal yang aneh itu seringkali tidak memungkinkan untuk mencapai kemajuan yang sesungguhnya. Yang layak dikecam adalah para pembela renang semu atau kapal-kapal alegoris. Mereka hanyalah penipu yang menawarkan pelajaran kepada mereka yang masih terlalu lemah untuk berenang atau menulis tentang kapal yang tidak bisa mereka bangun. Pada mulanya masyarakat membutuhkan pola-pola efisien dan pemikiran tertentu yang berkembang menjadi apa yang dikenal dengan ilmu. Pendekatan yang patut dipuji ini akhirnya melampaui arah yang sebenarnya dengan pola penerapan yang begitu mendasar. Setelah revolusi "menyenangkan", pendekatan "ilmiah" itu cepat meluas sampai mempengaruhi setiap pemikiran. Akhirnya segala sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam ikatannya dikenal dengan istilah "tidak ilmiah", istilah sinonim lain dari kata "buruk". Tanpa disadari, kata-kata ini telah mengungkung dan otomatis memperbudak masyarakat. Lantaran tidak adanya sikap sejalan, seperti orang yang membuang waktu dan kemampuannya di ruang tunggu dengan membaca-baca majalah, orang-orang pulau itu menyibukkan diri untuk menemukan pengganti pemuasan diri sebagai tujuan asal (dan sesungguhnya tujuan akhir) dari masyarakat yang terbuang ini. Sebagian relatif mampu dan berhasil mengalihkan perhatian pada komitmenkomitmen yang secara mendasar bersifat emosional. Ada berbagai tingkatan emosi, namun tidak ada cara yang memadai untuk mengukurnya. Setiap emosi dianggap 2 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi sebagai suatu yang "dalam" dan "kuat" -- pada tingkat apa pun lebih kuat dari tingkat lainnya. Emosi yang dipandang bisa menggerakkan masyarakat secara fisik dan mental sampai pada titik ekstrim, otomatis disebut sebagai kekuatan "dalam". Sebagian besar masyarakat menentukan target bagi dirinya sendiri atau membiarkan orang lain menentukannya sendiri. Mereka mungkin mengejar suatu penghargaan, uang atau status sosial. Sebagian menyembah sesuatu dan merasa dirinya lebih unggul dari lainnya. Dengan menolak apa yang dianggap sebagai penyembahan, sebagian orang mengira bahwa mereka tidak memiliki berhala. Karena itu mereka mencibir setiap bentuk penyembahan. Setelah berabad-abad lamanya, pulau itu dipenuhi dengan berbagai kepingan cara pemujaan. Yang lebih buruk adalah kepingan-kepingan ini ternyata mampu mempertahankan diri. Orang-orang yang bermaksud baik dan bermaksud menggabungkan cara pemujaan ini serta memadukan kepingan-kepingannya, ternyata menyebarkan suatu cara pemujaan baru. Bagi kalangan amatir dan intelektual, hal ini adalah suatu tambang bagi kajian akademis atau "bahan awal" yang menarik karena keanekaragamannya. Fasilitas-fasilitas megah untuk memanjakan "kepuasan" tertentu berkembang pesat. Istana dan monumen, museum dan universitas, lembaga pendidikan, panggung teater, dan arena olah raga hampir memenuhi pulau tersebut. Masyarakat biasanya merasa bangga dengan kemakmuran ini. Biasanya kemakmuran ini dianggap sebagai kebenaran terakhir, meskipun tentu saja kebenaran ini sama sekali luput dari perhatian mereka semua. Pembangunan kapal berkaitan dengan beberapa dimensi dari kegiatan itu, namun dengan cara yang hampir tidak dikenal semua orang. Secara sembunyi-sembunyi, kapal-kapal memancangkan layar dan para perenang terus mengajarkan cara berenang ... Berbagai kondisi di pulau itu tidak sepenuhnya menimbulkan rasa takut bagi orangorang yang penuh pengabdian tersebut. Di atas segalanya, mereka juga berasal dari masyarakat yang sama. Mereka mempunyai ikatan yang tak terpisahkan dan nasib yang sama dengan pulau itu. Namun mereka seringkali harus menjaga diri dari perhatian saudara-saudaranya sesama penghuni pulau. Sebagian penghuni pulau yang "normal" mencoba menyelamatkan diri dari situasi itu. Yang lain berusaha membunuh mereka dengan alasan-alasan yang sulit dipahami. Sebagian bahkan berusaha membantunya dengan penuh semangat, tetapi tidak bisa menemukan mereka. Setiap reaksi terhadap eksistensi para perenang ini adalah akibat dari sebab yang sama. Penyebabnya adalah karena sekarang hampir tidak ada orang yang mengetahui apa sesungguhnya perenang itu, apa yang dilakukannya, di mana ia bisa dijumpai? 2 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Ketika kehidupan di pulau itu semakin beradab, suatu industri aneh tetapi logis berkembang pesat. Industri ini dicurahkan untuk menetapkan keraguan atas keabsahan sistem dasar kehidupan masyarakat. Industri ini berhasil menimbulkan keraguan atas nilal-nilai sosial dengan menertawakan atau menyindirnya. Aktivitas ini bisa mendatangkan kebahagiaan atau kesengsaraan, tetapi ia sebenarnya semacam ritual yang diulang-ulang. Sementara sebuah industri potensial dan berharga seringkali dirintangi untuk melaksanakan fungsi kreatifnya yang nyata. Setelah keraguan untuk mengungkapkan diri sementara, masyarakat merasa bahwa dengan cara tertentu mereka akan mengurangi, membuang dan melarutkan keraguan itu. Satire diterima sebagai kiasan bermakna. Kiasan ini diterima namun tidak dipahami. Drama, buku, film, puisi dan plesetan adalah media umum bagi perkembangan itu, meskipun ada sebuah bagian penting yang termasuk dalam bidang-bidang yang lebih akademis. Bagi kebanyakan penghuni pulau, hal ini lebih membebaskan, lebih modern atau lebih progresif dibandingkan cara-cara pemujaan yang lebih tua. Di sana-sini, seorang calon masih menemui seorang instruktur renang dan menyampaikan penawaran untuk ikut belajar renang. Biasanya penawaran itu berakhir pada pembicaraan khas berikut ini: "Saya ingin belajar renang." "Apakah engkau ingin menawarkan diri untuk itu?" "Tidak, hanya saja saya harus membawa bekal seberat satu ton." "Bekal apa?" "Makanan yang dibutuhkan di pulau lain." "Di sana ada makanan yang lebih baik." "Saya tidak mengerti apa yang engkau maksudkan. Saya tidak yakin. Saya harus membawa bekal." "Engkau tidak bisa berenang dengan membawa bekal satu ton di punggungmu." "Jika demikian saya tidak bisa pergi. Engkau menyebutnya beban. Saya menyebutnya bekal makanan yang sangat penting." "Sebagai sebuah kiasan, andaikata kita tidak menyebut 'bekal makanan', namun 'asumsi' atau 'gagasan yang merusak'." "Saya akan membawa bekal ini kepada instruktur yang memahami kebutuhan saya." Buku ini membicarakan tentang beberapa perenang dan pembuat kapal serta beberapa orang yang berusaha mengikuti mereka dan relatif berhasil. Dongeng ini belum berakhir, sebab masih ada masyarakat di pulau itu. 2 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Para Sufi menggunakan berbagai simbol rahasia untuk menyampaikan maksud mereka. Dengan menyusun kembali nama dari masyarakat asal itu -- El Ar -- maka akan terbaca Real (Sejati). Mungkin Anda telah mengamati bahwa nama yang digunakan oleh kalangan revolusioner itu -- Please (Menyenangkan) -- jika disusun kembali akan membentuk kata Asleep (Tertidur). 2 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi LATAR BELAKANG I: PARA MUSAFIR DAN BUAH ANGGUR Ada tiga jenis budaya: budaya duniawi, menumpuk informasi belaka; budaya religius, mengikuti aturan; budaya elit, pengembangan-diri. (Guru Hujwiri, Kasyful-Mahjub) Ada sebuah kisah dalam fabel Aesop tentang tikus tanah muda menemui ibunya untuk memberitahukan bahwa dirinya telah bisa melihat. Namun dikatakan banyak orang, penglihatan tikus tanah itu kurang sempurna. Mendengar laporan itu, ibunya memutuskan untuk menguji daya lihatnya. Ia menaruh sepotong kemenyan dan bertanya kepada anaknya, "Apa ini?" "Batu," jawab tikus kecil. "Engkau tidak hanya buta," kata ibunya, "tapi juga kehilangan indera penciumanmu." Aesop -- menurut tradisi para Sufi dinilai sebagai guru praktis dari ajaran hikmah kuno yang bisa dicapai dengan melatih pikiran, tubuh dan persepsi secara sadar -- tidak mudah diapresiasi melalui makna lahir dongeng itu. Beberapa pengkaji telah mencatat bahwa kisah-kisah Aesop membicarakan ketimpangan moral (sebenarnya keterangan-keterangan yang dangkal). Kita bisa menganalisa fabel ini untuk mengetahui maksud sebenarnya, bila kita telah mengetahui tradisi sastra Sufi dan metode mengungkap makna-makna tersembunyi. "Tikus tanah" dalam bahasa Arab (khuld, dari akar kata KhLD) dan ditulis dengan ejaan yang sama dengan khalad, artinya "kekekalan, surga, pemikiran, pikiran, jiwa", sesuai dengan konteksnya. Karena hanya huruf konsonan yang tertulis, maka tidak ada maksud narativitas yang diacu kata ini secara khusus. Jika kata ini digunakan dalam bahasa Semit dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani oleh orang yang tidak memahami makna gandanya, maka unsur permainan katanya akan hilang. Lalu mengapa ada kata "batu" dan "kemenyan"? Karena dalam tradisi Sufi, "Musa (pembimbing kaumnya) menjadikan sebuah batu seharum pohon Kasturi." (Hakim Sanai, The Walled Garden of Truth). "Musa" di sini melambangkan suatu panduan pemikiran yang bertujuan mengubah sesuatu yang tampak seperti benda mati dan lembam menjadi sesuatu yang 3 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "seharum pohon Kasturi" sesuatu yang hampir bisa dikatakan sebagai kehidupan itu sendiri. Kisah ini menunjukkan bahwa "induk" pemikiran (asal-usul, matriks, kualitas esensialnya) mempresentasikan frankincense (pengalaman tak terpahamkan) bagi pikiran atau pemikiran. Karena individu (tikus tanah) terpaku pada "penglihatan" (upaya mengembangkan fakultas jiwa secara keliru), maka ia kehilangan kemampuan untuk menggunakan fakultas lainnya. Menurut Sufi, alih-alih memasuki dirinya sendiri dengan cara tertentu untuk menemukan dan mencapai perkembangannya, manusia justru mencari di luar dirinya dan mengikuti berbagai ilusi (sistem metafisik yang dikembangkannya secara keliru) serta sebenarnya melumpuhkannya. Lalu apa potensialitas batin "tikus tanah"? Kita bisa melihat seluruh kelompok kata dalam bahasa Arab yang berakar kata KhLD sebagai berikut: KhaLaD = kekal, abadi. KhaLLaD = melestarikan sesuatu. AKhLaD = cenderung, setia sepenuhnya (kepada seorang sahabat). KhuLD = keabadian, surga, kesinambungan. KhuLD = tikus tanah, suara burung. KhaLaD = pemikiran, pikiran, jiwa. EL-KhUALiD = pegunungan, karang, penyangga sebuah pot. Bagi Sufi, kelompok kata ini mengandung persoalan esensial tentang pengembangan pribadi manusia. Ia adalah sebuah peta Sufisme. Karena koinsiden (secara kebetulan), tikus tanah dipilih sebagai simbol pikiran atau pemikiran. Ia mempunyai arti yang sama dengan keabadian, kesinambungan, penyangga. Sufisme berkaitan dengan pelestarian kesadaran manusia melalui sumbernya di dalam pikiran. Sementara kesetiaan utuh kepada sesama adalah suatu tugas esensial. Oleh karena itu sebagaimana dipercaya para komentator, kisah Aesop ini bukan berarti bahwa "mengungkap seorang penipu adalah mudah". Kami tidak mengingkari bahwa "kisah" itu dianggap demikian selama berabad-abad. Namun penggunaan kata kemenyan dan tikus tanah serta tradisi Sufi dalam menyampaikan ajaran tertentu berupa kata-kata seperti dalam kisah Aesop itu, membantu kita membukakan pintu rahasia. Dengan melihat sejumlah materi sastra dan filsafat melalui penjelasan ini, kita terdorong untuk mengingat pesan Rumi, seorang pengarang dongeng besar dari Asia Minor. Ia mengatakan bahwa kanal mungkin tidak bisa diminum, namun ia menyalurkan air kepada orang-orang yang kehausan. Mereka yang tertarik pada interpretasi simbolisme tikus tanah ini mungkin kini merasa bahwa hikmah dalam kisah pelipur hati Aesop ini mengandung "zat gizi" yang kita cari. 3 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Rumi hidup hampir dua abad setelah Aesop. Ia mengatakan, "Sebuah dongeng, fiksi atau sejenisnya menjelaskan kebenaran." Namun kita tidak perlu mengikuti bahasa Arab sendiri sebagai sumber aktual bahasa Semit dan asal kisah Aesop itu. Bahasa Arab berguna sebagai alat, karena sebagaimana dibuktikan para filolog (ahli tentang sifat dan perkembangan bahasa), ia melestarikan hubungan kata-kata yang, dikelompokkan sesuai dengan pola primitif. Sementara bahasa Semit lainnya telah merusak makna-maknanya. Baik di Barat maupun di Timur, ada banyak contoh tentang kristalisasi ajaran yang sama dalam kesusastraan, ritual dan kepercayaan rakyat. Fenomena semacam ini dianggap tidak penting: seperti berbagai lelucon yang dikaitkan dengan Nashruddin, Joe Miller dan lainnya, dikaji secara lahiriah. Banyak Puisi Omar Khayyam yang ditujukan untuk mendorong para pembacanya berpikir jelas melalui reduksi kehidupan sebagai absurditas, dipahami secara dangkal sehingga Khayyam tampak sebagai orang "pesimis". Pemikiran Plato sejalan dengan maksud para Sufi, yaitu menunjukkan batas-batas logika formal dan kemudahan orang terjatuh dalam penalaran yang keliru, namun pemikirannya dianggap defektif (cacat), tidak lebih dari itu. Dalam beberapa hal, seperti kisah Aesop, kanal itu tetap menyalurkan air meskipun ia tidak diakui sebagai kanal. Dengan kata lain, orang-orang tetap melakukan berbagai ritual dan kepercayaan yang tidak berarti yang mereka rasionalisasikan sehingga tidak mempunyai dinamika yang nyata dan sebenarnya hanya tertarik pada hal-hal yang antik. Penyair besar Sufi, Jami' mengatakan tentang mereka, "Awan kering tak berair, tidak mengandung hujan." Namun kultuskultus itu seringkali hanya merupakan tiruan dari simbolisme yang disusun secara seksama berdasar pada analogi puitis dan justru semua itu dikaji dengan sungguhsungguh. Sementara orang berpikir bahwa kultus-kultus itu mengandung kebenaran metafisis dan magis tertentu, sementara lainnya menganggap bahwa semua itu mempunyai nilai historis. Tentang sebuah kultus atau kelompok yang mengikuti sebuah tema dan pada awalnya disusun dari kelompok kata tertentu, kita tidak mungkin memahaminya atau bahkan menuliskan sejarahnya kecuali kalau kita tahu asal-usulnya. Karena unsur matematisnya yang khas dan dipilih sebagai sarana untuk menyampaikan pengetahuan tertentu di Timur dan Barat, maka bahasa Arab sangat penting untuk kajian ini. Disamping itu, karena hampir semua penyusunan kata secara aljabar itu terdiri dari tiga huruf, bahasa Arab sangat simpel yang hampir tidak diperkirakan oleh orang yang tidak mengetahuinya. Namun kita hanya berhubungan dengan kata-kata dan kelompok konsonan, bukan tata bahasa, sintaksis, apalagi huruf-huruf Arab, karena kata-kata itu semuanya bisa diterjemahkan secara memadai sesuai dengan tujuan kita melalui huruf-huruf Latin. Kita menyulih satu huruf dengan huruf lainnya. Biasanya kita memodifikasi huruf itu agar bisa menyampaikan kata orisinalnya. Secara substansial, hal ini adalah sebuah seni yang digunakan secara luas di wilayah Timur ketika huruf Arab dan tradisi pengetahuan Sufi menyebar dan digunakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui secara mendalam tentang bahasa Arab sendiri. Jadi bahasa Arab bisa digunakan sebagai kode oleh masyarakat Timur maupun Barat Latin pada Abad Pertengahan.1 3 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Hubungan orangtua dan anak itu (tikus tanah dan ibunya) digunakan oleh para Sufi untuk menjelaskan latihan "penglihatan" yang sempurna sebagaimana hubungan puncak antara Sufi dan "penglihatan" terakhir terhadap kebenaran obyektif. Bagi Sufi, inkarnasi keagamaan atau penjelmaan hubungan itu hanyalah suatu metode kasar dan sekunder dalam menggambarkan suatu pengalaman yang terjadi pada individu atau kelompok -- pengalaman religius dalam melakukan penyadaran diri. "Sufi yang sempurna (tercerahkan) adalah manusia agung, mulia dan luhur. Melalui cinta, aural dan harmoni, ia telah mencapai tingkat keagungan paling tinggi. Semua rahasia terungkap baginya dan seluruh kehidupannya dikaruniai kekuatan magis. Dia adalah Penuntun dan Musafir di Jalan keindahan, cinta, tahap-tahap pengalaman, kekuatan dan perwujudan tak terbatas. Dia adalah Penjaga kearifan paling kuno, Perintis mengungkap rahasia-rahasia terdalam. Dia adalah Sahabat penuh kasih yang mengangkat keberadaan kita dan membawa makna baru bagi kemanusiaan." Semua ini adalah gambaran sang Sufi yang dipaparkan oleh seorang penulis kontemporer. Meskipun ia sendiri bukan Sufi, namun ia hidup di antara para penganut Jalan Cinta itu. Sufi tampaknya merupakan sosok yang senantiasa berubah sikap. Namun bagi mereka yang mempunyai kepekaan batin, ia sama, karena kepribadiannya yang hakiki adalah batin, bukan lahir. Seorang sarjana dari Kashmir yang telah lama sekali tinggal di sebuah pusat pengajaran Sufi pada abad ketujuh belas, telah melakukan apa yang dewasa ini disebut sebagai penelitian karakteristik umum dari mistik Sufi. Dia lah Sirajuddin yang telah berkelana ke berbagai negara tetangganya, bahkan sampai ke Jawa, Cina dan Gurun Sahara. Ia berbicara langsung dengan para Sufi dan menyusun tradisi mereka yang tak tertulis. "Sufi adalah manusia sempurna," kata Sirajuddin, "ketika ia mengatakan, 'Di antara bunga-bunga mawar, ada satu mawar dan di antara duri-duri, ada satu duri,' ia sama sekali tidak bermaksud membicarakan perilaku sosial. Para Sufi adalah penyair dan pecinta. Dilihat dari dasar ajarannya, mereka adalah pasukan, pelaksana dan tabib. Di mata para pengamat, mereka tampak seperti tukang sihir, mistikus, para pekerja seni yang tak terpahami. Bila Anda menghormati mereka sebagai orang suci, Anda akan mendapat rahmat dari kesucian mereka. Namun bila Anda bergabung dengan jamaah mereka, Anda memperoleh rahmat dari jamaah mereka. Bagi mereka dunia ini adalah suatu perangkat untuk memperbaiki ummat manusia. Bila kita mengidentifikasi proses kreasi mereka yang sinambung, mereka sendiri adalah pencipta manusia sempurna lainnya. Di antara mereka ada yang membuka suara, namun ada juga yang berdiam diri, ada yang berjalan-jalan seperti gelisah, namun ada yang duduk mengajar. Untuk memahami mereka, Anda harus menggunakan intelegensi intuitif, biasanya dengan menekan musuh bebuyutannya, yaitu intelegensi logis. Sebelum Anda memahami ketidaklogisan dan kesia-siaan perilaku mereka, sebaiknya jauhilah mereka kecuali untuk kebaktian tertentu, formal dan jelas."2 Seorang Sufi tidak bisa didefinisikan dengan serangkaian kata-kata atau gagasan, tapi mungkin bisa melalui sebuah gambaran, gerakan dan isyarat dari dimensi lain. Salah seorang guru besar Sufi, Rumi, menguraikan keberadaan Sufi sebagai berikut: 3 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi (Ia) mabuk tanpa anggur, kenyang tanpa makanan, sangat resah, tidak makan dan tidak tidur, raja dengan jubah sederhana, harta karun di bawah puing-puing reruntuhan, bukan udara bukan tanah, bukan api dan bukan air, samudera tiada bertepi. Ia mempunyai seratus bulan, langit dan mentari. Ia manusia bijak karena mengetahui kebenaran universal -- tidak seperti sarjana yang belajar dari buku.3 Apakah ia agamawan? Tidak, ia jauh lebih dari itu, "Ia di seberang atheisme dan keimanan biasa. Lalu apa arti pahala dan dosa baginya? Ia tersembunyi -- carilah dia!" Sebagaimana kita ketahui dalam berbagai pernyataan paling masyhur dalam Diwan asy-Syams at-Tabriz pada abad ketiga belas, Sufi adalah sosok rahasia, tersembunyi lebih dalam dari pengikut madzhab rahasia mana pun. Nama individual Sufi banyak dikenal di dunia Timur. Perkampungan para Sufi terdapat di tanah Arab, Turki, Persia, Afghanistan, India dan Malaysia. Para peneliti Barat yang keras kepala semakin berusaha menggali rahasia-rahasia Sufi, maka tugas itu tampaknya semakin bertambah rumit. Karya mereka selalu membanjiri bidang-bidang mistisisme, Arabisme, Orientalisme, sejarah, filsafat dan bahkan kesusastraan umum. Dalam sebuah ungkapan Sufi, "Rahasia senantiasa menyembunyikan diri. Ia hanya bisa ditemukan dalam semangat dan Karya (Sufi)." Seorang guru besar arkeologi terkemuka mungkin adalah tokoh terbesar Barat yang mempunyai otoritas kajian Sufi -- bukan lantaran ia seorang akademisi, namun karena ia seorang Sufi. Laki-laki atau perempuan Timur mungkin kerapkali menganggap Sufi sebagaimana orang Barat membayangkan sosok mistik Timur itu, yaitu anggapan bahwa Sufi adalah orang yang dilimpahi berbagai kekuatan supranatural, pewaris berbagai rahasia yang melanjutkan simbol kearifan para leluhur dan abadi. Sufi dapat membaca pikiran Anda, bisa berpindah tempat dalam sekejap, mempunyai hubungan-hubungan khusus dengan makhluk dari dunia lain. Sufi biasanya dipercaya mampu mengobati penyakit. Tidak sedikit orang akan bercerita kepada Anda tentang cara para Sufi menyembuhkan penyakit dalam sekejap atau dengan cara-cara tertentu yang tak dapat dijelaskan.4 Para Sufi dianggap mampu mengatasi tugas-tugas mereka yang sulit: banyak individu menjadi saksi kepercayaan ini. Meskipun mereka sering melakukan kesalahan, namun sangat jarang disanggah dibandingkan orang lainnya. Mereka mendekati masalah yang sama sekali berbeda dengan orang pada umumnya. Namun tindakantindakan mereka dibuktikan dengan berbagai peristiwa nyata. Mereka meyakini bahwa mereka sendiri mengambil bagian dalam evolusi kemanusiaan yang agung. Bila kepercayaan populer yang mungkin mencakup sejumlah kultus terhadap orang suci di seluruh wilayah Timur Tengah kini tersebar luas, semua ini karena pengaruh berbagai legenda dan tradisi para guru Sufi, pribadi yang diagung-agungkan oleh para penganut dari semua aliran kepercayaan. Para Sufi tempo dulu bisa berjalan di atas air, menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi di tempat-tempat yang sangat jauh, mengalami realitas kehidupan sejati dan banyak lagi hal-hal serupa. Bila seorang guru Sufi berbicara, para pendengarnya mengalami semacam 3 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi keterpesonaan mistikal dan kekuatan magis yang matang. Di mana pun Sufi berada, para mistikus dari kepercayaan lain dan seringkali tokohnya yang terkemuka, menjadi murid-muridnya -- kadangkala tanpa diperintah. Di dunia material, pengaruh Sufi berdasar pada karya dan kreativitas, serta secara umum diakui karena prestasi individual Sufi. Filsafat dan berbagai penemuan ilmiah Sufi pada umumnya dianggap telah dicapai melalui kemampuan khas mereka. Sementara kalangan teosofis atau intelektual konvensional merasa bahwa mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, sehingga meskipun mereka seringkali mengingkari kemungkinan suatu bentuk kesadaran khas yang dicapai oleh kalangan elit mereka, mereka terpaksa mengakui bahwa para Sufi adalah pahlawan-pahlawan bangsa di beberapa negara dan berjasa dalam mengembangkan sastra klasik di negara lainnya. Diperkirakan dua puluh sampai empat puluh juta orang menjadi anggota atau berafiliasi dengan madzhabmadzhab Sufi sehingga para Sufi semakin besar jumlahnya. Mungkin saja tetangga Anda adalah Sufi, atau mungkin orang yang ada di seberang jalan, perempuan yang membantu tugas Anda, seorang pertapa di saat-saat tertentu, baik kaya maupun miskin adalah seorang Sufi. Tiada penyelidikan terhadap realitas Sufi yang dapat sepenuhnya dilakukan dari luar, karena Sufisme menuntut partisipasi, latihan dan pengalaman. Meskipun para Sufi telah menulis banyak buku, namun mereka mungkin menggunakan cara-cara khas dan tampaknya bertentangan satu sama lain serta tidak mudah dipahami orang yang tidak berpengalaman atau ternyata mempunyai maksud-maksud yang berbeda dibandingkan maksud-maksud yang dangkal. Salah satu kendala untuk memahami Sufisme melalui kepustakaan Timur telah dicatat beberapa sarjana yang telah mencoba menelitinya, termasuk Profesor Nicholson yang telah lama bekerja untuk memahami dan memperkenalkan pemikiran Sufi ke dunia Barat. Dalam karya seleksi beberapa tulisan Sufi, ia mengakui bahwa "sebagian besar karya tulis mereka aneh dan unik, karena semua karya mereka yang masih ada jarang menunjukkan makna yang jelas kecuali bagi mereka yang mempunyai kunci rahasianya. Sementara orang yang tidak mengetahuinya, hanya akan memahaminya secara literal atau tidak sama sekali."5 Sebuah buku seperti ini "menyusun dirinya sendiri" sesuai dengan pola (karangan) Sufi; dan secara definitif buku ini harus mengikuti pola Sufi, bukan pola konvensional. Oleh karena itu, materi dan metodenya khas dan tidak dapat didekati melalui kriteria umum. Inilah yang dikenal dengan metode "menabur", dan hasilnya dianggap efektif jika berdasar pada kegiatan majemuk. Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa bentuk pemahaman menjadi mungkin karena ditunjang pengalaman. Pikiran manusia adalah satu bagian, bagian lain adalah dampak-dampak yang diterima dan kemampuannya untuk memahami dampak-dampak itu. Interaksi antara dampak dan pikiran itu menentukan kualitas kepribadian. Dalam Sufisme, proses fisik dan mental itu dijalani dengan sadar. Hasil proses ini dianggap lebih efisien. Alih-alih waktu, zaman dan kebetulan, "Hikmah" dipandang sebagai hasil yang tak terelakkan. Para Sufi menyamakan 3 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi proses ini dengan analogi antara orang liar yang makan segala sesuatu dan orang beradab yang memilih makanan yang sehat dan enak baginya. Maka dari itu kita tidak mungkin dapat menguraikan maksud pemikiran dan tindakan Sufi dengan cara konvensional serta sederhana dan metode perbincangan, karena alasan-alasan di atas. Ketidakmungkinan ini diibaratkan dalam pepatah Sufi: "mengirimkan ciuman melalui orang lain". Sufisme mungkin muncul secara alamiah, namun juga merupakan bagian dari perkembangan manusia yang lebih tinggi dan perkembangan kesadaran manusia sendiri. Sarana pengungkapannya yang memadai biasanya tidak ada di dalam masyarakat yang tidak menjalankan bentuk pengembangan lanjut itu. Disamping itu, iklim pengungkapannya (sastra, pemakaian bahasa rahasia, contoh, dan lain-lainnya) berada di wilayah yang berbeda. Sementara kalangan yang berpikir metafisik dan terutama mereka yang merasa bahwa dirinya meminati bidang mistisisme atau "persepsi batin", biasanya tidak mempunyai pemahaman yang lebih luas tentang kemanusiaan tempat Sufisme memusatkan perhatiannya. Terutama menyangkut pemahaman kuat tentang keunikan personal "yang ditangkap" dari orang lain, subyektivitas mereka mungkin merupakan kelemahan yang serius. Tidak ada Sufisme yang dapat disederhanakan, namun ia tidak berada di wilayah kognisi pikiran kabur, sebagaimana mungkin orang mengira bahwa pikiran dapat memahaminya dan menyerap hal-hal spiritual berdasarkan pikiran yang sangat kabur sesuai dengan asumsi dirinya. Bagi Sufi, personalitas demikian, betapapun vokalnya (dan seringkali demikian), hampir tidak ada. Seseorang yang berkata, "Semua itu memang tak terperikan, tetapi saya tentu saja bisa merasakan 'apa yang Anda maksud'," ia tidak mungkin dapat mengambil manfaat dari Sufisme. Hal ini karena para Sufi bekerja dan melakukan suatu upaya untuk membangkitkan suatu bidang kesadaran melalui suatu pendekatan khas, bukan secara kebetulan. Sufisme tidak bekerja dengan kejujuran yang dibuat-buat, tidak mengharapkan pujian dan sikap setengah-setengah. Seperti sebuah sengatan yang kemudian menghilang, demikian pula unsur Sufi menghilang dari suatu situasi atau sebaliknya. Sufisme tidak ditujukan kepada sebagian masyarakat -- karena masyarakat tidak terpecah-pecah sedemikian rupa. Namun ia ditujukan pada fakultas tertentu dari setiap individu. Bila fakultas ini tidak diaktifkan, maka di sana tidak ada Sufisme. Fakultas ini terdiri dari realitas-realitas "keras" maupun "lunak", kontradiksi maupun harmoni, kecemerlangan kesadaran maupun kegelapan remang-remang dan membuat orang terlena. Faktor sentral ini diekspresikan dengan baik dalam puisi Sufi, dan seringkali dengan teknik yang sempurna. Kadangkala secara manusiawi, kadangkala dengan teknik yang tidak lazim. Generasi ahli puisi konvensional telah mencurahkan kehidupan mereka untuk menganalisa khazanah yang unik ini dari sudut pandang berbeda -- dari sudut "variasi kualitas" seorang penyair. Seorang penyair menanggapi hal ini sebagai berikut: Wahai kucing dengan cita rasa susu asam, ahli dalam menyamarkan rasa pahit! Engkau adalah sampah yang telah bersepakat tentang susu asam. Dengan maksud 3 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi yang sama engkau membenci keju, mentega dan susu hangat dari perahan kelenjarnya. Engkau bukan ahli keju, begitu katamu kan? Sesungguhnya ia lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Penyair Sufi lain, dengan gaung modern yang terdengar aneh, mengemukakan tulisan cerdas berikut ini: Bisakah kita melukis sebuah gambar sempurna atau memintal permadani secara sempurna? Bisakah kita menggetarkan lidah kita sepanjang malam untuk menyelidiki setiap orang yang menyimpang dari kesempurnaan? Hal ini baik, ini adalah tugas manusia sempurna. Semacam tugas seorang bocah yang bersungguhsungguh dalam menentukan bahan-bahan yang menyempumakan pembuatan kue lumpurnya. Seseorang yang telah merasakan keju-keju supermarket kontemporer yang sangat steril, namun tidak terlalu steril, ia akan mempunyai cita rasa sang penyair, demikian kiranya. Hilaly yang dituduh "menggunakan pedang untuk memotong seutas benang", menyatakan, "Mungkinkah saya menggunakan madu untuk menaklukkan unta?" Ada banyak Sufi palsu. Mereka mencoba mengambil manfaat dari prestise gelar Sufi. Di antara mereka ada yang telah menulis buku, namun mereka hanya menambah kebingungan para pengamat. Beberapa spirit Sufi mungkin saja bisa disampaikan melalui tulisan, dengan syarat kita sepakat bahwa sebenarnya Sufisme harus dialami secara sinambung atau dibuktikan dengan pengalaman sendiri. Sufisme tidak hanya tergantung pada dampak artistik, namun mesti berdampak pada kehidupan nyata. Dalam sebuah definisi, Sufisme adalah kehidupan manusia. Kekuatan magis dan metafisik biasanya bersifat insidentil, meskipun kekuatan ini mungkin berperan dalam proses kehidupan, jika tidak dalam keunggulan atau kepuasan personal. Adalah benar bila upaya menjadi Sufi yang didorong oleh hasrat untuk memperoleh kekuatan personal itu tidak akan berhasil. Yang valid adalah hasrat murni untuk mencapai kebijaksanaan. Langkah ini adalah metode asimilasi, bukan metode kajian. Untuk mengamati para Sufi melalui apa yang sebenarnya merupakan derivasi dari teknik-teknik Sufi, pertama kita seharusnya melihat beberapa hal penting namun tetap mempunyai tujuan yang sama. Langkah ini dapat diilustrasikan sebagai berikut. Seorang anak yang belajar membaca, pertama ia harus mengetahui aksara. Ketika dapat membaca kata-kata, ia tetap menggunakan pengetahuannya tentang aksara, namun ia kini membacanya dalam kata-kata. Jika hanya memperhatikan aksara demi aksara, ia mungkin sangat mengalami kesulitan dalam membaca, karena ia masih menggunakan pengetahuannya di jenjang pertama. Kata maupun aksara kini harus dipandang dalam perspektif yang lebih utuh, demikian pula metode Sufi. 3 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Proses ini sebenarnya lebih mudah dijalankan ketimbang didengarkan, sebab melakukan sesuatu seringkali lebih mudah dibandingkan memaparkannya. Saya ingin mengemukakan pandangan sekilas tentang sebuah lingkaran (halaqah) Sufi, unit dasar dan inti kegiatan Sufi. Sekelompok murid tertarik kepada seorang guru. Mereka menghadiri majelis gurunya pada setiap malam Jum'at. Tahap awal acara ini kurang begitu formal, yaitu waktu bagi para murid untuk mengajukan pertanyaan dan menerima jawabannya. Pada kesempatan ini, seorang murid baru bertanya kepada guru kami, Agha, apakah dasar utama pengalaman mistik yang dimiliki manusia. Agha menjawab, "Kita mempunyai sebuah istilah yang merangkum semua pengalaman mistik itu. Istilah ini melukiskan apa yang sedang kita kerjakan dan merangkum pola pemikiran kita. Dan istilah ini engkau akan dapat memahami dasar eksistensi kita dan alasan mengapa manusia pada umumnya memperselisihkannya. Istilah ini berbunyi Anguruzuminabstafil." Kemudian ia mengisahkan melalui kisah tradisional berikut ini: Konon ada empat pria -- orang Persia, Turki, Arab dan Yunani -- berhenti di sebuah jalan desa. Mereka tengah mengadakan perjalanan bersama-sama dan telah melalui beberapa tempat terpencil. Pada saat itu mereka berdebat untuk membelanjakan sekeping uang sisa bekal mereka. "Aku ingin membeli angur," kata si orang Persia. "Aku ingin uzum," kata si orang Turki. "Aku menginginkan inab," kata si orang Arab. "Tidak!" kata si orang Yunani, "kita seharusnya membeli stafil." Seorang pengembara lain lewat, seorang ahli bahasa, dan berkata, "Berikan uang logam itu kepadaku. Aku akan berusaha memenuhi semua keinginan kalian!" Mulanya mereka tidak mempercayainya. Akhirnya mereka memberikan uang logam itu kepadanya. Ia lalu pergi ke toko buah dan kembali membawa empat ikat anggur. "Inilah angur-ku," kata-orang Persia. "Nah, ini yang kusebut uzum," kata orang Turki. "Wah, engkau telah membawakan inab bagiku," kata orang Arab. "Tidak!" kata orang Yunani, "dalam bahasaku ini stafil." Anggur-anggur itu dibagikan kepada mereka. Masing-masing menyadari bahwa perbedaan pendapat itu disebabkan oleh bahasa mereka yang berbeda satu sama lain. 3 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Para pengembara itu adalah masyarakat pada umumnya," kata guru Agha. "Sementara ahli bahasa itu adalah Sufi. Masyarakat sadar bahwa mereka menginginkan sesuatu, namun ada kebutuhan batin yang sama dalam diri mereka. Mereka memberikan nama-nama berbeda untuk itu, namun pada dasarnya sama. Apa yang disebut agama mempunyai nama yang berbeda-beda, bahkan mungkin gagasan yang berbeda. Apa yang disebut ambisi mereka adalah upaya mencari ruang lingkup agama dengan cara berbeda. Hanya saja ketika seorang ahli bahasa muncul, yaitu orang yang mengetahui apa yang sebenarnya mereka maksudkan, mereka kemudian berhenti bertikai. Mereka lalu melanjutkan makan anggur-anggur itu." Agha melanjutkan bahwa kelompok pengembara itu lebih dewasa dari orang kebanyakan, karena mereka sebenarnya mempunyai gagasan positif tentang kebutuhan mereka, meskipun tidak bisa mengkomunikasikannya. Pada umumnya individu berada pada tingkat aspirasi lebih awal dibandingkan pada tingkat pemikiran. Ia menginginkan sesuatu, namun tidak tahu apa keinginannya itu -- meskipun mengira bahwa dirinya tahu. Pola pemikiran Sufi itu terutama sesuai dengan bidang komunikasi massa, karena setiap upayanya bertujuan meyakinkan masyarakat bahwa mereka menginginkan atau membutuhkan beberapa hal, bahwa mereka seharusnya mempercayai beberapa hal. Akibatnya mereka seharusnya melakukan beberapa hal yang diinginkan oleh para manipulator mereka. Sang Sufi berbicara tentang sari anggur, hasil dari buah anggur dan potensi rahasianya, sebagai sarana baginya untuk mencapai "kemabukan". Buah anggur dipandang sebagai bahan mentah minuman anggur. Sementara buah-buah anggur itu adalah ibarat dari agama biasa dan minuman anggur adalah inti agama. Oleh karena itu, empat pengembara itu dianggap sebagai manusia biasa dengan agama yang berbeda-beda. Sufi menunjukkan kepada mereka bahwa dasar agama sebenarnya sama. Namun ia tidak menawarkan saripati anggur kepada mereka, yaitu esensi agama, ajaran batiniah yang ditangguhkan pengajarannya dan hanya digunakan dalam mistisisme. Ini adalah suatu bidang yang lebih matang dibandingkan agama yang mapan. Bidang ini berada di jenjang berikutnya. Namun peran Sufi sebagai pelayan kemanusiaan ditunjukkan bahwa meskipun ia berada pada tingkat lebih tinggi, ia membantu agamawan formal semampunya, dengan menunjukkan identitas fundamental dari kepercayaan agama. Tentu saja ia melanjutkan pada pembahasan tentang berbagai manfaat saripati anggur itu. Namun apa yang dibutuhkan para pengembara itu adalah buah anggur, sehingga mereka hanya menerima buah anggur. Menurut Sufi, bilamana pertikaian tentang persoalan-persoalan yang lebih kecil mereda, maka pengajaran yang lebih agung bisa diberikan. Untuk itu beberapa ajaran awal harus diberikan. Sementara orang yang belum tercerahkan tidak pernah begitu memahami dengan jelas apa dasar utama mistisisme itu. Dalam sebuah versi kisahnya (Matsnawi, Buku II), Rumi menyinggung sistem latihan Sufi itu ketika ia menyatakan bahwa anggur-anggur yang diperas bersama-sama akan menghasilkan satu sari buah -- anggur Sufisme. 3 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Para Sufi seringkali memulai ajarannya dari sudut pandang non-religius.6 Menurut mereka, jawabannya ada di dalam pikiran manusia sendiri. Pikiran ini harus dibebaskan, sehingga melalui pengetahuan-diri, intuisi menjadi pemandu bagi penyempurnaan manusia. Langkah lain yaitu metode latihan, hanya akan menekan dan menenangkan intuisi. Kemanusiaan ini dibawa ke dalam kondisi binatang oleh sistem non-Sufi, bila dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai pilihan berbuat dan berpikir adalah manusia bebas. Sufi adalah individu yang percaya bahwa melalui ketakberpihakan yang lentur dan identifikasi kehidupan, ia akan menjadi bebas. Ia adalah seorang mistikus, karena percaya bahwa dirinya bisa menyesuaikan diri dengan tujuan kehidupan. Ia adalah praktisi, karena percaya bahwa proses itu harus dijalankan dalam masyarakat biasa. Ia harus melayani kemanusiaan karena ia adalah bagian darinya. At-Tughrai yang agung, tokoh Sufi sezaman dengan Omar Khayyam, menulis peringatan berikut ini pada tahun 1111 M.: "Wahai manusia, ilmu itu banyak sekali mengandung informasi untuk memahami rahasia-rahasia; simaklah, karena diam berarti selamat -- 'Mereka telah membantumu mencapai sebuah tujuan, sehingga engkau benar-benar memahaminya. Hati-hatilah terhadap mereka sendiri, agar engkau tidak memberi makan kambing yang hilang'." Bagian ini diterjemahkan Edward Pococke pada tahun 1661. Agar upaya itu berhasil, ia harus mengikuti metode yang telah dipikirkan oleh para guru terdahulu, yaitu metode melepaskan berbagai latihan yang mengungkung sebagian besar masyarakat dalam lingkungan dan dampak pengalaman mereka sendiri. Latihan-latihan dari para Sufi itu dikembangkan melalui interaksi dua hal -- intuisi dan perubahan aspek-aspek kehidupan manusia. Sementara keanekaragaman metode intuitif itu mengesankan kemandiriannya dalam berbagai masyarakat dan setiap zaman. Ini bukan tidak konsisten, karena intuisi sejati itu sendiri selalu konsisten. Sufi dapat hidup di zaman dan tempat manapun. Mereka tidak perlu meninggalkan dunia, berbagai gerakan terorganisir atau dogma. Kehidupan mereka menyatu dengan kemanusiaan. Oleh karena itu, pemikiran mereka secara akurat tidak dapat diistilahkan sebagai sistem dari Timur. Pemikiran mereka telah mempengaruhi secara mendalam baik di Timur maupun dasar-dasar peradaban Karat tempat sebagian besar kita hidup di dalamnya -- perpaduan orang Kristen, Yahudi, Muslim dan warisan Timur Dekat atau Mediterania yang biasa disebut "Barat". Menurut para Sufi, ummat manusia selamanya dapat disempumakan. Kesempurnaan itu dicapai melalui penyesuaian dengan keseluruhan eksistensi. Kehidupan fisik dan mental akan berpadu bila benar-benar ada keseimbangan yang sempurna di antara keduanya. Sementara sistem-sistem yang mengajarkan pemisahan dari dunia ini dianggap sebagai tidak seimbang. Latihan-latihan fisik itu berkaitan dengan pola-pola teoritis. Dalam psikologi Sufi, ada hubungan penting, misalnya antara ajaran Tujuh Jenjang Manusia7 dengan integrasi kepribadian; dan antara gerakan, pengalaman dengan pencapaian progresif pada personalitas yang lebih tinggi. 4 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Kapan dan di mana pemikiran Sufi dimulai? Bagi mayoritas Sufi, pertanyaan ini kurang begitu relevan bagi aktivitas mereka. "Tempat" Sufisme di dalam kemanusiaan. "Tempat" karpet ruang tamu Anda berada di lantai rumah Anda -- bukan di Mongolia, meskipun asal-usulnya dari sana. "Praktek Sufi sangat sublim untuk dicari asal-usulnya," kata kitab Asrar al-Qadim wal-Qadim (Rahasia-rahasia Masa Lampau dan Masa Depan). Namun selama kita ingat bahwa sejarah kurang penting dibandingkan masa kini dan masa depan, maka ada banyak bahan untuk dikaji dari tinjauan penyebaran trend Sufi modern sejak tradisi ini menyebar dari daerah-daerah yang ter-Arab-kan sekitar empat belas abad yang lalu. Dengan memandang sekilas periode perkembangan ini, para Sufi menunjukkan bagaimana dan mengapa risalah penyempurnaan diri itu bisa diterapkan pada setiap bentuk masyarakat dan terlepas dari agama nominal atau komitmen sosial. Sufisme dipercaya oleh para pengikutnya sebagai ajaran batiniah, ajaran "rahasia" yang terkandung dalam setiap agama. Lantaran dasar-dasarnya terdapat dalam setiap pikiran manusia, maka perkembangan Sufi niscaya menemukan pengungkapannya di mana saja. Periode historis ajaran ini bermula dengan ledakan Islam dari padang pasir Arabia ke masyarakat-masyarakat mapan di Timur Dekat. Menjelang pertengahan abad ketujuh, ekspansi Islam ke luar perbatasan Arabia merupakan sebuah tantangan dan segera menjatuhkan kerajaan-kerajaan di Timur Tengah. Sementara setiap kerajaan telah mempunyai tradisi yang patut dihargai dalam bidang politik, militer dan agama. Pasukan Islam pada mulanya terdiri dari kaum Badui, namun kemudian merekrut dari suku-suku lain. Mereka telah menyerang wilayah utara, timur dan barat. Para Khalifah telah mewariskan tanahtanah Ibrani, Byzantium, Persia dan Graeco-Budhis. Para penakluk ini telah mencapai wilayah selatan Perancis di Barat dan lembah Indus di Timur. Penaklukan militer, politik dan keagamaan dari pusat negara-negara dan masyarakat Muslim itu kini meluas sejak dari Indonesia di Samudera Pasifik sampai Maroko di Samudera Atlantik. Dari latar belakang inilah para Sufi menjadi terkenal di Barat. Mereka mempertahankan suatu bentuk ajaran yang menghubungkan masyarakat spiritual sejak dari Timur Jauh sampai Barat terjauh. Para Khalifah awal sendiri telah memiliki kekuasaan wilayah lebih dari berjuta-juta ini, kekayaan yang sangat berlimpah, supremasi politik atas wilayah-wilayah terkenal pada Abad Pertengahan. Pusat-pusat pengetahuan kuno, terutama sekolah tradisional untuk pengajaran mistik, hampir semuanya jatuh ke tangan mereka. Afrika, masyarakat Mesir kuno termasuk Alexandria [Iskandariah] dan wilayah Barat terjauh, Chartage, tempat St. Agustinus mempelajari dan menyebarkan ajaranajaran esoteris pra-Kristiani.8 Demikian pula Palestina dan Syria sebagai kampung halaman ajaran-ajaran rahasia; Asia Tengah tempat para pengikut Budha sangat berakar kuat, India Barat Laut dengan latar belakang mistisisme dan pengalaman agama yang patut dihargai -- semuanya berada dalam imperium Islam. Di pusat-pusat inilah kalangan mistik Arab mengadakan perjalanan yang pada masa kuno dikenal dengan orang-orang yang mendekatkan diri (muqarribun) kepada Dzat 4 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Transenden. Mereka percaya bahwa secara esensial ada kesatuan di antara ajaran batiniah dari semua agama. Seperti John the Baptist, mereka mengenakan pakaian dari kulit unta, dan karena inilah mereka dikenal sebagai Sufi (Orang-orang yang mengenakan pakaian wool), meskipun hal ini bukan alasan satu-satunya. Sebagai dampak dari hubungan dengan kalangah Hanif itu,9 maka setiap pusat pengajaran tradisi rahasia kuno menjadi kubu Sufi. Kesenjangan antara tradisi dan praktek rahasia dari penganut Kristen, Zoroaster, Yahudi, Hindu, Budha dan lainnya dijembatani. Proses ini, yaitu titik pertemuan esensi ajaran itu, tidak pernah dipahami oleh kalangan non-Sufi sebagai suatu realitas. Oleh karena pengamat semacam ini ternyata tidak mungkin menyadari bahwa Sufi melihat dan menghubungkan aliran Sufi dalam setiap budaya, laksana seekor lebah mengisap berbagai bunga tanpa menjadi bunga. Bahkan penggunaan terminologi "pertemuan" untuk menunjukkan fungsi itu sangat tidak dipahami.10 Mistisisme Sufi secara mendasar berbeda dengan kultus-kultus lain yang mengklaim sebagai kultus mistik. Bagi Sufi, agama formal adalah semacam kerangka untuk menjalankan sebuah fungsi, meskipun sebagai kerangka asli. Ketika kesadaran manusia itu menyebar melampaui kerangka sosial itu (agama formal), Sufi tetap memahami tujuan agama yang sejati. Sementara persuasi kalangan mistik lainnya sama sekali tidak berpikir dengan pola pemikiran ini. Mereka mungkin bisa melampaui bentuk-bentuk lahiriah agama, namun mereka tidak memperhatikan fakta bahwa agama lahiriah hanyalah semacam pengantar pada pengalaman khas. Mayoritas orang yang telah mencapai ekstase masih tetap terikat pada simbolisasi yang mempesonakan dari beberapa konsep yang diderivasi dari agama mereka. Sufi menggunakan agama dan psikologi untuk melampaui semua ini. Dengan demikian, Sufi "kembali ke dunia" untuk membimbing sesamanya di jalan itu. Profesor Nicholson menekankan visi agama ini dari sudut pandang obyektif, dengan menterjemahkan syair Rumi berikut ini:11 Jika ada pecinta di dunia ini wahai Muslim, itulah Aku. Jika ada mukmin atau pertapa Kristiani, itulah Aku. Ampas anggur; pelayan kedai minuman, meja, harpa dan musik, Kekasih, lilin, minuman dan senda-gurau pemabuk, itulah Aku. Tujuh puluh dua kredo dan sekte di dunia ini, Sebenarnya tidak ada: Aku bersumpah demi Tuhan bahwa setiap kredo dari sekte, itulah Aku. Tanah, udara, air dari api, duhai, tubuh dan jiwa, itulah Aku. Benar dan salah, baik dan buruk, mudah dan sulit dari awal hingga akhir, itulah Aku. Pengetahuan, ilmu, asketisme, kesalehan dan iman, itulah Aku. Api neraka, tentu saja dengan apinya yang berkobar-kobar, Ya, surga, Eden dan Bidadari, itulah Aku. Bumi dan langit dengan segala isinya, itulah Aku. Malaikat, Peri, Jin, dan Manusia, itulah Aku. Rumi telah membongkar batas-batas kesadaran biasa. Kini ia dapat melihat segala sesuatu secara nyata, untuk memahami afinitas dan kesatuan dari segala sesuatu yang tampak berbeda, memahami peran manusia dan terutama peran Sufi. Ini 4 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi adalah pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan apa yang biasanya disebut mistisisme. Di hadapan sebagian besar Muslim fanatik yang bersemangat dan berjaya, memang rawan bila mengklaim sebagaimana dilakukan para Sufi bahwa realisasi manusia hanya berasal dari dalam dan tidak semata melakukan beberapa dan serta meninggalkan beberapa hal lainnya. Pada saat yang sama, Sufi berpendirian bahwa mistisisme harus dilepaskan dari sifatnya yang sangat rahasia, jika ingin menjadi kekuatan yang dapat melampaui setiap kemanusiaan. Dalam tradisi mereka sendiri, para Sufi memandang diri mereka sendiri sebagai pewaris suatu ajaran tunggal -- yang terpecah menjadi begitu banyak segi -- yang berguna sebagai sarana pengembangan manusia. "Sebelum kebun, tanaman dan buah anggur tercipta di dunia ini," tulis seorang Sufi, " jiwa kami telah mabuk karena sari anggur abadi." Dasar penyebaran pemikiran dan praktek Sufi diletakkan oleh para guru periode klasik -- mungkin dilakukan sekitar delapan ratus tahun pertama setelah lahirnya Islam -- kira-kira antara tahun 700 M. sampai 1500 M. Sufisme didasarkan pada cinta, dipraktekkan melalui dinamika cinta dan memanifestasikan dirinya melalui kehidupan manusia, Puisi dan karya. Karena para Sufi memandang Islam sebagai suatu manifestasi ketinggian esensi ajaran transendental, di sana tiada konflik antara Islam dan Sufisme. Sufisme telah mengambil dan memberi realitas batin Islam, seperti halnya setiap agama lainnya dan tradisi asli dalam aspek yang lama. Dalam Rubaiyat-nya, Sufi besar Omar Khayyam menekankan bahwa pengalaman batiniah ini tidak mempunyai hubungan nyata dengan teologi yang dianggap orang secara keliru sebagai agama yang sebenarnya: Di sel dan altar di biara dan sinagog, Sebagian takut akan neraka, yang lain mendambakan surga. Namun tak seorang pun mengetahui rahasia ketuhanan, Sehingga hatinya mempunyai pandangan seperti itu. Tahap untuk ikut serta dalam apa yang disebut Sufisme berbeda-beda dari segi iklim dan lingkungan, namun identik dari segi kesinambungan ajaran. Agamawan yang kaku dan formalis tidak mungkin mengakui hal ini, namun mereka relatif tidak penting. "Barangsiapa dapat melihat semua (segi) lukisan, ia akan dapat memahami atau mengungkapkannya." Prof. E.G. Browne menyatakan, "Bahkan asal-usul para Sufi sangat berbeda satu sama lain, karena sistem mereka pada hakikatnya individualistik dan kurang tertarik pada propaganda. Arif, gnostik atau manusia Bijak yang sangat maju itu telah melalui berbagai jenjang dan serangkaian latihan di bawah bimbingan para pir, mursyid atau pembimbing spiritual, sebelum ia mencapai tingkat gnosis (irfan) yang dipandang oleh semua agama kurang lebih sebagai ungkapan kabur dari Kebenaran mendasar dan agung. Dari sinilah ia pada akhirnya mencapai penyatuan dengan Kebenaran. Ia juga tidak pernah dapat dan berkeinginan menyusunnya untuk menyampaikan konsepsinya tentang Kebenaran 4 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi itu kepada siapa pun kecuali kepada sebagian kecil orang yang dengan latihan serupa siap menerimanya."12 Kadangkala orang yang mempunyai pola pikir konvensional sulit untuk memahami bagaimana aturan tindakan esensial Sufi itu mempunyai pengaruh yang luas. Karena Sufisme bisa eksis dalam Islam seperti dalam agama lainnya, maka dengan mudah ia dapat diajarkan melalui Islam. Perlu dicatat bahwa dua buku ikhtisar teologis dan legalistik, tentu saja dalam upaya mempublikasikan Sufisme sebagai ortodoksi agama, telah ditulis oleh para tokoh Sufi -- Kitab Ta'aruf dari Kalabadzi al-Bukhari (w. 995) dan risalah Sufi Persia yang pertama, Kasyful-Mahjub karya Hujwiri (w. 1063). Kedua pengarang ini mempunyai kedudukan tertinggi dalam peringkat Sufi, namun masing-masing berbicara layaknya seorang pengamat, bukan sebagai pemula. Omar Khayyam juga seringkali berbuat demikian dalam membahas mistifikasi dari para komentator literalis yang percaya begitu saja pada puisipuisinya. Para pengarang ini sangat memahami makna-makna rahasia. Mereka tidak pernah mereproduksi terjemahan. Oleh karena itu, memang benar bila Tarekattarekat Sufi Abad Pertengahan berkarya dengan cara itu. Mereka tetap melanjutkan kegiatannya yang secara umum dianggap sah dalam dunia Islam. Namun sebagaimana beberapa Sufi mencatat, "Sufisme secara eksklusif diajarkan sekaligus melalui tanda-tanda." Hasil akhir, yaitu Manusia Sempurna, juga dapat dicapai melalui kedua langkah itu. Simbolisme dan serangkaian pengalaman yang bertempat dalam Islam dan sistem lainnya yang berpadu melalui praktek Sufi itu adalah masalah lain, yang hanya bisa diberikan kepada para praktisi yang terkandung dalam diktum, "Barangsiapa mengalami, ia mengetahui." Meskipun banyak penjelasan telah diberikan -- dengan berbagai alasan -- untuk mengadopsi istilah "Sufi", ada suatu istilah penting yang diajarkan kepada para pengikut mistik ini -- yaitu istilah yang mengandung konsep Cinta dengan kata sandi. Demikian pula metode pemakaian sandi, saat ini menggunakan bahasa sandi konvensional, adalah kata-kata yang lebih lanjut dan mengandung pesan penting serta singkat. Sandi berfungsi melampaui dan meluruskan, sebagai pusaka dan bisa memenuhi kebutuhan dalam atau pada saat yang tepat. Jadi Sufisme adalah semacam filsafat transendental yang meluruskan dan diturunkan dari ajaran masa lampau serta sesuai dengan masyarakat kontemporer. Tujuan semua agama adalah pengembangan kemanusiaan. Bagi Sufi, evolusi Sufisme ada dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Perkembangan masyarakat dan nasib setiap makhluk -- bahkan termasuk makhluk tak hidup berkaitan dengan nasib Sufi. Selama beberapa waktu ia mungkin harus mengasingkan diri dari masyarakat -- selama beberapa saat, sebulan atau bahkan lebih -- namun pada akhirnya ia menyatu dengan keseluruhan yang abadi. Oleh karena itu peran Sufi sangat luas, tindakan dan kehadirannya akan tampak beragam sesuai dengan tuntutan kemanusiaan dan ekstra kemanusiaan. Jalaluddan Rumi menekankan ciri evolusioner dari upaya manusia yang berlaku baik pada individu maupun masyarakat. Ia menulis, "Aku mati sebagai materi yang kasar dan hidup sebagai tumbuhan. Aku mati sebagai tumbuhan dan hidup sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang, lalu sebagai manusia. Jadi mengapa aku harus takut kehilangan karakter 'kemanusiaanku'? Aku akan mati sebagai manusia, untuk bangkit dalam bentuk 'malaikat' ..." (Matsnawi, III, Kisah XVII). 4 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sesuai dengan pola Sufi, pendirian ini menjelaskan berbagai perilaku dan sikap para Sufi. Sambil menyesuaikan diri dengan realitas-realitas masyarakat, para Sufi periode awal Islam menekankan kepentingan mengasingkan diri dan disiplin -- faktor-faktor yang sangat merintangi ekspansi dan kemakmuran masyarakat yang tengah menyusun basis kemenangan militer di Timur Dekat. Sejarawan biasa melalaikan fakta ini dan konsekuensinya mereka mengamati para Sufi secara historis. Dalam hal ini mereka percaya bahwa mereka bisa memaparkan perkembangan independen dari para penganut Sufisme, misalnya Rabi'ah al- 'Adawiyah (w. 802), perempuan Sufi yang konon menekankan ajarannya pada Cinta (Ilahi) dan Abu al-Husain an-Nuri (w. 907) dengan ajarannya tentang pengasingan diri dari dunia. Kemudian dari satu titik tolak lebih lanjut, kita dikenalkan dengan pandangan hidup yang lebih rumit -- spekulatif dan filosofis. Lebih dari itu, muncul para pengikut trend Sufi berdasarkan prasangka tanpa menjalankan kultus. Perkembangan Sufisme itu tentu saja adalah sebuah fakta dan menurut Sufi penjelasannya sangat berbeda dengan fakta yang ditampilkan. Alasan utama karena unsur-unsur Sufisme selalu ada dalam keutuhan (hidup) mereka, di dalam pikiran mereka sendiri. Sementara variasi bentuk ajaran ditekankan di waktu yang berbeda-beda -- "Tidak ada orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk marah-marah." Individu seperti Rabi'ah dipilih sebagai contoh tentang beberapa aspek ajaran Sufi. Dalam membaca karya tulis itu, para pembaca yang belum mengenal Sufisme biasanya mempunyai asumsi kuat bahwa Sufi tertentu menghabiskan seluruh waktunya untuk menjaga aib-diri, bahwa sebelum Bayazid al-Bisthami (w. 875), tidak ada kemiripan antara Vedantisme dengan Budhisme, dan sebagainya. Mungkin berbagai kesimpulan itu mengandung kepastian, namun menunjukkan kemiskinan bahan-bahan kajian yang tersedia bagi murid biasa. Di sisi lain tentu saja selalu banyak Sufi yang ingin menjelaskan masalah ini, dan bagi mereka biasanya merupakan penjelasan umum. Namun adalah inheren di dalam pemikiran skolastik bahwa sesuatu yang dituliskan mempunyai validitas yang kuat dibandingkan sesuatu yang dikatakan atau dialami. Jadi lebih memungkinkan bila representasi Sufisme yang hidup sangat jarang dirujuk oleh para akademisi. Pengakuan atas iklim yang telah dikembangkan Islam sebagai iklim yang sesuai dengan penerapan kebijaksanaan Sufi mudah untuk dicatat. Meskipun berkembang suatu sistem kependetaan yang tidak diakui dalam Islam, yaitu para skriptualis berpikiran sempit yang bersikeras pada penafsiran dogmatis ajaran agama, Islam menyediakan kondisi yang lebih baik bagi propaganda suatu ajaran batiniah dibandingkan agama sebelumnya yang mana pun. Agama minoritas dijamin kebebasannya -- suatu kekebalan (hukum) yang sangat ditaati selama periode Para Sufi tampak aktif menyebarkan ajarannya. Islam sendiri kira-kira adalah suatu definisi legal. Lalu siapa itu orang mukmin? Minimal ia adalah seseorang yang mengucapkan kalimat La-ilahaa-illa-Allah, Muhammad ar-Rasul Allah, yang artinya, "Tidak ada yang disembah kecuali Ketuhanan, orang yang Terpuji adalah pengemban risalah peribadatan." Biasanya kalimat ini dipahami, "Tidak ada tuhan kecuali Allah, dan Muhammad adalah Utusan-Nya." Orang kafir adalah orang yang mengingkari secara aktif kalimat pernyataan Iman itu. Namun tidak ada orang yang dapat menilai isi hati, dengan demikian kepercayaan tidak dapat didefinisikan, tapi hanya bersifat inferensial (dugaan). 4 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Namun seseorang yang menyatakan bahwa ia sanggup melaksanakan kalimat itu, ia tidak dapat bertindak melawan bid'ah. Tidak ada dogma tentang karakter Ketuhanan dan hubungannya dengan Nabi yang tidak dapat diamalkan oleh seorang Sufi. Interpretasinya mungkin lebih bersifat mistik dibandingkan interpretasi kalangan skolastik. Namun tidak ada kekuatan yang eksis, tidak ada sistem kependetaan yang ditahbiskan, misalnya yang kemudian mengukuhkan kekuasaan kaum klerikal. Pada akhirnya Islam sebagai sebuah komunitas diatur oleh berbagai interpretasi para ahli hukum keagamaan. Mereka tidak dapat mendefinisikan Allah Yang berada di luar definisi manusia. Mereka juga tidak dapat menginterpretasikan kenabian secara tepat sebagai sebuah hubungan unik antara Tuhan dan manusia. Lebih jauh dari itu, Para Sufi dengan bebas menyatakan kalimat berikut ini, "Aku adalah penyembah berhala, karena aku paham apa makna penyembahan berhala, sementara penyembah berhala sendiri tidak." Menurut tradisi Sufi, disintegrasi tarekat tua di Timur Dekat menyatukan kembali "untaian suhu" sebagai madzhab esoteris yang menjalankan "aliran air raksa" di kerajaan Mesir, Persia dan Byzantium. Madzhab ini secara intrinsik merupakan Sufisme evolusioner. Bahkan Para Sufi menetapkan prinsip, yang seringkali diterima oleh dewan hukum Islam, bahwa berbagai pernyataan yang tampaknya tidak sopan dan diungkapkan dalam keadaan ekstase, tidak dapat dinilai secara lahiriah. "Jika semak belukar bisa mengatakan 'Akulah Kebenaran,' demikian pula manusia," kata seorang Sufi terkenal. Ada juga kepercayaan kuat di masyarakat bahwa Muhammad saw. mempunyai hubungan khusus dengan kalangan mistik lain, dan bahwa penganut yang taat dan "Para Pencari Kebenaran"13 yang sangat dihormati itu menyertai Muhammad selama hidupnya. Mereka mungkin adalah penerima suatu ajaran rahasia yang telah diajarkan Muhammad secara pribadi. Perlu diingat bahwa Muhammad tidak mengklaim membawa suatu agama baru. Ia melanjutkan tradisi monotheistik yang telah lama hidup. Ia menanamkan rasa hormat kepada para penganut kepercayaan lain dan berbicara tentang arti penting guru spiritual lainnya. Al-Qur'an sendiri diwahyukan melalui metode mistis dan mengandung banyak indikasi tentang pemikiran mistik. Dalam bidang keagamaan, al-Qur'an mempertahankan kesatuan agama-agama dan asal-usul identik dari setiap agama --"Setiap bangsa mempunyai Pemberi Peringatan." Islam mengakui Musa, Yesus dan lainnya sebagai Nabi. Lebih dari itu, pengakuan atas risalah Muhammad dari orang-orang Yahudi, Kristiani dan Majusi (termasuk para pendeta) dan sebagian dari mereka telah mengadakan perjalanan ke Arabia untuk mencari seorang guru selama hidupnya, menunjukkan suatu basis yang lebih lanjut tentang kepercayaan akan suatu kesinambungan ajaran kuno, bukan lokal. Suatu kesinambungan yang mungkin hanya dielaborasi dan dipopulerkan oleh agama-agama mapan sebelumnya. Karena itulah dalam tradisi Sufi, "Rantai Transmisi" madzhab-madzhab Sufi mungkin berkaitan dengan Nabi Muhammad saw. di satu sisi, dan dengan Elias di sisi lain. Salah satu guru Sufi yang sangat dihormati pada abad ketujuh, yaitu Uwais al-Qarni (w. 657), tidak pernah bertemu Muhammad, meskipun ia hidup di Arabia 4 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pada saat yang lama dan hidup lebih lama dari Muhammad. Disamping itu, penting untuk dicatat bahwa nama "Sufi" telah digunakan sebelum deklarasi risalah kenabian Muhammad.14 Hal ini penting sekali untuk disadari, yaitu tentang kesinambungan ajaran batiniah itu, dan juga kepercayaan pada evolusi masyarakat, jika para Sufi untuk dipahami dari tataran mana pun. Sumbangan terbesar Islam pada perkembangan pemikiran Sufi mungkin adalah penolakannya terhadap eksklusivisme dan penerimaannya pada teori bahwa peradaban adalah evolusioner, bahkan organis. Tidak seperti agama-agama sebelumnya, Islam menekankan bahwa kebenaran ada dalam setiap masyarakat pada tahap-tahap tertentu perkembangan mereka, dan bahwa Islam, bukan sebagai agama baru, tidak lebih dan tidak kurang adalah agama besar terakhir yang dialamatkan kepada seluruh masyarakat dunia. Dengan menyatakan bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad, Islam secara sosiologis merefleksikan kesadaran manusia bahwa masa kebangkitan sistem otokrasi yang baru telah berakhir. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam empat belas abad menunjukkan kebenaran hal itu. Karena perkembangan masyarakat seperti dewasa ini, maka sulit dibayangkan bila para guru keagamaan baru setingkat para pendiri agama dunia akan mendapatkan keutamaan sebanding dengan Zoroaster, Budha, Musa, Yesus dan Muhammad. Setelah perkembangan pesat peradaban Islam pada abad-abad pertengahan, hubungan antara berbagai aliran pemikiran dari setiap masyarakat telah mencapai keakraban yang jauh lebih erat dibandingkan selama masa-masa legendaris ketika praktek mistisisme relatif terbatas pada kelompok-kelompok kecil dan sangat rahasia. Dewasa ini Sufisme mulai berkembang dengan berbagai cara. Sementara para guru Sufi khusus yang mengajarkan konsentrasi dan kontemplasi telah mengurangi perkembangan materialisme yang lebih kuat melalui penyeimbangan materialisme dan asketisme. Sebagaimana diingatkan oleh Sufi besar Hasan al- Bashri (w. 728), asketisme bisa menjadi kesenangan akan penderitaan, bila penerapannya tidak disertai dengan keuletan. Setiap Sufi harus memulai serangkaian latihan -- yang lama atau sebentar sesuai dengan kapasitasnya -- sebelum ia dapat dianggap cukup seimbang untuk "berada di dunia tanpa menjadi bagian darinya". Sambil menyesuaikan ajaran mereka dengan masyarakat, para penyair dan penyanyi Sufi menciptakan karya-karya besar yang kemudian menjadi warisan Timur klasik. Di tempat-tempat hiburan yang kumuh, teknik-teknik Sufi menyesuaikan diri dengan musik dan tari, melalui ajaran yang disampaikan dengan kisah-kisah romantis dan menakjubkan serta humor. Pemusatan perhatian pada tema cinta dan kelalaian pada manusia atas tujuan hidupnya, mulanya diperkenalkan dalam bidang militer. Di bidang ini, ksatriaan dan tema pencarian kekasih serta penyempurnaan diri yang terakhir menghasilkan kepustakaan yang luas dan pembentukan ordo-ordo Ksatria yang kemudian sangat berpengaruh di Timur dan Barat. Catatan kaki: 1 Lihat anotasi "Bahasa-bahasa". 2 Safarnamah karya Sirajuddin Abbasi, 1649. 4 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi 3 Pendeta Canon Sell, seorang pakar Sufisme, tampaknya mengira bahwa pengetahuan tanpa buku itu adalah pengetahuan teologis, intinya: "Belajar semata-mata melalui buku tidak akan menjadikan seorang teolog," katanya dalam sebuah catatan kaki di bukunya. (Dr. Sell, Sufism, Christ. Lit. Soc. 1910, hlm. 63). Ia memecahkan kesulitan memahami Rumi dengan menyatakan (ibid., hlm. 69), "Hanya murid sabar yang dapat memahami maksud esoteris sang Penyair." 4 Lihat anotasi "Kesadaran". 5 R. A. Nicholson, Tales of Mystic Meaning, London, 1931, hlm. 171. 6 "Kata-kata tidak dapat digunakan untuk menunjukkan kebenaran agama, kecuali sebagai analogi." [Hakim Sinai, The Walled Garden of Truth (Taman Kebenaran Berdinding)]. 7 "Jenjang-jenjang" dalam kepustakaan Sufi berhubungan dengan peralihan tujuh "diri", sebuah istilah teknik untuk Nafs. Lihat anotasi "Tujuh Diri". 8 Lihat anotasi "St. Agustinus". 9 Lihat anotasi "Para Hanif". 10 Lihat anotasi "Pertemuan". 11 R.A. Nicholson, The Mystics of Islam, 1914, hlm. l61 dan seterusnya. 12 E.G. Browne, A Literary History of Persia, 1909, him. 424. 13 Tulab al-Haqq. 14 Kitab al-Luma'. 4 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi LATAR BELAKANG II: GAJAH DI KEGELAPAN Seseorang yang belum pernah melihat air, ia dilempar ke dalamnya dengan mata tertutup, maka ia akan merasakannya. Ketika tutupnya dibuka, ia akan tahu apa itu air. Selanjutnya ia cukup mengetahuinya melalui dampaknya. (Rumi, Fihi Ma Fihi) Dengan ekspansi ilmu pengetahuan dan seni pada Abad Pertengahan Islam-Spanyol, para Sufi genius lahir sebagai tabib dan ilmuwan. Mereka meninggalkan simbol dalam seni bangunan dan dekoratif (beberapa diantaranya kini disebut seni arabesque), yang dirancang untuk melestarikan secara visual beberapa kebenaran abadi yang diyakini oleh para Sufi sebagai menyimpulkan pencarian jiwa manusia, kemajuan, keselarasan terakhir dan integrasi dengan semua makhluk.1 Meski seringkali membingungkan para pengamat karena ketidaktahuan mereka tentang sistem makna yang sebenarnya, hasil sistem praktis yang mendalam dari para Sufi ditemukan dalam pemikiran, seni dan fenomena magis-okultis baik di Timur maupun di Barat. Untuk mendekati pengalaman Sufi secara lebih jelas, kita harus melihat sekilas metode pemikiran dan gagasan dasar para mistikus ini. Kita bisa mulai dari sebuah syair, humor atau sebuah simbol. Memasuki pemikiran Sufistik secara tradisional hampir seberagam eksistensi para Sufi. Sebagai contoh, agama tidak bisa diterima atau ditolak begitu saja, sampai murid mengetahui dengan tepat apa makna agama itu. Menurut para Sufi, kesatuan hakiki dari semua agama tidak diterima di seluruh dunia karena kebanyakan para penganut agama tidak mengetahui apa esensi agama itu. Agama bukanlah seperti apa yang pada umumnya diasumsikan. Bagi Sufi, agamawan dan pencela agama (kafir) diumpamakan seperti orang yang percaya bahwa bentuk bumi datar dan orang yang percaya bahwa bentuk bumi tabung tengah berdebat sementara keduanya tidak mempunyai pengalaman apa pun tentangnya. Hal ini menunjukkan perbedaan mendasar antara metode Sufi dengan sistem metafisik lainnya. Terlalu sering diterima begitu saja bahwa seseorang harus percaya atau tidak, atau mungkin bersikap agnostik saja. Jika ia percaya, maka seharusnya menerima suatu kepercayaan atau sebuah sistem yang mungkin memenuhi apa yang dibutuhkannya. Sebagian kecil orang mengatakan kepadanya bahwa ia mungkin tidak mengerti apa yang dibutuhkannya. Dunia para Sufi adalah dunia ekstra dimensi. Segala sesuatu bagi Sufi bermakna, dalam pengertian mereka bukanlah orang-orang yang hanya mengikuti latihan yang dipaksakan oleh masyarakat umum. 4 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Beberapa orang "terpaku pada suatu hal". "Seseorang yang lapar, ketika ditanya jumlah dua ditambah dua, ia akan menjawab, 'Empat (bahkan delapan) potong roti'." Totalitas kehidupan ini tidak bisa dipahami, demikian pula ajaran Sufi jika hanya dikaji melalui metode-metode yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagian karena, meskipun pertanyaan, "Apa makna semua itu?" dapat dikemukakan dengan ungkapan rasional, tentu saja jawabannya tidak harus dikemukakan sejalan dengan pertanyaan itu. Sufisme datang melalui pengalaman dan pencerahan. Sebuah alat yang digunakan untuk mengukur benda-benda kecil tentu saja tidak bisa digunakan untuk mengukur benda-benda besar. "Praktekkan ilmu pengetahuanmu, karena pengetahuan tanpa praktek seperti tubuh tanpa jiwa" -Abu Hanifah.2 Seorang ilmuwan mungkin mengatakan kepada Anda bahwa ruang dan waktu adalah sama, atau bahwa materi sama sekali tidak solid. Ia mungkin bisa membuktikannya melalui metodenya sendiri. Namun pembuktian ini akan menjadi agak sulit Anda pahami dan sama sekali tidak Anda alami. Setiap materi dapat dibagi-bagi sampai tak terhingga bukan? Namun untuk tujuan praktis, biasanya ada batas pembagian, misalnya Anda memotong-motong sebatang coklat. Dengan demikian, di satu sisi Anda melihat sebatang coklat, di sisi lain Anda melihat sebuah obyek yang dapat dibagi sebanyak mungkin. Pikiran manusia cenderung membuat generalisasi atas bukti parsial. Para Sufi yakin bahwa mereka bisa mengalami sesuatu yang lebih kompleks. Sebuah kisah tradisional Sufi menggambarkan persoalan ini dalam salah satu aspeknya dan menunjukkan berbagai kendala yang dihadapi kalangan terpelajar ketika mereka mendekati para Sufi dengan menerapkan metode kajian mereka yang terbatas. Seekor gajah mengadakan perjalanan dalam sebuah rombongan sirkus. Ia berada di dalam kandang dekat sebuah kota di mana penduduknya belum pernah melihat apa itu gajah. Mendengar hal yang menakjubkan itu, empat warga kota pergi melihatnya agar mereka bisa mengetahui seperti apa gajah itu. Ketika mereka tiba di kandang gajah, tiba-tiba lampu padam. Jadi penyelidikan berlangsung dalam keadaan gelap. Orang pertama menyentuh belalainya, sehingga ia mengira bahwa makhluk ini pasti seperti sebatang pipa. Orang kedua menyentuh telinganya dan menyimpulkan bahwa ia adalah kipas. Orang ketiga memegang kakinya sehingga ia berkesimpulan bahwa gajah itu adalah binatang seperti pilar. Akhirnya orang keempat menyentuh punggungnya sehingga ia yakin bahwa ia adalah semacam singgasana. Tidak seorang pun bisa menggambarkan gajah dengan sempurna. Lantaran menyentuh sebagian makhluk itu, maka setiap orang hanya mengacu pada apa yang telah diketahuinya. Hasil penyelidikan itu membingungkan. Setiap orang merasa yakin bahwa dirinya benar sehingga tidak ada warga kota yang bisa memahami apa yang terjadi, apa yang sebenarnya dialami oleh para penyelidik itu. Ketika orang biasa ingin mengetahui pemikiran Sufi, ia biasanya merujuk bukubuku referensi. Ia mungkin mencari kata "Sufi" dalam ensiklopedia atau mengacu pada buku-buku yang dikarang para sarjana dan peneliti yang ahli dalam bidang agama dan mistisisme. 5 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Bila ia melakukan itu, ia akan menjumpai sejumlah besar contoh tentang mentalitas "gajah di kegelapan" itu. Menurut seorang sarjana dari Persia, Sufisme adalah sebuah penyimpangan dari ajaran Kristen. Seorang profesor dari Universitas Oxford berpendapat bahwa Sufisme dipengaruhi oleh Hindu-Vedanta. Seorang profesor Arab-Amerika menyatakan bahwa Sufisme semacam reaksi terhadap intelektualisme dalam Islam. Seorang profesor di bidang kesusastraan Semit menandaskan adanya jejak-jejak Sufisme dalam Shamanisme Asia Tengah. Seorang Jerman menyatakan bahwa Sufisme adalah Kristianitas plus Budhisme. Sementara dua orientalis Inggris terkemuka telah menyediakan dana untuk meneliti pengaruh kuat Neoplatonisme atas Sufisme, namun salah seorang kemudian mengakui bahwa Sufisme mungkin lahir secara independen. Dengan mempublikasikan opininya melalui sebuah universitas di Amerika, seorang Arab meyakinkan para pembacanya bahwa Neoplatonisme sendiri adalah pemikiran Yunani plus Persia (dengan berdasar pada sebuah sumber Sufi). Salah seorang ahli kajian Arab terkemuka berkebangsaan Spanyol mengklaim bahwa Sufisme bersumber pada monastisisme Kristen dan menyatakan bahwa Manichaeisme adalah salah satu sumber Sufisme. Akademisi lain yang tak kalah reputasinya menemukan Gnostisisme diantara para Sufi. Sementara seorang profesor Inggris, penterjemah sebuah buku Sufi, lebih suka menyatakan bahwa Sufisme adalah "sebuah sekte kecil Persia". Namun penterjemah lainnya menemukan tradisi mistik para Sufi "di dalam al-Qur'an sendiri". "Meskipun banyak definisi yang mengacu pada buku-buku Arab dan Persia secara historis menarik kesimpulan pokoknya ternyata menunjukkan bahwa Sufisme tidak dapat didefinisikan."3 Seorang pengamat Rumi (1207-1273), asal Pakistan menganggap bahwa Rumi adalah ahli waris yang sebenarnya dari semua aliran pemikiran kuno sebagaimana direpresentasikan di Timur Dekat. Namun mereka yang telah mengadakan hubungan langsung dengan para Sufi dan pernah menghadiri majelis mereka, tidak memerlukan penyesuaian mental dan kehendak untuk memahami bahwa Sufisme sendiri mengandung berbagai unsur dari sistem non-Sufi seperti Gnostisisme, Neoplatonisme, Aristotelianisme dan lain-lain. "Tidak banyak gelombang yang memintal-mintal dan sekilas memantulkan sinar mentari -- semua berasal dari laut yang sama," kata guru Sufi Halki. Disamping itu, pikiran yang telah dilatih untuk percaya pada ciri khas dan monopoli pemikiran madzhab tertentu tidak akan mudah memasukkan pemahaman sintetis itu ke dalam kontemplasi Sufisme. Dr. Khalifa Abdul Hakim menunjukkan bahwa ia bisa mengacu pada setiap madzhab filsafat yang dirujuk Rumi tanpa harus menganggap pemikiran tertentu diturunkan dan pemikiran lain. Ia menyatakan, "Matsnawi-nya adalah sebuah kristal dari berbagai unsur. Di dalamnya kita melihat refleksi dan cahaya monotheisme Semitik yang terputus-putus, intelektualisme Yunani, teori idea Plato, teori sebab-akibat Aristoteles, Yang Esa dari Plotinus dan pengalaman ekstase ketika menyatu dengan Yang Esa, berbagai persoalan kontroversial para mutakallimun, teori emanasi Ibnu Sina dan al-Farabi, teori kesadaran nubuwah al-Ghazali dan monisme Ibnu Arabi." Namun perlu dicatat bahwa pernyataan ini bukan berarti Rumi telah membangun sebuah sistem mistisisme dari berbagai unsur itu. "Buah pir tidak hanya ditemukan di Samarkand." 5 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Kepustakaan tentang Sufisme sangat banyak -- sejumlah besar naskah-naskah Sufi telah diterjemahkan oleh para sarjana Barat. Beberapa sarjana, jika memang ada, telah memperoleh manfaat setelah memahami Sufisme, mengetahui tradisi lisannya atau bahkan tarekat Sufi sebagai sumber kajian formalnya. Ini bukan berarti bahwa karya mereka tidak bermanfaat. Karya-karya itu sangat berguna bagi Orientalis, namun mungkin cenderung inkoheren. Seperti penulis dongeng yang harus menyertai tulisannya dan membacakannya sendiri karena tulisannya tidak dapat dibaca. Karya-karya itu membutuhkan ulasan sang Sufi sendiri. Pengaruh terjemahan dan buku diskursif tentang Sufisme terhadap murid yang belum mengenalnya pasti sangat kuat dan niscaya akan sulit dilupakan. Metode pendekatan melalui penterjemahan itu akan menghadapi masalah yang pelik. Dengan menyisihkan masalah perbedaan tingkat akurasi dan makna yang ditangkap para penterjemah (masalah yang mengandung berbagai kekaburan meskipun sebenarnya merupakan kegiatan yang tidak relevan), kita akan tahu bahwa karya sastra dalam bentuk terjemahan itu mungkin membuat pembaca terpesona dan mengalami petualangan yang asing. Kadangkala mereka menterjemahkan irama dan rima orisinil dari puisi Timur ke dalam bahasa Inggris, karena mereka merasa bahwa kiat ini membantu untuk menyampaikan makna yang orisinal. Namun penterjemah lainnya mempertahankan pandangan sebaliknya dan menghindari upaya menterjemah dengan cara tersebut, karena mereka mengklaim bahwa hal itu tidak mungkin dicapai atau menimbulkan makna yang berbeda. Disamping itu, beberapa naskah diterjemahkan dengan bantuan berbagai komentar non-Sufi (pada umumnya Muslim, bahkan teolog formal Kristen). Kemudian ada berbagai terjemahan parsial, terbitan seleksi yang telah dipotong sehingga penterjemahnya kesulitan sendiri untuk memberikan judulnya. Ia kurang mengetahui praktek-praktek Sufi, sehingga keberaniannya itu rupanya menimbulkan berbagai perusakan. Karya tulis Sufi bukanlah semata-mata karya sastra, filsafat, atau teknik. Ada sebuah terjemahan buku Persia dalam bahasa Inggris, namun diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Versi bahasa Perancis ini adalah terjemahan dari bahasa Urdu sebagai karya klasik Persia yang diikhtisarkan dari sebuah buku Arab. Banyak versi modern dari karya sastra Persia klasik yang kadangkala disunting untuk mengimbangi berbagai referensi yang menyerang kepercayaan agama Iran. Disamping itu muncul penulis non-akademis dan penulis populer dari kalangan Kristen (misionaris), Hindu, neo-Hindu Barat -- dan neo-Sufi Barat -- yang menulis tentang Sufisme. Presentasi Sufisme di kalangan terpelajar dalam bahasa Barat itu menghasilkan kepustakaan yang sangat berlimpah dibandingkan kepustakaan di bidang lainnya. Pengamatan kaleidoskopis itu mempunyai kecenderungan insidentilnya sendiri. Tendensi berbias ini -- suatu istilah yang mungkin tidak tepat, atau sebaiknya "polikotomi" (menurut istilah dikotomi) -- ternyata menyentuh pokok kajian yang sangat menarik selama hampir seribu tahun yang lalu. Hal ini juga pernah terjadi ketika pemikir Yahudi Avicebron dari Malaga (hidup kira-kira 1020-1050 atau 1070) menulis sebuah buku berjudul Fountain of Life (Sumber Kehidupan), sebuah karya tulis berdasarkan filsafat iluministik Sufi. Karena ia menulis dalam bahasa Arab, maka banyak pemikir Kristen otoritatif dari madzhab Eropa Utara dan telah 5 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi mempelajari ilmu pengetahuan "Arab", mengira bahwa ia adalah orang Arab. Setidaknya beberapa pemikir menganggap bahwa ia beragama Kristen, sebagai "gema ajaran," demikian kata mereka. Kalangan Franciscan (Ordo keagamaan yang didirikan oleh Francis Assisi pada tahun 1209, pent.) menerima ajaran-ajarannya dengan penuh semangat dan mentransmisikannya kedalam aliran pemikiran Kristen. Sementara ajaran-ajarannya telah diseleksi dari sebuah terjemahan bahasa Latin yang dikerjakan sekitar seabad setelah kematian Avicebron. Sementara seorang akademisi perempuan terkemuka, penulis otoritatif tentang mistisisme Timur Tengah telah menyentuh lebih dari satu bagian gajah. Dalam sebuah bukunya, ia menyatakan bahwa Sufisme "mungkin dipengaruhi secara langsung oleh pemikiran Budhisme." Ia mengimbuhkan bahwa para Sufi paling awal "mungkin mempunyai sedikit hubungan dengan kepustakaan Hellenistik" -- namun pemikiran mereka ternyata diturunkan dari sumber-sumber Hellenistik. Akan tetapi di akhir kajiannya tentang Sufisme, ia menyatakan bahwa "asal-usul dan sumber Sufisme yang sejati terdapat dalam hasrat abadi dari jiwa manusia untuk bertemu Tuhan." Aktivitas Sufi mempunyai pengaruh sangat luas terhadap Barat Kristen, sehingga kenyataan ini lebih baik dari kasus umum yang bisa dikemukakan tentang Sufi bahwa kebenaran obyektif dari Sufisme adalah suatu dinamika yang hampir tidak dapat disangkal. Namun kekuatan vitalistik ini, yaitu ungkapannya yang benar, tergantung pada pemahaman manusia secara benar. Bila tahap persiapan ini tidak ada, maka besar kemungkinan aliran Sufi menjalankan perubahan tertentu. Yang sangat rentan dari bias ini adalah aktivitas Sufi tertentu atau fragmentaris. Ilustrasi yang sangat khas dapat dikemukakan melalui nasib karya al-Ghazali di Eropa. Al-Ghazali dari Asia Tengah (1058-1111) menulis sebuah buku yang berjudul Tahafutul-Falasifah (Kerancuan Para Filosuf). Buku ini telah diterjemahkan sebagian dan digunakan oleh para apolog Katholik untuk menentang madzhabmadzhab pemikiran Muslim maupun Kristen. Namun karya tulisnya yang diterima di Barat ini hanyalah semacam pengantar filsafat. Karya al-Ghazali harus dibaca secara keseluruhan. Demikian pula maksud latihan para Sufi harus diikuti jika ingin dipahami secara benar. Karya al-Ghazali ini ditanggapi oleh filosuf Arab lainnya, yaitu Ibnu Rusyd dari Cordoba (1126-1198). Dengan nama Averroes, karyanya juga diterjemahkan. Ibnu Rusyd sebenarnya tidak sepenuhnya menyangkal al-Ghazali melalui metode skolastik. Namun ia telah merasa melakukan hal itu. Meskipun demikian, Averroeisme telah mendominasi pemikiran skolastik Barat dan Kristen, setidaknya selama empat abad -- dari abad kedua belas sampai akhir abad keenam belas. Secara bersamaan, karya-karya al-Ghazali dan Aristotelianisme telah membentuk dua aliran ganda Sufi (aksi dan reaksi) yang telah menjaga ajaran Kristen secara keseluruhan. Namun sumber awalnya, yaitu Ghazallisme dan Averroeisme, kemudian diabaikan (selama menyangkut pemikiran skolastik). "Perlu dicatat," kata Rumi, "bahwa hal-hal yang bertentangan bekerja secara bersamaan, meskipun secara nominal bertentangan." (Fihi Ma Fihi). Secara fundamental, Sufi menyadari bahwa Sufisme adalah suatu ajaran dan sekaligus sebuah bagian dari evolusi organis yang jarang dimasukkan dalam kajian 5 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi oleh mereka yang memusatkan perhatian pada penelitian sistem tersebut. Konsekuensinya, hampir tidak ada kemungkinan bagi pengamat untuk memberikan kesimpulan akurat. Dengan bersandar pada kemampuan diskursifnya semata, ia tidak akan mampu mengkaji sebelum memulainya. Rumi mengalamatkan syair dalam Matsnawi-nya berikut ini kepada kalangan Eksternalis-literalis (Zhahiriyah) masa lalu maupun masa kini: Dia yang telah tercerahkan (Sufi); Mengetahui bahwa cara berpikir sesat berasal dari Iblis, sementara cinta dari Adam. Para Sufi telah membingungkan sarjana karena perilaku mereka tampak tidak konsisten dan kadangkala memaksanya untuk menyimpulkan dengan berbagai kualifikasi dari inti ajaran mereka. Namun mereka juga bisa membangkitkan ghirah keagamaan para teolog. Cinta sebagai prinsip aktif dari perkembangan dan pengalaman Sufi, baik sebagai mekanisme maupun sebagai tujuan akhir, tidak bisa dianggap sebagai asal-usul Sufisme. Namun yang Terhormat Profesor W.R. Inge dalam bukunya Christian Mysticism segera terseret pada target yang diacunya itu. "Para Sufi atau mistik Muhammad menggunakan bahasa erotis dengan sangat bebas dan seperti aliran mistik Asia yang sejati, mereka hadir dalam upaya memberikan karakter sakramental atau simbolik atas kegairahan nafsu mereka." Contoh klasik ini telah mengaburkan pandangan dari beberapa sarjana Barat yang telah akrab dengan Sufisme. Contoh ini juga mengungkapkan imitasi Sufi terhadap mistik Asia yang kecanduan pada bahasa erotis (secara rahasia, karena mereka tidak mempublikasikannya). Bahasa erotis ini sebenarnya bertujuan merahasiakan kegemaran nafsu mereka. Akan tetapi, mereka dapat merasa terhibur dengan sebuah opini dari seorang profesor Universitas Cambridge yang memandang Sufisme secara lebih hormat sebagai "perkembangan agama primordial bangsa Arya". Jika simbolisme Sufi tidak bermakna demikian, namun lebih merepresentasikan pengalaman hidup aktual, maka kita mungkin akan menemukan bahwa para Sufi lebih mempunyai banyak fungsi dibandingkan apa yang diketahui pendukung demokrat mereka. Ahli sastra Sufi mungkin mampu mereguk seratus samudera, yaitu berhala-berhala ketika semuanya tidak disembah, merantau ke Cina dalam keadaan mabuk -- hidup di dunia namun tidak larut di dalamnya -- belum lagi disebutkan seratus bulan dan mentarinya. Para pendukung penafsiran literal atas ungkapan mistik tentu saja secara memadai ditanggapi oleh pakar bahasa seperti Evelyn Underhill: "Simbol -- dalam persoalan spiritual meminjam dari bidang material -- adalah sebuah ungkapan artistik. Hal itu berarti bahwa simbol tidak literal namun sugestif, meskipun seniman yang menggunakannya kadangkala mungkin tidak melihat pembedaan ini. Oleh karena itu, orang-orang yang menganggap bahwa 'perkawinan spiritual' dari St. Catherine atau St. Teresa merahasiakan suatu skandal seksual, bahwa mimpi Hati Suci mengandung suatu pengalaman anatomia atau bahwa pengalaman Ilahiyah dari para Sufi adalah kemabukan Ilahiyah, tentu saja menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang mekanisme seni: seperti sang nona yang menganggap bahwa Blake pasti gila karena berkata bahwa ia menyentuh langit dengan jemarinya."4 5 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Harus diakui bahwa kalangan terpelajar lebih mudah mendekati dan memaparkan salah satu aspek Gajah di Kegelapan itu dibandingkan memberikan suatu pandangan koheren tentang Sufisme. Banyak kalangan terpelajar mengalami ketidakmampuan psikologis untuk mengkaji tema ini. Al-Ghazali berkata, "Di luar ketidakmampuan itu sendiri, kelemahan lainnya menghalangi untuk mencapai kebenaran batiniah. Kelemahan semacam ini adalah pengetahuan yang dicapai melalui metode eksternal." (Kimiyya'us-Sa'adah). Disamping dinding tak tertembus dari pengalaman Sufi, ada masalah personalitas Sufi. Penelitian biasa mana pun tentang karya tulis dan karir Sufi akan cukup membingungkan sejumlah kecil peneliti doktriner. Di antara para Sufi, ada yang awalnya penganut Zoroastrian, Kristen, Hindu, Budha dan orang suci lainnya, demikian pula ada orang-orang Persia, Yunani, Arab, Mesir, Spanyol dan Inggris. Ada tingkatan guru teolog Sufi, seorang pemimpin gerakan banditti, para budak, tentara, pedagang, menteri, raja dan seniman. Namun hanya dua tokoh yang terkenal di kalangan pembaca Barat. Mereka adalah penyair dan ahli matematika Omar Khayyam dari Persia dan Pangeran Abu ben-Adham dari Afghanistan -- subyek dari sebuah syair Leigh Hunt: 'Abu ben Adham, mungkin sukunya meningkat ..." Di antara tokoh-tokoh yang dipengaruhi secara langsung oleh Sufisme adalah Raymond Lully, Goethe, Presiden de Gaulle (Presiden Perancis setelah Perang Dunia Kedua, pent. ) dan Dag Hammerskjold dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Lantaran seringkali menulis di bawah ancaman penganiayaan, para Sufi telah mempersiapkan buku yang menyesuaikan praktek mereka dengan ortodoksi dan mempertahankan penggunaan citra yang menyenangkan. Untuk mengaburkan makna dari berbagai faktor ritualistik atau untuk memenuhi kebutuhan penting para penghimpun karya ikhtisar Sufi, mereka mewarisi berbagai manuskrip tentang hakikat ajaran Sufi yang hanya bisa disaring oleh mereka yang membutuhkan perlengkapan. Dengan menyesuaikan karya mereka dengan berbagai tempat, masa dan kecenderungan, selanjutnya mereka menekankan peran asketisme, kesalehan, musik dan tari, bertapa dan hidup bermasyarakat. Namun hanya karya tulis Sufi yang sopan dan religius beredar di luar lingkungan Sufi. Seseorang yang mungkin sama sekali tidak mengetahui koherensi di batik ajaran Sufi dan belum mengapresiasi karya para penyair besar Sufi, selalu ditunjukkan oleh para penterjemah. Gertrude Bell, seorang mahasiswi tekun dan penterjemah karya-karya Hafizh ke dalam bahasa Inggris, disanjung oleh Orientalis Sir Denison Ross karena kesarjanaan dan penilaiannya. Namun ia adalah orang pertama yang mengakui bahwa, "Sebenarnya kita akan menemukan kesulitan untuk menentukan dasar apresiasi karya Hafizh di Timur, dan para sahabat sebangsanya menjadikan ajarannya tidak mungkin dipahami."5 Berikut ini membuat semua orang lebih tertarik pada sorotan Gertrude Bell di kegelapan, ketika ia mencoba mengemukakan beberapa opini tentang apa yang sebenarnya sedang dijelaskan Hafizh, "Dari sudut pandang kami, matahari filsafatnya tampak bahwa ada sedikit kepastian yang dapat kita ketahui, bahwa hal kecil harus selalu menjadi obyek dari setiap hasrat manusia. Sementara setiap orang akan melakukan pencarian itu di jalan yang berbeda. Tak seorang pun akan mudah menemukan jalannya, jika ia bijak mungkin mendapatkan manfaat karena 5 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi kerja kerasnya menyusuri tepi jalan."6 Bell tidak melihat aktifitas Sufi sebuah proses -- sebagaimana para Sufi memandangnya -- namun berhasil memandang sekilas ciri khas dan utuh dari pemikiran Sufistik Hafizh dalam membahas dan melihat sebuah panorama pemikiran manusia yang hadir di hadapan kita dan tentu saja mempunyai jangkauan masa depan baginya: Itu seolah-olah mata batinnya, yang dianugerahi dengan ketajaman pandangan mengagumkan. Ia telah merasuk ke dalam wilayah-wilayah pemikiran yang pada masa berikutnya menjadi asing bagi kita.7 Pandangan visioner Hafizh sangat kuat untuk diabaikan, namun ia juga mengejutkan. Gertrude Bell ternyata tidak mencapai kesimpulan apa pun. Kembali pada kisah gajah di atas. Para sarjana ternyata lebih suka bersikap eklesiastik (sikap pendeta gereja) dibandingkan bersikap doktriner. Bagi Sufi, kedua sikap ini sama saja dengan para pengunjung kandang gajah itu. Mungkinkah mereka semua sebenarnya memandang salah satu bagian keseluruhan? Para Sufi berkata, "Ia bukan sebuah agama, ia adalah agama," dan "Sufisme adalah esensi dari semua agama." Lalu apakah di antara para Sufi atau lainnya, ada sebuah tradisi, ada sebuah ajaran rahasia yang diturunkan melalui penobatan dan dilestarikan melalui rantai transmisi; sebuah ajaran rahasia yang mungkin menjelaskan sesuatu kepada para pengamat sesuai dengan prasangkanya yang hampir melihat setiap bentuk agama dalam berbagai karya tulis Sufi? Untuk menjawab hal ini, kita seharusnya mengacu pada berbagai pendapat Sufi yang biasanya disalahpahami oleh murid-murid non-Sufi. Demikian pula kita seharusnya mengikuti tradisi dari madzhab-madzhab lainnya maupun transmisi kepercayaan di abad-abad pertengahan dan masa lain menyangkut ajaran batiniah dibalik agama formal. Pencarian ini sama sekali bukan suatu pencarian yang membosankan. Menurut Syekh Abu al-Hasan Fusyanji, "Dulu Sufi adalah realitas tanpa nama. Kini ia nama tanpa realitas." Secara lahiriah, pernyataan ini biasanya dianggap berarti bahwa orang-orang menyebut diri mereka sebagai Sufi sebenarnya, sementara pencarian sejati dari para Sufi tidak dipahami. Meskipun hal ini mungkin juga merupakan suatu interpretasi atas sebuah pernyataan, namun di sini dimaksudkan untuk mengklarifikasi suatu sudut pandang yang berbeda. Urgensi menelusuri jejak sejarah untuk menentukan permulaan sesuatu yang begitu ditekankan pada tahap pengetahuan sekarang, tentu saja didorong oleh kebutuhan pikiran biasa untuk mengetahui sebuah permulaan dan jika mungkin akhir dari setiap hal. Hampir setiap hal yang diketahui manusia sesuai dengan akal sehatnya mempunyai awal dan akhir. Keinginan mengetahui esensi sesuatu itu merupakan wujud kebutuhan akan stabilitas, rasa aman. Istilah ini tercantum di dalam buku, kini bisa diletakkan di atas papan -- mengetahui A sampai Z sesuatu atau lainnya. Ada berbagai metode yang relatif diterima dalam menentukan awal dan akhir itu, atau menghasilkan berbagai penyulihan untuknya. Semua metode itu mungkin dihasilkan dari berbagai mitos dan legenda yang seringkali menyangkut bagaimana segala sesuatu bermula dan berakhir. Cara lainnya adalah penegasan raja Cina bahwa sejarah berawal dari dirinya dan buku-buku sejarah sebelumnya 5 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi harus dimusnahkan. Teknik ketiga adalah asumsi bahwa peristiwa tertentu pada suatu waktu dan di suatu tempat mempunyai permulaan. Hal ini biasanya merupakan metode keagamaan. Metode ini dipegang teguh dalam ajaran umum Kristen sebagai dogma resmi, namun St. Agustinus tidak mempertahankannya. Kepercayaan bahwa sebuah peristiwa unik keagamaan menimbulkan sebuah perubahan sempurna nasib manusia, dalam masyarakat Kristen, menghasilkan sebuah kekuatan besar, namun setidaknya ada dua faktor yang membatasi dampaknya. Pertama adalah waktu peristiwa yang menunjukkan bahwa ada batas bagi ekspansi alamiah dan bahkan artificial dari Gereja Kristen dan sebuah batas bagi dinamikanya dalam bidangnya sendiri. Lebih dari itu ada persoalan skolastik. Karena ajaran Yesus mempunyai keunikan (meski mungkin merupakan ajaran "kenabian yang khayali dan prediktif"), maka sulit untuk mencapai perspektif spiritual yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan ini. Agama, mistisisme dan spiritualitas kini tidak bisa begitu saja dilihat sebagai suatu perkembangan alamiah atau milik umum ummat manusia. Menurut para Sufi, faktor penyeimbang utama dari kekuasaan Kristen formal adalah pengalaman sinambung dari tradisi Kristen sejati yang telah mengalami distorsi. Sebelum abad kesepuluh, ketika Islam mempunyai kekuasaan budaya sangat kuat dan perluasan peradaban yang terkenal di dunia, teori tentang ajaran rahasia, sebuah ajaran yang dihargai sejak zaman kuno, telah merintis jalannya dari pusat gravitasi ke Barat. Pertama dan paling kuat, madzhab Sufi klasik di Eropa ditemukan di Spanyol lebih dari seribu tahun yang lalu.8 Sebagaimana mungkin dianggap orang, tradisi ini bukan muncul di Barat karena keruntuhan negeri-negeri di bawah kekuasaan Arab. Tradisi itu sangat sejalan dengan, dan bahkan secara insidental disemangati, oleh Islam dengan pandangan religius sebagaimana telah kami catat, yaitu suatu proses sinambung dalam setiap masyarakat. Tradisi ini hidup di Timur Jauh dan menimbulkan kesan di hati orang-orang yang masih mempunyai ingatan tentang ajaran-ajaran spiritual sebelumnya. Dalam satu segi, tradisi ini adalah teori teosofi dari berbagai manifestasi keagamaan setiap masyarakat, seperti agama doktriner di tempat lain yang seharusnya tidak ada. Berdasarkan pengalaman dan simbolik ini, konsep tentang kesatuan agama batiniah tentu saja berlaku pada masa-masa ketika orang-orang dunia kuno menyamakan dewa yang satu dengan dewa lainnya -- Mercury dengan Hermes, Hermes dengan Thoth, misalnya. Teori teosofi inilah yang dianggap oleh para Sufi sebagai tradisi mereka sendiri, meski tidak terbatas pada bidang agama. Oleh karena itu, sebagaimana sang Sufi meyakininya: Aku penyembah berhala; Aku beribadah di altar Yahudi; Akulah berhala Yaman, candi para penyembah api; rahib Majusi; realitas batin dalam meditasi bersila Brahma; kuas dan cat warna para seniman; sosok pencela agama yang tertekan dan berkepribadian kuat. Satu sama lain tidak saling mengalahkan -- ketika sebuah api dilempar ke dalam kobaran api lainnya, mereka membentuk "kobaran api" bersama-sama. Engkau melempar suluh ke lilin, lalu berkata, "Lihat! Aku telah memusnahkan nyala lilin!" (Ishan Kaiser dalam Percakapan Para Hakim). Para Sufi menerapkan suatu sudut pandang baru untuk mengatasi pengaruh materialistik yang dipaksakan oleh masyarakat yang berat sebelah. Semua 5 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pemikiran filosofis direndahkan karena ajaran "kebijaksanaan" ini mengungkung. Akhirnya orang-orang mengulang truisme satu sama lain, namun sebenarnya tidak mengalami apa maksud mereka. Jika seorang Sufi berkata, "Apa yang dibutuhkan adalah suatu pendekatan baru," ini sama sekali tidak mungkin berarti bahwa setiap orang yang mendengar pernyataannya akan langsung setuju (karena terdengar bermakna) dan langsung mengabaikannya. Makna kata-kata itu tidak tertanam di dalamnya. "Ambillah gandum, bukan kadar yang dikandungnya." (Rumi, Matsnawi, Buku II). Karena membebaskan pemikiran dari ikatan pemikiran yang kaku begitu penting, Rumi memulai kedua karya utamanya dengan berbagai latihan untuk proses itu. Maka dari itu, kita menyesuaikan diri dengan apa yang biasanya diikuti madzhab Sufi. Meskipun kalangan Eksternalis mungkin tidak mengetahuinya, dua bukunya itu sebenarnya merupakan ulasan-ulasan tentang jenjang dan keadaan perkembangan Sufistik sebagaimana dimanifestasikan secara mandiri dalam sebuah madzhab Sufi. Dalam Fihi Ma Fihi, pada permulaannya, Rumi mengutip sabda Nabi Muhammad saw. yang menjadi kata-kata umum dan sebuah peribahasa. Nabi Muhammad pernah bersabda demikian, "Orang bijak terburuk adalah orang yang mengunjungi raja; raja terbaik adalah raja yang mengunjungi manusia bijak." Rumi menjelaskan bahwa makna tersembunyi dari ajaran ini adalah bahwa "kunjungan" itu bergantung pada kualitas pengunjung dan yang dikunjungi. Jika seorang bijak besar mengunjungi seorang raja, pangeran lah yang memperoleh manfaat, karena ia dianggap telah mendapat "kunjungan" sang manusia bijak itu. Hal ini sama sekali bukan sebuah permainan kata-kata, sebagaimana anggapan beberapa orang. Dengan menggunakan taktik singkat, Matsnawi memulai ajarannya setelah Kidung Ilalang yang terkenal, dengan apa yang tampak sebagai sebuah dongeng tentang seorang pangeran yang pergi berburu dan seorang gadis cantik. Selagi pendengar duduk tentang mendengarkan dongeng, Rumi mulai memanfaatkannya untuk membangkitkan kreativitas pikiran dan mengatasi rasa kantuk, metode Sufistik untuk menimbulkan reaksi lazim terhadap cerita rakyat. Saat pergi berburu, seorang pengeran bertemu dengan seorang gadis pembantu cantik. Ia jatuh cinta kepadanya dan membelinya. Namun setelah itu, si gadis jatuh sakit. Dalam keputus-asaan, sang raja menawarkan harta-benda apa pun kepada para dokter yang mungkin mereka inginkan jika mampu mengobatinya. Namun mereka tidak mampu mengobatinya dan keadaan si gadis semakin buruk. Dengan diliputi rasa cinta dan takut, sang pangeran bergegas ke masjid dan memohon inayah Allah. Kemudian ia melihat sebuah bayangan, seorang tua yang meyakinkannya bahwa seorang tabib akan segera datang. Pada hari berikutnya, sebagaimana diramalkan, tabib itu datang. Sang tabib memandang gadis itu dan menyadari bahwa setiap pertolongan yang diupayakan para lintah darat itu tidak berguna dan menambah keadaan semakin buruk. Ia paham bahwa penyakitnya berkaitan dengan keadaan batinnya. Dengan menggunakan metode psikologis, ia mengajukan pertanyaan dan 5 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi memancing si gadis berbicara. Akhirnya ia tahu bahwa gadis itu mencintai seorang pengrajin emas dari Samarkand. Ia mengatakan kepada sang pangeran bahwa pengobatan akan berhasil dengan membawa pengrajin emas itu ke hadapan si gadis. Sang pangeran setuju. Sang pengrajin emas merasa bahwa panggilan pangeran itu hanya untuk suatu penghargaan atas keahliannya menyepuh emas. Ia tidak menyadari apa yang akan terjadi padanya. Ketika ia tiba di istana, mereka dinikahkan. Si gadis kemudian sembuh total. Jadi kisah yang tak menyenangkan ini mungkin menimbulkan dampak kepada pendengar, pendengar yang mengharapkan kesenangan di akhir cerita. Namun sang tabib kini menyiapkan obat untuk sang pengrajin emas, sebuah obat yang membuat kesalahan dirinya tampak jelas sehingga sang gadis bisa menyaksikannya dan mulai membencinya. Ia akhirnya meninggal dunia dan sang gadis bisa mencintai pangeran yang selalu mengharapkannya. Selain citra dongeng yang kompleks dalam bentuk orisinalnya, ajaran itu menimbulkan dampak pada banyak tataran. Ia bukan hanya mengisahkan sebuah dongeng dengan suatu moral lahiriah, ia adalah sebuah ulasan tentang proses hidup. Hadrat-i-Paghman berkomentar tentang dongeng ini, "Renungkanlah dongeng itu, kecuali kalau engkau mengabaikannya, maka engkau akan seperti anak kecil yang menginginkan setiap hal benar dan menangis ketika semua hal tampak tidak benar. Engkau akan membuat penjara bagi dirimu sendiri, penjara emosi. Ketika berada dalam penjara ini, engkau akan melukai diri sendiri dengan ketajaman jeruji besi yang engkau buat sendiri." Dulu pemikiran dan ajaran Sufi benar-benar hidup -- bisa jadi ada seorang Sufi tanpa sebuah nama untuk kultusnya. Kemudian pada masa modern, dalam mana nama itu eksis, namun kehidupan susah dan telah disesuaikan dengan selubung -- pengkondisian -- sejak buaian sampai masuk liang lahat. Tepatnya berapa lama kata "Sufisme" itu digunakan? Menurut tradisi, Sufi hidup di setiap masa dan wilayah. Para Sufi hidup demikian dan dengan nama demikian sebelum Islam. Namun jika ada nama untuk praktisi, maka tidak ada nama untuk praktek. Kosa kata Inggris Sufism adalah adaptasi bahasa Inggris dari bahasa Latin Sufismus. Seorang sarjana Jerman pada tahun 1821 telah menentukan Latinisasi yang kini hampir dinaturalisasikan ke dalam bahasa Inggris. Sebelum dia, ada kata tasawwuf -- keadaan, praktek atau kondisi menjadi Sufi. Ini mungkin tidak tampak penting, tapi bagi para Sufi penting. Itulah satu alasan mengapa tidak ada istilah statis yang digunakan para Sufi untuk kultus mereka. Mereka menyebutnya suatu ilmu pengetahuan, seni, pengetahuan, Jalan, rumpun -- bahkan dengan istilah teknis abad kedua puluh mungkin bisa diterjemahkan dengan psikoantropologi (nafsaniyyatalinsaniyyat) -- namun mereka tidak menyebutnya Sufisme. Thariqat-shufiyyah artinya Jalan Sufi karena thariqat [tarekat] berarti Lorong, maupun sebuah cara melakukan sesuatu dan juga mengandung pengertian 5 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi menelusuri sebuah jalan, garis -- Jalan Sufi. Sufisme mengacu pada berbagai nama sesuai dengan pengertian yang dibahasnya. Maka kita mungkin menemukan kata ilm al-ma'rifat atau al-'irfan (gnosia). Sementara Tarekat atau kelompok terorganisir cenderung disebut thariqat. Demikian pula, Sufi dikenal sebagai sang Pencari, Pemabuk, orang tercerahkan, luhur, Sahabat, muqarribun, darwis, Fakir (rendah hati), atau Kalandar, arif, bijak, pecinta dan ahli batin. Karena tidak ada Sufisme tanpa para Sufi, kata itu selalu ditujukan kepada orang dan tidak bisa dianggap sebagai suatu kata abstrak seperti "filologi" atau "komunisme" yang masing-masing bisa berarti kajian kata atau sebuah teori tentang tindakan komunalis. Jadi Sufisme mencakup sosok para Sufi maupun praktek aktual kultus mereka. Ia sebenarnya tidak bisa disamakan dengan presentasi teoritis mana pun dari Jalan Para Sufi. Tidak ada Sufisme teoritis atau intelektual. Namun mungkin ada gerakan Sufi, yang kemudian merupakan sebuah pleonasme, karena semua kehidupan Sufi adalah gerakan dan sebuah gerakan yang akrab dengan setiap fenomena. Sebagai contoh, ada "Kalangan Sufi Kristen", sebuah ungkapan yang bisa dan telah digunakan oleh para Sufi secara umum. Dalam beberapa hal, Sufi bahkan disebut masihi-i-batini (Kristen esoteris). Jika seorang Sufi sesuai dengan pikiran konvensional bermaksud menampilkan fakta-fakta tertentu tentang para Sufi, maka sebuah alat hitung mental atau elektrik mungkin akan merusak dirinya sendiri dalam upaya mengerjakan mereka ke dalam beberapa sistem. Namun untungnya, masih ada banyak orang yang bisa menerima informasi dari berbagai tataran dan akan bisa menyusun suatu pola lahiriah. Berikut ini serangkaian fakta-fakta tentang para Sufi: Para Sufi tampil pada masa-masa terutama dalam Islam awal. Mereka telah menghasilkan para teolog, penyair dan ilmuwan. Mereka menerima teori atom dan merumuskan teori evolusi lebih enam ratus tahun sebelum Darwin. Mereka dihormati sebagai orang suci, dihukum mati dan dituduh ahli bid'ah. Mereka mengajarkan bahwa hanya ada satu kebenaran mendasar dari setiap agama. Sebagian Sufi menyatakan, "Aku tidak mempercayai apa pun." Sementara Sufi lain mengatakan, "Aku mempercayai segala sesuatu." Yang lain lagi mengatakan, "Tidak ada sikap sembarangan di antara para Sufi," dan ada pula yang berkata, "Tidak ada Sufi tanpa humor." Skolastisisme dan mistisisme bertentangan satu sama lain. Namun di antara para Sufi, ada yang mendirikan madzhab. Apakah ini adalah madzhab-madzhab Muslim? Tidak, mereka adalah orang-orang Kristen yang dihubungkan dengan para pengikut St. Agustinus dan St. John of the Cross, seperti Profesor Palacios dan tokoh ternama lainnya. Sementara dari mistik Timur, Sufi kini muncul sebagai pengimbang mistikus dan filosuf Katholik. Ijinkanlah di sini kami menambahkan beberapa contoh. Kopi yang kita minum secara tradisional pertama kali diminum para Sufi untuk memperkuat kesadaran. Kita mengenakan pakaian ala mereka (kemeja, ikat pinggang, celana panjang). Kita mendengarkan musik mereka (musik irama Andalusia, musik birama, lagu-lagu cinta). Kita menari tarian mereka (Waltz, tarian Morris). Kita membaca kisah-kisah mereka (Dante, Robinson Crusoe, Chaucer, William Tell). Kita menggunakan ungkapan-ungkapan esoteris mereka ("momen kebenaran", "ruh", "manusia sempurna" [insan kamil]); dan kita memainkan permainan mereka (kartu).9 Bahkan kita menjadi anggota kelompok turunan mereka, seperti freemasonry dan ordo-ordo Ksatria. Unsur-unsur Sufi tersebut akan kami kaji dalam bab-bab selanjutnya. 6 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Biarawan di tempat persemediannya, Fakir di puncak gunung, saudagar di tokonya, raja dengan singgasananya -- semuanya mungkin menjadi Sufi, namun bukan penganut Sufisme. Tradisi Sufi memang ada, namun Sufisme itu laksana adonan asam ("Sufisme laksana ragi") dalam setiap masyarakat. Jika tradisi Sufi itu selalu menjadi bidang kajian akademis yang rumit, karena sebagai suatu subyek penelitian ia sama sekali berbeda dengan skolastisisme. Tingkat kemajemukannya itu sulit untuk disistematisasikan dalam bentuk semi-permanen sehingga mudah diteliti. Menurut Sufi sendiri, "Sufisme adalah suatu petualangan hidup, petualangan penting." Jika Sufisme itu merupakan suatu petualangan, suatu cita-cita menuju kesempurnaan manusia yang dicapai melalui pencerahan dan pengembangan fungsi organis, keutuhan dan nasib kemanusiaan, lalu mengapa ia begitu sulit dipahami, dilacak asal-usulnya, ditunjukkan bukti-buktinya? Ya, memang demikian, karena Sufisme ada dalam setiap masyarakat dan setiap zaman sehingga ia mempunyai keberagaman sedemikian rupa -- dan inilah salah satu rahasianya. Sang Sufi tidak membutuhkan masjid, bahasa Arab, serangkaian doa-doa, buku-buku filsafat, bahkan stabilitas sosial, karena hubungannya dengan kemanusiaan bercorak evolusioner dan adaptif. Sufi tidak bergantung pada reputasi karena kemampuannya memeragakan kekuatan magis dan keajaiban -- hal ini tidak lebih dari kegiatan insidentil, meskipun ia mungkin mendapatkan reputasi untuk itu. Sementara ahli sihir dari sistem mistik lainnya bertolak dari tujuan yang berbeda. Reputasinya diandalkan dan mungkin didukung keajaibannya. Sufi pun mempunyai reputasi, namun tetap bersifat sekunder dalam keseluruhan amalnya. Keberadaannya merupakan suatu peran dari organisme Sufi. Otoritas moral atau kepribadian yang menarik dari para Sufi bukan tujuan utama mereka, namun hasil pencapaian batiniah dan refleksi perkembangan mereka. Seorang Sufi berkata, "Seandainya laron bisa berpikir, ia mungkin akan benar-benar percaya bahwa nyala api lilin itu sangat penting, karena ia menunjukkan kesempurnaan. Nyala api itu sebenarnya hasil dari lilin, sumbu dan percikan api. Apakah manusia itu masih mencari nyala api atau percikan api? Amatilah laron itu. Karena dikelabui nyala api, nasibnya pasti engkau ketahui, namun tak disadari olehnya." (Tongue of the Dumb, dikutip Paiseem). Tentu saja Sufi dinilai di dunia luar dari apa yang dilakukan dan dikatakannya. Ada suatu anggapan bahwa ia adalah seorang jutawan. Para pengamat yang berpikir bahwa ia menjadi seorang jutawan karena cara hidupnya, yaitu Sufisme, mungkin menganggap fenomena itu sebagai proses menjadi seorang jutawan. Namun menurut Sufi, hal itu adalah realisasi batiniah dan evolusi melalui pencapaian batiniahnya. Uang mungkin merupakan suatu refleksi lahiriah, namun sangat tidak berarti dibandingkan pengalaman-pengalaman Sufi. Hal ini bukan berarti, sebagaimana diasumsikan banyak orang bahwa ia adalah seorang jutawan yang telah dipengaruhi mistisisme, dan bahwa uang tidak berarti baginya. Perkembangan sedemikian rupa tidak mungkin bagi Sufi, karena materi dan metafisika berkaitan dalam suatu kondisi terbaik yang dipandang sebagai suatu rangkaian. Ia mungkin menjadi jutawan yang tidak saja kaya materi, namun jiwanya tetap utuh. Banyak orang merasa kesulitan untuk memahami fakta sangat penting yang hanya digunakan untuk berbagai kepentingan oleh mereka. 6 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Dalam praktek populer, sejak dari Calcutta sampai California, orang biasa akan bisa mencapai puncak pemahaman filosofis dengan mengatakan berulangkali kata bijak kepada dirinya sendiri atau meyakinkan orang lain yang menyadari bahwa "uang bukanlah segalanya" atau "uang tidak mendatangkan kebahagiaan". Fakta ini pun menunjukkan bahwa pikiran tersebut berasal dari asumsi sebelumnya, yaitu bahwa uang bisa digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan transendental. Dalam praktek tidak demikian. Namun filosuf yang bersahaja tidak bisa memahami mengapa demikian. Bagi orang yang tidak punya uang, masalah ekonomi yang paling mendesak hanya bisa diselesaikan dengan uang. Pendeta menasehatinya bahwa uang bukan penyelesaian yang baik. Akibatnya bila ia memperoleh uang, tidak akan merasa puas. Sebenarnya ada tiga faktor yang bisa dipadukan olehnya dengan penjelasan berikut ini. Psikologi modern telah membuktikan efektivitasnya, misalnya ketika ia menyatakan bahwa keinginan memiliki uang itu muncul dari suatu perasaan tidak aman. Akan tetapi psikologi modern sendiri masih belum sempurna. Secara historis ia masih mengalami pasang surut. Sementara Sufi bertolak dari pandangan dasar yang berbeda. Menurut Sufi, kehidupan ini adalah perjuangan, akan tetapi perjuangan itu harus mempunyai koherensi. Manusia biasanya berjuang menghadapi begitu banyak masalah sekaligus. Bila seseorang yang bingung dan berjiwa labil memiliki uang, menjadi pekerja yang sukses, maka ia akan tetap bingung dan labil. Psikologi masih mempelajari obyek kajiannya, sementara Sufisme sudah sedemikian lanjut. Sufisme mentransformasi pikiran dari ketidaklogisan alamiah dan dipengaruhi oleh lingkungan, suatu instrumen manusia yang mampu mengangkat martabat dan nasibnya. Psikologi Freudian dan Jungian yang telah tersebar di Barat tidak mengandung gagasan baru dari sudut pandang Sufi. Argumen seksual Freud itu telah dibahas oleh Syekh Sufi, al-Ghazali, dalam karyanya Kimiyyatus Sa'adah (yang ditulis lebih dari sembilan ratus tahun yang lalu). Karya ini adalah buku standar di kalangan teolog Muslim. Sementara teori arketip Jung bukanlah gagasan orisinalnya, namun telah dibahas oleh guru Sufi, Ibnu Arabi -- hal ini dicatat oleh Profesor Rom Landau dalam The Philosophy of Ibu Arabi (New York, Macmillan, 1959, hlm. 40 dan seterusnya). Para Sufi dari semua tarekat telah terbiasa mendalami karya al-Ghazali itu dan karya-karya Ibnu Arabi. Oleh karena itu, mereka tidak asing lagi dengan pola-pola dan jangkauan pemikiran yang dianggap modern itu. Karena beberapa alasan, Sufisme tidak mudah dipelajari melalui psikologi. Alasan paling menarik bagi ilmuwan Barat mungkin karena Sufisme merupakan suatu sistem psikologis yang lebih lanjut dibandingkan sistem psikologis mana pun yang sedang dikembangkan di Barat. Namun Sufisme sama sekali bukan psikologi Timur, ia adalah psikologi manusia. Fakta sederhana ini tidak perlu dijelaskan. Kita cukup menyebutkan pengakuan Jung bahwa psikoanalisis Barat hanya merupakan psikologi pengantar dibandingkan psikologi Timur itu: 6 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Psikoanalisis sendiri dan batas-batas pemikirannya yang sedang dikembangkan -- tentu saja suatu perkembangan khas Barat -- hanyalah suatu percobaan awal dibandingkan psikologi Timur yang terlupakan itu."10 Sementara itu Jung hanya mengacu pada beberapa bagian dari pemikiran Timur itu. Keutuhan (ajaran Sufi) tidak bisa dipelajari sebagian. Pemula tidak dapat menilai karya pakar dalam bidang apa pun, termasuk Sufisme. Apa yang disebut pendekatan ilmiah terhadap fenomena manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya hanyalah sebatas pemikiran filosofis. Seperti pemikiran diskursif, ilmu pengetahuan hanya bekerja dalam ruang lingkup yang sesuai dengan praduganya. Hal ini diingatkan oleh Profesor Graves: "... para ilmuwan berhati-hati dalam mengutarakan berbagai anggapan mereka menurut rumus-rumus matematis yang secara artistik diterapkan pada masalahmasalah tertentu, seperti struktur atom atau temperatur bintang-bintang, sehingga dapat memberikan hasil yang 'mengesankan'. Rumus-rumus itu diterapkan agar bisa dipercaya dan untuk bidang-bidang pemikiran -- meskipun tidak dapat diterapkan dalam bidang-bidang yang berbeda; namun harus ada suatu titik persamaan antara rumus dan kasus ... Suatu hasil yang mengesankan sama dengan suatu bukti nyata dan hanya dapat digugurkan dengan hasil yang lebih mengesankan."11 Disamping ajaran Sufi yang utuh itu tidak bisa dipelajari sebagian, kita juga tidak bisa memungkiri fakta bahwa sesuatu tidak mungkin meliputi seluruh bidang kajiannya sendiri sekaligus. Guru Sufi Pir-i-Do-Sara menyatakan: "Dapatkah engkau membayangkan bahwa pikiran bisa mengamati dirinya secara menyeluruh -- jika semua bidang pemikiran dimasukkan dalam pengamatan, lalu apa yang akan menjadi obyek pengamatan? Jika semua termasuk yang dipikirkan, lalu siapa yang melakukan pengamatan? Pengamatan terhadap diri penting sepanjang ada suatu diri yang benar-benar berbeda, yaitu bidang di luar diri ..."12 Para Sufi menegaskan bahwa organisme yang biasa disebut Sufisme mempunyai suatu aliran langsung, yaitu pengalaman evolusioner yang menjadi faktor penting dalam semua madzhab mistik. Untuk membuktikan hal ini, ada beberapa hal menarik dalam menelusuri perkembangan gagasan Sufi itu. Bila para Sufi terbukti mempunyai kekuatan penetratif, yaitu suatu kemampuan mempengaruhi pemikiran dan tindakan masyarakat, maka dinamisme inti dari sistem ajaran mereka dapat kita duga. Dengan kata lain apakah ada alasan untuk menduga bahwa aliran Sufi mempunyai kemampuan mempengaruhi pemikiran manusia, katakanlah di Eropa Barat? Sepanjang periode klasik Sufisme yang didokumentasikan secara agak baik, apakah Sufisme telah menembus tabir abad kegelapan, membangkitkan dan mengembangkan masyarakat dengan latar belakang berbeda? Adakah Sufisme organis di masa itu? Hal ini mengesankan bahwa, sejak masa lalu, para guru Sufi telah menyampaikan tradisi pengetahuan mereka kepada hampir setiap masyarakat. Menurut tradisi Sufi, transmisi pengetahuan itu adalah faktual. Pada masa-masa yang lebih modern, penandasan transmisi itu hanya dapat diselidiki melalui munculnya praktek-praktek Sufi yang nyata dalam berbagai masyarakat yang jauh dari pusat6 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi pusat Sufi Asia. Akan tetapi esensi kegiatan Sufi tidak kelihatan. Sepanjang kita masih berusaha menyelidiki, maka ada jejak-jejak di sana-sini -- seperti jejak radioaktif kadangkala sampai ke dalam aliran darah manusia -- tentang tradisi pengetahuan dan praktek Sufi yang khas dan masih mempertahankan corak lokalnya. Sebagai contoh, jika Alfonso yang Bijak itu menulis dalam bahasa Arab, hal ini membuktikan ada pengaruh Arab. Demikian pula, jika simbol awal dari sebuah kelompok Sufi konon ditemukan di Irlandia pada abad kesembilan, hal ini menunjukkan suatu lintasan (penyebaran) tradisi pengetahuan Sufi di Barat. Kita memang telah mengetahui beberapa ciri khas Sufisme, namun kita tidak memperhatikan kebutuhan untuk memahami fakta ungkapan Sufi secara benar. Tentang transmisi ungkapan dengan kata-kata biasa itu, ada keyakinan Sufi lainnya sebagai berikut: Para Sufi percaya bahwa dengan cara tertentu, kemanusiaan berkembang menuju suatu masa depan, kita semua sedang mengalami proses evolusi tersebut. Organorgan manusia sekarang merupakan wujud perpaduan fungsi organ-organ khusus (Rumi). Organisme manusia sedang menghasilkan suatu organ kompleks baru untuk memenuhi suatu kebutuhan. Pada tahap melampaui ruang dan waktu, organ-organ kompleks itu menyesuaikan dengan tahap itu. Apa yang dianggap orang pada umumnya sebagai kemampuan telepatik dan propetik, menurut Sufi tidak lebih sebagai perkembangan awal dari organ-organ itu. Perbedaan antara evolusi masa lampau dengan kemampuan evolutif masa kini adalah, masa lampau membutuhkan waktu sekitar sepuluh ribu tahun atau di masa kini kita mungkin telah memasuki evolusi kesadaran. Jadi masa depan kita sangat tergantung pada evolusi kesadaran yang lebih murni. Dalam ungkapan fabel kita, evolusi itu dapat disebut "belajar berenang". Bagaimana organ-organ itu dikembangkan? Melalui metode Sufi. Bagaimana cara mengetahui perkembangannya? Hanya melalui pengalaman. Dalam sistem Sufi ada sejumlah "jenjang". Pencapaian jenjang-jenjang itu ditandai dengan suatu pengalaman nyata. Manakala pengalaman itu datang, menggerakkan organ dalam persoalan, memberikan kita keringanan akan pendakian kita, dan memberikan kemampuan untuk mencapai jenjang selanjutnya. Pencapaian jenjang-jenjang itu bersifat permanen. Hingga satu dari jenjang-jenjang ini tercapai, gambar yang sangat tajam, seperti yang terjadi, dapat terekspose dan berkembang, namun tidak tetap; dan pengalaman nyata adalah suatu substansi perasaan. Demikian ini adalah makna dari pengalaman mistik, yang, betapapun, manakala diperturutkan tanpa jalinan harmonis dengan evolusi yang tampak menjadi sesuatu yang sublim -- sebuah sensasi agung, namun tidak ada jaminan apakah manusia akan bahagia atau tidak di masa depan. Para Sufi percaya bahwa hasil kegiatan Sufistik dan memusatkan perhatian bisa jadi merupakan kekuatan centrifugal atau magnetik. Kekuatan ini mampu menggabungkan kekuatan yang sama di lain tempat. Penggabungan kekuatankekuatan itu sinambung dan lestari serta sebagai "kekuatan" misterius, hanya 6 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi diperoleh atau dimiliki para guru Sufi. Mereka mampu menggali atau membangkitkan kekuatan pancaindera yang tidak berfungsi. Dalam Sufisme, kemampuan-kemampuan itu bisa dijelaskan dengan istilah-istilah formal. Sebagai landasan, kita perlu mengutip semboyan Sufi, "Dialah yang tidak dikenal," (Rumi). Catatan kaki: 1 Yang mengejutkan beberapa ilmuwan abad kedua puluh adalah bahwa hampir seribu tahun sebelum Einstein, ternyata darwis Hujwiri telah mengkaji secara teknis identitas ruang dan waktu yang diterapkan dalam pengalaman Sufi. (Kasyful- Mahjub). 2 Abu Hanifah adalah pendiri salah satu madzhab hukum Islam, yaitu Madzhab Keempat. Ia adalah guru Sufi Dawud ath-Tha'i (w. 781). Dawud menyampaikan ajarannya kepada muridnya yaitu Ma'ruf al-Karkhi (Sang Raja Sulaiman), pendiri persaudaraan Sufi yang bernama "al-Banna". 3 Profesor R. A. Nicholson, The Mystics of Islam, London, 1914, hlm. 25. 4 Mysticism, London, 1911; New York, 1960. 5 Lihat anotasi "Hafizh". 6 G.L. Bell, Poems from the Divan of Hafiz, London, edisi baru, 1928, hlm. 81. 7 Ibid. 8 Para Sufi beserta tentara-tentara Arab menaklukkan Spanyol pada 711 M. 9 Lihat anotasi "Taurat". 10 C.G. Jung, Modern Man in Search of a Soul, London, 1959, hlm. 250-1. Lihat juga anotasi "Kesadaran". 11 Robert Graves, The Crowning Privilege, London, 1959, hlm. 306-7. 12 Mountain of Illumination, XVI, ayat 9951-9957, MS. 6 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi MULLAH NASHRUDDIN 1 (CERITA MENUJU AWAL PENCERAHAN) Kala Anda sampai di samudera, Anda tidak akan berbicara tentang arus sungai. (Hakim Sanai, The Walled Garden of Truth) Mullah (guru) Nashruddin adalah sosok klasik yang dirancang oleh para darwis; sebagian untuk tujuan pemberhentian (jeda) karena situasi-situasi sesaat dimana didalamnya keadaan-keadaan tertentu dari jiwa dibuat jelas. Kisah-kisah Nashruddin, dikenal secara menyeluruh di Timur Tengah, merupakan (dalam manuskrip The Subtleties of the Incomparable Nasrudin) satu dari sejumlah pencapaian ganjil (ajaib) di dalam sejarah metafisika. Namun, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon. Kisah-kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia. Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial. Karena Sufisme merupakan sesuatu yang dijalani dan juga dipahami, cerita Nashruddin tidak bisa menghasilkan pencerahan utuh kepada dirinya sendiri. Di sisi lain, ia menjembatani celah antara kehidupan duniawi dan suatu perubahan bentuk kesadaran dalam cara yang tidak bisa dicapai oleh bentuk kesusastraan lainnya. Manuskrip "Kepelikan" (the Subtleties) belum pernah dihadirkan secara utuh bagi pembaca Barat. Kemungkinan karena cerita-cerita tersebut tidak bisa diterjemahkan secara tepat oleh non-Sufi, atau dipelajari di luar konteksnya, dan mempertahankan dampak esensialnya. Di Timur, kumpulan cerita tersebut ratarata digunakan untuk maksud kajian semata oleh para Sufi pemula. Leluconlelucon dari kumpulan tersebut secara individual telah menyebar ke hampir setiap kepustakaan dunia. Dan sejumlah lelucon tertentu dari perhatian skolastik telah dilekatkan pada cerita-cerita tersebut. Dalam penilaian ini sebagian sebagai sebuah contoh gelombang kebudayaan, atau untuk mendukung argumen-argumen yang menguntungkan identitas-dasar humor di mana saja. Tetapi jika karena daya tarik humor perenialnya cerita-cerita itu telah membuktikan kekuatannya, maka hal ini secara menyeluruh merupakan hal kedua bagi tujuan kumpulan cerita tersebut, yang dimaksudkan untuk menyediakan suatu dasar bagi tersedianya sikap Sufi terhadap kehidupan, dan memungkinkan pada pencapaian penyadaran Sufisme dan pengalaman mistis. Legenda Nashruddin (the Legend of Nasrudin), yang dibubuhkan pada manuskrip the Subtleties dan paling tidak berasal dari abad ketiga belas, sebagian dimaksudkan untuk memperkenalkan Nashruddin. Penyebaran humor Nashruddin 6 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi tidak bisa dihalangi, ia bisa masuk melalui pola-pola pemikiran yang dihasilkan manusia melalui kebiasaan dan rancangan. Dalam sebagian sistem pemikiran yang utuh, Nashruddin ada pada begitu banyak makna yang dalam sehingga (keberadaan) dirinya tidak bisa dimusnahkan. Sebagai tolak ukur kebenaran, hal ini mungkin bisa dilihat pada fakta bahwa organisasi-organisasi yang beragam dan asing seperti the British Society for the Promotion of Christian Knowledge (S.P.C.K) (Perkumpulan Inggris yang bergerak dalam Penyiaran Pengetahuan Kristiani) dan juga pada pemerintah Soviet, keduanya telah memanfaatkan Nashruddin. The S.P.C.K. telah menerbitkan beberapa cerita (Nashruddin) dengan judul cerita-cerita tentang Khoja [Khwaja] (Tales of the Khoja); sementara orangorang Rusia (mungkin dengan prinsip "Jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, maka bergabunglah dengan mereka") telah membuat film tentang Nashruddin dengan judul The Adventures of Nasrudin. Bahkan orang-orang Yunani, yang menerima beberapa hal dari orang Turki, menganggap Nashruddin sebagai bagian dari warisan kebudayaannya. Pemerintah sekular Turki, melalui departemen penerangannya, telah menerbitkan sebuah kumpulan lelucon metafisis yang dinisbatkan kepada tokoh yang dianggap sebagai guru Muslim ini yang merupakan tipe-ideal mistik Sufi, meskipun Tarekat-tarekat Sufi ditindas melalui Undangundang di Republik Turki. Tak ada seorang pun tahu siapa sebenarnya Nashruddin itu, kapan dan di mana ia hidup. Tujuan keseluruhan tulisan ini adalah menampilkan satu sosok yang tidak bisa diberi karakter yang sesungguhnya, dan yang berada di luar waktu. Adalah pesan, dan bukan orangnya, yang penting bagi para Sufi. Hal ini tidak menghalangi masyarakat untuk memberikan suatu sejarah yang fiktif, dan bahkan sebuah makam. Para sarjana -- berlawanan dengan orang yang terlalu formal dimana dalam cerita-ceritanya seringkali memunculkan Nashruddin sebagai pemenang -- bahkan telah mencoba menjadikan manuskrip the Subtleties kedalam serpihanserpihan terpisah dengan harapan menemukan bahan biografis yang memadai. Salah satu "penemuan" mereka pastilah akan mengingatkan bahwa ia adalah Nashruddin sendiri. Nashruddin mengatakan bahwa ia memandang dirinya sendiri secara terbalik di dunia ini, demikian papar seorang sarjana. Dan pandangan ini ia menarik kesimpulan bahwa tahun yang diduga merupakan saat kematian Nashruddin, atau "nisannya" seharusnya tidak dibaca 386, tetapi 683. Profesor lainnya merasa bahwa angka-angka Arab yang digunakan, jika benar-benar terbalik, tampaknya lebih menyerupai angka 274 H. Dengan seksama ia mencatat bahwa seorang darwis yang dimintainya bantuan dalam persoalan ini, "... sekadar mengatakan, mengapa tidak memasukkan seekor laba-laba ke dalam tinta dan melihat tanda apa yang dibuatnya di saat laba-laba itu merayap ke luar. Hal ini akan memberikan waktu yang benar atau menunjukkan sesuatu." Sesungguhnya angka 386 bermakna 300 + 80 + 6. Jika disesuaikan dengan abjadabjad Arab, hal ini akan berbunyi Sy, W, F, yang membentuk kata SyaWaF: "Menyebabkan seseorang melihat, untuk memperlihatkan sesuatu". Laba-laba darwis tersebut akan "memperlihatkan" sesuatu, sebagaimana yang ia katakan sendiri. Jika kita melihat beberapa cerita klasik Nashruddin dengan cara seutuh mungkin, kita segera menemukan bahwa keseluruhan pendekatan skolastik merupakan cara terakhir yang diperbolehkan oleh Sufi: 6 7 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Nashruddin, ketika menyeberangi perairan yang ganas bersama seorang sarjana yang berpola pikir kaku dan formalistik, mengatakan sesuatu kepadanya yang secara kaidah bahasa tidak sesuai. "Apakah Anda tidak pernah belajar kaidahkaidah?" tanya si sarjana tersebut. "Tidak," jawab Nashruddin. "Maka separo kehidupan Anda sia-sia," ucapnya kepada Nashruddin seraya bertanya, "Apakah Anda pernah belajar berenang?" "Tidak, mengapa?" "Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia -- kita tengah tenggelam." Ini merupakan penekanan terhadap Sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa (pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya. Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat Sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata: "Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi." Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar: "Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah -- dan bukan sekadar dugaan." Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru Sufi, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran. Sebuah cerita terkenal yang menyangkal kepercayaan dangkal (superfisial) terhadap hukum sebab-akibat menjadikan dirinya sebagai korban. Suatu hari Mullah Nashruddin tengah berjalan di sebuah gang ketika seorang jatuh dari atap rumah dan menimpa tubuhnya. Orang yang jatuh tersebut tidak terluka -- tetapi justru Mullah Nashruddin yang dibawa ke rumah sakit. "Ajaran apakah yang bisa Tuan ambil dari peristiwa ini, Guru?" tanya salah satu muridnya. "Hindari kepercayaan terhadap kepastian atau sesuatu yang tidak bisa dihindari, meskipun hukum sebab-akibat tampak tidak bisa ditolak! Ajukan pertanyaanpertanyaan teoritis seperti: 'Jika seseorang jatuh dari atap, apakah lehernya akan patah?' Ia yang jatuh -- tetapi justru leherku yang patah!" 6 8 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Karena orang kebanyakan berpikir dalam pola-pola (baku) dan tidak bisa menyesuaikan dirinya pada suatu cara pandang yang benar-benar berbeda, maka ia kehilangan sejumlah besar makna kehidupan. Ia mungkin hidup, bahkan maju, tetapi tidak bisa memahami semua yang terjadi. Cerita tentang penyelundup menjadikan hal ini semakin jelas. Nashruddin biasa membawa keledainya yang punggungnya dimuati kantong-kantong penuh berisi sekam, menyeberangi perbatasan setiap hari. Karena mengaku sebagai penyelundup kala berjalan pulang naik keledainya setiap malam, maka para penjaga perbatasan memeriksanya berkali-kali. Mereka memeriksa orangnya, menurunkan sekamnya, kemudian memasukkannya ke dalam air dan bahkan membakarnya dari waktu ke waktu. Meskipun demikian ia menjadi semakin makmur dan mencolok. Pada saatnya ia berhenti dan pindah ke negeri lain. Di tempat baru ini ia sudah bertahun-tahun, dimana salah satu petugas bea cukai bertemu dengannya. "Sekarang Anda bisa menceritakan kepadaku, Nashruddin!" ucapnya. "Apa sebenarnya yang Anda selundupkan dulu, sehingga kami tidak pernah bisa menangkapnya?" "Keledai," jawab Nashruddin. Cerita ini juga menekankan salah satu dari kandungan besar Sufisme --bahwa pengalaman yang tidak biasa dan tujuan mistik merupakan sesuatu yang lebih dekat kepada manusia dibanding yang disadari. Anggapan bahwa sesuatu yang esoteris atau transenden pastilah jauh atau rumit telah dianut oleh orang-orang bodoh. Dan orang semacam ini tidak memiliki syarat untuk memberikan penilaian terhadap persoalan. Ini menjadi " jauh" hanya dalam arah yang tidak ia sadari. Nashruddin, seperti Sufi lainnya, tidak merusak kaidah-kaidah zamannya. Tetapi Ia menambahkan suatu dimensi baru bagi kesadarannya, dengan menolak menerima terhadap tujuan-tujuan khusus dan terbatas. Bahwa kebenaran, katakanlah demikian, merupakan sesuatu yang bisa diukur sebagaimana sesuatu yang lain. Apa yang disebut oleh masyarakat sebagai kebenaran adalah relatif pada situasi mereka. Dan ia tidak bisa menekannya sampai menyadarinya. Salah satu cerita Nashruddin, salah satu yang paling cerdik, memperlihatkan bahwa sampai seseorang bisa melihat melalui kebenaran relatif, maka tidak ada kemajuan bisa dibuat. Suatu hari Nashruddin duduk di pengadilan. Raja mengeluh bahwa para pejabatnya tidak jujur. "Paduka," ucap Nashruddin, terdapat kebenaran dan kejujuran. Orang harus mempraktekkan kebenaran sejati, sebelum mereka bisa menggunakan kebenaran relatif. Mereka selalu mencoba-coba cara lain. Akibatnya adalah bahwa mereka berlaku lancang dengan kebenaran buatan-manusia, sebab secara naluri mereka mengetahui bahwa itu hanyalah suatu ciptaan (manusia)." Raja menganggap hal ini terlalu rumit, "Sesuatu harus benar atau salah. Aku akan membuat orang berkata jujur dan dengan praktek ini mereka akan terbiasa jujur." 6 9 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Ketika gerbang kota dibuka pada esok harinya, sebuah gantungan telah dipasang, yang dipimpin oleh seorang kapten dari pengawal istana. Sebuah pengumuman dilontarkan: "Siapa saja yang memasuki kota, pertama-tama harus menjawab benar pertanyaan yang akan dikemukakan kepadanya oleh kapten pengawal." Nashruddin, yang tengah menunggu di luar, maju pertama. Kapten tersebut berkata, "Mau ke mana engkau? Jawab dengan jujur -- alternatifnya adalah hukuman mati dengan digantung." "Aku akan," jawab Nashruddin, "digantung di atas tiang gantungan itu." "Aku tidak mempercayaimu." "Jika demikian, baiklah. Jika aku berdusta, gantung aku." "Tetapi hal itu akan menjadikannya (kebohongan) sebagai kebenaran." "Tepat," ucap Nashruddin, "kebenaranmu." Calon Sufi juga harus memahami bahwa tolok ukur kebaikan dan keburukan didasarkan pada ukuran individu atau kelompok, bukan atas dasar fakta obyektif. Sampai ia mengalami hal ini secara internal dan juga menerimanya secara intelektual, ia tidak akan mampu mencapai pemahaman yang lebih dalam (batin). Skala pengubahan ini digambarkan oleh cerita tentang perburuan: Seorang raja yang senang bergaul dengan Nashruddin, dan juga senang berburu, memerintahkannya untuk menyertainya dalam sebuah perburuan beruang. Nashruddin merasa sangat ketakutan. Ketika Nashruddin kembali ke desanya, seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana berburunya?" "Luar biasa!" "Berapa ekor beruang yang Anda lihat?" "Tidak seekor pun." "Lantas, bagaimana bisa luar biasa?" "Jika engkau berburu beruang, dan jika engkau adalah aku, tidak melihat satu pun beruang merupakan pengalaman luar biasa." Pengalaman internal tidak bisa disalurkan melalui pengulangan, tetapi harus disegarkan kembali secara terus-menerus dari sumbernya. Banyak madzhab yang tetap beroperasi lama setelah dinamika aktualnya telah kering, semata-mata menjadi pusat pengulangan suatu doktrin yang semakin melemah. Nama ajaran 7 0 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi tersebut mungkin tetap sama. Ajaran tersebut mungkin tidak memiliki nilai lagi, bahkan mungkin bertentangan dengan makna asalnya, yang hampir semuanya selalu merupakan pendangkalan terhadap makna salah satu persoalan pokok dalam ceritanya tentang "Kuah Sup Bebek". Seorang kerabat jauh mengunjungi Mullah Nashruddin, dengan membawa seekor bebek sebagai buah tangan. Karena gembira, Nashruddin memasaknya dan menyantapnya bersama tamunya. Akan tetapi, akhir-akhir ini orang-orang pedalaman silih berganti mengunjungi rumah Nashruddin, masing-masing orang mengaku sahabat dari "orang yang membawakan bebek itu sebagai buah tangan". Lama-kelamaan Nashruddin terkuras. Akan tetapi, pada suatu hari seorang asing lainnya berkunjung, "Aku adalah sahabat dari sahabat dari sahabat kerabat yang membawakan bebek kepada Anda." Ia duduk, seperti semua tamu-tamunya, mengharapkan sebuah hidangan. Akhirnya Nashruddin menghidangkan kepadanya semangkuk air panas. "Apa ini?" "Ini adalah sup dari sup dari sup bebek yang dibawa oleh kerabatku." Persepsi tajam yang dicapai Sufi kadang-kadang memungkinkan dirinya mengalami hal-hal yang tidak terlihat oleh orang-orang lain. Karena tidak mengetahui hal ini, para anggota dari madzhab-madzhab lainnya secara umum memperlihatkan kelemahan persepsinya dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara jelas merupakan akibat dari ketidakmatangan spiritualnya, sehingga seorang Sufi bisa membaca dirinya seperti sebuah buku. Oleh karena itu, persepsi tersebut digambarkan oleh cerita Nashruddin lainnya: Nashruddin memasuki sebuah rumah besar untuk mengumpulkan sedekah. Sang pembantu berkata, "Tuanku sedang keluar." "Baiklah, " ucap Nashruddin, "meskipun ia tidak bisa menyumbang, tolong sampaikan nasehatku kepadanya. Katakan, 'Lain kali jika Tuan keluar, jangan tinggalkan wajah Tuan di jendela -- seseorang mungkin bisa mencurinya'." Orang tidak tahu ke mana harus menoleh kalau mereka mencari pencerahan. Akibatnya, tidaklah mengejutkan jika mereka menempelkan dirinya pada suatu cara penyembahan (kultus), menenggelamkan dirinya pada semua cara teori-teori, dengan meyakini bahwa mereka memiliki kapasitas kebenaran dari yang salah (yang sejati dari yang palsu). Nashruddin mengajarkan hal ini dalam berbagai cara. Pada suatu kesempatan seorang tetangga menemukannya tengah berlutut mencari sesuatu. "Apa yang hilang, Mullah?" "Kunciku," jawab Nashruddin. 7 1 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Setelah beberapa menit mencari, tetangga itu bertanya, "Di mana Anda menjatuhkannya?" "Di rumah." "Demi Allah, lantas mengapa Anda mencarinya di sini?" "Sebab di sini lebih banyak cahaya." Cerita ini merupakan salah satu yang paling terkenal dari semua cerita Nashruddin, yang digunakan oleh para Sufi, untuk mengulas orang-orang yang mencari sumbersumber lahiriah bagi pencerahan. Kisah ini merupakan bagian dari pertunjukan Karl Vallentin, "badut metafisis" akhir dari Munich. Mekanisme rasionalisasi merupakan salah satu penghalang efektif bagi pendalaman persepsi. Dampak Sufistik mungkin seringkali disia-siakan karena individu tersebut tidak akan menyerapnya secara tepat. Seorang tetangga datang untuk meminjam tali jemuran Nashruddin. "Maaf, aku tengah mengeringkan bubuk gandum di atasnya." "Tetapi bagaimana engkau bisa mengeringkan bubuk gandum di atas tali jemuran?" "Hal ini tidak sesulit yang Anda kira, jika Anda tidak ingin meminjamkannya." Di sini Nashruddin menampilkan dirinya sendiri sebagai bagian jiwa/akal yang selalu menolak, yang tidak akan menerima bahwa terdapat cara lain untuk mendekati kebenaran selain pola-pola konvensional. Dalam perkembangan pikiran manusia, terdapat perubahan konstan dan membatasi kegunaan setiap teknik khusus. Karakteristik praktek Sufi ini terabaikan dalam sistem-sistem yang bersifat pengulangan, yang mengondisikan pikiran dan menciptakan suatu suasana pencapaian atau kedekatan pada pencapaian, tanpa benar-benar menghasilkannya. Nashruddin menggambarkan karakteristik tersebut dalam sebuah cerita yang berusaha memperjelas hal itu. Mullah Nashruddin hampir terjatuh ke dalam kolam air. Seorang yang lewat menyelamatkannya, di saat yang tepat. Setiap kali mereka bertemu, orang tersebut mengingatkan Nashruddin betapa ia telah mencegahnya untuk tidak basah kuyup. Akhirnya karena tidak tahan lagi, Nashruddin membawa "dewa penolongnya" tersebut ke kolam, kemudian ia menceburkan diri sampai sebatas leher, dan berteriak, "Sekarang aku basah kuyup seperti seandainya tidak pernah bertemu dengan Anda! Maukah Anda membiarkanku sendiri?" Lelucon atau dongeng biasa, yang hanya mengandung satu persoalan atau penekanan, tidak bisa dibandingkan dengan sistem Nashruddin -- secara ideal merupakan suatu partisipasi-pembacaan yang menghasilkan pengaruh batin, begitu 7 2 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi juga pengaruh lahir atau superfisial. Dongeng dan lelucon biasa secara mistik dipandang steril karena tidak memiliki kekuatan menembus atau regenerasi sejati. Meskipun kepiawaian dan tujuan yang rumit dari cerita Nashruddin jauh lebih tinggi, katakanlah dibanding tokoh Baldakiev bagi orang-orang Rusia, Joha bagi orang-orang Arab, atau Bertoldo bagi orang-orang Italia -- semuanya adalah tokohtokoh komik yang terkenal -- perbedaan tertentu dari kedalaman makna pada cerita-cerita bisa dimasukkan melalui cara-cara lelucon Nashruddin dan kesepadanannya pada peristiwa sporadis di mana saja. Sebuah cerita Zen memberikan satu contoh menarik. Dalam cerita ini seorang pendeta bertanya kepada seorang guru untuk memberikan suatu gambaran realitas (yang ada) di luar realitas. Guru tersebut menggambar sebuah apel yang busuk, dan pendeta tersebut menangkap kebenaran itu melalui tanda ini. Kita tetap dalam kegelapan tentang apa yang ada di balik, atau yang membawa kepada, pencerahan tersebut. Cerita Nashruddin tentang apel mengisi sejumlah besar rincian yang hilang tersebut. Nashruddin tengah duduk di antara murid-muridnya, ketika salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang hubungan antara hal-hal yang ada di dunia ini dan hal-hal yang ada di suatu dimensi yang berbeda. Nashruddin mengatakan, "Engkau harus memahami tamsil!" Murid tersebut berkata, "Perlihatkan kepada kami sesuatu yang praktis -- sebagai contoh sebuah apel dari Firdaus!" Nashruddin memetik sebuah apel dan menyerahkannya kepada murid tersebut. "Namun apel ini jelek di salah satu bagiannya -- apel surgawi seharusnya sempurna." "Sebuah apel surgawi seharusnya sempurna," ucap Nashruddin, "tetapi sejauh engkau bisa menilainya, sementara kita berada di dunia yang tidak sempurna ini, serta dengan kemampuanmu yang ada saat ini, apel ini mendekati apel surgawi yang bisa engkau peroleh." Murid tersebut memahami bahwa istilah-istilah yang kita gunakan untuk hal-hal metafisis itu didasarkan atas istilah fisik. Dalam rangka menembus dimensi lain dari pemikiran (pemahaman), kita harus menyesuaikan pada cara pemahaman bagi dimensi tersebut. Cerita Nashruddin, yang sangat mungkin merupakan asal dari tamsil apel tersebut, dirancang untuk menambahkan suatu rasa bagi pemikiran pendengarnya yang dibutuhkan untuk membangun kesadaran bagi pengalaman-pengalaman yang tidak bisa dicapai sampai suatu jembatan (kesadaran) telah dicapai. Pembentukan kesadaran-batin secara bertahap ini merupakan karakter dari metode Sufistik Nashruddin. Kilatan pencerahan intuitif yang dihasilkan oleh cerita-cerita tersebut sebagian merupakan suatu pencerahan kecil pada dirinya sendiri, dan bukan suatu pengalaman intelektual. Ia juga merupakan batu loncatan menuju pembentukan kembali persepsi mistik dalam suatu penulisan yang menjebak, yang secara terus-menerus pemikiran dikondisikan oleh sistem-sistem pelatihan dalam kehidupan material. 7 3 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Sebuah lelucon Nashruddin, yang dipisahkan dari terminologi teknisnya (kemungkinan akibat penterjemahan), masih bisa dirasakan nilai humornya. Dalam hal ini sebagian besar dampaknya mungkin hilang. Contohnya adalah lelucon tentang garam dan wool: Nashruddin tengah membawa muatan garam ke pasar. Keledainya berjalan menyeberangi sungai, dan garamnya pun meleleh. Ketika sampai di seberang sungai, keledai tersebut berjalan lincah karena muatannya menjadi ringan. Maka Nashruddin menjadi marah. Pada hari pasaran berikutnya ia memuati kantong pelananya dengan wool. Keledainya hampir tenggelam dengan meningkatnya beban ketika binatang tersebut keluar dari air. "Bah!" ucap Nashruddin penuh kemenangan, "itu akan mengajari untuk berpikir bahwa engkau akan memperoleh sesuatu setiap kali engkau melewati air." Pada cerita asalnya, dua istilah teknis dipergunakan, garam dan wool. "Garam" (milh) adalah homonim untuk "menjadi baik, bijak". Keledai adalah simbol untuk manusia. Dengan menumpahkan beban kebajikan umumnya, seseorang akan merasa lebih baik, karena kehilangan beban. Akibatnya ia kehilangan makanannya, sebab Nashruddin tidak bisa menjual garam untuk membeli pakan ternaknya. Kata "wool" tentu saja merupakan kata lain untuk "Sufi". Pada perjalanan keduanya, keledai tersebut telah meningkatkan bebannya melalui wool, karena adanya maksud dari sang guru, Nashruddin. Bebannya meningkat selama perjalanan menuju pasar. Tetapi hasil akhirnya menjadi lebih baik, sebab Nashruddin menjual wool basah, tentu saja lebih berat dari sebelumnya, dengan harga yang lebih tinggi dari wool kering. Lelucon lain, yang juga ditemukan pada Cervantes (Don Quixote, Bagian 5), tetap menjadi sebuah lelucon meskipun istilah teknis "takut" semata-mata diterjemahkan apa adanya dan tidak dijelaskan: "Aku akan mengantungmu!" ucap seorang raja lalim dan bodoh kepada Nashruddin. "Jika engkau tidak bisa membuktikan bahwa dirimu memiliki wawasan yang mendalam seperti yang telah dinisbatkan kepadamu." Mendadak Nashruddin menyatakan bahwa dirinya bisa melihat seekor burung emas di langit dan iblis di dalam bumi. "Tetapi bagaimana engkau bisa melakukannya?" tanya sang raja. "Rasa takut," jawab Nashruddin, "itulah yang Tuan perlukan." "Takut" dalam kosa kata Sufi, merupakan pengaktifan kesadaran yang bisa menghasilkan persepsi surga-inderawi (extra -sensory). Ini merupakan suatu kawasan dimana akal-formal tidak dipergunakan, dan fakultas lain dari jiwa (mind) didorong untuk bekerja. Tetapi Nashruddin, dengan cara yang sama sekali unik, berusaha mempergunakan pirantHntelektualitas yang sama untuk tujuan-tujuannya sendiri. Gema dari tujuan ini bisa ditemukan pada the Legend of Nasrudin, dimana di dalamnya diriwayatkan bahwa Hussein, pendiri sistem tersebut, mengambil utusannya yang telah dirancang, Nashruddin, dari cengkeraman "Pendosa Tua" -- sistem pemikiran yang mentah dimana hampir kita semua hidup di dalamnya. 7 4 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi "Hussein" dalam bahasa Arab dikaitkan dengan konsep kebajikan, "Hussein" bermakna "kuat, sulit untuk dimasuki". Ketika Hussein mencari ke seluruh dunia seorang guru yang akan membawa pesannya ke seluruh generasi, ia hampir putus asa ketika mendengar suara ribut. Sang Pendosa-Tua memakai salah satu muridnya karena menceritakan lelucon. "Nashruddin" bentak sang Pendosa-Tua, "karena sikapmu yang keterlaluan aku mengutukmu menjadi bahan kekonyolan dunia. Oleh sebab itu, jika satu dari cerita-ceritamu yang rancu diceritakan, maka enam cerita lagi pasti akan terdengar secara beruntun sampai engkau terlihat jelas sebagai sosok yang lucu." Diyakini bahwa pengaruh mistis dari tujuh cerita Nashruddin, yang dipelajari secara beruntun, adalah cukup untuk mempersiapkan seseorang menuju pencerahan. Hussein, yang menguping hal itu, menyadari bahwa dari setiap situasi akan muncul pengobatannya sendiri, dan dengan demikian dari cara dimana kejahatankejahatan Pendosa-Tua terjadi itulah bisa dibawa pada perspektifnya yang sejati. Ia akan menjaga kebenaran melalui Nashruddin. Ia memanggil Nashruddin dalam mimpi dan menanamkan sejumlah berkahnya kedalam dirinya. Barakah merupakan kekuatan Sufi, menembus secara batin ke dalam signifikansi-nominal dari makna. Dan sinilah semua cerita tentang Nashruddin menjadi karya seni "independen". Mereka bisa dipahami sebagai lelucon; mereka memiliki suatu makna metafisis; cerita-cerita itu demikian kompleks dan mengandung sebagian dari sifat keutuhan dan kesempurnaan yang telah dicuri dari kesadaran manusia karena aktivitas-aktivitas dari Pendosa-Tua tersebut (sistem pemikiran yang mentah). Dilihat dari sudut pandang biasa, barakah memiliki kualitas "magis" -- meskipun ia secara esensial merupakan suatu kesatuan dan pendorong serta substansi dari realitas obyektif. Salah satu dari kualitas ini adalah siapa saja yang diberi barakah, atau setiap obyektif yang terkait dengannya, tidak menjadi soal berapa banyak ia telah diubah karena dampak dari orang ini secara spiritual tercurahkan. Oleh sebab itu, pengulangan semata-mata sebuah lelucon Nashruddin akan membawa barakah. "Maka dengan cara inilah ajaran-ajaran Nashruddin dari jalur Hussein ditanamkan selamanya di dalam suatu piranti yang secara keseluruhan tidak bisa diselewengkan tanpa bisa diperbaiki kembali. Seperti air, secara esensial semuanya adalah air, maka dalam pengalaman-pengalaman Nashruddin terdapat suatu takaran minimum yang tidak teredaksi yang bisa memberikan jawaban suatu panggilan, dan akan berkembang jika didorong." Takaran minimum tersebut adalah kebenaran (truth), dan melalui kebenaran inilah dicapai kesadaran sejati. Nashruddin merupakan cermin bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri. Tidak seperti cermin kebanyakan, semakin sering dilihat, maka semakin tampak sosok Nashruddin yang asli terproyeksikan di dalamnya. Cermin ini serupa dengan Cup of Jamshid yang termasyhur, sang pahlawan Persia; yang mencerminkan seluruh dunia, dan dalam cermin inilah para Sufi "melihat". 7 5 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi Karena Sufisme tidak dibangun diatas perilaku artificial, dalam pengertian tersurat dengan rincian eksternal (lahiriah), tetapi di atas rincian komprehensif (pemahaman), maka cerita-cerita Nashruddin harus dialami, begitu juga direnungkan. Selain itu, merasakan kandungan setiap cerita melalui pengalaman langsung akan mendorong "kehadiran" mistik. Salah satu dari perkembangan pertama kehadiran tersebut adalah ketika seorang Sufi memperlihatkan tandatanda persepsi superior. Sebagai contoh, ia akan mampu memahami suatu keadaan melalui ilham, bukan melalui penalaran formal. Akibatnya, tindakan-tindakannya kadang-kadang bisa membingungkan para pengamat yang bekerja pada tataran kesadaran-biasa; meskipun demikian yang dihasilkannya akan tepat. Sebuah cerita Nashruddin yang memperlihatkan bagaimana hasil yang tepat dicapai seorang Sufi melalui suatu mekanisme khusus ("cara yang salah" dalam pandangan orang-orang yang belum tercerahkan) bisa menjelaskan sebagian besar eksentrisitas para. Sufi: Dua orang menghadap Nashruddin ketika ia berperan dalam kapasitasnya sebagai hakim. Salah satunya berkata, "Orang ini telah menggigit telingaku -- aku menuntut qishas!" Yang lain bertutur, "Ia menggigitnya sendiri." Nashruddin menunda kasus tersebut dan masuk kedalam ruangannya. Di sana ia menghabiskan waktu setengah jam berusaha untuk menggigit telinganya sendiri. Seluruh upayanya hanya mengakibatkannya terjerembab dan keningnya lecet. Kemudian ia kembali ke ruang sidang. "Periksa orang yang telinganya digigit!" perintahnya. "Jika keningnya lecet, berarti ia melakukannya sendiri, dan kasus ditutup. Jika tidak, maka orang satunya yang melakukannya, dan orang yang digigit tersebut mendapat ganti-rugi tiga keping perak." Keputusan yang benar tersebut bisa dicapai melalui suatu cara yang tampaknya tidak logis. Di sini Nashruddin sampai pada jawaban tepat, tanpa melihat logika yang jelas dari situasinya. Dalam cerita lainnya, dimana ia sendiri mengambil peranan orang bodoh (bagi Sufi ini merupakan "Jalan Kehinaan") dalam bentuk yang ekstrim, Nashruddin menggambarkan (cara) pemikiran manusia kebanyakan: Seorang pelawak bertanya kepada Nashruddin untuk menebak apa yang ada dalam tangannya. "Beri aku suatu tanda," kata Mullah. "Aku akan memberikan beberapa tandanya," tutur sang pelawak, "yang berbentuk seperti telur, seukuran telur, penampilan, rasa dan baunya seperti telur. Di dalamnya ada (benda) berwarna kuning dan putih. Benda di dalamnya tersebut cair sebelum Anda memasaknya, tetapi lewat pemanasan akan mengeras. Selain itu, benda ini dihasilkan seekor unggas piaraan ..." "Aku tahu!" sela Mullah, "ia sejenis kue." Saya pernah mencoba pertanyaan serupa di London. Kepada tiga orang penjual rokok, secara beruntun saya menanyakan tentang, "Benda berbentuk silinder dari 7 6 www.tris.co.nr Mahkota Sufi – Menembus Dunia Ekstra Dimensi kertas yang dipenuhi racikan tembakau, panjangnya sekitar tiga inci, dibungkus dalam karton, kemungkinan dengan diberi gambar padanya." Tidak satu pun dari orang-orang yang sehari-harinya menjual rokok tersebut bisa mengenali apa yang saya inginkan. Dua orang dari mereka memberikan jawaban sekenanya -- yang satunya mengarahkannya kepada grosir mereka, sementara yang lain kepada sebuah toko yang khusus menjual barang-barang impor eksotik bagi para perokok." Kata "rokok" mungkin menjadi pelatuk, yang penting untuk menggambar benda berbentuk silinder yang dibuat dari kertas dan dipenuhi tembakau. Tetapi kebiasaan untuk memerlukan pelatuk tersebut, yang bergantung pada asosiasiasosiasi, tidak bisa digunakan dengan cara yang sama dalam kegiatan-kegiatan pemahaman. Kesalahannya adalah membawa satu bentuk pemikiran -- meskipun mengagumkan pada tempatnya yang tepat -- ke dalam konteks yang berbeda, dan berusaha menggunakannya di sana. Rumi menceritakan sebuah kisah yang menyerupai cerita Nashruddin tentang telur tersebut, tetapi dengan menekankan faktor penting lainnya. Seorang putra raja telah dititipkan kepada para guru mistik yang melaporkan bahwa mereka tidak bisa lagi mengajarinya. Untuk mengujinya, sang raja menanyakan apa yang ada di dalam tangannya. "Benda ini bulat, keras dan berwarna kuning." "Ini pasti sebuah ayakan," jawab si anak. Sufisme menekankan perkembangan imbang persepsibatin, perilaku manusia wajar dan penggunaannya. Anggapan bahwa hanya karena seseorang hidup maka ia memiliki persepsi, ditolak oleh Sufisme, sebagaimana yang telah kita lihat. Seseorang mungkin secara klinis hidup, tetapi secara perseptif mati. Logika dan filsafat tidak bisa membantunya mencapai persepsi. Satu segi dari cerita berikut menggambarkan hal ini: Mullah Nashruddin tengah berpikir keras. "Bagaimana aku tahu apakah aku mati atau hidup?" "Jangan bersikap bodoh," ucap istrinya, "jika engkau mati lenganmu akan dingin." Segera setelah itu Nashruddin sudah berada di hutan memotong kayu. Saat itu tengah musim angin. Tiba-tiba ia merasa tangan dan kakinya dingin. "Aku pasti mati," pikirnya, "maka aku harus berhenti bekerja, sebab mayat tidak bekerja." Dan karena mayat tidak berjalan, ia berbaring di atas rerumputan. Segera setelah itu sekawanan srigala muncul dan mulai menyerang keledainya yang ditambatkan ke sebuah pohon. "Ya, teruskan, ambillah keuntungan dari orang mati!" ucap Nashruddin dari posisinya yang terlentang, "tetapi seandainya aku hidup, tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya terhadap keledaiku." 7 7