Konflik Timur Tengah dalam Bingkai Sastra Amerika Oleh Sofie Dewayani Pegamat sastra Amerika Ada yang terabaikan saat layar kaca dan media cetak membombardir kita setiap hari dengan berita konflik di Timur Tengah: mata bening anak-anak kita. Mata-mata itu, kita sadari atau tidak, ikut mengamati media dengan diam-diam. Sebagian mungkin bertanya, dan sebagian mungkin menyimpan pertanyaan dalam hati saja. Di tengah derasnya arus informasi itu, media telah membentuk persepsi anak tentang dunia. Idealnya, media menayangkan liputan konflik dengan berimbang. Namun sayang, keberpihakan tak dapat dihindarkan. Sejak aksi saling serang Israel dan Lebanon menyita perhatian dunia, jaringan televisi di Amerika berlomba memopulerkan kembali imaji yang sudah tertanam lama di benak publik Amerika: sang teroris Hizbullah yang mengancam perdamaian dunia, dan Israel sang pahlawan. Suasana itu membawa ingatan saya ke tahun 2003 saat pasukan militer Amerika yang menggempur Baghdad dipuja sebagai polisi dunia yang menegakkan pembebasan dan demokrasi di Timur Tengah. Butuh waktu yang lama bagi publik Amerika untuk menyadari bahwa slogan yang menyelubungi operasi militer Amerika di Irak itu ternyata omong kosong belaka. Pengaruh perang informasi dan wacana di media terhadap anak telah lama diperdebatkan di Amerika. Perlukah anak menatap wajah dunia yang tak ramah itu, atau apakah sebaiknya kita menutup mata mereka darinya? Mungkinkah kita menyajikan informasi tanpa embel-embel bias kepada anakanak, dan bagaimana caranya? Sastra anak menjadi salah satu media alternatif yang menyajikan sisi lain konflik yang tak terliput oleh media. Melalui buku-buku yang menampilkan figur anak-anak Muslim di negara yang dilanda kecamuk perang, anak-anak di seluruh dunia akan mampu merasakan kegelisahan yang universal: kerinduan akan perdamaian. Buku-buku semacam itu tidak menunjuk teman atau lawan, melainkan bertutur tentang para korban, yaitu anak-anak yang terabaikan. tema perang di Timur Tengah sesungguhnya mulai diangkat pada awal tahun 1990, ketika wacana sastra , . anak multikultural menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan Amerika. Adalah Florence Perry Heide yang berkisah tentang Sami, anak Lebanon yang bersama keluarganya menghabiskan hari-hari dengan berlindung dari desingan peluru di bunker bawah tanah yang pengap dan lembab. Buku berjudul Sam/ and the Time of Troubles tersebut, meskipun dihiasi dengan ilustrasi yang menarik, belum mampu mencuri perhatian publik Amerika saat itu. Pada tahun 1994 Elizabeth Laird menulis kisah Tara, gadis kecil suku Kurdi di Irak yang terluntalunta bersama keluarganya mencari suaka politik dalam novel remaja, Kiss the Dust. Perhatian kepada tokoh Muslim dalam sastra anak di Amerika mulai ramai- ramai diberikan sejak tahun 2000. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh relasi yang dinamis antara dunia Barat dan dunia Islam yang mewujud dalam dua hal. Pertama, meningkatnya jumlah imigran dari negara Timur Tengah di Amerika akibat ketidakpastian politik di daerah tersebut. Dan, kedua, adalah bertambahnya minat publik Amerika terhadap Islam paskatragedi sebelas September 2001. Sebagai agama yang berkembang paling pesat di Amerika, populasi Muslim sudah mencapai enam hingga tujuh juta pada tahun 2005. Dari jumlah ini, kiprah generasi kedua atau ketiga imigran Muslim dalam bidang sastra anak tentunya patut dipertimbangkan. Dari jajaran generasi kedua imigran Muslim yang menulis buku anak terdapat Naomi Shihab Nye, Rukhsana Khan, dan Asma Mobinudin. Sedangkan penulis non-Muslim yang menulis tentang anak Muslim selain Florence Heide dan Elizabeth Laird adalah Deborah Ellis, Ted Lewis, Deborah Da Costa, Marry Matthews, dan Jeanette Winter. Di antara beragam topik, konflik Palestina dan Israel paling banyak ditulis. Snow In Jerusalem oleh Deborah Da Costa (2001) berkisah tentang tiga anak Kristen, Muslim, dan Yahudi di Jerusalem yang berebut seekor kucing. Konflik itu usai saat mereka memergoki sang kucing melahirkan dua ekor anak, lalu sepakat untuk bergantian mengasuhnya. Kisah ini seperti mengkritik dengan halus bahwa anakanak ternyata lebih mampu mengakhiri sengketa dengan adil. Buku lain, Sitti's Secret oleh Nye menuturkan kisah Mona, gadis kecil keturunan Arab-Amerika yang berlibur ke Palestina untuk mengunjungi neneknya. Kembali ke Amerika, Mona menulis surat kepada Presiden AS, "Nenek saya sangat baik. Dia cinta damai. Kalau Anda menemuinya, pasti Anda akan suka dengannya." Sedangkan Little Piece of Ground karya Elizabeth Laird (2001) menampilkan Karim, bocah Palestina di Ramallah yang merindukan sepetak tanah untuk bermain bola. Konflik Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban diangkat oleh Deborah Ellis dalam trilogi novel remajanya. Menariknya, profil Taliban dalam novel ini lebih manusiawi ketimbang potret umum yang ditampilkan media Amerika. Parvana, sang tokoh cerita, suatu saat menyaksikan seorang Talib menangis saat mendengar surat istrinya dibacakan. Tertegun, Parvana menggumam, "Bagaimana mungkin kekerasan dan kelembutan berada dalam diri yang sama?" Agresi Amerika ke Irak juga tak luput dari perhatian penulis buku anak. Jeanette Winter dan Mark Alan Stamaty menggarap kisah nyata Zainab, petugas perpustakaan di Basra yang menyelamatkan ribuan buku-buku dari dentuman bom dan peluru. Winter menuangkan kisah ini dalam buku bergambar, sedangkan Stamaty dalam novel grafis. Dari Lebanon, Palestina, Afghanistan, dan Irak, buku sastra anak tidak hanya menyampaikan pesan perdamaian, namun juga nilai esoteris tentang anak-anak Muslim yang tak pernah putus berharap, berjuang membantu keluarga, dan selalu berpikir positif. Pemaparan rinci kultur Islami seolah menyangkal potret steoretipikal media yang selalu mengidentikkan Muslim dengan teroris yang barbar, kasar, atau kalau tidak, pangeran bersurban yang kaya, eksotik, dan romantis seperti dalam film Disney, Aladin. Perlu dicatat bahwa buku sastra anak Islam mewarnai pasar buku anak yang masih didominasi oleh genre petualangan dan misteri. Masa kejayaan Harry Potter belum usai, bahkan menginspirasi munculnya penulis baru seperti Christoper Paolini, Cornelius Funke, juga Chitra Divakaruni yang meramu genre tersebut dalam setting kultur India yang unik. Eksistensi tema-tema yang marjinal seperti tokoh anak Muslim itu mengukuhkan premis bahwa penerbitan buku anak di Amerika tidak selalu didikte oleh selera pasar, namun juga oleh idealisme tentang perlunya wacana multikultural sejak dini. Buku sastra anak multikultural itu bahkan menjadi bahan ajar untuk mata pelajaran ilmu sosial dan bahasa di jenjang sekolah dasar hingga menengah. Bagaimana dengan Indonesia yang juga memiliki kekayaan kultural seperti Amerika? Buku sastra anak yang beredar di pasaran ternyata belum mampu mencerminkan realitas masyarakat Indonesia yang majemuk. Beragam tragedi yang menimpa Indonesia akhir-akhir ini seperti bencana alam dan konflik antar-etnis belum terakomodasi dalam buku-buku anak. Dunia perbukuan anak di Indonesia seperti melupakan anak-anak yang terjebak di daerah konflik itu, abai bahwa seharusnya mereka perlu dikenali oleh anak-anak di belahan Indonesia yang lain. Hal itu masih ditambah dengan kenyataan ironis bahwa bukubuku yang ditulis oleh penulis lokal bahkan belum mampu bersaing dengan penulis asing. Anak-anak tidak terkurung dalam rumah kaca, steril dari permasalahan sosial di sekitar mereka. Tampaknya kita memerlukan lebih banyak penulis buku anak yang tidak hanya menuruti selera pasar, namun mendidik pembaca dengan memupuk kecerdasan empatik sejak dini. Bukankah fungsi sastra anak sesungguhnya adalah menumbuhkan dan menginspirasi, bukan sekadar menyenangkan pembaca? • Sofie Dewayani adalah mahasiswa Pasca Sarjana University of Illinois at Urbana-Champaign Departemen Curriculum and Instruction, USA.