Kado Pernikahan 248 Bab 15 mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku etelah menikah, ada amanah untuk saling menjaga pandangan. Antara lain untuk menjaga pandangan suami sehingga tidak memandang dengan perasaan yang besar kecuali terhadap istri. Sehingga ia tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya sendiri. Tidak menginginkan yang lain kecuali istrinya. Tidak ada yang lebih cantik, kecuali istrinya. Jadi, Anda para istri, hendaknya berusaha membuat pandangan mata suami hanya tertuju kepada diri Anda seorang. Tidak ada kesempatan baginya untuk memandang yang lain, apalagi sampai membayang-bayangkan, apalagi lebih dari sekadar membayangkan. Mata suami banyak bergantung kepada wajah Anda. Jika wajah Anda membawa kesejukan, insya-Allah ia tidak akan tergerak untuk memalingkan pandangan. Kesejukan wajah, sungguh tidak berhubungan dengan kecantikan. Bagi seorang yang belum menikah, kecantikan wajah boleh jadi begitu penting atau bahkan terpenting, sehingga ada yang menikah atas dasar kecantikan wajah. Akan tetapi seorang yang sudah menikah, atau seorang yang sudah menghayati sebuah pernikahan, kecantikan wajah terasa demikian tidak pentingnya. Kecantikan wajah terletak di urutan nomor kesekian. Jauh lebih penting daripada kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami memandang. Alhasil, hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wasallam mengenai seorang istri yang apabila dipandang membuat suami semakin S Kado Pernikahan 249 sayang, tidak hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kecantikan luar biasa. Boleh jadi mereka yang menurut penilaian umum sangat tidak cantik, justru menyimpan keteduhan jiwa yang luar biasa sehingga dapat menghapus kepenatan psikis dan fisik suami saat datang. Sebaliknya, bisa jadi kecantikan wajah yang dikenang-kenang dan diangan-angankan sebelum menikah, tampak demikian membosankan dan melelahkan mata. Selengkapnya bunyi hadis Nabi Saw. itu berbunyi: “Tiga kunci kebahagiaan laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu lelah dan jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.” --- Kecantikan wajah terletak di nomor kesekian. Jauh lebih penting daripada kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami memandang. --- Saya teringat kepada Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim berkata, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikan penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.” Perkatan Ibnu Qayyim ini berarti, jika Anda menikah dengan seorang gadis disebabkan oleh tingkah lakunya yang menggemaskan, maka tiga bulan Kado Pernikahan 250 setelah menikah boleh jadi rumah tangga akan penuh dengan ketegangan psikis karena di saat nyidam ia tidak menggemaskan lagi. Pembawaannya kuyu dan lusuh, seperti kain sarung yang tertumpuk di kotak cucian. Apalagi kalau pembawaannya di masa nyidam itu menyebalkan sekaligus bikin risih. Kasus pernikahan Christina Onassis adalah contoh yang tepat untuk memahami penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini. Konon, Christina adalah perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa. Ia juga pandai membawakan diri di kalangan selebritis, sehingga tidak malu-maluin kalau diajak menghadiri berbagai pertemuan. Justru di kalangan selebritis, Christina adalah orang yang sangat dikenal. Sementara itu, untuk soal kekayaan, cukuplah saya kabarkan kepada Anda bahwa dari mendiang ayahnya saja ia sudah mewarisi kapal pesiar pribadi, pulau pribadi, danau, sejumlah bangunan, perusahaan realestate, pesawat terbang pribadi, deposito milyaran dolar, serta armada kapal (di luar kapal pesiar pribadi itu). Akan tetapi, pernikahan-pernikahannya selalu berakhir dengan kekecewaan dan kegetiran. Ia tak menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya. Usahanya untuk menemukan kebahagiaan pernikahan ini akhirnya ia hentikan dengan bunuh diri di Argentina. Begitu menurut shahibul hikayat. Apa artinya? Kecantikan dan kepandaian mempercantik diri tidak dapat menjamin utuhnya cinta dalam pernikahan. Kita merasa tenteram saat memandang, lalu perasaan sayang kita kepada istri semakin besar, bukan karena kecantikan dan kepandaian berhias. Lalu, apa yang membuat suami merasa semakin dekat ketika memandangnya sedangkan ia telah bergaul lama? Wallahu A’lam bishawab. Saya tidak tahu persis bagaimana menjelaskannya, di samping saya juga tidak tahu persis persoalan ini sampai ke akarnya yang terdalam. Hanya saja, secara kasar dapat kita pahami bahwa itu bukan terletak pada wajah. Bukan. Melainkan apa yang memancar dari wajah itu. Hati kita menjadi hidup jika wajah yang kita pandang memberikan keramahan, memancarkan kerinduan, dan menebar kehangatan. Hati kita semakin terpaut jika kehadiran kita diharap-harapkan dan ditunjukkan dengan pancaran wajah yang hidup dan tidak kaku beku.1 Boleh jadi Anda saat itu sakit, akan tetapi Anda bisa memancarkan pandangan mata yang menggambarkan bahwa cinta dan kerinduan Anda tidak sakit; Anda menampakkan melalui pandangan mata Anda bahwa kehadiran suami sangat berarti. --- Banyak peristiwa komunikasi yang lebih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jiwa daripada informasi. --- Kado Pernikahan 251 Alangkah letihnya suami jika ia bergegas-gegas pulang, diterpa panas yang menyengat atau hujan yang menyiramkan rasa dingin, tetapi sesampai di rumah tak ada senyum hangat yang menyambut, tak ada mulut yang bicara, dan tak ada mata yang membalas pandangan dengan penuh keinginan. Tubuh yang telah letih akan terasa semakin letih ketika beban psikis yang hendak ditumpahkan ternyata tidak tertampung karena istri tak tertarik mendengarkan. Beban psikis boleh jadi berupa problem-problem yang ia jumpai selama berada di luar rumah, bisa jadi persoalan-persoalan serius yang ia pikirkan sejak lama, tetapi bisa juga “hanya sekadar” kejadian-kejadian ringan yang ingin ia ceritakan kepada istri. Kejadian ringan ini mungkin berupa pengalamannya merasakan semangkuk kecil rujak gobet, mungkin pertemuannya dengan teman sekolah semasa SD, atau mungkin kegembiraannya karena tadi menerima surat dari ibunya. Kisah-kisah yang ingin diceritakan oleh suami barangkali tidak begitu penting substansinya. Pengalaman-pengalaman itu tidak memiliki isi yang dapat mempengaruhi jalannya sejarah, misalnya. Katakanlah, apa pentingnya kisah semangkuk rujak gobet yang pedas bagi kemajuan pendidikan anakanak? Tidak ada. Apa pentingnya kisah rujak gobet itu untuk kemajuan masyarakat? Tidak ada. Namun demikian, persoalannya bukan pada substansi semata-mata. Persoalannya lebih kepada bagaimana memperhatikan dan diperhatikan. Persoalannya lebih kepada bagaimana mendengarkan dan didengarkan. Sebab setiap kita butuh memperhatikan dan diperhatikan. Sebab setiap kita butuh mendengarkan dan didengarkan. Lihatlah orang-orang yang baru usai melihat pertandingan sepak bola bersama-sama. Kadang-kadang malah duduk bersama-sama dalam satu kursi. Mereka juga minum dari gelas yang sama ketika sedang menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, begitu pertandingan selesai, mereka saling bercerita. Kadang malah sambil menggambarkan detail peristiwa, misalnya peristiwa masuknya gol ke gawang lawan. Padahal mereka sama-sama menyaksikan. Lalu, apa yang diharapkan dari cerita itu? Apakah mereka bermaksud ingin memberitahu, ingin menyampaikan informasi kepada rekannya? Jelas tidak, sebab mereka melihat bersama-sama. Apakah mereka mendiskusikan sepak bola demi meningkatkan mutu persepakbolaan Indonesia di masa mendatang? Juga tidak. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki ilmu persepakbolaan, sehingga pembicaraan mereka tidak mencukupi untuk merumuskan strategi persepakbolaan yang bisa berkelit dari praktek sepak bola gajah. Apakah mereka hendak melakukan renungan bersama mengenai pelajaran yang bisa diambil dari sebuah pertandingan sepak bola? Lagi-lagi tidak. Lalu apa, kalau semua kemungkinan di atas tidak tepat? Kebutuhan untuk mendengar dan didengarkan; kebutuhan untuk mengungkpkan apa yang menarik dan mengesankan kepada orang yang tepat, sekalipun sama-sama sudah tahu. Kado Pernikahan 252 Banyak komunikasi sehari-hari ytang dimaksudkan untuk berbagi cerita dan kebahagiaan. Peristiwa-peristiwa menarik biasanya cenderung mendorong kita untuk menceritakan tidak hanya satu kali kepada satu orang. Padahal dalam kesempatan lain, kadang bukan sekadar sebagai dorongan naluriah, melainkan telah melalui proses pemikiran, menceritakan satu episode cerita beberapa kali kepada orang lain. Ini terutama ketika kita menganggapnya ada yang perlu diambil pelajaran dalam cerita tersebut. Singkat cerita, banyak peristiwa komunikasi yang lebih bersifat pemenuhan kebutuhan jiwa daripada untuk memperoleh informasi. Di sisi lain, seringkali kita butuh mendengar sesuatu dua-tiga kali untuk bisa menyadari makna pentingnya. Kadang kita diingatkan atau diberi cerita tentang sesuatu tanpa bisa mengambil pelajaran apa-apa, akan tetapi ketika mendengar untuk yang keempat kali kita merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Namun demikian, alangkah seringnya kita takabbur. Kita mementahkan orang yang menceritakan sesuatu lebih dari satu kali. Kita takabbur terhadap diri sendiri (’ujub) sehingga memastikan diri kita bisa mengingat dengan jelas satu cerita yang pernah sampai kepada kita; kita juga takabbur terhadap orang lain sehingga menganggap tidak perlu mendengarkan cerita yang disampaikan dua kali. Padahal banyak peristiwa komunikasi yang memerlukan perulangan cerita untuk bisa mengkomunikasikan suatu perkara dengan baik. Bentuk tindakan mementahkan pembicaraan orang yang menceritakan suatu kejadian lebih dari satu kali, misalnya bertanya, “Kamu itu mengalami itu berapa kali?” “Satu kali.” Jawaban ini diberikan sudah dengan menyimpan kekecewaan psikologis. Besar-kecilnya tingkat kekecewaan bergantung kepada seberapa besar nilai cerita itu untuk diungkapkan kepada Anda. Kekecewaan ini semakin besar ketika Anda menukas dengan perkataan, “Satu kali? Kok kamu menceritakannya berkali-kali?” Komunikasi semacam ini mudah memancing konflik, lebih-lebih jika terjadi antara suami-istri. Istri atau suami yang pernah merasakan kekecewaan yang teramat sangat karena pembicaraannya dimentahkan dengan cara seperti itu dapat mencari kesempatan untuk mementahkan pasangan hidupnya. Masalah bisa timbul. Misalnya dalam kesempatan membahas suatu peristiwa, suami tidak ingat cerita yang pernah dikemukakan istrinya. Ketika ia bertanya, istrinya menukas, “Apakah harus diceritakan lagi? Saya sudah pernah cerita dan berita tidak ada yang diulang, kecuali kalau terjadi berkali-kali. Masak nggak ingat?” Kalau sudah demikian, pertengkaran bisa meledak. Kalau sudah demikian, kita bisa jatuh dalam komunikasi kursif (lebih lanjut tentang komunikasi kursif, silakan baca di bab berikutnya Komunikasi Suami Istri). Kalau sudah demikian, wajah kita terasa sangat menjengkelkan bagi pasangan hidup kita. Kalau sudah demikian, engkau bukan yang tercantik di hati suami. Kado Pernikahan 253 --- Sambutan ketika suami datang banyak memegang peranan. Lebih-lebih sambutan ketika suami harus pulang mendadak karena ada yang membuatnya tergoda di tengah perjalanan. Padahal boleh jadi Anda tidak tahu persis apakah saat ini ia pulang karena tergoda di jalan ataukah karena sudah saatnya pulang. Artinya, sambutan hangat sebaiknya diberikan setiap saat. Memberi sambutan hangat bukan berarti mesti menyelenggarakan acara yang “gegap-gempita”, misalnya dengan segera memeluk suami tercinta atau membawakan tasnya. Yang terpenting bagi suami bukan itu. Yang terpenting bagi suami adalah kabar bahwa istrinya baik-baik saja (sekalipun tidak dinyatakan secara lisan) atau ada pertanyaan-pertanyaan dan cerita-cerita istri. Yang juga penting bagi suami adalah bahwa kedatangannya diharapkan istri. Ini ditunjukkan dengan tidak ada rasa engan memberi senyuman dan keringanan hati untuk menanggapi pembicaraan suami, meskipun boleh jadi si istri tidak banyak bicara. Pada saat-saat tertentu, tidak ada yang lebih diharapkan oleh suami selain sambutan hangat dan sikap yang menenteramkan dari seorang istri. Seperti Muhammad yang mencari Khadijah untuk diselimuti sebelum akhirnya bertandang ke Waraqah bin Naufal, kita kadang pulang dengan harapan segera disambut istri dengan penuh kehangatan. Pada saat seperti ini, kita mencari tangan yang dengan penuh perhatian mengusap peluh-peluh kecemasan kita. Kita tidak siap untuk bercerita sekalipun untuk peristiwa yang paling ringan. Kita hanya butuh dipahami dan ditenangkan dulu. Nanti setelah hati cukup siap, suami bisa bercerita banyak tentang apa yang dialami. Meskipun begitu, jangan terburu-buru mengharap cerita dulu. Adakalanya suami tidak segera “mampu” menceritakan gejolak hatinya. Ia hanya mampu mengungkapkan kerisauannya yang paling kuat. Oleh sebab itu, tunggulah sampai memungkinkan baginya untuk bercerita sebelum Anda menanyakan apa saja yang terjadi. Kadang persoalan muncul karena istri mengharapkan suaminya segera bercerita tentang apa saja yang dia alami selama berada di luar rumah, sementara suami bergegas-gegas pulang agar segera mendengar apa saja yang berlangsung di rumah selama ia tidak ada. Persoalan menjadi rumit ketika istri “menuntut” suami untuk segera bercerita banyak, dan ketika suami tidak segera bercerita, ia menjadi muram. Padahal ini menjadikan suami justru tidak bisa bercerita, sekalipun saat itu ia sudah sangat ingin bercerita. Apalagi kalau saat itu kondisi suami justru membutuhkan “pengertian” dan penenangan. Persoalan akan lebih runyam lagi sehingga menyebabkan pertengkaran terbuka di saat suami justru membutuhkan kasih sayang dan kehangatan istri, Jika istri menuntut suaminya untuk bercerita sekaligus menaruh prasangka buruk atas sikap suaminya yang tidak segera bercerita. Dalam situasi seperti ini, keadaan justru jadi serba tidak enak. Kalaupun akhirnya suami bercerita, Kado Pernikahan 254 itu tidak akan mengubah apa-apa. Istri mendengar tidak dengan kelegaan dan kepercayaan penuh, dan suami pun --sebagai konsekuensi logis-- tidak bisa bercerita dengan hati lapang. Ujung-ujungnya akan timbul kecurigaan dan perasaan tidak puas terhadap pasangan hidupnya. Jika tidak diredakan, hal ini dapat menjadi sebab terjadinya keretakan rumah tangga yang parah. Na’udzubillahi min dzalik. Menjalin hubungan suami-istri yang saling pengertian dan penuh perhatian memang membutuhkan usaha dan cara-cara yang tepat. Hubungan suami-istri merupakan cermin bahwa dua orang atau lebih yang mempunyai kehendak searah, yang sama-sama menginginkan kebaikan dan keindahan, yang sama-sama menginginkan kemuliaan dan keselamatan (dunia-akhirat) bisa mengalami perselisihan karena adanya kesalahan dalam komunikasi dan menempatkan sikap. Jika masing-masing bersikukuh dengan persepsinya, kebaikan bisa jadi akan segera lari menjauhi mereka. Alhasil, apa yang mereka usahakan bersama-sama harus kandas bukan karena keduanya tidak memiliki komitmen yang sama, melainkan lebih dikarenakan tidak adanya komunikasi yang baik dan penempatan sikap yang tepat. Mendidik anak juga demikian. Boleh jadi anak ingin melakukan sesuatu yang baik. Akan tetapi karena tidak tahu bagaimana cara mencapainya, ia melakukan dengan cara yang salah. Boleh jadi Anda sebagai orangtua tidak menanyainya lebih dulu dan hanya memberi cap (judgement) bahwa ia nakal dan bandel. Ini membuat anak berontak. Alhasil, iktikad anak untuk melakukan perbuatan-perbuatan bajik harus kandas hanya karena orangtuanya tidak mau mencoba memahami jalan pikiran anak. Jika dalam menjalin hubungan suami-istri sulit untuk duduk bersama meluruskan persepsi dengan lapang dada, maka sulit untuk melakukan hal semacam ini terhadap anak. Suami-istri sudah memiliki pengalaman hidup, ilmu, dan kedewasaan. Anak belum memiliki itu semua. Padahal kesemuanya merupakan bekal penting untuk bisa mendudukkan persepsi masing-masing pada tempatnya. Akhirnya, persoalan mendidik anak ternyata banyak berhubungan dengan bagaimana kita membina hubungan suami-istri. Banyak persoalan pendidikan anak yang tidak berhubungan langsung dengan proses mendidik anak, namun lebih kepada bagaimana kita menjalin suami-istri, bagaimana kita menjalin hubungan dengan orang lain, tetangga, tukang becak, sopir, sampai dengan pengemis. Dan yang terakhir ini, seingat saya belum pernah dibahas dalam seminar-seminar, buku-buku, atau berbagai kesempatan lain. Perkara semacam ini sering dianggap tidak penting karena “tidak memiliki pijakan ilmiah”, kecuali oleh kiai-kiai di pesantren-pesantren kecil yang tersembunyi tempatnya. Sungguh, perkara-perkara itu memiliki pijakan ilmiah yang kuat jika kita mau berpikir dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang jernih dan bekal Kado Pernikahan 255 yang memadai. Repotnya, kita umumnya tidak dituntut untuk memiliki kematangan sebagai syarat “lulus” atas ilmu yang kita pelajari. Ah, kok ngelantur sampai ke sana. Engkau yang Tercantik di Hatiku Dari pembicaraan kita semenjak awal bab ini, kita mendapati bahwa kecantikan tak dapat menjamin bahwa yang tercantik di hati suami adalah istri semata. Ada yang lebih penting daripada sekadar kecantikan, yaitu keramahan, kehangatan, dan rasa cinta yang tulus. Ada yang bisa menyuburkan perasaan, yaitu perhatian dan penerimaan yang tulus terhadap kekasih. Ada yang bisa memperindah, yaitu canda yang menyenangkan. Rasulullah Saw. pernah kejarkejaran --lomba lari-- dengan istrinya, ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar ada orang yang kejar-kejaran dengan istri untuk bercanda, sehingga istrinya sangat terkesan dan menaruh rasa cinta yang sangat dalam. Sebaliknya, yang pernah saya dengar adalah istri yang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya yang sedang marah. Jika ‘Aisyah hanya mampu menangis dan berkata, “Ah, semua perilakunya mengesankan bagiku (kana kullu amrihi ajaba)” saat ditanya tentang perilaku Rasulullah yang peling mengensankan; maka saya ragu apakah istri yang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh suaminya akan berkata seperti itu ketika suaminya telah meninggal. Singkat cerita, bukan wajah yang membuat suami terkesan sehingga yang tercantik di hatinya adalah istrinya semata, melainkan apa yang memancar dari wajah itulah yang paling mempengaruhi perasaan suami. Sekalipun demikian, Anda tidak bisa meninggalkan masalah merawat kecantikan dan berhias untuk suami tercinta. Dalam hal ini yang terpenting adalah menunjukkan iktikad untuk memberikan yang terbaik bagi suami, bukan pada kesempurnaan Anda berhias. Berhias dengan sempurna tetapi suami merasa bahwa istri tak pernah berhias untuknya, maka apa yang Anda lakukan tidak mempunyai nilai apa-apa. Sebaliknya, sesederhana apa pun engkau berhias, jika suami merasa apa yang engkau lakukan itu disebabkan oleh cintamu kepada suami, maka tak ada yang lebih cantik di hatinya kecuali engkau. Yang menjadi pertanyaan kemudian, kapan seorang suami merasa bahwa istrinya berhias untuk suami, kapan suami memandang istrinya berhias untuk orang lain di sepanjang jalan atau majelis-majelis, serta kapan suami memandang istrinya berhias untuk kepuasan diri sendiri saja? Wallahu A’lam bishawab. Saya tidak tahu. Silakan Anda bertanya kepada diri Anda sendiri ketika sedang berhias: apakah Anda berhias demi menjaga pandangan suami ataukah Anda berhias semata karena itu telah menjadi kebiasaan Anda ataukah karena yang lainya lagi…(yang saya tidak tahu apa itu)? Kalau Anda bisa Kado Pernikahan 256 menjawab pertanyaan ini dengan jernih, insya-Allah juga bisa menjawab pertanyaan sebelumnya. Anda bisa memahami kapan suami merasa Anda berhias sama sekali bukan untuknya. Sama sekali. Alhasil, di samping mengetahui saat tepat untuk berhias, Anda juga perlu mengetahui apa yang dapat merawat perasaan suami kepada Anda. Termasuk dalam kategori merawat adalah menjaga lisan untuk tidak menceritakan kecantikan wanita lain sehingga suami seolah-olah memandangnya sendiri. Meskipun kecantikan bukan segala-galanya, namun orang mudah dipengaruhi oleh kesan-kesan visual. Orang mudah terpengaruh oleh keindahan pandangan dan suara. Orang mudah terpengaruh oleh kesan sekilas, sehingga banyak peristiwa serong terjadi hanya karena suami terkesan oleh perhatian yang “tulus” dari rekan sekerjanya karena sering mengingatkan, “Maaf, Pak…. Itu krah bajunya kurang pas.” Setelah mereka menikah, suami mendapati rekan sekerja yang sekarang menjadi istrinya itu sama saja dengan istrinya yang terdahulu. Kembali ke soal larangan menceritakan kecantikan wanita lain. Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita temui Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Menurut Ibnu Qayyim, ada tiga pendorong cinta yang datang dari diri orang yang dicintai. Salah satunya adalah, “Pandangan dengan menggunakan mata atau hati, jika boleh diistilahkan begitu. Betapa banyak laki-laki yang mencintai wanita, hanya karena mendengar ciri-ciri wanita itu dan belum pernah melihatnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita memberitahukan sifat-sifat wanita lain di hadapan suaminya, hingga seakan-akan suaminya melihat wanita itu.”2 Dalam bahasa kita sekarang, pandangan dengan hati sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Qayyim barangkali adalah fantasi atau imajinasi. Secara sederhana, bayangan yang kita ciptakan mendorong perasaan kita untuk menyukai, merindukan, memiliki, membenci --meskipun kita sama sekali belum pernah melihat secara langsung. Jika ini terus berlangsung, maka ada beberapa keadaan yang mungkin terjadi. Tetapi kali ini, cukuplah dua di antara berbagai kemungkinan itu saja yang kita bahas di sinsi. Pertama, suami akan membanding-bandingkan istrinya dengan kecantikan yang dibayangkannya berdasar cerita istrinya. Membandingkan istri dengan fantasi akan selalu berakhir dengan kenyataan bahwa istri sangat jauh dari yang diharapkan, berbeda sekali dengan yang diangan-angankan suami. Ini memicu kekecewaan dan ketidakpuasan perkawinan. Sehingga secantik apa pun istri berhias, ia tidak akan pernah menjadi yang tercantik di hati suami. Kedua, jika fantasinya semakin kuat sehingga perasaannya terhadap wanita yang diceritakan oleh istri semakin besar, maka perasaan yang meluapluap itu tidak bisa tidak akan mendorongnya untuk bertindak. Keinginan yang Kado Pernikahan 257 besar terhadap wanita yang diceritakan oleh istri inilah yang dapat membuka pintu fitnah. Bahkan seandainya pun suami sempat bertemu dengan wanita yang diceritakan dan ternyata secara objektif jauh dari yang digambarkan oleh istrinya, ia tetap memiliki harapan positif terhadap wanita tersebut. Apa ini artinya? Silakan Anda renungkan sendiri dengan jernih. Yang juga termasuk merawat perasaan suami adalah memberi sambutan hangat di saat ia harus pulang mendadak karena hatinya tergoda oleh kecantikan wanita lain di perjalanan. Barangkali sudah tiga atau empat kali saya menyampaikan kepada Anda tentang masalah ini di sepanjang buku Kado Pernikahan untuk Istriku ini. Meskipun demikian, saya masih harus menjelaskannya lagi dari sisi lain, mengingat pentingnya soal meredakan gejolak suami karena ketertarikan terhadap apa yang dilihatnya. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita perhatikan sekali lagi hadis Nabi tentang perkara ini. Dari Jabir r.a. berkata, Rasullullah Saw. Bersabda, “Seorang wanita itu datang dalam bentuk syaithan, maka ketika salah seorang dari kalian melihat wanita yang memikatnya, segeralah mendatangi istrinya, karena itu bisa meredam gejolak yang ada dalam dirinya.” (HR. Muslim) Ketika suami harus pulang mendadak ingin menjaga syahwatnya, maka hendaknya istri memberi sambutan dengan sebaik-baiknya sehingga persetubuhan yang dilakukan itu berakhir dengan mengesankan. Bukan justru meninggalkan kekecewaan, sehingga gejolaknya semakin meluap-luap. Istri yang sangat bergairah akan dapat meredakan gejolak suami yang sedang memuncak. Masalah yang kemudian bisa terjadi adalah, di saat sedang penuh gairah, suami boleh jadi tidak mampu lagi menahan dirinya untuk bersegera melakukan hubungan seks. Ia terlalu panas untuk menunggu. Pada saat seperti ini boleh jadi suami akan terdorong untuk melakukan quickie (hubungan seks kilat) sebagaimana telah saya jelaskan pada bab Keindahan Suami Istri. Karena itu ia perlu disambut dengan penuh gairah dan rasa cinta yang membakar. Persoalan bisa muncul karena satu di antara dua hal ini. Pertama, istri memandang remeh karena tak mampu berempati. Seorang akhwat pernah bertanya, “Laki-laki itu kok aneh, sih. Lihat pisau berkilat saja bisa membangkitkan syahwat.” Gejolak suami diremehkan karena istri memandangnya berdasarkan dinamika syahwatnya sendiri. Karena istri tidak empatik, ia tidak memberi pelayanan dengan gairah yang hangat. Akibatnya, suami merasakan kekecewaan yang berat, meskipun ia dilayani istrinya di tempat tidur. Kedua, istri tidak memberi sambutan yang hangat dan penuh gairah ketika suaminya pulang mendadak karena ia sedang tidak berminat sama sekali untuk Kado Pernikahan 258 berjima’. Dinginnya syahwat istri ini karena suaminya termasuk memiliki dorongan seks yang tinggi sehingga frekuensi jima’ di antara mereka sangat tinggi. Padahal saat pulang mendadak, jima’ perlu disegerakan dengan penuh gairah. Di sinilah kita melihat salah satu hikmah poligami. Pembagian masa gilir memungkinkan istri untuk tidak jenuh terhadap hubungan seks, sehingga setiap masa gilir tiba istri selalu dalam keadaan bersemangat dan syahwatnya bangkit saat berdua dengan suami di tempat tidur. Sebaliknya bagi suami, terutama yang gairahnya sangat tinggi, pembagian masa gilir itu lebih menjamin keteraturan dalam menjaga syahwatnya. Maslahat lainnya, suami lebih terjaga agar tidak terlalu panas saat berkumpul bersama istrinya, sehingga lebih menjamin kebahagiaan seksual istri. Wallahu A’lam bishawab. Tentu saja, pernikahan poligamis bukan hanya sekedar (meskipun itu juga bukan sekedar) untuk memberi kepuasan seks bagi suami maupun istriistrinya. Ada hal yang lebih penting. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai poligami, silakan periksa bab Poligami di bagian akhir buku kita ini. Begitu. Catatan Kaki: 1. Silakan periksa Bagaimana Membahagiakan Suami karya Muhammad Abdul Halim Hamid, Citra Islami Press, Solo, 1993, pada bab Sambutan yang Menyenangkan. 2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan redaksi, “Janganlah wanita bergaul dengan wanita lain, lalu dia memberitahukan sifat wanita itu kepada suaminya seakan-akan dia dapat melihatnya.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad. mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Kado Pernikahan 284 Bab 18 mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga “Wahai orang yang telah menghancurkan kehormatan orang lain, dan yang memutuskan tali kasih, kau akan hidup penuh kehinaan. Jika engkau orang merdeka dan dari keturunan orang yang baik-baik, pastilah kau tidak akan menodai kehormatan orang lain.” (Imam Syafi’i) etapa seringnya kita menghancurkan keluarga kita sendiri demi memperoleh keasyikan-keasyikan kecil. Saat-saat berkumpul yang mestinya bisa digunakan untuk berbicara dari hati ke hati, berubah menjadi pembicaraan yang menggelapkan hati lantaran kita tidak berhati-hati. Pembicaraan yang mestinya bisa saling mengakrabkan antar anggota keluarga dan menguatkan perasaan kasih-sayang, berubah menjadi ajang untuk membuka aib orang lain. Betapa mengasyikkannya ghibah (menggunjing) dan betapa buasnya ia menerkam kita. Betapa besarnya bahaya ghibah dan betapa sulitnya kita menghindari. Ia datang mengajak setiap orang, sehingga kita bisa mendengar orang melakukan ghibah saat pengajian, saat ngobrol santai, saat..., bahkan saat memberikan khotbah nikah. B Kado Pernikahan 285 Di keluarga, menggunjing sering terjadi saat acara-acara santai; saat melepas lelah di siang hari; saat minum kopi atau teh panas di malam hari; saat kawan lama datang bertamu; atau saat suami pulang dengan membawa sedikit “kekecewaan” karena terbentur dengan teman. Kadang acara santai tidak dihabiskan dengan menggunjing, tetapi digunakan untuk melotot di depan TV yang sebagian beritanya juga berisi gunjingan terhadap orang lain. Hampir setiap kita tidak bisa melepaskan dari perbuatan ghibah (menggunjing), kecuali orang-orang yang betul-betul wara’ (sangat menjaga diri) saja. Ia menyerang semua lapisan, semua kelas sosial ekonomi, serta segala latar belakang. Kita sering mendapat kesempatan untuk ghibah di saat sedang “berdakwah”. Kita kadang melakukan ghibah dengan alasan amar makruf nahi munkar meskipun kita tidak pernah mengingatkan orang yang kita gunjing. Saya teringat dengan ceramah Ustadz Dzikrullahu Akbar (semoga Allah memuliakan hidup dan matinya). Beliau pernah bercerita tentang masa’il qalbiyyah (masalah-masalah hati) sampai akhirnya sampai kepada pembahasan tentang menjaga komentar. Ustadz Dzikrullahu Akbar menceritakan seorang ulama yang sangat menjaga komentarnya sehingga tidak bisa dipancing-pancing, sampai-sampai seakan lebih baik disembelih daripada membicarakan keburukan orang lain. Ustadz Dzikrullahu Akbar sendiri konon adalah orang yang berhati-hati dalam masalah ghibah. Pernah seorang aktivis dakwah datang mengadu. Ia menceritakan kawannya begini dan begitu. Semua untuk pengertian yang negatif. Kali ini Ustadz Dzikrullah diam. Di waktu yang lain, aktivis tersebut datang lagi. Ceritanya masih sama dengan sebelumnya; tindakan teman lain yang justru membawa dampak yang negatif, dan seterusnya. Semuanya menggambarkan negatifnya orang lain dan positifnya apa yang diperjuangkan, tanpa pernah membicarakan kekurangan-kekurangannya. Kali ini Ustadz Dzikrullahu masih tetap diam. Aktivis itu kemudian datang lagi untuk ketiga kali. Ia menceritakan lagi tentang temannya di remaja masjid yang menjadi “pengganggu” dakwahnya. Ia bercerita panjang lebar. Selesai bercerita, Ustadz Dzikrullahu Akbar berkata kepada aktivis tersebut, “Aku ini heran, Mas. Sampeyan sedari dulu hingga sekarang sudah tiga kali bicara kepada aku tentang masalah itu. Tapi seingatku, Sampeyan itu tidak pernah mengakui bahwa Sampeyan ya pernah berbuat salah kepada orang itu, entah sekali atau dua kali. Kok tidak pernah. Cerita Sampeyan itu, yang jelek semua teman Sampeyan. Teman Sampeyan itu jeleeek thok, tidak ada baiknya.” “Kesimpulanku begini akhirnya,” kata Ustadz Dzikrullahu Akbar, “Sampeyan itu malaikat atau Nabi. Teman Sampeyan itu setan. Bagaimana?” “Ah, ya tidak begitu,” kata aktivis dakwah itu menyergah. Kado Pernikahan 286 “Lha cerita Sampeyan begitu-e. Tidak pernah menyebut kebaikannya, jeleek thok. Sementara sikap Sampeyan pada dia, baiiik thok,” kata Ustadz dari Jawa Timur ini. Cerita Ustadz Dzikrullahu Akbar kita cukupkan sampai di sini dulu. Selanjutnya, saya ingin menulis lebih jauh tentang menggunjing, bahayanya bagi kehidupan kita, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Saya tulis bab ini sebagai peringatan bagi diri saya sendiri, istri saya (perhatikan tulisan ini baik-baik), orangtua saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, orang-orang yang saya cintai, serta kaum muslimin seluruhnya. Semoga Allah menolong saya dalam menulis bab ini dan mengampuni dosa-dosa serta kezaliman saya. Semoga Allah memperbaiki mulut-mulut kita yang sering kita kotori ini dengan perkataan-perkataan yang membawa maslahat. Astaghfirullahal ‘adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minadzdzalimin. --- Banyak di antara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun telah jelas-jelas menggunjing. --- Sudah Termasuk Menggunjing Tak jarang kita sulit diingatkan. Kita tetap saja menggunjing karena yang kita bicarakan memang benar-benar terjadi. Kita merasa tidak menggunjing karena ada fakta yang membenarkan pembicaraan kita. Padahal larangan menggunjing bukan atas alasan faktual atau tidak, tetapi atas alasan menjaga kehormatan sesama muslim. Setiap muslim dijaga kehormatannya. Tak seorang pun boleh membuka-buka kekhilafan orang lain yang disembunyikan, sekalipun yang membuka itu seorang kepala negara. Tak seorang pun boleh mengintip dan memasuki rumah orang lain jika tidak diizinkan, sekalipun itu rumah rakyat jelata yang miskin dan tak berdaya. Apalagi jika sampai merampas tanahnya, sekalipun untuk mendirikan bangunanbangunan yang membawa kemaslahatan bagi ummat manusia. Barangkali kita sulit menemukan contoh yang lebih indah di zaman ini ketimbang yang pernah dicontohkan oleh Umar bin Khaththab. Suatu ketika Umar melakukan ronda malam bersama Abdullah bin Mas’ud. Pada tempat yang terpencil mereka melihat kerlipan cahaya. Dari arah yang sama, mereka mendengar sayupsayup suara orang bernyanyi. Keduanya mengikuti cahaya itu dan sampai di sebelah rumah. Diam-diam Umar menyelinap masuk. Ia melihat seorang tua sedang duduk santai. Di hadapannya ada cawan minuman dan seorang perempuan yang sedang bernyanyi. Kado Pernikahan 287 Umar menampakkan dirinya dan menghardik, “Belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini. Seorang tua yang menanti ajalnya! Hai musuh Allah, apakah kamu mengira Allah akan menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat.” Orang tua itu menjawab, “Janganlah tergesa-gesa, ya Amirul Mukminin. Saya hanya berbuat maksiat satu kali. Anda menentang Allah sampai tiga kali. Tuhan berfirman: “Janganlah mengintip keburukan orang lain [tajassus].” (Al-Hujuraat 49: 12). Anda telah mengintip. Tuhan berfirman: “Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya.” (Al-Baqarah 2: 189). Anda menyelinap masuk. Dan Anda sudah masuk ke sini tanpa izin, padahal Allah berfirman: “Janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalamnya.” (An-Nuur 24: 27). Umar berkata, “Kamu benar!” Ia keluar, menggigit pakaiannya sambil menangis, “Celaka kamu, Umar, jika Allah tidak mengampunimu. Ada orang yang bersembunyi dari keluarganya. Sekarang ia akan berkata: Umar mengetahuiku. Kemudian keluarganya menguntitnya.” Selama beberapa waktu, orang tua itu tidak pernah menghadiri majelis Umar. Pada suatu hari, ia datang dan duduk di barisan paling belakang; seakan-akan ia mau bersembunyi dari pandangan Umar. Akan tetapi, Umar melihatnya dan memanggilnya. Orang tua itu berdiri dengan penuh kekhawatiran khalifah akan mempermalukannya dengan apa yang pernah dilihatnya. Umar menyuruhnya mendekat, “Dekatkan telingamu padaku.” Ia berbisik kepadanya, “Demi Yang telah mengutus Mu-hammad dengan haq sebagai Rasul! Seorang pun tak akan kuberitahukan apa yang telah kusaksikan pada dirimu. Begitu pula Ibnu Mas’ud yang ada bersamaku.” “Ya Amirul Mukminin, dekatkan juga telingamu”, kata orang tua itu. Sekarang dia berbisik, “Begitu pula saya. Demi Yang mengutus Muhammad dengan haq sebagai Rasul, saya tidak pernah kembali pada perbuatan itu sampai aku datang ke majelis ini.” Mendengar itu, Umar mengucapkan takbir dengan suara keras. Orang-orang yang hadir tidak tahu karena apa ia bertakbir. Allahu Akbar. Betapa tingginya kehormatan kita dalam masyarakat Islam. Kesalahan yang kita lakukan tidak menjadi alasan untuk menjerumuskan kita dalam aib yang memalukan, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kesalahan kita tetap dijaga kerahasiaannya sehingga memungkinkan kita untuk memperbaiki diri, Kado Pernikahan 288 menata hati, dan memperbagus akhlak tanpa terbebani oleh bisik-bisik tetangga dan tatapan curiga orang-orang yang tak percaya bahwa kita bisa baik. Sekali lagi, marilah kita simak kembali salah satu peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Pernah datang seorang laki-laki kepada Umar. Ia menceritakan seorang gadis yang pernah berbuat dosa, kemudian bertaubat. Ketika ia dilamar, pamannya ragu-ragu apakah ia harus menceritakan masa lalunya yang buruk. Umar berkata, “Apakah kamu ingin membongkar apa yang telah Allah sembunyikan? Demi Allah, jika kamu memberitahukan keadaan dia kepada orang banyak, aku akan menghukum kamu sebagai pelajaran kepada semua penduduk kota. Nikahkanlah dia sebagai perempuan yang suci.” Allahu Akbar. Perempuan ini jelas telah melakukan perbuatan dosa. Tetapi Islam merangkulnya sebagai perempuan suci ketika ia telah bertaubat. Islam menjaga kehormatannya dan menutupi keburukan masa lalunya. Umar bahkan memberi ancaman kalau paman gadis itu sampai menceritakan masa lalunya yang kelam. Bandingkan dengan apa yang terjadi di zaman kita sekarang. Kehormatan manusia sering diabaikan. Koran-koran sering membuka aib orang tanpa ada jaminan bahwa orang-orang tersebut benar-benar melakukan keburukan, padahal andaikan ia benar-benar melakukan saja mestinya tetap dihormati martabatnya. Demi sebuah kepentingan, kadang saya merasakan sebuah koran menjatuhkan kehormatan berdasarkan zhan dan kabar-kabar yang masih perlu ditabayyuni. Hanya karena wartawan tidak pernah melihat seorang ulama melakukan shalat, koran telah menebar fitnah dengan menyebutkan ulama ini tidak pernah shalat. Wartawan ini tidak melakukan tabayyun dengan bertanya kepada yang bersangkutan, orang-orang yang mengenal detail kehidupannya sehari-hari, maupun keluarganya. Wartawan dengan ringan menulis bahwa ulama ini diisukan tidak shalat. Padahal setelah orang lain melakukan tabayyun kepada orang-orang yang mengenal detail kehidupan seharihari- nya, diperoleh bukti bahwa ulama ini mengerjakan shalat. Hanya tidak bisa melakukan sambil berdiri. Saya pernah memiliki prasangka yang kurang baik (biar terkesan tidak terlalu negatif atas prasangka buruk saya) terhadap seorang ulama. Waktu itu koran-koran memberitakan tentang ulama ini, menggambarkannya sebagai ulama yang pengetahuannya dangkal dan kurang wawasan, menceritakannya sebagai orang yang emosional, menunjukkan sebagai figur yang banyak digerakkan oleh vested interest dengan kharisma yang diwarisi dari orangtua daripada kematangan ilmunya. Pendeknya, ulama ini tidak tergolong sebagai orang yang betul-betul berilmu, emosional, tidak tulus, dan menyandang berbagai konotasi negatif. Koran memang berkepentingan menimbulkan citra negatif terhadap ulama ini, sampai-sampai saya hampir percaya. Saya lupa bahwa koran lebih berpihak kepada oplah daripada kejujuran dan kebenaran. Kado Pernikahan 289 --- “Ghibah,” kata Nabi, “adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai.” --- Ketika saya datang ke Jombang untuk mengikuti acara halaqah diniyyah, ulama yang dikesankan negatif ini ikut memberikan presentasi. Ia datang tanpa membawa makalah, tanpa membawa kitab untuk rujukan di meja pembicara, dan tanpa membawa catatan kasar tentang apa yang akan dipresentasikannya. Allahu Akbar wastaghfirullahal 'adzim. Saya harus tertegun dan menangis begitu kiai ini mempresentasikan “maqalahnya”. Ia menguraikan pendapatnya dengan argumentasi yang sangat kuat; terampil menyebutkan kitab rujukan sekaligus mengutipkan paragraf-paragraf yang ada di dalamnya berikut menyebutkan jilid, bab, dan halamannya tanpa membaca (yang bisa dicek oleh sebagian peserta halaqah yang memegang kitab tersebut); sangat pandai menjabarkan yang sulit secara sederhana dan rinci; teliti dalam memberikan keterangan dan peka terhadap perbedaan di antara dua hal yang kelihatannya sama tetapi berbeda sekaligus menjelaskan kepada para peserta halaqah dengan sangat tenang tanpa membuka catatan sambil telapak tangan kanannya diletakkan di atas punggung telapak kirinya. Ia mampu menepis cercaan dan serangan yang sangat emosional dengan wajah yang tetap tersenyum teduh tanpa perubahan ekspresi, lalu menjelaskan dengan cermat tentang persoalan yang diajukan untuk menyerangnya sehingga orang yang menyerangnya dengan penuh emosi, tidak bisa berkutik. Ia menunjukkan melalui kematangan bicaranya, bahwa ia senantiasa membaca kitab-kitab yang mutakhir dan mengkaji dengan tekun, termasuk disertasi para cendekiawan muslim belakangan yang ditulis dalam bahasa Arab. Selama mendengar presentasinya, saya merasakannya sebagai orang yang tulus, senantiasa mendo’akan kebaikan bagi orang lain, dan berhati-hati dalam menilai pendapat yang kelihatan salah. Ia selalu mendasari jawaban-jawabannya atas pertanyaan para peserta dengan mendasarkan pada kitab-kitab rujukan yang beragam dan dalil yang banyak. Saya tidak melihatnya sebagai orang yang berpengetahuan dangkal, berwawasan sempit, emosional dan tanpa kharisma. Saya tidak melihatnya seperti itu. Saya beruntung bisa berjumpa langsung dengan ulama tersebut setelah saya menyimpan prasangka yang buruk (bahkan ketika menghadiri halaqah pun prasangka buruk itu masih saya bawa). Saya bersyukur Allah membukakan bukti kepada saya bahwa ulama itu sama sekali tidak seperti persangkaan saya, sehingga saya bisa meminta maaf dan memohon do’a kepada ulama tersebut (semoga Allah memuliakannya di dunia dan akhirat). Akan tetapi, masih banyak orang yang tidak sempat melihat bukti bahwa ulama tersebut tidak sebagaimana yang mereka baca dan Kado Pernikahan 290 mereka dengar. Lalu, dengan apakah mereka memperbaiki prasangkanya? Padahal sebagian prasangka adalah dosa. Wallahu A’lam bishawab. Apa yang ingin saya ceritakan di sini? Ghibah. Menggunjing. Bahwa ghibah atau menggunjing itu dapat membuat kita memiliki prasangka yang buruk terhadap orang lain. Kita bisa menaruh kecurigaan kepada orang lain yang pernah dipergunjingkan orang kepada kita. Kita bahkan bisa mencapai taraf yakin bahwa orang yang digunjing benar-benar buruk, sehingga membuat kita bersikap yang sangat merugikan atas dasar keyakinan yang salah bahwa Si Fulan buruk. Cerita tentang keburukan menggunjing kita teruskan nanti saja. Sekarang mari kita memasuki pembicaraan yang mendasar sebelum beranjak lebih jauh, yakni apa sih yang dimaksud menggunjing itu? Apa saja yang termasuk perbuatan menggunjing? Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Mengapa masalah ini perlu saya bahas? Banyak di antara kita yang merasa tidak menggunjing ketika mereka membicarakan orang lain, meskipun mereka telah jelasjelas menggunjing. Banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa dirinya menggunjing, bahkan di saat mereka mengungkap keburukan orang lain. Tentang pengertian menggunjing ini, marilah kita dengarkan percakapan Rasulullah Saw. dengan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu?” tanya Nabi. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” “Ghibah,” kata Nabi, “adalah membicarakan saudara kalian dengan cara yang tidak akan dia sukai.” Salah seorang sahabat kemudian bertanya, “Bagaimana jika yang aku katakan mengenai saudaraku itu hal yang sebenarnya?” Rasulullah menjawab, “Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah mencemarkan nama baiknya (dengan ghibah), dan jika dia tidak seperti yang engkau katakan, maka engkau telah menuduhnya dengan kebohongan dan dusta (buhtan).”1 --- Allah benci kepada makhluk yang merendahkan sesama ciptaan-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya. Kepada mereka yang membuka aurat saudaranya, Allah memberikan ancaman. --- Kado Pernikahan 291 Jadi menurut penjelasan Rasulullah, yang dimaksud menggunjing bukanlah perbuatan memburuk-burukkan seseorang tanpa didukung bukti. Akan tetapi, menggunjing adalah membicarakan keburukan orang lain yang memang benar-benar terjadi, bisa dibuktikan dan tidak mengada-ada. Kalau tidak ada buktinya, tidak benarbenar terjadi dan mengada-ada, kita bukan lagi menggunjing. Kita sudah buhtan. Kita sudah melakukan kebohongan. Alhasil, ada fakta atau tidak ada fakta, tetap dosa. Begitu penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sederhana dan jelas. Tak perlu dijelaskan lebih jauh lagi. Tetapi jika Anda masih ingin mendengar penjelasan yang lain lagi, kita bisa menemui Imam Nawawi melalui kitabnya, Al- Adzkaar. Kata Imam Nawawi (rahimahullah): “Ghibah ialah menyebut perihal seseorang dengan sebutan yang tidak disukainya, baik menyebutnya melalui lisan, tulisan, sindiran, atau dengan isyarat mata, tangan, dan kepala.” “Batasan pengertian ghibah yang diharamkan,” kata Imam Nawawi melanjutkan, “ialah semua pengertian yang dilontarkan kepada orang lain untuk mengungkapkan kekurangan seorang muslim, antara lain dengan cara meniru-niru, umpamanya berjalan dengan langkah yang dipincangkan, atau mengangguk-anggukkan kepala, atau gerakan lainnya. Dilakukan demikian dengan tujuan meniru-niru keadaan orang yang diejek. Semua itu diharamkan tanpa ada yang memperselisihkan.” Imam Nawawi kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai ghibah, termasuk siapa saja yang bisa melakukan ghibah beserta bentuk ghibah yang mereka lakukan. Kalangan ahli fiqih dan ahli ibadah, kata Imam Nawawi, sesungguhnya mereka melakukan ghibah dengan kata-kata sindiran yang memberikan pengertian sama dengan perkataan yang jelas. Dikatakan kepada seseorang di antara mereka, “Bagaimana keadaan Si Fulan?” Maka dijawab, “Semoga Allah memperbaiki kita, semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memperbaikinya. Kami memohon keselamatan kepada Allah, kami memuji kepada Allah yang tidak menguji kita terjerumus dalam kegelapan, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan. Semoga Allah membebaskan kita dari sedikit rasa malu, semoga Allah menerima taubat kita,” dan kata-kata lain yang serupa dengan pengertian mencela orang yang dimaksud. Semua itu merupakan ghibah yang diharamkan. Penjelasan Imam Nawawi masih panjang, tetapi saya kira lebih baik Anda membaca sendiri buku Al-Adzkaar. Begitu juga definisi dari para ulama lainnya, bisa Anda cari di buku lain. Sekarang, marilah kita memasuki bagian berikutnya. Ada Yang Dibolehkan Mari kita melihat sekilas saja tentang ghibah yang dibolehkan. Selebihnya silakan Anda mencari sendiri pada buku-buku tentang ghibah. Kado Pernikahan 292 Ada beberapa keadaan yang membolehkan kita untuk menceritakan keburukan orang lain. Misalnya ketika memberi informasi kepada orang yang sedang meneliti kepribadian orang yang akan dijadikan mitra usahanya, atau orang yang akan dinikahinya (atau menikahinya). Berkenaan dengan mengungkapkan informasi tentang kepribadian orang yang akan menikahi, contoh dari Rasulullah Saw. agaknya patut kita renungkan. Suatu ketika Fathimah binti Qais ra. dilamar oleh Mu’awiyah dan Abu Al-Jahim. Kemudian datang bertanya kepada Nabi, maka Nabi mengatakan, “Mu'awiyah orang yang lemah, sedangkan Abu Al-Jahim tidak pernah meletakkan tongkatnya di pundaknya.” Perhatikan ucapan Rasulullah ini. Beliau mengungkapkan kekurangan masingmasing pelamar. Tetapi sekalipun demikian, Rasulullah Saw. tidak sampai menilai begitu jauh untuk mempengaruhi keputusan Fathimah binti Qais. Lebih lanjut mengenai ini, kita perlu belajar. Mudah-mudahan Allah memberi taufik dan hidayah-Nya. Hal lain yang membolehkan untuk menggunjing adalah ketika Anda dizalimi (dianiaya). Jika Anda mempunyai sepetak tanah yang dengannya Anda menghidupi anak istri, kemudian tanah Anda dirampas oleh seseorang atau penguasa tanpa diberi ganti rugi yang seimbang sedangkan Anda tidak diberi hak untuk menentukan bolehtidaknya tanah Anda dibeli, maka Anda boleh menggunjing orang yang telah menganiaya Anda itu. Allah berfirman: Allah tidak menyukai orang-orang yang mengungkapkan keburukan, kecuali bagi orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An- Nisaa’ 4: 148). Penguasa yang melakukan kezaliman dan kekejaman secara terang-terangan, menurut sebagian ulama boleh digunjing, kecuali Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sirin yang sangat ketat melarang menggunjing penguasa --yang sangat kejam sekalipun. Berkenaan dengan ghibah yang dibolehkan, saya teringat dengan suatu peristiwa. Saya pernah mengingatkan seseorang tentang menggunjing ini, kemudian orang tersebut berhujjah (beralasan dengan mengemukakan dasar) bahwa Nabi menyuruh kita untuk tidak sepenuhnya husnuzhan, tetapi menyediakan buruk sangka sebagai kewaspadaan. Ia menyebutkan sebuah hadis: Khath Arab “Waspadalah kalian dari manusia dengan berlaku buruk sangka.” (HR Ath- Thabrani dan Ibnu Adi). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis itu dha’if sekali karena di dalam sanadnya terdapat Buqyah bin Walid. Selanjutnya, Al-Albani mengutip Al-Haitsami yang berkata, “Buqyah bin Walid adalah mudallas (tukang Kado Pernikahan 293 campur aduk sanad maupun perawi), sedangkan selainnya adalah perawi-perawi yang dapat dipercaya (tsiqah).” Menurut Al-Albani, di samping dari segi sanadnya sangat lemah, hadis tersebut bertentangan dengan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, juga oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis-hadis shahih tersebut, kata Al-Albani, dengan tegas Rasulullah Saw. memerintahkan kaum muslimin untuk menjauhi dan meninggalkan buruk sangka kepada saudaranya sesama muslim. Contohnya adalah hadis beliau “Iyyakum wazhzhanni fainnazh zhanna akdzabul haditsi” (jauhilah olehmu berburuk sangka, karena sesungguhnya berburuk sangka itu adalah sejelekjelek ucapan). Wallahu A’lam bishawab. Tulisan dalam sub judul ini sama sekali belum mencukupi. Saya membicarakan sekilas saja sekedar agar kita tidak sampai terbelenggu mengungkapkan kebenaran hanya karena kita tidak tahu kebolehannya. Ilmu yang lebih banyak tentang ini, tentu saja kita sendiri yang perlu mencari. Selebihnya, mudah-mudahan kita bisa bertanya kepada hati nurani kita. Boleh jadi dalam situasi yang dibolehkan, hati kita mengarahkan kita memanfaatkan kebolehan itu untuk iktikad yang buruk. Astaghfirullahal ‘adzim. Singkatnya, ada ghibah yang dibolehkan, tetapi lebih banyak yang diharamkan. Jika ghibah yang haram kita kerjakan --dan ini mengasyikkan-- Allah telah mempersiapkan ancaman-Nya untuk kita. Na’udzubillahi min dzalik. Allah Mengancam Allah memelihara kehormatan manusia. Allah menjaga kehormatan manusia. Allah melindungi martabat ciptaan-ciptaan-Nya. Karena itu, jangan engkau rusak kehormatan anak Adam yang telah dijaga oleh Allah. Allah murka kepada hamba-hamba-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya, Ia rahasiakan aibnya, Ia pelihara martabatnya, Ia sembunyikan khilafnya, tetapi hamba itu membongkar sendiri aib dan keburukannya kepada manusia lainnya. Allah Tuhan kita juga benci kepada makhluk yang merendahkan sesama ciptaan-Nya yang telah Ia jaga kehormatannya. Kepada mereka yang membuka aurat saudaranya, Allah memberikan ancaman. Sesungguhnya Allah Maha Pedih Siksa-Nya. Ia sudah menegaskan: “Mereka ingkari ayat-ayat Allah, lalu Allah mengazab mereka karena dosadosanya. Sungguh, Allah Maha Kuat, dan dahsyat hukuman-Nya.” (QS. al-Anfal 8: 52). Allah sungguh memberi ancaman kepada kita yang masih membiarkan mulut kita membongkar-bongkar aib saudara kita. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita tentang ancaman bagi orang-orang yang menggunjing. Kado Pernikahan 294 Kita rasanya masih sering membuka aib saudara-saudara kita. Kita perlu berlindung kepada Allah dari ancaman-Nya. Bukankah mulut kita masih sering kita nodai dengan perkataan menggunjing? Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga Allah mengampuni keburukan-keburukan kita dan memperbaiki akhlak kita hingga kita mencapai husnul-khatimah. Allahumma amin. Allah Akan Mempermalukan Mereka yang menggunjing saudaranya sama seperti mengoyak-ngoyak kehormatan, mempermalukan sesama, dan merendahkan derajat manusia. Mereka yang membuka aib saudaranya berarti menghambat jalan saudaranya untuk mencapai kebaikan puncak, untuk mencapai kebaikan yang sempurna. Mereka mempermalukan saudaranya. Kepada mereka Allah akan mempermalukan, sehingga di dalam rumahnya sendiri pun ia masih harus sibuk menutupi rasa malu yang sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi karena Allah telah membuka aibnya. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “Wahai orang-orang yang menyatakan Islam dengan lidahnya, tetapi iman belum masuk ke dalam kalbunya, janganlah kamu menyakiti kaum Muslim. Janganlah kamu mempermalukan mereka. Janganlah kamu mengintip-intip (mencari-cari) aib mereka. Barangsiapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya orang Islam, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aib-nya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.” Nabi menyampaikan sabdanya dengan suara yang keras, seakan-akan beliau ingin agar orang-orang yang tinggal di kemah-kemah pun mendengarnya. Waktu itu, Nabi baru saja selesai shalat subuh.2 Apa yang dapat engkau lakukan untuk mempertahankan nama baikmu jika Allah sendiri yang berkenan mempermalukan? Siapakah yang lebih kuasa untuk menolongmu dari rasa malu jika Allah sudah mempermalukanmu sampai-sampai di dalam rumah pun engkau merasa malu? Apakah yang engkau pertaruhkan untuk keasyikan membicarakan keburukan orang lain yang kadang tidak buruk (karena merupakan kehendak Allah) jika untuk itu engkau harus kehilangan semua kehormatan dan kepercayaan, bukan hanya dari masyarakat melainkan juga dari anak cucu dan sanak kerabat. Dalam psikologi ada istilah image building (pembentukan citra). Bidang ini berurusan dengan bagaimana membentuk citra tentang seseorang sehingga masyarakat menganggapnya sebagai orang yang baik, berwawasan luas, dan seterusnya sesuai dengan citra yang ingin dibentuk. Ini merupakan salah satu bentuk rekayasa psikologis dengan memanfaatkan berbagai sarana publikasi. Jika medianya tepat, image building dapat berhasil dengan baik. Meskipun begitu, segala rekayasa manusia tak akan mampu menghadapi rekayasa Allah. Segala upaya sistematis untuk menimbulkan citra yang positif, akan menghasilkan citra yang sebaliknya jika Allah telah mempermalukannya, bahkan sampai di rumahnya sendiri. Kado Pernikahan 295 Banyak jalan yang bisa menyebabkan seseorang merasa sangat malu jika Allah sudah menetapkan untuk mempermalukannya. Ilmu Allah sungguh terlalu luas jika hanya sekedar untuk mempermalukan orang yang sering membuat malu saudaranya. Jika engkau sudah berhadapan dengan ilmu Allah, maka segala perbendaharaan ilmu yang engkau miliki tak akan mempunyai kekuatan apa-apa jika Allah sudah menetapkanmu untuk menanggung malu yang teramat besar. Peristiwa atau keadaan yang mempermalukanmu bisa berasal dari siapa saja yang ada di rumahmu; bisa anakmu, bisa istrimu, bisa kerabat yang menjadi tanggunganmu, dan bahkan bisa juga dirimu sendiri. Engkau mungkin sudah mendidik anakmu dengan baik, dengan sungguh-sungguh, dan dengan ilmu yang lengkap. Tetapi jika Allah sudah menetapkan untuk mempermalukanmu melalui anakmu, maka kesungguhan dan ilmumu tak bisa apa-apa. Engkau mungkin sudah memperlakukan istri secara ma’ruf dan membimbingnya dengan berdasar ilmu. Akan tetapi jika Allah sudah memutuskan bahwa engkau harus menanggung aib melalui istrimu, ada saja kelengahan yang akan engkau lakukan. Ada saja yang bisa menyebabkan ketentuan Allah berlaku sekalipun engkau merasa sudah menjalankan apa yang semestinya dengan sebaik-baiknya (kecuali berhenti menggunjing). Tentu saja, kita juga perlu berhati-hati dalam menilai perkara semacam ini manakala terjadi pada lingkungan yang ada di dekat kita. Boleh jadi itu ujian dari Allah bagi hamba- Nya yang beriman. Lain sekali nilainya. Berkenaan dengan ini, mari kita dengarkan hadis lain yang membawa pesan senada dengan hadis sebelumnya. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barangsiapa menyimpan rahasia (aib) temannya, Allah menyimpan pula rahasianya di hari kiamat. Dan barangsiapa membuka rahasia temannya sesama Muslim, Allah membukakan pula rahasianya, hingga Allah mempermalukan dia dalam rumah tangganya.” Rasulullah juga bersabda: Barangsiapa menyimpan rahasia (aib), seakan-akan dia menghidupkan kembali anak yang dikubur hidup-hidup. (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Begitulah Allah menjaga kehormatan manusia. Allah meninggikan siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan Allah Maha Kuasa untuk merendahkan siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, sekalipun mereka berasal dari keturunan baik-baik dan golongan orang-orang yang mulia. Dalam perjalanan hidup saya, terasa oleh saya bahwa adakalanya orang-orang dari keturunan yang baik dan sangat menjaga agamanya, terpuruk jatuh karena mereka berhenti hanya sekedar membanggakan keturunan, tetapi tidak berhenti membicarakan aib orang lain. Sebaliknya, dari keturunan orang-orang yang biasabiasa saja, ternyata lebih baik dari persangkaan orang yang memiliki prasangka negatif. Wallahu A’lam bishawab. Kado Pernikahan 296 Ketika menulis bab ini, saya sempat merasakan kesedihan. Teringat oleh saya bagaimana di daerah saya, di wilayah bekas pesantren almarhum kakek saya, berdiri pabrik bir yang sangat besar. Teringat oleh saya, orang-orang yang berlarian ke rumah meminta perlindungan saat mereka mempertahankan tanahnya. Teringat oleh saya bahwa mereka yang gigih di depan justru dari kalangan yang disebut orang-orang awam yang bukan santri, sedangkan mereka yang mengaku ulama justru merestui dan mengizinkan. Dan santri-santri pun bungkam. Bungkam! Di saat itu, rasanya pedih sekali ketika harus melihat bahwa pesantren kakek saya sudah tidak ada lagi. Bangunannya sudah tidak ada lagi. Pengajian-pengajian kitabnya sudah tidak ada lagi. Bahkan bekas-bekas sikap kesantrian pun tak terlalu mudah dilihat pada orang-orang di sekitar wilayah bekas pesantren itu, termasuk keturunan para pengasuh pesantren yang di masa wibawanya terkenal sangat wara’ dan luas ilmunya. Saya merasakan, ada perbedaan antara mulut para kiai yang ikhlas membimbing umatnya dengan mulut anak cucu yang hanya sekedar membanggakan leluhurnya. Dari mulut para kiai yang mukhlis, ucapan yang keluar adalah do’a ketika menyaksikan keburukan atau menghadapi perilaku yang tidak baik dari orang lain. Sedangkan orang-orang yang hanya sekedar membanggakan, lebih banyak menyebut keutamaan-keutamaan leluhurnya tetapi lupa tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang utama. Sebaliknya, mereka kadang merendahkan orang lain (yang bisa jadi lebih tinggi dari dirinya) hanya karena tak semulia leluhurnya. Saya kadang mendengar (tentu saja secara wadag) betapa orang-orang keturunan yang mulia dan berakhlak agung, jatuh ke dalam kerendahan martabat dan rasa malu yang tak dapat disembunyikan karena tidak hati-hati menjaga lisan. Sebaliknya, orang-orang dari keturunan yang tidak memiliki sejarah keluhuran (tentu saja hanya Allah Yang Maha Tahu) ternyata justru menjadi pelopor berbagai kebaikan. Hanya Allah Yang Maha Menguasai perbendaharaan langit dan bumi. Hanya Allah Yang Menggenggam kehormatan dan kemuliaan anak Adam. Dan Allah Maha Kuasa untuk memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa untuk mencabut dari siapa saja yang dikehendaki-Nya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari keburukan disebabkan oleh busuknya mulut kita sendiri. Semoga Allah berkenan mensucikan kita, mencuci kita, dan kita menerima kita dengan ridha. Semoga Allah memperjalankan kita di atas ridha-Nya sekalipun saat ini masih banyak kemungkaran dan kesesatan yang kita kerjakan. Sekalipun masih banyak kesalahan yang kita kerjakan. Mereka Memakan Bangkai Manusia Di daerah Rumania, di sebuah negara bagian, pernah hidup seorang raja. Namanya Vlad. Ia mempunyai kebiasaan yang sangat aneh. Diceritakan bahwa di kerajaannya banyak sekali gelandangan, orang-orang miskin yang kelaparan. Oleh Kado Pernikahan 297 raja, para gelandangan dan orang miskin itu diundang ke istananya. Kemudian ia makan malam, dan menyembelih mereka, atau memasukkannya ke suatu tempat untuk dibakar hidup-hidup. Hal itu ia lakukan sambil menikmati makan malamnya. Katanya, itu salah satu cara untuk mengentas kemiskinan. Vlad mempunyai kebiasaan menikmati kesenangan dalam menyiksa orang sambil makan. Salah satu siksaan yang paling ia sukai adalah meletakkan korban itu di atas ujung logam yang sangat tajam. Pantat korban itu diletakkan di atas ujung logam tersebut. Kalau orang itu bergerak, maka tusukannya makin lama makin dalam, dan darahnya bercucuran. Vlad mengambil darah itu, meminumnya sebagai dessert, cuci mulut. Karena kelakuannya yang aneh itu, ia disebut dalam bahasa Rumania dengan “Dracul”, Setan Vlad Dracul. Dari situlah kemudian muncul film tentang drakula yang artinya orang yang senang menghisap darah. Kalau drakula hanya merupakan film, maka Vlad Dracul adalah manusia yang pernah hidup dan menjadi penguasa. --- Kita rasanya masih sering membuka aib saudara-saudara kita. Kita perlu berlindung kepada Allah dari ancaman-Nya. --- Jalaluddin Rakhmat menceritakan kisah Vlad ini dalam tulisannya yang diberi judul Lindungilah Kami Dari Penguasa yang Zalim. Kang Jalal menganggap Vlad Dracul sebagai manusia yang zalim dan kejam. Saya tidak tahu Anda setuju atau tidak dengan anggapan Kang Jalal. Jika Anda setuju, maka sebutan apa lagi yang bisa dikenakan pada orang yang suka memakan bangkai manusia dengan rakus? Kekejaman seperti apakah perilaku orang yang suka mengunyah daging mayat saudaranya sendiri, sedangkan Vlad yang sekejam itu hanya meminum darah manusia. Tidak sampai mengunyah mayatnya. Padahal Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencaricari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Hujuraat 49: 12). Kado Pernikahan 298 Allah menyamakan menggunjing dengan memakan mayat saudaranya. Ini menggambarkan banyaknya keburukan dan kenistaan dalam menggunjing, serta apa yang akan diperoleh dari orang yang menggunjing. Sayangnya, kita sering tidak sadar ketika kita sedang memakan mayat saudara kita. Kita asyik melahapnya, di saat menasehati, ngobrol santai maupun bercanda. Kita tidak merasa jijik karena mata hati kita terlanjur demikian gelap, sehingga mulut kita tetap saja mau mengunyah bangkai manusia. Padahal, makan daging sapi yang sudah agak bau saja (belum sampai busuk) banyak dari kita yang tidak mau dan bahkan sampai muntah-muntah. Mari kita kenang kembali kisah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wasallam yang berkenaan dengan menggunjing ini. Diriwayatkan dari Ubaid, pembantu Rasulullah Saw. bahwa ada dua wanita yang sedang berpuasa sementara mereka hampir meninggal karena kehausan. Lalu dia memberitahu beliau, tetapi beliau berpaling dan mendiamkannya. Dia berkata, “Wahai Nabi Allah, kedua wanita itu sudah mati atau hampir mati.” Beliau berkata, “Panggillah mereka berdua.” Lalu dia memanggil keduanya, kemudian Rasulullah menemui mereka dengan membawa bejana atau mangkuk. Beliau berkata kepada salah seorang dari mereka, “Muntahlah!” Maka wanita yang disuruh itu pun memuntahkan makanan dan minuman, darah dan nanah hingga memenuhi setengah mangkuk. Kemudian beliau berkata kepada yang satunya lagi, “Muntahlah!” Lalu dia pun memuntahkan makanan dan minuman, darah, nanah, daging, darah segar, dan lain-lain, sehingga memenuhi mangkuk. Beliau kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua wanita itu berpuasa dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan berbuka dengan apa yang telah diharamkan Allah bagi mereka. Salah seorang dari mereka mendatangi yang lainnya dan duduk-duduk bersamanya kemudian memakan daging-daging manusia.” (HR Al-Baihaqi. Juga Ahmad dari jalan yang lain).3 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Ma’iz pernah datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina.” Lalu Rasulullah berpaling darinya sampai dia mengatakan empat kali. Ketika dia mengucapkan yang kelima kalinya, beliau berkata, “Engkau telah berzina?” Dia pun menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Apakah engkau tahu zina itu?” Dia menjawab, “Ya, aku melakukan sesuatu yang haram, yakni laki-laki mendatangi perempuan dengan tidak halal.” Beliau berkata, “Apa maksudnya engkau berkata begitu?” Dia menjawab, “Aku ingin agar engkau membersihkanku.” Rasulullah Saw. berkata, “Engkau telah memasukkan itu darimu ke dalam itu darinya, seperti tenggelamnya cangkul di ladang dan tongkat di sumur?” Dia menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah menyuruh untuk merajamnya, dan dia pun dirajam. Kado Pernikahan 299 Kemudian Nabi Saw. mendengar seorang laki-laki berkata kepada temannya, “Tidakkah engkau lihat orang yang ditutupi Allah, tetapi jiwanya dibiarkan sehingga dia dirajam seperti anjing yang dirajam?” Kemudian mereka mendatangi Nabi Saw. --dan karena ingin segera sampai-- mereka menunggangi keledai. Rasulullah berkata, “Turunlah kalian berdua (dari tunggangan) dan makanlah mayat keledai ini.” Mereka berkata, “Semoga Allah mengampunimu wahai Rasulullah, apakah yang begini harus dimakan?” Nabi Saw. berkata, “Apa yang telah kamu dapatkan dari saudaramu (yang digunjingkan) tadi adalah makanan yang lebih buruk daripada ini. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya dia sekarang benar-benar telah berada di sungai-sungai surga dan berenang di dalamnya.”4 Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika aku naik (ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj), aku melewati suatu kaum yang berkuku kuningan sedang mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Lalu aku bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan kehormatan manusia.” (HR Abu Dawud). Astaghfirullahal ‘adzim. Mulut kita ini, lidah kita ini, tubuh kita ini, betapa seringnya merendahkan manusia lain. Allah tidak malu menciptakan mereka, tetapi kita sering merasa malu berdekatan dengan mereka, bergaul dengan mereka, bersahabat dengan mereka, atau sekedar bertemu dengan mereka hanya karena derajatnya tidak sama. Betapa menyedihkan jika telinga ini mendengar orang mengeluhkan dengan pandangan yang merendahkan atas orang-orang kampung yang karena tidak berkesempatan kuliah, membuat mereka tidak bisa menangkap pembicaraan Pak Mahasiswa yang bicaranya pakai istilah sulit-sulit (meskipun sebenarnya bisa disederhanakan sampai sangat sederhana). Betapa menyedihkan ketika saya harus membaca tukang-tukang becak dipersalahkan dan dinistakan sebagai pembangkang hanya karena mereka tidak bisa beralih profesi menjadi sopir angkot ketika pejabat melarang becak dan menyuruh mereka untuk menjadi sopir angkot saja.5 Bukankah untuk menca-pai yang lebih baik seseorang membutuhkan ilmu, keterampilan, dan modal, di samping kemauan? Aku tahu, tukang-tukang becak itu bukannya tidak mau berjualan di kios-kios pasar atau menjadi sopir angkot. Tetapi mereka itu tidak mampu. Karena itu, jangan sekali-kali engkau rendahkan saudarasaudaraku itu di rumah-rumahmu ketika engkau membaca koran atau majalah hanya karena engkau belum pernah merasakan bagaimana letihnya menarik becak. Jangan engkau rendahkan orang yang kulitnya tidak seputih dirimu. Jangan engkau rendahkan orang yang rambutnya tidak sebaik rambutmu. Jangan engkau rendahkan mereka yang diciptakan Allah dengan wajah yang tidak tampan dan tidak pula manis. Sebab Allah tidak pernah malu menciptakan mereka. Apakah engkau hendak menghina Tuhan dengan penghinaanmu terhadap pekerjaan (af’al) Tuhan? Bukankah Kado Pernikahan 300 Tuhan yang menciptakan mereka hitam atau putih, hidungnya mancung atau pesek, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya? Aku ingatkan engkau sekali lagi wahai awak yang zalim, wahai istriku yang Allah tidak menjaminkan keselamatanmu di akhirat (sebab engkau bukan nabi atau rasul), wahai saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku serta orang-orang yang kucintai, jangan hina af’al Allah! Apakah engkau akan merusak kehormatan orang-orang yang karena telah renta tak bisa merawat bantal dan selimutnya dengan baik sehingga engkau jadikan ia sebagai bahan tertawaan, padahal mungkin Allah senantiasa tersenyum ketika melihatnya? Apakah engkau sudah sedemikian terhormat dan terjamin keselamatanmu di akhirat sehingga engkau bisa merendahkan orang menyerahkan sisa hidupnya di tempat-tempat peribadatan untuk melayani Tuhan dan ummat-Nya? Bukankah di antara kekasih-kekasih Allah terkadang tersembunyi kemuliaannya, sehingga datangnya tidak dihiraukan dan perginya tidak ditangisi?6 Sesungguhnya, di antara orang-orang yang engkau rendahkan barangkali memang tidak tergolong orang-orang yang memiliki kemuliaan tinggi di hadapan Allah. Tetapi ketika engkau merendahkannya, merusak kehormatannya, menggunjingnya, mentertawakannya, boleh jadi ia menjadi mulia karena pahalapahalamu dan orang-orang lain yang ikut mentertawakan diberikan oleh Allah kepadanya. Maka dengan perasaan hina dan penuh pengharapan, kepada siapa saja yang merasa pernah kurendahkan atau pernah kugunjing (padahal engkau tidak mengetahuinya), maafkanlah aku dan ikhlaskanlah kesalahan-kesalahanku. Mudahmudahan Allah mempersaudarakan kita. Allahumma amin. Sungguh, aku melihat hati yang masih lemah sulit untuk dilunakkan ketika ia tahu saudaranya telah menggunjingnya. Saya pernah mendengar langsung orangorang yang menggunjing saya dengan perkataan yang sangat tidak saya sukai, dan saya dapati perasaan saya sangat berubah. Perasaan itu sulit diubah meskipun saya insya-Allah sudah memaafkannya meskipun ia tidak meminta maaf. Maka, betapa riskannya menggunjing. Maka, hanya orang-orang khusus saja yang sanggup berterima kasih (karena telah dihilangkan dosanya atas sebab digunjing) kepada orang-orang yang telah menggunjingnya. Saya teringat cerita tentang seorang kiai. Ketika ada orang yang menggunjingnya dengan perkataanperkataan yang buruk, ia ambilkan sejumlah barang beserta uang sebagai hadiah kepada orang yang telah menggunjingnya. Ya Allah, lunakkanlah hatiku dan tumbuhkanlah kepadaku rasa cinta pada kebaikan dan kebenaran. Ya Allah, santunkanlah masing-masing dari kami kepada saudaranya yang lain. Ya Allah, ampunilah kami dan sempatkanlah kami untuk menebus penyesalan-penyesalan kami. Perjalankanlah kami karena tidak akan mampu kami melewati jalan-Mu yang benar jika bukan karena kehendak-Mu. Kado Pernikahan 301 Ia Merusak Kita Setelah kita berbicara panjang tentang menggunjing; apa yang saja yang termasuk menggunjing dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang menggunjing dan merusak kehormatan saudaranya; sekarang marilah kita berbicara tentang bagaimana menggunjing sebenarnya merusak kita sendiri. Kalau kita menggunjing, maka kita melukai diri sendiri. Kita merusak diri kita sendiri (sayangnya, sulit sekali kita menyadari ini ketika sedang menggunjing). Kita menciderai diri kita sendiri, jiwa kita sendiri, keluarga kita sendiri, dan bahkan anak-anak kita sendiri yang kita cintai kita sayang-sayang setengah mati. Saya tak hendak berpanjang-panjang dengan prolog semacam ini. Sudah gerah rasanya. Karena itu, segera saja kita melihat kerusakan apa saja yang bisa ditimbulkan oleh keasyikan kita menggunjing. Hubungan Suami-istri Cenderung Bersifat Permukaan Suami-istri kadang merasa telah menjalin kedekatan, tetapi hubungan mereka renggang-renggang saja. Padahal mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan melihat TV sambil menikmati snack dari bungkus yang sama. Orangtua juga demikian. Kadang mereka merasa tidak kurang-kurang menyayangi dan menemani anak. Mereka merasa selalu dekat dengan anak. Waktunya di rumah ba-nyak sekali --kalau bukan sebagian besar-- dihabiskan untuk menonton TV bersama-sama; satu kursi, satu meja atau satu tikar bersama-sama. Tetapi ia terkejut ketika anaknya yang mulai menginjak remaja berontak dan memprotes orangtua karena kurang perhatian, kurang kasih-sayang, kurang mendengar, serta kurang dekat dengan anak. Muncul pertanyaan, apakah yang terjadi pada suamiku sehingga ia berkata demikian? Apakah ia hanya mencari alasan saja untuk bisa menjauh dari rumah? Apakah yang terjadi pada istriku sehingga ia mengatakan kurang diberi perhatian? Apakah hanya untuk menyembunyikan kebosanannya saja? Apakah ia sedang mencari-cari alasan untuk memperoleh perhatian “lebih” dari suami? Apakah yang terjadi pada anak-anak yang manis-manis itu sehingga berubah menjadi hantu di siang hari? Siapa yang berani-berani mempengaruhinya sehingga ia tampak begitu garang mengatakan orangtua tidak dekat, padahal setiap hari selalu menghabiskan waktu di depan TV bersama-sama selama berjam-jam? Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Sebelum menginjak jauh ke menggunjing, mari kita pahami dulu mengapa orang-orang yang sering menonton TV bersama kita bisa memprotes karena merasa tidak dekat dengan kita. Pada saat kita menonton TV bersama-sama, sebenarnya yang terjadi bukan kontak psikis yang erat dan akrab. Kedekatan kita lebih bersifat fisik saja (physical closeness) karena tempat kegiatan yang sama. Tetapi secara psikis, masing-masing memiliki kegiatan sendiri yang menyibukkan sekalipun yang disaksikan sama. Tiap-tiap orang larut dalam keasyikannya sendiri-sendiri, sehingga Kado Pernikahan 302 kedekatan secara fisik tidak menyebabkan mereka dekat secara psikis. Karena itu, lamanya waktu yang dihabiskan untuk duduk-duduk bersama tidak menjadikan masing-masing semakin akrab. Bahkan ketika acara usai pun, tak jarang masingmasing terbenam dalam keasyikannya memikirkan tokoh cerita yang baru saja ditayangkan di TV atau berpikir, “Seandainya saya tadi cepat-cepat menelpon, tentu hadiah kuis empat setengah juta itu menjadi milik saya....” Singkat kata, kedekatan yang tampak pada mereka sebenarnya cuma kedekatan semu (pseudo-attachment). Seolah-olah dekat, tetapi batin mereka saling berjauhan dan tidak saling menyapa. Masing-masing memiliki kepentingan sendiri yang tak seorang pun boleh mengganggu. Sekali waktu, cobalah mengalihkan acara yang sedang asyik ditonton oleh orang yang Anda cintai; entah suami, anak, atau bahkan cucu. Alihkan secara tiba-tiba. Dan nantikan kegusaran mereka kepada Anda. Cucu Anda yang paling kecil pun mungkin akan segera memarahi Anda dengan cara khas anak-anak; teriak-teriak, memukul-mukul kaki, menangis, atau bahkan mengatangatai Anda. Apa ini artinya? Kedekatan yang terlihat sungguh-sungguh hanya bersifat permukaan, bukan benar-benar merupakan kedekatan. Karenanya jangan terlalu banyak berharap dari kedekatan semacam ini. Sama seperti kedekatan orang yang naik bus bersama-sama. Mereka duduk dalam satu kursi, tetapi sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara, tidak saling menanyakan alamat, tidak saling menanyakan tujuan, dan bahkan tidak saling menanyakan nama (ini yang sangat minimal). Jika untuk hal-hal seperti itu saja tidak, apa-lagi untuk saling berbincang-bincang jauh yang akrab untuk dijadikan bahan renungan di rumah. Lebih jauh tentang pseudo-attachment (kedekatan semu) insya-Allah akan saya bahas lebih lanjut pada buku “Akan Kau Apakan Anak-anakku?” yang rencananya akan saya tulis dalam waktu dekat ini. Adapun pembahasan tentang pseudoattachment pada bab ini, sekedar untuk memudahkan kita memahami bagaimana menggunjing dapat menjadikan hubungan suami-istri cenderung bersifat permukaan. Tetapi, bukankah menonton TV berbeda dengan menggunjing? Bukankah ketika kita asyik menggunjing bersama istri, kita saling berbincang-bincang, saling mendengarkan, saling menanggapi, dan bahkan saling mendukung? Bukankah ini berarti ada komunikasi dua arah yang baik? Dan barangkali tidak ada komunikasi dua arah yang lebih gayeng (asyik dan intens) melebihi acara menggunjing bersama. Argumentasi ini kelihatannya benar. Untuk membuktikan benar tidaknya argumentasi ini, marilah kita periksa secara teliti, sehingga kita mendapatkan bukti yang kuat. --- Dalam komunikasi yang bersifat permukaan, suami-istri tidak memperoleh kebutuhan psikis inter-personalnya. Kado Pernikahan 303 Hal ini menyebabkan jiwa mereka tidak merasakan keterpenuhan, sehingga... --- Setiap saat kita menggunjing, maka perhatian utama kita tertuju pada kejelekankejelekan orang yang kita gunjingkan. Pada saat seperti itu, kita sadari atau tidak kita merasa unggul dan benar. Kalau kita tidak merasa lebih baik, lebih unggul dan lebih benar, rasanya tidak ada ruang untuk membicarakan kejelekan orang. Perasaan unggul (bukan kesadaran tentang keunggulan yang dikaruniakan Allah kepada kita) menjadikan kita kurang peka terhadap kelemahan-kelemahan kita, termasuk kelemahan dalam memberi perhatian dan memahami istri atau suami. Perasaan unggul --yang bentuknya adalah memandang rendah orang yang digunjing (meskipun tidak merasa merendahkan)-- menjadikan kita lebih siap untuk memperoleh affirmasi (peng-iya-an) dan tidak siap kalau pernyataan kita dibantah oleh suami. Kita cepat emosi. Kita akan dengan sigap membantah dengan menunjukkan “bukti-bukti”. Ini menunjukkan bahwa yang kita butuhkan bukanlah istri atau suami kita, tetapi dukungan terhadap penilaian kita tentang orang lain di saat sedang ghibah. Percakapan yang sering kelihatan gayeng (asyik dan intens) itu ditinjau dari aspek komunikasi interpersonal juga kering. Tampaknya dua orang sedang berbicara bersama-sama, tetapi mereka sebenarnya sedang berbicara sendiri-sendiri. Apa yang mereka bicarakan merupakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pengenalan terhadap orang yang diajak bicara, tidak saling memenuhi kebutuhan psikis, dan tidak juga memasuki wilayah komitmen pribadi tentang berbagai persoalan. Pembicaraan yang menyangkut nilai-nilai akhlak atau kegelisahan sosial yang lahir dari penghayatan, sekalipun tidak menyangkut keadaan individu masing-masing, dapat membuat jiwa semakin dekat sebab selaras dengan nurani dasar manusia (fithrah). Akan tetapi dalam menggunjing hal ini tidak terjadi. Jika setiap saat pikiran kita disibukkan oleh pembicaraan tentang orang lain7 dan keburukan-keburukannya, akhirnya kita tidak merasa benar-benar akrab dengan istri dan anak-anak kita --apalagi dengan tetangga kita. Kita sering ngobrol dengan mereka, membicarakan berbagai keburukan orang lain, tetapi kita tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Ini menjadikan kita tidak bisa merasa dekat secara emosional dengan orang-orang yang mestinya paling dekat dengan kita. Kalau sudah seperti ini, kita tidak merasa gelisah dan mendo’akan dengan suara lirih ketika suami tidak kunjung pulang, melainkan justru menyiapkan berbagai macam prasangka. Begitu ia datang, sikap yang kita nampakkan bukan kerinduan yang menggelisah, tetapi kejengkelan yang membawa rasa curiga. Apa akibat selanjutnya? Baca kembali bagian awal bab sebelumnya Komunikasi Suami-istri, khususnya bagian cuplikan tulisan Kang Jalal di buku Psikologi Komunikasi. Kado Pernikahan 304 Dalam komunikasi yang cenderung bersifat permukaan, suami-istri tidak memperoleh kebutuhan psikis interpersonalnya. Ini menyebabkan jiwa mereka tidak merasakan keterpenuhan, sehingga bisa mencapai kualitas-kualitas yang lebih baik dan lebih baik lagi. Seandainya saya boleh menggunakan istilahnya Maslow, mereka mengalami “human diminution” (kemerosotan kemanusiaan manusia) dan semakin jauh dari “full-humaness” (menjadi manusia yang sepenuhnya manusia). Pada situasi komunikasi yang sudah terjatuh ke dalam bentuk yang sangat permukaan (periferal), problem manusia tidak lagi bisa dihayati dan dicintai untuk mendapat pemecahan yang paling mendatangkan kemaslahatan. Sebab, masingmasing mereka terlanjur terbiasa mentertawakan problem dan memberikan pemecahan yang periferal dan tidak tahan uji. Lihatlah ketika orang menggunjing, dengan mudah ia mampu memberi penyelesaian masalah untuk semua hal. Padahal jika mereka diminta untuk sungguh-sungguh memecahkan satu masalah yang “kecil” saja, mereka akan kesulitan; kesulitan dengan diri mereka sendiri dan kesulitan menemukan akar permasalahan. Budaya pemecahan masalah yang cenderung periferal (permukaan) ini pada gilirannya akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Masalah-masalah yang datang disikapi secara dangkal saja (karena tidak terbiasa lagi melihat akar masalah), diselesaikan dengan mengandalkan otoritas --terutama jika berkenaan dengan anak-- se-hingga masalah tak benar-benar terselesaikan, kecuali permukaannya saja. Ibarat seorang dokter, ia hanya menyembuhkan simptomnya saja. Ia tidak melacak etiologi penyakitnya. Dari sinilah kemudian anak merasa tidak memperoleh perhatian yang dibutuhkan,8 tidak menemukan kesejukan yang diharapkan, dan tidak mendapatkan orangtua yang “mendengarkan dia”. Anak akhirnya tidak betah di rumah. Dan ini bisa menjadi salah satu jalan yang membuka aib orangtua, sehingga orangtua merasa malu sekalipun dalam rumahnya sendiri.9 Penjelasan di atas barangkali agak ekstrem: menggunjing saja bisa menyebabkan anak lari dari rumah. Tetapi ada yang lebih ekstrem lagi. Budaya bicara dan pemecahan masalah yang lebih banyak menyangkut keburukan orang lain, dan jarang berbicara tentang apa yang dibutuhkan oleh jiwanya sendiri, menjadikannya merasa asing dengan realitas psikis istri atau suaminya. Bahkan bisa terjadi, ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan keterasingan diri. Orang yang mengalami keterasingan diri, senantiasa merasa kesepian. Kegiatan yang ia lakukan --seperti pulang ke rumah, menyiram bunga, atau mengantar anak ke sekolah misalnya-- bersifat mekanis (seperti mesin). Bahasa umumnya: rutinitas. Padahal letak persoalannya bukan pada kerutinan, melainkan pada kosongnya makna dalam kegiatan-kegiatan itu. Contoh di atas belum menunjuk pada keterasingan diri (self-alienation), tetapi baru pada gejala yang memiliki muatan alienasi diri. Saya ingin mengajak Anda memahami masalah ini secara bertahap. Ketika orang sudah merasa jenuh pada rutinitas, giliran berikutnya ia mulai merasakan kekosongan makna pada apa yang ia lakukan. Ia sudah semakin mekanis sampai akhirnya benar-benar mekanis; seperti Kado Pernikahan 305 robot yang sudah diprogram untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa mengerti apa yang harus dilakukan ketika semua terasa hampa, kering, dan kosong. Karena sudah menjadi mekanis seperti robot, maka manusia yang sudah terkikis nilai kemanusiaannya (human diminution) ini disebut sebagai robopath (pathologi robot). Ada berbagai jenis robopath --saya lupa apa saja-- sesuai dengan bentuk perilaku yang muncul dari gangguan robopath. Salah satunya adalah cheerful-robo yang berusaha menghalau rasa sepinya dan kekosongan jiwanya dengan banyak melahap hal-hal yang bersifat sensual serta makan berbagai jenis makanan yang lezat. Hal-hal yang bersifat sensual ia dapatkan dari TV, film, video, majalah,nonton orang-orang cantik di jalan-jalan, ngrumpi, dan seterusnya sampai yang berbentuk obat-obatan terlarang sejenis ekstasi (agar bisa mengalami “ekstase”). Padahal keasyikan saat menonton TV atau ngrumpi hanya bertahan selama nonton atau ngrumpi berlangsung. Sesudah itu, rasa sepi hinggap lagi. Mereka yang tidak tahan, akhirnya lari dari dirinya sendiri (salah satunya ya minum ekstasi tadi). Mereka rapuh secara emosional dan mental, sehingga mudah mengalami keputusasaan. Agar lebih bisa memahami, mari kita simak contoh kecil berikut. Orang yang pertama ikut lomba --baca puisi misalnya-- akan merasa senang dan bahagia begitu dirinya menjadi juara harapan I. Tetapi orang yang sering ikut lomba dan selalu juara satu -- gelar juara tidak lagi menarik. Menjadi juara tidak lagi menyenangkan. Makna piala dan gelar juara sudah hilang, kecuali jika ada misi tertentu yang menggerakkan untuk tetap meraih gelar juara. Tetapi ini sekaligus berarti, bukan gelar juara itu yang memberi kebahagiaan dan makna, melainkan misi yang ada di baliknya. Pada orang yang setiap ikut lomba terpaksa menjadi juara, pujian orang-orang yang kagum tidak memberikan kebahagiaan apa-apa. Bisa jadi, pujian itu malah membuat dia semakin hampa karena ada perasaan, “Piala ini hanya membuat mereka terkagum-kagum, tetapi tidak lagi memperhatikan saya.” Saya teringat cerita tentang Cak Nun. Saya pernah membaca sebuah koran yang memuat peristiwa ketika Cak Nun dicekal, sehingga Cak Nun harus bertemu dengan kepala kantor yang berurusan dengan ini (saya tidak ingat kantor apa itu). Ketika Cak Nun masuk, kepala kantor tersebut sudah memasang muka seram. Tetapi ketika Cak Nun ternyata sangat tidak memasalahkan pencekalannya, dan justru bertanya hal-hal yang menjadi kebutuhan psikisnya sebagai manusia; ketika ditanya bagaimana keadaannya hari ini, bagaimana perasaannya, kabar anak istrinya, dan sejenisnya, kepala kantor ini justru terharu dan mengundang Cak Nun untuk bicara di tempatnya. Banyak pejabat yang kaget ketika melihat dirinya sendiri setelah tidak memiliki jabatan. Pada saat memiliki kekuasaan, ia “mencacatkan” tangannya sendiri sehingga karyawanlah yang membukakan dan menutupkan pintu mobilnya. Ia tidak menyetir sendiri mobilnya. Sudah ada orang yang bertugas untuk mengantarkan ke mana pun ia pergi, termasuk bepergian untuk acara-acara di luar kepentingan dinas. Ia menyangka itu merupakan bentuk ketulusan hubungan manusia dengan manusia, bentuk cinta kasih antar sesama, padahal itu hanya merupakan obligasi (kewajiban) kepegawaian yang hanya bersifat permukaan. Begitu ia turun dari jabatan, ia kehilangan itu semua Kado Pernikahan 306 karena para bawahan tadi membukakan pintu atau membawakan tas bukan karena cinta kasih kepadanya, tetapi karena memang pekerjaannya membukakan pintu kepala kantornya. Ia terkejut. Dan akhirnya sakit. Orang pun menyebutnya dengan istilah mewah: post power syndrome atau sindrom karena kehilangan kekuasaan. Saya harap contoh-contoh di atas, termasuk contoh hubungan karyawan dengan atasannya, dapat menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan hubungan yang cenderung bersifat periferal atau dangkal. Begitu. Dan bagaimana dengan Anda? Suami Anda masih sayang, kan? Semoga Anda sehat-sehat saja hari ini. Kepercayaan Sulit Dibangun Dalam rumah tangga, orang membutuhkan sahabat yang bisa mendengar dan menjaga rahasia-rahasianya. Ia menceritakan kepada istri atau suami hal-hal yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain, seorang sahabat dekat sekalipun. Hal yang bersifat rahasia ini boleh jadi persoalan-persoalan berat, boleh jadi persoalanpersoalan yang ringan-ringan saja; persoalan yang sangat sepele dan tidak berpengaruh terhadap kebijakan politik luar negeri sama sekali. Tetapi ketika tidak ada kepercayaan, ke mana suami akan mengungkapkan rahasia-rahasianya? Di sinilah persoalan yang pelik bisa muncul dan bisa menjadi jalan yang akan mempermalukan mereka, sehingga di rumahnya sendiri pun akan merasa malu. Tetapi jalan untuk mempermalukan orang yang akan dipermalukan-Nya, sungguh tidak sesempit penjelasan saya yang sederhana. --- Membicarakan keburukan-keburukan orang membuat kita banyak dikendalikan oleh prasangka-prasangka kita tentang penilaian orang lain terhadap kita. --- Apa yang menyebabkan kepercayaan terhadap istri atau suami berkurang atau bahkan nyaris menghilang? Perasaan tidak aman. Jika Anda tidak segan-segan menggunjing atau bahkan memburuk-burukkan keluarga Anda sendiri, orangtua Anda sendiri, saudara Anda sendiri, serta orang-orang yang sangat dekat dengan Anda dalam keluarga ketika sedang berkumpul bersama suami dan anggota keluarga lainnya, maka ini juga menyiratkan bahwa tidak ada jaminan Anda akan menjaga rahasia-rahasianya. Tidak ada jaminan kalau suami Anda bercerita tentang sesuatu yang ingin dirahasiakannya --sekalipun sekedar tentang betapa nikmatnya makan Kado Pernikahan 307 jagung rebus di rumah orang saat bertamu-- Anda tak akan menceritakannya kepada orang lain ketika obrolan sudah gayeng (asyik dan intens). Boleh jadi suami Anda percaya bahwa Anda mencintainya, akan tetapi ia ragu apakah Anda dapat memilah mana yang boleh diceritakan dan mana yang tidak saat Anda bertemu dengan kawan lama. Keraguan itu bertingkat-tingkat, dari yang kadarnya rendah sampai yang sangat tinggi. Menceritakan aib orangtuanya saja ia tidak segan-segan, apalagi menceritakan aib suami atau istrinya sendiri! Ada saat-saat dimana suami atau istri bisa menceritakan tentang berbagai persoalan yang tak satu telinga pun boleh mendengarnya, kecuali istri atau suaminya sendiri. Cerita ini boleh jadi bersangkut-paut dengan saudara atau orang tua. Tetapi ini tidak untuk menggunjing. Contoh di atas adalah kasus sederhana dengan penjelasan sederhana, sangat sederhana. Di luar yang telah dibahas, masih ada wilayah-wilayah kepercayaan yang lebih luas. Berkurangnya kepercayaan tidak hanya mencakup dapat tidaknya Anda menjaga rahasia pembicaraan suami atau istri, tetapi mencakup keseluruhan wilayah kepercayaan. Sayangnya kita tidak bisa membahas seluruhnya di bab ini. Mudah-mudahan nanti bisa dipaparkan lebih mendalam pada kesempatan lain. Kepuasan Rendah Jika ada surga di dunia, itu hanya ada pada pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia, itu ada pada perkawinan yang dipenuhi percekcokan, kecurigaan, kekecewaan, dan pertengkaran. Rumah menjadi tidak nyaman. Rumah tidak memberi ketenteraman. Kepuasan perkawinan banyak berhubungan dengan kepercayaan suami-istri. Jika masing-masing memiliki kepercayaan yang tinggi, mereka lebih mungkin untuk mencapai kepuasan perkawinan. Tetapi jika kepercayaan rendah, kepuasan perkawinan juga cenderung rendah. Kepuasan lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek psikis; intensitas hubungan batin antara suami dan istri, terpenuhinya kebutuhan psikis, tercukupinya perhatian, dan sejenisnya. Kepuasan perkawinan tidak terlalu banyak berhubungan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Keluarga Fathimatuz Zahra dan ‘Ali bin Abi Thalib tidak termasuk kaya. Tetapi apa kata ‘Ali tentang Fathimah? “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.” Kepuasan perkawinan juga memerlukan saling pengertian antara suami dan istri. Lebih lanjut tentang saling pengertian, silakan simak sub judul berikut: Kado Pernikahan 308 Saling Pengertian Sulit Tumbuh Pada bab "Di Mana Wanita-wanita Barakah Itu"10 saya sudah bercerita sedikit tentang Marriage Contracts. Dalam pernikahan yang menggunakan sistem marriage contracts, pola hubungan diatur berdasarkan tugas-tugas yang telah dituangkan dalam surat perjanjian sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Di sini, yang paling berperan adalah kekuatan hukum dari surat perjanjian. Bukan saling pengertian antara suami dan istri. Saling pengertian merupakan kekuatan rumah tangga yang sangat besar. Saling pengertian antara suami dan istri membuahkan kearifan sehingga bisa menempatkan sikap secara tepat (dan ini tak mudah); sikap ketika suami harus meninggalkan rumah karena panggilan untuk melayani umat, sikap ketika suami harus berhadapan dengan kondisi yang menantang, dan juga sikap dalam berbagai kondisi yang berbeda. Saling pengertian inilah modal penting dalam menegakkan misi dan menyiapkan anak-anak yang lahir dari pernikahan kita menuju pribadi yang matang dan memiliki misi kuat. Tumbuhnya saling pengertian banyak dipengaruhi oleh adanya kesadaran misi pada masing-masing pihak, oleh pemahaman mengenai tugas-tugas kehidupan, oleh jalinan perasaan masing-masing, dan oleh mendalamnya hubungan masing-masing. Dalam hubungan suami-istri yang cenderung bersifat permukaan, ini sulit terbentuk. Sedangkan hubungan yang bersifat permukaan merupakan akibat logis dari keasyikan menggunjing yang dipelihara terus dan dibudayakan setiap hari di rumah, di kantor, dan di tempat lain. “Sibuk” Menepis Penilaian Sosial Jika Anda sering mengamati perkembangan anak, maka Anda akan peka sekali terhadap gejala-gejala yang ada pada perkembangan anak. Sebaliknya, jika Anda tekun mendalami perkayuan (yang sekarang semakin sedikit karena berjuta-juta meter persegi hutan kita sudah terbakar)11, maka Anda cepat berpikir tentang kekuatan maupun kegunaan kayu begitu melihat ada sebatang kayu di hadapan Anda. Begitu juga jika Anda sering mencela, mencaci, memaki, merendahkan, menggunjing sesama, atau melecehkan kehormatan orang lain, Anda akan sangat peka terhadap gelagat orang yang bisa ditafsirkan sebagai penilaian. Anda akan cepat berpikir tentang komentar orang kelak jika Anda akan melakukan sesuatu, katakanlah sesuatu yang baru. Alhasil, gerak Anda dipengaruhi (sebagai pengganti kata dihambat) oleh persepsi Anda tentang orang lain --yang ternyata boleh jadi keliru sama sekali. Bahasa lugasnya, Anda mudah berprasangka buruk (su’uzhan) dan prasangka buruk itulah yang mengontrol tindakan-tindakan Anda. Membicarakan keburukan-keburukan orang membuat kita banyak dikendalikan oleh prasangka-prasangka kita tentang penilaian orang lain terhadap kita. Kita sangat mudah risau dengan “kata orang” (sekali pun baru mungkin) tentang kita, sehingga langkah kita yang membawa maslahat ada kemungkinan tidak jadi kita kerjakan Kado Pernikahan 309 karena khawatir terhadap penilaian orang. Kita akhirnya sibuk memilih tindakan yang melahirkan penilaian positif dari orang lain. Alhasil, kita semakin jauh dari kebaikan. Betapa seringnya orang tidak berani melakukan apa yang dapat mengantarkannya kepada cita-cita hanya karena takut dikomentari. Betapa lazimnya kita mendengar orang takut berbicara di muka umum untuk menyampaikan kebenaran hanya karena takut dinilai, takut tidak bisa berbicara secara menarik. Alhasil, ia tidak menyampaikan kebenaran karena takut mencemarkan nama baik Islam mengingat dia “tidak bisa mewakili” Islam dalam membawakan retorika yang bagus. Alhasil, kita biarkan keadaan yang kritis hanya demi menjaga agar orang tidak memberi komentar yang buruk (meskipun orang lain belum tentu berkomentar demikian). Kita sudah terlalu banyak belajar dari orangtua kita; baik orangtua di rumah, masyarakat, maupun sekolah. Kita belajar dari mereka agar tidak punya keberanian menyampaikan apa yang harus disampaikan jika suara kita tidak bisa menggelegar, retorika kita tidak bagus, dan pakaian kita tidak seperti pakaian “penyampai kebenaran”. Kita sering belajar --dari orangtua kita maupun masyarakat-- untuk mentertawakan orang yang maju dengan sangat lugu, sehingga ketika tiba saatnya kita harus tampil, kita mundur teratur karena khawatir ditertawakan orang sebagaimana kita juga mentertawakan mereka (meskipun kita melihatnya sebagai perasaan grogi).12 Saya teringat dengan satu peristiwa di tahun 1993. Ketika itu ada sarasehan di Salman, Bandung untuk membicarakan tentang metodologi pendidikan agama untuk anak prasekolah. Banyak sekali yang hadir pada acara tersebut, salah satunya adalah seorang guru TK. Guru kita ini kemudian mendapat kepercayaan untuk mempresentasikan pikiran-pikirannya cemerlang, tak lama setelah Menteri Agama membuka acara. Tak banyak yang mendapat kehormatan untuk berbicara di sesi pertama. Kesedihan dan kerisauan menyergap saya ketika ibu kita mulai mempresentasikan makalahnya di hadapan para undangan, tidak sedikit di antaranya pemikir-pemikir pendidikan dan praktisi berpengalaman. Ibu kita ini tidak termasuk orang yang akrab dengan dunia seminar, apalagi mempresentasikan. Ia juga masih heran melihat OHP --yang bagi mahasiswa seperti makanan kecil. Tetapi sekali presentasi, pesertanya orang-orang yang sudah biasa tampil di depan. Tak terlalu heran jika ibu kita ini gugup dan sekaligus gagap teknologi. Yang membuat saya sedih, orang-orang yang intelek itu rupanya banyak yang tidak betah mendengar. Ada kegelisahan atau mungkin rasa malu melihat presentasi dari ibu kita, padahal apa yang dikemukakannya begitu bagus jika kita mau berendah hati dalam memakai bahasa. Saya merasa aneh melihat sikap yang semacam itu. Bukankah yang “lebih intelek” mestinya justru memahami yang “agak kurang intelek”? Waktu itu yang saya lihat mendengar dengan serius dan sungguh adalah saudara-saudara kita dari Al-Arqam. Yang lainnya pun insya-Allah ada, tetapi saya tidak melihat. Astaghfirullahal ‘adzim. Wallahu A’lam bishawab. Kado Pernikahan 310 Apa yang bisa kita ambil dari cerita ini? Sikap kita dapat menjadi hijab (penghalang) bagi datangnya ilmu yang baik. Tetapi, dari mana sikap yang semacam itu lahir? Dan Masyarakat Pun Hancur Rusaknya masyarakat tidak hanya karena pemimpin yang tidak adil. Keasyikankeasyikan kita menggunjing sesama, juga ikut berperan menghancurkan masyarakat. Karena menggunjing, kesalahan seorang hamba Allah yang telah disembunyikan Tuhannya kita sebarluaskan sehingga semua orang tahu, sehingga ia sibuk menutupi wajahnya. Saya teringat tulisan K.H. Jalaluddin Rakhmat. Katanya, “Perhatikan, betapa banyak keburukan telah Anda lakukan dan Tuhan menyembunyikannya dari mata dan telinga manusia. Sekiranya semua kejelekan Anda diketahui orang, Anda tidak akan tahan hidup di tengah-tengah masyarakat.” Ketika keburukan-keburukan kita disembunyikan oleh Allah dari penglihatan orang, insya-Allah kita bisa lebih leluasa untuk memperbaiki diri. Kita bisa melakukan perbaikan atas jiwa kita, mental kita, dan niat-niat kita tanpa terkungkung oleh penilaian orang atas kita. Jika kita sebelumnya telah melakukan keburukan dan tidak seorang pun mengetahui, kita memiliki kesempatan untuk menghapus keburukan dengan banyak melakukan kebajikan tanpa takut ditolak oleh masyarakat, atau setidaknya beberapa orang. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, jika seseorang dikenal kebaikannya oleh masyarakat (meskipun sangat sedikit), ia akan cenderung berusaha untuk meningkatkan kebaikan-kebaikannya. Seiring dengan usahanya untuk semakin meningkatkan kebaikan dan keutamaannya, keburukan-keburukan yang melekat padanya akan menyusut. Ia tidak memiliki hambatan psikis yang berarti karena masyarakat menerima perkembangan-perkembangan baiknya. Sebaliknya, jika keburukannya yang dikenal masyarakat (sekalipun sedikit sekali), maka sulit baginya untuk melakukan kebajikan-kebajikan yang diterima. Masyarakat cenderung tidak menerima perbaikan yang bertahap dan pelan. Masyarakat cenderung menghendaki perubahan yang tiba-tiba, spontan, dan menyeluruh. Padahal ini merupakan syarat yang sulit dipenuhi manusia secara umum (kecuali orang-orang khusus). Alhasil, orang itu semakin berkembang dengan keburukannya (yang semula hanya sedikit). Dan boleh jadi ia justru menjadi penyebab tersebarnya keburukan di tengah-tengah masyarakat. Artinya, ketika keburukan seseorang tersebar luas, maka akan menyebabkan yang bersangkutan sulit melakukan perubahan ke arah yang baik dan masyarakat sulit menerima perbaikan yang bertahap dan pelan. Padahal, manusia umumnya melakukan perubahan secara bertahap. Perubahan baru bisa dilakukan secara bertahap, progresif dan baik ketika sudah pindah ke masyarakat lain yang tidak dikenal atau kulturnya sangat berbeda. Akhawat yang memiliki militansi tinggi, Kado Pernikahan 311 umumnya adalah mereka yang berasal dari daerah-daerah yang sangat jauh. Mereka mengalami perubahan (metamorfosis spiritual) setelah pindah ke tempat yang tidak dikenalnya. Sekalipun bab ini bukan tentang kebaikan merantau, tetapi izinkanlah saya untuk melengkapi pembicaraan kita ini dengan nasehat Imam Syafi’i. Katanya, “Sungguh aku melihat air yang tergenang dan terhenti memercikkan bau yang tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya, jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk.” Imam Syafi’i juga pernah mengingatkan, “Emas bagaikan debu sebelum ditambang menjadi emas. Dan pohon cendana yang masih tertancap di tempatnya tak ubahnya pohon-pohon untuk kayu bakar. Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, kau akan temui derajat mulia di tempat yang baru, dan kau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya.” Jika memperhatikan nasehat Imam Syafi’i, merantau membuat “emas yang terpendam” dalam diri kita dapat terangkat sehingga kelihatan kilau emasnya. Merantau membuat emas jiwa kita terasah dan mencapai ketinggian dengan lebih banyak belajar, menghadapi tantangan, dan lingkungan yang lebih siap menerima kita. Kita tidak dikenal, karena itu kacamata yang dipakai orang untuk melihat kita lebih jernih. Kadangkala masyarakat baru tempat kita merantau justru menempatkan sekaligus mengharapkan kita sebagai orang baik, sehingga “do’a” mereka akhirnya menjadi kenyataan. Saya beberapa kali mendengar kabar baik tentang teman-teman dari Jombang setelah mereka kuliah di tempat lain. Sebagian di antara teman-teman itu konon tidak biasa mengenakan sarung sebagai pakaian sehari-hari,13 tetapi di tempatnya yang baru mereka mengalami perubahan positif. Mereka dianggap sebagai wakil sah dari santri Jombang yang ‘alim. Mereka dianggap sekaligus diperlakukan sebagai orang yang tahu bagaimana membawakan agama dan kesan tidak santri dalam penampilan mereka dianggap hanya sebagai penyamaran (bukankah wali-wali Allah itu kadang ada yang nampak sebagai orang yang tidak banyak faham agama?). Ini menyebabkan mereka mengalami perubahan perilaku. Mereka juga mulai “malu” dengan anggapan orang sehingga mereka berusaha untuk benar-benar menjadi orang baik, faham agama, dan menjaga perilaku. Di sinilah kemudian terasa barakah do’a para kiai terdahulu, sehingga sepeninggal mereka pun masih membawa kebaikan. --- “Perhatikan, betapa banyak keburukan telah Anda lakukan dan Tuhan menyembunyikannya dari mata dan telinga manusia. Sekiranya semua kejelekan Anda diketahui orang, Anda tidak akan tahan hidup di tengah-tengah masyarakat.” --- Kado Pernikahan 312 Mengapa tanah rantau memberi kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk menjadi orang baik dibanding tanah asal? Jawabnya, tidak ada gunjingan buruk yang sampai kepada mereka sehingga mereka tidak memiliki prophecy (arti harfiahnya sih nubuwwah)14 tentang kita. Karena tidak memiliki prophecy, mereka menilai sesuai dengan yang mereka lihat dari kita selama bersama mereka. Tetapi jika sudah ada prophecy, orang sudah memasang prasangka (sekaligus menyiapkan sikap) kepada kita, “O..., orang ini begini dan begitu.” Pada masyarakat tempat asal kita, perubahan ini relatif lebih sulit terjadi. Apalagi jika kebiasaan menggunjing sudah merata. Mengapa? Mari kita simak secara lebih rinci pada sub judul Zhan Yang Terpenuhi, Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain, dan Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita. Sekarang, mari kita lihat satu per satu. Zhan Yang Terpenuhi Kebiasaan menggunjing membuat kita tidak peka terhadap kebaikan orang. Kita merasa nyaman dengan sikap-sikap kita mengungkap keburukan orang, sehingga kita akhirnya tidak cermat dalam memeriksa penilaian kita kepada orang lain, apakah tepat atau tidak. Pada gilirannya, kita mudah sekali berprasangka. Kita sudah tak bisa membedakan mana zhan (prasangka) mana keburukan yang benar-benar dilakukan. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, setiap kita mendengar sesuatu, kita segera menghubungkan kabar tersebut dengan sesuatu yang “seharusnya ada”. Maksud saya sederhana saja, jika Anda mendengar ada seorang yang sangat ‘alim, maka Anda segera membayangkan bahwa orang itu memiliki perilaku-perilaku yang lazim dimiliki oleh orang ‘alim (menurut persepsi Anda) atau yang seharusnya ada pada orang ‘alim menurut angan-angan Anda. Selanjutnya, Anda berperilaku kepada orang tersebut sesuai dengan anggapan Anda. Anda menjadi lebih sopan (apalagi jika Anda sebelumnya mengira dia sebagai orang biasa-biasa saja), lebih hormat, dan lebih merendahkan suara Anda. Padahal jika Anda mendengarnya sebagai orang yang terusir karena menyalahi adat, Anda akan menyikapinya dengan sinis, meskipun sesungguhnya dia orang yang ‘alim. Zhan (prasangka) inilah yang membuat kita sulit objektif terhadap orang. Kita sulit untuk bersikap adil (padahal kita diperintahkan untuk adil, sekalipun pada musuh, sekalipun kita sedang marah). Zhan menjadi penghambat psikis (psychological barriers) untuk menerima kenyataan bahwa orang yang paling buruk pun bisa berubah menjadi orang yang sepenuhnya baik. Ia juga menjadi psychological barriers (hambatan psikis) bagi orang yang terlanjur dinilai jelek untuk mengubah dirinya menjadi orang baik. Orang-orang yang bekerja di rumah sakit jiwa ataupun lembaga pemasyarakatan, sangat akrab dengan fenomena terhambatnya kemajuan kepribadian seseorang “hanya” gara-gara prasangka orang. Mereka yang telah dinyatakan sembuh dari rumah sakit jiwa seringkali harus kembali lagi menjadi pasien karena masyarakat tetap menyimpan prasangka yang buruk sehingga mereka tidak mau menerima alumni Kado Pernikahan 313 RSJ sebagai anggota masyarakat yang normal. Mereka menolak alumni RSJ itu dalam pergaulan sehari-hari, misalnya dengan bahasa isyarat yang menunjukkan “keengganan” saat berkumpul bersama. Demikian juga alumni lembaga pemasyarakatan, “terpaksa” menjadi penjahat lagi karena selalu dicurigai. Satu lagi. Saya ingin mengajak Anda sekali lagi untuk melihat akibat dari zhan yang tersebar dalam masyarakat ini terhadap seseorang. Jika seseorang dikenal keburukannya (meskipun sedikit) dalam masyarakat, maka keburukan yang sedikit ini lama-lama akan semakin berkembang, kecuali jika ia termasuk orang khusus yang memiliki telinga cukup tebal untuk tidak menghiraukan ucapan orang, sehingga ia tetap mampu menjadi orang baik. Kita mendengar, kadang-kadang seorang remaja menjadi nakal karena ia terlanjur dicap nakal. Ia menjadi nakal karena, “Daripada cuma dicap nakal padahal saya tidak nakal, mending sekalian nakal. Ngapain? Toh sama saja, orang tetap menganggap saya nakal.” Begitu. Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain Jika Anda mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain dan Anda sering menggunjingnya, atau minimal mendengar orang membicarakan “keburukannya” (yang belum tentu benar), lama-lama Anda akan yakin bahwa orang tersebut memang buruk. Anda sangat yakin tentang hal itu, sedemikian yakinnya sampai Anda tidak bisa percaya ketika mendengar bahwa orang tersebut tidak sebagaimana yang Anda yakini. Anda tetap tidak bisa percaya sekalipun ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Anda mengajukan berbagai kemungkinan motif (yang ini berarti Anda berprasangka buruk lagi), sehingga Anda berkata, “Ah, tidak mungkin. Itu mungkin hanya sekedar biar orang menganggapnya sebagai orang baik saja.” Anggapan yang sudah menetap dan sulit diubah-ubah sekalipun dengan bukti kuat itulah yang dinamakan dengan persistensi. Anda mengalami persistensi anggapan tentang orang lain. Artinya, anggapan Anda tentang orang lain telah bersifat menetap kuat-kuat dan tidak bisa berubah sekalipun orang itu benar-benar lain sama sekali dari yang Anda duga. Anda tetap tidak bisa menerima. Anda lebih percaya pada anggapan Anda daripada fakta-fakta yang sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan. Persistensi terbentuk melalui proses penguatan yang terus menerus. Sederhananya begini, prasangka tentang seseorang akan menjadi persistensi jika setiap hari kita mendengarkan pembicaraan yang mendukung prasangka kita, jika setiap hari kita membicarakan prasangka kita, dan seterusnya. Lama-lama prasangka itu kita yakini. Dan terbentuklah persistensi. Persistensi ini jika kita kuatkan terus akan membuat kita tidak mau lagi menerima bahwa orang itu tidak seperti prasangka kita, sekalipun kita sudah membuktikan sendiri bahwa prasangka kita salah. Akhirnya kita berkata, “Pokoknya Kado Pernikahan 314 saya tetap tidak mau menerima dia. Saya tahu dia tidak begitu. Tapi kalau saya tidak mau, mau apa?” Dan ini berarti hati kita telah tertutup. Na’udzubillahi min dzalik. Jika persistensi menyebar luas di masyarakat, apa yang akan terjadi pada masyarakat itu? Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlanjur terkena persistensi orang banyak? Saya tiba-tiba teringat kepada Rasulullah. Ah, semua contoh dari Rasulullah sangat menakjubkan. Sayangnya saya tidak bisa mencontoh perilaku-perilakunya (ya Allah, sempurnakanlah kecintaanku padanya dan perjalankanlah aku dan orang-orang yang mencintainya untuk bisa mencontoh Rasul-Mu sepenuhnya). Sebelum menceritakan salah satu contoh dari Rasulullah, saya ingin mengajak Anda bershalawat bersama-sama. Ucapkanlah dengan suara lirih dan hati yang menghadap, memohon kepada Allah: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad. Ya Allah, bangkitkanlah kami kelak sebagai golongan orang-orang yang mencintai Rasul-Mu. Amin.” Dan inilah contoh dari Rasul yang mulia itu: Rasulullah Saw. mempunyai paman yang sebaya usianya. Namanya Hamzah (baginya ridha Allah). Sejak kecil hingga tumbuh dewasa, Rasulullah sangat dekat. Dialah paman yang sangat dicintai Rasulullah. Dialah yang menyertai Rasulullah dalam berbagai keadaan. Jika Abi Thalib adalah pembela Rasulullah yang utama, maka Hamzah adalah sahabat Rasulullah yang paling dekat dari kalangan pamannya. Dalam sebuah peperangan, Hamzah radhiyallahu ‘anhu ikut serta. Hamzah membela Rasulullah mati-matian, sementara musuh-musuh mengincarnya terusmenerus. Mereka tahu, Hamzah adalah orang yang paling dekat di hati Nabi. Kalau Hamzah mati, Rasulullah akan sangat kehilangan. Dan inilah Wahsyi, penombak ulung yang mengintainya. Ia mempunyai tugas khusus dari Hindun untuk mengintai Hamzah. Ia tak membiarkan dirinya kehilangan jejak Hamzah. Dipantaunya terus kemana Hamzah bergerak. Diincarnya terus. Dan diarahkan mata tombaknya setepat-tepatnya. Sampai ketika ia merasa yakin bidikannya tak akan meleset, ia lepaskan tombak itu dengan dendam yang membakar. Ujung tombak itu tak meleset lagi. Ujung tombak yang runcing itu menusuk dada Hamzah. Tombak yang tajam itu merobek jantung Hamzah. Hindun berlari. Ia ambil jantungnya. Ia makan jantung kekasih Rasulullah itu. Ia kunyah-kunyah jantung orang suci itu dengan meninggalkan kepedihan yang mendalam di hati Rasulullah. Tak ada pemandangan yang lebih menyedihkan hati saat itu kecuali melihat Hindun mengunyah jantung pahlawan semua orang yang masih memiki nurani. Apa yang Anda rasakan jika itu terjadi pada Anda? Kesedihan semacam apa yang Anda rasakan jika kekasih Anda yang sudah meninggal diinjak-injak dan Kado Pernikahan 315 dimakan jantungnya oleh orang yang Anda kenal? Apa yang akan Anda katakan kalau suatu saat orang itu datang meminta maaf kepada Anda? Saya sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana Anda menjawab pertanyaanpertanyaan saya. Tetapi lebih sulit lagi membayangkan bagaimana Rasulullah memaafkan mereka, menerima mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan bersikap ramah terhadap mereka ketika mereka datang kepada Rasulullah untuk menyatakan masuk Islam. Mereka diterima oleh Rasulullah. Dan mereka menjadi orang-orang yang dikenang Islam dengan dua sejarah; sejarah pedih ketika mereka membunuh Hamzah, dan sejarah trenyuh ketika mereka bertaubat. Lihatlah Wahsyi yang setiap saat menangis. Tak tahan hatinya jika mengenang mata tombaknya yang menusuk dada Hamzah. Tak tahan hatinya merasakan keagungan Rasulullah yang memaafkannya tanpa persyaratan apa-apa. Begitulah Muhammad. Ia menyaksikan sendiri kekejian orang yang mengunyah jantung Hamzah. Ia tidak mendengar desas-desus. Ia tidak mendengar gunjingan. Tetapi itu tidak menjadikan hatinya keras sehingga tak mau memaafkan mereka, meskipun kita akan sangat maklum seandainya Rasulullah tak mau memaafkan. Tidak ada persistensi di hati Rasulullah bahwa mereka --Wahsyi dan Hindun-- tak mungkin bisa berubah. Tidak ada itu. Andaikan Wahsyi dan Hindun hidup di zaman kita ini, mungkin mereka tak berkesempatan menjadi orang-orang yang bisa dikenang kebaikannya. Tetapi tidak. Mereka hidup di zaman Rasulullah yang agung, sehingga mereka bisa mencapai keagungan di hadapan Allah. Mereka bisa termasuk sebagai sahabat Nabi. Sekedar penyimpul, dalam masyarakat yang percaya bahwa setiap manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk mencapai kebaikan, di detik-detik terakhir kehidupannya sekalipun, akan memberi kesempatan yang seluas-luas-nya pada setiap orang untuk lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi dalam masyarakat yang telah dipenuhi zhan --apalagi jika sampai bersifat persisten (menetap)-- perbaikan itu sulit dilakukan. Bahkan seseorang yang memiliki banyak kebaikan pun, bisa menjadi orang yang penuh keburukan ketika keburukannya yang sedikit diketahui orang dan terus dibicarakan di setiap sudut rumah. Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita Maka, masih adakah kegelisahan jika anak-anak tetangga mulai nakal dan akhlaknya tidak baik? Masih adakah rasa tenteram untuk melepas anak berbaur dengan anak-anak orang se-RT, se-RW, sekampung, atau (apalagi) sekota? Masih tetap adakah orang-orang tua yang akan memanggil anak-anak “nakal” lalu menasehati mereka dengan lemah lembut tentang hak Allah dan hak anak Adam, kemudian memberikan kepada mereka mangga yang lebih banyak daripada yang mereka curi demi menghalalkan makanan yang masuk ke perut anak orang? Masih adakah sikap seperti itu, atau minimal kepercayaan bahwa orang lain tidak merusak akan anak-anak kita, jika kita setiap hari menggunjing? Jika setiap hari kita mendengar orang menggunjing? Kado Pernikahan 316 Hari ini, saya merasakan pertanyaan-pertanyaan saya itu sebagai romantisme, meskipun di masa kecil seingat saya hal-hal semacam itu masih ada pada masyarakat saya. Hari ini, saya merasakan masyarakat kita tidak seperti dulu kepeduliannya kepada kebaikan anak-anak tetangga. Bergesernya kepedulian masyarakat ini saya rasa merupakan konsekuensi logis dari hidupnya semangat menggunjing di tengah-tengah kita. Ketika keburukan orang menjadi keasyikan kita di rumah saat menggunjing bersama istri, maka memperbaiki masyarakat sama halnya dengan menghapus keasyikan. Dan itu sangat berat. Ketika hati ini sudah terlalu keras, sulit merasakan kepedihan orang lain; sulit merasakan kegelisahan orangtua yang memikirkan anaknya; sulit menangisi masyarakat yang sedang sakit. Bagaimana bisa menangisi hal-hal yang seharusnya ditangisi, sedangkan menangisi keburukan diri sendiri saja sulitnya masya-Allah. Sebaliknya, kita justru lebih peka terhadap hal-hal yang semestinya tidak mendapat prioritas untuk ditangisi. Kita mudah risau kalau nasi kita tidak enak, tetapi tidak risau kalau umat Muhammad dilanda kebingungan. Saya akhirnya harus mohon maaf kepada Anda. Saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan di sub judul ini. Maafkan saya, semoga Allah memuliakan Anda. Ya Allah, bersihkan hati kami sebagaimana Engkau telah membersihkan bumi dengan hujan. Ya Allah, ampuni kami. Anak-anak Pun Menjadi Korban Dan akhirnya, keasyikan menggunjing saat berkumpul bersama sambil menikmati kopi itu, menerkam anak-anak kita sendiri sebagai korbannya. Ada banyak madharat yang disebabkan kebiasaan menggunjing. Setidaknya ada 13 madharat menggunjing bagi anak yang sempat saya catat. Catatan ini tidak termasuk madharat dalam aqidah dan keimanan mereka. Selengkapnya, kerugian dan kerusakan yang bisa terjadi pada anak akibat keasyikan kita menggunjing setiap hari, dapat Anda baca pada daftar berikut: ?? Merusak Harga Diri Anak ?? Merusak ‘iffah anak atau kemampuan kendali diri anak. Hal ini erat terkait dengan harga diri dan rasa percaya diri anak. ?? Melemahkan kepercayaan terhadap orangtua ?? Menumbuhkan rasa takut bereksplorasi ?? Mematikan rasa percaya diri anak ?? Membunuh kreativitas anak ?? Terlalu berorientasi pada penilaian orang lain Kado Pernikahan 317 ?? Menciptakan ketergantungan pada otoritas orang lain ?? Merangsang anak membuat apologi ?? Lebih mengaktifkan quwwatusy-syahwiyah danghadhabiyyah daripada quwwatul-’aqliyyah. Arti-nya, kekuatan syahwat dan agresi anak lebih berkembang dibanding kekuatan akal budi anak. ?? Mematikan hati ?? Membuat anak sulit dinasehati ?? Menghabiskan waktu produktif anak Sayang, kita tidak bisa mengupasnya sekarang mengingat keterbatasan halaman pada buku ini. Semula saya merencanakan untuk membahas secara tuntas pada buku ini, tetapi ternyata belum bisa. Insya-Allah dalam kesempatan lain kita akan membahas dengan lebih leluasa, jika itu memang membawa kebaikan bagi kita semua. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita dan keturunan kita untuk mencapai puncak kebajikan yang diterima Allah Ta’ala. Allahumma amin. Ya, Allah demikianlah yang kutulis. Kumohonkan barakah-Mu atas tulisan ini bagi kami dan anak cucu kami. Jauhkanlah kami dari perbuatan menggunjing dengan kekuatan dan ilmu-Mu. Selanjutnya, saya serahkan kepada sidang pembaca untuk memeriksa benar salahnya. Mudah-mudahan Allah memberi taufik dan hidayah-Nya. Kepada istriku, keluargaku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan orangorang yang kucintai, kumohon engkau semua berkenan saling mengingatkan --dan bukan saling menyalahkan. Kehidupan kita setelah ini tak ada yang menjamin, kecuali jika Allah meridhai hidup kita sekarang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenan memberi syafa’at bagi kita semua. Ya Rasul, salam bagimu. Ya Rasul, shalawat bagimu dan anak cucumu. Astaghfirullahal ‘adzim. Catatan Kaki: 1. Mohammad Hashim Kamali, Kebebasan Berpendapat dalam Islam, Mizan, Bandung, 1996 dari Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, hadis No. 1806 dengan memberi catatan: Hadis tersebut merupakan bukti tentang perbedaan ghibah dan buhtan. 2. Tafsir bil Ma’tsur, Remadja Rosdakarya, Bandung, 1994 dari Al-Durr Al- Mantsur. 3. Ibrahim M. Al-Jamal, Penyakit-penyakit Hati, Pustaka Hidayah, Bandung, 1995. Kado Pernikahan 318 4. Ibrahim M. Al-Jamal, ibid, dengan catatan kaki: Dikeluarkan oleh Abu Ya’la. Ibnu Katsir juga mengatakan dalam tafsirnya, dan isnadnya shahih, IV/215, terbitan Al-Halabi. 5. Martin van Bruinessen melaporkan kejadian-kejadian semacam ini dari penelitian lapangan yang ia lakukan di negeri kita yang semata wayang ini. Kumpulan laporan ini kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul Rakyat Kecil, Islam dan Politik, Bentang, Yogyakarta, 1998. 6. Mari kita ingat kembali penjelasan Nabi Saw. tentang wali ‘abdal. Abu Nu’aim meriwayatkan sabda Nabi Saw., “Karena merekalah Allah menghidupkan dan menolak bencana.” Sabda Nabi ini terdengar begitu berat sehingga Ibnu Mas’ud bertanya, “Apakah maksud ‘karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?’” Rasulullah Saw. bersabda, “Karena mereka berdo’a supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdo’a agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, maka Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena do’a mereka, Allah menolakkan berbagai bencana.” Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terima kasih khusus kepada mereka. Kata Rasulullah Saw., “Mereka tidak mencapai kedudukan mulia itu karena banyak shalat atau puasa.” Karena apa mereka mencapai derajat itu? Bis-sakhai wan-nashihati lil muslimin, kata Rasulullah Saw.. Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum muslimin. 7. Tidak berarti istri, suami, dan anak bukan termasuk orang lain. Kadang ketika orang asyik menggunjing, tanpa sadar (?) mereka menggunjing istri atau suaminya sendiri. 8. Kadangkala tidak hanya anak, melainkan istri atau suami juga. 9. Tetapi jalan Allah untuk mempermalukan orang yang suka membuka aib saudaranya, tidak sesempit penjelasan saya ini. Ada banyak jalan yang tidak selalu bisa dijelaskan secara betul-betul memadai menurut disiplin ilmiah, sehingga kita hanya mengatakan, “Tiba-tiba dia berubah demikian setelah bertemu dengan Si Fulan. Dia terpengaruh Si Fulan. Padahal anak saya itu baik. Dia itu sangat cerdas sebenarnya. Sangat mengerti. Ya, karena terpengaruh saja dia menjadi begitu.” Masih ada pertanyaan yang tersisa jika ada orang yang berkata seperti itu: Mengapa anak yang manis itu bisa tiba-tiba mudah dipengaruhi? 10. Bab ini ada pada jendela pertama buku ini. Kado Pernikahan 319 11. Suara Merdeka, 19 April 1998 melaporkan hutan yang terbakar sejak Januari sampai 17 April 1998 seluas 393.850 hektar atau 3.938.500.000 meter persegi. Ini jika satu hektar masih tetap 10 ribu meter persegi. Dan ini hanya di Kalimantan Timur. Belum termasuk tempat-tempat lain di Sumatera dan Kalimantan (selain Kalimantan Timur). 12. Dalam hal ini perlu dibedakan antara grogi dan malu. Kebanyakan kita belum punya malu (termasuk yang menulis buku ini), tetapi memiliki perasaan takut dinilai orang. Rasa malu tidak menghalangi orang menyatakan apa yang harus dinyatakan, tetapi perasaan takut dinilai menyebabkan orang tidak berani menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan. Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani menyebut kedua sikap itu dengan istilah yang sama: malu. Tetapi ia membedakan antara sikap malu yang syar’i dan malu yang mewatak. Syaikh Asy-Sya’rani mengingatkan, “Malu yang mewatak ialah jika seseorang malu untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan suara keras di hadapan orang banyak, yaitu orang yang mempunyai nafsu (terhormat), seperti para qadhi (hakim negara), para penguasa pemerintah, para guru dan sebagainya. Maka apabila di antara mereka dianjurkan untuk berzikir kepada Allah Ta’ala di muka banyak orang, yang hasil dari mereka adalah rasa malu, seakan-akan mereka disuruh melakukan maksiat.” 13. Di Jombang dan beberapa tempat lain, kebiasaan memakai sarung mencirikan orang yang santri, yaitu orang yang banyak belajar di pesantren dan (mestinya) menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang “bukan” santri cenderung untuk memakai pakaian sehari-hari yang bukan sarung. Tentu saja ini tidak bisa digeneralisasi. Karena pakaian sarung sudah membawa citra kesantrian, maka perubahan dari kebiasaan memakai celana panjang biasa ke pemakaian sarung beserta kopyah menimbulkan tuntutan pada diri sendiri untuk menyesuaikan diri dengan citra santri. 14. Dalam psikologi dikenal istilah self-fulfilling prophecy atau nubuwwah yang dipenuhi sendiri. Jika kita menganggap diri kita sebagai orang yang bodoh dan memiliki hafalan rendah, maka kita berperilaku yang sesuai dengan anggapan kita sehingga akhirnya kita memang benar-benar bodoh. Jika masyarakat menganggap seseorang jelek, maka mereka memperlakukan orang tersebut sebagai orang yang jelek, sehingga orang tersebut akhirnya benar-benar menjadi orang jelek. Wallahu A’lam bishawab. mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Kado Pernikahan 320 Bab 19 mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Konflik Dan Perceraian sama sekali tak ada yang berharap pernikahan yang suci harus tergores oleh konflik-konflik, apalagi sampai menyebabkan pertengkaran yang menakutkan. Sama sekali tak ada yang menginginkan pernikahan yang kukuh hancur berantakan sehingga anak-anak tak lagi dapat bersama bapaknya karena perceraian. Sama sekali tak ada yang mendambakan pernikahan yang suci harus berwarna kelam karena tak ada tempat lagi untuk bersatu. Tetapi angin tak selalu bertiup ke arah yang kita inginkan. Laut yang tenang kadang juga berombak keras, sehingga kapal harus terhempas dan perahu bisa terbalik. Kalau bukan pelaut yang tangguh, perahu terbalik tak bisa sampai ke tempatnya berlabuh. Kehidupan perkawinan kadang harus menghadapi benturan keras. Terkadang benturan keras itu bernama keadaan, contohnya kesulitan ekonomi yang menghimpit. Terkadang benturan keras itu bernama tekanan sosial, misalnya keinginan saudara-saudara dekat atau jauh untuk menentukan warna perkawinan kita sesuai dengan apa yang mereka anggap nbaik --dan bukan menurut syara’. Terkadang benturan keras itu bernama fitnah yang bermacammacam sumbernya: prasangka yang diperturutkan, keadaan sulit tak tereleakkan seperti kejadian yang pernah menimpa Ummul Mukmininm ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam peristiwa haditsul ‘ifk, atau malah bersumber dari kesukaan kita membuka keburukan saudara sendiri. S Kado Pernikahan 321 Adakalanya, benturan keras itu juga berasal dari tuntutan-tuntutan kita kepada teman hidup kita. Ini misalnya dalam kasus tuntutan istri-istri Nabi agar Nabi shallallahu ‘alaihi wassalaam memberi tambahan uang belanja. Mereka akhirnya diberi pilihan ; kehidupan akhirat yang kekal ataukah perceraian. Ringkasnya, sangat banyak hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya benturan keras dalam rumah tangga. Sebagian dari sebab-sebab itu memang tidak sepatutnya terjadi. Sebagian lagi, hanya Allah Yang Maha Tahu kebaikan dibalik segala ketetapan-Nya. Kita hanya mencoba memahami sebatas kesanggupan kita. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang mudah menjatuhkan penilaian atas hukum Allah, sedang ilmu kita sama sekali belum lengkap. Tulisan di bab ini ingin mengajak Anda untuk melihat bagian yang sering kelihatan gelap dengan cara yang lebih adil. Mudah-mudahan saya dapat memenuhi keinginan saya itu. Mudah-mudahan tulisan ini tidak jatuh ke dalam penilaian yang gegabah. Sebelum menginjak lebih jauh, saya ingin menunjukkan sebuah ilustrasi kepada Anda tentang masalah konflik dan perceraian dengan peristiwa antara ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Atikah, istrinya. Keduanya saling mencintai, sama-sama memiliki kekuatan agama dan sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tetapi mereka bercerai ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengkhawatiri iman mereka jangan-jangan karena kecintaan mereka pada pasangannya, dapat menyebabkan mereka lalai dalam menetapi agama Allah. Kelak mereka rujuk kembali dan menjadi pasangan suami istri yang sangat bahagiasampai ‘Abdurrahman (dalam riwayat lain ‘Abdullah) syahid dalam sebuah peperangan. Apa arti ilustrasi peristiwa perceraian ‘Abdurrahman r.a. dengan Atikah r.a.? Banyak hal yang dapat menghantarkan seseorang kepada perceraian, sehingga kita tidak bisa memberi penilaian yang sama atas semua perceraian. Ini juga berarti, kita tidak bisa memberi penilaian terhadap kedua pihak secara sama rata. Persoalan ini sangat penting untuk saya kemukakan karena dari pemahaman tentang masalah ini, kita akan menentukan sikap kita. Perasaan, pandangan dan persepsi kita tentang orang lain dipengaruhi oleh pemahaman kita tentang masalah yang menyangkut orang tersebut. Ada tiga kategori masalah --menurut saya--yang dapat membawa rumah tangga kepada konflik, terpendam maupun terbuka. Masing-masing masalah dapat membawa pada keretakan rumah tangga, perceraian atau bahkan kehancuran yang lebih parah dari semua itu. Secara sederhana, mari kita lihat masing-masing kategori masalah tersebut : Kado Pernikahan 322 Perbedaan dalam Perkara yang Wadag Suami istri yang secara psikis belum matang, mudah terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan yang sangat wadag (sangat-sangat permukaan). Mereka cepat sekali mereaksi karena perbedaan selera makanan, perbedaan cara menghidangkan ataupun perbedaan perilaku ketika makan. Mereka bisa mengalami konflik --terbuka maupun tertutup-- hanya gara-gara persoalan semacam ini. Sebelum berbicara lebih jauh, rasanya lebih baik kita lihat sekilas apa yang dimaksud konflik tertutup dan konflik terbuka. Konflik tertutup artinya, suami istri merasakan kekecewaan yang mendalam atau kemarahan yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang cukup lama, tetapi tidak dinyatakan secara terbuka. Mereka tidak mendialogkan, juga tidak mengungkapkannya dalam bentuk kemarahan. Hanya, mereka “bertengkar” dalam hati. Konflik terbuka berarti, masing-masing melontarkan kekecewaannya atau kemarahannya secara frontal kepada pasangannya dan masing-masing tidak bisa saling menerima. Ini menyebabkan mereka melakukan pertengkaran. Dan setiap pertengkaran yang tidak diikuti islah dapat menyebabkan mereka merasakan kekecewaan dan kemarahan yang semakin kuat. Perbedaan wadag yang menjadi penyebab konflik ini, bisa jadi berupa soal selera bentuk rumah atau bahkan sekedar warnanya saja. Bisa jadi konflik muncul karena perbedaan cara menyajikan makanan atau perbedaan rangkaian makanan yang disajikan ketika acara makan malam. Bahkan bisa jadi konflik terbuka bersumber dari perbedaan kesukaan terhadap warna pakaian istri. Kadang perbedaan yang remeh temeh itu bisa menyebabkan konflik terbuka. Tetapi, sejarah keruntuhan rumah tangga ternyata masih saja menyimpan catatan bahwa perbedaan-perbedaan yang sungguh-sungguh wadag sanggup untuk menghancurkan bangunan rumah tangga. Ironisnya, yang membuat warna rumah tangga menjadi kelam kadang bukan suami dan istri, tetapi saudara-saudara dari suami atau istri. Keadaan ini kadang muncul dan menjadi masalahyang meluas karna mereka tidak berkesempatan untuk belajar berumah tangga secara alamiah dan wajar, misalnya karena mereka belum hidup di rumah sendiri. Lebih jauh tentang masalah ini bisa Anda baca pada bab Tinggal Dimana Setelah Menikah. Kesulitan menemukan tempat tinggal sendiri bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena “ketidaklayakan” tempat tinggal baru yang akan ditempati, baik menurut suami dan istri maupun oleh orang-orang berpengaruh dalam keluarga. Bisa juga karena ketidakmampuan memperoleh biaya pengadaan tempat tinggal sendiri. Yang menyebabkan orang peka terhadap persoalan-persoalan yang sangat wadag (permukaan, hal-hal yang tidak prinsipil) dan merasa sangat kesal dengan perbedaan itu, bisa bermacam-macam. Orientasi dangkal dan Kado Pernikahan 323 bersifat jangka pendek saja. Orang yang biasa berpikir sampai besok pagi, maka perhatiannya hanya sampai pada hari ini. Ia tidak berpikir lebih jauh tentang apa yang tampaknya kurang baik di hari ini, tetapi membawa kebaikan untuk masa lima tahun ke depan. Ia tidak berpikir tentang hal-hal yang mendasar dalam hidup ini untuk kehidupan yang sebenarnya kelak setelah mati. Kita mudah sekali mengikuti trend antara lain karena orientasi kita masih dangkal. Kita mengukur kebermaknaan kita sebagai manusia dari seberapa jauh kita mampu mengikuti apa yang lagi menjadi pusat perhatian masyarakat dan selera masyarakat sambil melupakan bahwa di balik trend ada peletak trend (trend setter). Trend setter boleh jadi orang yang secara khusus bekerja untuk merancang bangkitnya trend, boleh jadi tidak bekerja secara khusus untuk menciptakan trend, tetapi ia menjadi rujukan bagi orang-orang yang mengikutinya. Perancang trend profesional bekerja untuk menciptakan kebutuhan pada masyarakat yang tidak butuh, sehingga produk-produk baru yang tidak penting akan dicari-cari. Pembicaraan tentang trend kita hentikan dulu sejenak. Kita masuki lagi pembicaraan tentang hal yang menyebabkan kita peka (dan mudah tersinggung) terhadap persoalan-persoalan yang sangat wadag. Dan inilah salah satu penyebab itu : kebiasaan menggunjing. Kebiasaan menggunjing juga ikut berperan menjadikan kita lebih peka terhadap perbedaan selera warna rumah misalnya, atau perbedaan dalam halhal lain sesuai dengan tema gunjingan yang sering kita lakukan.lebih jauh tentang masalah ini, silakan baca kembali bab Keasyikan Yang Menghancurkan Keluarga, khususnya sub judul “sibuk” Menepis Penilaian Sosial. Sikap Terhadap Hidup & Teman Hidup Suatu ketika istri Anda ingin membuat kejutan yang menyenangkan Anda. Saat itu, orang bilang ulang tahun Anda. Ia buat puding yang agak mewah dibanding biasanya tanpa sepengetahuan Anda. Sekali lagi, ini dilakukan istri Anda karena karena ingin membuat kejutan yang menyenangkan Anda. Nanti, ia akan menghidangkan puding istimewa itu kepada Anda begitu pulang kerja. Dan ia akan bahagia manakala melihat Anda berseri-seri, apalagi kalau mau mengucapkan terima kasih dan sedikit pujian buat istri. Tetapi ketika datang dan memperoleh sambutan semacam itu, Anda justru tidak bahagia. Anda sedih. Bukankah ulang tahun berarti kepergian seseorang ke alam kubur semakin dekat? Mengapa kematian yang mendekat sebelum kematian itu datang disambut bahagia oleh orang lain? Kado Pernikahan 324 Tak hanya itu. Anda bahkan marah. Ulang tahun, menurut Anda, hanya penghambur-hamburan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Ulang tahun hanya membuat orang untuk cenderung kepada dunia yang sebentar dan tidak mendorong untuk mempersiapkan mati. Padahal meninggalkan kecintaan terhadap dunia dan membangkitkan kecintaan terhadap kehidupan sesudah mati, alangkah sulitnya. Mengapa harus dipersulit lagi dengan pesta-pesta ulang tahun? Alhasil, istriAnda kecewa. Sangat-sangat kecewa (kecuali jika istri anda seperti Fathimatuz Zahra yang segera istighfar begitu Rasulullah tidak jadi masuk ke rumahnya karena melihat ada kelambu terpasang). Menurut istri Anda, tidak seharusnya Anda bersikap demikian. Mestinya Anda bisa sedikit toleran. Toh, kita dianjurkan bersyukur. Pesta ulang tahun itu sebagai bentuk syukur. Sementara Anda tetap tidak bisa menerima. Sikap istri sangat berlebihan. Peristiwa ini akhirnya membuat istri Anda tak acuh terhadap Anda. Ia kurang memperhatikan urusan taba’ul (pelayanan) suami. Apa gunanya bersikap penuh perhatian kepada suami macam itu kalu dia tidak bisa berterima kasih ? Kalau ini terjadi, maka pintu konflik telah terbuka. Jika terus berlangsung, konflik yang benar-benar terbuka bisa meledak. Suami istri melakukan pertengkaran atas sebab puding ulang tahun. Pertengkaran yang terjadi karena perbedaan sikap terhadap ulang tahun ini, sangat mungkin meledak karena tidak adanya tabayyun (saling memberi dan meminta penjelasan) secara lapang dada. Karena tidak ada tabayyun, masing-masing berjalan dengan anggapan dan prasangkanya sendiri-sendiri. Keduanya tidak saling meluruskan kekeliruan, tetapi saling menyalahkan. Dan orang cenderung tidak mau disalahkan, meskipun mereka suka kalau diingatkan terhadap kesalahannya (lebih lanjut silakan baca kembali bab Keasyikan Yang Menghancurkan Keluarga sub judul Menyalahkan Pasangan dan Saling Menyalahkan). Selanjutnya, sikap tidak mau melakukan tabayyun ini membuat masingmasing tidak mampu memperbaiki hubungan. Mereka tidak menemukan titik temu dan saling menyadari kekhilafan untuk kemudian menemukan yang terbaik. Dalam bahasa agama mereka tidak bisa melakukan ishlah (perbaikan). Melakukan ishlah tidak berarti suami istri mengkompromikan apa pun yang dianggap tidak sesuai, asal keharmonisan hubungan keduanya bisa terjaga dengan baik. Tidak. Tidak demikian. Lebih-lebih kalau ketidaksesuaian sikap itu menyangkut hal-hal yang menyangkut keyakinan tentang benar dan salah. Akan tetapi, keduanya menmukan titik perdamaian ketika harus mengoreksi perilaku yang salah. Kado Pernikahan 325 Jadi, kalau perayaan ulang tahun tidak bisa diterima misalnya, maka sikap ini bisa dipahami dan diterapkan dalam rumah tangga mereka tanpa harus ada perpecahan. Masalah sikap ini sering menyebabkan konflik dalam rumah tangga, terutama ketika mereka berdua tidak biasa berdialog untuk tabayyun. Masalah ini juga sering menyebabkan terjadinya pertengkaran dan bahkan perceraian. Perbedaan Prinsip Keimanan Iman kita kadang naik, kadang turun. Kita kadang sangat bersemangat melaksanakan sebagian ketentuan agama, termasuk perkara-perkara sunnah, tetapi kadang untuk melaksanakan yang wajib agak enggan. Penghayatan iman kita juga tidak tetap. Setiap saat sangat mungkin untuk mengalami perubahan; baik karena membaca, mendengar pengajian, merenungkan kejadian-kejadian setiap saat, atau mengikuti serangkaian kursus ilmu-ilmu keislaman secara berkesinambungan. Peristiwa-peristiwa khusus juga bisa mengubah penghayatan iman kita secara mencolok. Orang yang sebelumnya tidak peduli terhadap kesengsaraan orang lain, bisa berubah sama sekali karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu tidak ada yang menolongnya sama sekali sampai akhirnya seorang pengemis melihatnya dan memberikan pertolongan. Ini mengubah sikapnya secara total, sehingga setiap saat ia memikirkan orang lain. Perubahan naik turunnya iman atau perubahan dalam menghayati iman kepada Allah, kadang tidak terjadi secara bersamaan dan seimbang antara suami istri. Perbedaan ini bisa memunculkan konflik. Lebih-lebih pada orang yang baru mengalami penyadaran, biasanya sangat peka terhadap kesalahan orang lain dan cenderung mudah bersikap reaktif. Begitu ada kesalahan, dia segera menanggapi --repotnya kadang tidak bijak caranya. Ketika orang bersikap reaktif dan sangat peka terhadap kesalahan orang, maka ia kurang bisa menerima bahwa setiap orang memiliki tahap-tahap sendiri. Ia lupa bahwa hidayah Allah tidak datang pada waktu yang bersamaan, serentak dan sama kadarnya untuk semua orang. Ia lupa bahwa kesadaran tentang apa yang harus dikerjakan oleh hamba Allah, tidak semata-mata dari pengetahuan dan ilmu, tetapi hidayah Allah-lah yang lebih menentukan. Ia lupa itu sehingga cenderung tidak sabar menasehati. Situasi semacam ini bisa muncul manakala seseorang memperoleh kejutan pemahaman dari murabi yang sebenarnya belum mengerti tentang muridnya; belum paham soal tahap-tahap , soal akal binaannya, dan seterusnya. Bahkan adakalanya, pengetahuan tentang al-mad’uw (orang yang didakwahi) tidak dianggap penting. Semua orang disamaratakan. Ibarat menghadapi orang banyak dengan gangguan jiwa yang bermacam-macam, semua diberi anti-depressant. Kalau sebagian besar mengalami depresi, maka Kado Pernikahan 326 resep itu masih lumayan hasilnya. Tetapi kalau yang mengalami depresi hanya satu orang, sementara sebagian besar mengalami gangguan jiwa dengan ciriciri yang justru berkebalikan dengan depresi, resep itu justru membawa keburukan bagi orang-orang yang kita hadapi. Situasi semacam itu juga bisa muncul dari kegiatanyang memberi kejutan besardengan mencecar mereka tentang dosa-dosa, sementara tidak ada syaikh yang mampu membimbing dan mengawasi keadaan ruhani peserta. Ini menjadikan mereka mengalami perubahan yang total tanpa kesiapan dan keseimbangan. Mereka secara psikis masih labil. Mereka masih dalam suasana terkejut tanpa ada yang membimbing tentang bagaimana menghadapi keadaan dirinya, sehingga akhirnya mereka bersikap kaku dan keras. Begitu kaku dan kerasnya, sampai akhirnya mereka harus berpisah atau bahkan memusuhi orang tua disebabkan oleh perkara-perkara yang tidak wajib. Sebagian orang memandang sikap semacam ini sebagai militansi. Tetapi sesungguhnya sangat berbeda antara militansidengan kekakuan. Konflik terbuka juga bisa muncul bukan karena salah satunya mengalami perubahan secara mencolok tanpa diimbangi oleh yang lain. Konflik bisa muncul karena sejak mula memang ada perbedaan mendasar dalam memahami dan meyakini soal-soal aqidah. Ada juga konflik yang berkenaan dengan perbedaan prinsip keimanan,tetapi berangkat dari masalah sikap, keras kepala misalnya.ia tidak mau diingatkan tentang persoalan-persoalan yang telah jelas-jelas dipesankan dalam As-Sunnah, hanya karena ia mendengar informasi yang mirip dengan itu sebagai paham yang salah. Misalnya tentang kewajiban mencintai ahl-bayt. Karena selama ini mencintai ahl-bayt selalu dikaitkan dengan tasyayyu’ (menjadi Syiah), maka begitu ada yang mengingatkan agar kita mencintai ahlbayt, serta merta ia dituding sebagai pengikut Syiah. Padahal mencintai ahlbayt wajib atas setiap orang yang mengikuti jalan ahl-sunnah, sebagaimana banyak disebutkan dalam berbagai hadis. Di antaranya itu ada hadis-hadis yang kedudukannya sangat kuat, sehinga tidak ada keraguan di dalamnya. Bukhari dan Muslim termasuk perawi yang pernah meriwayatkan hadis tentang ahl-bayt. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “KUTINGGALKAN kepada kalian dua peninggalanku: kitabullah sebagai tali yang terentang antara langit dan bumi, dan keturunanku ahlul baytku. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di al-Haudh (surga).” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dari Hadis Zaid bin Tsabit dan dari dua shahih Bukhari-Muslim). Akhirnya saya harus mohon maaf bahwa ketiga sub judul di atas belum dibahas dengan tuntas. Kado Pernikahan 327 KETIKA KEMELUT ITU TERJADI Perbedaan-perbedaan itu akhirnya bisa benar-benar menjadi konflik terbuka. Jika ini terjadi, suami istri perlu menghadapinya dengan sikap yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan mudah-mudahan Allah selalu menolong kita dalam perkara ini, yaitu: Sabar Saat konflik merebak, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran. Kesabaran meliputi kerelaan menerima, ketahanan menghadapi dan kemampuan menahan diri dari melakukan sesuatu yang mampu ia lakukan, tetapi jika dikerjakan tidak banyak mendatangkan kemaslahatan. Lebih banyak mudharat daripada maslahat. Jika Anda bersabar dari kezaliman orang lain, bukan berarti Anda tidak mampu melakukan pembalasan. Tetapi Anda tidak mau melakukannya disebabkan Anda masih menunggu kalau-kalau ia akan menjadi baik dan dapat menjadi saudara dalam naungan Islam. Jika Anda bersabar dalam menasehati seseorang yang keras kepala, bukan berarti Anda tidak bisa membentak dan berkata dengan sangat keras kepadanya. Akan tetapi Anda mengharap ridha dari Allah dengan meneladani perintah Allah kepada Musa ‘alaihi salam ketika mengingatkan Fir’aun. Sabar tidak sama dengan ketidakberdayaan--sebagaimana dipahami oleh sebagian orang. Sabar juga bukan kejumudan, sehingga kita hanya terdiam tidak melakukan apa-apa. Tetapi sabar lebih condong kepada kemampuan mengendalikan diri untuk tidak mengambil tindakan sebelum tepat saatnya. Tetapi sabar lebih cenderung kepada usaha untuk menjaga kejernihan pikiran dan kebersihan hati sehingga tidak mengambil tindakan secara tergesa-gesa. Lalu apa persisnya tentang pengertian sabar? Bukan bagian saya untuk membahas. Telah ada buku-buku yang sangat bagus membahas masalah sabar ini. Ulama-ulama kita yang insya-Allah bersih dan jernih hatinya telah menuangkan tintanya untuk menerangkan kepada kita tentang sabar. Kepada merekalah Anda perlu merujuk, apa definisi (ta’rif) sabar yang benar. Di buku ini saya belum berani memberi kesimpulan tentang apa itu sabar. Saya hanya ingin memberi berbagai ilustrasi tentang sabar ini. Sabar juga memuat ketahanan untuk menunggu saat yang baik karena bersama kesulitan ada kemudahan, serta menjaga harapan kepada Allah karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Pada titik tertentu, sabar dalam perkara nikah juga bisa berarti keikhlasan untuk bercerai dengancara yang baik dan demi mencapai kebaikan tertinggi. Sebagaimana Allah tidak menyukai kekerasan dan penganiayaan, tetapi pada saatnya berperang merupakan bentuk kesabaran yang paling tinggi nilainya Kado Pernikahan 328 sehingga kematian dalam berperang di jalan-Nyaberarti jaminan surga tanpa hisab. Sabar juga bearti Anda rela diamputasi yang memotong kaki kanan Anda ketika tak ada pilihan yang lebih baik daripada memotong kaki; ketika mempertahankan kaki justru akan merusak bagian-bagian tubuh yang lebih penting dan membahayakan jiwa Anda. Jika dulu Anda mengikhlaskan kaki Anda sakit termasuk sabar; maka sekarang merelakan kaki sakit tanpa mengizinkannya dipotong boleh jadi sudah keluar dari batas kesabaran. Anda boleh jadi sudah termasuk menganiaya diri sendiri. Anda menzalimi diri sendiri. Wallahu A’lam bishawab. Gambaran-gambaran tentang sabar ini perlu saya kemukakan di sini agar dapat merangsang Anda untuk memahami sabar dengan lebih baik. Saya sendiri masih berusaha untuk memahami sabar dengan lebih tepat. Hal ini karena kita sering sekali berbicara tentang sabar tanpa penjelasan, sehingga kita seakan-akan sudah mengerti semua apa makna sabar. Sekali lagi, pengertian yang lebih lanjut bukan bagian buku ini utuk membahas. Saya kira, itu saja dulu pembahasan kita. Dialog Dialog suami istri dimaksudkan untuk mengikis hambatan-hambatan psikis. Kadang masalah muncul bukan karena tidak ada kecocokan di kedua belah pihak, melainkan karena sangat kurangnya kesempatan bagi keduanya untuk saling berbincang dari hati ke hati. Boleh jadi, hanya dengan dialog atau sekedar obroloan ringan, konflik-konflik yangkelihatan sulit untuk dipecahkan dapat mencair sendiri. Dialog juga dimaksudkan untuk tabayyun atau saling memperoleh kejelasan. Tabayyun dilaksanakan untuk meluruskan informasi yang kita terima atau untuk meluruskan persepsi kita mengenai informasi yang kita dengar. Kadang kita kesal, dongkol dan marah kepada seseorang ketika mendengar informasi tentang dia. Padahal setelah melakukan tabayyun, kita menangis karena persepsi sama sekali terbalik. Melalui tabayyun kita melakukan perbaikan hubungan. Kita membangun kembali bagian-bagian yang retak, memaafkan kesalahan-kesalahan teman hidup kita dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, mau menerima bahwa untuk melakukan perbaikan perlu proses dan waktu, serta tak bosan mengingatkan. Melalui tabayyun (saling meminta penjelasan) kita melakukan ishlah (perbaikan untuk mengakurkan kembali). Selagi hati masih bisa terbuka dan tak ada luka yang terlalu parah untuk disembuhkan. Kado Pernikahan 329 Mencari Penengah Jika konflik sudah tak bisa diatasi dengan dialog --mungkin karena keduanya sudah tidak bisa berdialog meskipun mereka merasa berdialog-- sementara keadaan semakin kritis dan pertengkaran semakin runcing, maka kehadiran penengah yang adil sudah diperlukan. Kita mengambil penengah dari keluarga kita. Merekalah yang akan bertindak sebagai hakim. Allah Swt. berfirman: “Apabila kamu khawatir kesulitan di antara keduanya, maka utuslah seorang hakim dari keluarganya apabila keduanya menghendaki perdamaian dan kebaikan, maka Allah akan mndamaikan di antara keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 35). Jadi, masing-masing mengambil penengah yang bisa diterima, penengah yang adil dan mengerti tentang keduanya serta berdiri di tengah-tengah. Artinya, dia netral dan tidak cenderung membela salah satu pihak, padahal ia belum mengetahui permasalahan diantara keduanya. Mengenai penengah ini, ‘Abdul Hamid Kisyik berkata, “penyelesaian akhir yang masih dapat ditempuh adalah dengan cara mendatangkan waliyul amri atau orang tua keduanya. Sebab, mereka inilah yang mengetahui perkara dan dapat mencari jalan pemecahannya dengan mengirim hakim (penengah) dari keluarga suami dan hakim dari keluarga istri agar mereka mempelajari konflik yang terjadi, kemudian mendamaikan keadaan bila memungkinkan bagi keduanya.” Jadi, tugas saudara-saudara dan orang tua suami maupun istri bukanlah untuk mendukung sikap saudara atau anaknya, apalagi justru memberi nilai rapor yang jelek bagi ipar atau menantunya. Tugas mereka adalah menjadi penenang, orang yang memahami,dan syukur-syukur bisa menjadi hakim yang adil dan mengerti apa yang terbaik untuk kebaikan yang lebih tinggi yang lebih tinggi bagi rumah tangga saudara dan iparnya. Jika ipar atau mertua lebih banyak memberi nilai rapor yang merah daripada menasehati dengan penuh cinta kasih dan kelembutan, maka konflik akan semakin memanas. Konflik ini bisa berkembang menjadi “ganjalan perasaan” antara dua keluarga besar, yaitu keluarga besar suami berikut sanak kerabatnya dengan keluarga besar istri berikut sanak kerabatnya. Boleh jadi, akhirnya tidak sekedar “ganjalan perasaan” yang ada diantara mereka. Dan yang saya rasa sangat ironis adalah kalau sikap ipar beserta mertua inilah justru yang menjadi penyebab munculnya konflik. Ini bukan berarti saudara tidak boleh menilai iparnya dan orang tua tidak boleh mengoreksi istri anaknya. Tidak demikian. Apalagi jika menyangkut halhal yang sangat prinsipil dan tidak bisa ditawar-tawar secara syar’i. tetapi tugas mereka adalah membatasi komentar negatif untuk hal-hal yang tidak begitu penting, terutama untuk hal-hal yang tidak menjadi kewajiban ipar. Kado Pernikahan 330 Wallahu A’lam bishawab. Konflik dan Perceraian Pada akhirnya, jika dialog sudah tak bisa memberi kebaikan lagi dan datangnya penengah tak membawa perdamaian, sementara konflik semakin meruncing, maka konflik bisa berakhir dengan perceraian sebagai bentuk kesabaran. Jika sudah tak ada jalan untuk memperbaiki suasana perkawinan sehingga justru membahayakan kondisi jiwa anak, maka perceraian boleh jadi sama seperti amputasi kaki yang membusuk. Jika dibiarkan akan merusak organorgan yang lebih penting dan keselamatan jiwa, sementara itu jika dipotong tubuh kita akan pincang. Alhasil, perceraian bisa menjadi jalan terbaik yang mendatangkan kemaslahatan duania dan akhirat, kecuali jika kita tidak berhati-hati dalam melangkah memasuki hari-hari berikutnya, ketika kaki sudah tinggal satu. Inilah salah satu hikmah di balik pembolehan cerai dalam Islam. Inilah salah satu “rahasia” mengapa perceraian menjadi jalan yang Islami. Perceraian Para Sahabat Akhirnya, ada baiknya kita menengok peristiwa-peristiwa perceraian sahabat Nabi yang mulia radhiyallahu ‘anhum. Salah satunya dalah perceraian penuh barakah antara Zaid bin Tsabit dan Zainab; perceraian yang oleh Allah diabadikan dalam Al Qur’an, kitab pegangan kaum Muslim sampai akhir zaman. Wallahu A’lam bishawab. Hanya Allah saja yang tahu. Mengenai perceraian Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan Zainab radhiyallahu ‘anha, Allama Muhammad Zakariyya berkata, “Ummul Mukminin Zainab (r.a.) adalah seupu Rasulullah (Saw.). beliau telah memeluk Islam sejak awal kemunculannya. Pada mulanya beliau telah dikawinkan dengan Zaid yang menjadi seorang hamba yang telah dimerdekakan dan menjadi anak angkat Rasulullah (Saw.). Beliau kemudian dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Zaid tidak dapat menyesuaikan diri dengan Zainab dan akhirnya menceraikan Zainab.1 Sahabat Nabi yang juga pernah melakukan pereraian adalah ‘Abdurrahman (dalam riwayat lain ‘Abdullah) r.a. putera Abu Bakar Ash- Shiddiq r.a. dengan Atikah radhiyallahu ‘anha. Sampai saat bercerai, keduanya tidak pernah ceksok. Keduanya saling mencintai. Bahkan karena begitu kuatnya rasa cinta di antara mereka berdua, sampai Abu Bakar Ash- Shiddiq khawatir kalau kecintaan itu akan mengalahkan kecintaan mereka Kado Pernikahan 331 kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebabnya Abu Bakar menyuruh anaknya, ‘Abdurrahman, untuk menceraikan istrinya. Di kemudian hari, mereka rujuk. Mereka bangun kembali rumah tangganya bersama-sama, sampai saat ‘Abdurrahman menemui syahidnya. Kisah perceraian ‘Abdurrahman ibn Abu Bakar dengan ‘Atikah ini memberi contoh yang unik tentang alasan bercerai. Perpisahan bukan karena saling membenci, melainkan justru karena kuatnya rasa cinta sehingga dikhawatiri mengalahkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya. Saya tidak tahu, apakah ada orang-orang sesudah mereka yang bercerai demi menjaga rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang kita dengar kadang orang menceraikan Allah dan Rasul-Nya demi menjaga kecintaan kepada istri atau suaminya (Na’udzubillahi min dzalik. Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang demikian.). Dari kisah perceraian ‘Abdurrahman dan Atikah, kita beralih ke cucu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa sallam, Al- Hassan r.a.. Sebelum bererita lebih lanjut, saya perlu mengingatkan bahwa ada perselisihan di antara para ulama tentang sikap Al-Hassan r.a. terhadap perceraian. Sebagian ulama percaya bahwa Al-Hassan sering melakukan kawin-cerai, sedangkan sebagian lainnya menolak dengan tegas dengan menunjukkan bahwa berita itu merupakan rekayasa busuk untuk mendiskreditkan Al-Hassan radhiyalahu ‘anhu. Mana pendapat yang paling kuat? Wallahu A’lam bishawab. Tetapi saya melihat --sejauh kemampuan mata wadag saya melihat-- para ulama yang percaya bahwa Al-Hassan sering melakukan kawin-cerai sungguh menaruh kecintaan yang tulus. Mereka melihat keagungan Al-Hassan dalam perkara ini sambil berusaha memahami dengan adil. Mereka tidak melecehkan kehormatan cucu Rasulullah yang termasuk salah satu pemuka surga, kelak setelah Hari Kiamat tiba. Di antara ulama yang percaya, ada yang termasuk pencinta ahl-bayt yang gigih mengajak umat untuk mematuhi Rasulullah Saww. Dengan mencintai ahl-bayt beliau. H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini adalah salah satu contohnya. Para ulama yang percaya menjelaskan bahwa, seringnya kawin-cerai yang dilakukan oleh Al-Hassan radhiyallahu ‘anhu didasarkan pada alasan untuk mempertahankan keturunan. Pada waktu itu, keturunan Rasulullah Saww. sangat terancam keselamatan hidupnya dan kelangsungan generasinya. Sementara itu, untuk memperbanyak keturunan dibatasi oleh ketentuan jumlah maksimal istri yang boleh dinikahi, yakni empat orang. Sedangkan usia rasanya sudah tak lama lagi. Selain itu, para wanita ikhlas kalau nanti harus bercerai karena ynag mereka cari adalah pertalian hubungan keluarga yang bersambung ke Raulullah melalui anak yang dilahirkannya. Pada hari kiamat nanti, semua hubungan pertalian darah akan putus kecuali hubungan pertalian darah dengan Kado Pernikahan 332 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebabkan oleh keinginan untuk memiliki hubungan pertalian darah dengan Rasulullah inilah, pernah Umar bin Khatthab mendesak Sayyidina ‘Ali agar dinikahkan dengan putrinya, meskipun ketika itu Ummi Kultsum --putri Imam ‘Ali-- masih belum cukup umur. Kelak, kita mendengar berita sedih. Al-Hassan meninggal karena diracun. Sepeninggalnya, keturunannya dari istri-istrinya nyaris tanpa sisa terbunuh saat membela Al-Husain pada peristiwa pembantaian di tanah duka (Karbala). Mereka menjadi syuhada’ yang darahnya harum oleh kemuliaan. Tak lama kemudian, Al-Husain pun menyusul para kemenakannya. Ia menjadi syahid ketika kepalanya dipenggal. Ia menjadi mulia di hadapan Alah ketika wajahnya dihinakan oleh manusia dan giginya diketuk-ketuk dengan ujung pedang. Ia menjadi pahlawan yang tetap hidup di hati kaum mukminin, meski jasadnya sudah terkubur lama. Wallahu A’lam bishawab Yang Harus Dijaga Ketika Bercerai Sekarang ketika engkau terpaksa mengambil jalan perceraian, perhatikanlah urusan-urusan yang menjadi kewajibanmu saat ini dan sesudah bercerai. Juga, jangan engkau lupakan persoalan-persoalan penting yang akan kusebutkan di bawah ini. Perhatikan dengan seksama dan jangan keliru membacanya. Perhatikan masalah-masalah ini agar engkau tidak jatuh kepada kezaliman: Jangan Rusak Kehormatannya Yang sering membawa kerusakan pada hubungan silaturahmi antara keluarga mantan suami dan keluarga mantan istri bukanlah perceraian itu sendiri, melainkan sikap mengkambinghitamkan orang lain atas kejadian yang sebenarnya dihalalkan Allah. Keduanya saling menyalahkan --termasuk di depan anak-- demi menjaga nilai dirinya di depan orang lain, termasuk anakanak. Bahkan, kadang sebagian mengeluarkan perkataan-perkataan yang merusak kehormatan mantan istrinya dengan ghibah, buhtan, atau caci-maki (meskipun disampaikan dengan katakalimat yang lembut). Aku ingatkan kepadamu. Begitu engkau menceraikannya, maka ia bukan lagi istrimu. Karena itu, apa urusanmu sehingga engkau sibuk memberitahukan kepada orang lain hal-hal yang tidak engkau sukai pada dirinya? Mengapa engkau sibuk mengurusi orang lain yang bukan istrimu, sedangkan engkau tidak hendak menolong dan tidak pula mengangkat martabatnya? Kado Pernikahan 333 Aku ingatkan kepadamu, jangan engkau hancurkan kepercayaan anakmu kepadamu, kepada manusia, dan kepada dirinya sendiri dengan kesukaanmu membicarakan keburukan mantan istrimu, sedangkan engkau tidak hendak membuat perbaikan dengan perkataanmu itu. Jangan engkau sakiti hati anakmu dengan merendahkan ibu yang merawatnya, sedangkan engkau tidak pernah memeluknya dan mengusap airmatanya yang telah mengering semenjak lama. Jangan KaurampasRezeki anakmu Setelah bercerai, ayah tetap memiliki kewajiban utuk memberi makan kepada anak-anaknya. Jika anak-anak tu menangis karena tak menemukan makanan yang dapat mengenyangkan sekalipun butir-butir nasi yang mengering, sementara dia asyik menikmati kue-kue dan minuman hangat bersama anak-anaknya yang lain, maka dalam setiap tetes airmata anaknya yang kelaparan ada dosa yang akan diperhitungkan oleh Allah kelak si yaumil hisab. Jika anak-aak itu merintih karena perutnya sangat perih disebabkan seharian tak menerima sesuap nasi, sementara bapaknya harus berbaring karena kekenyangan, maka pada setiap tarikan nafas ada dosa yang aiperhitungkan sebelum anak itu bisa tertawa kembali. Maka aku ingatkan kepadamu, jangan kaurampas harta anakmu yang ada padamu. Jangan engkau renggut sesuap nasi yang hampir masuk ke mulut anakmu dengan tidak mempedulikan kewajibanmu. Bukankah Allah telah melapangkan rezekimu? Sesungguhnya , apa yang menjadi kewajibanmu atas perutnya yang lapar telah jelas. Dan sesudah terang apa-apa yang menjadi kewajibanmu, janganlah engkau menyamarkannya dengan mencari-cari alasan yang sesungguhnya tidak akan mengubah malam menjadi siang dan tidak akan mengubah siang menjadi malam! Ke Mana Engkau Pergi? Anak-anakmu mencari kasih sayangmu…. Ke mana saja engkau pergi? Tidakkah engkau lihat anak-anakmu sedang kelaparan terhadap kasih-sayangmu? Tidakkah engkau lihat anak-ankmu kehausan menunggu usapan kasih-sayangmu? Ke mana engkau pergi…! Ke mana saja engkau pergi? Tengoklah sebentar anakmu itu. Ajak ia bercanda meski hanya sebentar. Tidakkah engkau dengar ia memanggilmanggilmu ke sana ke mari mencari kasih sayangmu? Tidakkah engkau dengar ia merindukan perhatian dan usapan yang tulus darimu? Ke mana engkau pergi? Kado Pernikahan 334 Berhentilah engkau melangkah meninggalkan dia. Berhentilah sejenak. Tengoklah wajahnya yang telah kuyu dan lihatlah bhahwa ia tetap anakmu. Itu berarti, masih wajib bagimu untuk menyayanginya. Itu berarti, masih wajib bagimu untuk memberi pengakuan kepadanya dan menguatkan hatinya. Itu berarti, engkau masih perlu mendoakannya, jangan-jangan dalam pemenuhann hak anak itulah syafa’at untuk hari akhirmu berada. Ke mana engkau pergi? Apakah akan engkau samakan perceraian orang-orang yang tidak mengenal agama dengan orang-orang yang telah memahami agamanya> apakah engkau akan mempersamakan diri dengan orang-orang yang hatinya tak pernah tersentuh oleh hidayah, sehingga engkau mengabaikan hak-hak anakmu yang telah berpisah darimu, sedangkan perpisahan itu terjadi bukan karena kesalahannya? Apakah engkau akan berkilah lagi sedangkan telah jelas apa yang wajib atasmu dan apa yang tidak? Ke mana engkau akan pergi? Catatan Kaki: 1. Allama Mohammad Zakariyya D.B., Asli Fadhilat Dzikir (Fadhaela- Dzikir), Fazal Mohammed Bros., Penang-Malaysia, tanpa tahun. 2. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Darul Falah, Jakarta, 1417. mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt